Catatan kecil Lebaranku 1431 H

16 09 2010

Dear Kawan,

Akhirnya ritual tahunan Idul Fitri 1431 H sudah harus berakhir, menyisakan berbagai cerita. Saatnya kembali lagi ke dunia “nyata” keseharian di Yogya. Aneka aktivitas sudah menanti dijalani. Mudah-mudahan dengan lembaran hidup baru yang fitri. Tulisan kali ini berisi catatan kecilku tentang cerita momen lebaranku yang terserak, sekedar sebagai monumen kehidupan.

Ramadhanku

Ramadhan selalu terasa istimewa, setelah menjalani hirup pikuk dan dinamika kehidupan selama hampir setahun sejak Ramadhan tahun sebelumnya. Up and down keimanan dalam meniti kehidupan, membuat bulan Ramadhan menjadi bulan keberkahan untuk membersihkan hati dan menguatkan fondasi diri. Insya Allah menjadi lebih kuat, amien. Alhamdulillah, aktivitas ibadah selama Ramadhan berjalan lancar saja. Anak-anak genap puasanya, kecuali si bungsu yang masih 4,5 tahun. Aktivitas pekerjaan pun berjalan normal di sela-sela puasa Ramadhan, walau sempat harus bepergian ke luar Jawa. Selain itu, ada pula aktivitas “cuci gudang”…. menyeleksi lagi baju-baju yang sudah tidak dipakai lagi untuk disumbangkan kepada yang membutuhkan. Anakku si Hani sih pengennya bisa buka “bazar” sendiri seperti tahun lalu, dia jualan baju-baju pantas pakainya dengan harga “ala kadarnya”, lalu ia menikmati menerima uangnya.. hehe, walau sekedar seribu-dua ribu perak… Tapi sayangnya tahun ini tak sempat bikin bazar sendiri, jadi nitip saja ke mesjid dekat rumah. Bingkisan lebaran untuk tetangga kanan kiri yang tak mampu juga tidak lupa. Bulan Ramadhan di Yogya diakhiri dengan acara mudik Lebaran pada H minus 4. Alhamdulillah, perjalanan mudik ke Purwokerto cukup lancar.

Menjadi Upik Abu

Hari-hari di kota kelahiran menjelang Lebaran selalu juga menjadi suasana tersendiri, salah satunya adalah menjadi si Upik Abu, menggantikan asisten rumah tangga yang juga perlu bertemu keluarga dan sanak saudaranya. Kerepotan bersama si kecil sejak bangun tidur hingga tidur lagi, setrika baju-baju, menyiapkan makan anak-anak, dll, menjadi “ritual” baru menjelang lebaran. Untungnya si bungsu cukup kooperatif di rumah, alhamdulillah, yang penting disediain laptop saja untuk main game. Keluarga adik-adik juga mulai berdatangan menjadikan suasana rumah ibuku seperti barak pengungsian korban bencana alam. Tapi asyik saja siih…. anak-anak senang bermain dan bertemu sepupu-sepupunya dari jauh. Memancing ikan di kolam belakang rumah ibu menjadi salah satu kegiatan favorit mereka. Yang unik tahun ini, sepupuku membuka warnet di rumah ibuku. Wah…. anak-anak bolak-balik main ke warnet untuk main game online…. dan harus bayar. Bener-bener profesional deh sepupuku itu hehe……

Hari H Idul Fitri

Seperti tahun sebelumnya, sholat Idul Fitri kami laksanakan sekeluarga besar di Alun-alun kota Purwokerto. Untuk kali kedua anak bungsuku Dhika aku ajak sholat Ied. Aku cukup tenang karena adikku ada yg sedang berhalangan sholat, sehingga bisa aku minta tolong jagakan Dhika. Sebagai informasi, Dhika sempat “hilang” pada sholat Ied tahun lalu karena tiba-tiba ia berlari di antara orang2 sholat. Bisa dibayangkan di antara crowdednya orang sholat Ied, sulit sekali mencari sosok kecil yang berlari kian kemari. Dan…. ternyata walaupun demikian, peristiwa itu terjadi lagi! Dhika sempat “lepas” lagi berlari ke di antara kerumunan puluhan orang yang sedang berkemas selesai sholat, untungnya masih bisa ketemu lagi.

Masih sama dengan tahun sebelumnya, sehabis sholat Ied kami berziarah ke makam ayah, lalu pulang ke rumah ibu untuk sungkeman saling bermaafan dan menikmati hidangan lebaran, opor ayam, sambel goreng udang, dengan lontong atau ketupat.

Bertemu “fans” blog ini

Maap, subjudul ini agak lebay sedikit…. tapi itu beneran loh…. Ceritanya pada kesempatan lebaran kemarin, sempat pula diadakan reuni SMP Negeri 1 Purwokerto almamaterku dulu. Reuni kecil-kecilan saja, satu angkatan, tapi cukup ramai. Asyik juga ketemu teman-teman lama, sebagian masih terlihat sama seperti dulu, sebagian sudah banyak yang berubah. Yang jelas keliatan lebih makmur jika dilihat dari ukuran perutnya. Ada satu teman yang mengatakan bahwa dia termasuk pembaca setia blog ini… dan menanyakan kabar jariku (Halo, Dite.. hehehe..). Trus ada lagi deh… ketika aku berkontak ria dengan seorang teman lama yang jauh untuk mengucapkan Selamat Idul Fitri, salah satu pertanyaannya adalah “ jentikmu wis mari durung?”… (translation: Jarimu udah sembuh belum?). Wah, jariku kok ngetop amat….. hm, pasti dia baca curhatku di Blog ini ketika kemarin aku menulis tentang pengalamanku mengalami “gangguan sendi”. Terus, ada lagi… kali ini kerabat yang lama juga ngga ketemu dan ngga sempat ketemu langsung, tapi hanya via telpon… dia bilang, “Aku selalu baca semua cerita Mbak Lies di blog, loh…. ngga ada yang ketinggalan. Tulisannya ringan, enak dibaca”… Wah,wah….. jadi agak tersanjung nie… mudah-mudahan saja bermanfaat buat yang membacanya, walau sekedar tulisan ala kadarnya. Rasanya seneng aja …..

Penyakit di hari Lebaran

Hari H plus 2 adalah waktunya kami berangkat ke Pekalongan, yang merupakan kota kelahiran suami. Setiap Lebaran pasti kami berkunjung ke dua kota ini, Purwokerto dan Pekalongan. Cerita tentang jalanan yang padat merayap pasti bukan hal mengejutkan lagi, walaupun bikin capek dan kesal. Bayangin, perjalanan yang biasanya hanya 3 jam, kemarin harus kami tempuh selama 6 jam. Tapi bukan kemacetan itu yang bikin prihatin. Yang lebih memprihatinkan adalah bahwa Hanisa, putriku, mengalami diare sejak pagi hari H plus 2. Tapi karena sudah direncanakan pergi, maka tetap saja ia kami ajak ke Pekalongan. Alhasil,….hm..sepanjang perjalanan kami beberapa kali harus berhenti, di masjid atau di Pom bensin, karena ia mulas dan pengen BAB. Kasian sekali. Sesampai di pekalongan, aku langsung mampir apotek untuk membeli obat. Kubelikan dia sirup Kaolin+Pektin (merk tidak perlu disebut), tablet Zink (rekomendasi baru utk diare), dan loperamid (merk tidak perlu disebut) untuk memampatkan diarenya. Oya, tak dinyana, apoteknya ternyata milik kakak angkatanku mas Makmur…jadilah dapat diskon hehhe…(makasih, Mas),  malah katanya aku mau diundang untuk ngisi acara pertemuan IAI (Ikatan Apoteker Indonesia) di Pekalongan. Acara silaturahmi di Pekalongan lumayan lancar, walau Hanisa masih harus beberapa kali masuk WC pada rumah-rumah kerabat yang kami kunjungi… Untunglah, saat pulang kembali ke Purwokerto, frekuensi BABnya sudah jauh berkurang, walau sempat harus sekali mampir di masjid utk numpang BAB. Maap.

Penyakit kedua yang dijumpai pada masa lebaran kemarin dialami oleh keponakanku Vina, yakni demam. Sebenarnya sih demam ringan saja, mungkin kecapekan main atau kangen mamanya, karena mamanya harus segera balik ke tempat kerjanya di jakarta, sementara ia masih tinggal bersama eyang di Purwokerto. Tapi karena ibuku kuatir, maka dibawanya ke dokter. Ketika aku kembali ke Purwokerto dan kutanyakan bagaimana keadaannya, ibu bilang bahwa obatnya lumayan banyak. Ibu bahkan sempat mengeluarkan simpanan mortir dan stampernya untuk menggerus obat-obat tersebut supaya mudah diminum Vina. Hmm…. mau tau apa saja obatnya? Amoksisilin, Bactrim, Ambroksol, satu obat paten dengan komposisi: parasetamol-fenilpropanolamin-CTM, dan deksametason !! Maap, deh, bukan bermaksud mengintervensi wewenang dokter…. tapi menurut aku, obatnya sudah terlalu berlebihan. Aku sampaikan ke papanya Vina (adik iparku) bahwa sebenarnya ngga perlu lah ada dua macam antibiotika semacam itu (amoksisilin dan bactrim), cukup satu macam dulu, itupun kalau memang ada tanda-tanda infeksi. Lalu ambroksol untuk apa? Vina tidak batuk berdahak, paling cuma dehem-dehem saja. Vina juga tidak pilek, mengapa pula perlu sediaan yang mengandung fenilpropanolamin, suatu dekongestan hidung? Yang lebih lebay lagi… mengapa pula diberi deksametason, suatu anti radang? Menurut aku cukup dengan sirup parasetamol saja… kecuali kalau ada tanda gejalanya makin berat setelah dua-tiga hari. Untungnya papa Vina menuruti saranku. Dia belikan sirup parasetamol. Dan hasilnya……. malamnya Vina sudah baikan, demam turun, dan tak ada keluhan apa-apa lagi, walaupun tidak minum aneka macam obat tadi. Hmm…..

Sekali lagi maap loh, ini dari pendanganku saja. Dan itulah yang kadang memiriskan…. ketidaktahuan masyarakat tentang obat-obat dan kurangnya informasi dari apoteker dapat menyebabkan masyarakat kadang terpaksa mengkonsumsi obat yang tidak benar-benar diperlukannya, dan yang jelas harus membayar mahal untuk sesuatu yang tidak diperlukannnya. Masih mending kalau tidak ada efek sampingnya… coba kalau terjadi efek samping serius… siapa bertanggung-jawab?? Hal ini yang memotivasi aku untuk bisa berbagi walau sebisanya melalui blog ini atau dengan cara lain, misalnya lewat radio,… semoga informasi tentang obat bisa lebih sampai ke masyarakat.

Buku baruku terbit

Rangkaian liburan lebaran harus segera diakhiri, karena tanggal 15 September aku sudah harus aktif lagi di kampus. Kali ini persiapan akreditasi program S2 harus segera dijalani, karena kebetulan aku juga termasuk salah satu pengelola program pasca sarjana di Fakultas. Jadilah sehari sebelumnya kami sekeluarga kembali lagi ke Yogya. Anak-anak memang belum mulai sekolah, tapi mereka masih bisa menjalani sisa liburan di rumah Yogya dengan teman-teman kampung sini. Alhamdulillah, perjalanan lancar-lancar saja.

Satu hal yang menggembirakanku pasca Lebaran ini adalah kabar dari Penerbit Kanisius bahwa buku ke-empat dan ke-limaku sudah siap beredar. Hm.. sebenarnya buku sederhana saja sih, kumpulan tulisan ilmiah populerku tentang obat dan kesehatan yang terserak di blog ini yang rupanya cukup menarik salah satu penerbit untuk menerbitkannya jadi buku. Asyiknya, sekaligus jadi dua buku, yaitu berjudul” Cerdas Mengenali Obat” dan “Resep Hidup Sehat”. Doakan saja ya, kawan, semoga buku ini bisa diterima masyarakat dan bermanfaat. Pada beli yaaa…..

Demikianlah kawan, sekedar catatan lebaranku tahun ini. Mungkin tidak banyak manfaatnya, tapi paling tidak untuk dokumentasi pribadiku saja.


Aksi

Information

4 responses

16 06 2015
Kesuma Waty

sy pun sbg pelaksana medis kadang geleng kepala ..krn terkadang pinterla pasien nyebutin merk obat…miris banget …minta obat yg biasa dya konsumsi dan cocok ktanya .padahal keluhan sakit cuma 1 atau 2 ..eh minta obat yg 3 in 1.terus maksa minta antibiotik…padahal cuma flu atau bersin2…

8 02 2012
avriliana

Maaf bu,sya mau nanya anak saya bab nya terkadang lebih dari 2 hari.anak sy umur 1 th.obatnya apa ya?waktu itu ke dokter diberi sirup yang mengandung laktulose…ada efek sampingnya gak bu?

jawab:
Insya Allah aman saja kok, lagipula makenya kan tidak terlalu lama..

16 09 2010
Lutfi Chabib

masih di bulan Syawal…
Mohon Maaf Lahir Batin, Selamat Hari Raya Idul Fitri …
*masih ingat akan cerita dek dhika yang hilang tahun lalu nd sekarang : saya yakin dek dhika akan baik2 saja hingga dewasa kelak… karena ibunya banyak memberikan ilmu kepada murid2nya (mahasiswa) dan kebaikannya dalam berbagi dg sesama Insyalloh putera-puterinya akan dijaga Malaikat Alloh…
*untuk bukunya segera ditunggu di toko buku ya Prof…
Semoga bisa bertemu Ramadan di tahun2 yang akan datang serta sukses selalu…

Jawab:
Terimakasih, mas Lutfi…. mohon maaf lahir batin juga ya.
terimakasih juga doanya. Amien

16 09 2010
isdiyanto

selamat hari raya idul fitri,
mohon maaf lahir dan bathin,
kini saatnya kembali bekerja seperti sediakala,
semoga segala ibadah selama bulan Ramadhan
bisa menjadi bekal untuk lebih semangat,
bekerja kembali dengan hati yang baru,
dengan perilaku yang baru yang lebih baik,
A M I E N . . . . .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: