Catatan Lebaranku bersama Sindrom Skeeter dan PLC/Pleva

24 08 2012

Dear kawan,

Judul postingku kali ini sedikit aneh ya… apa hubungannya lebaran dengan istilah-istilah asing itu? Hmm..kalau mau tau, ikuti saja tulisanku kali ini. Oya, tapi sebelumnya, sebelum terlambat, …. dengan keikhlasan dan kerendahan hati, kami sekeluarga mengucapkan “Selamat hari Raya Idul Fitri 1433 H… Mohon maaf lahir dan batin. Semoga amal ibadah Ramadhan kita diterima olehNya, dan kita digolongkan menjadi orang-orang yang memperoleh kemenangan. Amien. “

Bagaimana nih kabar mudik lebarannya buat yang mudik? Pasti menyenangkan dan seru ya… Tapi suer deh…lebaran kali ini aku sangat repot…. hampir-hampir tidak bisa menikmati suasana liburan Lebaran… Bagaimana tidak? Hanna, putri bungsuku yang baru berusia 10 bulan baru saja mengalami lebaran pertamanya… It means that.. aku benar-benar harus full time untuknya, karena Hanna lengkeeet.. terus kaya perangko, tidak mau dengan siapapun kecuali emaknya ini, karena mbak pengasuhnya juga mudik ke rumah ortunya. Kalau saja gampang maemnya, pasti hidupku akan terasa lebih indah dan mudah… tapi aduuh, urusan maem Hanna aja sudah bikin stress tersendiri… Tapi yah, dinikmati saja sebagai bagian dari lelakon seorang ibu…

Udah gitu…. ada satu masalah lagi yang muncul pada Hanna selama di Purwokerto terkait dengan masalah kulitnya. Pembaca setia blog ini mungkin sudah membaca posting sebelumnya tentang sakit cellulitis Hanna beberapa waktu yang lalu. Ternyata di rumah eyang uti, gangguan kulit Hanna masih berlanjut, hanya saja berbeda bentuknya. Aku tidak tahu apakah karena kebetulan saja terjadi di Purwokerto, atau akan terjadi juga jika kami tidak mudik. Ceritanya masih terkait dengan gigitan serangga, khususnya nyamuk.

Digigit nyamuk (lagi)

Benjol krn  gigitan nyamukPerjalanan mudik Jogja-Purwokerto pada tanggal 16 Agustus 2012 cukup lancar.. Ini adalah perjalanan jauh Hanna yang pertama kali dalam hidupnya. Alhamdulillah, di jalan tidak rewel. Sampai di rumah uti (eyang putri), ia sudah bobo, dan langsung aku baringkan di kasur. Everything looks very well… sampai pagi-pagi, aku lihat di tangannya ada dua bekas gigitan nyamuk dan benjolnya cukup besar, bukan sekedar bentol. Aku mulai risau, dan kuatir kalau-kalau terjadi seperti sebelumnya, yakni cellulitis.  Benjolnya lumayan besar dengan ada vesikel berisi cairan di tengahnya. Hari berikutnya nambah di tangan yang satunya, dengan bentuk sama. Wah, benar-benar kulit Hanna sensitif sekali. Hanya saja, jika aku pelajari lagi… bengkak yang sekarang ini sifatnya lebih akut/segera, dan lebih terlokalisir pada sekitar gigitan nyamuknya. Hal ini berbeda dengan bengkak sebelumnya yang sifatnya tertunda, dan lebih meluas lokasinya.

Aku segera kontak dokter Niken, dan beliau menyarankan untuk diberi salep antiradang saja, seperti mometason, dan kalau ada luka garukan, segera disalep dengan antibiotik seperti asam fusidat, untuk mencegah infeksi. Berbekal pengalaman yang lalu, aku lebih tenang walaupun sempat risau juga dan kasian melihat dia yang gelisah karena merasa gatal dan ingin menggaruk-garuk.  Pada saat sempat, aku coba googling, dan menemukan satu istilah baru yang nampaknya sesuai dengan kondisi Hanna, yaitu Sindrom Skeeter. Apa pula itu?

Sindrom Skeeter

Sindrom Skeeter adalah reaksi alergi terhadap gigitan nyamuk, yang ditandai oleh proses inflamasi dan demam. Kondisi ini berkembang karena adanya polipeptida yang bersifat alergenik yang terdapat pada air liur nyamuk. Sindrom Skeeter berkembang dalam hitungan jam sejak digigit, yang hal ini berbeda dengan cellulitis (yang dialami Hanna sebelumnya) yang berkembang dalam beberapa hari sejak paparan. Untuk memastikan diagnosisnya, diperlukan riwayat kejadian yang detail. Selain itu, ada penanda khas yaitu IgE dan IgG, suatu antibody yang terbentuk ketika terjadi alergi gigitan nyamuk.

Aku tidak tau persis apakah yang dialami Hanna termasuk sindrom Skeeter atau bukan karena tidak ada pemeriksaan khusus, tapi keliatannya memang mirip dengan apa yang dijelaskan pada sumber informasi tadi. Selain itu, dalam keluarga kami memang ada bakat/riwayat alergi (bakat kok alergi yaa…. mbok bakat nyanyi, gitu… kan bisa buat cari uang…hehe…). jadi memang relevan.  Gejalanya yaitu terjadi bengkak di sekitar gigitan nyamuk dalam hitungan jam, jika digaruk nanti akan berkembang menjadi benjolan berwarna merah. Kemudian terbentuk vesikel/lepuh kecil-kecil berisi cairan.  Hanna tidak sampai demam sih, tapi bengkaknya jika disentuh terasa panas. Yang jelas, aku melihat benjolan ini tidak sama dengan bentol gigitan nyamuk yang biasanya hanya kecil dan segera hilang. Bengkak Hanna terjadi sampai beberapa hari walaupun aku olesin salep antiradang setiap hari. Tapi alhamdulillah, … pada Hanna tidak ada reaksi yang lebih berat, seperti sesak nafas ataupun syok anafilaksis/pingsan, yang bisa juga terjadi walau sangat jarang kejadiannya.

Apa obatnya?

Pengatasan sindrom Skeeter adalah dengan pemberian obat antihistamin per-oral (untuk mengatasi gatal dan alerginya) serta salep steroid untuk antiradangnya.  Untuk Hanna aku memberinya cetirizin syrup, salep hidrokortison, dan siap-siap mengolesinya dengan salep asam fusidat pada luka bekas garukannya untuk mencegah infeksi. Yah, … memang butuh waktu untuk sembuh, tapi alhamdulillah… luka bekas garukannya segera kering dan sembuh, tidak sampai terjadi infeksi seperti dulu.

Sindrom Skeeter kejadiannya cukup jarang, jadi tentu hanya orang-orang istimewa dan terpilih saja yang akan mengalaminya hehe…. Begitulah aku berprasangka baik padaNya yang menciptakan… pasti Hanna adalah bayi istimewa. Walaupun nampaknya merepotkan dan merisaukan, pasti ada tambahan ilmu yang akan diberikanNya dengan berbagai pengalaman yang kita alami, termasuk menghadapi penyakit.

PLC/Pleva

Istilah aneh apa lagi ini? Kisah berikutnya ini masih terjadi pada saat lebaran. Kali ini berasal dari sebuah e-mail yang aku terima, pada hari ketiga lebaran. Aku kutipkan sesuai aslinya, kecuali namanya yg aku samarkan.

Selamat malam Prof..
Sebelumnya saya haturkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1433 H..
Minal Aidzin wal Faidzin,mohon maaf lahir dan bathin..
Perkenalkan,nama saya Ali. Mohon maaf atas kelancangan saya,saya mengetahui alamat email Prof. Zullies Ikawati dr situs UGM dan website anda..
Saya mau minta tolong Prof..
Sudah 1 tahun lebih saya mengalami gangguan kulit,dan sudah saya periksa ke dokter spesialis manapun, tetapi belum sembuh juga.. Dr analisa dokter yg terakhir memeriksa saya,dilihat dr bentuk lesi di permukaan kulit saya (bekasnya seperti mika), dipastikan penyakit saya adalah PLC.. Sbg orang awam di bidang kesehatan,saya tidak mengerti itu jenis penyakit apa,dan apa penyebabnya.. Ironisnya,ketika saya tanyakan ke dokter yg memeriksa saya pun jg tdk bs menjelaskan scr detail apa penyebabnya.. Selama ini saya hanya diberikan obat antibiotik eritromisin,namun krn lambung saya tidak kuat,akhirnya dihentikan, dan diberikan salep racikan.. Namun penyakit kulit saya jg tidak kunjung sembuh..
Dr faktor genetika,saya mempunyai bawaan alergi kulit,dan ketika saya SMA jg sempat terkena virus herpes dan kadang kambuh sampai dg saat ini..
Dari cerita singkat saya td,saya berharap Prof dpt memberikan penjelasan apakah ada obatnya utk penyakit PLC tersebut? Sudah hampir 3 bln ini tdk saya periksakan kembali ke dokter,krn disamping biaya yg tdk sedikit,saya jg sdh sedikit putus asa..
Demikian Prof yg dapat saya sampaikan..
Atas perhatian dan perkenan Prof,saya haturkan banyak terima kasih..
Salam,

Maaf kawan,

bukannya aku sok pintar dan sok tahu. Tapi surat semacam ini (dan aku sering menerima e-mail/surat serupa untuk kasus-kasus yang lain) selalu menyentuh hatiku dan membuatku ingin berbuat sebisaku. Aku memang bukan ahli penyakit kulit, tapi paling tidak aku bisa mencari sumber informasi yang bisa dipercaya dan kubagikan lagi informasi itu dengan bahasa yang lebih mudah. Semoga itu bisa membantu.

Nah, mas Ali dan kawan-kawan… Sengaja jawabannya aku share-kan di blog ini, mungkin ada manfaatnya. Memang kadang penyakit-penyakit seperti ini jarang kejadiannya, tapi sering kali justru dekat sekali dengan kita.  Dan yang seperti aku sampaikan tadi, buat yang berpenyakit jarang seperti ini, jangan berkecil hati,…. justru Anda adalah orang-orang pilihan, yang diberiNya keistimewaan, yang pasti ada hikmah dan pelajarannya.

Apa itu PLC?

PLC adalah singkatan dari pityriasis lichenoides chronica, suatu jenis penyakit kulit berupa ruam yang jarang diketahui penyebabnya. Kondisinya dapat berkisar dari bentuk kronis yang relatif ringan sampai serangan akut yang lebih parah. Bentuk kronis ringan, yang dikenal sebagai PLC tadi, ditandai dengan perkembangan secara bertahap dari tanpa gejala sampai adanya papula kecil yang akan merata sendiri dan hilang dalam beberapa minggu. Di sisi lain, bisa juga terjadi kondisi akut, di mana papula akan berkembang menjadi lepuh dan kulit menjadi berwarna merah-coklat, berbintik. Bentuk akutnya disebut pityriasis lichenoides et varioliformis acuta (PLEVA).
Penyakit ini paling sering terjadi pada remaja dan dewasa muda, biasanya muncul sebelum usia 30, dan nampaknya lebih sering terjadi pada laki-laki.
Penyebab lichenoides pityriasis belum diketahui, tetapi ada 3 teori utama:
■ Suatu reaksi inflamasi dipicu oleh agen infeksi
■ Suatu bentuk gangguan proliferasi/perbanyakan sel T (suatu sel dalam system imun)
■ Suatu reaksi hipersensitivitas kulit

Jadi, pada intinya, penyakit ini adalah semacam penyakit karena gangguan sistem imun tubuh yang bereaksi secara abnormal berlebihan. Dan melihat penyebabnya ini, penyakit ini relatif kronis dan bertahan cukup lama, dan mungkin tidak bisa sembuh sepenuhnya kecuali kondisi sistim imun membaik dan menjadi normal.

PLC sendiri memiliki perjalanan klinis yang lebih ringan daripada PLEVA. Lesi PLC mungkin muncul selama beberapa hari, minggu atau bulan. Lesi pada berbagai tahap dapat terjadi pada satu waktu.
■ Awalnya papul merah muda kecil terjadi yang berubah menjadi coklat kemerahan
■ Biasanya terdapat suatu lapisan seperti mika menempel pada pusat spot, yang dapat terkelupas dan menyebabkan permukaan kulit mengkilap berwarna coklat kemerahan.
■ Selama beberapa minggu tempat lesi mendatar secara spontan dan meninggalkan tanda coklat, yang memudar selama beberapa bulan.
PLC paling sering terjadi pada batang tubuh, pantat, lengan dan kaki, tetapi juga dapat terjadi pada tangan, kaki, wajah dan kulit kepala. Berbeda dengan PLEVA, lesi PLC tidak menyakitkan, gatal atau iritasi. Seringkali pasien dengan PLC mengalami kekambuhan, yang dapat berlangsung selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun.

Bagaimana pengobatannya?

Mas Ali dan kawan-kawan, penyakit Lichenoides pityriasis mungkin tidak selalu berespon baik terhadap pengobatan dan kekambuhan sering terjadi jika pengobatan dihentikan. Jika ruam tidak menyebabkan gejala, sebenernya tidak diperlukan pengobatan. Dalam kasus di mana pengobatan diperlukan, ada beberapa terapi yang tersedia. Saat ini direkomendasikan terapi lini pertama meliputi:
Paparan sinar matahari, dapat membantu untuk mengatasi lesi namun sengatan matahari harus dihindari.
Steroid topikal untuk mengurangi iritasi. Namun, belakangan mulai muncul kekuatiran terhadap adanya potensi efek samping, sehingga mulai ada saran untuk memberikan  Immunomodulators topikal nonsteroid.
Immunomodulators topikal seperti tacrolimus atau pimekrolimus. Salep tacrolimus dioleskan dua kali sehari telah berhasil digunakan untuk mengobati pasien dengan PLC.
Oral antibiotik. Antibiotik yang paling umum digunakan adalah eritromisin dan tetrasiklin. Antibiotik ini telah digunakan untuk mengobati baik PLC maupun PLEVA. Antibiotik digunakan untuk mencegah infeksi yang mungkin terjadi akibat lesi-lesi di kulit tersebut.

Terapi lini kedua digunakan jika lini pertama tidak berhasil, yang meliputi:
Fototerapi, yaitu pengobatan dengan radiasi ultraviolet buatan dengan UVB atau PUVA, dan telah digunakan dengan berbagai keberhasilan baik pada pasien dengan PLEVA dan PLC.

Terapi lini ketiga diberikan jika kondisinya sudah cukup berat, yang meliputi:
Pemberian steroid sistemik, methotrexate (suatu penekan system imun) diberikan secara oral atau melalui suntikan IM,  acitretin, dapson, atau ciclosporin.

Apakah bisa disembuhkan?

Sulit untuk memastikannya, tetapi pada sebagian pasien penyakit ini bisa sembuh dengan sendirinya, jika system imun menjadi normal lagi. Namun perkembangan penyakit ini sangat berbeda antara satu dengan yang lain. Mungkin ada yang membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk sembuh atau mengalami resolusi, dan ada yg bertahun-tahun. Ada yang sering kambuh, dan ada yang jarang-jarang kambuh. Pengobatan yang ada cenderung untuk mengatasi gejala saja, sehingga jika tidak ada gejala yang mengganggu, pengobatan tidak diperlukan. Jadi, lebih baik berpikir positif tentang penyakit ini. Stress emosional kadang justru memicu kekambuhan. Jadi kalau menurut aku ya dijalani saja… memang sebaiknya tetap dikonsultasikan ke dokter jika memungkinkan dari segi biayanya. Buat Mas Ali, jangan putus asa ya… sakit itu adalah cara Allah mengingatkan kita akan kebesaranNya, apalagi dengan sakit yang jarang, berarti anda orang yang terpilih. Dia memilih Anda menjalani ini, karena Dia tau bahwa Anda akan bisa melaluinya, karena Dia tidak akan memberi beban yang melebihi kemampuan hambaNya memikulnya. Dengan diberi sakit, adalah cara Dia agar kita makin mendekat kepadaNya. Insya Allah.

Penutup

Demikian kawan, catatan lebaranku tahun ini. Semoga ada manfaatnya. Aku ingat tahun lalu catatan lebaranku diwarnai dengan penyakit hepatitis yang diderita salah seorang sahabatku, yang bahkan sampai merenggut kehidupannya. Semoga kita senantiasa dikarunia kesehatan dan kekuatan, untuk menjadi semakin bermanfaat bagi sesama. Amien.

sumber bacaan:

http://www.simple-remedies.com/health-tips-3/allergic-reaction-to-mosquito-bites.html

http://dermnetnz.org/scaly/pityriasis-lichenoides.html


Aksi

Information

9 responses

4 07 2015
Gita

Salam kenal mb, thx infonya soal alergi ini ya. Btw alergi hanna msh ada? Mo share pengalaman nih. Anakku Ara alhamdulillah bisa sembuh bentol+korengnya dengan IQku, madu herbal. Dioles + diminumkan.

30 12 2014
saputro321

jujur baru tau nih tentang sindrom skeeter, ternyata gigitan nyamuk juga bisa mengakibatkan alergi, Tapi dari pada bingung mencari obatnya mending membasmi nyamuknya saja dengan metode ini http://jendelasehatq.blogspot.com/2014/08/cara-mengusir-nyamuk-yang-alami-dan-aman.html soalnya kan ada pepatah lebih baik mencegah dari pada mengobati

29 09 2014
agungsaputro23

wah bagus nih infonya, saya juga punya artikel tentang tentang cara mengusir nyamuk nih secara alami yang mungkin bisa menambah ilmu http://jendelasehatq.blogspot.com/2014/08/cara-mengusir-nyamuk-yang-alami-dan-aman.html

1 05 2014
cincin kawin

mari peduli akan kesehatan Cincin Kawin

21 06 2013
yesungeunmi

Halo mbak, namaku Made Ardani, aku orang Bali, kyak’a aku snasib sma Hanna *modusbuatsekalianCurhat*… =,=”
….,aku juga enggak ngrti knpa bgni, aku ga prnah mau diajak k dokter kulit, karna ga mau ngerepotin orang tua ku.

.sama sprti yg tadi mbak ktakan, mnrut info tntang sindrom itu. Sepertinya aku terkena ” Sindrom Skeeter “.
..sebelum’a, aku juga kena, sprti bntol2 berair, kalau dikempeskan, beberapa jam kemudian dya mmbengkak. Dn skrang sya terkena alergi itu.
..setiap malam, saya sllu terbangun, dn berdoa agar cepat sembuh.. Semoga Hanna cepat sembuh ya mbak, dn semoga alergi sprti itu tidak menyerang Hanna lagi. ASTUNGKARA (AMIEN).
.^^~

13 06 2013
Esti

Saya ingin bertanya mengenai PLC/PLEVA, ada tidak pantangan dalam mengonsumsi makanan? Kalau ada, makanan apa saja yang tidak boleh dikonsumsi oleh penderita PLC/PLEVA? Sangat butuh info tersebut, terimakasih.

Jawab:
Dear Esti, tidak ada pantangan khusus utk penderita PLEVA, tapi sebaiknya mengurangi makanan yg mengandung lemak jenuh, kolesterol, sebaliknya tambahkan sayur dan buah dalam dietnya, dan vitamin2 seperti folic acid, vitamin B2, vitamin B6, vitamin B12, vitamin C, vitamin K and potassium.

Read more: http://www.livestrong.com/article/366002-nutrition-considerations-for-pleva-patients/

2 04 2013
about beauty

Mau nanya nih, umur berapakah bayi mulai diperbolehkan mengkonsumsi makanan selain ASI

Jawab:
Jika berdasarkan ASI eksklusif sampai 6 bulan ya setelah 6 bulan. Tapi pada usia 4 bulan juga sudah bisa mendapat makanan tambahan selain ASI

6 09 2012
retna

bu, mohon informasi. kalau tidak salah (mohon dikoreksi bila ada kesalahan) dosis toksik parasetamol 4000 mg perhari. yang saya tanyakan. apakah ada dosis toksk parasetamol dalam hitungan hari( berapa hari maksimal minum parasetamol yang aman). karena anak kecil sering sakit, hamir setiap bulan ada saja penyakitnya.

jawab:
betul, mbak… dosis toksik parasetamol adalah 4000 mg/hari. Tapi saya tidak menemukan tentang durasi maksimal penggunaan parasetamol. Setahu saya tidak ada. Selama digunakan di bawah dosis toksiknya, tubuh mungkin masih bisa mengeliminasi metabolit toksiknya.

26 08 2012
tati rahmawati

terimaksah infonya…..sangat bermanfaat sekali…
semoga Hanna cepat sembuh yaaaa..prof..dan gak digigit nyamuk lg…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: