Hysteria: pemacu adrenaline rush

6 06 2010

Dear kawan,

kegiatan pemicu adrenalin

Sebentar lagi anak-anak sekolah akan libur panjang kenaikan kelas setelah harus berjuang keras dahulu untuk menjalani ujian kenaikan kelas. Akupun mulai sibuk mengatur jadwal belajar dan menemani anak-anakku belajar. Maklum deh….. anak-anakku belum bisa disiplin mengatur sendiri waktu belajar mereka. Di sela-sela itu, kami sudah pula membicarakan acara pengisi liburan… hm..mau kemana ya? Ada beberapa opsi: menikmati pantai Senggigi di Lombok (kebetulan aku diundang mengisi seminar di Mataram), atau mencoba menjelajahi Trans Studio di Makassar (kebetulan ada pelaksanaan penelitian di sana), atau sekalian ke luar negeri (ciee… kalo ini sih permintaan anak-anak, katanya bapak ibu sudah sering ke luar negeri, masa anak2 belum pernah). Hm… kalo ini mah harus mikir jauh hari untuk persiapannya (baca: duitnya). Kalaupun mau ke luar negeri pasti yang dekat-dekat dulu aja, ah…. dan murah. Ke Genting Highland di Malaysia kali, ya…. banyak teman dan mantan students di sana, bisa dicarikan akomodasi yang “cost-effective” hehe…. Hm, tapi ada satu lagi opsi yang menarik dan relatif murah,…. ke Jakarta aja deh.. menikmati aneka wahana di Dufan Ancol, katanya ada yang baru loh….. namanya Hysteria (informasinya bisa diklik di sini).

Hysteria dan adrenaline rush

Namanya agak unik ya, mengingatkan kita pada teriakan histeris. Ya, pasti deh… kalau lihat iklannya, kayaknya memang yang naik Hysteria umumnya pada berteriak-teriak histeris karena ngeri atau takut. Permainan semacam ini disebut-sebut sebagai permainan yang memacu adrenalin atau disebut juga “adrenaline rush”. Apa sih adrenalin itu? Apa efek-efeknya? Tulisan kali ini mencoba mengupas “adrenaline rush”. Kalau tentang Hysteria-nya sih entar dicoba sendiri deh, … dan dibuktikan apa tulisan ini sesuai tidak dengan yang dirasakan. (Kayaknya Dunia Fantasi Ancol harus kasih upeti nih, aku sudah turut mempromosikan Hysteria hehe…..).

Apa itu Adrenalin?

Adrenalin adalah suatu hormon atau neurotransmiter yang diproduksi oleh tubuh kita dari sebuah kelenjar di ginjal, yaitu kelenjar adrenal atau dari saraf adrenergik. Nama lain adrenalin adalah epinefrin. Adrenalin terbentuk dari asam amino tirosin. Adrenalin bekerja pada reseptor adrenergik yang tersebar luas pada berbagai organ dalam tubuh, mulai dari pembuluh darah, jantung, paru-paru, hati, otot-otot, pankreas, dll. Adrenalin dilepaskan jika ada stimulasi terhadap sistem saraf simpatik yang merupakan bagian dari sistem saraf otonom. Sistem saraf otonom adalah sistem saraf yang memperantarai aksi-aksi dalam tubuh yang tidak disadari, seperti respon pernafasan, denyut jantung, pencernaan, berkemih, dll. Adrenalin terutama terlibat dalam reaksi “flight or fight”, yaitu situasi ketika seseorang merasa berada dalam bahaya yang membutuhkan kewaspadaan, atau akan lari dari situasi yang mengancam. Permainan-permainan yang memerlukan kewaspadaan tinggi dan situasi yang mengancam seperti Hysteria atau permainan sejenis lainnya dapat memicu pelepasan adrenalin. Pelepasan adrenalin ini akan memicu berbagai respon tubuh yang diperlukan untuk mengatasi situasi mengancam tersebut. Efek-efek apa saja yang terjadi?

Meningkatkat energi

Efek yang paling utama dari adrenaline rush ini adalah peningkatan kekuatan dan energi. Hal ini karena adrenalin (beserta kortikosteroid yang juga dilepaskan) akan meningkatkan kecepatan denyut jantung sehingga akan meningkatkan jumlah darah yang akan dipompa oleh jantung menuju seluruh tubuh (cardiac output), sehingga akan menghasilkan energi yang lebih banyak.

Pelepasan endorfin (analgesik alami)

Adrenalin juga akan memicu pelepasan endorfin, suatu senyawa morfin alami dari kelenjar pituitary dan hipotalamus di otak. Endorfin berefek menghilangkan rasa sakit, yang menyebabkan seseorang bisa melawan atau bahkan melarikan diri dalam keadaan terluka. Endorfin juga merupakan hormon yang memicu rasa senang (euforia), mirip seperti orang yang memakai morfin.

Menambah energi dengan peruraian glukosa

Adrenalin akan bekerja juga pada hati/liver untuk membongkar simpanan glikogen (gula otot) menjadi glukosa yang dibutuhkan untuk tenaga/energi dalam respon “flight or fight”. Selain itu, jika simpanan gula habis, simpanan lemak juga akan dibongkar untuk menambah energi.

Tekanan darah, pernafasan, dan keringat

Adrenalin juga akan meningkatkan tekanan darah dan kecepatan pernafasan, sehingga akan memperbanyak saturasi oksigen ke dalam otot. Jika otot mendapatkan lebih banyak oksigen, maka otot akan lebih kuat untuk bergerak atau melawan. Selain itu, adrenalin akan memicu pengeluaran keringat sehingga membantu mendinginkan otot yang “kepanasan” karena bekerja keras. 

Panca indra/sense

Adrenalin akan berefek pada mata menyebabkan dilatasi pupil mata, sehingga memberikan penglihatan yang lebih baik untuk melarikan diri atau menghindari bahaya. Indra yang lain seperti pendengaran juga akan meningkat, sebaliknya indra perabaan/sentuhan akan menjadi kebal/mati rasa. Hal ini akan membantu seseorang bertahan ketika terjadi bahaya seperti tergores, terbakar, atau terluka selama peristiwa yang mengancam.

Sistem pencernaan dan uriner

Aliran darah menuju sistem pencernaan akan berkurang selama pelepasan adrenalin, sehingga mengurangi kegiatan pencernaan, dan darah lebih banyak dialirkan ke otot dan otak. Aliran darah ke otak dan otot akan meningkatkan kekuatan fisik dan waktu bereaksi dalam menghadapi bahaya. Adrenalin juga memicu urinasi dan defekasi, dengan tujuan untuk mengurangi kemungkinan infeksi jika ada luka di dalam daerah perut. (ini juga yang menyebabkan mengapa orang yang dalam keadaan ketakutan hebat bisa terkencing-kencing hehe….. jadi hati-hati nanti kalau naik Hysteria, mungkin ada yang terpipis-pipis…).

Adrenaline junkie..

Itulah tadi fungsi-fungsi adrenalin dalam tubuh. Nah… jadi sebenarnya adrenalin merupakan hormon untuk menyiapkan “flight or fight” response, suatu keadaan yang membutuhkan kewaspadaan. Lucunya, banyak orang yang ketagihan “adrenaline rush”, sehingga mereka suka mencoba permainan-permainan atau kegiatan-kegiatan yang berbahaya seperti sky diving/terbang layang, ski dari puncak gunung salju, banjo jumping, dll. Mereka adalah “adrenaline junkie”…. orang-orang yang ketagihan “adrenaline rush”. Kayaknya mereka memang tergolong orang yang suka mengambil risiko. Bisa jadi itu karena pelepasan endorfin yang menyebabkan rasa senang/euforia, sehingga walaupun deg-degan, terasa seram, tapi menyenangkan dan bikin ketagihan.

Tapi hati-hati loh…..buat mereka yang sudah punya riwayat tekanan darah tinggi atau sakit jantung, kegiatan yang memicu adrenalin bisa berakibat fatal karena akan terjadi aksi berlebihan terhadap pembuluh darah dan jantung. Seperti disebut di atas, adrenalin akan meningkatkan tekanan darah dan memicu denyut jantung. Peningkatan tekanan darah secara mendadak dapat menyebabkan pembuluh darah pecah jika tekanan darah terlalu tinggi, apalagi jika sudah ada kerapuhan pembuluh darah sebelumnya.

Hmm… tapi ada juga loh, peristiwa-peristiwa yang keliatannya bukan peristiwa seram tetapi juga memacu “adrenaline rush”… antara lain ketika seseorang mau menyatakan cinta dan harap-harap cemas diterima atau tidak, hehe…… atau kita mau bertemu dengan seorang yang kita rindukan sekian lama…..,…. deg-degan, senang… Iya kan?

Well, buat yang kepengin mencoba rasanya “adrenaline rush”, boleh juga tuh mencoba wahana Hysteria di Ancol…. jangan lupa ajak-ajak aku yaa…

(tulisan ini pesan sponsor dari adikku)

Iklan

Aksi

Information

4 responses

22 06 2010
djiesaka

phobia ketinggian… takut ah 🙂

http://djiesaka.wordpress.com/liburan-di-grand-canyon/

9 06 2010
Nasrocha

Kegiatan yang memacu adrenalin itu menyegarkan…. orang yang lagi stress dan manyun pun bisa ketawa. Apalagi kalo habis itu lantas minum jus buah yang sarat antioksidan. Tambah segerrr….!!

Yuk, minum jus vemma. Klik di “SHOP NOW” dari link berikut:
nasrocha22.vemma.com

8 06 2010
fithry

salam prof…

so excited artikelnya prof…
nambah wawasan lagi dan lagi…selalu kalo’ baca tulisan2 prof. zullies..=)
ada sedikit yang membingungkan saya ni, prof. berhubungan dengan pelepasan adrenalin akan memicu urinasi, nah… dulu pas kuliah pernah belajar saraf otonom, ketika stimulasi saraf parasimpatis distimulus meningkatkan urinasi.. kan berbeda ni saraf yang terstimulus.
hubungan keduanya gimana ya, prof???

jawab:
Khusus untuk saraf adrenergik, ada reseptor adrenergik alfa-1 yang ada di bladder (kandung kemih) yang jika distimulasi oleh agonis (adrenalin) akan menyebabkan kontraksi bladder sehingga menyebabkan mikturisi (urinasi). Sehingga jika stimulasinya cukup besar, bisa menyebabkan mikturisi.

6 06 2010
Internet Unlimited

artikelnya bermanfaat nih,..jadi tambah pengetahuan. salam kenal bro,…

Promo !! Promo !! Internet Unlimited Bayar Sekali pakai sepuassnyaaa Klik disini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: