Sekilas tentang pemanis buatan… ketika gula tak lagi “manis”…

4 08 2014

sakarinDear kawan,

Masih dalam suasana Idul Fitri, aku ucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri 1435 H.. mohon maaf lahir batin. Masih banyakkah tersisa kudapan kue-kue Lebaran atau sirup yang manis? Hmm… pasti itu bukan pilihan kudapan sehat buat penderita Diabetes Melitus.. juga buat mereka yang harus membatasi asupan kalori karena sudah kegemukan atau pengen tetap langsing.  Buat mereka yang harus membatasi asupan gula namun masih tetap ingin mencicipi manisnya makanan, bisa menggantikannya dengan pemanis buatan. Kita seringkali tidak bisa menghindarkan adanya bahan ini dalam makanan kita. Karena itu lebih baik kita kenali yuk tentang pemanis buatan dan bagaimana memanfaatkannya dengan bijak agar tetap sehat.

Pemanis alami

Pemanis alami adalah gula. Gula adalah termasuk senyawa karbohidrat sederhana yang menjadi sumber energi dan komoditi perdagangan utama. Gula yang paling banyak digunakan dalam makanan kita adalah sukrosa. Kita mengenal ada gula pasir, gula aren, gula bit, dll. Sukrosa akan diuraikan menjadi glukosa dan fruktosa. Glukosa inilah yang merupakan gula sederhana yang menyimpan energi yang akan digunakan oleh sel. Namun demikian, pada orang-orang yang memiliki sakit kencing manis atau diabetes melitus, gula adalah salah satu pantangannya karena bisa meningkatkan kadar glukosa darah. Karena itu jika ingin tetap merasakan manisnya makanan, dapat digantikan dengan pemanis buatan.

Pemanis buatan

Sebagai pengganti gula, banyak produk pangan menggunakan pemanis buatan untuk menghasilkan pangan rendah kalori. Hal ini terutama ditujukan untuk penderita Diabetes atau mereka yang harus mengurangi asupan kalori. Pemanis buatan kini sudah mulai banyak digunakan juga oleh masyarakat yang tidak menderita diabetes. Selain itu, beberapa produsen pangan juga mengganti gula dengan pemanis buatan dengan alasan ekonomi, karena lebih murah. Berbagai minuman kaleng atau botol, sirup, permen, selai, dll. banyak yang menggunakan pemanis buatan. Apa saja macam pemanis buatan?

Aspartam

aspartameAspartam adalah pemanis buatan yang tersusun dari 2 macam asam amino yaitu asam aspartat dan fenilalanin. Ia ditemukan pada tahun 1965 oleh James Schslatte sebagai hasil percobaan yang gagal. Asam aspartat dan fenilalanin sendiri merupakan asam amino yang menyusun protein, khusus asam aspartat, ia juga merupakan senyawa penghantar pada sistem saraf (neurotransmiter). Aspartam, dikenal juga dengan kode E951, memiliki kadar kemanisan 200 kali daripada gula (sukrosa), dan banyak dijumpai pada produk-produk minuman dan makanan/permen rendah kalori atau sugar-free. Nama dagang aspartam sebagai pemanis buatan antara lain adalah Equal, Nutrasweet dan Tropicana.

Sejak masuk ke pasar Amerika pada tahun 1981, keamanan aspartam telah diuji melalui lebih dari 100 kajian ilmiah, baik pada manusia maupun hewan uji. Hingga saat ini, FDA menyetujui aspartam sebagai pemanis buatan yang aman. Seperti banyak peptida lainnya, kandungan energi aspartam sangat rendah yaitu sekitar 4 kCal (17 kJ) per gram untuk menghasilkan rasa manis, sehingga kalorinya bisa diabaikan, yang menyebabkan aspartam sangat populer untuk menghindari kalori dari gula. Keunggulan aspartam yaitu mempunyai energi yang sangat rendah, mempunyai cita rasa manis mirip gula, tanpa rasa pahit, tidak merusak gigi, menguatkan cita rasa buah-buahan pada makanan dan minuman, dapat digunakan sebagai pemanis pada makanan atau minuman pada penderita diabetes.

Di antara semua pemanis tidak berkalori, hanya aspartam yang mengalami metabolisme. Aspartam akan dipecah menjadi komponen dasar, dan baik aspartam maupun komponen dasarnya tidak akan terakumulasi dalam tubuh. Jadi, sebenarnya aspartam cukup aman dipakai, karena dia dipakai dalam kadar yang sangat kecil (1% dari gula) dan akan dikeluarkan oleh tubuh. Satu-satunya kondisi yang dikontraindikasikan bagi aspartam adalah penyakit fenilketouria. Apa maksudnya? Dalam keadaan normal, fenilalanina (salah satu komponen aspartam) akan diubah menjadi tirosin dan dibuang dari tubuh. Pada orang yang mengalami gangguan fenilketouria, terdapat gangguan dalam proses ini. Penyakit ini diwariskan secara genetik, di mana tubuh tidak mampu menghasilkan enzim pengolah asam amino fenilalanin, sehingga menyebabkan kadar fenilalanin yang tinggi di dalam darah, yang berbahaya bagi tubuh. Timbunan fenilalanin dalam darah dapat meracuni otak dan menyebabkan keterbelakangan mental. Karena itu, aspartam dikontraindikasikan bagi penderita fenilketouria.

Seperti halnya bahan tambahan makanan lainnya, ada dosis tertentu yang dapat diterima penggunaannya, yang sering disebut sebagai Acceptable Daily Intake, atau ADI, yaitu perkiraan jumlah bahan tambahan makanan yang dapat digunakan secara rutin (setiap hari) dengan aman. Dalam hal aspartam, angka ADI-nya adalah 40 mg per kg berat badan. Berarti sekitar 2800 mg untuk berat rata-rata orang dewasa. Dan untuk anak-anak usia 3 tahun, angka ADI-nya berkisar 600 mg.

 Sakarin

Sakarin adalah pemanis tidak berkalori. Pemanis ini sesungguhnya tidak dimetabolisme oleh tubuh sehingga aman digunakan. Sakarin merupakan senyawa benzosulfamida. Keunggulan dari senyawa ini mempunyai tingkat kemanisan kira-kira 300-500 kali dibandingkan dengan gula. Sama dengan aspartame, senyawa ini bukan merupakan sumber kalori sebagaimana gula pasir sehingga kerap digunakan untuk mereka yang menjalani diet rendah kalori. Kelemahannya, senyawa ini labil pada pemanasan sehingga mengurangi tingkat kemanisannya. Disamping itu sakarin kerap kali menimbulkan rasa pahit ikutan (after taste) karena ketidakmurnian bahannya. FDA memperkirakan bahwa pemakaian sakarin yang aman adalah 50 mg per orang per hari. Dosis sakarin yang disarankan adalah sebesar 5 mg per kg berat badan per hari.

Asesulfam Potasium

Tingkat kemanisan Asesulfam potassium sekitar 200 kali dibanding dengan sukrosa atau gula. Kelebihannya, mempunyai sifat stabil pada pemanasan dan tidak mengandung kalori. Selain itu, asesulfam potassium dapat meningkatkan derajat kemanisan makanan bila dicampur dengan pemanis lain. Pastinya pemanis ini akan dikeluarkan melalui urin tanpa mengalami perubahan. Dosis harian yang aman yang disetujui oleh FDA bagi asesulfam adalah tidak melebihi 15 mg/kg BB. Karena tingkat kemanisannya yang tinggi, penggunaan asesulfam sebaiknya dibatasi dalam dosis yang kecil. Apalagi penggunaan asesulfam sering dikombinasikan juga dengan pemanis lain.

Sukralosa

Sucrose-SucraloseDitemukan pada tahun 1976, sukralosa merupakan derivate dari sukrosa, mempunyai tingkat kemanisan kurang lebih 600 kali sukrosa. Sejauh ini sukralosa dinyatakan aman, dengan dosis harian yang dianggap aman adalah tidak lebih dari 10 mg per kg berat badan. Pemanis ini tidak diserap secara baik oleh tubuh dan akan dikeluarkan melalui urin hampir tanpa perubahan. Salah satu keunggulan sukralosa adalah tahan panas sehingga tingkat kemanisan yang diperoleh tidak menurun. Karena tingkat kemanisannya yang tinggi, jumlah sukralosa yang diperlukan untuk mencapai tingkat kemanisan yang diinginkan juga sangat sedikit.

Sucralose saat ini digunakan di lebih dari 40 negara dan disetujui FDA pada tahun 1998 sebagai pemanis buatan. Telah dipelajari selama lebih dari 20 tahun, dan 110 penelitian tentang keamanannya pada hewan dan manusia menyimpulkan bahwa sucralose aman untuk dikonsumsi

Demikian paparan tentang bahan pemanis buatan. Walaupun aman, bahan-bahan ini harus digunakan sesuai aturan pemakaiannya untuk tidak melebihi dosis hariannya. Jika bisa menggunakan yang alami, sebaiknya tidak menggunakan yang buatan…

Iklan

Aksi

Information

6 responses

31 12 2014
26 12 2014
xunxun

Serasa kuliah lg…
Prof….tolong diposting juga donk pemanis alami pengganti gula
Mulai dari profilnya,keamanan,keuntungan,efek samping,dst…

18 12 2014
akmal dax jomblo

boleh gx makan aspartame hingga 35 mg perhari untuk anak 15 tahun?

Jawab:
masih aman kok

6 10 2014
JNYnita

Skrg susah banget nyari produk minuman tanpa pemanis buatan, mau beli yang itu-itu aja (yg pake gula asli) tapi boseeen.. Huhuhu..
Hhhm.. Berarti alasan knp ibu hamil gak boleh mengkonsumsi aspartam karena mempertinggi resiko anaknya terjadi keterbelakangan mental ya??

29 09 2014
ifa

mohon ijin untuk bahan referensi artikel di komunitas bu

5 08 2014
diaryrizkhi

Waaaah, jadi harus jeli memilih pemanis, ya, Bu?
kalau pemanis yang aman untuk anak penderita kelainan jiwa, seperti skizofrenia, bipolar, dll

apa juga harus dilakukan diet khusus?

terima kasih 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: