My Note (2) : Wonderful Mt. Ishizuchi and omoshiroi Yayoi Kusama

27 10 2014

Dear kawan,
Catatan perjalananku kali ini adalah tentang kegiatanku selama week end ini. Hari Sabtu pagi aku masih menyelesaikan sedikit eksperimenku di lab, dan siangnya sudah direncanakan untuk pergi bersama Maeyama Sensei dan istri ke Gunung Ishizuchi. Hari Minggunya aku sudah janjian dengan teman Jepangku Kyoko Shibata untuk jalan-jalan di sekitar Dogo Matsuyama. Begini ceritanya….
Ke Gunung Ishizuci

Puncak gunung Ishizuchi dan warna-warni daun di musim gugur

Puncak gunung Ishizuchi dan warna-warni daun di musim gugur

Gunung Ishizuchi adalah gunung tertinggi di kawasan Jepang barat,  berlokasi di selatan Matsuyama, di antara perfecture Ehime dan Kochi. Jangan bayangkan seperti gunung Merapi yang tingginya di atas 3000 m, gunung ini “hanya” setinggi 1982 m, itu pun bukan gunung yang aktif. Dulu ketika masih kuliah, dalam perjalanan ke kampus aku sering melihatnya dari kejauhan puncaknya berselimut salju di musim dingin. Puncaknya mirip seperti ujung pedang samurai dan menjadi salah satu tempat pemujaan di Jepang dan dianggap sebagai tempat bermukimnya dewa. Kali ini aku berkesempatan ke sana bersama Maeyama Sensei dan istri, dan Rizal. Kata Sensei, aku akan bisa menikmati perubahan warna daun di musim gugur ini.

 

 

Bersama Bu Maeyama sebelum berangkat

Bersama Bu Maeyama sebelum berangkat

Kami berangkat berempat selepas dhuhur dari kampus menggunakan mobil Bu Maeyama. Bu Maeyama sendiri yang menyetir, dan cara menyetirnya halus dan enak. (aku perlu tekankan ini karena Maeyama Sensei sendiri nyetirnya kurang halus dan membuat Rizal mengalami motion sickness saat pulang hehe… ).  Beliau orangnya ramah dan penuh perhatian. Dibawakannya bekal jaket dan minuman dan snack untuk diminum di sana. Jika perjalanan jauh, beliau dan Sensei bergantian menyetir. Sepanjang perjalanan mata dimanjakan oleh pemandangan yang cantik suasana musim gugur. Yang selalu mengesankan aku jika jalan-jalan keluar kota di Jepang adalah jalan-jalan yang mulus, bersih, dan tidak jarang  jalannya menembus gunung melalui terowongan. Salah satu terowongan/tunnel yang kami lalui bahkan panjangnya 3097 m. Bayangkan susahnya ngebor gunung sepanjang itu…! Jadi perjalanan bisa lebih cepat karena seperti pakai shortcut. Ah, di Jepang itu apa yang ngga bisa dibuat… bawah laut pun digali untuk dibuat terowongan yang menghubungkan dua pulau… !!

Di Tsuchi-goya Hut, mendekati puncak gunung Ichizuchi

Melihat pemandangan sekitar puncak gunung bersama Maeyama Sensei dan ibu

Melihat pemandangan sekitar puncak gunung bersama Maeyama Sensei dan ibu

Kami parkir di sebuah parking area mendekati puncak gunung, yang disebut Tsuchi-goya Hut yg berada 1492 meter di atas permukaan laut . Dari situ perjalanan ke puncak bisa ditempuh dengan jalan kaki selama 2,5 jam naik, dan 2 jam untuk turun. Tapi kami berhenti di situ saja, tidak naik ke puncak. Ga kuaat… !! Suhu di situ sekitar 14 derajat, lumayan dingin. Tau tidak.… aku sempat ketemu serombongan orang yang baru turun gunung Ishizuchi… dan itu rombongan bapak-ibu yang sudah sepuh-sepuh, tapi masih kelihatan sehat dan kuat !! Perjalanan mendaki gunung Ishizuchi sering dianggap sebagai sebuah perjalanan spiritual untuk pemujaan. Ada sebuah kuil semacam tempat peribadatan di situ, yaitu Ishizuchi shrine yang masih sering dipakai untuk upacara-upacara peribadatan.

Puncak Ishizuchi dari kejauhan... sedikit tersaput awan

Puncak Ishizuchi dari kejauhan… sedikit tersaput awan

Kami berhenti untuk sekedar minum teh dan melihat pemandangan dari atas. Beruntung cuaca cukup cerah, sehingga saat kami turun, kami sempat melihat puncak Ishizuchi yang sedikit tersaput awan. Kami sempatkan untuk mengambil gambar dengan latar belakang puncak Ishizuchi.

Menikmati serangkaian menu dengan menu utama sushi

Menikmati serangkaian menu dengan menu utama sushi

Perjalanan dari gunung ditutup dengan menikmati traditional Japanese food di sebuah restoran di Matsuyama. Kami sampai di Matsuyama hampir jam 6 sore, dan langsung meluncur ke sebuah restoran tradisional Jepang. Maeyama Sensei dan ibu mengajak kami untuk menikmati dinner di sana. Beliau tahu bahwa selama di Jepang kami tidak berani sembarang makan daging atau ayam (karena takut tidak halal karena tidak tahu cara menyembelihnya), jadi Sensei memilihkan kami makan sushi yang berisi ikan-ikan. Orang Jepang itu makan tidak hanya dengan lidahnya, tetapi juga dengan matanya… hehe.. karena itu ketika menyusun sajian untuk dimakan pasti indah dan nyeni.. Beberapa terasa agak aneh di lidah.. apalagi kalau ikan mentah. Tapi overall hmm.. oishikata… enak !! Sungguh sabtu yang berkesan… Bukan sekedar karena melihat suasana musim gugr di pegunungan yang indah, tetapi lebih pada hospitality Maeyama Sensei dan ibu yang sangat bersahabat…..

Dogo onsen dan Yayoi Kusama
Hari Minggu aku sudah janjian dengan Kyoko Shibata untuk jalan-jalan bareng. Kyoko adalah temanku orang Jepang yang suka berteman dengan orang asing. Aku mengenalnya sejak kuliah dulu di sini 14 tahun yang lalu. Kebetulan dia sarjana di bidang bahasa Inggris, jadi bahasa Inggrisnya cukup bagus. Buat aku yang tidak trampil bahasa Jepang, tentu ini sangat membantu. Tidak gampang loh mendengarkan orang Jepang berbahasa Inggris. Karena karakter konsonan mereka tidak mengenal huruf “F” dan “L”, maka pronounciation bahasa Inggris mereka kadang jadi tidak jelas, kecuali yang memang belajar dengan benar..hehe.. Sebagai contoh, ketika pertama kali aku datang ke Jepang, Sensei menjelaskan sesuatu yang aku dengar seperti kata “ Barius”…. Aku berpikir keras memahami apa yang dikatakan.. setelah agak lama barulah aku tahu bahwa yang dimaksudkan adalah “values”hadeeeh.… !! Mereka juga tidak punya vokal “E” seperti pada kata “emas”. Jadi ketika pronounce “Water”.. mereka akan menyebutnya “ Wota”.. Super menjadi supa, menyebut “color” menjadi “kara”…

Di depan Dogo Onsen yang sudah berumur ribuan tahun

Di depan Dogo Onsen yang sudah berumur ribuan tahun

Dogo onsen atau Dogo hotspring adalah tempat pemandian air panas khas Jepang yang tertua di Jepang, yakni berusia lebih dari 1000 tahun. (gila bener ya.. bisa bertahan ribuan tahun)… Di Jepang, banyak hot spring yang berasal dari air panas alami. Aku sendiri selama di Jepang belum pernah mencoba mandi air panas di onsen. Kali ini pun bukan untuk mandi, tetapi untuk melihat satu art performance di hotel Takaraso yang berlokasi di seputaran Dogo. Kebetulan saat ini sedang ada suatu penampilan seni dari seniman Jepang terkenal yang bernama Yayoi Kusama. Ia seorang disainer serbabisa yang terkenal dengan pola polkadot dan bentuk labu/pumpkin. Terus terang aku juga baru dengar sekarang ini hehe… Di Jepang itu ada saja hal-hal yang kadang tidak terbayang sebelumnya… Apa sih bagusnya pola polkadot dan labu? Tetapi ketika dijadikan suatu karya seni ternyata menarik juga…

Di kamar yag didekorasi dengan polkadot merah

Di kamar yang didekorasi dengan polkadot merah

Untuk menyaksikan hasil karyanya kami harus pesan tempat dulu dan mendapat waktu pukul 12.20 waktu setempat, bayarnya 1000 yen. Akhirnya aku dan Kyoko mendapat kesempatan masuk ke kamar yang dimaksud selama 15 menit bersama 3 orang pengunjung lain… Dan…woww... menarik dan tidak terbayang sebelumnya di kepalaku… ! Seisi kamar didekorasi dengan indah dan unik dengan pola polkadot dan pumpkin.. Tapi aku sih tidak kebayang bisa tidur di kamar hotel yang didekorasi semacam ini hehe….. Nampaknya sih seniman ini memang orangnya unik dan “gila”. Selain dekorasi kamar, ia juga mendisain baju atau T-shirt dengan motif-motif polkadot dan pumpkin yang tidak biasa… Anyway, sungguh menarik… !!

Pola polkadot dan pumpkin yg unik

Pola polkadot dan pumpkin yg unik

Salah satu ciri khas Yayoi Kusama adalah pumpkin

Salah satu ciri khas Yayoi Kusama adalah pumpkin

Selepas dari sana, Kyoko mengajakku makan siang di sebuah restoran tradisional Jepang, dan makanannya Jepang banget. Tapi jangan dikira aku ditraktir ya… kalau yang ini kami bayar sendiri-sendiri hehe.. tapi tak apalah, sudah senang bisa diajak jalan-jalan ke tempat menarik. Sorenya aku pulang naik densha ke kampus. Sayangnya aku belum sempat ketemu bapak penjaga stasiun Kume yang dulu, setiap aku lewat, beliau tidak kelihatan jadi aku belum sempatkan mampir.
Well, untuk kali ini cukup dulu ceritanya. Pekerjaan di lab menanti lagi….

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: