Catatan Perjalanan: A Long Way to Bumi Lorosae

25 08 2013

Dear kawan,

IMG-20130823-00482Undangan kali ini kepadaku sebagai Pemateri pada acara Sertifikasi Kompetensi Profesi Apoteker (SKPA) yang diselenggarakan PD Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Nusa Tenggara Timur (NTT) sedikit berbau nepotisme… Lho kenapa?..Ya, karena yang mengundang adalah kawanku satu angkatan kuliah dulu, yaitu Yoseph Nahak Klau, putra Timor asli yang sekarang menjadi Ketua PD IAI NTT. Whatever deh… ini kan bagian dari membangun jejaring dan (saling) memanfaatkan teman hehe… Aku sendiri senang bisa mengunjungi Kupang untuk yang pertama kalinya. Tentunya aku juga berharap kawan sejawat disini bisa memanfaatkan materi yang aku sampaikan selama SKPA. Tulisan ini adalah catatan perjalananku sebagai bagian dari dokumentasi hidup dan cerita buat anak cucu..

Good lesson: ketinggalan pesawat !!

Tiket sudah dikirim beberapa hari sebelumnya oleh Panitia. Materi seminar sudah aku siapkan dan aku kirimkan ke panitia beberapa hari sebelum acara. Anak-anak dan ayahnya sudah aku beritahu bahwa week end ini aku ngamen ke Kupang. Terutama aku juga harus menyiapkan si bungsu untuk ditinggal dua malam tiga hari bersama mbak pengasuhnya. Everything looks smooth and well… Sampailah di hari H. Pagi-pagi tgl 22 Agustus  jam 06.15 aku berangkat ke bandara diantar suami sekalian mengantar anakku sekolah. Perjalanan ke Kupang akan aku jalani dengan pesawat Garuda via Denpasar.

Pesawat Garuda yang membawaku ke Denpasar berangkat on time dari Yogya. Nah, di sini aku sudah mulai agak ceroboh nih... aku boarding paling belakangan karena keasyikan kirim-kirim e-mail saat menunggu di ruang tunggu. Untungnya ngga sampai ditinggal pesawat. Pesawat mendarat di Denpasar sekitar jam 10:15an. Bandara Ngurah Rai sedang berbenah dan direnovasi, sehingga terlihat masih agak semrawut.

Di pesawat aku ketemu kawan Pengurus Pusat IAI, Pak Nunut Rubiyanto, yang juga akan bertugas pada acara SKPA di Kupang. Nah, disini terjadilah lagi “kecerobohan” atau tepatnya “kesantaian” kedua… Boarding time untuk pesawat ke Kupang adalah pk 10.45 WITA. Tapi waktu itu kami, aku dan Nunut, malah mampir ke lounge dulu untuk sekedar minum, dan berpikir bahwa nanti kan ada panggilan masuk pesawat. Akhirnya ketika ada panggilan akhir masuk pesawat, beranjaklah kami ke gate 20.

Pesawat Garuda yg nyaris membawaku ke Surabaya

Pesawat Garuda yg nyaris membawaku ke Surabaya

Gate 20 utk pesawat menuju ke Kupang bersebelahan dengan gate 19 untuk pesawat ke Surabaya. Karena kami memang boarding belakangan, saat tiket kami di-screen barcode-nya sudah tidak banyak lagi penumpang yg menuju ke Kupang. Aku pun masuk lewat gate 20. Tapi suer…. di situ tidak ada petunjuk dan petugas yang mengarahkan atau menunjukkan harus kemana, sementara di sebelah kami melihat barisan penumpang yang masuk via gate 19. Antara jalur gate 20 dan 19 ada pembatas namun agak terbuka. Dengan pede saja aku dan Nunut mengikuti barisan penumpang yang terlihat, yang akan diangkut menggunakan bus menuju pesawat. Kamipun naik bus sampai ke pesawat Garuda dan aku bahkan sudah naik pesawat. Semuanya nampak baik-baik saja, sampai ketika aku sudah duduk sesuai dengan nomor tiket.. terdengar pengumuman ”Selamat datang pada penerbangan Garuda GA sekian sekian  menuju Surabaya”… Whattss ??!!! Ke Surabaya??? Aku kan mau ke Kupang… Buru-buru aku turun, dan Nunut kebetulan masih di luar pesawat karena menyadari lebih dulu bahwa kami salah pesawat. Nah, masalahnya di sini…. ketika terjadi kejadian tersebut, petugas yang in charge di situ tidak tanggap dan tidak segera melakukan tindakan yang seharusnya, misalnya segera kontak ke bagian pemberangkatan untuk menahan dulu pesawat ke Kupang misalnya, karena pesawat ke Kupang masih ada di bandara. Kami dibawa lagi ke gate 20 dengan mobil, tapi nampak sekali petugasnya tidak melakukan aksi yang diperlukan. Malah dikatakan bahwa pesawatnya sudah mulai jalan. Sementara yang mengherankan juga, kenapa pesawat ke Kupang tetap berangkat sementara masih ada dua penumpang yang tertinggal dan kami juga tidak dipanggil atau dikontak. Singkat cerita…kami ketinggalan pesawat, sodara-sodara !!

Aduuh,…. agak lemes dan panik juga aku, dan pastinya kecewa dan menyesal. Sempat kepikir juga.. coba kalau tadi  langsung boarding aja, ngga usah santai-santai masuk lounge pasti ngga akan kejadian seperti ini. Tapi yah… kemudian aku mencoba berpikir positif bahwa ini jalan yang diijinkanNya terjadi padaku saat ini. Kalau Allah masih ijinkan aku ikut pesawat Garuda, pasti tadi tetap bisa terbawa, karena selisih waktunya sebenarnya masih bisa kalau ada tindakan yang tepat dan cepat dari petugas, wong pesawatnya masih di bandara. Pasti ada maunya Dia mengijinkan ini terjadi. Untung juga aku bareng Nunut yang berani ngeyel. Kami menuntut Garuda untuk mengganti penerbangan kami ke Kupang, karena peristiwa tadi bukanlah semata-mata kesalahan kami, tapi karena tidak ada petunjuk yang jelas dan tindakan yang adekuat ketika terjadi peristiwa nyasar tadi. Dan kami kan juga bukan orang yang baru sekali dua naik pesawat…hehe.. Setelah cukup ngotot, akhirnya pihak Garuda mau mencarikan penerbangan pengganti. Sayangnya flight ke Kupang dengan Garuda sudah tidak ada lagi, jadi kami harus pakai maskapai lain. Setelah sempat harap-harap cemas, alhamdulillah akhirnya kami bisa mendapat penerbangan ke Kupang menggunakan Merpati, pukul 15.15 WITA. Duuh, lega banget lah… karena kan penerbangan ke Kupang frekuensinya tidak banyak.. aku sudah kuatir juga membayangkan harus menginap di bandara kalau ngga dapat pesawat.

Sungguh pengalaman yang sedikit menegangkan… tapi benar-benar menjadi pelajaran yang berharga, bahwa aku harus lebih cermat, tidak menyepelekan waktu, dan tidak segan bertanya untuk konfirmasi mengenai apa yang akan kujalani terkait dengan perjalananku seperti jurusan bus di bandara, pesawat, waktu, dan lain-lain. Untunglah kami tidak harus rugi finansial, hanya rugi waktu saja karena perjalanan jadi tertunda sekitar 4 jam.

Sampai di Bumi Lorosae

Merpati melayang mulus membawa kami menuju bumi Lorosae. Kawan-kawan di Kupang menjemput kami di Bandara El Tari Kupang. Ada Aji dan Mbak Fatmawati Blegur, yang semuanya adalah alumnus S2 dari UGM, dan mbak Fatma bahkan bimbinganku thesis ketika belajar di Magister Farmasi Klinik. Mentari sudah semburat jingga hampir terbenam ketika aku menginjakkan kakiku pertama kali di Kupang. Alhamdulillah, akhirnya….sampai juga aku ke Pulau Timor yang jauh. Tak kusangka…

Pantai indah di belakang restoran Nelayan

Pantai indah di belakang restoran Nelayan

Pagi dan siang harinya aku sempat berkeliling sebentar di kota Kupang. Kotanya berbukit-bukit di pinggir laut, dan ternyata berada di atas batu-batu karang. Tidak banyak pohon yang bisa tumbuh baik disitu. Yang menarik, ada pohon spesial yang bisa tumbuh di atas tanah berkarang, yaitu pohon gamal (Gliricidia sepium). Sayangnya aku datang pada bulan yang tidak tepat, karena saat ini pohon gamal belum berbunga. Aku hanya menjumpai satu dua pohon gamal yang mulai berbunga.  Hanya pohon dengan dahan, tanpa daun, dipenuhi bunga-bunga berwarna pink keputihan.., mirip bunga sakura. Di sepanjang jalan dari/menuju Bandara, aku melihat deratan panjang pohon gamal yang sudah tua, membentuk semacam kanopi hidup. Aku sudah bisa membayangkan betapa indahnya saat pohon gamal berbunga. Mungkin seperti musim sakura di Jepang.  Berada di Kupang aku merasa bukan seperti di Indonesia hehe…. seperti di negara empat musim saja. Kata Aji, kawan di sana, di Kupang memang ada 4 musim, yaitu musim hujan, sedikit hujan, panas, dan sedikit panas… :)  Saat aku datang ini termasuk sedang musim panas, jadi terlihat gersang karena rumput-rumput menjadi kering kecoklatan, pohon-pohon meranggas menggugurkan daun-daunnya. Tapi katanya pada bulan-bulan tertentu ada musim angin yang cukup kencang yang berasal dari Australia. Walau tidak sempat mampir lama-lama, aku sempat melihat keindahan pantai Kupang yang masih asri dan bersih dan tidak lupa mengabadikan keindahannya.

Acara Seminar, SKPA, dan Kuliah Pakar

Acara SKPA dan Seminar yang diselenggarakan oleh kawan-kawan IAI PD NTT pada tanggal 23-24 Agustus di Hotel T-More cukup ramai dan meriah. Di awali dengan tarian khas Timor untuk menyambut tamu, dan sambutan-sambutan yang lumayan berderet  :) , akhirnya acara inti dimulai. Yang menarik, aku dan beberapa tamu Pengurus IAI dan narasumber lain disambut dengan kalungan selempang khas Timor, yang itu merupakan budaya dalam menyambut kedatangan tamu. Aku memberikan materi mengenai Farmakoterapi pada Infeksi Saluran Pernafasan, meliputi common cold, sinusitis, pharyngitis, bronkitis, pneumonia, dan TB, yang menjadi bahan ujian kompetensi apoteker dalam SKPA tersebut. Bersama aku ada dokter spesialis THT yang juga menjadi narasumber. Selain materi utama, ada materi tambahan mengenai malaria dari pakar malaria di NTT. Aku sangat mengapresiasi semangat dan kerja keras panitia dan juga semangat peserta dalam mengikuti acara ini, yang dikuti oleh sekitar 170 orang peserta SKPA. Acara agak molor, tapi overall semuanya berjalan sukses dan lancar. Senang juga aku bisa bertemu beberapa kawan sealmamater, adik kelas, mantan mahasiswa, dan juga kawan-kawan baru di sini.

Bersama Pengurus IAI Pusat, IAI PD NTT, Kepala Dinkes, narasumber, dan panitia

Bersama Pengurus IAI Pusat, IAI PD NTT, Kepala Dinkes, narasumber, dan panitia

Pada tanggal 24 Agustus, sembari kawan-kawan apoteker peserta SKPA mengerjakan ujian kompetensi, aku diundang oleh STIKES Citra Husada Mandiri Kupang (CHMK)  untuk memberikan kuliah pakar. STIKES CHMK adalah salah satu sekolah tinggi bidang kesehatan di Kupang yang memiliki prodi D3 kebidanan dan S1 Keperawatan, dan rencananya (dalam proses) pendirian prodi S1 Farmasi. Ketika aku diundang kesana via Yoseph, aku agak bingung juga karena audiens-nya kan mahasiswa bukan farmasi. Akhirnya kupilih topik yang menurutku cukup pas yaitu Interprofesional education – strategi pendidikan kesehatan terkini. Aku ingin mendorong kawan-kawan yang bekerja dalam pendidikan tenaga kesehatan bahwa pendidikan antarprofesi ini sangat perlu dimulai untuk mendasari kerjasama kolaboratif  antar profesi nantinya jika sudah ada di lapangan kerja.

Aku cukup surprised ketika sampai di STIKES CHMK, ternyata peserta kuliah tamunya banyak sekali.. mereka mahasiswa Prodi S1 keperawatan dan D3 kebidanan, semua menggunakan seragam hijau. Dan mereka menyambutku dengan hangat dan meriah, pakai tepuk tangan dan berdiri, kaya menyambut menteri aja hehe…. mungkin memang budayanya gitu yaa… Ketua/Direktur STIKES CHMK Drg. Jefrey, MKes sendiri yang langsung membuka acara dan memandu diskusi acara. Dan alhamdulillah, topik yang kusampaikan mendapat sambutan dan tanggapan yang baik, karena memang pas untuk membangun mindset pendidikan antar-profesi ini. Dan STIKES adalah tempat yang tepat jika ingin memulai karena mereka merupakan institusi pendidikan kesehatan yang diatur oleh satu manajemen. Tinggal political will-nya bagaimana dari pimpinan.

Yang menarik, ketika aku tanya kepada para mahasiswa peserta kuliah pakar…. “Di antara tenaga kesehatan : dokter, perawat, apoteker, bidan, dll, mana yang levelnya paling tinggi?” … Beberapa spontan menjawab : “Dokter!”. Aku bilang “ Itu tidak tepat, semuanya selevel… hanya berbeda kewenangan dan kompetensinya dalam memberikan pelayanan kesehatan. Dan semestinya antar tenaga kesehatan saling berbagi peran dalam memberikan pelayanan kesehatan, dan tidak perlu ada arogansi salah satu profesi atau sebaliknya kurang confidence-nya profesi lain.”

Wisata kuliner

Seperti biasanya jika pas ada undangan ke luar kota, apalagi yang jauh dan beda budaya, wisata kuliner adalah bagian yang paling kusukai..hehe.. jadi harap maklum kalau ngga bisa kurus-kurus. Malam ketika pertama datang, kami diajak ke restoran Nelayan, salah satu restoran sea food yang ada di pinggir laut. Aneka makanan sea food pun dihidangkan. Yang khas di Kupang adalah tumis atau ca bunga pepaya, serta masakan ikan kuah asam.  Masakannya enaak…!! Sebelum berangkat ke Kupang, aku sudah diberi info oleh suami bahwa katanya yang paling enak itu ikan kerapu hitam bakar dan salad tuna, aku harus mencoba…. hmmm… (alhamdulillah, kedua makanan tersebut sempat aku temukan dan cicipi pada hari terakhir, siang sebelum ke bandara. Mak nyusss !!).

Ikan kerapu hitam bakar..

Ikan kerapu hitam bakar..

Malam kedua, kami dibawa dining out lagi pada restoran lainnya. Kali ini aku mencicipi ca sei. Sei adalah daging asap khas Kupang. Pokoknya kalau sudah urusan kuliner pasti deh aku cobain semua… Anakku pesan supaya dibawain ikan kerapu hitam bakar untuk oleh-oleh.. Dan alhamdulillah, dapat juga oleh-oleh pesanan itu dari Mbak Fatmawati. Terimakasih yaa….

Singing and dining

Singing and dining

Satu yang menarik adalah di kedua tempat kami makan malam, ada organ tunggal yang mengiringi penyanyi menghibur tetamu. Langsung deh, “naluri penyanyi kamar mandi”-ku timbul dan jadilah aku menyanyi beberapa lagu hehe… Di samping adalah hobby, itu sebenarnya adalah salah satu cara asyik supaya tidak kebanyakan makan dan menjadi gendut hehe… Jadi, dalam wisata kuliner, yang penting semua makanan udah dicicip, tapi tetap harus dibatasi biar tidak kebanyakan….

Kembali ke Yogya

Demikianlah catatan perjalananku ke Kupang yang cantik. Terimakasih atas keramahan dan sambutan teman-teman di Kupang. Pastinya tidak akan kapok untuk datang lagi ke Kupang suatu saat nanti. Sabtu siang aku pun meninggalkan Kupang dengan aneka kenangan manis. Kali ini aku perhatikan betul jadwal pesawat supaya tidak ketinggalan. Waktu 3 jam transit di Bandara Ngurah Rai aku habiskan di lounge sambil menyicil catatan perjalanan ini….

Kini waktunya kembali lagi ke dunia nyata dengan daftar pekerjaan yang panjang. Insya Allah bertemu lagi dalam catatan perjalanan berikutnya.. Jadwal long  journey terdekat yang sudah confirmed adalah ke Padang, Insya Allah….


Aksi

Information

3 responses

1 05 2014
cincin kawin

Dok, boleh minta nasehat lewat email atau telp gak? Urgent please

jawab:
maaf, saya bukan dokter, tapi apoteker
Cincin Kawin

1 05 2014
cincin kawin

perjalan yang mengesankan ibu

30 09 2013
dewi

Salam kenal ibu…
Seru baca ceritanya bu… Smoga saya jg punya kesempatan bisa ke kupang dan melihat sendiri “bunga sakura” disana…

Oiya, saya apoteker lulusan Unand, Padang, di foto ibu saya liat Prof. Dachriyannus,,, beliau pembimbing skripsi S1 saya bu… Salam buat beliau…

^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: