Tentang Diabetes (lagi) dari Klaten

18 04 2010

Dear kawan,

nepotisme pada Seminar Ilmiah IAI Klaten.... teman satu angkatan (Farmasi UGM 87) dan sesama etnis "ngapak"

Hari Sabtu kemarin aku diundang teman sejawat IAI (Ikatan Apoteker Indonesia) Cabang Klaten untuk menjadi salah satu pembicara pada Seminar Ilmiah IAI. Topiknya tentang Pelayanan Kefarmasian pada penyakit Diabetes melitus, aku sendiri kebagian topik tentang obat-obat Diabetes melitus. Seminarnya agak berbau nepotisme nih…hehe.. karena Ketua IAI Cabang Klaten yang mengundang adalah teman seangkatanku di Fak Farmasi UGM, yaitu mas Yuli Santoso (Makasih, Yul, udah diundang…).

Tulisan kali ini tidak akan membahas lagi tentang penyakit DM, karena aku sudah pernah menuliskannya di sini, tapi lebih pada cerita seputar seminar itu dan kesan-kesanku, dan cerita lain yang mungkin ngga nyambung hehe…..  Yang agak bikin surprise tuh adalah bahwa ternyata beberapa sejawat di sana mengaku sebagai pembaca setia blog ala kadarnya ini… Waduh, aku jadi merasa tersanjung (terimakasih, teman-teman). Malah ada yang menanyakan puisi cintaku yang berbau sains yang pernah kutulis duluu…. apa masih hafal atau tidak. Bagaimanapun, senang bisa ketemu dengan teman-teman sejawat di Klaten yang aktif dan heroik-heroik….

Aku kebagian menjadi pembicara pertama dan memaparkan mengenai DM dan obat-obatnya. Pembicara kedua adalah dokter Akrom yang bicara tentang Konseling pada pasien. Saat paling sulit adalah saat menjawab pertanyaan. Aduh, langsung syok hipoglikemik deh diserbu pertanyaan yang sulit-sulit…..hehe…

Salah satu pertanyaan yang aku belum bisa menjawab dengan memuaskan adalah apakah memang benar terdapat semacam “adaptasi” seseorang terhadap kadar gula darah yang tinggi, sehingga malah merasa lebih sehat dengan kadar gula sekitar 300 mg/dl, yang jelas-jelas di atas rentang normal. Apakah ada kaitannya dengan faktor genetik? Aku rasa itu memang suatu kasus spesial,  bahwa seseorang memiliki unsur-unsur yang cukup kompak (termasuk genetik) dalam tubuhnya sehingga secara bersama-sama berespon normal terhadap kadar gula darah yang tinggi, yang pada orang lain akan memberikan dampak merugikan. Aku belum yakin dan belum menemukan penjelasan yang pas untuk kasus ini. Tapi menurut dokter Akrom, bagaimanapun tetap harus diupayakan untuk mencapai target kadar gula darah ideal, yaitu kadar gula darah puasa antara 70-125 mg/dL atau gula darah sewaktu < 200 mg/dL, karena risiko tingginya kadar gula darah lebih besar, yaitu kemungkinan terjadinya komplikasi makro dan mikrovaskuler.

Karena aku juga menyinggung sedikit tentang faktor farmakogenetik yang berkontribusi terhadap respon seseorang terhadap obat, ada pula yang bertanya bagaimana memastikan apakah seseorang mengalami polimorfisme pada gen tertentu, dan juga ada yang bertanya bagaimana menyampaikan kepada pasien bahwa mereka mengalami polimorfisme genetik. Aku sampaikan bahwa adanya polimorfisme gen tidak bisa dilihat secara visual begitu saja, walaupun mungkin dapat diduga dari adanya respon yang berbeda dibandingkan dengan kondisi normal. Bisa kurang berespon terhadap suatu terapi, atau sebaliknya, terlalu responsif sampai muncul gejala toksik pada pemakaian suatu obat. Cara paling akurat tentunya adalah dengan tes genetik, yang mungkin belum banyak tersedia di Indonesia. Tetapi paling tidak, jika ada respon terapi yang menyimpang sementara semua aturan pengobatan telah dipenuhi (kepatuhan, ketepatan dosis, ketepatan pemilihan obat, dll), maka faktor genetik mungkin bisa dimunculkan sebagai dugaan penyebabnya.  Dan jika terjadi demikian, sebaiknya pasien disarankan melaporkan ke dokter untuk mendapat penyesuaian dalam pengobatannya.

Penggunaan insulin yang berganti-ganti merek juga sempat menjadi pertanyaan, apakah ada pengaruhnya. Ya, secara teoritik, jika suatu obat dengan merk A sudah teruji bioekivalensinya dengan merk B, misalnya, maka mestinya efeknya akan sama. Namun kadang masih ada faktor sugesti pasien dan faktor bahan-bahan pembawa lain yang mungkin akan mempengaruhi respon seseorang terhadap obat. Untuk itu, aku menyarankan untuk tidak mengganti-ganti merk obat, jika penggunaannya dalam waktu lama, atau malah seumur hidup seperti pada penyakit Diabetes ini, untuk menghindari pengaruh perbedaan merk obat. Dan ini juga berlaku untuk pengobatan penyakit kronis lainnya.

Pembicara kedua cukup menarik pula memaparkan bagaimana mestinya komunikasi antara apoteker dengan pasien maupun dokter penulis resep. Terasa bahwa ilmu komunikasi menjadi ilmu penting buat apoteker, dan itu perlu mendapat pertimbangan tersendiri. Tapi menurutku yang lebih penting lagi adalah “learning by doing”. Kita bisa punya banyak teori komunikasi, tetapi  jika tidak pernah mempraktekannya, hanya akan jadi omong kosong belaka. Dosen juga perlu memfasilitasi lebih banyak kepada mahasiswa untuk mendorong kemampuan berkomunikasi dan menyampaikan pendapat dengan cara yang baik. Hal yang sama, jika disampaikan dengan cara berbeda, ternyata bisa membuahkan hasil yang berbeda.

Demikian kisah kecilku di Klaten kemarin. Sebenernya sejawat dari Purwokerto juga sempat mengontakku untuk berbicara juga di acara IAI cabang Banyumas (nepotisme lagi deh…. hehe) pada hari Minggunya g 18 ini, tapi mohon maaf, aku belum bisa menyanggupi karena kesulitan teknis. Mungkin lain kali deh, kalau waktunya pas.

Akhir minggu ini aku tutup dengan penampilanku ala kadarnya di Majalah Gatra edisi khusus hari hari Kartini. Just for your info about the story behind the picture,… wah…itu motretnya puluhan kali deh, dan dilakukan dua hari dalam berbagai pose dan tempat, sampe kemringet. Kebayang deh jadinya kerja seorang foto model…. pasti gitu juga untuk mendapatkan potret terbaik yang mau ditampilkan. Yah, lumayan sih…. kerja kerasnya cukup terbayar. The picture is not too bad.. hehe.

Sekian dulu tulisan kali ini. Sampai ketemu di next posting.

Iklan

Aksi

Information

2 responses

3 06 2010
rasyidkam88

HY Assalamu alaikum salam kenal yah

jawab:
salam kenal kembali

29 04 2010
Daril

Ibu apa kbr?slamat ya bu,skaligus trimaksh dg dmuatny ibu di gatra,brti apoteker jg terangkat bu.amin. Ibu,skdar berkomen ttg “adaptasi” hiperglikemia,kbtln dl sy pnh ikt seminar bu Koda-Kimble di sby,bliau mjelaskn bhw adanya kcndrungan toleransi serta adaptasi tubuh thdp gula drh,kmdn bliau mjlskn salahsatu penybb adl kgagalan terapinya,trutma gol s.urea&dervtny. Sy Jd makin jelas mgkaitkn pnjlsn ibu dg bu Koda tsb. Wallahualam,apkh qt tnga kshatn sma ini brbcra dg “bahasa” yg sm ya bu ttg ini?

Jawab:
Mungkin begitu, mas Daril. tetapi saya juga belum tau pastinya, dan masih harus belajar banyak lagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: