Mengenal Dekstrometorfan, obat batuk yang sering disalahgunakan

30 05 2014

Dear kawan,

DEXTROMETHORPHANBarusan beredar kabar bahwa mulai 30 Juni 2014, semua produk obat yang mengandung dekstrometorfan harus ditarik dari pasaran. Penarikan ini disampaikan oleh Direktur Pengawasan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif Badan POM Sri Utami Ekaningtyas, pada diskusi bertajuk “Penarikan Zat Berbahan Dekstrometorfan Tunggal”, di Jakarta, Senin (26/5/2014) petang. Sebenarnya Badan Pengawas Obat dan Makanan, pada Juli 2013 telah mengeluarkan surat penarikan obat yang mengandung dekstrometorfan sediaan tunggal dari pasaran, dan memberikan waktu satu tahun kepada industri Farmasi untuk menarik produk-produknya. Nah, saat ini hampir satu tahun sejak pengumuman diedarkan, maka akhir Juni besok merupakan batas akhir penarikannya.

Apa sih dekstrometorfan itu? Seberapa membahayakan sampai harus ditarik dari peredaran padahal sudah bertahun-tahun digunakan sebagai obat batuk dan menjadi komponen obat flu yang sangat banyak beredar di pasaran?

Deskripsi Dekstrometrofan

Pertama kali diperkenalkan di pasar pada tahun 1950-an di Amerika, Dekstrometorfan (DMP) merupakan obat penekan batuk (anti tusif) yang sangat populer dan selama ini dapat diperoleh secara bebas, dan banyak dijumpai pada sediaan obat batuk maupun flu. Indikasi obat ini adalah untuk batuk kering atau batuk tidak berdahak. Dosis untuk dewasa adalah 10-20 mg secara oral setiap 4 jam atau 30 mg setiap 6-8 jam dengan dosis maksimal 120 mg/hari. Dosis anak-anak usia 6 – 12 tahun adalah 5-10 mg per-oral setiap 4 jam atau 15 mg setiap 6-8 jam dengan dosis maksimum 60 mg/hari. Untuk usia 2-6 tahun, dosisnya 2.5-5 mg per-oral setiap 4 jam atau 7.5 mg atau setiap 6-8 jam dengan dosis maksimum 30 mg/hari. Efek anti batuknya bisa bertahan 5-6 jam setelah penggunaan per-oral. Jika digunakan sesuai aturan, obat ini relatif aman, jarang menimbulkan efek samping yang berarti. Efek samping yang banyak dijumpai adalah mengantuk.

Bagaimana mekanisme kerjanya?

Dekstrometorfan (DMP) adalah suatu senyawa turunan morfin, yang memiliki nama kimia/IUPAC (+)-3-methoxy-17-methyl-(9α,13α,14α)-morphinan, suatu dekstro isomer dari levomethorphan. Senyawa ini cukup kompleks karena memiliki kemampuan untuk mengikat beberapa reseptor, sehingga juga diduga memiliki banyak efek.

Ikatan DMP pada beberapa reseptor

Ikatan DMP pada beberapa reseptor

Mekanismenya sebagai penekan batuk (anti tusif) diduga terkait dengan kemampuannya mengikat reseptor sigma-1 yang berada di dekat pusat batuk di medulla dan terlibat dalam pengaturan refleks batuk. Fungsi fisiologis reseptor sigma-1 masih banyak yang belum diketahui, tetapi aktivasi reseptor sigma-1 salah satunya memberikan efek penekanan batuk. Reseptor sigma semula diduga merupakan subtipe dari respetor opiat, namun penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa ia merupakan reseptor non-opiat, walaupun dapat diikat juga dengan beberapa senyawa turunan opiat.

Selain merupakan agonis bagi reseptor sigma, DMP adalah antagonis reseptor NMDA (N-Methyl D-aspartat) yang berada di sistem syaraf pusat. Dengan demikian efek farmakologi DMP, terutama jika pada dosis tinggi, menyerupai PCP (phencyclidine) atau ketamin yang merupakan antagonis reseptor NMDA. Antagonisme terhadap reseptor NMDA dapat menyebabkan efek euforia, antidepresan, dan efek psikosis seperti halusinasi penglihatan maupun pendengaran. Didukung dengan mudahnya didapat dan harganya yang murah, hal inilah yang menyebabkan DMP menjadi obat yang sering disalahgunakan dalam dosis tinggi. Penyalahgunaan DMP ini sudah cukup luas dan saat ini telah mencapai tahap yang mengkuatirkan, dan inilah yang “memaksa” BPOM mengumumkan penarikannya dari pasaran. Di California (USA), penyalahgunaan DMP ini marak mulai tahun 2000-an.

Apa efeknya kalau overdosis?

Penggunaan dosis tinggi DMP bukannya tanpa masalah. Selain memberikan efek behavioral, intoksikasi atau overdosis DMP dapat menyebabkan hiper-eksitabilitas, kelelahan, berkeringat, bicara kacau, hipertensi, dan mata melotot (nystagmus). Apalagi jika digunakan bersama dengan alkohol, efeknya bisa sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kematian. Demikian pula jika dipakai bersama dengan obat lain seperti dalam komposisi obat flu, jika dipakai dalam dosis 5 – 10 kali dari yang dianjurkan akan mempotensiasi dan menambah efek toksiknya.

Dalam hal efek terhadap perilaku (behavioral effects), penyalahguna DMP menggambarkan adanya 4 plateau efek yang tergantung dosis, seperti berikut:

Plateau Dose (mg) Behavioral Effects
1st 100–200 Stimulasi ringan
2nd 200–400 Euforia dan halusinasi
3rd 300– 600 Gangguan persepsi visual dan hilangnya koordinasi motorik
4th 500-1500 Dissociative sedation

 

Perlu kewaspadaan

Dengan paparan di atas sudah cukup jelas efek dekstrometorfan dan mengapa harus dibatasi penggunaannya. Dekstrometorfan tentunya masih bisa digunakan sebagai antitusif, tetapi harus diperoleh dengan resep dokter dan digunakan sesuai dosis yang direkomendasikan. Perlu kewaspadaan kita semua untuk berhati-hati dalam penggunaan dekstrometorfan di masyarakat.

Semoga bermanfaat.

 

Sumber bacaan:

http://www.who.int/medicines/areas/quality_safety/5.1Dextromethorphan_pre-review.pdf

http://physiology.elte.hu/gyakorlat/cikkek/The%20pharmacology%20of%20cough.pdf

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1574192/


Aksi

Information

9 responses

29 02 2016
alvin

bisa pake komik mungkin hehe karena komik juga kan obat batuk🙂

29 02 2016
alvin

komik mungkin🙂

11 01 2016
Teuku Arief Dzaki

Assalamualaikum
Nama Saya Arief Umur 22
saya Mau Menanyakan Kegunaaan Dan efek Samping Obat Sejenis Pil Kuning Bertulisan Pim
Dikarenakan Saya Dianjurkan Dokter Megkomsumsi 1 butir/Hari

Jawab:
Waduh, pil berwarna kuning itu banyak jenisnya… Anda sakit apa sehingga dokter meresepkan obat tersebut?
Dari situ baru bisa menduga untuk apa

8 04 2015
jual tas kulit

terima kasih informasinya … dan kami jual tas kulit jual obat batuk jual obat asma minta izin untuk mengesharenya🙂

3 01 2015
budi

saya dulu waktu smp pernah mabuk dexro bu .efek sampingnya berjalan seperti robot tangan dan kaki jadi kaku, sekali minum minimal 15 butir. obatnya warna kuning. tp saya cuma mencoba sekali.teman2 saya banyak yang suka mabuk dextro bahkan ada yang kecanduan sehari minimal 25 butir,,

6 06 2014
Aji Wibowo

Assalamualaikum bu,.. rasanya seperti baru kemarin ikut kuliah dg ibu. dan masih tetap memberikan kuliah via Online ini. sy salah satu mahasiswa ibu di UII tahun 2011. Penarikan ini jadi PR tersendiri untuk BPOM juga masyarakat agar penyalahgunaannya dapat dicegah. Sedikit share pengalaman di Apotek beberapa bulan lalu hampir setiap malam minggu ada pelanggan Apotek yg membeli *omix DT dg alasan untuk dijual kembali 1x masih diberikan tp pembelian ke-2 dengan rentang waktu pembelian ke-1 dan ke-2 tidak lama, maka kami asumsikan obat ini disalahgunakan, sehingga kami tidak memberikannya. semoga tulisan ibu menjadi inspirasi para Apoteker muda Indonesia Ammiin,..

31 05 2014
lilik koernia

Ass prof Zullies..sy apoteker dari uii angktn 2010 mahasiswa ibu..sekarang mjd salah pengajar di s1 farmasi salah satu univ di lampung..tulisan2 ibu sangat menginspirasi sy..mohon izin share tulisan2 ibu di blog ya buk..untk tambahan pengetahuan pra mahasiswa dan keluarga..
Oya buk..ingin rasanya bisa sprti ibu yg punya management rumah tangga dan karier mantap buk..krn sy sering galau dan dilema antara keluarga dan pekerjaan..mohon saran dari prof..salam hormat..
Matursembahnuwun sanget..

Jawab:
Silakan saja kalau mau share, Mbak… mohon ditulis aja sumbernya. Semoga sukses selalu ya.. dilema urusan pekerjaan dan rumahtangga selalu menjadi pertimbangan kita sebagai wanita, tidak terkecuali saya..🙂, perlu kerjasama dan manajemen waktu yang baik..

30 05 2014
heane

terimakasih informasinya Bu….
Apakah ini sama kasusnya ketika penarikan obat merah dulu itu?

Jawab:
sepertinya dulu itu lebih kepada efek toksiknya dan sudah ada obat pengganti yg lebih aman, bukan karena disalahgunakan

30 05 2014
Linda

DMP mmg sering diresepkan, kira2 apa gantinya obat tersebut yg memiliki efek sepadan bu?

Jawab:
bisa pakai noscapin atau kodein, tetapi juga harus diresepkan dokter

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: