Menulis itu (tidak) gampang….

3 04 2009

 

Dear teman,

 

Malam mulai larut. Aku menengok blog-ku yang beberapa hari ini terlantar tanpa tulisan baru semenjak aku pulang dari negeri orang. Kasihaan… Wah, blog sekarang kalah dengan Face book…. Invitation untuk gabung dalam Face book datang setiap hari. Untuk Face book aku masih sempat menengok dan menulis sepatah dua patah…. Tapi blog-ku jadi merana..

Ada dua penyebabnya:

1. Tidak sempat menulis

Seminggu ditinggal, pekerjaan langsung bertumpuk. Beberapa draft thesis S2 menanti dibaca, bikin laporan benchmarking dari Belanda kemarin, review proposal penelitian, persiapan kegiatan WCRU Fakultas, dll, dll. Di rumah, anak-anak mulai ujian mid semester, perlu perhatian lebih. Maklumlah, masih belum bisa bertanggung-jawab atas dirinya sendiri. Belajar harus ditemani ibu…. Belum lagi si bungsu yang sudah lama ditinggal… Aku tak ingin kehilangan kedekatanku dengannya, dan aku sendiri yang punya kepentingan untuk menemani dia bermain…..  (Ah maafkan ibu, Nak…)

2. Tidak punya ide menulis

Dengan kepadatan acara tadi, rasanya ide menulis pun menguap… di otak sudah berderet hal yang perlu dipikir duluan…..

 

Tapi….

Aku merasa harus menulis, karena sudah lama tak ada tulisan baru. Pasti sudah banyak yang menanti…. hehe… ge-er banget. Jadilah aku menulis posting ini tentang pengalaman menulis…..

 

Menulis apa yang paling gampang?

Paling gampang adalah menulis pengalaman sendiri. Itu sama seperti kita bercerita secara lisan. Masalahnya tinggal pemilihan kata, penyusunan kalimat biar terbaca indah, juga keruntutan tulisan. Seorang pembaca blog ini pernah menanyakan, ibu kok kalau nulis begitu runtut, enak dibaca… (hehe.. jadi ge-er lagi). Apa langsung ditulis di blog, atau ditulis di tempat lain dulu? Yah, biasanya kalau ada inspirasi menulis, aku ketik dulu tulisanku di MS word. Setelah jadi dibaca lagi, dan edit sana-sini jika perlu, baru aku copy dan paste ke Blog. Itupun nanti masih bisa disunting lagi jika dianggap masih kurang sesuai.

Oya, walaupun menulis sekedar cerita, akurasi data cukup penting. Contohnya ketika aku menuliskan catatan perjalananku selama ke Groningen kemaren,  maka aku perlu menambah bacaan atau informasi lain tentang Groningen untuk melengkapi ceritaku, misalnya berapa jumlah penduduknya, berapa persis temperaturnya, dll. Bahkan penulis novel pun, yang nampaknya “hanya” cerita imajinasi, seringkali perlu survai dulu mengenai tempat di mana kisah itu di-setting, supaya data yang melengkapi cerita itu akurat.

 

Menulis apa yang paling gampang kedua?

Buatku, menulis tentang ilmu yang pernah aku pelajari itu paling gampang berikutnya. Kalau untuk aku, tentunya aku merasa gampang kalau menulis tentang obat dan pengobatan. Yang menjadi critical point-nya di sini adalah bagaimana menuliskan sesuatu itu sesuai dengan audiens pembacanya. Blog ini aku tetapkan sebagai blog pribadi dengan segmen pembaca yang luas, bukan blog khusus untuk profesi tertentu. Jadi aku perlu mengolah ilmu pengobatan  yang ilmiah itu menjadi suatu tulisan populer, tanpa meninggalkan substansi yang ingin disampaikan. Pemilihan kata dan cara penyampaian menjadi penting. Jangan lupa juga dengan tata-bahasa. Bagaimana dengan gaya bahasa? Karena ini blog-ku sendiri dengan tulisan suka-suka aku, aku memilih gaya bahasa santai dan sesekali diselipi humor (itupun kalau ada yang merasa lucu hehe….).  Tentu tidak akan sama dengan menulis untuk koran misalnya. Walaupun bahasanya ilmiah populer, sebaiknya tidak banyak haha-hihi-nya. Aku sendiri sudah lama tidak nulis di koran, keenakan nulis di blog saja, santai…. dan pasti diterbitkan hehe…

 

Menulis apa yang lebih sulit?

Agak lebih sulit lagi adalah menulis opini. Untuk menulis suatu opini, seseorang perlu wawasan yang luas, sehingga opininya itu cukup masuk akal dan berimbang. Ini tidak gampang. Seseorang juga perlu cukup responsif dan kritis terhadap suatu keadaan yang berkembang di masyarakat. Mungkin tidak sangat banyak orang yang bisa demikian. Aku termasuk yang tidak bisa.

 

Bagaimana kalau menulis cerpen atau novel?

Wah..wah… kalau yang ini butuh bakat tersendiri. Bakat mengkhayal, berimajinasi, dan menuangkannya dalam tulisan. Dulu sekali waktu SMA aku pernah menulis cerpen….. tapi cuma untuk dibaca sendiri saja hehe…. terinspirasi dengan kisah cinta semasa SMA. Ternyata susah betul menulis cerpen atau novel kalau kita memang tidak berbakat.

 

Bagaimana kalau menulis buku teks?

Menulis buku teks atau buku ajar itu rasanya lebih gampang daripada menulis novel. Kalau yang ini aku punya pengalamannya. Pertama, kita perlu bikin kerangka dulu apa yang akan kita tulis. Bab-nya apa saja, sub bab-nya apa. Lalu mengumpulkan sumber-sumber yang relevan, yang sebaiknya berasal dari literatur primer, yaitu paper-paper pada jurnal. Yang ini mungkin mirip kalau bikin skripsi atau thesis atau makalah. Tapi sangat diutamakan kita tidak sekedar menyalin atau menyadur, apalagi dari literatur tersier (baca: buku teks lain). Di sini diperlukan kemampuan mengkompilasi dan menyusun informasi dari berbagai sumber literatur menjadi suatu bacaan yang lengkap tapi runtut. Kalau sedang “in”… wah, asyik sekali menyelami berbagai bacaan dan menuliskannya kembali.

 

Bagaimana menulis buku ilmiah populer?

Ini hampir sama dengan menulis buku teks, tapi pilihan katanya mesti menggunakan bahasa orang awam.  Literatur dan akurasi data tentu sangat penting, tapi cara penulisannya tidak sama dengan buku teks yang sering harus men-sitasi referensi yang relevan. Untuk yang ini, pengalamanku adalah menulis bersama bu Hartati dari Yunani mengenai Bahaya Alkohol, dari berbagai aspeknya. Tapi yang ini belum terbit nih…. masih menanti kepastian Penerbit.

Oya,…. supaya suatu buku bisa laris di pasar, tentunya kita harus pandai-pandai memilih topik apa yang ceruk pasarnya masih dalam, alias belum banyak buku sejenis……

 

Di bagian sini aku akan sedikit berbagi mengenai pengalaman menerbitkan buku berdasarkan pengalaman pribadi. Ketika aku menyusun buku pertamaku berjudul “ Pengantar Farmakologi Molekuler” tahun 2004, aku sendiri yang jadi produsernya. Maksudnya mencetak dengan biaya sendiri, bukan melalui suatu Penerbit profesional. Pertimbangannya, pasarnya sudah jelas, yaitu mahasiswa sendiri. Dari segi keuntungan finansial, bisa lebih besar karena harga cetak dengan harga jual buku bisa selisih agak jauh. Tapi kelemahannya dengan memproduseri sendiri adalah jangkauan distribusinya sangat terbatas. Kalau kita tidak punya tenaga marketing ya bakalan sulit untuk menjangkau pasar yang luas.

Bagaimana jika kita menjual tulisan kita pada penerbit ?

Tahun 2006, setelah perbaikan di sana-sini, aku tawarkan buku tadi ke Penerbit, waktu itu adalah Gadjah Mada University Press. Jika kita tawarkan tulisan ke Penerbit, kita memang tidak perlu modal untuk pencetakan. Tapi secara finansial biasanya kita tidak banyak mendapat lebih. Dapatnya hanya royalti sesuai kesepakatan, yang berbeda antar penerbit satu dengan penerbit lainnya. Jika buku kita laris, dan sering dicetak ulang, memang hasilnya bisa lebih banyak. Tapi jika tidak, ya tidak dapat banyak. Kurang sepadan dengan capeknya menulis hehe….. Tapi keuntungannya, jalur distribusinya luas. Dalam hal ini kita mendapat keuntungan nama, menjadi lebih dikenal, karena pasarnya lebih luas. Paling tidak ada rasa tersendiri ketika masuk ke Toko Buku besar seperti Gramedia atau Toga Mas, buku tulisan kita terpampang di sana hehe…… bisa dipamerin ke anak-anak… “ Ini lho, Nak…. buku tulisan ibu…”.  Buku keduaku “Farmakoterapi Penyakit SIstem Pernafasan” aku perlakukan sama dan diterbitkan oleh Penerbit Adipura.

 

Wah, akhirnya lumayan panjang juga tulisan ini, setelah beberapa hari macet idenya. Sudah dulu ya, masih banyak yang harus dikerjakan. Dan satu PR menulisku yang belum kelar-kelar adalah menulis Pidato Pengukuhan Guru Besar…   Aduuh, yang ini benar-benar tidak gampang……. kayaknya perlu bertapa di gua Selarong dulu untuk cari inspirasi hehe….

 

Buat yang baru pemula menulis, blog merupakan sarana latihan yang baik….

Jadi cobalah….. komentar baik atau buruk itu biasa, rambut sama hitam, tapi isi kepala bisa beda hehe……

 

Salam..

 

Iklan

Aksi

Information

5 responses

5 05 2009
tri

numpang baca-baca dulu…. komentarnya entar….

2 05 2009
sarmoko

wow..Jadi termotivasi untuk nulis nih bu ..

7 04 2009
fitri

memang benat itu bu,,menulis memang gak gampang…
tapi ayo bu tetap semangat tulisan ibu selalu dinantikan,,=)
oya bu saya boleh bertanya gak??
kira-kira obat terapi hormon saat pramenopause apa ya??
soalnya orangtua saya sepertinya mengalami gejala menopause..
ibu saya diberi resep obat diane-35 tetapi saat saya cari info-info tentang diane-35 sepertinya obat tersebut kurang baik..
kalo obat herbalnya kira-kira ada ya nggak bu??
kalau dibanyakin makan kedelai gmn bu?? bagus tidak,,
tolong dijawab ya bu..

Jawab:
Dear Fitri,
Diane-35 adalah kombinasi hormon estrogen dan progestin, yang bisa digunakan untuk kontrasepsi maupun mengatasi gejala menopause. Pada pengatasan menopause, istilahnya adalah hormon replacement therapy (HRT), yaitu menggantikan hormon yang naturally turun pada saat menopause. Karena itu adlh hormon, tentu ada pengaruhnya dalam tubuh, baik efek buruk maupun jelek. Banyak wanita memasuki menopause tanpa harus menggunakan HRT ini. Kalau mau aman, bisa digunakan herbal yang mengandung phytoestrogen. Kacang-kacangan, temasuk kedelai, termasuk yang banyak mengandung fitoestrogen. Bisa dibanyakin makannya.
Ada juga bentuk-bentuk fitoestrogen yang sudah dalam bentuk isolatnya, mungkin bisa dicoba juga. Demikian, semoga bermanfaat
.

4 04 2009
Ridho

saya juga lagi belajar nulis di blog. kebanyakan sih pengalam pribadi aja yang saya tulis, tapi kebanyakan ketika pas nulis saya ga tahan. udah ada draftnya di otak tapi ketika di transfer dalam bentuk tulisan kok kayak lammaaaaaaaaaaaaaaa banget. terus ceritanya jadi ga runtut.

3 04 2009
lutfi

akhirnya muncul tulisan yang ditunggu-tunggu, banyak yang bertanya kesaya, “kok bu zullies nggak posting tulisan lagi ya mas…”
ini sudah ada jawabannya…
wah terima kasih sekali postingan tips trik menulis…
semoga bisa memberi inspirasi bagi pembaca.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: