Catatan perjalanan: Melanglang ranah Minang…

6 10 2013

Dear kawan,

Mejeng dulu sebelum on stage

Mejeng dulu sebelum on stage

Undangan menjadi salah satu pemakalah utama pada sebuah Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh Fakultas Farmasi Universitas Andalas kusambut dengan agak excited. Yang pertama, ini adalah sebuah kehormatan, pengakuan, dan kepercayaan kepadaku bahwa aku dipandang cukup layak menjadi salah satu pembicara utama dalam seminar tersebut. Apalagi Fakultas Farmasi Andalas termasuk Fakultas Farmasi senior di kawasan Sumatera, dan banyak pakar-pakar kefarmasian yang lahir dari sana. Yang kedua, well… tentu saja aku senang, karena aku belum pernah ke Padang. Jadi nanti aku bisa “menancapkan bendera” di kota ketiga di Pulau Sumatra, setelah Batam dan Banda Aceh, sebagai kota yang pernah aku kunjungi untuk ngamen. Sudah kebayang sih masakan Padang itu seperti apa karena di Yogya juga banyak RM Padang.. tapi pasti tetap lebih asyik makan masakan Padang yang made in Padang asli hehe….

Topik yang berat : Tinjauan molekuler herbal imunomodulator

Topik yang diminta oleh panitia kepadaku adalah “Tinjauan molekuler herbal imunomodulator”. Suer,.. itu topik yang ngga ringan. Setidaknya ada tiga “kata kunci” yang harus dipahami lebih dulu… Yang pertama, imunomodulator. Berbicara tentang imunomodulator tentu harus memahami dulu tentang sistem imun. Dan sistem imun adalah sistem paling kompleks dalam tubuh kita karena melibatkan berbagai sel-sel inflamatori dan puluhan protein mediator, seperti sitokin, limfokin, dll.  Yang kedua, obat herbal. Ini adalah sebuah tantangan tersendiri karena sediaan herbal berisi berbagai senyawa yang masing-masing juga memiliki aksi sendiri. Dan bicara tentang penelitian herbal di Indonesia, aku melihat satu tingkat penelitian yang sifatnya “nanggung” dan masih superfisial sekali. Yang sampai ke penelitian uji klinik hingga dipercaya penggunaannya oleh klinisi masih sangat sedikit, sementara di sisi lain yang advanced sampai ke tingkat molekuler juga sangat terbatas. Yang ada adalah kajian diversifikasi efek sediaan herbal yang baru dalam tataran preklinik, atau bahkan in vitro. Akhirnya yang muncul adalah suatu informasi bahwa satu macam sediaan herbal memiliki efek A, B,C,D, sampai Z.  Dan ketika kita kejar sampai klinis ternyata tidak terbukti, sementara dikejar ke aras molekuler juga tidak bisa. Namun demikian ini adalah tantangan kita bersama. Kata kunci ketiga adalah kajian molekuler. Ini juga bukan kajian yang simple karena melibatkan aneka molekul sebagai second messenger, melalui berbagai transduksi signal, sampai dicapainya suatu efek seluler.

Namun demikian aku berusaha untuk memaparkan sebisaku, dan memberikan contoh beberapa herbal beserta mekanisme molekulernya sebagai imunomodulator. Istilah imunomodulator sendiri merujuk pada suatu agen yang dapat mengembalikan dan memperbaiki sistem imun yang fungsinya terganggu, atau menekan yang fungsinya berlebihan. Pada kondisi di mana sistem imun hiperreaktif, baik terhadap paparan dari luar maupun dari dalam tubuh, maka diperlukan suatu imunosupresan. Sebaliknya, jika sistem imun terlalu lemah dan kurang reaktif sehingga tidak mampu melawan patogen yang masuk, maka diperlukan suatu imunostimulan. Telah banyak obat-obat sintetik yang bekerja sebagai imunomodulator, baik sebagai imunostimulan maupun imunosupresan. Herbal dapat pula menjadi sumber senyawa imunomodulator. Sebagian telah digunakan secara empirik oleh masyarakat dan dipercaya sebagai penguat daya tahan tubuh. Beberapa diantaranya adalah Curcuma sp, Rhododendrum spiciferum, Caesalpinia sp, Panax ginseng, Echinacea purpurea, Calendula officinalis, dll.

Hingga saat ini, tinjauan terhadap mekanisme aksi herbal sampai dengan tingkat molekuler masih sangat terbatas. Hal ini dipersulit dengan banyaknya komponen fitokimia dalam suatu sediaan herbal. Efek seluler suatu sediaan obat herbal umumnya merupakan efek beberapa senyawa secara simultanpada berbagai target, yang saling komplementer. Padahal, mekanisme molekuler hanya menggambarkan interaksi satu senyawa aktif dengan satu molekul target. Mekanisme molekuler bisa menjelaskan aktivitas farmakologi tertentu suatu obat herbal dengan asumsi bahwa hanya ada satu senyawa yang beraksi, dan senyawa lain tidak berinteraksi. Namun karena faktanya sediaan herbal itu multikomponen, maka mekanisme molekuler satu komponen obat herbal pada satu target molekuler tidak selalu menggambarkan overall effect suatu obat herbal pada sistem biologis.

Dalam mengkaji mekanisme molekuler suatu imunodilator dari herbal, kesulitan lebih banyak dijumpai karena signaling pada sistem imun sangat kompleks dan saling kait mengait. Target molekuler yang telah banyak dipelajari adalah NFkB, suatu regulator transkripsi gen, yang berperan penting dalam regulasi ekspresi gen pro-inflammatory pada berbagai sel. NF-κB teraktivasi tinggi di tempat inflamasi pada berbagai penyakit imunitas dan menginduksi transkripsi berbagai molekul pro-inflamatory seperti sitokin, chemokin, molekul adhesi, oksida nitrat, matriks metaloproteinase, dll. Dalam paparan ini hanya akan dibahas dua macam herbal imunomodulator yang telah banyak diteliti, yaitu Curcuma sp mewakili golongan imunosupresan, dan Echinacea sp mewakili golongan imunostimulan.

Curcumin sebagai inhibitor jalur signaling NFKB

Curcumin sebagai inhibitor jalur signaling NFKB

Curcumin sebagai senyawa aktif dari Curcuma sp telah banyak dilaporkan memiliki aktvitas antiinflamasi, anti alergi, antioksidan, antikanker, dll. Curcumin menjalankan aksinya melalui beberapa mekanisme molekuler, salah satunya dalam menghambat aktivitas NFkB, dengan cara memblok signal yang mengaktifkan IkB kinase (IKK), yang pada gilirannya akan menghambat sintesis berbagai mediator inflamasi.  Selain itu, penelitian lain melaporkan bahwa curcumin juga bekerja menghambat aktivasi limfosit T dengan cara memblok mobilisasi Ca dan menghambat aktivasi NFAT (nuclear factor of activated T cells). Aksi-aksi ini memperantarai aktivitas curcumin sebagai imunosupresan.Sebaliknya, Echinacea sudah banyak dilaporkan memiliki efek imunostimulan dan digunakan secara empirik oleh masyarakat, terutama di Amerika sebagai tempat asalnya. Di tingkat seluler, Echinacea beraksi mengaktifkan proses fagositosis oleh makrofag, memobilisasi leukosit, dan meningkatkan produksi beberapa sitokin, seperti IL-1, IL-6, IL-10, dan TNF-alpha, serta memicu proliferasi limfosit. Echinacea mengandung banyak komponen fitokimia, namun yang dilaporkan memiliki efek imunostimulan adalah senyawa alkylamide, karena itu untuk standarisasi Echinacea disarankan menggunakan senyawa alkylamide-nya. Di tingkat molekuler, Gertsch et al (2004) melaporkan untuk pertamakalinya bahwa senyawa alkilamide dari Echinacea dapat memodulasi ekspresi gen TNF-alpha melalui aktivasi reseptor cannabinoid CB2 dan beberapa transduksi signal lainnya.

Demikian paparan singkatku dalam seminar ini mengenai tinjauan molekuler obat herbal yang digunakan sebagai  imunomodulator. Masih banyak penelitian yang perlu dilakukan untuk mengungkap berbagai mekanisme molekuler obat herbal, namun demikian tetap tidak boleh dilupakan untuk menguji overall effect-nya dengan uji klinik pada manusia jika memang ingin dikembangkan menjadi herbal unggulan yang dapat dimanfaatkan untuk kesehatan.

Perjalanan, Sate Padang dan Es Durian

Kamis siang itu, 3 Oktober 2013, pesawat Garuda yang membawaku dari Yogyakarta – Jakarta dan Jakarta – Padang melayang mulus membelah angkasa. Waktu transit sekitar 3 jam di Bandara Soetta kuisi dengan baca-baca lagi bahan presentasiku di Lounge BNI yang nyaman dan full makanan… Cuaca cerah sekali bahkan cenderung panas ketika aku berada di atas awan. Pesawat mendarat tepat waktu di Bandara international Minangkabau. Bangunan khas Minang dengan atap seperti tanduk kerbau kujumpai di beberapa tempat selama perjalanan menuju Hotel. Aku dijemput bu Ayu, salah satu staf Fak Farmasi Unand, dan langsung diantar ke Hotel Grand Zuri. Di sepanjang perjalanan kulihat ada beberapa puing bangunan akibat gempa besar di Padang th 2009 yang lalu, tetapi sebagian besar sudah dibangun kembali. Di Hotel Grand Zuri, ada 3 pembicara tamu yang diinapkan termasuk aku, yaitu bersama Pak Dr. Suharyono dari Unair, dan dr. Zuraida dari BPTO.

Sate Padang Danguang-danguang dan es duren

Sate Padang Danguang-danguang dan es duren

Malamnya, kami dijemput untuk menikmati makan malam yang khas Padang. Sate Padang “Danguang-danguang” yang mak nyuss dan es durian andalan menyambut kami di acara makan malam bersama Pak Dekan, Dr. Muslim, bersama staf dosen Farmasi Unand lainnya. Wuih, kenyaang.. ! Lalu kami diajak untuk putar-putar sebentar di kota Padang, melintasi pelabuhan, Jembatan Siti Nurbaya yang terkenal di sana, menyusuri jalan sepanjang pantai Padang yang penuh dengan wisata kuliner aneka sea food.

Hari H dan special dinner

Jumat pagi, kami dijemput di Hotel untuk kemudian dibawa ke Convention Hall Univ Andalas di mana acara seminar dilaksanakan. Kampus Andalas cukup unik dengan gedung-gedung yang warnanya nyaris seragam, yaitu abu-abu beton tanpa cat. Katanya sih untuk menghemat biaya pemeliharaan, tidak perlu ngecat-ngecat lagi… Tapi kata salah satu temanku yang orang Padang, itu sih karena orang Padang malas-malas untuk membersihkan hehe… maap. Peserta seminar cukup banyak yang datang dari berbagai penjuru tanah air. Aku dapat giliran ketiga untuk presentasi setelah Dr Suharjono dari Unair dan Ibu Dra. Dara, MM Apt. dari Ditjen Binfar. Agak grogi sedikit di awal, tapi biasanya sih kalau udah on stage udah lupa ….. Alhamdulillah, semua lancar.

narsis bentar dengan bu prof Armenia di pinggir Pantai Muaro

narsis bentar dengan bu prof Armenia di pinggir Pantai Muaro

Abis lunch di Fak Farmasi Andalas dengan masakan asli Padang (pastinyo), kami jalan bentar keliling kota aja sambil makan es durian lagi (gimana ngga endut?), menyusuri jalan Pantai Muaro dan ke tempat kerajinan Padang dan sekitarnya. Kali ini Bu Prof Armenia yang berbaik hati menemani jalan (makasih, Prof).  Kerajinan yang khas di Padang adalah bordir kerancang halus khas Bukittinggi, yakni bordiran halus dengan “lubang lubang” yang terbentuk dari jalinan benang bordir. Lubang lubang inilah yang disebut dengan “kerancang”. Sebuah mukena dengan bordir kerancang yang kulihat kemarin harganya rp 2 juta. Wekkss….. ! Kapan makainya yaa… rasanya sayang mau dipakai hehe…

Malam harinya kami peserta dan pembicara seminar diundang acara makan malam oleh Gubernur Sumbar di kantor dinasnya. Acara cukup meriah diramaikan dengan tari-tarian dan lagu-lagu. Masakannya enak pastinyo…

On stage.. berduet dengan pak Dekan

On stage.. berduet dengan pak Dekan

Dan yang berkesan, aku sempat berduet menyanyi dengan Pak Dekan di acara dinner tersebut atas permintaan Bapak Rektor Univ Andalas hehe…. Tentu kesempatan ini tidak aku sia-siakan karena memang aku suka menyanyi…  Kalau udah nyanyi suka lupa diri hehe..

Menemui si Malin Kundang

Kebahagiaan jadi guru itu kalau masih dikenang dan disayang muridnya.. Dan itu aku rasakan ketika di Padang, salah satu mahasiswaku dulu mengontak ingin bertemu. Terus terang sebelum ketemu aku ngga ingat sama-sekali yang mana orangnya, lagipula dia mahasiswa di Universitas Muhamadiyah Surakarta (UMS) yang dulu aku pernah mengajar di sana pada sekitar tahun 2007-an. Jadi kami hanya bertemu satu semester. Tapi rupanya dia masih mengingatku.  Surprised juga ketika akhirnya dia sekeluarga menemuiku di hotel, bahkan mengantarku berkeliling Padang. Semula ia ingin mengajakku ke Bukittinggi, tapi itu terlalu jauh sementara pesawatku ke Jogja adalah pukul 14.00.

Bersama Vonna (Unsyiah) dan Nia plus her kids di Teluk bayur

Bersama Vonna (Unsyiah) dan Nia plus her kids di Teluk bayur

Akhirnya aku dan satu kawan dari Unsyiah Aceh, Vonna, diajak keluarga Nia jalan-jalan ke Pantai Teluk Bayur dan Pantai Air Manis. Sebenarnya alam Padang itu indah sekali… sayang nampak kurang terawat. Tapi anyway, senang sekali bisa sampai di Teluk Bayur yang selama ini hanya dikenal dari lagu lama Ernie Johan…hehe.. Kami sempat melihat monyet-monyet berkeliaran di pinggir jalan sepanjang pantai. Berikutnya, keluarga Nia membawa kami ke Pantai Air Manis atau yang dikenal dengan nama Pantai Malin Kundang. Aduuh, penasaran banget dengan batu Malin Kundang yang sangat terkenal legendanya sejak aku kecil…  Siapa yang tak kenal si Malin Kundang anak durhaka itu? Sewaktu SD aku sempat punya komiknya, dan tergambar si Malin Kundang dikutuk menjadi batu oleh ibunya. Dalam komik tersebut, seingatku, Malin Kundang digambarkan berdiri…Akhirnya setelah menaiki dan menuruni bukit, sampailah kami di Pantai Air Manis. Langsung kami menuju arah batu Malin Kundang. Ketika sampai di sana, kucari-cari yang mana, tidak ada yang nampak seperti patung orang, sampai akhirnya mas Amrul suami Nia menunjukkan seonggok batu berbentuk orang tengkurap… dan itulah si Malin Kundang!!

Bersama Malin Kundang yang tengkurap membatu

Bersama Malin Kundang yang tengkurap membatu

Huaaaaaa…… setengah geli jadinya, karena rasanya jadi antiklimaks hehe…. “cuma” begitu ternyata…. Tapi boleh juga imaginasinya hehe… Tapi kembali seperti yang kusebut tadi, sebenarnya batu Malin Kundang dan legendanya ini bisa lebih dirawat dan dimaksimalkan penampilannya. Jika perlu dibuat berpagar dengan ada tulisan atau penjelasan tentang legenda Malin Kundang. Tentu akan lebih menarik bagi para wisatawan…Anyway, sungguh suatu pengalaman menarik dari perjalananku ke Padang. Dari sana kami segera melaju lagi ke Padang karena aku harus mengejar pesawat jam 2, jangan sampai ketinggalan lagi… Keluarga Nia masih membawa kami untuk lunch dulu di warung sea food pinggir laut  yang bernama Fuja. Wah, enak sekali makan sambil dibuai semilir angin di pinggir pantai. Akhirnya kesampaian juga makan di Fuja setelah seorang kawan, yaitu Bu Wirda Zein, sudah pesan sebelum aku ke Padang, bahwa aku nanti harus mencoba makan ikan bakar di Fuja. Dan rekomendasinya ini tidak salah, karena memang enak dan cepat pelayanannya. Oya, buat bu Wirda, terimakasih juga oleh-oleh rendang keringnya. Bu Wirda ini jauh-jauh di Samarinda (Kepala Balai POM Samarinda) masih menyempatkan kirim oleh-oleh juga dari Padang untuk aku via saudara beliau di Padang. So touching… !!

Alhamdulillah, semua sudah terlaksana … terimakasih banget buat Mbak Nia dan mas Amrul berserta kedua putranya yang telah menemani kami di hari terakhir di padang dengan sangat baik dan hangat. Bahkan akupun dioleh-olehi rendang paling enak di Padang… Subhanallah… Akhirnya kamipun berpisah di Bandara Internasional Minangkabau dengan kenangan yang berkesan…

Demikian catatan perjalananku ke Padang. Sungguh aku bersyukur diberi kelancaran, keselamatan, dan kemudahan selama dalam perjalanan. Aku percaya, Insya Allah jika kita menanamkan kebaikan, Allah akan memberi kita kebaikan pula dari sisi yang tidak kita sangka-sangka… seperti aku mendapatkan kebaikan dari keluarga Mbak Nia dan teman-teman lain di Padang yang sama sekali tidak aku sangka sebelumnya.

Sampai jumpa pada catatan perjalananku berikutnya, Insya Allah next destination adalah Pontianak, tanggal 9 – 10 November 2013.


Aksi

Information

4 responses

5 01 2015
Hafni

Sangat menarik membaca catatan ini, membangun imajinasi para pembaca, terima kasih sudah berbagi..

1 05 2014
cincin kawin

sukses
Cincin Kawin

1 05 2014
cincin kawin

terima kasih informasi nya ibu

6 10 2013
aminocte

Assalamu’alaikum, perkenalkan, saya Ami, mhs S2 Farmasi Universitas Andalas.
Senang sekali bisa membaca catatan perjalanan Ibu yang ini. Selain menambah ilmu, juga mendapat kesan selama Ibu berada di Ranah Minang. Sayang sekali saya tidak bisa mengikuti seminar ini, semoga saya bisa ketemu langsung dengan Ibu di lain kesempatan.
Semoga sukses, Bu.

jawab:
Salam kenal kembali, Mbak Ami..
Semoga lain waktu bisa bertemu ya.. sukses juga untuk anda..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: