Farmasis klinik,… riwayatmu dulu dan eksistensimu sekarang

23 01 2009

Belum lagi sempat aku menulis sedikit pandanganku terhadap tulisan pada Blog mas Dani yang berjudul “Clinical Pharmacist make economic sense”, sudah muncul lagi tulisan berjudul “Siapa Bilang Apoteker Tidak Diperlukan?”, yang menurutku saling berkaitan…. (salut deh, Mas…  konsisten ber-posting. Aku sendiri belakangan agak kendor nih…. Maklum masih belajaran…).

Tulisan pertama agak khusus membicarakan tentang farmasis klinik. Mungkin buat temen-temen netter yang masih awam dengan istilah farmasis klinik, sedikit deh aku ceritakan. Istilah farmasi klinik mulai muncul di tahun 1960-an di Amerika, yaitu suatu penekanan pada fungsi apoteker yang bekerja langsung bersentuhan dengan pasien. Menurut ibu Koda-Kimble (salah satu perintis “gerakan” farmasi klinik, sekarang menjadi dekan pada School of Pharmacy University of California di San Francisco), praktek apoteker di sana pada saat itu (1960-an) bersifat stagnan. Pelayanan kesehatan sangat berpusat pada dokter. Kontak apoteker dengan pasien sangat minimal. Ada istilah yang digunakan beliau untuk menggambarkan lulusan farmasi pada saat itu yaitu : Over-educated, Underutilized, Apathetic, Isolated, Inferiority complex. Itu keadaan di Amerika tahun 1960-an. Lho…kok mirip seperti keadaan di Indonesia sekarang ya……. hehe.. pliss deh!… Mudah-mudahan enggak lah. Karenanya, ibu Koda-Kimble dan sejawatnya memunculkan suatu wacana baru untuk pekerjaan kefarmasian. Upaya-upaya awal yang akan dilakukan adalah:

u Focus on the Patient

Pharmaceutical centers

Patient record systems

OTC counter-prescribing

Counseling on prescription drugs

Emergence of continuing education

Therapeutic approach

Pathophysiology

Symptom management

Tapi saat itu wacana itu juga tidak mudah diterima. Mengapa? Belum ada role model!

Tapi beliau tidak mudah menyerah. Pada tahun 1965, beliau cs mengusulkan suatu proposal ke pimpinan rumah sakit sbb:

  • School will establish a staff “Drug Stations” on the hospital wards

Will relieve nurses of certain drug-related duties

Will make it possible for the physician, if he so wishes, to discuss drug usage with the pharmacist at the time the decision is being made

Will provide students with experience in applying classroom knowledge to practical aspects of drug usage in therapeutic situations

Seperti apa kesan-kesan yang muncul  ketika program ini pertama kali dilaksanakan?

Bu Koda Kimble menggambarkan sebagai berikut :

Physician confusion

Pharmacist presence on the wards

Pharmacist intrusion on drug prescribing

Dokter-dokter agak bingung, “ lho… kok apoteker masuk ke bangsal-bangsal?” Kok apoteker ikut campur urusan peresepan obat ya ?”

Nurse enthusiasm

Quick access to medicines

Pharmacist drug expertise

Tapi para perawat malah senang dan antusias, karena mereka bisa lebih cepat mendapatkan pelayanan obat, sudah siap pakai lagi, karena disiapkan oleh apotekernya. Perawat juga merasakan bahwa urusan obat memang keahliannya apoteker, jadi mereka bisa lebih focus pada perawatan pasien.

Pharmacist exhaustion

Long hours, rapidly expanding roles, new knowledge

“Continual mental pressure to perform at a very high level at all times.”

Tapi apotekernya lumayan kecapekan….. waktu kerjanya jadi lebih lama, perannya jadi bertambah dan berubah dengan cepat, perlu pengetahuan baru. Selain itu juga terdapat semacam tekanan mental juga, karena mereka mesti berada pada kondisi prima dalam pelayanan. Mesti siap setiap kali dibutuhkan.

Visitors dubious

Impressed

An “ivory tower” phenomenon

Pasien atau pengunjung masih ragu-ragu, tapi mereka terkesan. Apoteker yang semula seperti ada di “menara gading” kini mulai turun ke bumi……

Singkat cerita, setelah melalui perjuangan yang berdarah-darah, maka kini profesi apoteker mendapat tempat yang sangat layak di sana. Dan “gerakan” farmasi klinik ini makin menyebar luas ke berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Sayangnya, nampaknya wacana farmasi klinik ini belum banyak dipahami, apalagi diterima, oleh sejawat dokter. Mereka memandang apoteker tidak perlu ikut-ikut campur menemui pasien. Apalagi turut dalam proses terapi. Persis deh..kayak dokter-dokter jaman dulu di Amerika hehe…… (jadi kayaknya kita nih hidup seperti keadaan di AS 50-an tahun yang lalu…). Tapi tentunya apoteker juga harus introspeksi….   jangan berharap dokter bisa segera menerima keberadaan apoteker, kalau performa apoteker sendiri masih meragukan….. jangan-jangan apotekernya sendiri  juga belum siap berubah dan mengambil peran baru yang lebih signifikan dalam pelayanan pada pasien. Haloo, bagaimana nih sejawat ??

Nah, seperti yang sering disebut-sebut, maka filosofi pelayanan farmasi klinik adalah “pharmaceutical care” (asuhan kefarmasian). Care itu bisa berarti peduli….. artinya, seorang apoteker mesti  peduli dan penuh empati pada pasien, sehingga pasien bisa merasakan manfaat keberadaannya. Asuhan kefarmasian ini sebenarnya bisa dilaksanakan di mana-mana, di RS, apotek, atau di tempat lain. Untuk hal ini, aku punya sedikit cerita.

Kemaren, seorang mahasiswa bimbingan thesisku, bu Nurjanah namanya, datang menemuiku untuk konsultasi thesisnya. Ia mahasiswa S2 Magister Farmasi Klinik berasal dari Sulawesi Tenggara. Oya, thesisnya mengambil topik Kajian penggunaan obat antihipertensi pada pasien jantung di sebuah RS di Kendari. Waktu konsultasi thesis, sempatlah dia ngobrol tentang pengalamannya selama mengerjakan thesis. Katanya, gara-gara dia mengerjakan thesisnya, ia malah sekarang jadi laris dicari pasien untuk konsultasi obat hehe…. Ceritanya, dalam mengambil data, ia langsung mewawancarai pasien. Suatu kali ada pasien subyek penelitiannya yang mengeluhkan bahwa setelah mengkonsumsi sekian macam obat antihipertensi, kok sekarang “ayam jagonya” jadi ngga bisa berkokok lagi, alias impoten. Pasien itu menduga bahwa ada salah satu obat (kebetulan itu adalah spironolakton, suatu diuretik) yang menyebabkan impotensi tadi, dan ia pun berkonsultasi pada apoteker kita tadi, bagaimana jika ia menghentikan obat tersebut, boleh apa tidak. Bu Nurjanah lalu memeriksa macam obat-obat yang diterima pasien, dan ternyata memang ada sejenis antihipertensi golongan beta bloker yang memang sering dilaporkan menyebabkan impotensi. Beliau menyarankan kepada pasien utk berkonsultasi ke dokter, bagaimana jika mengurangi dosis obat tersebut. Apa yang terjadi ? Seminggu kemudian, sang pasien menemui ibu kita tadi dengan sumringah, dan katanya, “.. Terimakasih, bu…. saya sekarang sudah hidup lagi…” hehe……

Aku rasa, ini adalah salah satu bentuk pelayanan kefarmasian yang bisa bermanfaat bagi pasien. Aku turut bangga, teman-teman sejawat sudah mulai banyak menggunakan ilmunya untuk membantu pasien, yang pada gilirannya akan memberikan kesan positif terhadap keberadaan apoteker. Dan apoteker di Sulawesi Tenggara bolehlah dicontoh semangatnya, katanya saat ini sedang memperjuangkan untuk mendapatkan insentif dari Gubenur dengan besaran yang sama dengan dokter dan dokter gigi, tentunya setelah kinerjanya memberikan asuhan kerfarmasian dirasakan gunanya. Dan satu hal lagi… Kepala Dinas Kesehatannya apoteker loo…!

Jadi, siapa bilang apoteker tidak diperlukan lagi ?

Kaitannya dengan peranan farmasis klinik dalam menghemat biaya pengobatan pasien, aku juga punya cerita lain. Tapi kali ini berasal dari penelitian sejawat, yaitu bu Fita. Penelitiannya menjumpai bahwa ternyata banyak “unnecessary drug therapy” yang dijumpai di RS. Oya, untuk menentukan bahwa suatu obat benar-benar diperlukan pasien atau tidak, beliau bekerja sama dengan klinisi (dokter) senior untuk meng-assess, yaitu dengan mengamati kondisi medis riil pasien dan mengecek obat-obatan yang digunakan. Dan begitulah…. ternyata banyak obat yang diresepkan yang sebenernya tidak benar-benar diperlukan, dan jika itu dikonversi ke biaya, tenyata banyak biaya-biaya pemborosan yang mungkin memberatkan pasien. Kalau saja farmasi kliniknya sudah aktif, dokternya mau bekerja sama dengan apoteker dalam proses  terapi pasien, mungkin akan banyak biaya-biaya yang bisa dihemat. That’s still a dream…… I hope it will come true….

O,ya… paragraf bagian sini adalah iklan hehe…… Sebagai pengelola program Magister Farmasi Klinik UGM, kami mengundang sejawat untuk sama-sama menambah bekal ilmu dan meningkatkan ke-pede-an dengan belajar di Magister Farmasi Klinik UGM, supaya nanti bisa lebih pede dan profesional dalam menjalankan pekerjaan kefarmasiannya. Farmasis klinik, gitu loh…… !!  Keterangan lebih lanjut, klik disini hehe…..

Dah dulu yaaa……


Aksi

Information

12 responses

20 12 2015
17 03 2014
Frida Yuniar

S2 Farmasi klinik apa boleh juga diambil oleh profesi selain apoteker/sarjana farmasi bu…., saya dari kedokteran gigi tertarik belajar farmasi klinik bu…

jawab:
Wah, menarik juga dokter gigi tertarik farmasi klinik… tapi kayaknay sih ngga bisa, Mbak.. karena ini terkait dengan kewenangan profesi … kalau sekedar belajar tidak apa-apa, tapi ANda tidak punya kewenangan sebagai apoteker.

8 10 2013
Beyz Mondster Gates

bu, saya mahasiswa farmasi baru baru.. saya galau…sering baca dan dengar d media.. kalau “dokter pun bisa memberikan obat tanpa apoteker” sebenarnya itu benar ga bu ?
lalu gimana nasib apoteker kedepannya.. ? kalau semua sudah di handle oleh dokter,,,? saya juga sedih d indonesia keberadaan apoteker masih kurang dihargai..

Jawab:
Kenapa tidak dibalik saja… “apoteker pun bisa memberikan obat tanpa dokter” hehe….
Yah, sebaiknya tidak begitu.. dokter dan apoteker adalah satu tim kesehatan..
Jangan terlalu pesimis, apoteker sudah semakin eksis di bidang kesehatan… pelan tapi pasti… Bersama kita bisa !!

14 09 2012
asti

Enaknya kalo memang apoteker bs dpt itu, saya kpengen bgt bs spt temen ini yg bu fita itu bs memantau obat2 yg bnr2 dudukan pasien tp sayangnya dokter dtmpt saya msh blm bs mjd partner sm apotekernya…
Kpengen bgt s2 farmasi klinik tp saya blm pede dan merasa blm mampu….

31 03 2012
bernadi Ssi.Apt.

Salam Kenal Ibu, Tulisan yang menarik dan memberi inpirasi untuk Kami Baca. Wassalam

28 03 2012
Jwita

Salam kenal Bu, bisa g saya minta informasi (persyaratan) S2 farmasi klinis di UGM, serta rincian biaya mulai dari biaya pendaftaran sampai uang kuliah 1 tahun pertama..seblumnya trimakasih bu…

jawab:
silakan liat informasi lengkapnya pada http://s2-s3.farmasi.ugm.ac.id ya

17 03 2011
teguh
18 01 2011
ria

bu, saya kopas blognya ke fb saya ya,, share buat teman2 sejawat…

Jawab:
silakan, mbak..semoga bermanfaat

12 07 2009
ratna

bu..saya baru tahu sejarah sepak terjang bu koda kimble yang bukunya laris manis di kalangan mahasiswa farmasi klinik itu ternyata luar biasa…
hal yg aneh saya alami juga bu. saat mencari-cari topik tesis yang tepat, dokter2 yg saya mintai pertimbangan dan masukan juga lumayan terheran-heran. mereka seperti berpikir ngapain saya sibuk2 seperti ini…padahal sosialisasi program farmasi klinik sudah dimulai sejak setahun terakhir…

6 02 2009
yesi

hehe ternyata koda kimbel yang tak kenal sebagai penulis buku farmasi ternyata gebrakkannya luar biasa yo… baru tau aku.
emang sangat beraaaattt deh tp itulah loyal kita pada profesi kita, harus ttp dijalani. makasih atas penyebaran semangatnya…. qu jadi semangat nee

salam kenal

Jawab :
Salam kenal kembali. ayo tetap semangat !!

27 01 2009
Nofa

Boleh belajarnya di blog ini nggak bu ?

Saya koq berharap semua ilmu farmasi bisa diakses lewat blog…dengan update ilmunya tentu…

Pembelajar online

26 01 2009
Ridho

mahal ga bu? hehehehe

jawab:
mahal atau tidak itu tergantung ada tidak duitnya hehe… dan motivasinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: