Selalu ada blessing in disguise buat yang mau berpikir: Selamat Tahun Baru 2015

27 12 2014

Dear kawan,
Tahun 2014 hampir berlalu.. Tahun ini buatku adalah tahun yang penuh rahmat, baik yang terang maupun tersembunyi.. Bukan berarti semua berjalan mulus dan sempurna, bahkan banyak hal-hal baru dan berat.. Tapi alhamdulillah semua masih berjalan di bawah lindunganNya. Lesson learned yang kudapat adalah bahwa sesuatu yang kadang kita takutkan akan sulit dijalani, ternyata setelah harus dilalui tidak sesulit yang dibayangkan. Dan aku selalu bersyukur untuk itu karena masih diberiNya kemudahan, dan itulah memang doa yang selalu kupanjatkan. Beberapa catatan penting untukku tahun ini kudokumentasikan di sini..

Me and family year
Tahun ini lebih banyak kugunakan untuk menjalani kegiatan dan pekerjaan pribadi, karena tidak banyak terlibat lagi dalam birokrasi di kampus. Pekerjaan penelitian lumayan padat dengan beberapa proyek yang harus dikerjakan. Alhamdulillah, 2 dari manuskrip paperku sudah dipublikasi di jurnal internasional, dan 2 lagi harus aku submit ulang. Buku baruku Farmakologi Molekuler juga sudah released sekitar bulan September. Undangan-undangan dari teman-teman di seluruh Indonesia berdatangan hampir setiap bulan, dan itupun butuh pengaturan. Tahun ini aku berkunjung ke Medan, Palembang, Pontianak, Palangkaraya, Samarinda, Banjarmasin, Kendari, Makasar, dan beberapa kota lain di Jawa. Antara senang dan merasa tersanjung karena mendapat kepercayaan, sekaligus juga kadang berat harus meninggalkan anak-anak terutama si kecil Hanna yang baru berusia 2-3 tahun. Selain itu, masih pula ada kegiatan rutinitasku yang lain untuk mengajar dari S1 sampai S3, pembimbingan thesis/disertasi, dan menulis artikel-artikel kesehatan di suratkabar harian, dll.
Diantara semua momen, yang paling mengesankan tentu adalah perjuangan mencarikan Dhika, anakku yang ketiga, sekolah SD. Sebagai anak spesial, Dhika memerlukan sekolah yang sesuai dengan kebutuhannya. Dua SD sebelumnya ternyata tidak bisa menerima Dhika karena keterbatasan space. Tapi alhamdulillah, kami datang pada saat yang pas di SD INTIS (International Islam School) untuk mendaftarkan Dhika. Tinggal ada satu kursi untuk anak berkebutuhan khusus, dan kami segera saja booking tempatnya. Dan alhamdulillah, kami tidak salah pilih… dengan sistem kelas kecil (12 orang per kelas dengan 2 educators), Dhika mendapatkan perhatian yang cukup dari teman-teman dan gurunya. Yang cukup mengharukan adalah bahwa kelak teman-temannya semua sangat baik dan sayang pada Dhika di kelas, dan memahami keterbatasan Dhika.

My special son
Dhika adalah anugerah luar biasa dalam keluarga kami. Dengan keterbatasannya karena dikaruniai gangguan autisme, dia mengajari kami arti kesabaran, pengorbanan, perjuangan dan kepasrahan kepada Sang Pencipta. Dhika juga yang mengajariku kekuatan, karena Dia tidak akan memberikan beban yang tidak mampu dipikul oleh ummatNya. Sungguh aku tidak berani membayangkan sebelumnya seperti apa jika Dhika masuk SD untuk pertama kalinya nanti (yang pasti dia memang menangis keras-keras..hehe..). Belum lagi sekolahnya yang sangat jauh dari rumah. Kami harus berangkat jam berapa dari rumah, apakah Dhika bisa bangun pagi, siapa yang antar jemput Dhika jika aku tidak bisa, kasihan nanti kalau Dhika kepanasan di jalan kalau dijemput naik motor, apakah Dhika bisa mengikuti pelajaran, bagaimana terapinya, dll.
Namun alhamdulillah, ketika harus mulai dijalani… semuanya tidak sesulit yang dibayangkan. Memang tidak instan, butuh usaha dan waktu, tetapi juga tidak terlalu kesulitan. Hari pertama memang Dhika menangis dan memberontak. Aku khusus menunggunya sejak pagi sampai pulang, sambil berkenalan dengan para educatornya. Tapi alhamdulillah, hari-hari berikutnya Dhika berangsur tenang dan tidak ada masalah. Bisa bangun pagi dan segera mandi, dan aku antar ke sekolah bersama kakaknya yang juga baru masuk sekolah baru (SMP) yang tempatnya tidak begitu berjauhan. Jadilah ritme kegiatanku menjadi berubah, yakni keluar rumah jam 6:15 pagi untuk antar anak-anak sekolah. Setelah itu baru ke kampus untuk rutinitas pekerjaan yang juga butuh konsentrasi tinggi. Dan sore kembali menjemput sekolah Dhika, karena Dhika hanya mau diantar dan dijemput ibu. Sekali waktu ketika aku harus pergi keluar negeri seperti ke China dan Jepang, aku sempat bingung bagaimana harus meninggalkan Dhika. Tapi sekali lagi, alhamdulillah… semuanya dimudahkanNya.. Dhika tidak rewel dan manut sama Bapak dan pengasuh di rumah, mau diantar dan dijemput bapak atau mbak. Dhika juga mendapat pseudo-teacher yang baik dan sangat membantu. Yang aku takpernah membayangkan sebelumnya adalah bahwa Dhika juga bisa sholat dengan lancar.. hafalan suratnya sudah cukup banyak.. dan sekarang karena saking hafalnya, sholatnya suka ngebut… eit!… ga boleh ituu hehe.. Aku belajar bahwa kemajuan sekecil apapun pada Dhika, jika selalu disyukuri, akan menjadi kebahagiaan tersendiri.. Secara tidak sengaja pula aku mendapat informasi tentang tempat terapi yang bisa memenuhi keperluan Dhika, dan itu dekat sekolahnya, sehingga sangat memudahkan pelaksanaannya.. Dhika menjalani terapi sensori-integrasi, terapi wicara dan okupasi di Rumah Sahabat.

My daughter’s accident

Hasil rontgen Hannisa, patah tulang paha kiri

Hasil rontgen Hannisa, patah tulang paha kiri

Momen kedua yang takterlupakan adalah peristiwa kecelakaan Hannisa, anakku yang kedua. Siang itu ketika aku sedang bersiap akan sholat dhuhur karena sebentar lagi akan mengikuti sebuah rapat di kampus, sebuah panggilan telepon masuk ke HP-ku. “Ibu, bisa jemput Dhika tidak?” sebuah suara dari seberang sana, dari asisten rumahtanggaku yang siang itu aku minta tolong menjemput Dhika dan Hanni dari sekolah. “Lha, kamu kenapa?” jawabku. “Aku kecelakaan sama kakak Hani. Di jalan Veteran”.. Segera saja aku memacu mobilku dari kampus menuju TKP, sambil sebelumnya menjemput Dhika di sekolah. Info terakhir, mereka sudah dibawa ke RS Hidayatullah, yang kebetulan dekat dengan lokasi kecelakaan. Akupun segera menelpon suami untuk segera datang ke RS. Sesampai di RS, mereka sedang menjalani pemeriksaan rontgen… dan astgahfirullah…. tulang paha kiri Hani patah, sementara tulang selangka Irah (asisten RT-ku) pun patah ! Aku tidak bisa membayangkan kejadian kecelakaannya, tapi tentunya cukup berat jika melihat akibatnya. Tidak tahan aku melihat Hani kesakitan ketika akan dipasang spalk sementara untuk mengimobilisasi kakinya di UGD. Siang itu juga setelah dikonsulkan ke dokternya, diputuskan bahwa mereka akan menjalani operasi pemasangan pen malamnya. Saat itu juga mereka diminta untuk berpuasa untuk persiapan operasi. Perasaanku campur aduk antara sedih, cemas, dan berharap semoga semuanya akan baik-baik saja.

Tulang paha Hannisa setelah dipasang pen

Tulang paha Hannisa setelah dipasang pen

Alhamdulillah, operasi pemasangan pen keduanya berjalan lancar. Jahitannya cukup panjang, sekitar 15 cm. Saat ini Hannisa harus berjalan menggunakan kruk untuk 2-3 bulan ke depan. Betapapun berat, tetap selalu ada yang aku syukuri… Untungnya saat kecelakaan tidak kena kepala yang bisa menimbulkan cedera, untungnya segera dibawa ke RS dan mendapat penanganan, untungnya baru selesai ujian sekolah jadi tidak ada ujian yang tertinggal, untungnya lagi liburan jadi tidak banyak membolos sekolah…. dan masih banyak untung-untung yang lain. Untungnya lagi yang mengoperasi adalah dokter Adam Sp.Bedah Orthopedi yang juga berpraktek di RS Akademik UGM sehingga kami cukup kenal baik, sehingga ketika konsultasi berikutnya biayanya dikasih free hehe….( ini sih bukan yg utama, tapi cukup menghibur…) Dengan berlokasi di dekat sekolahnya, banyak teman-teman hannisa yang menjenguk di RS. Juga banyak kawan yang meluangkan waktu menengok kami.. ini sangat membesarkan hati.
Yah, tentu banyak pengorbanan dan kerugian dari kecelakaan ini… Rencana liburan yang batal, kenikmatan berjalan yang dibatasi, harus menjalani pengobatan, rehabilitasi medis, dll.. tapi alhamdulillah, Hani anak yang kuat dan tegar. Tak pernah mengeluh sedikitpun dengan kondisinya, dan ia menjalaninya dengan santai. Justru ada satu hal yang terungkap dari kecelakaan ini… yakni bahwa berdasarkan pemeriksaan sebelum operasi, kadar gula Hanni agak tinggi, sedikit di atas normal. Yah, aku bisa memaklumi karena memang Hanni agak gemuk dan suka makan. Dan kami juga punya riwayat keluarga Diabetes. Untuk memastikan lagi, maka dua minggu setelah operasi aku periksakan lagi kadar gula Hani, terutama kadar gula darah puasa (GDP) dan dua jam setelah puasa (GD pp). Kadar GDP masih lumayan tinggi (di atas 100 mg/dL), tetapi belum tergolong DM. Sementara kadar GD post prandial masih normal.  Bahkan kondisi Hani ini menambah ilmu baru buatku tentang prediabetes dan Acanthosis nigrican, sebuah bentuk hiperpigmentasi pada daerah-daerah tertentu di kulit, seperti leher, lipatan ketiak, lipatan siku, dll. Aku baru sadar bahwa warna agak gelap di leher Hani ternyata pertanda insulin yang tinggi dalam darah dan itu adalah gejala prediabetes. Kelebihan insulin akan menyebabkan sel kulit yang normal terbentuk dengan kecepatan lebih tinggi, dan sel ini mengandung melanin lebih banyak sehingga memberikan warna kulit yang gelap. Yah, apapun.. ini adalah informasi yang berharga agar nantinya bisa mengatur lagi pola makan dan aktivitasnya supaya tetap sehat dan terjauh dari penyakit DM. Aku harus lebih berdisiplin mengatur pola makannya.

Blessing in disguise = rahmat yang tersembunyi
Begitulah kawan, momen-momen utamaku tahun ini, di samping aktivitas harian yang datang silih berganti. Hidup tidak selalu mulus dan lancar, tetapi pada setiap peristiwa hidup selalu ada pelajaran dan hikmah, ada blessing in disguise/rahmat yang tersembunyi, buat yang mau memikirkannya. Semua takdir manusia telah tertulis di Lauhul mahfuz, tetapi kita tak pernah mengetahuinya sebelum itu terjadi. Dan saat belum terjadi, manusia masih bisa “memilih” sebagian takdirnya karena hidup penuh dengan pilihan-pilihan. Bisa jadi yang tertulis adalah semacam suatu rumus… “jika A, maka B… Jika C, maka D…wallauhua’lam.. Dan hasil akhirnya adalah suatu resultante dari berbagai hal..
Tetap selalu berprasangka baik kepada Allah, bahwa di setiap ketetapanNya, walau kelihatannya tidak menyenangkan, ada pelajaran yang baik. Bahwa kadang Allah menetapkan suatu kejadian tertentu, untuk memberikan kejadian lain yang lebih baik, yang di luar pengetahuan manusia. Dengan tahun yang baru ini, semoga menambah semangat baru untuk hidup lebih baik, move on dari keburukan dan kelalaian… menyambut kebahagiaan yang hakiki. Amiiien…
Selamat tahun baru, kawan…


Aksi

Information

4 responses

1 10 2015
Christine Alfiani Hana Sidabutar

Ibu Zuliies, saya salah satu mahasiswi Ibu. Sekarang di kelas FST, semester 7. Dulu mama saya bilang, saya juga mengalami autism, dan hiperaktif. Puji Tuhan setelah beberapa kali sesi terapi di Jakarta (saya tidak ingat prosesnya), saya bisa seperti sekarang ini, Salam Bu, buat Dhika. Semoga Dhika bisa tumbuh dan berkembang menjadi anak yang membanggakan Ibu dan keluarga ya.

15 02 2015
Suci Damayanti

Assalamualaikum Ibu, saya Suci Damayanti, saya seorang Apoteker dan bekerja di badan POM, dapet sharing blog Ibu dari teman kerja saya yg pernah jadi mahasiswa Ibu, anak perempuan saya didiagnosa asperger dan sekarang berusia 4 thn dan ketakutan saya sama dgn Ibu, bgm dia menjalani SD nya nanti dan mencari SD yg tepat untuk dia, apa boleh saya berkorespondensi via email dgn Ibu? krn saya kurang aktif di medsos

Jawab:
Silakan, Mbak Suci.. alamat e-mail saya : ikawati@yahoo.com

10 02 2015
whyvina

Subhanallah, saya juga kagum dg bu Zulies yg bercermin pd padi..makin byk ilmu mkn tunduk…sy seorang ibu jg bekerja ( dokter umum), bolehkah berkenalan ? email sy whyvina@gmail.com..tks bu

Jawab:
Tentu, bu Dokter🙂.. senang berkenalan dengan Anda..

10 01 2015
Hasdiana Sudar

Subhanallah, mudah-mudahan sy bisa seperti prof jadi ulil albaab. Apakah foto kehitaman di leher dik hani bisa di upload?

Jawab:
yang bersangkutan tidak mengijinkan, mbak 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: