My note(5): a little bit about Pharmacy in Japan

5 12 2009

Dear kawan,

Tulisan ini sebenarnya sudah aku siapkan sejak malam terakhirku di negeri sakura. Waktu itu aku menghabiskan such a lonely night di Nikko Hotel di Kansai International Airport Osaka. Yah, …. siangnya aku baru terbang dari Matsuyama ke Osaka (Itami Airport), dan menempuh lagi 70 menit perjalanan menggunakan bus limousine ke Kansai Airport untuk terbang esoknya ke Indonesia. Tapi di sana aku belum sempat upload tulisan ini di blog, karena tidak ada fasilitas internet di dalam kamar. Ada sih, tapi di lobby…. masa harus stay sampai larut malam di lobby hotel… jadi baru sempat aku upload sekarang.

Well, ini adalah catatan perjalananku yang terakhir sebelum pulang. Berakhirlah sudah kunjunganku selama 11 hari di Matsuyama memenuhi undangan Profesor Maeyama. It was wonderful journey for me…. alhamdulillah. It’s very honoured to stand and giving “lecture” in front of Japanese Pharmacological Society members…. Ngga kebayang sebelumnya, walaupun itu juga ngga hebat-hebat amat, lebih karena kebaikan hati sensei mengundangku….

Ada beberapa kegiatan yang kulakukan dalam tiga hari terakhir di sini yang kucoba dokumentasikan. Ada teman yang meminta aku menulis tentang bagaimana pelayanan farmasi di Jepang. Hm… mohon maaf, aku tidak punya banyak data tentang itu. Informasi yang kuperoleh hanya berasal dari Ehime Univ Hospital yang mungkin tidak selalu berlaku sama di seluruh Jepang. Tapi akan aku coba setahuku saja. Maklumlah, Nihon-go (bahasa Jepangku) terbatas banget, padahal banyak informasi tertulis dalam bahasa Jepang, pakai huruf kanji lagi. Jadi tidak bisa utuh menangkap informasi.

Farmasi di Ehime University Hospital

Hari Senin dan Selasa lalu, aku coba memanfaatkan waktu untuk mengunjungi Hospital Pharmacy di Ehime University Hospital. Maeyama Sensei memperkenalkan aku kepada Prof. Hiroaki Araki, Director of Hospital Pharmacy, Ehime University Hospital, pada saat acara dinner banquet Pharmacological Meeting hari Jumat yang lalu, dan kami janjian untuk bertemu. Jadilah, Senin siang kami mengunjungi ruang kerja Prof. Araki. Oya, sebelumnya aku pernah melihat bahan presentasi Prof Araki pada Asian Conference in Clinical Pharmacy di Seoul, jadi aku sudah punya gambaran tentang beliau, cuma baru kali ini bertemu. Prof Araki mengajakku menuju ke ruang-ruang pekerjaan kefarmasian.

Pekerjaan kefarmasian di RS di Jepang pada umumnya sama dengan di Indonesia. Mulai dari pengelolaan perbekalan farmasi, penyiapan obat dan distribusinya, pelayanan informasi obat dan konseling pada pasien. Hanya saja, Hospital Pharmacy pada Ehime Univ Hospital hanya melayani obat untuk pasien rawat inap saja, sedangkan pasien rawat jalan tetap mendapat pemeriksaan di RS, tetapi obatnya harus mereka peroleh di Apotek (community pharmacy). Terus terang aku masih belum begitu jelas alasan tentang hal ini, kata Prof Araki ini adalah keputusan Pemerintah dan lebih bersifat politis. Ada 2 RS pemerintah di Matsuyama yang menerapkan hal ini, dan 2 lagi RS swasta tetap melayani obat untuk in-patient maupun out-patient.

Pengelolaan perbekalan farmasi

Mesin "auto ampoule dispenser"...

Di Ehime Univ Hospital, pengelolaan perbekalan farmasi sangat dibantu oleh adanya sistem teknologi informasi yang canggih. Semua bagian di RS terhubung dengan jaringan intranet, sehingga sangat memudahkan komunikasi. Salah satunya adalah mesin penyiapan sediaan injeksi secara otomatis (automatic ampule dispenser).  Jadi, jika dokter meresepkan satu bentuk injeksi tertentu, ia akan menuliskan di komputer, dan informasi itu segera sampai di mesin automatis tadi dan menyiapkan obat yang diminta, dalam bentuk satu unit dosis. Farmasis tinggal mengecek kebenarannya sesuai dengan resep. Menurut Prof Araki, tidak semua RS memiliki mesin semacam itu, karena beliau mengembangkan sendiri mesin tersebut. Lalu setelah semua sediaan injeksi siap, mereka akan mengirimkannya ke bangsal (ward) di mana pasien berada.

Keranjang yg akan mendistribusikan obat ke ward secara computerized

Jangan dibayangkan ada nurse yang mengambil atau ada AA yang mengantar ke bangsal, obat-obat tadi diantar dengan semacam keranjang yang dijalankan dengan semacam ban berjalan. Lalu secara computerized akan diset kemana keranjang tadi harus diantarkan, baru di sana nurse akan menerima dan membagikannya sesuai dengan nama pasien. Keranjang yang sudah kosong akan dikembalikan lagi ke Farmasi menggunakan ban berjalan yang sama. Dan katanya sistem ini pun tidak semua RS memilikinya. Sebagian masih dilakukan secara manual. Wah…. apotekernya santai dong hehe…..!!

Dispensing di farmasi RS

Untuk dispensing sediaan per-oral masih sama saja dengan di Indonesia, yaitu secara manual oleh farmasis. Oya, just for your info…. di Jepang tidak mengenal adanya asisten apoteker. Jadi semua yang mengerjakan dispensing adalah apoteker. Di Ehime Univ Hospital, dengan jumlah bed sekitar 600 bed, jumlah farmasisnya adalah 27 orang plus 2 orang Director and Vice Director of Hospital Pharmacy.

Therapeutic Drug Monitoring

Seorang pharmacist sdg menejlaskan ttg mesin TDM dg metode chemiluminscent

Salah satu pelayanan farmasi yang masih sulit dilakukan di Indonesia karena keterbatasan biaya dan alatnya adalah Therapeutic Drug Monitoring (TDM). TDM di hospital ini dilakukan atas dasar permintaan dokter. Selain itu, farmasis juga dapat mengusulkan dilakukannya TDM jika mereka memandang perlu adanya pemantauan kadar obat dalam darah untuk pasien tertentu. Tentu tidak semua obat di-TDMkan. Di hospital ini beberapa obat yang hampir selalu mendapatkan pemantauan melalui TDM adalah tacrolimus, siklosporin, anti epileptic drug dan anti MRSA drug. Dari sini hasilnya akan dilaporkan kepada dokter dan digunakan menjadi dasar adjusment dosis pada terapi. O,ya…. alat untuk TDM disini udah canggih banget, boo…. alat TDX yang lama sudah nggak digunakan lagi. Sekarang mereka menggunakan mesin khusus dengan metode chemiluminescence assay, di mana pemeriksaan jadi lebih sensitif dan cepat. Dan pemeriksaannya cepet lho….. katanya dokter juga umumnya meminta hasil yang cepat, jadi mereka bisa memberikan hasil TDM pasien dalam waktu 30 menit – 1 jam setelah sampel dikirim ke farmasi !!

Konseling dan informasi obat

Pharmacist sedang memberikan konseling pada pasien di bedside

Pelayanan kefarmasian di Jepang juga sudah mulai beranjak menuju patien-oriented. Mulai sejak 3-4 tahun yang lalu, pasien diberi konseling pada saat masuk dan pada saat di rumah sakit. Aku diajak oleh salah seorang farmasis di sana untuk melihat bagaimana konseling dilakukan kepada pasien. Oya, karena keterbatasan jumlah apoteker dan juga pertimbangan uang jasa pelayanan kefarmasian, di hospital ini konseling dan sekaligus pemantauan terapi pasien dilakukan sekali seminggu untuk tiap pasien. Jadi jika dia dirawat selama 3 minggu, dia akan mendapat 3 kali konseling. Namun ada juga yang mendapat pemantauan setiap hari, terutama pada pasien-pasien yang mendapatkan antibiotik khusus seperti anti MRSA (Methicillin resistant Staphylococcus aureus), quinolon yang baru, golongan penem, dan anti fungi. Mereka akan memantau dari hasil pemeriksaan lab pasien, dan jika diperlukan mendatangi pasien untuk menanyakan efek-efek samping yang mungkin dialami pasien. Dalam hal pelayanan informasi obat, farmasis menyiapkan data base lengkap mengenai obat-obat yang dipakai di RS (sekitar 2000 item yang dipilih), sehingga dokter dengan mudah dapat memperoleh informasi yang diperlukan dengan mengklik di komputernya masing-masing jika misalnya akan menulis resep. Jika diperlukan, mereka akan menanyakan pada apoteker.

Pendidikan farmasi di Matsuyama University

Mahasiswa tingkat 4 sedang praktikum dispensing

Aku tidak bisa mengatakan secara umum tentang pendidikan farmasi di Jepang,karena aku hanya mengunjungi satu institusi saja, yaitu Matsuyama University. Matsuyama University adalah satu-satunya universitas swasta di Ehime yang memiliki pendidikan farmasi, itupun masih baru, baru sampai tahun ke empat. Secara umum terdapat perubahan sistem pendidikan di Jepang, dari yang semula hanya 4 tahun, menjadi 6 tahun, dengan penambahan muatan pada farmasi klinik. Pendidikan farmasi di Jepang juga lebih mengarah pada farmasi pelayanan. Mereka harus menjalankan PKL selama 2,5 bulan di rumah sakit dan 2,5 bulan di apotek. Isi kuliahnya sih aku kira sama saja dengan pendidikan farmasi di Indonesia. Mereka juga berlatih mereview resep, melakukan dispensing, memberikan konseling, dll.

Farewell Lunch

Menikmati sushi dan sashimi bersama Sensei dan istri di farewell lunch

Begitulah kawan, sekilas yang dapat kubagikan mengenai farmasi di Jepang. Tidak banyak, selintas saja. Bagaimanapun aku harus berterimakasih pada Maeyama Sensei yang telah mengantarku dan memperkenalkanku pada farmasis di sana, padahal beliau sendiri juga baru kenal (Prof Maeyama adalah seorang dokter).  Dan di akhir kunjunganku di Matsuyama, Maeyama Sensei dan istri sengaja menundangku untuk sekadar lunch perpisahan di sebuah restoran khusus sushi dan sashimi…..  Sebuah kunjungan yang mengesankan. Katanya sih Sensei akan mengundangku lagi tahun depan. Aku bilang, waktu yang paling asyik berkunjung ke Jepang adalah musim semi atau musim sakura, dan musim gugur seperti sekarang ini hehe…..  Mudah-mudahan masih ada kesempatan. Hontoni, iro-iro arigatou ghozaimashita….!!


Aksi

Information

8 responses

31 01 2013
rianaadzkya

Pengennnnnyyya:(

5 08 2012
atma

waaah, tidak ada AA ya Bu? negara mana saja yang tidak mengenal AA bu?
kalau boleh bertanya, adakah pelayanan informasi obat di sana? di mana kita tau semua sudah dapat diakses dengan komputer.🙂

15 12 2009
ari

pelayanan jadi cepat tepat dan cermat y Bu,kalo ada di Indonesia spt itu saya mau pegang apotek.kalo Indonesia begini terus mungk selamany saya takut pegang apotek dan hospital hehe.Ibu hebat,terimakasih infony

15 12 2009
ari

wah keren y Bu.kalo di Indonesia spt itu baru aku mau pegang apotek.

15 12 2009
suyanto

terima kasih infonya bu. semoga negara kita bisa berkembang seperti jepang, setidaknya layanan farmasinya. apoteker adalah pelayan, maka ada baiknya jika kita melihat pelayan dari negara lain sebagai pertimbangan dalam mengembangkan layanan.

14 12 2009
akbar

lucu yah bu, perubahan pendidikan farmasinya dari 4 tahun jadi 6 tahun kebalikannya dsini dari 6 tahun jadi 4 tahun,he3

jawab:
Iya, mereka menambah muatan farmasi klnik di dalamnya. Tapi itu sudah termasuk dengan pendidikan profesinya lho. kalau ditempat kita jadi 4 +1.

6 12 2009
dokterdita

alhamdulillah, ibu sudah pulang ke rumah

jawab:
sudah, mbak.. alhamdulillah🙂

5 12 2009
Lutfi Chabib

Alhamdulillah…
Sudah kembali dengan selamat ke Indonesia Bu…
Terimakasih atas catatan perjalanannya, menjadikan kami seakan dibawa langsung ke Matsuyama, Semoga tahun depan ibu di berikan kesempatan untuk kembali kesana dalam kondisi yang lebih baik, bisa ketemu seseinya dan ketemu bapak tua penjaga stasiun lagi🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: