Aku dan keledai

21 03 2012

Dear kawan,

aku sudah hampir melupakan rutinitasku dulu untuk menulisi blog-ku….. Sayang memang, karena blog ini sudah punya pembaca setianya sendiri…. tapi aku yang ganti tidak setia menulisinya. Aku tidak punya alasan yang lebih masuk akal kecuali sibuk dan kehilangan mood menulis. Padahal menulis itu juga sebuah ekspresi dan pelepasan…  tapi entahlah, aku benar-benar malas menulis sekarang…

Mungkin karena aku berusaha menjaga ciri khas blog ini… yaitu sentuhan pribadi dan pencerahan berupa muatan ilmu. Sentuhan pribadi itu maksudnya ya cerita tentang seputar kegiatan, pemikiran, dan pengalaman pribadiku.  Jadi ketika aku sedang merasa enggan menuliskan kegiatan atau pengalaman pribadiku karena kuanggap tidak perlu dipublikasikan ke khalayak, maka akhirnya aku juga berhenti menulis. Sedangkan muatan ilmu, utamanya ttg obat dan kesehatan, toh sudah banyaaak…. ada di mana-mana. Jadi aku juga tidak merasa “bersalah” jika tidak menulis, karena toh pembaca blog ini bisa mendapatkan aneka informasi dari sumber-sumber lain.  Begitulah, kawan, alasan sebenarnya mengenai nasib blog ini.

Alasan lain yang masuk akal adalah waktu yang semakin terbatas untuk menulis. Kehadiran Hanna kecilku tentu menuntut perhatianku lebih banyak untuknya, di samping untuk kakak-kakaknya yang lain. Aku yang biasanya selalu membuka laptop di rumah sambil menemani anak-anak beraktivitas di rumah pada malam hari, kini tidak bisa lagi karena Hanna belum bisa ditinggal-tinggal, dan harus pandai mencuri-curi waktu Hanna saat ia bobo seperti saat ini.

Nah, ngomomg-ngomong tentang karakter atau cirri khas……. membentuk cirri atau karakter itu bukan sehari dua hari, tapi perlu proses. Aku ingat ketika pertama kali aku mulai punya blog ini…. Oktober 2008, tulisanku masih sangat miskin..  tapi di sisi lain, semangatku masih menggebu-gebu. Targetku adalah satu posting per minggu. Semula hanya postingan pendek-pendek saja. Makin lama tulisanku makin panjang  dan mulai punya cirri. Misalnya, aku memanggil pembacaku dengan istilah “kawan”, atau menyebut diriku dengan sebutan “aku”, bukan “saya”. Aku mulai membuat cirri khas yaitu apa yang tadi kusebut  sebagai “sentuhan pribadi” dan “bermuatan ilmu”.

Untuk blog ini aku memang agak “sombong”, karena aku tidak mau blog-ku sebagai “batu lompatan” untuk mencari informasi lain. Aku ingin orang membuka blog-ku karena memang untuk membaca tulisanku. Karena itu, aku tidak menyediakan banyak link. Aku juga tidak ingin copy paste tulisan orang lain, walaupun aku sebutkan sumbernya. Aku suka yang orisinil, walau konsekuensinya blog ini menjadi kosong tulisan ketika aku malas menulis. Sebenernya aku juga lagi mengangankan bisa menulis cerita fiksi, semacam cerpen atau novelette. Ngga usah yang panjang-panjang dulu lah…. aku punya banyak stock cerita dalam kepalaku. Tapi menuangkannya itu lho….. susah banget menulis dalam bahasa cerpen yang mengalir dan enak dibaca.

Kalau aku menulis lagi sekarang, dan tulisanku kosong tidak ada muatan apa-apanya….. biar sajalah. Aku sedang belajar menulis lagi. Aku juga sedang belajar untuk tidak perlu terlalu memikirkan apa pendapat orang. Dalam arti positif loh, bukan berarti keras kepala dan tidak mau mendengarkan. Tapi dari berbagai pengalamanku belakangan, kadang kita berbuat apapun, walaupun baik, pasti ada orang yang suka dan tidak. Atau bahkan tidak berbuat apa-apapun, juga demikian. Apalagi jika berbuat yang buruk. Komentarnya bisa kemana-mana dan dilebih-lebihkan. Ternyata begitulah dinamikanya berinteraksi dengan sesama. Jika kita terlalu memikirkan apa pendapat orang, mungkin kita malah bingung sendiri bagaimana harus bersikap.  Seperti cerita tentang seekor keledai yang ditumpangi seorang ayah dan anaknya. Ingat kan ceritanya?

Seeorang ayah dan anak akan pergi bersama keledainya. Sang ayah menunggangi keledainya dan menyuruh sang anak berjalan di belakangnya. Ketika melewati sekelompok wanita, orang2 itu berkomentar. “Bagaimana sih bapak itu, apa tidak kasihan, kok malah dia yang naik dan anaknya yang masih kecil itu disuruh berjalan?”. Karena malu diolok-olok, maka maka iapun turun dari keledainya dan menyuruh sang anak yang naik. Tapi tak berapa lama berjalan, lewat pula segerombolan orang tua yang duduk-duduk. Mereka berkomentar lagi:  “Wah, Bapak tua, apa kamu tidak bisa mendidik anakmu untuk menghargai orang tua? Engkau berjalan kaki sedangkan anakmu malah enak-enak naik keledai?” 

Mendengar komentar itu, sang ayah pun bilang pada anaknya“ Kamu sudah mendengar kan omongan mereka barusan? Kalau begitu, mari kita naik bareng-bareng.” Lalu mereka berdua menaikinya bersama-sama dan berjalan, tetapi di tengah perjalanan, kebetulan bertemulah mereka dengan sekelompok orang lain, kelompok pecinta binatang. Melihat pemandangan itu, mereka meneriaki sang ayah dan anak, “Alangkah kasihannya keledai yang kurus-kering ini. Apakah kalian tidak ada rasa kasihan sedikitpun pada keledai itu? Ia kan juga mahluk Tuhan yang perlu dikasihani.” 

Mendengar komentar itu, akhirnya ayah dan anak itu turun dari keledai, dan memutuskan untuk berjalan bersama-sama dan membiarkan keledainya berjalan di depan mereka. Sewaktu berjalan, mereka bertemu lagi dengan sekelompok pemuda. Mereka mentertawakan ayah dan anak tersebut,” Alangkah bodohnya kalian…. kalian memiliki keledai, tapi kalian berpayah-payah berjalan kaki dan membiarkan keledai itu bersantai-santai. Untuk apa kalian membawa keledai?”

Akhirnya…..? Yah, begitulah jika seseorang terlalu terpengaruh oleh pendapat orang lain dan tidak punya pendirian sendiri. Mungkin ini bisa menjadi ilustrasi, bahwa apapun yang kita lakukan, bisa mengundang komentar orang. Ada yang mendukung, ada yang miring, dengan berbagai alasan dan latar belakangnya. Akhirnya, selama kita meyakini bahwa jalan yang kita tempuh adalah baik, diniatkan untuk yang baik, ya dijalani saja, dengan tetap bermohon kepada Sang Empunya Hidup untuk dijauhkan dari kesulitan, fitnah, prasangka, yang mungkin memberatkan jalan kita. Adapun jika ada yang demikian, tetaplah mohon diberi kekuatan untuk mengikhlaskan dan hanya padaNya saja tempat berlindung dan mohon pertolongan.

Lho, kok ceritanya malah jadi cerita keledai yaa…  yah biar sajalah, ini adalah salah satu contoh ketika jari dibiarkan menekan keyboard laptop, dan pikiran mengembara kemana-mana. Sekali lagi…suka-suka aku lah mau menulis apa hehe…… Dan tau tidak kawan,…judul posting ini baru terpikir setelah tulisan ini selesai….dan itu tidak terbayangkan sebelumnya.

Begitulah, kawan, tulisan keduaku di tahun ini…. semoga masih diberi kekuatan menulis lagi di lain hari…  Sampai jumpa…

Iklan

Aksi

Information

7 responses

1 05 2014
cincin kawin

Saya sudah lama sering membaca tulisan-tulisan ibu di blog ini dan sangat terinspirasi. 🙂 Cincin Kawin

18 06 2012
thera rolavina

Tulisan sederhana Begitu menginspirasi dan penuh makna. Sangat mengena dengan pengalaman n lingkungan kerja saya yg berinteraksi dgn banyak orang. Thanks prof..semangat terus menulis. Teruslah berkarya krn saya akan terus menjadi pembaca setia blog ini dan terus menantikan tulisan2 ttg obat dan kesehatan terupdate.termsuk terbitan bukunya ttg farmakoterapi sistm kardiovaskuler.hehe

10 04 2012
yani mulyani

like this ibu Prof… sayapun memiliki blog, dan beberapa tempat share yang lain, terutama mengenai apa yang saya rasakan dalam kehidupan sehari hari dan tentunya sekitar family story, karena dalam pikiran saya masih tetap ingin share the happiness dari my little family…..
hanya belum sekaliber ibu, yang bisa share mengenai ilmunya dengan jelas. sayapun sama bu, ingin sekali menukis mengenai keilmuan farmakologi saya, hanya masih ..Apakah saya layak?… hehehe.
at least, setelah saya baca punya ibu, jika semangat itu ada, dan jalannya pun ada, ga masalah untuk segera memulai.
terima kasih bu…
impian saya ingin share dan mengekspresikan keilmuan saya, mkai tergugah kembali dengan blog nini. semoga ibu selalu diberikan kesehatan.
conratulations for gelas profnya di usia 40. manteppp… just like my another dream.

25 03 2012
faisal

senang melihat mbak kembali lg…. kangen jg rasa nya, tanks cerita nya sederhana namun penuh makna …

22 03 2012
KaosInspiratif.com

mencerahkan 🙂

22 03 2012
Monika Oktora

Bu Zullies Ikawati, salam kenal.. Saya sudah lama sering membaca tulisan-tulisan ibu di blog ini dan sangat terinspirasi. 🙂
Perkenalkan, nama saya Monik. Saya alumni S1 dan apoteker ITB. Dulu saya pernah ikut kegiatan seminar dan lomba Patient Counseling Competition di UGM tahun 2010, dan ibu jadi pembicaranya, kebetulan saya dapet doorprize saat bertanya, hadiahnya buku ibu mengenai “Cerdas Mengenai Obat” hehehe…
Ibu Zullies, saya kagum sekali dengan ibu, bisa menjadi dosen sekaligus penulis, sama persis seperti cita-cita saya. Saya ingin sekali lanjut S2 dan jadi pengajar seperti ibu 🙂 Smg ada jalannya ya bu..
Terus berkarya bu..

21 03 2012
Fia

Like this Bu…seperti kisah Lukman yang disebutkan di Al-Qur’an..trimakasih Bu tulisannya,sangat menginspirasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: