Sebuah pilihan

30 05 2009

Dear kawan

 Membaca Majalah Tempo terbitan tanggal 25 Mei 2009 lalu, ada yang sedikit menggelitikku untuk angkat bicara… eh angkat pena, eh…. angkat laptop untuk memberi komentar. Yang mau kukomentari ya tulisan tentang diriku sendiri… hehe. For your info, aku sempat numpang nampang di Majalah Tempo edisi tersebut yang memang memuat laporan khusus tentang Perguruan Tinggi di Indonesia, termasuk UGM. Yang menggelitikku adalah judul tulisannya yang menurutku terlalu bombastis, yaitu “Bukan Profesor Biasa”…. Wah..wah, apa ini? Memangnya profesor yang biasa yang seperti apa? Aku memahami bahwa itu adalah “bahasa koran/majalah”, sehingga perlu agak “wah” agar menarik perhatian pembaca. Cuma aku jadi sungkan sendiri…..
Kayaknya ada yang perlu sedikit diluruskan dan ditempatkan secara proporsional mengenai status professorship ini. Tidak memandangnya terlalu hebat atau sebaliknya, tapi pas gitu loh. .. Oya, sebetulnya mengapa aku yang muncul di halaman tentang UGM, semata-mata karena kebetulan saja. Ketika Pak Dekan dikontak oleh Majalah Tempo, beliau mengarahkan kepada Wakil Dekan 3 untuk memberi keterangan, dan Pak WD3 memaparkan penelitian-penelitian yang sudah dilakukan dan tentang beberapa karya mahasiswa yang menonjol. Nah dari situ, mahasiswa ditanyai siapa dosen yang bisa diprofilkan, muncullah namaku (thanks for Rosa). Hm… jadilah aku dikontak oleh wartawan Tempo tersebut untuk wawancara per telepon. Semula lewat SMS ditanyakan macam penelitian yang sudah kulakukan. Wah, kalau harus nulis lewat SMS untuk menyebut penelitian2 yang sudah dan sedang kulakukan ya jariku bisa “keju”…. jadi kuminta saja menengok di blog-ku, baru kalau ada yang ingin ditanyakan lebih lanjut bisa kontak aku lagi.

 Nah, kembali ke masalah professorship tadi, ada satu pertanyaan wartawan tersebut yang menurut aku “kurang pas” (maaf, mas wartawan). Dia tanya, “ Mengapa UGM menobatkan ibu sebagai profesor ?”…. Hm, aku bilang bahwa istilah menobatkan itu kurang pas, kesannya bahwa inisiatif menobatkan menjadi profesor adalah berasal dari UGM. Kejadiannya bukan demikian. Kalau aku boleh bilang, menjadi profesor itu pilihan hidup. Mau nggak jadi profesor juga pilihan. Orang boleh memilih, mau jadi profesor atau tidak. Banyak dosen yang lebih senior dari aku dan jauh lebih banyak prestasinya, dan layak menjadi profesor, tetapi belum menjadi profesor. Mengapa? Karena mereka belum mengajukan usulan kenaikan jabatan menjadi profesor atau guru besar. Mengapa belum? Ya mungkin ada yang tidak ingin menjadi profesor, atau terlalu low profile untuk menjadi profesor, atau malas dengan keribetan mengurus berkas-berkas usulan kenaikan pangkat yang lumayan banyak, atau masih menunggu saat yang pas menurut mereka, atau ada alasan yang lain, aku tidak tahu. Sedangkan aku sendiri, mengapa berani-beraninya mengusulkan kenaikan jabatan menjadi guru besar pada usia yang relatif muda dan belum banyak pengalaman? Yang pernah kupostingkan sebelumnya somewhere in my blog, hm…. aku bilang, bahwa aku hanya mengejar sebuah momentum, yang barangkali akan menjadi sesuatu yang istimewa dalam hidupku, yang kayaknya cukup mengesankan untuk diceritakan ke anak cucu. Kebetulan angka kreditku mencukupi. Sederhana bukan?

Jadi sebenarnya yang belum profesor pun belum tentu kapasitasnya di bawah profesor. Atau sebaliknya, juga tidak selalu yang profesor itu pasti lebih hebat dari yang belum profesor. Professorship di sini memang inisiatifnya datang dari yang bersangkutan, tentunya setelah melalui proses-proses penilaian angka kredit sesuai aturan yang berlaku. Jika dianggap cukup memenuhi syarat, UGM akan mengusulkan kepada Mendiknas untuk memberikan jabatan Guru Besar pada yang bersangkutan. Jadi bukan “UGM  menobatkan seseorang menjadi profesor”. Dan kalau aku disebut dalam tulisan itu sebagai “bukan profesor biasa”…. hm… dimana ya letak tidak biasanya? (anyway, thanks, Tempo, atas “julukannya”). Aku menjalani prosedur seperti biasa. Kalau dari segi usia.. hm… itu juga bukan luar biasa, karena inisiatif datang dari aku sendiri (yang terlalu berani)…. kebetulan saja inisiatif ini datang pada usia relatif muda.

Begitulah, sekedar untuk meluruskan saja….. soalnya terus terang aku jadi agak kikuk, jika kemudian orang berharap terlalu banyak dari yang “bukan biasa” ini, yang padahal sebenarnya biasa-biasa saja. Terimakasih pengertiannya…. mohon maaf kalau ada kata-kata yang kurang pas…


Aksi

Information

7 responses

1 11 2009
Suratno

Saya kira, yang terjadi adalah, sampeyan telah mengamalkan “qul al-haq walau kaana murron” (katakanlah yg benar walau menyakitkan) “versi sampeyan”, dengan cara mengklarifikasi tulisan di tempo itu. Tapi…justru karena amalan & kejujuran itu yang bikin sampeyan memang bener-bener, menurut saya, layak mendapat gelar itu bu, “bukan profesor biasa”…

Salam hormat,
Sesama warga ngapak…. Suratno

Jawab:
makasih, mas… sukses selalu ya..

15 06 2009
muraigondrong

waduh ketinggalan kereta nih ..
lama ga nengok blog-nya bu yoellis … yg sekarang sdh jadi Prof …
Selamat ya bu … hehehehehe Bukan Prof Biasa …. this is not the ordinary prof but .. extraordinary prof …
Salut dan Selamat .. Semoga “mimpi2” yg lain dapat tercapai … as soon as …
Salam

Jawab:
Trims, Mas… bukannya dulu sering naik kereta hehe….

5 06 2009
astri rachmawati

Sama2x Ibuuu…..

31 05 2009
lutfichabib

Salam
Saya agak ketinggalan membaca tulisan terbaru di blog ini karena kesulitan akses internet di luar kota, untuk tulisan “Bukan Professor Biasa” sudah sesuai apa yang dituliskan oleh rekan dari TEMPO, karena dari pengamatan saya ( Sebagai seorang Mantan Jurnalis TV : Kontributor SCTV, TRANSTV dan Mahasiswa Prof. Zullies Ikawati, Apt. di UII ) sosok Profesor yang berbeda dengan profesor lain ini memang kutemui pada Prof. Zullies ini (Maaf bu, ini harus berimbang juga; karena ibu berbeda dengan profesor2 lain yang pernah saya temui baik dari disiplin ilmu Farmasi atau disiplin ilmu lain, jadi bagi Professor-Professor lain yang membaca tulisan di Tempo dan Blog pribadi ini bisa bergegas berubah ; lebih merakyat, jangan pernah enggan untuk mengajar mahasiswa-mahasiswa Junior di S1 sekalipun, serta mulailah berani menerima serta mengikuti perubahan sebagai kunci keberhasilan dalam pengabdiannya )
So Jangan pernah meragukan sosok Profesor Muda ini.
Salam Sukses Selalu Bu Zullies
Salam

Jawab:
Di Fak Farmasi UGM kayaknya semua profesor dapat jatah ngajar di S1 deh, Mas Lutfi… dan beliau-beliau tak masalah…

31 05 2009
mihacienda

wah web address saya kok gak keluar ya. saya tambahkan di sini saja http://mihacienda.wordpress.com

31 05 2009
mihacienda

membaca apa yang ada di ‘about me’, saya sepertinya setuju dengan apa yang dikatakan jurnalis tsb…hehe. sukses selalu. salam kenal bu

Jawab;
Salam kenal kembali, Mbak…

31 05 2009
astri rachmawati

Assalamu’alaikum WR WB….

Dear Bu Zullies, Insya Allah pilihan hidup menjadi professor seperti yang sudahh Ibu pilih tersebut merupakan jalan terbaik yang diberikan oleh Allah SWT untuk Ibu…Insya Allah, kami semua disini juga kan selaluu mendukung Ibu tuk semuanya….Lakukan yang terbaik yang bisa Ibu Lakukan, dengan segenap kemampuan, dengan cara apapun, di manapun, kapan pun, dan kepada siapa pun, sampai Ibu sudah tidak mampu lagi melakukannyaa…..Semoga Ilmu-nya sebaik-baik manfaat yaa Bu untuk Umat…Amienn….
Ganbatte dan Chaiyoooo selaluuu untuk Ibu Zullies….

Jawab:
duh, terharu deh atas dukungannya… trims, Dik…

Warmest Regard,
Astri Rachmawati, S.Farm., Apt
(Alumni Farmasi UGM angkatan 2003)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: