Wanita, mahluk multi tasking….

17 04 2009

kartiniDear kawan,

Menjelang hari Kartini, kali ini aku menulis sebuah posting agak berbau gender… hehe.. mohon para pria tidak protes.

Pagi tadi aku dijadwalkan bertemu dengan seorang wanita kuat (termasuk jajaran pimpinan univesitas)  untuk sebuah urusan. Tapi ternyata ada perubahan schedule, karena mendadak beliau harus pergi ke Jakarta, untuk menemani observasi kesehatan putranya, yang memang telah lama memiliki gangguan kesehatan. Putranya bahkan sudah dua kali menjalani transplantasi ginjal. Sekali dengan ginjal ibunya, sekali dengan ginjal donor.

Yah, terpikir olehku…. begitulah kodrat seorang ibu. Betapapun sibuk dan berat pekerjaannya, tetapi urusan anak, urusan rumah tangga, adalah tetap nomor satu. Dan itulah wanita. Kalau ditanya, mana yang lebih kuat, wanita atau pria? Mana yang lebih mandiri, wanita atau pria? Hehe…… para wanita pasti akan menjawab: WANITA.

Ya, wanita adalah mahluk yang kuat dan multi-tasking. Mereka bisa memainkan banyak peran dan terbiasa mengerjakan banyak hal dalam satu waktu. Bahkan simbah-simbah putri kita dulu yang bukan pekerja kantoran, mereka jitu dalam manajemen waktu. Mereka biasa mengerjakan beberapa pekerjaan secara simultan. Sambil merendam pakaian yang akan dicuci, mereka menyiapkan sarapan pagi. Setelah itu, menyuci, masak sambil disambi nyuapin anak, setrika baju, dll. Sudah gitu, masih harus mengurus suami pula. Dan mereka bekerja selama 24 jam. Opo ora hebat? Wanita yang bekerja pun harus berperan ganda. Jika Bapak-bapak pulang kantor bisa leyeh-leyeh, baca koran, nyruput kopi….  Ibu-ibu sepulang kantor masih harus ngurusin rumah… mandiin anak, menyiapkan makan malam, dll.

Wanita juga lebih mandiri. Terbukti lebih banyak janda-janda yang ditinggal wafat suaminya yang dapat bertahan hidup sendiri dan menghidupi anak-anaknya, ketimbang duda-duda yang bisa hidup sendiri merawat anaknya. Bener kan?

Aku sering ditanya, bagaimana caranya mengatur waktu dan kiat-kiat mencapai sukses hehe…. Aku jadi malu. Orang sering beranggapan bahwa aku tentu sangat sibuk bekerja sehingga bisa menjadi profesor dalam usia relatif muda. Ada yang tanya, kok Ibu sempat juga menerbitkan buku? Mengajar ? Penelitian? Membimbing skripsi atau thesis?  Ngeblog pula? Kapan tidurnya? Hehe…. Mungkin tidak percaya kalau aku bilang…. aku normal-normal saja, mengalir saja mengikuti aliran hidup…. masih sempat mengikuti berita infotainment, nonton Termehek-mehek, mainan Facebook atau ngeblog, jalan-jalan dengan keluarga, ngurusin tanaman di rumah, dll. Makanya kalau ditanya kiatnya apa, aku jadi bingung….

Mungkin kuncinya adalah manajemen waktu yang baik. Sebagai ibu tiga anak yang masih kecil-kecil, aku harus pandai-pandai bagi waktu. Dan bagaimanapun, tugas domestik rumah tangga, masih merupakan peran tradisional dan utama wanita. Aku sendiri merasakan, kalau urusan anak sakit, anak sekolah atau belajar mau ujian, sampai urusan baju anak atau urusan kebutuhan rumah, itu masih tugas seorang ibu. Ada satu contoh kecil, yaitu  ketika anakku yang kedua (waktu itu umur 4 tahun), masuk TK A (nol kecil). Waktu itu, dia bener-bener tidak mau ditinggal di sekolah, dan tidak mau diantar siapapun kecuali ibunya. Jadilah aku tiap pagi mengantar dan ikut “sit in” di TK, dan harus selalu di dalam kelas. Itu berlangsung hampir 3 bulan. Sementara bulan-bulan itu tugas pembimbingan skripsi juga lagi banyak, karena banyak yang mau ujian.. Jadilah aku nungguin anak di TK sambil koreksi skripsi, dan buka konsultasi skripsi di TK… Mahasiswa yang butuh konsultasi skripsi aku minta datang ke TK Masjid Kampus UGM hehe….

Terkait dengan manajemen waktu adalah membuat prioritas pekerjaan dan pendelegasian pekerjaan. Selain membuat list pekerjaan mana yang harus dikerjakan dulu dalam sehari, perlu juga melakukan pendelegasian pekerjaan. Ada pekerjaan-pekerjaan yang perlu pemikiran khusus sehingga harus dikerjakan sendiri, ada yang bisa dikerjakan oleh orang lain dimana kita yang mengarahkan. Untuk ini aku memang memiliki asisten. Alhamdulillah, terus terang aku sangat terbantu dengan asisten-asistenku ini. Pekerjaanku menjadi sangat accelerated. Di rumah, ada asisten rumah tangga alias PRT yang sudah kuanggap sebagai bagian dari keluarga. Aku sangat beruntung memilikinya yang bisa menghandle urusan rumah, terutama si kecil Dhika. Jadi dalam beberapa urusan domestik, aku mendelegasikan tugas pada mbak asisten RT-ku, misalnya untuk masak, antar Dhika sekolah, cuci-cuci dan bersih-bersih rumah. Tapi pekerjaan yang perlu pakai otak seperti menemani anak belajar dan mengoreksi hasil pekerjaannya, tentu aku lakukan sendiri. Juga pekerjaan yang menggunakan hati, seperti menemani anak-anak main, bercanda, belanja, atau apalah yang memerlukan sentuhan ibu, tentu harus kulakukan sendiri. Dan tentunya juga sentuhan untuk suami hehe……. tidak boleh didelegasikan pada siapa-siapa….

Bagaimana dengan di kantor? Alhamdulillah juga, aku memiliki asisten pribadi yang sangat membantu. Mungkin aku termasuk sedikit dosen di fakultas yang punya asisten/sekretaris pribadi yang aku hire secara khusus. Jadi untuk urusan administratif yang nota bene tidak terlalu banyak membutuhkan ilmu khusus kefarmasian, bisa dikerjakan oleh mbak asistenku, yang selain cekatan juga kreatif. Aku sangat beruntung memilikinya. Ia bahkan bisa memberi banyak ide-ide praktis yang kadang aku tidak sempat memikirkannya. Filing surat-surat penting dan nilai mahasiswa, urusan keuangan penelitian, urusan fotocopy & dan penggandaan proposal, urusan tetek bengek seperti pesan tiket kalau aku mau keluar kota/negeri, dll., sampai pengurusan kenaikan pangkat, aku banyak dibantu olehnya. Jadi aku bisa menghemat waktuku untuk memikirkan hal-hal yang lebih ilmiah atau bersifat kebijakan hehe….. Bikin proposal riset, menulis paper atau buku, meng-update bahan kuliah, baca/koreksi thesis atau skripsi, dll. Apalagi urusanku di luar “pekerjaan pribadi” juga lumayan padat…. Menjadi Kepala Lab, Asisten Wakil Dekan III, Ketua PIOGAMA, Pengelola Magister Farmasi Klinik, Ketua Task Force Kegiatan Pengembangan Fakultas (DIPA WCRU 2009), Anggota Tim Pembangunan RS UGM, …….. kebayang kan kalau gak punya asisten?

Sudah begitu saja kadang waktu rasanya tidak cukup. Aku biasa berangkat ke kantor pagi-pagi (sekalian antar anak-anak sekolah) dan pulang lewat jam kantor (sekalian jemput anak pulang sekolah). Kadang di rumah ada yang masih harus dikerjakan, dan itu aku usahakan setelah urusan rumah selesai. Biasanya malam setelah anak-anak tidur.

Hal lain yang terkait dengan manajemen waktu adalah pemanfaatan teknologi informasi, walaupun aku masih agak-agak gaptek.  Teknologi kan dibuat untuk mempermudah tugas manusia? Aku termasuk yang tidak bisa lepas dari laptop, dan kalau bisa selalu online. Jadi kalau lagi ada waktu luang, dan kebetulan ada inspirasi menulis, aku bisa manfaatkan waktu untuk menulis atau mencicil tulisan. Yahoo Messenger juga jadi alat komunikasi efektif. Jika aku sedang ada di luar kantor atau di luar kota atau bahkan di luar negeri, aku tetap bisa berkomunikasi dengan teman dosen maupun staff untuk urusan pekerjaan, bertukar file, koreksi draft surat-surat, dll.  Dengan demikian dua-tiga urusan dapat dikerjakan dalam waktu yang bersamaan. Sangat efisien dan accelerated!

Yah, jadi begitulah…. gak ada kiat-kiat yang istimewa bukan?

Kembali ke judul posting ini….. kayaknya itulah kelebihan wanita. Multi-tasking

Jadi jangan sepelekan wanita …..


Aksi

Information

4 responses

21 03 2013
Yusuf

jadi terinspirasi, terima kasih….

19 04 2009
daril

inspiring sekali bu tulisannya, kadang berkonsentrasi multitasking itu yang susah. yang saya rasakan, meskipun kerjaan sudah didelegasikan eh tapi koq ya masih kepikiran.. jadi seakan2 otak seperti webmail yang penuh gr2 spam
tapi setuju dengan ibu, “prioritas” adalah kata kuncinya..
nasehat seorang teman yang juga berkesan “iso jalaran karno kepekso” bukan jalaran tresno he he he…

Jawab:
yups… setuju, bisa karena biasa dan terpaksa hehe…….

19 04 2009
fina

budhe, kok nulisnya banyak banget.. aku jadi pusing.. nanti kalo besar aku juga mau nulis banyaaak… kayak budhe

18 04 2009
Ridho

banyak yang bilang wanita itu penopang bagi kehidupan pria. yang namanya penopang mau ga mau adalah sesuatu yang lebih kuat. jadi setuju deh ama bu zullies hehehe

Jawab:
hehehe juga….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: