My note (2): Ke Monash dan La Trobe University

23 10 2009

Dear kawan,

Pertama kali menginjakkan kaki ke Melbourne, kami disambut hawa yang sejuk mendekati dingin. Pesawat Airbus 380 dengan kode SQ227 yang membawa kami mendarat mulus di airport pada pukul 10 waktu setempat. Alhamdulillah…. Urusan imigrasi tidak terlalu lama, tapi yang agak lama justru menunggu bagasi datang. Keluar dari Bandara sudah jam 11 lebih, padahal kami punya janji untuk ketemu Gregory Duncan jam 12.15. Jadilah kami cuma cuci muka tanpa sempat ganti baju lagi, segera meluncur ke Faculty of Pharmacy and Pharmaceutical Science Monash University. Kami dijemput dik Ika, kolega yang sedang studi S3 di sana, jadi ngga sampai nyasar….

Tiga profesor lusuh dari UGM

Dengan pede walaupun gak mandi, kami sampai juga di Monash Uni di Parkville, dan kami sempatkan ke cafe bentar sambil menunggu waktu ketemu Greg. Aku SMS Greg bahwa kami menunggu di Primary Cafe yang ada di kampus tersebut. Tepat jam 12.15an, Greg datang menjumpai tamunya yang lusuh-lusuh ini, dan membawanya ke tempat pertemuan. Di situ, sesuai dengan pembicaraanku sebelumnya via e-mail, kami ingin melihat bagaimana pelaksanaan Journal Club untuk Evidence-based Practice, khususnya untuk mahasiswa S2 di bidang Farmasi Klinik.

Journal club EBP

For your info, evidence-based practice di dunia kefarmasian adalah adopsi dari evidence-based medicine yang berkembang di bidang kesehatan kedokteran. Maksudnya adalah bahwa praktek penatalaksanaan terapi suatu penyakit haruslah berdasarkan evidence, yaitu suatu bukti ilmiah yang sudah ditelaah dengan teliti. Biasanya berupa suatu hasil uji klinik obat tertentu, yang artinya uji pada manusia untuk memastikan efek suatu obat. Tidak bisa lagi berdasarkan pengalaman saja, atau ilmu yang sudah lewat bertahun-tahun. Farmasis atau apoteker memang tidak secara langsung memberikan pengobatan kepada pasien, namun sebagai bagian dari tim kesehatan, farmasis berhak dan berwenang memberikan saran kepada dokter mengenai pilihan pengobatannya, dan turut serta memonitor perkembangan kesehatan pasien. Itu yang terjadi di banyak negara maju. Untuk itu, apotekerpun harus selalu mengikuti perkembangan pengobatan terbaru yang berdasarkan bukti tadi. Dan untuk ini, Greg menggunakan istilah evidence-based practice untuk pharmacist.

Nah kawan,

Tidak semua publikasi tentang suatu uji klinik (yang dianggap sebagai evidence) ternyata cukup valid dan sesuai dengan situasi pasien tertentu. Untuk itu, seorang farmasis harus punya kekritisan untuk menilai validitas suatu publikasi di dalam sebuah jurnal. Itulah yang menjadi aktivitas jurnal club yang dipandu oleh Greg yang kami sempat ikuti. Semua peserta diskusi harus mempresentasikan hasil evaluasinya mengenai suatu paper tertentu yang dipilihnya sendiri dan disetujui oleh Greg.

Adapun kriteria evaluasinya adalah meliputi: 1. Kriteria validitas : Apakah hasil studinya valid? Hal ini bisa diamati dari beberapa hal, misalnya: apakah kelompok kontrol dan kelompok perlakuan memiliki prognosis yang sama, apakah ada randomisasi, apakah pasien pada kelompok perlakuan memiliki faktor prognosis yang sama dengan kelompok kontrol, dsb. 2. kriteria kepentingan: Seperti apa hasil studinya? Apakah hasilnya positif atau tidak, seberapa signifikan hasilnya, dll. 3. Kriteria aplikabilitas : Bagaimana saya bisa mengaplikasikan hasil studi ini pada pasien yang saya hadapi? Jika melihat kriteria inklusi dan ekslusi pasien, apakah hasil studi sesuai dengan pasien kita atau tidak, apakah hanya valid untuk keadaan pasien tertentu saja, dll. Contohnya, jika suatu studi klinik hanya dilakukan pada pasien yang hanya memiliki satu jenis penyakit saja, tentu tidak mudah mengaplikasikan hasil studi tersebut untuk pasien yang mengalami multiple disease.

Yah, semacam itulah…. aku rasa yang sangat penting adalah bagaimana kita tidak selalu menelan bulat-bulat (emangnya bakso..) semua informasi yang diperoleh, walaupun itu diterbitkan dalam jurnal ilmiah. Perlu ada kekritisan yang didukung dengan logika berpikir yang baik, sehingga tidak salah dalam menerapkan suatu informasi untuk suatu keadaan tertentu. Lepas dari itu, yang menarik dari jurnal club ini adalah pelaksanaannya yang menggunakan teknologi teleconference. Jadi peserta jurnal club sendiri yang ada di Melbourne kemaren ada 3 orang, sedang yang 2 lagi berada di Hongkong dan New Zealand. Dan mereka bisa berinteraksi secara real time untuk berdiskusi mengenai hasil analisis masing-masing. Hm… canggih kan? Kayaknya kapan-kapan perlu diterapkan nih… hehe…

Bertemu dengan Prof Nation cs

monash

delegasi bersama Prof Stewart dan Assoc Prof Marriot

Dari ruangan jurnal Club, kami dibawa bertemu dengan Prof Peter Stewart (Deputy Dean untuk urusan Pendidikan) dan Assoc Prof. Jennifer Marriot (Director of Bachelor Program) di Faculty of Pharmacy and Pharmaceutical Sciences, Monash University. Kami berbincang tentang berbagai hal tentang kegiatan pendidikan di Monash, baik untuk program pasca maupun bachelor. Kami sempat dipamerin ruangan untuk Virtual Practice, di mana di ruangan itu ada 3 screen lebar yang digunakan untuk memutar film seperti keadaan suatu apotek yang sebenarnya. Student akan praktek disitu berlatih untuk melaksanakan pelayanan kefarmasian. Sebetulnya sih di UGM nggak kalahlah…. secara subtansi, mata kuliah yang diajarkan hampir sama saja. Lulusannya pun cukuplah bisa diandalkan. Yang lebih utama sebenarnya adalah setelah lulus jadi apoteker. Organisasi profesi harus cukup kuat taringnya untuk mengatur praktek pelayanan kefarmasian di lapangan, karena akademisi sudah tidak bisa menjangkau lagi hal-hal yang terjadi di luar fakultas..

Satu hal yang menarik juga adalah pendidikan Bachelor (S1) farmasi Monash juga ada yang diselenggarakan di Malaysia. Untuk tujuan lebih menginternasional, mereka membuka “cabang” Monash yang standardnya sudah ditetapkan seperti di Monash Australia.

Setelah selesai dengan Prof Stewart, kami ketemu Prof Roger Nation. Beliau Director of Center of Medicine Use and Drug Safety. Beliau lebih banyak cerita tentang riset di sana. Ada dua pusat riset utama, yaitu Monash Institute of Pharmaceutical Science (MIPS) dan Center of Medicine Use and Safety (CMUS). Dari namanya udah keliatanlah, bahwa yang satu mengkover riset-riset pengembangan obat, sedangkan satunya riset-riset tentang penggunaan obat pada manusia. Pertemuannya sampai jam 16 sore waktu setempat. Aduh… sampai sini aku agak ngantuk hehe… dan lapar. Karena sejak sarapan pagi di pesawat (sahur kali ya…) siangnya belum berisi apa-apa lagi kecuali secangkir hot chocolate di cafe tadi. Akhirnya, seusai pertemuan kami menuju hotel untuk check ini dan istirahat.

Malamnya kami diundang oleh teman-teman Indonesia yang ada di Melbourne untuk makan malam di rumah Pak Mulyoto. Pak Mulyoto adalah dosen sebuah PTN di Indonesia yang setelah menyelesaikan PhD-nya menjadi permanen residen di sini dan bekerja di Monash University. Wah, kami disuguh barbeque daging kambing yang lezat, dan aneka makanan lain… Kami berbincang sampai jam 23 malam… Oya, jangan heran ya…. jam 23 malam di sini itu bisa dibilang belum terlalu larut…. Lhah, maghribnya aja jam 20-an, Isya jam 21an….

Ke La Trobe

harvey Yaris

Bersama Dr Harvey dan Yaris putihnya di Bendigo

Hari kedua ini kami punya acara untuk berkunjung ke Fakultas Farmasi La Trobe University. Dr Ken Harvey yang aku kontak sebelumnya very kindly drove us ke Bendigo, sebuah kota kecil berjarak 2 jam dari Melbourne, di mana fakultas farmasi berada. Dr Harvey menjemput kami di hotel dengan mobil Yaris putihnya. Jalan dari Melbourne ke Bendigo sangat mulus, di samping kiri kanan dihiasi pohon-pohon pinus dan padang hijau luas. Untungnya kami datang pas musim semi, jadi banyak bunga-bunga yang bermekaran. Tapi yah…. sebenarnya perjalanannya agak membosankan sih hehe… karena daerahnya datar, tidak banyak variasinya. Aku sendiri malah terkantuk-kantuk dan sempat tertidur, gara-gara paginya minum obat flu. Yah, flu yang aku peroleh sejak sebelum berangkat ternyata masih berlanjut di Melbourne.

Bendigo merupakan kota tua bekas penambangan emas jaman dulu. Kotanya cantik dan bersih, unik dengan perpaduan gedung-gedung kuno dan gedung jaman sekarang. Tapi alamaak…. sepi benar..!! Trotoar jalan sepi tak banyak orang berlalu lalang, apalagi pedagang kaki lima kayak di Yogya heheh…. Kayaknya sih aku ngga bakalan betah tinggal di sana….

Kami disambut cukup meriah oleh Prof Ken Raymond, perintis Fakultas Farmasi di La trobe University, yang aku kontak sebelumnya, dan beberapa staf dosen lainnya. Dengan suguhan aneka sandwich dan buah, kami berbincang berbagai hal tentang pendidikan dan riset. Kami sepakat untuk menjalin kerjasama lebih lanjut dan akan mencoba bertukar informasi tentang pendidikan dan riset. Secara kebetulan, salah satu riset yang lagi dikembangkan disana adalah tentang farmakogenetik, yang sekarang lagi jadi perhatianku. Mudah-mudahan saja deh, akan ada kerjasama yang lebih riil di kemudian hari. Amien.

City “tour”

Kami sampai kembali ke Melbourne jam 4 sore waktu setempat, diantar oleh Dr Harvey. Perut lapar membawa kami ke sebuah Restoran Thai… Hm, dingin-dingin dan sedikit flu enaknya makan yang panas dan segar nih…. Jadilah sup Tom Yam sea food asli Thai kupilih untuk mengisi perut… hmm, rasanya mantaap!! Setelah balik ke hotel sejenak untuk sholat, kami bertiga janjian untuk keluar lagi jalan-jalan di sekitar kota. Jam 6 sore di sini suasananya masih seperti jam 4 sore di Indonesia. Jadi kami pun berjalan mengeksplorasi Melbourne… benar-benar jalan kaki, plus sekali naik trem yang gratisan. Sayangnya sebagian toko di Melbourne sudah tutup…. Yah, kami jalan-jalan aja menembus dingin sampai jam 9 malam sambil sesekali mampir toko yang masih buka untuk lihat-lihat… Melbourne masih ramai dengan anak-anak muda yang berjalan-jalan. Wah, bajunya macam-macam….. ada yang sesuai dengan suhu, ada juga yang melawan berani melawan cuaca hehe…. Lhah, bajunya mini tak berlengan pula, bagaimana kalau musim panas ya?

Well, itulah cerita hari pertama dan kedua di Melbourne. …

Iklan

Aksi

Information

2 responses

28 10 2009
moko

pengen kuliah di LN nih bu. ma rizal ni bu. he…he…

jawab:
Ya coba cari-cari informasi studi LN, banyak kok

28 10 2009
moko

ibu, hari minggu lalu ada pameran univ di jkt. kbbeteulan ak mampir ke stand la trobe univ…wah keren bu, dsna ada fak bioteknologi n bioinformatik… bu, bsa ga ya alummni ugm bs kuliah dsna??

Jawab:
aku dorong deh kalian belajar di LN… terutama tambahan wawasan dan pengalaman, itu yang sangat bermanfaat, bisa mengubah mindset yang positif. Klo perlu rekomendasi, kalo masih laku, aku pasti mau kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: