Farmakogenomik dari Makassar…

30 03 2010

Dear kawan,

seusai presentasi

Dua minggu sudah blog ala kadarnya ini kosong tanpa tulisan baru. Maap deh….. banyak yang harus dikerjakan dalam dua minggu belakangan. Yaa…. dalam dua minggu ke belakang aku sedang jadi “wanita panggilan” nie……. dipanggil (diundang) untuk mengisi seminar dan pelatihan.  Untuk itu mesti menyiapkan dua materi yang jauh berbeda, yaitu materi Pelatihan untuk SDM Rumah Sakit Akademik UGM dan materi untuk seminar di Makassar, di samping tugas rutin lainnya.

Yah, …… begitulah, … ceritanya untuk yang kedua kalinya aku mendapat kehormatan untuk mengisi sebuah seminar di Makassar. Terimakasih, teman-teman Makasar !!  Jadi agak ge-er deh….karena katanya banyak fans di sana hehehe… (bercanda)! Tulisan kali ini sekedar catatan perjalanan ke Makassar… dan beberapa hal lain yang melintas di kepala.

Makassar, I’m coming again!

Kali ini Merpati tak ingkar janji.. Pukul 06.00 WIB pesawat Merpati yang membawa kami (aku dan suami) lepas landas menuju Makassar nun jauh di sana. Cuaca cerah. Perjalanan lancar tak kurang suatu apa. Setelah terbang selama 1 jam 50 menit, pesawatpun mendarat mulus di Makassar. Singkat cerita, setelah check in di hotel yang berlokasi di tepi pantai Losari, kami dibawa ke Unhas untuk makan siang bersama tamu-tamu lainnya yang kebetulan menghadiri Pengukuhan Guru Besar beberapa dosen Fakultas Farmasi Unhas.  Siangnya aku dijadwalkan memberikan kuliah umum tentang Farmasi Klinik di hadapan mahasiswa tingkat apoteker Fak Farmasi Universitas Hasanuddin.

Tidak terasa, dua jam aku memberi kuliah tentang pelayanan Farmasi Klinik di hadapan para mahasiswa. Suasana sedikit panas tak terasa karena banyak respon dan pertanyaan yang muncul sehingga diskusi berjalan menarik. Ada yang berkomentar bahwa Farmasi Klinik baru bisa berjalan jika pihak Manajemen RS memberi  kesempatan.  Ya, memang betul…… Tapi menurut aku pendekatannya harus dua arah….. “top down” dan “bottom up”. Artinya pihak farmasis harus bergerak, dan manajemen akan memberikan kesempatan. Memang untuk mencapai kondisi ideal yang diharapkan memerlukan effort yang luar biasa. Apoteker atau farmasis sebagai tenaga kesehatan yang “baru” akan berkiprah pada pelayanan berorientasi pasien perlu menunjukkan dulu performanya agar pimpinan RS bisa melihat signifikansi dari kontribusinya terhadap pelayanan kesehatan. Jika kita berharap-harap mendapat posisi (apalagi imbalan jasa pelayanan), sementara kita belum memberikan makna apa-apa buat kepentingan pasien,….. non sense saja untuk berharap mendapatkan penghargaan yang sepadan. Meminjam kata-kata pada sebuah iklan, “ Kesan pertama begitu menggoda….. selanjutnya terserah Anda”…… Maka apoteker atau farmasis harus bisa memberikan kesan yang menggoda para pimpinan RS atau phak-pihak berwenang bahwa mereka layak mendapat kesempatan untuk berperan lebih banyak dalam pelayanan kesehatan, utamanya dalam penatalaksanaan terapi pasien.

Trans Studio dan baronang

Selepas memberi kuliah umum, sejawat dari Makassar yang alumnus Magister Farmasi Klinik, Bu Tati, menjamu kami berjalan-jalan ke Trans Studio. Katanya kalau ke Makassar belum mengunjungi tempat ini belum lengkap! Trans Studio adalah semacam tempat hiburan, utamanya untuk anak-anak, dalam sebuah bangunan namun dibuat seolah-olah ada di alam bebas. Wah, sayangnya tidak bersama anak-anak…. jadi rasanya kurang seru saja. Tapi paling tidak kami sudah pernah cuci mata kesana, mudah-mudahan lain kali ada kesempatan bersama keluarga berkunjung lagi.

Malamnya kami dijamu dengan aneka makanan khas Makassar yang berupa aneka ikan, termasuk ikan baronang yang besaaar. Hmm…nyam-nyam deh. Diawali dengan otak-otak sebagai makanan pembuka, muncul aneka sea food, termasuk udang dan cumi. Ada pula sup Tom Yam segar. Malamnya kami tidur pulas kekenyangan…

Pendekatan genomik untuk diagnosis dan terapi

Sampailah ke hari H seminar, di mana aku diminta menjadi salah satu pembicara. Tema besarnya kali ini adalah “Pendekatan genomik dalam diagnosis dan terapi klinik”. Kurasa temanya cukup visioner, karena  memang itulah yang bakal dihadapi di masa depan di dunia kesehatan. Walaupun kelihatannya masih jauh dari aplikasi, tetapi wawasan dan pengetahuan menuju era individualisasi terapi harus disiapkan. Ada 4 pembicara, yang berbicara tentang terapi gen, farmakogenomik, dan pendekatan genomik pada penyakit. Aku sendiri berbicara tentang Pendekatan genomik pada penyakit Diabetes mellitus (DM).

Seperti apa pendekatan genomik pada DM?

Diketahui bahwa penyakit DM dapat digolongkan menjadi DM Tipe 1 dan Tipe 2. DM tipe satu adalah DM yang tergantung insulin di mana sel beta pankreas sama sekali tidak menghasilkan insulin, sehingga pasien tergantung pada pasokan insulin dari luar. Sedangkan DM tipe 2 adalah DM di mana pasien masih bisa memproduksi insulin tetapi sedikit/kurang, atau kalaupun bisa, terjadi resistensi pada reseptor insulin sehingga fungsi insulin berkurang. Pada DM tipe 2 ini masih dapat diatasi dengan pemberian obat-obat antidiabetes yang memicu produksi insulin atau meningkatkan sensitivitas reseptor insulin.

DM tipe 1 terutama disebabkan karena gangguan autoimunitas, di mana tubuh berespon berlebihan terhadap antigen yang berasal dari tubuh sendiri. Secara genetik, ada gen-gen tertentu yang merupakan gen penentu kejadian DM Tipe 1, yaitu gen yang menyandi  major histocompatibility complex (MHC) Class II, suatu protein permukaan sel yang akan mempresentasikan antigen terhadap sel limfosit T. Adanya defect atau kecacatan pada gen yang menjadi MHC Class II sehingga menyebabkan kekurangan asam amino aspartat pada posisi 57 ternyata menyebabkan menyimpangnya fungsi MHC Class II sehingga menyebabkan kerentanan terhadap kejadian DM Tipe 1. Hal ini bisa dikoreksi dengan mengganti gen yang cacat tadi dengan terapi gen. Terapi gen untuk DM tipe 1 hingga saat ini baru ditingkat penelitian menggunakan hewan uji, belum sampai ke manusia.

Sempat pula disoroti bahwa bagaimanapun perlu ada rambu-rambu terkait dengan terapi gen, meliputi rambu-rambu etika, moral dan agama. Jangan sampai suatu masa orang dengan mudah mengubah warna kulit, tinggi badan, bentuk mata, dll, dengan mengganti gen-gen tertentu dengan gen yang diinginkan. Tentu akan menyalahi kodrat penciptaan dari Sang Pencipta, yang mungkin akan berdampak pada dekadensi nilai etika dan agama.

Nah, untuk DM tipe 2, berbeda lagi gen-gen yang berperan dalam kejadian penyakitnya. Namanya macem-macem deh….. salah satunya adalah KCNJ11 dan ABCC8, yang menyandi reseptor sulfonil urea yang berupa kanal ion K. Sulfonil urea adalah golongan antidiabetes, contohnya obat glibenklamid, glipizid, gliklazid, dll. Orang yang mengalami polimorfisme genetik pada gen tersebut ternyata menyebabkan kanal K cenderung akan membuka terus, yang menyebabkan pelepasan insulin terhambat. Nah, pada pasien yang demikian itu, penggunaan obat golongan sulfonil urea tidak memberikan efek yang diharapkan. Itu adalah salah satu contoh kejadian farmakogenomik, di mana respon seseorang terhadap obat bisa bervariasi karena adanya pengaruh perbedaan genetik.

Obat-obat diabetes lain ternyata juga demikian, di mana adanya polimorfisme genetik pada gen-gen yang menyandi protein2 yang terlibat dalam aksi obat tersebut, dapat menyebabkan perbedaan respon secara individual.

Jadi, di masa depan di mana eranya adalah individualisasi terapi, pemberian obat mesti disesuaikan dengan keadaan pasien, termasuk pola genetiknya. Seorang dengan polimorfisme genetik pada gen KCNJ11 dan ABCC8 seperti yang dipaparkan di atas, tentu tidak tepat mendapatkan terapi obat golongan sulfonil urea karena efeknya tidak bisa diharapkan, dan dapat dipilihkan obat yang lain.

Balik Yogya

Alhamdulillah, tugas di Makassar sudah dikerjakan sebisanya. Mudah-mudahan bermanfaat. Dan lagi-lagi, Merpati tidak ingkar janji. Kami take off dari Bandara Hasanuddin Makassar pada pukul 18.30an dan tiba kembali dengan selamat di Yogya. Tugas lain-lain sudah menanti, termasuk menulis calon buku berikutnya dan tugas rutin lainnya.

Iklan

Aksi

Information

5 responses

11 05 2012
Anita InsyaAllah Istiqomah

sy betul2 tertarik dgn teman ibu krn teman sy kebetulan lagi mencari bahan baku glibenklamid.. kira2 bgmana caranya sy bisa mendapatkan bahan baku tersebut??? mohon bantuannya,,,

8 05 2010
andinoeg

info yang bermanfaat terimakasih bu…
andinoeg.blog.com
ngagel89university.blogspot.com
backtonaturallife.wordpress.com

2 04 2010
desy

Tulisan ibu mengenai aktivitas di makasar ini sangat menarik. Saya yang kebetulan semester ini baru belajar tentang teknologi terapi gen, jadi punya gambaran mengenai aplikasi mata kuliah ini. Pasti akan sangat menarik kalau ibu menyampaikannya di kelas bioteknologi kesehatan. Informasi ini sangat berguna.

salam
Desy-biotek

30 03 2010
Deni

Halo Ibu Zullies saya mengenal Ibu lewat FB teman saya.
Tulisan ibu kali ini betul2 menarik bagi saya, kebetulan saya riset di bidang gene delivery. Kajian farmakogenomik di Indonesia cukup berkembang tapi sebaiknya diimbangi dengan riset terapi gen. Menurut Ibu sejauh mana perkembangan riset terapi gen di Indonesia? Adakah lab di Indonesia yang memang secara konsisten melakukan riset terapi gen?
Terima Kasih Ibu atas perhatiannya. Wass.

jawab:
Saya belum tau persis perkembangan riset terapi gen di Indonesia, dan belum dengar. Mungkin di Lembaga Eijkman… coba searching kesana…

30 03 2010
Ridho

di RS yang oleh anugerahNya saya di tempatkan, bed 1000, lembar resep dalam sebulan bisa 7000-an (yang rawat inap saja). apotekernya 4, AA-nya 12.

semuanya manual, ga ada sistem billing, ga ada sistem inventory, apalagi sistem rekam medis pasien. semuanya manual, cuman main excel aja. kalo diajak bicara soal farmasi klinis jawaban kami cuman: “nanti aja deh” (*sambil nangis darah)……………

*maklum RSJ

Jawab:
selamat berjuang, mas Ridho..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: