Farmasi Klinik… riwayatmu dulu, dan perkembanganmu sekarang…

13 07 2016

Dear kawan,

clin farmBeberapa waktu belakangan ini muncul diskusi-diskusi hangat antara pembagian peran dokter dan apoteker. Sempat ada pula yang menyebut bahwa penyebabnya adalah “farmasi klinik”, yang membuat apoteker jadi “ikut-ikutan” berhubungan langsung dengan pasien. Bukannya apoteker itu pekerjaannya cuma ada di balik etalase obat ? begitu pendapat sebagian. Bahkan sebagian apoteker masih ada yang berpendapat bahwa Apoteker adalah tenaga kesehatan, tetapi bukan kategori jenis tenaga medis. Sehingga Apoteker tidak berhubungan langsung dengan pasien terkait dengan proses penyembuhan penyakit….

Well, tentu kesimpangsiuran pendapat ini perlu diluruskan… Dan mau tak mau perubahan paradigma apoteker menjadi berorientasi pasien harus dijelaskan lagi, yang mana kemudian dikenal dengan istilah Farmasi Klinik. Mungkin sebagian masyarakat termasuk tenaga kesehatan banyak yang masih awam dengan istilah farmasi klinik. Tulisan ini adalah re-writing tulisanku tahun 2008 yang mencoba menguraikan sejarah munculnya Farmasi Klinik, yang mulai muncul di tahun 1960-an di Amerika. Riwayat detail perkembangan farmasi klinik di Amerika dapat dilihat di sini : https://pharm.ucsf.edu/history-cp/1965-1972   di mana salah satu pioneernya adalah School of Pharmacy UCSF.

Salah satu penerus “gerakan” Farmasi Klinik di Amerika adalah ibu Koda Kimble, yang pernah menjadi Dekan pada School of Pharmacy University of California di San Francisco) pada tahun 1998 – 2012.  Menurut beliau,  praktek apoteker di Amerika pada saat itu (1960-an) bersifat stagnan. Pelayanan kesehatan sangat berpusat pada dokter. Kontak apoteker dengan pasien sangat minimal. Ada istilah yang digunakan beliau untuk menggambarkan lulusan farmasi pada saat itu yaitu : Over-educated, Underutilized, Apathetic, Isolated, Inferiority complex. Itu keadaan di Amerika tahun 1960-an. (Lho…kok mirip seperti keadaan di Indonesia sekarang ya……. hehe.. pliss deh!… Mudah-mudahan enggak lah.) Karenanya, para pioneer Farmasi Klinik saat itu memunculkan suatu wacana baru untuk pekerjaan kefarmasian. Upaya-upaya awal yang akan dilakukan adalah:

Focus on the Patient

  • Pharmaceutical centers
  • Patient record systems
  • OTC counter-prescribing
  • Counseling on prescription drugs
  • Emergence of continuing education

Therapeutic approach

Pathophysiology

Symptom management

Tapi saat itu wacana itu juga tidak mudah diterima. Mengapa? Belum ada role model!

Tapi para pioneers tersebut tidak mudah menyerah. Pada tahun 1965, farmasis di UCSF mengusulkan suatu proposal ke pimpinan rumah sakit sbb:

  • School will establish a staff “Drug Stations” on the hospital wards
  • Will relieve nurses of certain drug-related duties
  • Will make it possible for the physician, if he so wishes, to discuss drug usage with the pharmacist at the time the decision is being made
  • Will provide students with experience in applying classroom knowledge to practical aspects of drug usage in therapeutic situations

Seperti apa kesan-kesan yang muncul  ketika program ini pertama kali dilaksanakan?

Bu Koda Kimble menggambarkan sebagai berikut :

  • Physician confusion

Pharmacist presence on the wards

Pharmacist intrusion on drug prescribing

Dokter-dokter agak bingung, “ lho… kok apoteker masuk ke bangsal-bangsal?” Kok apoteker ikut campur urusan peresepan obat ya ?”

  • Nurse enthusiasm

Quick access to medicines

Pharmacist drug expertise

Tapi para perawat malah senang dan antusias, karena mereka bisa lebih cepat mendapatkan pelayanan obat, sudah siap pakai lagi, karena disiapkan oleh apotekernya. Perawat juga merasakan bahwa urusan obat memang keahliannya apoteker, jadi mereka bisa lebih focus pada perawatan pasien.

  • Pharmacist exhaustion

Long hours, rapidly expanding roles, new knowledge

“Continual mental pressure to perform at a very high level at all times.”

Tapi apotekernya lumayan kecapekan….. waktu kerjanya jadi lebih lama, perannya jadi bertambah dan berubah dengan cepat, perlu pengetahuan baru. Selain itu juga terdapat semacam tekanan mental juga, karena mereka mesti berada pada kondisi prima dalam pelayanan. Mesti siap setiap kali dibutuhkan.

  • Visitors dubious

Impressed

An “ivory tower” phenomenon

Pasien atau pengunjung masih ragu-ragu, tapi mereka terkesan. Apoteker yang semula seperti ada di “menara gading” kini mulai turun ke bumi……

Singkat cerita, setelah melalui perjuangan yang berdarah-darah, maka kini profesi apoteker mendapat tempat yang sangat layak di sana. Dan “gerakan” farmasi klinik ini makin menyebar luas ke berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Sayangnya, nampaknya wacana farmasi klinik ini belum banyak dipahami, apalagi diterima, oleh sebagian dokter. (walaupun alhamdulillah, aku mengenal beberapa dokter yang sangat kooperatif dan bisa menerima farmasi klinik).  Mereka memandang apoteker tidak perlu ikut-ikut campur menemui pasien. Apalagi turut dalam proses terapi. Persis deh..kayak dokter-dokter jaman dulu di Amerika hehe…… (jadi kayaknya kita nih hidup seperti keadaan di AS 50-an tahun yang lalu…). Tapi tentunya apoteker juga harus introspeksi….   jangan berharap dokter bisa segera menerima keberadaan apoteker, kalau performa apoteker sendiri masih meragukan….. jangan-jangan apotekernya sendiri  juga belum siap berubah dan mengambil peran baru yang lebih signifikan dalam pelayanan pada pasien. Atau sebaliknya, ada sebagian dokter menjadi gerah karena apotekernya kepedean dan kebablasan menangani pasien…  Haloo, bagaimana nih sejawat ??

Nah, seperti yang sering disebut-sebut, maka filosofi pelayanan farmasi klinik adalah “pharmaceutical care” (asuhan kefarmasian). Care itu bisa berarti peduli….. artinya, seorang apoteker mesti  peduli dan penuh empati pada pasien, sehingga pasien bisa merasakan manfaat keberadaannya. Asuhan kefarmasian ini sebenarnya bisa dilaksanakan di mana-mana, di RS, apotek, atau di tempat lain. Yang perlu dipahami adalah apoteker dan dokter memiliki kewenangan masing-masing, yang bertujuan sama mulianya yaitu untuk mendapatkan outcome terapi yang optimal bagi pasien. Perlu kehati-hatian untuk tidak sampai seperti “berebut wewenang dan berebut lahan”, karena semuanya memang memiliki persamaan sasaran yaitu  pasien. Sebaiknya bisa mengubah mindset menjadi “berbagi risiko dan tanggung-jawab” sekaligus berbagi rezeki… hehe...

Dalam hal peran apoteker bagi pasien, aku punya sedikit cerita… Suatu hari beberapa tahun lalu, seorang mahasiswa bimbingan thesisku, bu Nurjanah namanya, datang menemuiku untuk konsultasi thesisnya. Ia mahasiswa Magister Farmasi Klinik UGM yang berasal dari Sulawesi Tenggara. Oya, thesisnya mengambil topik Kajian penggunaan obat antihipertensi pada pasien jantung di sebuah RS di Kendari. Waktu konsultasi thesis, sempatlah dia ngobrol tentang pengalamannya selama mengerjakan thesis. Katanya, gara-gara dia mengerjakan thesisnya, ia malah sekarang jadi laris dicari pasien untuk konsultasi obat hehe…. Ceritanya, dalam mengambil data, ia langsung mewawancarai pasien. Suatu kali ada pasien subyek penelitiannya yang mengeluhkan bahwa setelah mengkonsumsi sekian macam obat antihipertensi, kok sekarang “ayam jagonya” jadi ngga bisa berkokok lagi, alias impoten. Pasien itu menduga bahwa ada salah satu obat  yang menyebabkan impotensi tadi, dan ia pun berkonsultasi pada apoteker kita tadi, bagaimana jika ia menghentikan obat tersebut, boleh apa tidak. Bu Nurjanah lalu memeriksa macam obat-obat yang diterima pasien, dan ternyata memang ada sejenis antihipertensi golongan beta bloker yang memang sering dilaporkan menyebabkan impotensi. Beliau menyarankan kepada pasien utk berkonsultasi ke dokter, bagaimana jika mengurangi dosis obat tersebut. Apa yang terjadi ? Seminggu kemudian, sang pasien menemui ibu kita tadi dengan sumringah, dan katanya, “Terimakasih, bu…. saya sekarang sudah hidup lagi…”   hehe……

Aku rasa, ini adalah salah satu bentuk pelayanan kefarmasian yang bisa bermanfaat bagi pasien. Aku turut bangga, teman-teman sejawat sudah mulai banyak menggunakan ilmunya untuk membantu pasien, yang pada gilirannya akan memberikan kesan positif terhadap keberadaan apoteker. Dan apoteker di Sulawesi Tenggara bolehlah dicontoh semangatnya, katanya saat ini sedang memperjuangkan untuk mendapatkan insentif dari Gubenur dengan besaran yang sama dengan dokter dan dokter gigi, tentunya setelah kinerjanya memberikan asuhan kerfarmasian dirasakan gunanya. Dan satu hal lagi… Kepala Dinas Kesehatannya apoteker loo…!  Jadi, siapa bilang apoteker tidak diperlukan lagi ?

Kaitannya dengan peranan farmasis klinik dalam menghemat biaya pengobatan pasien, aku juga punya cerita lain. Tapi kali ini berasal dari penelitian sejawat, yaitu bu Fita. Penelitiannya menjumpai bahwa ternyata banyak “unnecessary drug therapy” yang dijumpai di RS. Oya, untuk menentukan bahwa suatu obat benar-benar diperlukan pasien atau tidak, beliau bekerja sama dengan klinisi (dokter) senior untuk meng-assess, yaitu dengan mengamati kondisi medis riil pasien dan mengecek obat-obatan yang digunakan. Dan begitulah…. ternyata banyak obat yang diresepkan yang sebenernya tidak benar-benar diperlukan, dan jika itu dikonversi ke biaya, tenyata banyak biaya-biaya pemborosan yang mungkin memberatkan pasien. Kalau saja farmasi kliniknya sudah aktif, dokternya mau bekerja sama dengan apoteker dalam proses  terapi pasien, mungkin akan banyak biaya-biaya yang bisa dihemat. That’s still a dream…… I hope it will come true….

O,ya… paragraf bagian sini adalah iklan hehe…… Sebagai Ketua Program Studi Magister Farmasi Klinik UGM, kami mengundang sejawat untuk sama-sama menambah bekal ilmu dan meningkatkan ke-pede-an dengan belajar di Magister Farmasi Klinik UGM, supaya nanti bisa lebih pede dan profesional dalam menjalankan pekerjaan kefarmasiannya.  Di era akreditasi RS versi JCI, peran apoteker klinis semakin dibutuhkan. Mereka wajib turut mengases pasien sesuai dengan kompetensinya dalam hal obat. Jangan sampai kesempatan untuk berperan tadi menjadi kontraproduktif ketika apoteker salah dalam menjalankannya karena kekurangan ilmu. Farmasis klinik, gitu loh…… !!  Kita akan bersama-sama mendorong gerbong pharmaceutical care di Indonesia…  Bismillah.. semoga Allah meridhoi… Amiin

Iklan

Aksi

Information

3 responses

1 09 2016
Umi Rahma

Assalamualaikum ibu zullies,
Sebelumnya salam kenal yah bu..Saya Umi Rahmah
Apoteker yang ilmunya mungkin 0.000.% dari ilmu ibu..
Selama ini saya hanya tahu nama ibu di brosur-brosur seminar yang saya jumpai..dan skrg saya ada dlm blog ibu..sungguh senangnya 😉 bisa berinteraksi langsung dengan ibu…
Mudah-mudah dapat ilmu banyak dari Ibu…:D..kalau bolee..hehe..

14 07 2016
sonhadji S

terimakasih pencerahannya

14 07 2016
marzuki

Apoteker berorientasi kpd pasien/farmasi klinik (abkp/fk), sy mndengar n bhkan smpat diberi know how nya sdh lm sekali, thn 91an, dari (senior) p.Charles n difasilitasi isfi dki/b.nur azizah fatmawati. Dari sekitar 20an pesrta, ketika ditanya kapan kira2 abkp/fk bs dijalankan di Indonesia ? Rata2 mnjwab 10-15 tahun. Hnya sy yg jwb, di atas 25 tahun. Itupun jg pesimis. Sdh psti sy yg dicecar knp lm bnget !!! Ya mdh sj, krn hmpir semua faktor yg dprlukan untk hadirnya scra nyata abkp/fk di kehidupan keseharian apoteker (di rsu kab/C, apotik) sm sekali tdk mndukung/kondusif, baik internal/eksternal. Jd saat itu, sbg apotkr gresh graduate yg dah mngalami 1,5 tahun kerja di rs, sdh bs simpulkan bhwa masalah abpk/fk akan mnjadi maslh latent krn selain (problm internal) pngalaman praksis/latihan yg cnderung generalis (stage di apotik, industri), gak fokus sprti tmn2 dokter dg coasnya, jg soal interpersonalbskill apotkr yg rata2 kurang. Ekternal, sejauh yg sy ketahui (saat itu), pihak luar (manajemen rs/dokter) msh mnmpatkan peran apoteker sbg pengendali logistik obat dg segala pernik2nya. Krn nya, saat itu, sy kemukakan bhwa masalah apoteker tlh mnjdi “constrain”/hambatan peran. Sekarang, setelah 25 thn lbh sy mndengarnya, “nyanyian”-nya msh sama : apoteker belum eksis, susah eksis, etc…….dg muara soal yg mnurut sy, secara sunstansial, msh sama (kapasitas apotkr dan infrastruktur/landskap yg gak kondusif). Dua bulan terakhir, trjadi diskurrsus yg ruamme poolll, dah crawded malah, di medsos. Tdk hnya apotkr yunior tp “begawan2” pun jg ikut nimbrung. Situasinya, jika trs brlanjut, sy prkirakan akn bnyak mmbawa mudharat drpd maslahatnya bg apotkr. Untuk itu, debatable di medsos sbaiknya diakhiri. Diganti dg kumpul2 serius tp santai/sersan, terutama para “begawan2” macam b.yulies/p.sampurno/p.aritonang/petinggi2 iai/representasi apotkr kritis&daerah/fakultas/dll, untuk duduk bareng 4-5 jam sebulan sekali dlm 6Xprtmuan guna mnyusun road map (apotkr) abkp/fk yg realistis, berdasarkan data valid, dan terukur/mdh dimonev grade pncapaiannya. Sebelum dipublish, road map dimintakn feedback dari fgd2 apotkr di daerah. Jd dari hari ke hari, bs ditracer, dmn problem eksekusinya shg bs secra dinamis diperbaiki ssuai lokal contentnya. Sudah ya bu……..dah mulai jenuh nih. Smg bermanfaat dan yaaaa dimaafkan aja kl bnyak salah/kurang pas. Maklum……apotkr ndesssittt. He3…..Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: