Catatan dari Seminar Polemik Ganja dalam UU Narkotika: Ganja bukan Narkotika??

29 03 2013

Dear kawan,

Barusan aku mendapat “tantangan” menarik untuk berbicara tentang ganja di sebuah seminar di UGM. Ketika pertama kali dikontak untuk berbicara, aku mengira itu semacam penyuluhan untuk berbicara tentang narkotika. Beberapa tahun lalu aku pernah berbicara di depan kawan-kawan IAI (Ikatan Apoteker Indonesia) di Salatiga untuk topik tentang Farmakoterapi pada penyalahgunaan Obat, jadi kukira semacam itu juga. Tetapi ketika kemudian Panitia mengirimkan TORnya dan aku pelajari,….whatss!!…ternyata ini bukan seperti yang kubayangkan….  Apanya yang beda?? Dalam forum itu nanti akan turut berbicara juga kawan dari Lingkar Ganja Nusantara (LGN), yang ternyata adalah organisasi yang memperjuangkan ganja di Indonesia. Aku sendiri diminta berbicara tentang ganja dari aspek farmakologinya. Tema utama pada seminar ini adalah “Polemik ganja pada UU Narkotika”, yang diselenggarakan oleh adik-adik mahasiswa Dema Justicia Fakultas Hukum UGM pada tanggal 27 Maret 2013.

Mungkin aku yang kurang pergaulan yaa…, dan mungkin juga karena aku ngga pernah memikirkan dan bersinggungan dengan ganja… tapi suerr… baru sekali itu aku mendengar tentang organisasi yang memperjuangkan ganja ini. Misi mereka diantaranya adalah memperjuangkan agar ganja bukan digolongkan sebagai narkotika, dan ganja dapat digunakan secara legal…  Aku sempat shocked juga ketika pertama mengetahui dan kemudian mempelajari tentang organisasi ini. But well…. aku rasa ini “tantangan” menarik… sebagai saintis dan farmasis/farmakolog, aku berharap bisa memberi masukan yang berarti dalam polemik tersebut, karena menggolongkan ganja sebagai narkotika atau tidak itu sangat terkait dengan efek farmakologi dari ganja itu sendiri…

Begitulah kawan,….berhari-hari sebelumnya aku sampai “mabuk ganja”…untuk menyiapkan bahan presentasi untuk acara tersebut. Di sela-sela itu aku masih memenuhi undangan untuk berbicara di seminar SKPA IAI di Batam tg 22 Maret dan seminar nasional kawan-kawan Institut Ilmu Kesehatan (IIK) Bhakti Wiyata Kediri pada tg 24 Maret. Tapi tetap tidak ada yang lebih “memabukkan”ku kecuali persiapan seminar ganja itu hehe…. mabuk literatur…

Hari H seminar Ganja

Sampailah pada hari H seminar ganja. Aku cukup pede untuk berbicara, walaupun masih tetap curious dengan apa yang bakal disampaikan oleh kawan-kawan dari LGN. Dan inilah resumenya, yang disiapkan oleh “asisten”ku Marlita, yang aku edit kembali dengan bahasaku.

Seminar dibuka langsung oleh Wakil Dekan bagian kemahasiswaan Fakultas Hukum UGM dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Serasa alunan lagu wajib itu merasuk di dada bahwa seminar yang dilaksanakan adalah sebagai bentuk perjuangan warga negara terhadap produk hukum yang bercokol di negeri ini.

Kepala BNN Prop.DI Yogyakarta, Bapak Drs.Budiharso,M.Si, sebagai pembicara pertama, mengawali dengan mengingatkan kembali akan fungsi hukum, baik yang bersifat preventif maupun represif untuk melindungi warga negara serta lebih menghormati dan meningkatkan ketaatan terhadap peraturan perundangan yang telah ditetapkan. Undang-undang narkotika telah disusun sebagai bentuk pertanggungjawaban negara untuk melindungi warga negaranya, baik Undang-undang narkotika UU RI no.9 tahun 1976,
UU RI 22 tahun 1997 maupun yang terbaru UU RI No. 35 tahun 2009.

Selanjutnya, Ketua Advokasi, Lingkar Ganja Nusantara  (LGN), Peter Dantovski tampil menjadi pihak kontra terhadap undang-undang narkotik. Peter, yang bahkan tampil berkemeja dengan corak daun ganja,  menekankan perjuangan organisasinya untuk melegalkan ganja dan mengeluarkan ganja dari golongan I undang-undang narkotika. Alasan mereka (LGN) adalah bahwa ganja (sebagai pohon) bukanlah narkotika. Usaha-usaha advokasi dan edukasi mengenai manfaat ganja dan perlunya penelitian-penelitian tentang tanaman ganja menjadi langkah-langkah LGN. Dengan judul presentasi ‘Menyibak Cakrawala Baru yang luas, mewariskan kehidupan Merdeka’ , Peter mempertanyakan, jika ganja sering disebut sebagai “disalah-gunakan”, lalu bagaimana “pembenar-gunaan”nya??  Mereka berasumsi jika ganja dilegalkan penggunaannya, akan dapat menekan pasar gelap yang menurut LGN melibatkan uang beredar sekitar 50 T, yang menurut hemat mereka dapat digunakan untuk kesejahteraan rakyat. Peter yang pengguna ganja juga mempertanyakan bahwa hasil-hasil penelitian seringkali tidak sesuai dengan kenyataan… jika selama ini ganja dilaporkan bisa menyebabkan efek negatif pada saluran nafas, mengapa teman-temannya pengguna ganja malah menjadi sehat?… Hmm, agak tendensius sih… tapi memang jika perlu, harus dilakukan penelitian-penelitian di kalangan pengguna ganja di Indonesia untuk memastikan efeknya. Tentunya harus didukung oleh disain penelitian, pengambilan data, serta analisis yang valid utk mendapatkan data yang obyektif.

Nah, aku sendiri sebagai pembicara ketiga melihat perlunya ada redefinisi narkotika dan kriteria penggolongan narkotika dalam Undang-undang Narkotika. Jadi begini yaa…

Apa sih yang disebut narkotika?

Istilah “narcotic” awalnya dimunculkan oleh dokter Yunani, Galen, yang merujuk pada senyawa yg menyebabkan “mati rasa”. Kata ini berasal dari bahasa Yunani :ναρκωσις ( narcosis), yang artinya “mati rasa” itu tadi. Dulu beberapa tanaman digunakan dalam proses pengobatan untuk tujuan tersebut, misalnya pada pembedahan atau mengurangi rasa sakit, seperti : mandrake root, altercus (eclata) seeds, and poppy juice (opium), yang berefek menghilangkan nyeri dan  menidurkan.

Istilah ini sekarang bergeser atau meluas, yaitu bahwa semua senyawa yang memiliki efek psiko-aktif (mempengaruhi fisik dan kejiwaan) digolongkan sebagai narkotika. Tidak saja senyawa golongan opiat, tapi termasuk stimulan seperti amfetamin dan derivatnya sekarang tergolong sebagai narkotika. Nah, menurut UU Narkotika no 35 th 2009, narkotika didefinisikan sebagai : zat atau obat yang berasal dari  tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semisintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan.

Dalam UU ini, narkotika digolongkan ke dalam tiga golongan:

Narkotika Golongan I : hanya dapat digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan

Contoh : heroin, kokain, opium, ganja, katinon, MDMDA/ecstasy

Narkotika Golongan II : Narkotika berkhasiat pengobatan digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan

Contoh : morfin, petidin, fentanil, metadon

Narkotika golongan III : berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan ketergantungan

Contoh : Codein, buprenorfin, etilmorfin

Nah, utk penggolongan ini dan kriterianya, aku berpendapat bahwa ini perlu direvisi. Jika dicermati, kriteria di atas mencerminkan adanya strata tentang potensi mengakibatkan ketergantungan, di mana Gol I dikatakan berpotensi sangat tinggi, gol II potensi tinggi, dan gol III potensi ringan. Aku kurang sepakat dengan strata ini, karena secara farmakologi itu kurang tepat. Seorang yang menggunakan 1 gram candu/opium dengan 1 gram morfin, potensinya besar mana untuk menghasilkan efek farmakologi dan ketergantungan? Tentunya lebih poten morfin, karena morfin adalah zat aktif dari candu/opium. Dengan demikian, penggolongan menjadi tidak tepat, karena morfin adalah golongan 2 dan opium golongan pertama. Aku usulkan bahwa kata sangat itu tidak perlu, karena kedua golongan itu sama-sama menyebabkan ketergantungan. Dan jika akan dibuat strata, harus jelas parameternya seperti apa dikatakan sangat, dan yang tidak sangat. Jadi poin-nya lebih pada penggunaannya di dalam terapi, apakah sudah teruji dan sesuai dengan indikasi medis. Golongan I tidak digunakan dalam terapi, sedangkan golongan II dapat digunakan dalam terapi. Dan untuk digunakan dalam terapi tentunya asas-asas sebagai obat juga harus jelas, yaitu terkait dengan kadar zat aktif, dosis, cara penggunaan, bentuk sediaan, dll.

cannabisSelanjutnya aku memaparkan tentang ganja, senyawa apa saja yang terkandung dan efek-efek serta mekanismenya. Ganja atau Cannabis sativa adalah tanaman yang mengandung berbagai senyawa penyusun. Senyawa psikoaktif pada ganja adalah tetrahidrocanabinnol (THC), yang bekerja pada reseptor cannabinoid. Reseptor ini sendiri cukup menarik, karena ditemukan baru pada tahun 1987-an pada manusia, dan dia juga berperan dalam berbagai fungsi fisiologis. Aku memprediksikan, di masa depan reseptor ini juga akan menjadi target aksi obat-obat seperti halnya “kakaknya” reseptor opiat yang telah ditemukan lebih dulu dan sudah banyak sekali obat-obat sintetik yang dikembangkan yang bekerja pada reseptor ini. Sebuah International Society on Cannabinoid Research bahkan sudah didirikan, yang berfokus pada penelitian tentang sistem cannabinoid.

Berarti ganja bisa dijadikan obat dong? Berarti bukan golongan I narkotika?

DronabinolEitt…tunggu dulu… pertanyaan itu akan sebanding dengan “ Berarti candu bisa dijadikan obat dong?.. Yups, jawaban atas pertanyaan ini sama, yaitu: ..Ya, candu maupun ganja dapat dikembangkan menjadi obat. Buktinya, banyak obat-obat turunan candu yang sudah dipakai secara legal dalam pengobatan seperti morfin, petidin, kodein, fentanil, dll. Apakah ada obat yang berasal dari ganja/cannabis?..Ya, ada dronabinol (Marinol), nabilon, dll. yang diindikasikan sebagai anti mual muntah pada pasien kanker yang menjalani kemoterapi, dan sebagai peningkat nafsu makan pada pasien HIV/AIDS.  Memang jumlahnya masih sedikit, karena seperti yang disampaikan tadi, reseptor cannabinoid ini belum lama ditemukan dan dikembangkan sebagai target aksi obat. Sangat mungkin di masa depan akan dikembangkan turunan2 cannabinoid lainnya.

Nah, berarti posisi tanaman candu dan ganja sama kan? Sebagai sumber senyawa psikoaktif. Kalau ganja akan diperjuangkan keluar dari UU narkotika, mestinya tanaman candu juga demikian…  itu akan lebih fair… Tapi bukan demikian kan?

Ada kriteria lain untuk tetap digolongkan dalam narkotika golongan 1, yaitu potensinya menyebabkan ketergantungan. Semua senyawa psikoaktif menyebabkan adiksi, walaupun dengan potensi yang berbeda-beda. Mengapa? Ya karena mekanismenya menyebabkan adiksi berbeda-beda.  Adiksi sendiri secara medik didefinisikan sebagai gangguan kambuhan yang bersifat kronis, yang dikarakterisir oleh adanya dorongan untuk mencari dan menggunakan obat, kehilangan kontrol terhadap pembatasan penggunaan obat, dan munculnya emosi negatif (dysphoria, anxiety, irritability) jika tidak mendapatkan obat, walaupun mengetahui efek buruk pengunaan obat tersebut.

Mengapa orang bisa adiksi terhadap obat/zat?

Secara awam, adiksi atau ketagihan adalah keinginan untuk mengulang dan mengulang lagi karena mendapatkan efek yang menyenangkan. Bagaimana mekanismenya? Semua zat yang membuat ketagihan umumnya bekerja melibatkan “sistem reward” di otak, yang melibatkan neurotransmiter dopamin. Dopamin akan bekerja pada reseptornya memicu sistem reward, dan menimbulkan rasa senang. Hal ini menyebabkan orang ingin mengulang dan mengulang lagi utk mendapat kesenangan yg sama. Yang berbeda antar zat adalah pada mekanismenya. Senyawa opiat bekerja melalui reseptor opiat, senyawa kokain dan golongan amfetamin bekerja dengan menghambat reuptake dopamin dan serotonin, senyawa ganja beraksi pada reseptor cannabinoid, yang semuanya nanti dapat mengarah pada picuan sistem reward. Jadi, intensitas adiksinya juga berbeda-beda. Selain itu, reaksi putus obat-nya juga berbeda-beda tergantung pada sifat zatnya. THC dari ganja bersifat sangat lipofilik (larut dalam lemak), sehingga ia berada di jaringan lemak tubuh cukup lama. Sekali dikonsumsi, ganja akan tinggal dalam tubuh cukup lama, dan baru tereliminasi sempurna setelah 30-an hari.  Hal ini menyebabkan gejala putus obat yang ringan pada pengguna ganja, dibandingkan dengan obat-obat opiat.

Apakah dengan demikian ganja tidak berbahaya?

Penelitian tentang efek-efek bahaya ganja sudah cukup banyak dipublikasikan. Beberapa diantaranya menekankan pada efeknya terhadap peningkatan gejala psikotik (gangguan jiwa), berkurangnya kemampuan kognitif, dan pada efek fisiologis lainnya. Aku sendiri memaparkan suatu fakta (walaupun masih mungkin diperdebatkan) yang mendukung “gateway theory” dari hasil penelitian cukup baru (Addictive Behaviours. 2012 Feb; 37(2):160-6) bahwa ganja merupakan “gateway” bagi penggunaan obat-obat terlarang lainnya. Dengan kata lain, sekali menggunakan cannabis kecenderungan mencoba obat-obat terlarang yang lain kemungkinannya menjadi lebih besar. Disebutkan bahwa risiko memulai penggunaan obat-obat terlarang lainnya adalah 124 kali lebih tinggi pada pengguna ganja kronis dibandingkan bukan pengguna.

Jadi, kalaupun secara fisiologis nampaknya efek ganja lebih ringan dari senyawa psikoaktif lainnya, hal lain yang perlu menjadi perhatian dan pertimbangan adalah dampak psikososialnya. Sebagian besar penggunaan ganja adalah untuk tujuan rekreasional, untuk melarikan diri dari masalah, atau untuk mendapatkan performance yang mungkin bukan sesungguhnya. Beberapa kasus penggunaan ganja banyak dijumpai pada seniman yang katanya akan bisa meningkatkan kreativitasnya. Menurutku ini akan meninggalkan generasi yang lemah, yang tidak bisa memecahkan masalah, yang “penipu” karena tidak menunjukkan kemampuan sebenarnya (performance-nya akan bagus kalau di bawah pengaruh ganja), belum lagi dampak-dampak psikososial lainnya.

Bahwa ada manfaat pohon ganja yang bisa menghasilkan serat seperti yang disampaikan oleh teman-teman LGN, itu sah-sah saja. Tapi memangnya tidak ada sumber serat lainnya yang tidak berisiko meninggalkan dampak lebih luas???? Tanaman di Indonesia masih banyak sekali jenisnya, dan masih mungkin sekali dieksplorasi utk menghasilkan serat yang sama bagusnya atau lebih bagus dari serat ganja.

Jadi, kalaupun ada sedikit revisi mengenai kriteria penggolongan narkotika, aku tetap berpendapat bahwa tanaman ganja tetap berada dalam satu golongan dengan tanaman-tanaman penghasil senyawa psikoaktif lainnya, seperti Papaver somniferum (candu), Erythroxylon coca (penghasil kokain), dan termasuk tanaman Catha edulis (penghasil katinon) yang sekarang belum masuk dalam UU. (Jadi perlu ada revisi juga dalam daftar senyawa/tanaman yang masuk dalam golongan2 tersebut.)

Pembicara ke-empat yaitu Prof.Edy O.S Hiarriej, dosen Hukum Pidana Fakultas Hukum UGM, mengkritisi dari sisi hukum. Ganja bersifat psikoaktif terutama terhadap aktivitas mental dan perilaku. Ia tidak menyebabkan sindrom ketergantungan atau withdrawal syndrome, tidak menyerang susunan saraf pusat seperti heroin, kokain dan jenis narkotika lainnya, namun sebaiknya masih mendapatkan posisi di undang-undang Narkotika. Sesuai dengan hukum Indonesia yang masih banyak berkiblat pada Negeri Belanda (walaupun sekarang hukum sudah mulai berkembang dengan mengacu pada beberapa negara lain), undang-undang narkotika masih humanis. Prof. Edy lebih menyoroti tentang hukuman pengguna murni yang sepatutnya berupa rehabilitasi. Rehabilitasi merupakan jalan terbaik dan humanis bagi pengguna narkoba itu sendiri. Prof Eddy mendukung usulanku untuk merevisi UU narkotika, dan beliau lebih menekankan dari aspek hukumnya yaitu mengenai hukuman bagi pelanggar UU Narkotika yang semestinya berdasarkan kualitas perbuatannya, bukan pada penggolongan narkotikanya.

Dalam hal gateway theory yang aku singgung terkait dengan ganja, sisi kriminologi mempunyai sudut pandang berbeda. Menurut Prof. Edy, gateway untuk sebuah tindakan kriminal adalah potensi untuk melakukan kejahatan. Semua orang memiliki potensi yang sama. Namun jika seseorang telah “berhasil” melakukan kejahatan pertama, maka itu akan meningkatkan kemungkinan melakukan kejahatan selanjutnya. Yah, whatever lah… masing-masing boleh memiliki sudut pandang yang berbeda. Tapi menurutku, dengan sudut pandang kesehatan, lebih baik preventif daripada kuratif. Mencegah penggunaan ganja diharapkan akan mencegah penggunaan obat-obat terlarang lainnya.

Akhir dari Seminar

Seminar ini ditutup dengan tanya jawab. Sesi ini melibatkan beberapa peserta yang mengkritisi undang-undang narkotika hasil paparan masing-masing pembicara. Beberapa pertanyaan tersebut mempertajam pentingnya untuk memperkuat dasar hukum narkotika. Riset ini sebaiknya merupakan kolaborasi banyak pihak, baik BPOM, Kementrian Kesehatan dan BNN. Pihak BNN sendiri pernah melakukan penelitian bekerja sama dengan Universitas Indonesia (Institusi pendidikan tinggi) untuk prevalensi pengguna tahun 2011. Hasil penelitian tersebut, prevalensi pengguna narkoba tercatat 2,2 % dari jumlah penduduk yang rentan di Indonesia sedangkan 2,8% diantaranya warga Yogya. Tema prevalensi menjadi topik tersendiri yang perlu dikembangkan. Pusat penelitian narkotika terutama tentang ganja menjadi hal yang penting sekarang.

Rehabilitasi menjadi kesimpulan semua pihak sebagai hukuman pencandu dan pengguna yang paling humanis. Rehabilitasi yang dilakukan berupa rehabilitasi fisik dan sosial. Dinas kesehatan diharapkan membuat tim, apakah orang itu direhabilitasi atau tidak. Peraturan Pemerintah berkaitan dengan wajib lapor, memberikan kesempatan bagi pecandu untuk direhabilitasi supaya mereka terbebas dari jeratan narkoba. Menteri kesehatan juga mendukung program tersebut dengan membentuk IPWl (institusi penerima wajib lapor). Pecandu yang dirujuk ke IPWL mendapatkan layanan kesehatan. Proses pidana maupun masa tahanan tetap dihitung saat dilakukan rehabilitasi. Di jogja ditunjuk 8 institusi yang melayani rehabilitasi, RS Grasia, RSUP dr.Sardjito, RSUD kota Jogja, Puskesmas Umbul Harjo, Puskesmas Gedong Kuning, dan Puskesmas Banguntapan II. Rehabilitasi sosial dilayani di PSPP Purwomartani, dan  Kunci. Rehabilitasi menghindari overkriminalisasi penegakan hukum karena semakin banyak negara mengkriminalkan sesuatu menunjukkan bahwa negara tidak mampu melindungi warga negaranya sendiri.

Pada intinya, perlu adanya riset ganja yang dilakukan di Indonesia (tidak hanya mengacu pada penelitian luar negeri) untuk mendasari produk hukum dan adanya inisiatif banyak pihak untuk mengkoreksi undang-undang narkotika.

Begitulah….mungkin tidak semua pihak puas dengan hasil seminar ini, tapi setidaknya aku sudah berupaya menyumbangkan pemikiranku mengenai UU narkotika ini. Aku juga mengajak teman-teman LGN, jika memang ingin melakukan penelitian-penelitian, ayo buatlah roadmap penelitian yg jelas, mau diarahkan kemana riset tentang ganja. Buatlah proposal-proposal yang bagus dengan disain penelitian yang sesuai. Jika memenuhi syarat akademik dan saintifik, mengapa tidak bekerjasama saja, asal ada dananya dan ijin untuk melakukannya. Ini akan lebih positif dan obyektif untuk menegakkan status ganja di bumi Indonesia, tidak bertahan sebagai polemik saja.

Legalisasi ganja?

Sebenernya ada satu hal yang ingin aku tanyakan, karena memang benar-benar awam hukum, terkait dengan legalisasi, tapi kemarin waktunya terbatas. Sebenarnya sampai sejauh mana sih legalisasi yang diinginkan? Menurutku, legalisasi adalah hal yang tidak berkaitan dengan penggolongan ganja dalam UU. Morfin, petidin, kodein (golongan II dan III narkotika) adalah legal digunakan selama itu sesuai dengan prosedur yang berlaku, misalnya harus dengan resep dokter, dst. Jadi tidak ada masalah kan? Masuk dalam UU narkotika bisa tetap legal kan? Kenapa harus maksain keluar dari UU narkotika?  Jadi, menurutku jika ganja sudah dibuat dalam bentuk obat yang terstandar dan teruji memberikan efek terapi, seperti dronabinol atau nabilon, maka penggunaannya juga akan legal. Jadi masalahnya di mana?  Jika yang dimaui adalah penggunaan legal untuk tujuan rekreasional, nah… ini yang menjadi pertanyaan…. ada hidden agenda apa? Mau dibawa kemana generasi muda bangsa ini?

Well, begitulah kawan, sekedar berbagi… berbeda pendapat boleh saja, selama didukung oleh logika berpikir yang benar dan  niat yang bersih. Semoga bisa menambah wawasan..


Aksi

Information

19 responses

25 04 2015
canggih

Gue tadinya mau coba juga apa rasanya gj seperti yang katanye dilegalkan di Eropah n Amrik….. tapi setlah bc atran di berbagai negara tersebut nyata ada batasan2nya …. ku kira benar2 legal ……..

Hehehe ….. di Eropa orang gunakan gj tuk DRUG REDUCTION dan ada atrannya, misal hanya boleh gunakan di tempat tertentu – tidak boleh di tempat sembarangan dan tempat tsb dikontrol, tempat tsb tdk boleh ada keributan, orang asing tidak boleh menggunakannya di negara tsb, jumlah penggunaannya dibatasi seorang 5 gram sehari, peraturan yang ketat bagi tempat yang menjualnya dsb. Bisa jadi di Eropah kekurangan gj niiih, jangan mnyelundupkan ke sana ya… berat resikonya…
Di Amerika untuk REKREASIONAL, resiko tanggung sendiri …. kan liberal…

Ternyata…… Di Indonesia, Negara ingin melindungi warganya agar tidak berdampak lebih buruk, baik dari dampak tembakau maupun gj dan psikoaktif lainnya, yg saat ini ternyata banyak disalahgunakan. Tujuan UU No. 35 th 2009 bukan untuk menghilangkan narkotika hloh , justru untuk MENJAMIN KETERSEDIAAN NARKOTIKA UNTUK KEPENTINGAN KESEHATAN dan ILPENGTEH (baca Pasal 4 UU tsb.)

Narkotika di Indonesia sebenarnya hanya dibagi dua, 1. Tidak digunakan untuk pengobatan (GOLONGAN I) dan 2. digunakan untuk pengobatan. Selanjutnya yang digunakan untuk pengobatan dibagi dua yaitu (GOLONGAN II DAN III sesuai gradasinya). hehehe sok teu ni yeee???

17 10 2014
Tn. Sirajluga

Kampungan !!! Cari tau dong manfaat cannabis, emangnya vonis sesuatu itu baik tanpa ada proses ?? Sma aja loh tuh sok tau alias tong kosong. Pmikiran abad 20 tuh yg blang cannabis itu narkotika, oh iya…. guru ngaji ane prnah brcerita waktu ane umur 6 thun, ” Babi pun halal dimakan jika cuma itu yg bsa menyelatkan hidup kta” jelas !!! Cannabis itu obat !!! Orng” farmasi aja tuh yg terancam klw cannabis legal.

1 05 2014
cincin kawin

say no to drug Cincin Kawin

24 02 2014
Ang Hardi Irawan

kok ga ada solusi peraturan buat para korban narkotik agar aparat maklum dan juga bila ada orang yang baru satu kali melakukannnya dan tidak mempunyai barang bukti..atau ada barang bukti tapi dia tidak merasa bawan,…dan itu puun karena alasan persaudaraan????????…mohon sekali atas jawabannya,tanpa perlu penjelasan saja cukup saya katakan terima kasih banyak…

26 11 2013
Cakie

Bagi anda2 yg awam dan munafik akan khasiat alam, jngan memberi pendapat atw penilaian negatif.
Karna apa?
Karna anda awam dan munafik.
Coba telusuri,pelajari, pahami, lalu ber opini.
Baru anda kami nilai org yg bijaksana.
Atw apakah emang anda2 ini gk brpendidikan?
Udah gak tau, gak mau tau, gak mau tanya.
Gmna mu cerdas bangsa ini kalo pemikiran’y slalu negatif pada obyek yg belum tau sisi posif’y.
Bhya manakah ganja dengan obat2’an kimawi yg beredar di apotek, rmh sakit atw wrung dkat tmpt tinggal anda?
Silahkan kaji lebih jauh..

9 10 2013
pejuang hijau (@pejuangdaun)

Sebelum menilai akan GANJA, ada baiknya kita lihat perkembangan global yg sedang terjadi di beberapa negara baik di Amerika maupun Eropa..ada banyak sekali alasan mengapa Ganja dilegalkan..utk detail anda bisa search di google akan hal ini..

sedikit menambahkan link referensi buat ibu..siapa tau bisa mencerahkan sebelum kita menjudge NEGATIF akan Cannabis..

Monggo dibaca link-link dibawah ini kalo ingin tahu riset mengenai Ganja Medis yg sudah dilakukan di beberapa negara:

Cannabinoid receptor systems: therapeutic targets for tumour intervention. UK
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/14640910

High concentrations of cannabinoids activate apoptosis in human U373MG glioma cells. UK
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/18615640

Cannabinoid receptor agonists are mitochondrial inhibitors: a unified hypothesis of how cannabinoids modulate mitochondrial function and induce cell death. UK
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17931597

The cannabinoid delta(9)-tetrahydrocannabinol inhibits RAS-MAPK and PI3K-AKT survival signalling and induces BAD-mediated apoptosis in colorectal cancer cells. UK
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17583570

Cannabis-induced cytotoxicity in leukemic cell lines: the role of the cannabinoid receptors and the MAPK pathway. UK
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15454482

Targeting cannabinoid receptors to treat leukemia: role of cross-talk between extrinsic and intrinsic pathways in Delta9-tetrahydrocannabinol (THC)-induced apoptosis of Jurkat cells. USA
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15978942

The expression level of CB1 and CB2 receptors determines their efficacy at inducing apoptosis in astrocytomas. USA
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20090845

Cannabidiol-induced apoptosis in human leukemia cells: A novel role of cannabidiol in the regulation of p22phox and Nox4 expression. USA
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16754784

Cannabidiol enhances the inhibitory effects of delta9-tetrahydrocannabinol on human glioblastoma cell proliferation and survival. USA
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20053780

Cannabinoids and the immune system. USA
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/11854771

Delta(9)-tetrahydrocannabinol-induced apoptosis in the thymus and spleen as a mechanism of immunosuppression in vitro and in vivo. USA
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/12130702

Delta9-tetrahydrocannabinol-induced apoptosis in Jurkat leukemia T cells is regulated by translocation of Bad to mitochondria. USA
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16908594

Cannabinoid-induced apoptosis in immune cells as a pathway to immunosuppression. USA
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19457575

Synthetic cannabinoid receptor agonists inhibit tumor growth and metastasis of breast cancer. USA
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19887554

Cannabinoids for cancer treatment: progress and promise. USA
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/18199524

Targeting CB2 cannabinoid receptors as a novel therapy to treat malignant lymphoblastic disease. USA
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/12091357

Cannabinoid receptor as a novel target for the treatment of prostate cancer. USA
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15753356

In vivo effects of cannabinoids on macromolecular biosynthesis in Lewis lung carcinomas. USA
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/616322

Cannabidiol as a novel inhibitor of Id-1 gene expression in aggressive breast cancer cells. USA
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/18025276

Cannabinoids as novel anti-inflammatory drugs. USA
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20191092

De novo-synthesized ceramide is involved in cannabinoid-induced apoptosis. SPAIN
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/11903061

Amphiregulin is a factor for resistance of glioma cells to cannabinoid-induced apoptosis. SPAIN
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19229996

Cannabinoids and cell fate. SPAIN
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/12182964

Delta9-tetrahydrocannabinol induces apoptosis in human prostate PC-3 cells via a receptor-independent mechanism. SPAIN
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/10570948

Delta9-tetrahydrocannabinol induces apoptosis in C6 glioma cells. SPAIN
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/9771884

Cannabinoids inhibit glioma cell invasion by down-regulating matrix metalloproteinase-2 expression. SPAIN
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/18339876

Cannabinoids protect astrocytes from ceramide-induced apoptosis through the phosphatidylinositol 3-kinase/protein kinase B pathway. SPAIN
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/12133838

Hypothesis: cannabinoid therapy for the treatment of gliomas? SPAIN
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15275820

Involvement of cannabinoids in cellular proliferation. SPAIN
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15638794

Effects on cell viability. SPAIN
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16596790

Cannabinoids induce apoptosis of pancreatic tumor cells via endoplasmic reticulum stress-related genes. SPAIN
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16818650

Cannabinoids and gliomas. SPAIN
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17952650

Delta9-tetrahydrocannabinol inhibits cell cycle progression in human breast cancer cells through Cdc2 regulation. SPAIN
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16818634

Opposite changes in cannabinoid CB1 and CB2 receptor expression in human gliomas. SPAIN
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20307616

Inhibition of skin tumor growth and angiogenesis in vivo by activation of cannabinoid receptors. SPAIN
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/12511587

Inhibition of human tumour prostate PC-3 cell growth by cannabinoids R(+)-Methanandamide and JWH-015: involvement of CB2. SPAIN
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19690545

Control of the cell survival/death decision by cannabinoids. SPAIN
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/11269508

The stress-regulated protein p8 mediates cannabinoid-induced apoptosis of tumor cells. SPAIN
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16616335

The CB2 cannabinoid receptor signals apoptosis via ceramide-dependent activation of the mitochondrial intrinsic pathway. SPAIN
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16624285

p38 MAPK is involved in CB2 receptor-induced apoptosis of human leukaemia cells. SPAIN
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16139274

Cannabinoids and ceramide: two lipids acting hand-by-hand. SPAIN
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15958274

Endocannabinoids: a new family of lipid mediators involved in the regulation of neural cell development. SPAIN
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16787257

Anti-tumoral action of cannabinoids: involvement of sustained ceramide accumulation and extracellular signal-regulated kinase activation. SPAIN
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/10700234

Cannabinoid receptors as novel targets for the treatment of melanoma. SPAIN
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17065222

JunD is involved in the antiproliferative effect of Delta9-tetrahydrocannabinol on human breast cancer cells. SPAIN
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/18454173

Cannabinoid action induces autophagy-mediated cell death through stimulation of ER stress in human glioma cells. SPAIN
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19425170

Cannabinoids induce glioma stem-like cell differentiation and inhibit gliomagenesis. SPAIN
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17202146

Down-regulation of tissue inhibitor of metalloproteinases-1 in gliomas: a new marker of cannabinoid antitumoral activity? SPAIN
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17675107

Endocannabinoids and fatty acid amides in cancer, inflammation and related disorders. ITALY
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/11106791

Estrogenic induction of cannabinoid CB1 receptor in human colon cancer cell lines. ITALY
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/18938775

Antitumor effects of cannabidiol, a nonpsychoactive cannabinoid, on human glioma cell lines. ITALY
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/14617682

The endocannabinoid anandamide neither impairs in vitro T-cell function nor induces regulatory T-cell generation. ITALY
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19189659

Cannabinoid derivatives induce cell death in pancreatic MIA PaCa-2 cells via a receptor-independent mechanism. ITALY
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16500647

The CB1/CB2 receptor agonist WIN-55,212-2 reduces viability of human Kaposi’s sarcoma cells in vitro. ITALY
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19539619

Antitumor activity of plant cannabinoids with emphasis on the effect of cannabidiol on human breast carcinoma. ITALY
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16728591

Cannabinoids in intestinal inflammation and cancer. ITALY
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19442536

The endocannabinoid system as a target for the development of new drugs for cancer therapy. ITALY
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/12723496

Apoptosis induced in HepG2 cells by the synthetic cannabinoid WIN: involvement of the transcription factor PPARgamma. ITALY
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19059457

Endocannabinoids as emerging suppressors of angiogenesis and tumor invasion (review). ITALY
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17342320

The non-psychoactive cannabidiol triggers caspase activation and oxidative stress in human glioma cells. ITALY
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16909207

Cannabinoids as potential new therapy for the treatment of gliomas. ITALY
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/18088200

The endogenous cannabinoid anandamide inhibits human breast cancer cell proliferation. ITALY
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/9653194

Anandamide induces apoptosis in human cells via vanilloid receptors. Evidence for a protective role of cannabinoid receptors. ITALY
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/10913156

Cannabinoid receptor activation induces apoptosis through tumor necrosis factor alpha-mediated ceramide de novo synthesis in colon cancer cells. ITALY
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19047095

Plant-derived cannabinoids modulate the activity of transient receptor potential channels of ankyrin type-1 and melastatin type-8. ITALY
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/18354058

A metabolically stable analogue of anandamide, Met-F-AEA, inhibits human thyroid carcinoma cell lines by activation of apoptosis. ITALY
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19189054

Endocannabinoids in the immune system and cancer. ITALY
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/12052046

R(+)-methanandamide-induced apoptosis of human cervical carcinoma cells involves a cyclooxygenase-2-dependent pathway. GERMANY
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19015962

Antitumorigenic effects of cannabinoids beyond apoptosis. GERMANY
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19889794

Up-regulation of cyclooxygenase-2 expression is involved in R(+)-methanandamide-induced apoptotic death of human neuroglioma cells. GERMANY
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15361550

Cannabinoid receptors in human astroglial tumors. GERMANY
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16893424

Cannabinoids induce cancer cell proliferation via tumor necrosis factor alpha-converting enzyme (TACE/ADAM17)-mediated transactivation of the epidermal growth factor receptor. GERMANY
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15026328

Cannabidiol inhibits cancer cell invasion via upregulation of tissue inhibitor of matrix metalloproteinases-1. GERMANY
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19914218

Pharmacokinetics and pharmacodynamics of cannabinoids. GERMANY
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/12648025

Delta 9-tetrahydrocannabinol inhibits cell cycle progression by downregulation of E2F1 in human glioblastoma multiforme cells. ISRAEL
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17934890

Cannabinoids and cancer. ISRAEL
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16250836

Cannabinoids in health and disease. ISRAEL
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/18286801

A cannabinoid quinone inhibits angiogenesis by targeting vascular endothelial cells. ISRAEL
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16571653

Gamma-irradiation enhances apoptosis induced by cannabidiol, a non-psychotropic cannabinoid, in cultured HL-60 myeloblastic leukemia cells. ISRAEL
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/14692532

An endogenous cannabinoid (2-AG) is neuroprotective after brain injury. ISRAEL
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/11586361

HU-331, a novel cannabinoid-based anticancer topoisomerase II inhibitor. ISRAEL
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17237277

Predominant CB2 receptor expression in endothelial cells of glioblastoma in humans. SWITZERLAND
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19480992

Cannabinoid receptor 1 is a potential drug target for treatment of translocation-positive rhabdomyosarcoma. SWITZERLAND
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19509271

Cannabinoid receptor ligands as potential anticancer agents–high hopes for new therapies? SWITZERLAND
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19589225

Arachidonylethanolamide induces apoptosis of human glioma cells through vanilloid receptor-1. SWITZERLAND
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15453094

Expression of cannabinoid receptors type 1 and type 2 in non-Hodgkin lymphoma: growth inhibition by receptor activation. SWEDEN
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/18546271

Cannabinoid receptor-mediated apoptosis induced by R(+)-methanandamide and Win55,212-2 is associated with ceramide accumulation and p38 activation in mantle cell lymphoma. SWEDEN
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16936228

Cannabinoid receptor ligands mediate growth inhibition and cell death in mantle cell lymphoma. SWEDEN
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16337199

Potentiation of cannabinoid-induced cytotoxicity in mantle cell lymphoma through modulation of ceramide metabolism. SWEDEN
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19609004

The endocannabinoid system of the skin in health and disease: novel perspectives and therapeutic opportunities. HUNGARY
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19608284

Pharmacological synergism between cannabinoids and paclitaxel in gastric cancer cell lines. JAPAN
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19394652

Different views on the association between cannabinoids and cancer. SLOVAKIA
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16835997

Effect of a synthetic cannabinoid agonist on the proliferation and invasion of gastric cancer cells. KOREA
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20336665

Cannabinoid 2 receptor induction by IL-12 and its potential as a therapeutic target for the treatment of anaplastic thyroid carcinoma. SAUDI ARABIA
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/18197164

Cannabinoids in the treatment of cancer. NEW ZEALAND
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19442435

Cannabinoids down-regulate PI3K/Akt and Erk signalling pathways and activate proapoptotic function of Bad protein. POLAND
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15451022

Antineoplastic and apoptotic effects of cannabinoids. N-acylethanolamines: protectors or killers? UKRAINE
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/18438336

A comparative study on cannabidiol-induced apoptosis in murine thymocytes and EL-4 thymoma cells. TAIWAN
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/18387516

The dual effects of delta(9)-tetrahydrocannabinol on cholangiocarcinoma cells: anti-invasion activity at low concentration and apoptosis induction at high concentration. THAILAND
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19916793

22 09 2013
San2

Ganja menurut kacamata saya adalah obat anti sakit / pain killer yang murah meriah, bila anda punya anggota keluarga yang kena kanker maka anda tahu bagaimana penderitaan mereka. sedangkan obat2an dimonopoli oleh farmasi industri, belum lagi pasien harus ikut bayar biaya marketing dan biaya dokter2 yang tulis resep untuk mrk bisa jalan2 keliling dunia yang besarnya bisa melebihi dari 50% harga obat. so senang2 di atas penderitaan orang lain lah.
Padahal kalau boleh tanam sendiri, ganja bisa dimasukan kategori JAMU !!
herbal, murah dan efektif penghilang nyeri.

18 08 2013
Al Atho

Smua tnman yg tumbuh dan smua yg diciptakan pst ada manfaatny,smua tgl bgmn kita semua bersikap,jika melihat manfaatny tentuny sah sah saja ganja digunakan,tp bila penggunaannya yg berlebihan dan tdk wajar ya tentu buruk utk smuany.. Yg penting bkn ganjany atau undang2ny,tp bgmn kita menata moral bangsa ini,dan itu adalah tgs masing2 pribadi. Yg mau pakai ya silahkan pakai,toh yg nanggung akibatny dia sendiri,yg sadar efek burukny ya jgn pakai,intinya marilah kita bljr menata moral kita masing masing. Kalau cm mengandalkan hukum,hukum indonesia adlh hukum yg tdk lebih dr cttan usang…

20 06 2013
Yangie Dwi

Yang disoroti itu :
1.ganja disini digunakan untuk terapeutik untuk itulah perlu penelitian mengenai ganja dan sistem kannabinoid di tubuh kita lebih spesifik lagi. alangkah baiknya kelegalan menyangkut pada kegunaannya sebagai terapeutik
2. setuju, kalo perjuangan legal dengan tujuan rekreasional untuk apa?
senang diawal,sengsara akibat efeknya di akhir

8 05 2013
Guru Patimpus

Prasangka baiknya adalah, bahwa UU Narkotika dibuat untuk melindungi segenap warga negara dari dampak berbahaya penyalahgunaannya. Jika oleh para punggawa negara (pemerintah bersama DPR) suatu perkara dianggap “berpotensi” bahaya dari kaca mata umum (awam), sudah pasti UU yang dibuat akan berisi larangan diikuti ancaman pidana. Nanti…, kalau mayoritas rakyat kita sudah cerdas emosinya, cerdas otaknya dan cerdas spiritualnya, insya Alloh UU yang dibuat oleh negara akan lebih lunak. Jadi, marilah bersabar… dan istiqomah berjuang mencerdaskan bangsa ini.

23 04 2013
Ananirmala, S.Farm, Apt

serat dari apa yang terbukti lebih baik dari ganja?
apakah anda bisa memberikan 1 contohnya?
perlu anda ketahui, kertas dari serat ganja bahkan bisa di daur ulang 7 hingga 8 kali, sedangkan kertas dari serat kayu hanya dapat di daur ulang 2 hingga 3 kali.
Maka jika kita perhatian terhadap kelangsungan bumi ini, tentunya serat ganja dapat menolong penebangan pohon yang berdampak pada pemanasan global. (pikirkan kembali)

kemudian, peningkatan gejala psikotik dan ketergantungan yang bagaimana yang anda maksud?
gejala psikotik dari efek ganja tidak berlaku permanen (bersifat sementara) dan dipengaruhi oleh kadar yang digunakan. ganja juga tidak mengakibatkan ‘sakau’ seperti pada penggunaan narkotika lainnya.
maka GANJA hanya perlu diatur kadar penggunaannya dalam terapi.

oleh sebab itu mengapa ganja dinilai perlu untuk diatur kembali regulasinya, karena ganja tidak se ‘hitam’ pemikiran yang tersesat.

silahkan anda kaji kembali, bagaimana ganja sangat baik terhadap terapi beberapa pengobatan. seperti yang dilansir oleh Dr. Leslie Iversen, PhD dalam “The Science of Marijuana” Tahun 2000. (apa yang dia pilih?) #Aspirin-vs-Ganja

RISET yang sangat kita butuhkan saat ini, untuk menjawab ketidak pahaman dan ke-abuabu-an dari posisi GANJA yang kurang tepat.

23 04 2013
Kopi Jahex

kita selalu mempermasalahkan negatif nya, tanpa melihat efek positifnya (entah mungkin bginilah karakter org indonesia pd umumnya)..
kita lebih memilih obat2an yg mengandung zat kimia di apotik dri pd memilih herbal.

banyak ruang pemikiran dri teman2 yg memperjuangkan ganja dianggap “tendensius”, sementara dri pihak lain org2 yg menjual dan (atau) mengkonsumsi obat2an dari apotik terus mensupport anti legalisasi ganja.. yg manakah yg TENDENSIUS ?

obat sakit kepala jika sekali minum 30 butir itu jg berbahaya lho….

12 04 2013
batinlinda

Jika ganja dilegalkan, masalahnya apakah masyarakat kita sudah cukup teredukasi utk tidak menggunakannya secara rekreasional? Spt yg dikemukakan di atas, mmgnya ga ada sumber lain yg dpt diolah utk tujuan2 terapeutik spt yg dimiliki ganja. Mungkin tidak sooner tapi entahlah jika later🙂

5 04 2013
INDOGANJA

Sebenarnya duduk persoalan utamanya ada pada hukum yang memenjarakan orang yg menggunakan ganja. Hanya karena tertangkap memiliki ganja selinting, seseorang bisa dihukum penjara sampai 5 thn. Ini yg harusnya menjadi pertimbangan, apakah adil memenjarakan orang selama 5 thn hanya karena orang itu mengkonsumsi sesuatu yg tidak merugikan dirinya maupun orang lain?

Legalisasi ganja akan terjadi, sooner or later

1 04 2013
namakuangi

sangat menarik, terutama ttg “gateway theory” yg sudah Ibu sampaikan tadi. Mungkin hal itu yg cukup penting untuk disosialisasikan ke generasi muda kita, agar mereka tidak berani coba-coba mengingat sekarang kesempatan untuk melakukan “coba-coba” semakin terbuka lebar…

31 03 2013
uce

sereem rasanya membayangkan ketika ganja di-legalkan penggunaannya (mengingat banyaknya berita di TV ttg kecelakaan lalu lintas yg disebabkan krn pengemudinya mabuk, ‘lg make’ dll), blm lg tindak kejahatan lain yg akan muncul, oh no…..!!!

30 03 2013
itheng

banyak kalangan yang membandingkan ganja dengan rokok ibu….mereka mengatakan lebih berbahaya rokok daripada ganja, dan kenapa ganja di ilegalkan…salah satu poin mereka menuntut ganja di legalkan karena faktor ini.

29 03 2013
Ajun

Banyak bgd org yg sukses menjalani hidupnya tnp ganja. Sepertinya di indonesia butuh pendidikan mental sedari dini dan peran keluarga jg hrs menonjol. Spy cegah org2 yg bermental “krupuk” menggunakan ganja utk tujuan rekreasional.

29 03 2013
Info Obat

Betul, jika yang dimaksud adalah legalisasi untuk tujuan rekreasional, apa urgensinya? Lebih baik tolak karena tak ada manfaatnya sama sekali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: