Bijak menyikapi penemuan pembalut wanita berklorin

12 07 2015

Dear kawan,

Beberapa hari yang lalu tepatnya tanggal 7 Juli 2015, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menyampaikan penemuan mereka tentang adanya berbagai merk pembalut wanita yang mengandung klorin. Sontak hal ini menghebohkan masyarakat, terutama kaum wanita, karena merk-merk yang disiarkan tersebut merupakan merk-merk terkenal dan sering mereka pakai. Apa sebenarnya senyawa klorin, mengapa bisa dijumpai pada pembalut wanita, apa dampaknya bagi kesehatan, dan cukup amankah pembalut wanita yang beredar di pasaran, begitulah kira-kira pertanyaan-pertanyaan yang muncul di masyarakat.  Walaupun tidak kurang Dirjen Yanfar dari Kementrian Kesehatan sudah menjamin bahwa pembalut wanita yang beredar masih aman, masyarakat tidak serta merta percaya karena tidak diikuti dengan penjelasan detailnya. Apalagi sebagian masyarakat kadang ada yang skeptis dengan pernyataan Pemerintah. Tulisan ini mencoba menganalisis dan membahas pertanyaan-pertanyaan tersebut, dengan harapan akan mengurangi kecemasan masyarakat.

Apa sih senyawa klorin itu ?

gas klorin

gas klorin

Klorin adalah unsur kimia dengan simbol Cl dan nomor atom 17. Unsur ini merupakan kelompok halogen dan merupakan halogen ringan kedua setelah fluor. Pada kondisi standar, klorin berupa gas berwarna kuning-hijau, di mana ia membentuk molekul diatomik (Cl2). Klorin memiliki afinitas elektron tertinggi dan elektronegativitas tertinggi ketiga dari semua elemen reaktif. Karena itulah klorin termasuk agen pengoksidasi kuat.
Senyawa klorin terdapat dalam berbagai bentuk ketika atom Cl berikatan dengan berbagai atom yang lain membentuk senyawa ionik. Ketika Cl berikatan dengan atom Natrium, jadilah NaCl, yaitu garam dapur yang kita kenal sehari-hari. Klorin dalam bentuk ion juga terdapat dalam tubuh kita, yang jika berikatan dengan atom H (hydrogen) akan menjadi HCl atau asam lambung. Jadi unsur klorin adalah unsur yang kita temui sehari-hari.

Klorin untuk pemutih

Klorin untuk pemutih

Potensi oksidasi unsur klorin yang tinggi menyebabkan ia dapat digunakan sebagai agen pemutih dan disinfektan (menghilangkan kuman). Ia juga banyak digunakan sebagai reagen penting dalam industri kimia, termasuk dalam pembuatan berbagai macam produk konsumen, seperti polyvinyl chloride, juga menjadi zat antara untuk produksi plastik dan produk akhir lainnya. Unsur klorin dalam bentuk senyawa Ca(ClO)2 alias kaporit banyak digunakan untuk pembersih dan disinfektan air di kolam renang atau air PAM. Pemutih pakaian yang sering kita pakai adalah senyawa klorin juga, dalam bentuk NaClO atau natrium hipoklorit.

Bagaimana klorin bisa dijumpai pada pembalut wanita?
Untuk menjawab ini perlu diketahui dahulu bahan pembuat pembalut wanita. Pembalut wanita dan tampon (termasuk diaper bayi) yang banyak beredar saat ini umumnya terbuat dari katun, rayon, atau campuran rayon dan kapas. Rayon terbuat dari serat selulosa yang berasal dari pulp kayu. Nah, untuk mendapatkan bahan baku rayon untuk tampon dan pembalut ini, umumnya perlu dilakukan proses pemutihan pulp kayu (bleaching) dan pemurnian. Di bawah ini ada beberapa cara pemutihan:
1. Pemutihan menggunakan gas klorin. Proses ini dapat menghasilkan dioksin sebagai produk sampingannya. Proses ini digunakan oleh pemasok bahan baku rayon untuk tampon di masa lalu. Diperlukan beberapa proses berikutnya untuk menghilangkan dioksin. Di Amerika, proses ini tidak boleh lagi digunakan oleh produsen pembalut wanita atau tampon dan sanitary napkins lainnya karena kekuatiran terbentuknya dioksin yang beracun.
2. Pemutihan dengan metode yang bebas elemen klorin (elemental chlorine-free). Pemutihan ini tidak menggunakan gas klorin, tetapi menggunakan Chlorine dioxide. Proses ini tidak menghasilkan dioksin sebagai kontaminan, sehingga sering pula disebut proses pemutihan bebas dioksin. Kalaupun ada dioksin terbentuk, itu sudah dalam kadar sangat kecil yang bisa bermakna memberikan efek. Namun pada proses ini masih memungkinkan meninggalkan trace element berupa senyawa klorat atau klorit sebagai hasil sampingnya.  (bisa dibaca di sini : http://www.epa.gov/ogwdw/mdbp/pdf/alter/chapt_4.pdf ).
3. Pemutihan dengan metode Totally chlorine free (TCF) , yaitu pemutihan menggunakan bahan non-chlorin, misalnya menggunakan hidrogen peroksida (H2O2) dan ozon atau asam perasetat. Proses ini dipastikan tidak menghasilkan senyawa dioksin sama sekali.

chloracne akibat dioksin

chloracne akibat dioksin

Sebenarnya kekuatiran utama dalam hal proses pemutihan ini adalah terbentuknya senyawa dioksin yang merupakan polutan lingkungan dan berbahaya bagi kesehatan. Penelitian telah menunjukkan bahwa mereka dapat mempengaruhi sejumlah organ dan system tubuh. Setelah dioksin memasuki tubuh, mereka bertahan lama karena stabilitas kimia dan kemampuan mereka untuk diserap oleh jaringan lemak, di mana mereka kemudian disimpan dalam tubuh. Waktu paruh mereka di dalam tubuh diperkirakan 7-11 tahun. Paparan jangka pendek dioksin kadar tinggi pada manusia dapat mengakibatkan lesi kulit, seperti chloracne (sejenis jerawat akibat paparan senyawa halogen, termasuk dioksin) dan penggelapan warna kulit, dan gangguan fungsi hati. Sedangkan paparan jangka panjang menyebabkan penurunan sistem kekebalan tubuh, perkembangan sistem saraf, sistem endokrin dan fungsi reproduksi. Paparan kronis dioksin pada hewan telah mengakibatkan beberapa jenis kanker. Yang pengen tahu lebih banyak tentang dioksin bisa baca di sini : http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs225/en/

Karena itu, sebagian besar industry pulp (termasuk yang menghasilkan bahan baku pembalut) kini beralih menggunakan metode kedua yaitu pemutihan secara elemental chlorine-free (ECF). Walaupun disebut sebagai bebas elemen klorin, tetapi sebenarnya masih menggunakan senyawa yang mengandung unsur klor yaitu Chlorine Dioxide (klorin dioksida). Cara ketiga yaitu TCF yang menggunakan ozon dan H2O2 nampaknya kurang ekonomis. Selain itu dari hasil riset beberapa universitas di Gothenburg dan Stockholm Swedia, diperoleh bahwa efek terhadap lingkungannya tidak berbeda nyata, (baca di sini : http://www.aet.org/reports/communication_resources/pamphlets/experts_final.pdf) sehingga banyak industry memilih menggunakan metode ECF. Ketika Kemenkes mengundang pada industry produsen pembalut yang dilaporkan mengandung klorin, semua menyatakan bahwa mereka menggunakan bahan baku yang diproses dengan metode ECF. Dengan demikian, klorin yang ditemukan dalam pembalut tersebut diduga merupakan trace elemen dari hasil pemutihan menggunakan Klorin dioksida pada metode ECF.

Kontroversi bentuk klorin yang ditemukan dalam pembalut
YLKI menyebutkan bahwa senyawa klorin yang ditemukan dalam pembalut adalah dalam bentuk klorin bebas, dan mereka menyebutnya adalah Cl2. Mereka menggunakan metode spektrofotometri dalam deteksinya. Hal ini kurang bisa dipastikan ketepatannya karena metode yang digunakan tidak bisa membedakan asal senyawa klorinnya, apakah senyawa hipoklorat (HClO), hipoklorit (ClO) dan gas Klorin (Cl2), semuanya akan terhitung sebagai klorin total.  Senyawa-senyawa  tersebut dapat larut dalam air, sehingga jika metodenya dengan “mengekstraksi” senyawa klorin dari pembalut sebelum ditetapkan kadarnya, kemungkinan semuanya akan terhitung. Jika mengacu pada peraturan Menteri Kesehatan RI no: 472/Menkes/PER/V/9/1996 tentang Pengamanan Bahan berbahaya bagi Kesehatan, memang disebutkan bahwa gas klorin adalah senyawa racun dan iritan yang berbahaya. Masalahnya apakah benar yang ditemukan adalah gas klorin (Cl2)? Bisa jadi memang ada gas Cl2 yang terperangkap di dalam pembalut. Tetapi karena dalam bentuk gas tentu jumlahnya sedikit karena mudah menguap. Pada air minum, kadar klorin bebas umumnya berkisar antara 0.2 – 2.0 mg/L Cl2, meskipun aturan masih memperbolehkan kadar sampai 4.0 mg/L atau 4 ppm.

Apa sih bahayanya klorin ?
Gas klorin adalah termasuk gas yang toksik/beracun, di mana ia bersifat menyebabkan iritasi dan bersifat korosif. Jika terhirup dalam jumlah tertentu tentu akan menyebabkan kerusakan pada paru-paru. Demikian pula jika tertelan, klorin dapat menyebabkan iritasi dan kerusakan pada saluran pencernaan. Namun hubungan klorin dengan kejadian kanker pada manusia masih sangat sedikit dilaporkan. Sebagian melaporkan mengenai hubungan konsumsi air yang terklorinasi dengan kejadian kanker, namun bukan melalui pembalut. Environment Protection Agency (EPA) sejauh ini tidak menggolongkan klorin sebagai senyawa penyebab kanker atau karsinogen.

Seberapa bahaya klorin yang ada pada pembalut wanita?
Saat ini yang diatur mengenai batas aman klorin adalah pada air minum. Hal ini karena air minum banyak yang didisinfeksi/disterilkan menggunakan senyawa klorin, baik dalam bentuk kaporit ataupun Klorin dioksida, sehingga tentunya menghasilkan residu klorin. Selain itu klorin dalam air minum jelas-jelas masuk ke dalam tubuh sehingga bisa masuk ke semua organ tubuh. Environment Protection Agency (EPA) dan WHO mensyaratkan residu klorin maksimal pada air minum adalah 4 mg/L atau 4 ppm.  (yang pengen tau lebih banyak tentang klorat dan korit pada air minum bisa baca di sini: http://www.who.int/water_sanitation_health/dwq/chemicals/chlorateandchlorite0505.pdf). Di sisi lain, kadar klorin kurang dari 0,2 ppm akan menyebabkan fungsinya sebagai disinfektan berkurang atau hilang, sehingga air berisiko tercemar bakteri. Artinya, jika diasumsikan seorang minum air yang mengandung klorin dalam sehari 2 liter, maka kandungan klorin yang masih dipandang aman untuk kesehatan adalah 8 mg.
Mari kita bandingkan dengan temuan klorin pada pembalut oleh YLKI. Kadar tertinggi yang ditemukan pada pembalut merk tertentu adalah 54,73 ppm (anggaplah 55 ppm), yang artinya adalah 55 mg dalam 1000 gram pembalut. Jika berat satu pembalut adalah 10-20 gram, maka kandungan klorin yang ada dalam setiap pembalut adalah 0,55-1 mg. Angka yang cukup jauh di bawah batas aman yang dibolehkan jika ditakar dari klorin yang boleh dikonsumsi orang melalui air yang 8 mg. Itupun hanya bersentuhan dengan kulit, tidak terasup masuk ke dalam tubuh. Kecuali yang sensitif, mungkin akan mengalami reaksi iritasi terhadap adanya klorin tersebut.
Sebagian orang masih menanyakan kemungkinan klorin masuk ke dalam tubuh lewat vagina  melalui penguapan menjadi gas. Sebagai informasi, Agency for Toxic Substance and Disease Registry menyatakan bahwa senyawa hipoklorit dapat terdekomposisi/terurai menjadi gas klorin jika bereaksi dengan air. Namun demikian, proses dekomposisi tersebut memerlukan suhu tertentu, dimana untuk NaClO memerlukan suhu di atas 40 derajat C, sedangkan Ca(ClO)2 memerlukan suhu 100 derajat C. Jika diasumsikan residu pada pembalut itu berupa senyawa hipoklorit , maka mereka belum akan menguap pada suhu tubuh manusia yang sekitar 37 derajat C, kecuali sedang demam tinggi. Apalagi dengan kadar sekecil itu dalam pembalut, maka semakin kecil lagi yang menguap. Di sisi lain, fungsi klorin sebagai disinfektan sebenarnya justru membantu mensterilisasi pembalut dari kuman.

Jadi, apa kesimpulannya?
Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa pembalut wanita yang mengandung klorin dalam jumlah seperti dilaporkan oleh YLKI masih aman digunakan. Kekuatiran menyebabkan kanker bisa ditepis dengan sifat klorin yang bukan karsinogenik. Apalagi dengan jumlah yang sangat kecil yang ada dalam pembalut, dengan kemungkinan kecil menjadi gas Cl2. Jika memang yang ditemukan berupa gas Cl2, maka jumlahnya relatif kecil. Jika sebagian wanita ada yang memiliki kulit sensitif, mungkin bisa mengalami iritasi. Untuk itu, mereka perlu kiranya mempertimbangkan pemilihan pembalut yang tidak menyebabkan iritasi, misalnya yang berkadar klorin rendah. Yang kepengin kembali ke pambalut kain juga silakan saja sesuai keyakinannya. Kita tetap perlu mendukung YLKI untuk memberikan perlindungan kepada konsumen, namun kita himbau agar dikuatkan dengan aspek penjelasan secara ilmiah sehingga tidak menimbulkan keresahan masyarakat. Untuk bisa memuaskan semua pihak, memang perlu diatur kembali batas aman klorin, dioksin maupun residu lain di dalam pembalut wanita, diaper bayi, dan pampers orang tua atau yg sejenis.  Tapi terus terang sampai tulisan ini diturunkan, saya belum menemukan literatur yang relevan tentang batas aman tersebut.

Disclaimer :

Tulisan ini hanya upaya menambah informasi mengenai klorin dalam pembalut wanita, jika ada yang salah saya masih terbuka pada koreksi, tidak bermaksud mendiskreditkan siapapun, dan tidak disponsori oleh siapapun. murni dari panggilan hati…


Aksi

Information

3 responses

13 07 2015
Yukina Hawmie

Reblogged this on sekurito and commented:
Ayo, cari informasi dahulu sebelum panik.

13 07 2015
Deep Sea Sun Hope

thanks for sharingnya bunda, jadi pertanyaan2 para wanita bs terjawab. setuju sekalli kontrol YLKI sangat perlu tp jangan hanya pernyataan yg bikin resah

12 07 2015
Abi XO

Terimakasih, Prof. Selalu berhasil kasih pencerahan pada masyarakat tentang informasi yang beredar di masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: