Puyer, si kambing hitam

20 02 2009

puyer

Hari Jumat ini aku working at home…. sejak kemaren Dhika demam. Pagi ini sudah mending, tapi masih sedikit anget dan lesu. Aku tak tega meninggalkannya. Untungnya hari ini tidak ada aktivitas sangat penting, cuma kuliah saja nanti sore jam 15.30an.

Ketika aku bilang pada suami, dia bilang,” Lha… adik lagi mikirin apa?”. Menurutnya, demam Dhika ada hubungannya dengan pikiran orangtuanya. Kalau pikiran ibunya lagi kusut, anaknya bisa jadi demam…..

Hm.. aku mikir apa ya? Kayaknya sih tidak ada yang terlalu memberati. Yah, tapi memang aku harus lebih slow lagi…… santai. Memang ada beberapa hal harus diselesaikan dan disiapkan. Anyway, itu sudah konsekwensinya orang kerja, jadi nggak papa.

Tapi aku jadi trenyuh ….. Dhika kelihatan happy sekali aku di rumah. Aku dipeluknya terus nggak mau lepas. Maklum, badan lagi gak enak, mungkin, jadi manja. Sekarang dia lagi tidur, jadi aku bisa nulis-nulis sedikit, dan menge-mail dan YM-an kesana kemari untuk urusan pekerjaan. Tadi aku memberinya syrup parasetamol dan syrup untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Nggak dikasih puyer ? hehe…..

Aku jadi ingat permintaan seorang kawan agar aku membahas tentang masalah puyer yang lagi heboh. Sebenernya sih sudah banyak yang membahas itu di banyak media, termasuk blog Apotekkita yang selalu menyampaikan pikiran-pikiran kritisnya. Tapi tak apalah, kali ini dengan versiku sendiri.

Puyer, ini istilah umum di masyarakat untuk bentuk sediaan serbuk obat dalam bungkusan-bungkusan kecil. Istilah dalam bidang farmasi adalah pulveres, yaitu serbuk bagi, yang dibagi-bagi dalam bungkusan-bungkusan. Aku belajar membuat sediaan pulveres di semester 3. Tentu ada tatacara pembuatannya, untuk menjamin obatnya aman. Kontroversi penggunaan puyer timbul karena kekhawatiran bahwa puyer tidak steril, berisiko dosis tidak tepat, reaksi campuran bermacam-macam obat, tidak sesuai dengan RUD (rational use of drugs) dan tidak sesuai dengan cara pembuatan obat yang baik (CPOB).

Begini kawan,….

Sediaan pulveres/puyer ini memang memungkinkan pencampuran berbagai obat dalam satu paket. Bentuk sediaan ini umumnya digunakan untuk anak-anak, yang masih sulit untuk menelan tablet atau kapsul. Mengapa dijadikan satu? Ini bertujuan untuk kepraktisan minum. Anak kecil kan susah minum obat, apalagi kalau obatnya macam-macam. Jadi lebih praktis dijadikan satu aja dalam bentuk puyer. Tetapi, bolehkah semua obat dicampur jadi satu dalam bentuk puyer ?

Tentu tidak. Pertama, masalah teknis pencampuran. Tidak semua obat  bisa kompatibel jika dijadikan satu paket. Untuk itu kami farmasis sudah mempelajari tentang inkompatibilitas obat-obat. Ada obat yang jika dicampurkan bersama membuat sediaannya jadi lembek karena adanya interaksi antar bahan. Atau warnanya berubah, dll. Jadi tentunya tidak sembarang obat bisa dicampur jadi satu puyer.

Yang kedua, masalah rasionalitas penggunaan. Nah, kalau yang ini…. memang perlu ada interaksi yang baik antara dokter sebagai penulis resep dan apoteker sebagai peracik obatnya (dispenser). Contoh gampang komposisi yang kurang rasional misalnya adalah seperti ini: antibiotika dicampur dengan obat turun panas. Mengapa? Antibiotika harus diminum sampai habis, misalnya 5 hari. Sedangkan obat turun panas cukup diminum jika perlu saja. Nah, kalau mereka digabung jadi satu puyer, maka bisa jadi obat turun panas akan diminum juga selama 5 hari barengan dengan antibiotika. Tentu ini tidak tepat. Disamping tidak diperlukan lagi, pemberian obat berlebihan juga meningkatkan risiko terjadinya efek samping atau toksisitas.

Untuk hal semacam ini, mestinya apoteker bisa menyampaikan ke pada penulis resep untuk bisa mengubah komposisi resepnya.Tinggal masalahnya, dokternya mau tidak. Apotekernya ada di tempat tidak? Apotekernya melakukan screening resep tidak? Ini baru satu contoh lho… mudah-mudahan tidak banyak kejadiannya.

Atau…. misalnya ada resep yang meminta apoteker membuat puyer dari obat-obat yang mestinya sustained-release, atau enteric coated. Obat sustained-release artinya obat tersebut sudah didisain oleh pabriknya untuk dilepaskan pelan-pelan dalam tubuh. Enteric-coated adalah sediaan yang disalut dan didisain sedemikian supaya ia nanti akan melepaskan obatnya di usus, bukan di lambung, karena mungkin obatnya bersifat mengiritasi lambung. Nah, obat bentuk kayak gini kok supaya digerus jadi puyer….. ya kan nggak bener, karena tujuan disain obat tadi tidak tercapai. Bisa jadi obat yang mestinya tidak terurai di lambung, karena digerus malah jadi mengiritasi lambung. Atau obat yang mestinya dilepas pelan-pelan jadi terlalu cepat dan kadarnya melebihi seharusnya. Nah, hal seperti ini pun mestinya bisa terbuka untuk diskusi bagi dokter penulis resep dan apoteker peracik obatnya.

Nah, yang ketiga tadi masalah kebersihan. Apoteker tentu sudah diajari untuk menjaga kebersihan mortir dan stamper untuk membuat puyer/pulveres agar tidak saling mengkontaminasi. Kalau perlu, satu apotek harus memiliki sekian banyak mortir dan stamper sesuai dengan load apoteknya. Jadi kalau masih ada puyer yang terkontaminasi, karena mortirnya gak pernah dibersihkan sebelum digunakan untuk meracik obat lain, itu pasti yang menyiapkan adalah oknum. Oknum farmasis atau asisten apoteker yang tidak menghargai profesinya sendiri. Kalau Anda mensinyalir ada apotek yang demikian, yang tinggal pindah ke apotek lain saja. Gitu aja kok repot…..

Yang keempat, masalah dosis yang tidak tepat. Apoteker juga sudah diajari untuk membagi serbuk dalam bungkusan-bungkusan supaya dosisnya seragam. Ada tata caranya. Jika itu obat keras, harus dibagi dengan penimbangan, dst. Jadi mestinya ini juga tidak perlu dikuatirkan.

Jadi menurut saya, kontroversi ini akarnya adalah human error. Puyer menjadi kambing hitam dari tenaga kesehatan yang tidak kompeten dan bertanggung-jawab dalam menjalankan tuganya. Puyernya sendiri tidak salah, selama diresepkan secara rasional, disiapkan dengan bersih dan penimbangan yang tepat. Jika katanya di banyak negara sudah mulai ditinggalkan, mungkin karena ada bentuk sediaan lain yang lebih pas untuk anak-anak. Misalnya untuk asma, bentuk inhaler lebih direkomendasikan. Tapi biasanya memang harganya lebih mahal.

Aku sendiri lebih sering memberikan bentuk sediaan sirup untuk anak-anak yang tersedia dalam bentuk tunggalnya, kecuali jika tidak tersedia di pasaran. Memang agak ribet, karena kadang harus memberikan beberapa jenis sirup secara terpisah. Tetapi menurutku lebih tepat dan sesuai keadaan si sakit. Jika suatu saat dokter meresepkan puyer untuk anakku, biasanya aku selalu cek resepnya dulu. Jika menurutku cukup pas komposisinya ya aku belikan, tapi kalau tidak, yah….. aku akan edit komposisinya sesuai kebutuhan.

Demikian lah…

Wah, Dhika sudah bangun nih…. sudah dulu ya.

Mohon doanya semoga cepet sembuh.

Iklan

Aksi

Information

3 responses

9 05 2009
hermy

wah bu, opini ibu tentang puyer ini cukup membantu saya. soalnya saya dapet tugas debat dan jadi kelompok kontra..penjelasan ibu cukup membantu saya..makasih ya bu..( dah lama gak ketemu ibu..saya mahasiswi profesi ugm bu, lagi pkpa di bethesda) hehee…

Jawab:
Halo, Hermy… selamat PKPK, semoga sukses

5 03 2009
Eny wahyuningsih

Saya bantu doa ya bu’..
semoga anaknya cepet sembuh..
Saya setuju dengan pendapat ibu, menurut saya bukan puyer-nya yang harus di kambing hitamkan..sumber human error-nya yang harus dibenahi..
Sukses selalu buat ibu’…
Bu saya suka sekali baca blog ini..terus di isi dengan berita yang up to date ya bu.. ^_^

Jawab;
alhamdulillah, sudah sembuh kok…. kan itu postingan sudah agak lama.. hehe

20 02 2009
charol

nama saya charol
saya sangat setuju dengan bu zullies
tetangga saya sampai heboh,bingung, takut mengenai pemberitaan tersebut
seolah2 sebagai apoteker kita hanya manut dokter dan tidak tahu apa2 tentang obat dan inkompnya.
padahal kita dapat komplain pada dokter jika ada inkomp
saya setuju jika tulisan mengenai puyer dimasukkan pada majalah piogama
met knalan.thx

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: