Bagaimana sih vaksin dibuat, kok ada yang dinyatakan haram?

7 08 2010

Dear kawan,

Tulisanku yang lalu tentang seluk beluk vaksin cukup banyak mengundang komentar dan pertanyaan. Salah satunya yang menarik adalah mengenai pembuatan vaksin. Sebenernya bagaimana sih? Kok sampai-sampai beberapa waktu yang lalu MUI memfatwakan haram pada sebuah merk vaksin meningitis yang diperlukan untuk jamaah haji (untungnya kemudian ada dua merk vaksin meningitis yang dinyatakan halal bagi umat Islam). Unsur babinya masuk pada tahap mana? Tulisan ini mencoba mengupas sedikit tentang pembuatan vaksin, khususnya vaksin terhadap virus. Aku bukan ahli tentang vaksin, hanya mengumpulkan informasi dari beberapa sumber dan mencoba menyajikannya lagi dalam bahasa sederhana. Silakan jika ada yang akan memberi masukan.

Bagaimana sih riwayat adanya vaksin?

Vaksin pertama diproduksi oleh Edward Jenner pada tahun 1796 dalam upaya untuk memberikan perlindungan terhadap cacar. Pada saat itu Jenner mengamati bahwa tukang pemerah susu yang pernah tertular cacar sapi, infeksi yang relatif tidak berbahaya, tampaknya menjadi tahan terhadap penyakit cacar manusia, penyakit pada manusia yang secara rutin mencapai tingkat epidemi dengan tingkat kematian sangat tinggi pada saat itu. Jenner berteori (yang ternyata benar) bahwa cacar sapi, suatu penyakit hewan, sama dengan cacar pada manusia. Dia menyimpulkan bahwa reaksi manusia untuk suntikan virus cacar sapi akan mengajarkan tubuh manusia untuk menanggapi kedua virus ini, tanpa menyebabkan penyakit berat atau kematian.

Vaksin banyak dibuat terhadap virus

Vaksin memang lebih banyak ditujukan untuk menangkal virus, bukan bakteri, karena virus lebih sulit dibasmi ketimbang bakteri yang bisa dibunuh dengan antibiotika. Antivirus jenisnya terbatas dan harganya mahal. Virus adalah jasad renik berukuran mikroskopik yang menginfeksi organisme biologis. Virus hanya dapat bereproduksi di dalam material hidup dengan menginvasi dan memanfaatkan sel makhluk hidup karena virus tidak memiliki perlengkapan selular untuk bereproduksi sendiri. Dalam sel inang, virus merupakan parasit obligat dan di luar inangnya menjadi tak berdaya. Biasanya virus mengandung sejumlah kecil asam nukleat (DNA atau RNA, tetapi tidak kombinasi keduanya) yang diselubungi semacam bahan pelindung yang terdiri atas protein, lipid, glikoprotein, atau kombinasi ketiganya. Genom virus menyandi baik protein yang digunakan untuk memuat bahan genetik maupun protein yang dibutuhkan dalam daur hidupnya.

Biasanya ada beberapa variasi atau strain virus tertentu. Tergantung pada jumlah varietasnya, para ahli biologi mengelompokkan virus berdasarkan  jenis atau strain. Vaksin sering dibuat terhadap satu grup virus yang masih satu golongan; reaksi preventif untuk vaksinasi multivalent mungkin akan menyebabkan kekebalan terhadap hampir semua varian kelompok, atau setidaknya terhadap varian mungkin akan menginfeksi seseorang. Pemilihan golongan virus tertentu untuk digunakan dalam vaksin diputuskan dengan pertimbangan yang hati-hati. Yang sulit adalah jika strain virus gampang berubah, seperti yang terjadi pada virus influenza. Produsen vaksin harus mengakomodasi dan siap membuat vaksin-vaksin baru jika dijumpai adanya strain-strain virus baru.

Bagaimana vaksin anti virus dibuat?

Pembuatan vaksin anti-virus saat ini merupakan proses rumit, apalagi pada saat mengkonversi dari skala lab menjadi skala produksi.  Adapun tahapannya adalah sebagai berikut:

Menyiapkan “benih” virus

Pembuatan vaksin dimulai dengan memilih benih virus yang akan dijadikan vaksin pada sebuah medium. Virus harus bebas dari kotoran, termasuk virus lain yang sejenis dan bahkan variasi jenis virus yang sama. Selain itu, benih itu harus disimpan di bawah kondisi”ideal”, biasanya pada kondisi beku, yang mencegah virus menjadi lebih kuat atau lebih lemah dari yang diinginkan. Benih yang disimpan dalam gelas kecil atau kontainer plastik, dengan volume sebesar 5 atau 10 ml tetapi mengandung ribuan-jutaan virus, akan menghasilkan beberapa ratus liter vaksin. Freezer dijaga pada suhu tertentu yang dikontrol secara otomatis.

Penumbuhan virus

Setelah diambil dari tempat penyimpanannya, bibit virus dicairkan dan dihangatkan secara hati-hati pada keadaan tertentu. Sejumlah kecil sel virus ditempatkan dalam sebuah “pabrik sel”, yaitu sebuah mesin kecil yang, dengan penambahan media yang sesuai, memungkinkan sel virus untuk berkembang biak. Setiap jenis virus tumbuh baik dalam media khusus untuk itu, yang mengandung protein dari mamalia, misalnya  protein murni dari darah sapi. Media juga mengandung protein lainnya dan senyawa organik yang mendorong reproduksi sel virus. (Nampaknya proses  ini  memungkinkan unsur babi masuk dalam tahap pembuatan vaksin, jika protein yang dipakai berasal dari babi).

Selain suhu, faktor-faktor lain harus dipantau, termasuk pH campuran. pH adalah ukuran keasaman atau kebasaan, diukur pada skala dari 0 hingga 14, dan virus harus disimpan pada pH yang ditentukan dalam pabrik sel. Virus dari pabrik sel ini kemudian dipisahkan dari medium, dan ditempatkan dalam medium kedua untuk pertumbuhan tambahan. Pertumbuhan sel virus sangat dirangsang dengan penambahan enzim ke medium, di mana yang paling umum digunakan adalah tripsin. Enzim adalah protein yang juga berfungsi sebagai katalis dalam metabolisme dan pertumbuhan sel. Tripsin dapat diperoleh dari pankreas sapi atau babi, sehingga unsur babi juga bisa masuk pada proses ini jika dipakai tripsin yang berasal dari babi. Virus yang sedang tumbuh disimpan dalam wadah yang lebih besar tapi mirip dengan pabrik sel untuk mengoptimalkan pertumbuhannya.

Pemisahan dan pemilihan strain virus
Bila sudah cukup banyak virus yang ditumbuhkan, mereka kemudian dipisahkan dari mediumnya, misalnya dengan filtrasi dan kemudian sentrifugasi, atau dengan teknik lain.  Vaksin akan dibuat dari virus yang dilemahkan atau dibunuh. Apakah hanya akan dilemahkan atau dibunuh antara lain tergantung dari sifat kekuatan virus atau virulensinya. Vaksin rabies, misalnya, karena cukup virulen, maka merupakan virus yang dibunuh.
Untuk vaksin yang berasal dari virus yang dilemahkan, virus biasanya dilemahkan sebelum menjalani proses produksi. Strain virus yang dipilih secara hati-hati lalu ditumbuhkan berulang kali di berbagai media. Ada jenis virus yang benar-benar menjadi kuat saat mereka tumbuh. Strain ini jelas tidak dapat digunakan untuk pembuatan vaksin. Strain lainnya yang menjadi terlalu lemah karena mereka dibudidayakan berulang-ulang juga tidak bisa diterima untuk penggunaan vaksin. Perlu dipilih strain virus yang tumbuh dengan kekuatan yang “tepat” seperti yang diinginkan untuk dijadikan vaksin.Virus ini kemudian dipisahkan dari medium tempat mereka ditanam, lalu dibuat menjadi sediaan vaksin. Vaksin dapat terdiri dari kombinasi beberapa jenis virus yang dipilih sebelum kemudian dikemas, dengan menggunakan media pembawa yang sesuai dengan kadar yang sudah ditentukan.

Nah, dari prosedur umum di atas, kita bisa mengetahui kira-kira pada tahap mana ada kemungkinan unsur babi bisa masuk? Yakni mungkin pada enzym tripsin  dan/atau protein yang digunakan pada media untuk membantu pertumbuhan virus. Vaksinnya sendiri mestinya sudah tidak lagi mengandung unsur babi. Apakah vaksinnya menjadi haram? Aku tidak dalam kapasitas untuk menjawabnya, dan sudah ada yang berwenang merumuskannya.

Namun untuk unsur kehati-hatian terhadap masalah halal dan haramnya, memang ada baiknya  untuk menghindarkan penggunaan unsur babi sejak awal pembuatannya. Dan teman-teman muslim tidak perlu kuatir, untuk vaksin meningitis yang sempat diramaikan haram, itu hanya vaksin yang berasal dari GlaxoSmithKline. Masih tersedia dua merk vaksin yang dinyatakan halal, yaitu dari Novartis dan Tian Yuan (dari China).

Demikian sekedar info lanjutan mengenai proses pembuatan vaksin, semoga bermanfaat.

Sumber bacaan dari : http://www.madehow.com/Volume-2/Vaccine.html

About these ads

Aksi

Information

12 tanggapan

22 09 2012
maroh

Saya pernah mendengar kalau sesuatu itu dibuat dari barang haram maka meskipun itu bisa menyembuhkan tetap saja haram, meskipun babi yang digunakan hanya sebagai inangnya tetap saja itu dari babi, meskipun sudah disterilkan atau dibersihkan, kenapa harus pakai babi apakah sapi tidak bisa? berarti mungkin virus itu memang berasal dari babi, maka benar ayat Allah yang melarang memakan babi, banyak penyakitnya kok di makan,… sehingga tertular penyakit terus menularkan ke manusia yang lain….
maaf kalu mungkin menyinggung sesuatu…

16 06 2012
fitr

saya mau bertanya………………. apakah benar jenis vaksin polio n tetanus itu brasal dari hewan yg di haram khan di dlam agama islam.?

23 08 2010
mutianova

Terima kasih pak Firzan Nainu. Informasinya sangat membantu
Kemarin waktu lairan, trombosit saya drop dan leukosit meningkat. Trus diuji dengan ANSAV ternyata negatif DHF, tapi ketika diambil IgG dan IgM ternyata masing2 +. Selain itu ada bronkopneumoni ringan. Tapi langsung dikasih kombinasi meropenem-avelox intravena. Yah agak ga terima dalam hati^^ soalnya kata temen dokter, trombosit drop setelah operasi itu termasuk kondisi yang wajar asal tetap perbaikan gizi. Makanya penasaran tentang nilai IgG dan IgM. Ternyata lebih akurat dengan CTL juga
Terima kasih sekali atas penjelasannya.

17 08 2010
Firzan Nainu

Assalamu ‘alaikum,

Terima kasih atas infonya prof. Artikel yang cukup berharga untuk dunia pengetahuan, utamanya buat kita2 yang muslim.
Saya punya beberapa “masukan” buat pertanyaan (sdr/sdri?) Mutianova. Mudah-mudahan bisa membantu.
Menanggapi soal respon imun tubuh terhadap infeksi virus, saya rasa penggunaan IgM dan IgG sebagai tolak ukur “ada-tidaknya” infeksi akibat virus belum cukup memadai mengingat produksi IgM dan IgG juga bisa diaktifkan oleh infeksi bakteri. Ini berlaku untuk sebagian virus yang bisa “bersembunyi” dari sistem imunitas tubuh (mis:HIV) dan penghasil “latency” seperti sebagian besar herpesviruses. Sebagai tambahan, virus termasuk parasit intrasel. Walaupun IgM dan IgG dapat memprediksi keberadaan virus namun untuk menentukan tingkat keparahan infeksi diperlukan beberapa marker tertentu, misalnya aktivitas limfosit T sitotoksik dan T helper. Ini berdasarkan atas argumen bahwa pada dasarnya reaksi antigen-antibodi hanya terjadi jika “infectious agent” dikenali oleh APC (Antigen Presenting Cell; mis: makrofag dan dendritic cell) ataupun oleh sel B sendiri sebagai penghasil imunoglobulin. Dan pada umumnya “perkenalan” dengan antigen terjadi di daerah ekstrasel. Nah, biasanya antigen ekstrasel dalam infeksi virus adalah virus2 yang baru akan menginfeksi dan/atau virus2 baru yang “lahir” dari sel-sel tubuh yang telah terinfeksi. Masalahnya adalah, bagaimana dengan keberadaan virus-virus di dalam sel yang sulit terdeteksi oleh APC dan sel-B?
In conclusion, saya rasa untuk kasus infeksi virus pada umumnya penanda terbaik adalah kombinasi deteksi IgM dan/atau IgG beserta aktivitas limfost T sitotoksik (CTL-CD8) dengan alasan CTL diaktifkan oleh MHC kelas I yang bertugas mengenali antigen intrasel seperti misalnya virus dan infeksi bakteri intraseluler (mis: Mycobacterium tuberculosis) sehingga lebih spesifik.
Wallahu a’lam
Mohon maaf jika ada kata2 yang kurang berkenan.
Untuk Prof, selamat menunaikan ibadah puasa. Semoga kualitas dan kuantitas ibadah kita di Ramadhan tahun ini lebih meningkat dibandingkan Ramadhan-Ramadhan sebelumnya.
Wassalam.

Jawab:
terimakasih untuk tambahan pencerahannya, ya. Selamat menunaikan ibadah puasa juga.

14 08 2010
Budi Hartono

terima kasih atas uraiannya tentang vaksin, dan cara pembuatannya.

tanggapan :
seperti kita ketahui bahwa fatwa MUI menyatakan haram untuk merk vaksin meningitis tertentu, yang jadi permasalahan, dua vaksin menigitis yang dinyatakan halal, bagaimana ketersediaanya ternya sampe sekarang belum ada

jawab:
saya kira Pemerintah dalam hal ini Kemenkes perlu ikut mendukung ketersediaannya

12 08 2010
kautsar

makasih infonya.. menarik!

10 08 2010
mutianova

Bu, ada titipan pertanyaan dari teman dokter, apakah vaksin BCG, DPT dan lain-lain juga halal?
Nyambung dari pertanyaan ibu siti marjuni, apakah adanya IgG dan IgM secara kualitatif sudah menunjukkan adanya serangan virus? ataukah harus ada kadar minimal kuantitatifnya?
Terima kasih

Jawab:
Saya tidak tau persis kehalalan vaksin BCG, DPT, dll, karena belum ada informasi apapun dari lembaga berwenang (dalam hal ini MUI). Mestinya jika akan konsisten, perlu dilakukan kajian serupa seperti yang dilakukan thd vaksin meningitis, dan segera mengumumkan hasilnya, mana merk vaksin tertentu yang dinyatakan halal dan haram. Namun utk menetapkan halal dan haramnya pun perlu kajian yang terintegrasi dengan saintis2 muslim yang kompeten di bidangnya sehingga dihasilkan fatwa yang kuat.
Tentang IgG dan IgM, setahu saya tidak dinyatakan secara kuantitatif, tapi lebih semi kuantitatif, misalnya menggunakan +,++,++ . IgG yang tinggi menunjukkan bahwa pernah terjadi serangan virus, walaupun mungkin saat ini sudah tidak ada virusnya lagi, sedangkan IgM yang tinggi menunjukkan bahwa sedang ada serangan virus saat pemeriksaan dilakukan.

9 08 2010
mutianova

Saya baca di kompas, GSK sudah melakukan pemurnian berulang-ulang. Apakah hal tersebut tidak dapat menghilangkan unsur babi-nya ya bu?
Terima kasih bu atas informasinya. Saya berharap ibu2 lain seberuntung saya bisa membaca artikel ini, jadi ga perlu takut lagi kalo mau vaksin bayi-nya…

Jawab:
Nah, itu yang saya tidak punya kapasitas untuk menjawabnya. Menurut saya sih sudah tidak ada lagi unsur babinya.

9 08 2010
tonosaur

harusnya kalo itu menyembuhkan ga diharamkan

7 08 2010
ari syaoran

terima kasih bu atas infonya…^^

7 08 2010
siti marjuni

Oh ya mbak tambahan lagi, ayah saya (alm) meninggal karena hepatitis B, menurut dokter kami sekeluarga harus diimunisasi artinya diberi vaksin anti hepatitis B ya mbak? Tapi ketika sy dicek darah katanya darah sy sudah mengandung anti hepatitis B yg sangat tinggi (padahal sy belum pernah divaksin/imunisasi hepatitis b) jadi kata dr sy tdk perlu diimunisasi….kok bisa begitu ya mbak?

jawab:
Ada kemungkinan Mbak sudah “tertular” virus Hepatitis B dari ayah (entah dengan cara apa, karena memang cukup mudah menular), namun virus itu termasuk yang lemah, sehingga tidak menyebabkan infeksi, malah menginduksi kekebalan alami pada tubuh Mbak terhadap virus tersebut. jadi, walaupun belum diimunisasi, Anda sudah punya imunitas thd virus Hepatitis B.

7 08 2010
siti marjuni

Terimakasih mbak penjelasannya tentang pembuatan vaksin, jadi sedikit lebih jelas. Pertanyaan saya benarkah ada yg diberi vaksin malah jadi sakit seperti kasus vaksinasi polio beberapa waktu lalu yg cukup menghebohkan dimana balita /bayi yg menurut ortunya tadinya sehat setelah divaksin malah jadi lumpuh kena polio, apakah ini terjadi pada proses seleksi virus yang mau dijadikan vaksin yang kurang cermat/ceroboh? Ini cukup menarik bagi sy, karena ada sy temui juga teman yg dia termasuk berpendidikan tinggi tetapi dengan sangat berani anakkeduanya dan seterusnya (anaknya berapa sy lupa) tidak diberi vaksin apapun dan menurut dia justru anak2nya yg tidak divaksinasi mempunyai performa kesehatan yg lebih bagus daripd anaknya yg pertama, Ini gimana mbak mernurut pandangan mbak Zulies. Terimakasih atas tanggapannya.

jawab:
saya kira ada dua kemungkinan, yaitu berasal dari vaksinnya atau host yang menerima vaksin. Bisa dikaji, apakah penggunan vaksin dari sumber dan batch yg sama juga menghasilkan efek demikian pada orang lain. Jika tidak, mestinya bukan dari vaksinnya, karena vaksin dibuat secara massal, sehingga jika kebetulan diambil dari strain yang agak virulen, mestinya produk dalam satu batch akan menyebabkan hal yang sama. kemungkinan kedua disebabkan dari pihak hostnya yaitu anak yg menerima vaksin. Walaupun sehat (keliatannya), mungkin ada hipersensitivitas atau reaksi imun yang kurang tepat, sehingga virus tadi bisa sampai menyebabkan penyakit.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 373 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: