My Note(2): Nostalgia on Japan life-style….

26 11 2009

Dear kawan,

Maaf, aku baru menulis lagi sejak catatan perjalanan pertamaku. Yah, …habis belum banyak yang bisa diceritakan. Empat hari pertama keberadaanku di Matsuyama ini lebih banyak diwarnai suasana nostalgia akan kehidupan di Jepang dulu walaupun belum sempat mengulang seluruhnya. Aku coba tuliskan sedikit pengalamanku beberapa hari ini, walaupun tidak ada yang terlalu istimewa…..

“Welcome party”

Menu lunch di rumah Maeyama Sensei

Hari Senin kemarin ternyata merupakan hari libur nasional di Jepang.  Kata Sensei hari itu libur Thanksgiving…. kayak model  Amerika saja. O,ya, … hari Senin itu Maeyama Sensei mengundangku ke rumahnya untuk semacam “welcome party”….  Ketika hari Minggunya mengantar ke hotel, Sensei berpesan supaya aku siap sekitar jam 11.30an, dan Sensei akan menjemputku di lab sekitar jam 11.30an. Jadilah, Senin siang aku dijemput Sensei untuk mengunjungi rumahnya. Sepanjang perjalanan menuju rumah Sensei  di daerah Yunoyama,  kami melewati beberapa tempat yang sangat kuakrabi dulu, termasuk lewat di depan apartemen tempat tinggal kami dulu. Wah, belum banyak berubah!.. Jalanan yang tidak terlalu lebar dan bersih dengan lalu lintas yang tertib, rawa/kolam penampungan air di pinggir jalan yang dulu sering kulewati, pom bensin yang harganya -segitu-segitu terus dari dulu hehe…. (ngga kaya di Indonesia), dll.  Yang sedikit beda adalah Iyotetsu Kenko Rando yang sekarang berubah jadi sebuah kombini (convenient store). Sesampai di rumah Sensei, kami disambut istrinya. Bu Maeyama baik sekali, beliau tipikal wanita Jepang yang penuh pengabdian pada suami ceilee…. !! Beliau tidak bekerja, hanya mengurus rumah tangga. Beliau memasakkan beberapa masakan untuk menjamu aku, yang dia jamin… “ you can eat all…” katanya. Dia taunya aku selama di sini tidak makan daging atau ayam (aku nggak bilang bahwa  sebenernya aku sering juga makan ayam atau daging masakan sendiri, yang dagingnya aku beli di Islamic Centre yang berlabel halal). Jadi beliau masakkan aku ikan yang enak, bola-bola udang yang katanya merupakan resep dari ibunya, lalu nasi dengan campuran telur dan sayur lainnya. Ada pula semacam lumpia. Hm… oishii… (enaak)!….  Arigatou gozaimashita! Kami ber “kampai” dengan air putih hehe……., suatu ritual yang biasanya dilakukan untuk memulai acara. Orang Jepang biasanya ber-kampai dengan bir atau alcoholic drink yang lain, dengan mengacungkan gelas masing-masing ke atas sambil berteriak : “Kampaai !!” dan menyentuhkan gelas tadi ke gelas teman-teman di sebelahnya sebelum kemudian meminumnya, lalu pimpinan acara akan membuka acara secara resmi. Sayangnya aku ngga sempat foto bersama bertiga.. Lhah, gak ada yang motretin sih..! Mau minta tolong Sensei untuk motretkan, takut ngga sopan hehe…..

Change in my daily life

breakfast a la Japan

Hmm… kehidupanku akan sedikit berubah dalam beberapa hari ke depan. Selama di sini, aku diinapkan di sebuah hotel kecil di dekat kampus, namanya Shigenobu Hotel. Tempatnya cukup nyaman lah untukku….. dekat kampus, lengkap, tinggal jalan 5 menit ke lab. Yang paling penting lagi adalah ada free internet connection… Itu yang utama, karena aku tetap harus terkoneksi dengan banyak orang di tanah air, baik untuk urusan pekerjaan, pribadi,  maupun kontak dengan keluarga di rumah.  Lima tahun yang lalu ketika aku tinggal sebulan di sini, aku tinggal di guest house kampus. Aduh, agak serem kalau malam…soalnya sepi dan sendirian. Nggak ada internet lagi. Yang menarik, di hotel ini menu breakfast-nya cuma ada 2 macam, yang Japan style banget dan yang mix dengan western style. Jadi tiap pagi breakfast-nya cuma itu-itu doang berganti-ganti. Tapi lumayan sih….. daripada ngga makan hehe…..! Enak juga kok…. walau agak tidak cocok di lidah.

Yang agak repot adalah untuk makan siang dan makan malam, tentu harus cari sendiri. Hm…. tapi ini kujadikan kesempatan untuk bisa bernostalgia dengan makanan-makanan yang dulu pernah dan biasa kumakan.  Hm,… ada nori bento, sake bento, takoyaki, tempura, onigiri, ebi chou, sushi, etc.  Yang kusukai lagi adalah jus dalam kotak yang isinya campuran buah dan atau sayuran. Variasinya banyak sekali. Makanan bisa dibeli di berbagai tempat. Cuma repotnya adalah cari makanan yang halal dan enak hehe…. apalagi aku nggak bisa baca kanji. Ya udah, aku makan yang kira-kira dulu udah pasti aja kehalalannya……  kalo mleset ya,  gimana lagi. Dekat kampus ada supa (supermarket) besar namanya “Seven Star’, di sana banyak makanan siap saji, tinggal pilih. Ada juga bento-ya (toko bento) namanya “Kamadoya” yang menyediakan berbagai menu bento.

Nori bento.... harganya masih sama dengan 10 tahun yang lalu

Kesukaanku dulu adalah nori dan sake bento. Sake itu bukan sake minuman lho….. sake itu nama ikan, ikan sake, bahasa Inggrisnya ikan salmon. Sedangkan nori itu rumput laut. Lumayan murah untuk ukuran kantongku. Yang menarik adalah harganya yang tidak berubah dibandingkan 10 tahun yang lalu, bahkan lebih murah!! Dulu nori bento harganya 330 yen (termasuk pajak), sekarang malah cuma 300 yen, kayaknya  nggak pake pajak lagi. Dan makanan minuman itu harganya standar di mana-mana, temasuk di airport.

Urusan lainnya adalah cuci baju. Karena lumayan lama dan aku tentu tidak bisa bawa baju banyak-banyak, maka mesti perlu cuci baju.  Untungnya musim dingin nih, jadi baju nggak bau keringat… jadi aku ganti dua hari  sekali aja hehe… mandi juga sehari sekali saja. Aku cuci baju di sebuah self service laundry.  Mau nyuci di hotel repot cara menjemurnya karena nggak ada tempat menjemur, apalagi ada celana jeans segala, aduh… agak berat juga mencucinya. Di laundry ada beberapa mesin cuci dengan berbagai ukuran, dengan mesin pengeringnya. Cara menjalankannya pakai coin, yang berbeda2 harganya untuk masing-masing ukuran mesin. Karena cuma 6 potong, aku pilih mesin cuci terkecil. Ongkosnya 400 yen sekali jalan untuk waktu 30an menit. Lumayan…

Yang sedikit beda lagi tentang Matsuyama dengan 10-an tahun yang lalu adalah tambah banyaknya orang Indonesia yang tinggal disini. Sebagian adalah wanita Indonesia yang menikah dengan orang Jepang dan tinggal di sini. Aku sudah bertemu dengan dua diantaranya, yaitu Mbak Lilies dan Mbak Wawa (halo, mbak-mbak…..!). Wah, senang sekali bisa ketemu sama sesama orang Indonesia di sini, apalagi Mbak Lilies rumahnya dekat di daerah aku tinggal selama di sini. Sipp lah…. ngga kuatir nih kalau perlu bantuan apa-apa hehe….. ada tempat bertanya. Termasuk numpang nyuci baju haha…..!

Di meja kerjaku (sementara) di Yakurigaku

Selama tiga hari belakangan ini (Selasa sampai Kamis), aku berangkat ke lab/kampus sekitar jam 10an sampai jam 5 sore. Sebenernya sih suka-suka aku aja, mau apa, karena tidak ada kegiatan yang spesifik. Aku gunakan waktu untuk persiapan presentasi besok… dan yah… tulis-tulis yang lain, sambil chatting hehe… Pekerjaan yang kutinggal di Indonesia tentu tetap harus dipantau… Ada beberapa laporan penelitian yang harus dikumpul, dll. Jadi ceritanya kerja jarak jauh nih….

Training tentang mast cells

Hari Kamis ini, Sensei menyelenggarakan training tentang isolasi mast cells dari perut tikus (rat peritoneal mast cells) untuk student atau siapapun yang berminat, sebagai rangkaian Pharmacological Meeting besok Jumat. Jadi siang ini aku sempatkan tengok sebentar kegiatan trainingnya. Mast cells adalah suatu sel dalam tubuh yang memproduksi dan melepaskan histamin. Histamin sendiri adalah senyawa dalam tubuh yang bertanggungjawab dalam reaksi alergi, menyebabkan bentol, gatal, sesak nafas, dll. Sehingga, obat-obat alergi umumnya bekerja dengan cara menduduki reseptor histamin supaya histamin tidak bekerja. Obat-obat itu sering disebut obat anti histamin, contohnya seperti CTM, cetirizin, prometazin, loratadin, dll.

mengisolasi "rat peritoneal mast cells"..

Teknik isolasi mast cells dari perut tikus sudah pernah aku kuasai 10 tahun yang lalu, jadi yang kuikuti tadi bukan hal yang terlalu baru sih… Caranya, perut tikus diinjeksi dengan larutan saline fisiologis sekitar 10-20 mL, lalu sedikit dipijat-pijat. Lalu perut tikus dibuka, cairan yang ada di perut tadi di-aspirate sampai habis dengan pipet. Cairan yang sudah mengandung mast cells dan sel-sel lain lalu disentrifugasi dengan kecepatan dan waktu tertentu, lalu diisolasi secara bertahap menggunakan larutan Ficoll atau Pacoll, sampai diperoleh mast cells. Lalu mast cells tadi bisa kita gunakan untuk aneka experiments, misalnya untuk mencari obat-obat baru anti alergi yang bekerja menghambat pelepasan histamin. Yang belum pernah mungkin agak sulit membayangkan, tetapi sebenarnya sih gampang saja. Yang sedikit beda dengan yang kulakukan dulu adalah alat yang digunakan. Kalau dulu aku menggunakan mikroskop biasa karena cuma untuk aku sendiri, sekarang mikroskopnya dihubungkan dengan sebuah monitor, sehingga para peserta bisa melihat dengan jelas ketika mast cells dipicu untuk terdegranulasi melepaskan histaminnya.

Penutup

Well, hari ini belum ada cerita menarik lagi, dan harus menyiapkan lagi presentasiku malam ini nih….. supaya waktunya pas, tidak molor atau kurang. Hari ini aku agak sedikit lonely membayangkan hiruk pikuk Hari Raya Idul Adha di tanah air. Di sini nggak ada bau-baunya blas… bau kambing maksudnya, apalagi suara takbiran… Ahh… aku rindu!


Aksi

Information

2 responses

27 11 2009
Eko Hanudin

Ya Bu kapan-kapan saya juga pingin diajari cara emijit-mijit mas el

26 11 2009
Puguh Indrasetiawan

wah ada training mast cell.. =)

ngga masuk bahan kuliah atau praktikum imunologi di kampus ya Bu?
padahal saya juga pingin bisa isolasi sel mast Bu.. =)

Jawab:
sebenernya gampang sih, mungkin kapan-kapan kita adakan di lab farmakologi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: