Catatan perjalanan: Petualangan seru di Pulau Jeju

28 11 2013

Dear Kawan,

Jeju island

Jeju island

Pernah mendengar nama Pulau Jeju di Korea Selatan? Pulau ini adalah salah satu pulau terindah di dunia, dengan banyak pemandangan alam yang mempesona, dan bahkan beberapa keindahan alamnya menjadi bagian dari 7 keajaiban alam di dunia (7 wonder of nature). Beberapa film Korea mengambil alam Jeju sebagai setting dalam filmnya. Alhamdulillah, aku beruntung mendapat kesempatan untuk menginjakkan kaki ke sana dan menikmati keindahannya. Kesempatan ini tentu tidak datang dengan sendirinya, tetapi perlu diperjuangkan.. Sebuah even yaitu Asian Federation of Pharmaceutical Science (AFPS) Conference 2013 menjadi “kendaraan”nya. Tanpa mengikuti acara semacam konferens atau seminar dengan presentasi oral, tentu tidak akan bisa mendapatkan bantuan biaya transportasi dan akomodasi. Kalau mau berangkat dengan biaya sendiri, apalagi dengan mengajak keluarga,…hmm… berat di ongkos, boo….!!  Apa harus korupsi dulu atau merampok bank? Hehe…

Well,.. singkat cerita, setelah abstrak untuk presentasi oral diterima oleh panitia, lalu mengurus berbagai dokumen di universitas, termasuk urusan paspor dinas dan surat ijin Setkab, akhirnya berangkatlah aku ke Jeju melalui Seoul. Kami dari Fakultas Farmasi UGM berangkat bertiga, yaitu dengan Bu Triana dan Pak Kharis. Tentu tujuan mulianya adalah untuk mendiseminasikan hasil penelitian kami di even regional/internasional untuk meningkatkan rekognisi Fakultas maupun Universitas, serta bisa menyerap ilmu dari para peneliti lain di belahan bumi yang berbeda… ciee…!! Tapi yang ngga kalah penting adalah “side-effect”-nya yaitu bisa jalan-jalan menjelajahi bumi Jeju di Korea hehe….

Perjalanan

Perjalanan dari Jogja ke Jeju memakan waktu total 26 jam terhitung sejak aku keluar rumah sampai menjejakkan kaki di Pulau Jeju. Whats??!!  Selama itu kah penerbangannya?…. Tentu tidak. Rute yang kutempuh dari Jogja ke Jeju adalah Jogja – Jakarta – Incheon (Seoul) – Jeju. Lumayan panjang, dan itu salah satu alternatif yang cukup convenient. Penerbangan dengan Garuda dari Jakarta ke Seoul dijalani dengan penerbangan malam, pukul 23.30, dan mendarat sekitar pukul 08.30 waktu Seoul. Penerbangan lanjutan ke Jeju adalah pukul 19.00, jadi kami punya waktu hampir seharian di Seoul. Sebenarnya ada penerbangan yang lebih awal ke Jeju, tetapi harus pindah ke bandara domestik Gimpo. Aku sengaja memilih penerbangan yang lebih malam saja, supaya bisa memanfaatkan waktu jeda menunggu untuk melancong ke Seoul, lagipula tidak perlu pindah bandara.

Salah kostum

Yang kurang tepat aku prediksikan adalah suhu udara di Seoul yang ternyata sekitar 1 derajat Celcius. Wah, salah kostum deh… karena aku hanya bawa sweater-sweater yang ngga terlalu tebal. Setelah aku cek lagi di peta, aku baru sadar bahwa Seoul itu berada cukup utara, yakni di garis lintang 37,28 Lintang Utara, kira-kira sejajar dengan Sendai di Jepang. Jadi maklumlah kalau suhu di awal musim dingin ini cukup dingin. Selama ini yang aku cek adalah perkiraan suhu di Jeju yang katanya berkisar 8-10 derajat. Jeju berada di garis lintang 33,30 Lintang Utara, hampir sejajar dengan Matsuyama Jepang (tempat aku belajar sewaktu S3 dulu), yang cuacanya memang lebih mild. Akhirnya untuk mengatasi suhu dingin, aku pakai sweater dobel-dobel..

Petualangan pertama : Insa-dong (Seoul)

Menanti bus no 6011 menuju Anguk

Menanti bus no 6011 menuju Anguk

Kalau biasanya jika aku melakukan perjalanan keluar kota sudah ada panitia yang mengantar ke tempat-tempat menarik, perjalananku kali ini banyak unsur petualangannya hehe… Membaca peta, baca buku panduan, dan tanya-tanya orang ketika mau menuju suatu tempat, sungguh cukup menantang. Terus terang persiapanku mempelajari Korea sangat mepet karena bahkan sampai hari terakhir sebelum berangkatpun masih harus menyelesaikan berbagai pekerjaan: review paper utk jurnal, kejar deadline laporan penelitian, bikin soal-soal ujian, sampai assesmen sertifikasi dosen. (Tau nggak, aku bahkan menyelesaikan assesmen sertifikasi dosen secara online di bandara Incheon Seoul hehe… buka rahasia nih… Untungnya koneksi internet sangat bagus. Wifi ada di mana-mana). Repotnya, tulisan di sana kebanyakan pakai tulisan Korea yang kriting-kriting itu, dan juga banyak dari mereka yang tidak fasih berbahasa Inggris. Tapi ga papa deh… the show must go on hehe..!!

Setelah kami baca-baca bentar pada buku Korea Travel Guide waktu leyeh-leyeh di bandara Incheon, kami tertarik dengan deskripsi tentang Insa-dong. Disebutkan bahwa Insa-dong adalah daerah dengan traditional culture of Korea dan tempat yang tepat bagi visitors yang pertama kali datang ke Korea untuk melihat aspek tradisional Korea. Lalu kami tanya ke Tourist information center bagaimana caranya untuk pergi ke sana. Ternyata cukup mudah, yaitu dengan bus Airport Limousine nomer 6011, dan turun di Anguk bus station. Tiket seharga 10.000 won jurusan Anguk dapat dibeli di counter tiket di airport, atau langsung dibayar di bus. Akhirnya dengan pake  sweater dobel, kami (aku berdua dengan bu Triana) siap-siap menembus dinginnya Seoul menuju Insa-dong. Aku sempat terkesan dengan sistim pembayaran tiket yang ada di bus, baik selama di Seoul maupun nanti di pulau Jeju. Penumpang bisa bayar dengan berbagai cara, berupa beli tiket, atau bayar cash, pakai kartu elektronik, atau bahkan dengan smart phone yang tinggal ditempelkan pada suatu alat semacam scanner di bus. Keren deh…!

Di Insa-dong dengan latar belakang toko-toko souvenir khas Korea

Di Insa-dong dengan latar belakang toko-toko souvenir khas Korea

Suhu dingin di Insa-dong cukup menusuk tulang, tanganku sampai beku karena tidak pakai kaos tangan, tapi hal itu tidak memudarkan semangat untuk berpetualang hehe… Setelah berhenti di Anguk station dan bertanya pada beberapa orang, sampailah kami ke Insa-dong. Di Insa-dong ada jalan tidak terlalu lebar, untuk pejalan kaki, yang dipenuhi dengan toko-toko souvenir tradisional Korea, lukisan, keramik, dll, termasuk juga beberapa restoran Korea. Wah, mata kami langsung jelalatan melihat aneka souvenir… mulai dari gantungan kunci, gunting kuku, dompet, tas, lukisan, kaos, dan aneka macam souvenir khas Korea lainnya. Aku harus berupaya keras menekan nafsu belanjaku hehe… di samping sangunya tidak banyak, konferens aja belum dimulai masa udah belanja duluan…

Di halaman istana

Di halaman istana Changyeonggung

Sepulang dari Insa-dong kami melewati sebuah bangunan tradisional, yaitu istana Changyeonggung. (Aduuh… paling susah menghafalkan nama Korea. Aku selalu terbalik-balik melafalkannya.) Sebenarnya kami tidak secara sengaja ke sana, tapi kebetulan saja sambil sekalian mencari bus station untuk kembali ke Incheon Airport. Istana ini banyak dikunjungi oleh para pelancong. Yang menarik, di depan istana ada 4 orang penjaga dengan pakaian kebesarannya, yang berganti-ganti posisi pada interval waktu tertentu. Kami tidak masuk ke sana sih, sekedar melihat dari halaman depan saja. Akhirnya kami balik ke Incheon sekitar jam 5 sore. Cukup senang bisa sampai Seoul, walau cuma sampai Insa-dong. Yang cukup repot di Seoul ini adalah mencari makanan yang halal dan tempat sholat. Untuk makan siang kami mencoba pancake seafood dan sop tofu. Dan tentu saja disajikan dengan kimchi… Lama-lama aku suka juga makan kimchi, padahal waktu di Indonesia membayangkan saja tidak suka…

Hari pertama di Jeju

Hotel Ramada Plaza di kejauhan

Hotel Ramada Plaza di kejauhan

Pesawat Asiana Airlines yang membawa kami ke Jeju terbang mulus dan mendarat di Jeju Airport pada jam 20:an waktu setempat. Sesuai dengan prediksi, suhu di Jeju tidak sedingin suhu Seoul. Kami langsung naik taksi menuju hotel Ramada Plaza tempat conference akan diselenggarakan, sekaligus tempat kami menginap. Sopir taksinya cukup ramah, menanyakan kami dari mana. Yang menarik, setelah tahu kami dari Indonesia, dia sempat menanyakan tentang GDP (gross domestic product)  Indonesia. (Waduuh, maap pak Sopir, aku ngga pernah mikirin…. yang jelas pastinya jauh deh di bawah Korea Selatan hehe…) Hotelnya sendiri cukup bagus dan berlokasi di pinggir laut. Ditawarkan kamar dengan ocean view atau mountain view. Tapi aku memilih kamar dengan mountain view saja, karena harganya lebih murah. Maklum harus berhemat-hemat karena biaya hidup di Korea cukup tinggi. Malam itu kami langsung terkapar dengan pasrah karena kelelahan setelah perjalanan dan jalan-jalan cukup panjang….

Awal musim dingin di Jeju membuat agak disorientasi waktu. Jam 6:30 pagi masih terlihat gelap seperti masih malam. Akhirnya kami memutuskan sholat shubuh pada pukul 5 saja seperti di Indonesia. Hari pertama di Jeju kami terbangun agak siang setelah tidur lagi seusai sholat shubuh. Karena acara pembukaan baru akan dimulai jam 13, pagi menjelang siang kami memutuskan untuk mengeksplorasi tempat konferens sekaligus registrasi dan melihat-lihat sekitar hotel. Di area konferens untuk registrasi, kami bertemu dengan delegasi Indonesia yang lain, yaitu dari Unpad (Univ Padjajaran) dan dari UI (Universitas Indonesia). Cukup surprised juga ketika pertama kali bertemu dengan Prof Yahdiana dari UI, beliau menyapa..” Ini bu Zullies, kan.?”….hehe.. agak ngetop juga rupanya… Area konferens ada di lantai 2 hotel dan menghadap ke arah lautan sehingga pemandangan keluar terlihat cantik. Banyak panel-panel poster yang sudah mulai dipasang di lobby, sehingga kita bisa menikmati poster sambil melihat laut luas hehe…

Setelah registrasi dan melihat-lihat tempat konferens, kami keluar hotel untuk mengeksplorasi sekitar hotel. Yang penting adalah nambah beli minuman dan makanan buat makan siang.  Sampailah kami di E-mart, sebuah department store yang merupakan jaringan retail tertua dan terbesar di Korea.  Setelah cukup berkeliling, kami terdampar di sebuah toko souvenir khas Jeju. Biasalah… mata langsung jelalatan mencari berbagai barang menarik yang bisa dijadikan oleh-oleh sambil menghitung-hitung isi kantong. Beruntung penjualnya seorang wanita muda yg ramah dan bisa berbahasa Jepang. Akhirnya berbekal bahasa Jepang sepotong-potong, aku mencoba nawar dan lumayanlah… beberapa item dapat harga lebih murah dan dapat bonus..  Untuk makan siang kami agak sulit mencari makanan yang bisa dimakan, akhirnya cukuplah makan dua potong onigiri isi tuna dan mayonaise. Gitu aja sudah alhamdulillah…

AFPS Conference 2013

Jam 13 waktu setempat acara pembukaan AFPS Conference 2013 dimulai. Acaranya cukup meriah diwarnai dengan penampilan tradisional Korea berupa tarian dengan menabuh semacam genderang. Jangan dibayangkan ada snack tersedia di lobby seperti kebiasaan acara-acara seminar di Indonesia.  Tapi lumayanlah tersedia teh dan kopi yang bisa diambil self-service. Setelah pembukaan dilanjutkan dengan acara plenary lecture yang disampaikan oleh Kazuhide Inoue, PhD dari Kyushu University Japan,  yang menyampaikan tentang “ P2X4 blockers: new drugs for neuropathic pain”.  Terus terang, aku hanya bisa memahami sepotong-sepotong saja..hehe….

AFPS Conference kali ini adalah yang ketigakalinya diselenggarakan oleh Federasi Ilmuwan Farmasi Asia alias AFPS ini. AFPS conference sebelumnya diselenggarakan di Jepang dan Kuala Lumpur. Pesertanya adalah para ilmuwan/penelitia bidang kefarmasian se-Asia. Untuk konferens kali ini, terdapat 313 peserta presentasi poster dan 24 peserta presentasi oral. Adapun sesi saintifiknya terbagi dalam beberapa bidang, yaitu Physical Pharmacy & Formulation Design, Biotechnology & Drug Delivery, Drug Design & Development,  Regulatory Science & Policy, Biopharmaceutics, Pharmacokinetcs & Metabolism, Pharmaceutical Manufacturing Technology, dan Pharma convergence.  Menurut informasi, AFPS conference mendatang akan diselenggarakan di Thailand pada tahun 2016, dan di Indonesia pada tahun 2019.

Performance tradisional Korea saat opening ceremony

Performance tradisional Korea saat opening ceremony

Sesame seed coated tuna tataki eith tomato salsa and mango dressing...

Sesame seed coated tuna tataki with tomato salsa and mango dressing…

Malamnya kami mengikuti banquet dinner yang cukup meriah..  Sayangnya aku tak pernah nonton film atau memperhatikan artis/penyanyi Korea… Jadi ketika ada penampilan penyanyi Korea dalam dinner tersebut, aku ngga kenal sama sekali. Makanan pada banquet dinner semuanya unik-unik dengan nama yang tak biasa. Sebagai contoh saja, makanan pembuka adalah “Sesame Seed Coated Tuna tataki with Tomato Salsa and Mango Dressing”… Opo maneh kuwi? Hehe… Menu lainnya adalah : Curried cauliflower and potato cream soup with croutons, Garden green salad with kiwi dressing, dan Grilled beef tenderloin steak with pepper sauce. Pulang dinner rasanya kurang kenyang hehe… karena makanannya terlalu ringan-ringan… Indah di mata, tapi kurang kenyang di perut…

Petualangan kedua : Seongsan Ilchulbong peak

Seongsan Ilchulbong dilihat dari atas

Seongsan Ilchulbong dilihat dari atas

Pada malam hari pertama itu, sepulang dinner menjelang tidur, kami mencoba mempelajari Travel guide Jeju dan melihat peta, untuk mencari tempat mana yang akan kami kunjungi besok. Serius banget deh mempelajarinya, melebihi persiapan presentasinya hehe… Karena jadwal presentasi kami kebetulan sore hari, paginya akan kami gunakan untuk menjelajahi Jeju. (Salahnya Panitia kenapa membuat acara konferens di tempat yang terlalu indah, jadi pesertanya pada kabur semua hehe… maap). Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Seongsan Ilchulbong, sebuah bentukan geologis seperti kerucut dengan puncak yang cekung, yang terbentuk dari letusan hidrovolkanik di atas dasar laut dangkal, sekitar 5 ribu tahun yang lalu. Terletak di pesisir timur Pulau Jeju, tingginya sekitar 182 meter. Seongsan Ilchulbong, yang dikenal juga dengan nama “sunrise peak” ini, ditetapkan UNESCO sebagai salah satu “7 wonder of nature” di dunia.

Pagi itu kami berangkat dari hotel jam 7  menuju Jeju inter-city bus station dengan taksi dengan ongkos 4300 won. Selanjutnya kami tanya ke penjual tiket untuk bus jurusan Seongsan Ilchulbong. Syukurlah, kami segera mendapat bus jurusan nomer 700 untuk menuju Seongsan dengan harga tiket 3000 won. Semula sopir taksi yang membawa kami menawarkan untuk mengantar ke Ilchulbong dengan biaya 60.000 won pulang pergi, katanya lebih cepat daripada bus. Tapi kami kepengen berpetualang naik bus saja, karena niatnya memang ingin melihat sekeliling.  Bus membawa kami menuju Seongsan dengan menyusuri pesisir utara pulau Jeju. Pemandangan indah segera terhampar di sepanjang perjalanan, sesekali kami melihat hamparan laut biru di kejauhan. Sebenarnya cukup banyak tempat-tempat yang bisa dikunjungi sepanjang perjalanan itu, tapi dengan waktu yang terbatas, kami tidak bisa memilih terlalu banyak. Setelah menempuh perjalanan sekitar 1,5 jam, sampailah kami di Seongsan bus station.

Setelah tengak-tengok sekeliling, akhirnya kami menemukan petunjuk jalan menuju Ilchulbong. Harga tiket masuknya 2000 won. Wow… kami langsung terpesona dengan keindahan alamnya… Sebuah jalan selebar 2 meter berundak-undak yang panjang terbentang berkelak-kelok menuju puncak kubah Ilchulbong yang bertinggi 182 meter.  Banyak wisatawan yang melancong kesana, dan tempat ini memang salah satu tempat kunjungan favorit di Jeju. Pelan-pelan kami menyusuri jalan berundak sambil sesekali berhenti kecapekan. Wah,.. terasa banget buat aku yang jarang olah raga, baru beberapa tangga sudah terengah-engah. Namun dengan semangat yang tinggi, sampai juga kami mencapai puncaknya. Apalagi pemandangan dari atas sangatlah indah… hamparan rumah, laut, bukit karang, membentuk lukisan alam yang mempesona.

Pemandangan indah terhampar dalam perjalanan ke puncak Ilchulbong

Pemandangan indah terhampar dalam perjalanan ke puncak Ilchulbong

Puncaknya sendiri hanya berupa hamparan rumput hijau, dan kami berada di salah satu sisi bibir puncaknya. Di puncak terdapat dataran yang digunakan untuk para pengunjung melihat ke arah cekungan puncak Ilchulbong maupun ke arah lain.

Cekungan puncak Ilchulbong di sebelah kiri, dan tangga untuk turun di sebelah kanan

Di pucncak Ilchulbong. Cekungan puncak Ilchulbong terlihat di sebelah kiri, dan tangga untuk turun di sebelah kanan

Perjalanan turun terasa lebih ringan, dan kami banyak mengabadikan pemandangan yang indah dari atas. Pemandangan yang komplit, karena mengandung unsur laut, bukit, dataran, langit… Subhanallah !

Pengumuman tentang performance woman diver di jeju

Pengumuman tentang performance woman diver di jeju

Yang unik lagi dari tempat ini adalah adanya penyelam-penyelam wanita di Jeju yang disebut Haenyeo. Dari tempat tadi, kami turun menuju ke laut, di mana di sana dijumpai para wanita penyelam sedang menjejerkan hasil tangkapannya berupa aneka ikan, kerang, gurita, siput laut, dll. Sayangnya kami datang bukan pada saat yang pas ketika mereka ada performance untuk diving. Untuk performance itu ada waktu-waktunya. Keunikan ini berasal dari budaya Jeju yang matrialkal, di mana para wanitalah yang bekerja mencari nafkah. Keberadaan woman diver ini memang saat ini makin berkurang karena banyak wanita Jeju yang bekerja di bidang lain, namun sebagian masih mempertahankan budaya ini, sekaligus sebagai atraksi untuk pariwisata.

Presentasi oral di AFPS Conference

Mejeng dulu sebelum presentasi

Mejeng dulu sebelum presentasi

Sekitar jam 12.30 kami segera mencari bus untuk kembali ke Jeju city karena harus segera mempersiapkan presentasi kami masing-masing. Sesampai di hotel, ganti kostum resmi, kami menuju tempat konferens berlangsung. Percaya tidak, kami bertemu dengan delegasi dari UI, dan mereka ternyata juga habis jalan-jalan ke Ilchulbong !! Jadi ngga salah kan, kalau kami jalan-jalan dulu sebelum presentasi hehe….

Presentasiku dilaksanakan di ruang Biyang Hall bersama 5 pembicara lain, yang berasal dari Korea, Jepang, China, Thailand, dan Indonesia. Presentasi berjalan lancar-lancar saja, dan aku mendapat satu pertanyaan dari audiens. Tak lama setelah sesi presentasi selesai, karena kebetulan merupakan sesi terakhir, diadakan acara penutupan. Alhamdulillah, tugas utama telah ditunaikan. Malamnya kami berpikir keras, mempelajari travel guide, membaca peta, minta tolong mbah Google, untuk merancang petualangan kami hari berikutnya hehe….

Petualangan ketiga : Jungmun dan Seogwipo area

Hari terakhir di Jeju merupakan hari yang seru. Jadwal penerbangan pesawat kami ke Incheon adalah pukul 21.05, jadi kami punya waktu hampir seharian menjelajahi jeju. Dengan berbekal peta dan buku petunjuk Jeju, kami memulai perjalanan dari Jeju inter-city bus station. Destinasi pertama yang ada dalam rencana kami adalah Taman Nasional Mt. Hallasan. Gunung Hallasan merupakan gunung tertinggi di pulau Jeju dan terletak di tengah pulau, yang merupakan UNESCO World Heritage. Gunung ini merupakan tempat wisata pendakian buat mereka yang hoby mendaki gunung, dengan jalur pendakian sekitar 10 km untuk mencapai puncak. Ada beberapa jalur pendakian yang disediakan, antara lain jalur Seongpanak, Eorimok, Yeungsil, Gwaneumsa, Eoseungsaengak, dan Donnaeko. (aduuh, susah banget ngapalin nama-nama Korea….). Akhirnya kami memilih untuk menuju Seongpanak. Dari Jeju-city, perjalanan dengan bus ke Seongpanak memerlukan waktu sekitar 30-45 menit, dengan harga tiket 2500 won.

salju di kaki gunung Hallasan

salju di kaki gunung Hallasan

Bus nomer 740 melaju membawa kami menuju Seongpanak. Wah, ternyata aku salah kostum lagi…. Ketika kami sampai Seongpanak, area di sana sudah penuh wisatawan, baik dengan bus atau kendaraan pribadi. Mereka dengan kostum jaket tebal, kaos tangan tebal, topi, dan keperluan yang komplet utk mendaki. Suhu di sana sangat dingin bahkan di beberapa tempat terdapat hamparan es/salju berwarna putih. Dengan kostum sweater walaupun sudah dobel, aku tak bisa bertahan lama di sana… tanganpun terasa beku. Dan kami memang tidak ada rencana mendaki gunung yang bisa memakan waktu berjam-jam. Akhirnya kami hanya sekedar foto-foto di sana untuk mendokumentasikan bahwa kami pernah menginjakkan kaki di sana hehehe….

Certificate di kaki gunung Hallasan

Certificate di kaki gunung Hallasan

Lumayan, dapat “certificate” bahwa kami sudah sampai di Mt Hallasan..hehe…  Certificate-nya nempel di sebuah tugu. Tidak sampai 30 menit di sana, kami memutuskan untuk melanjutkan petualangan ke tempat lain, yaitu Seogwipo. Seogwipo adalah suatu kota kecil di bagian selatan pulau Jeju, yang berarti letaknya berseberangan dengan Jeju-city yang ada di bagian utara pulau. Menurut buku travel guide, di daerah Seogwipo terdapat beberapa tempat wisata yang bisa dikunjungi. Jadilah kami menumpang bus lanjutan (no 740) menuju Seogwipo. Kami ditarik bayaran 2000 won untuk ke Seogwipo. Agak sedikit nekad memang, karena kami tidak tau nanti akan seperti apa, berhenti di mana, dan mau kemana. Pokoknya ngikutin aja dulu kemana bus berjalan hehe…

Perjalanan ke daerah Seogwipo cukup indah… di beberapa tempat terlihat pohon-pohon dengan daun kuning dan kemerahan, warna khas  musim gugur. Selain itu, kami juga sering menjumpai hamparan kebun jeruk dengan jeruknya yang oranye bergelantungan. Nampaknya jeruk merupakan komoditi pertanian utama di pulau Jeju. Di setiap bus station kami mencoba mencari tulisan Seogwipo di mana rencananya kami akan berhenti. Sampai akhirnya bus masuk ke daerah perkotaan dan berhenti agak lama di sebuah bus station. Tapi karena nama yang tertulis bukan Seogwipo, kami tetap duduk manis saja di bus sampai bus berjalan lagi.  Beberapa bus station terlewati, tetapi tetap saja tidak ada nama Seogwipo tujuan kami. Bingung deh harus turun di mana… Sampai kemudian bus kami terus berjalan dan terlihat meninggalkan daerah perkotaan. Kami mulai masuk lagi ke daerah yang tidak banyak rumah-rumah. Kami bahkan melewati Stadium World Cup di salah satu bagian perjalanan kami. Akhirnya aku coba mengecek lokasi kami lewat GPS (global positioning system) yang ada di hand phone-ku, dan ternyata posisi kami sudah mulai meninggakan Seogwipo-city.  Wah… berarti udah kebablasan nih… kalau gitu kami harus memutuskan destinasi berikutnya di mana kami akan turun. Segera kami buka travel guide lagi, dan kami pernah membaca bahwa di barat Seogwipo ada destinasi wisata juga yaitu Jungmun Daepo Columnar Jointed lava. Akhirnya kami memutuskan untuk berhenti di Jungmun.

Di bus station Jungmun, kami masih bingung mau kemana. Untunglah ada sepasang bapak-ibu yang sudah agak berumur menyapa kami. “Dari Malaysia ya?” katanya.” Oh, bukan, kami dari Indonesia”. Sekalian deh aku tunjukkan gambar yang ada di buku travel guide kami, dan menanyakan jika kami kepengin kesini, bagaimana caranya. Alhamdulillah, ternyata tempat kami berhenti tidak terlalu jauh dari destinasi kami. Dia menunjukkan arah kemana kami perlu jalan, yaitu lurus kesana dan belok kiri, nanti akan sampai. Tapi kalau harus jalan sekitar 1 km…. wah, mana tahan boo… Lagian kami cuma sarapan mi kuah tadi pagi hehe… Akhirnya dengan taksi kami menuju ke Jungmun Daepo yang hanya berongkos 2800 won.

Pilar-pilar karang di Jungmun Daepo

Pilar-pilar batu karang di Jungmun Daepo yang menakjubkan

Jungmun Daepo merupakan tempat yang sangat indah di pinggir laut dengan bentukan geologis yang tidak biasa, berupa pilar-pilar batu berbentuk kubus panjang sebagai akibat pembekuan lava dari gunung yang langsung masuk ke laut ribuan tahun yang lalu. Yang menakjubkan, bekuan lava itu membentuk pilar-pilar yang berjajar rapi seperti dibuat oleh manusia membentang sepanjang 2 km berlekuk-lekuk. Subhanallah… begitulah kebesaran Sang Pencipta. Kami tidak bisa turun ke pilar-pilar batu itu tetapi ada tempat semacam gardu pandang yang didisain untuk memandang dari jauh. Sungguh tidak rugi kami bisa menyaksikan keindahan alam yang juga masuk dalam “7 wonder of nature” ini.

Setelah cukup puas di sana, kami mencari destinasi selanjutnya. Setelah membaca lagi travel guide, kami memutuskan untuk melihat Jeongbang waterfall. Dalam buku tertulis bahwa air terjun ini merupakan satu-satunya tempat di Korea Selatan di mana kita bisa melihat air terjun yang langsung jatuh ke laut. Karena tidak ada bus kesana, kami menggunakan taksi setelah berjalan sebentar ke jalan besar. Jeongbang waterfall cukup banyak dikunjungi wisatawan. Untuk menuju air terjun, kami harus menyusuri jalan berundak-undak yang menurun ke batu-batuan di dekat air terjun. Sebetulnya air terjun-nya sendiri sih menurut aku biasa saja, seperti air terjun yang ada di Indonesia juga. Tapi dengan tinggi sekitar 23 meter dan langsung jatuh ke laut itulah yang menjadi unik. Sehingga juga ada kombinasi pemandangan yang indah… air terjun, langit biru, laut, bebatuan…. sesuatu banget !

Kombinasi cantik antara air terjun, bebatuan, laut, langit dan aku sendiri di Jeongbang waterfall hehe...

Kombinasi cantik antara air terjun, bebatuan, laut, langit dan aku sendiri di Jeongbang waterfall hehe…

Setelah puas menikmati air terjun, kami memikirkan destinasi berikutnya. Ada satu tempat yang menarik nampaknya yaitu Jeju Folk Village museum. Tapi setelah kami bertanya ke Tourist Information Center, ternyata perjalanan ke sana cukup jauh dan nampaknya cukup mahal. Kami turis yang berkantong cekak ini perlu berpikir dua kali. Dan karena sudah siang serta lapar juga, akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke kota yang tadi kami lewati, untuk sekedar mencari sesuatu yang bisa dimakan. Petugas information center menyarankan kami untuk naik taksi ke Jungangno rotary. Akhirnya kami naik taksi menuju daerah pusat kota, yang ternyata di dekat Jungangno rotary bus station yang tadi sudah kami lewati dan bus berhenti agak lama, tapi tidak turun karena ragu-ragu. Itulah yang namanya “blessing in disguise”…karena tidak tau harus turun di mana tadi, kami justru bisa sampai Jungmun Daepo hehe…. Kalau kami tadi berhenti di sini, mungkin ceritanya akan lain lagi….

Dua potong crabs roll dan beberapa suap chese cake plus jus tomat di cafe Paris Baguette lumayan memenuhi perut siang itu, sambil kami memikirkan tujuan berikutnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 13-an, jadi kami harus memilih yang dekat-dekat saja, karena setelah itu kami harus kembali ke Jeju-city dan bersiap-siap ke Incheon malamnya. Akhirnya pilihan jatuh ke Seokbujak Theme Park, yang nampaknya cukup menarik dan tempatnya tidak terlalu jauh.

Denah Museum Seokbujak

Denah Museum Seokbujak

Seokbujak Theme Park merupakan museum dan taman yang dipenuhi aneka tanaman, terutama adalah tanaman jeruk (tangerine). Harga tiket masuknya agak mahal, yatu 6000 won. Museum ini merepresentasikan 3 simbol di Jeju, yaitu : angin, batu, dan wanita. Batu-batuan dengan berbagai bentuk menghiasi taman dengan berbagai tanaman. Sayangnya kami datang pada akhir musim gugur, jadi tidak banyak bunga yang bermekaran seperti yang kami lihat pada foto di depan halaman museum.  Kami menyusuri taman yang penuh dengan pohon jeruk dan pohon omija (five flavour berry) yang berbuah lebat, dan taman dengan air mancur. Terdapat pula patung-patung dengan karakter khas Jeju yang menjadi symbol Jeju, yang disebut Dolhareubang, yang artinya “stone grandfather”…

Bersama Dolhareubangs

Bersama Dolhareubangs

Sayangnya lagi tidak ada guide yang bisa berbahasa Inggris, jadi kami kurang mendapat banyak informasi dari Museum ini kecuali dari apa yang dilihat. Yah, tapi cukup puaslah…  Kami tidak terlalu lama di sini karena harus segera kembali ke Jeju-city. Bagian sini menjadi agak heroik karena kami harus berjalan kaki cukup jauh menuju bus station terdekat untuk bisa mendapatkan bus ke Jeju-city. Kalau ada pengukuran lingkar betis pre and post jalan-jalan, kayaknya ada perbedaan signifikan deh….hehee….

Alhamdulillah, akhirnya kami dapat bus menuju Jeju-city, dan kami sengaja naik bus dengan nomor yang sama dengan saat berangkat (bukan sebaliknya) sehingga kami kembali ke Jeju-city dengan rute yang berbeda dengan berangkatnya karena bus berjalan melingkar. Bisa dibilang kami berpetualang melingkari Mt Hallasan, dari sisi utara, timur, selatan, ke barat, dan balik lagi ke utara… Sangat mengesankan…!!

Kembali ke kota tercinta

Kami sampai di Jeju-city pada pukul 5 sore waktu setempat. Segera kemudian menuju Ramada Hotel untuk mengambil barang yang kami titipkan di sana, dan berangkat ke Airport menggunakan taksi. Setelah lumayan lama menunggu di Jeju Airport, akhirnya pesawat Asiana Airlines membawa kami malam itu ke Incheon. Di Incheon kami menginap semalam di hotel Gogo House dekat airport yang memang biasa menerima pelancong yang menginap karena menunggu penerbangan, sehingga merekapun menyediakan service mengantar ke Airport.

Demikianlah kawan, setelah transit beberapa jam di Jakarta, akhirnya kami bisa kembali ke Yogya bertemu lagi dengan keluarga tercinta dengan segudang kenangan dan cerita, seperti yang kudokumentasikan dalam tulisan ini.

Iklan

Aksi

Information

12 responses

4 07 2014
Rizkhina

Bu Zullies, bagi ilmunya dong, bagaimana cara belajar agar tetap cerdas setiap saat dengan tetap mentaddaburi ayat-ayat Allah dan selalu berjiwa muda?

Tulisannya Ibu seperti tulisan anak gaul punya. Saya suka. Yang muda saja kalah gaul Hehehe 😀

12 05 2014
dunia wisata singosari

infonya sangat bermanfaat ^_^
tidak mau repot mengurus sendiri persiapan buat liburan??? mari berwisata bersama Dunia Wisata Singosari Malang

jangan lupa mampir di http://www.duniawisataku.com kami melayani jasa tour pariwisata dalam dan luar negeri.. bagi yang berada di malang bisa datang langsung ke Jl. Kembang No.8 Singosari Malang. atau call di 0341-456444

1 05 2014
cincin kawin

perjalanan yang mengesankan ibu

13 04 2014
kadek ayu

keren sekali ibu…saya dari bali..dari dulu impian saya ingin ke jeju.tapi kantong ga bisa di ajak kompromi..hee.hee Saya salut dan bangga sama ibu.tetap semangat bu..setiap hari say acari tau tentang Jeju.tambah tertarik lagi setelah baca blognya ibu…mudah-mudahan saya bisa kayak ibu…di tunggu ya buk tulisan berikutnya…

12 01 2014
Fifin Oktaviani Rz

Subhanallah…,amazing bu. Semoga ibu terus berkarya, selalu sehat sehingga bisa menjelajahi belahan dunia/negara lain, sambil berbagi ilmu..

29 12 2013
Princess Goods

envy.. serunya perjalanan ke pulau jeju .

22 12 2013
Pkbm Sidodadi

Subhanallah Bu Prof, kebetulan saya baca artikel di tribun jogja , surat kabar langganan di Perpustakaan kami Perpustakaan Sidodadi, Pripih desa Hargomulyo, Kokap, Kulon Progo Hari Minggu 23 desember 2013, kebetulan menemukan WEBlog Ibu….nderek bingah ya.

30 11 2013
pharmartacist

wow, saya hanya bisa komen wooowww, prof

29 11 2013
Asih Lestari

subhanallah ibu…keren sekali cerita ibu kali ini..
jujur saya terakhir baca postingan ibu tentang obat yang bikin gemuk itu..
abis itu setiap 2 atau 3 hari sekali kalau buka internet (kebetulan blog ibu saya jadikan fitur khusus sehingga tinggal klik saja langsung masuk ke blog ibu), saya cek kok gak pernah posting lagi..
saya mikirnya, mungkin ibu lagi sibuk banget kegiatannya..
pas pertemuan pertama Farmol pasca UTS sebenernya mau minta diceritakan perjalanannya ke Korea, eh pas cek blog ibu, udah ada aja…
tambah salut sama ibu…keren bu…
semoga kelak saya bisa kayak ibu ya bu….berpetualang keliling dunia tentunya sambil sharing ilmu kepada sesama seperti yang ibu lakukan..
aamiin…

29 11 2013
Lina

Amazing journey bu Zulies! Sayangnya, sebagai seorang yg hobi snorkeling, saya kurang suka tentang bagian divers yang menjejerkan tangkapannya! Karena di dalam sana kehidupan satwa laut indaaaah sekali, sayang sekali kalau ditangkapi apalagi untuk dimakan.

Jawab
dear Mbak Lina… woman divers di Jeju itu memang menyelam dengan tujuan menangkap binatang-binatang laut itu untuk dikonsumsi, dijual untuk mencari nafkah. Sama seperti para prianya yang menjadi nelayan dengan kapal menangkap ikan. jadi bukan menyelam untuk menikmatai keindahan dalam laut.. 🙂

28 11 2013
mega

Subhanallah…. keren sekali prof…. mata ngantuk jdi melek baca petualangan prof zullies di pulau jeju,,,, ckckck… msh terkagum kagum,,,, msh geleng2… ditunggu petualangan2 berikutnya prof 🙂

28 11 2013
Nita

Senangnya membaca postingan2 Ibu, sy jd lebih bersemangat untuk belajar lagi.. kalah sy yg msh muda sj sudah malas belajar bu, hehe..
sukses selalu ya bu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: