Berteman dengan Diabetes……

9 01 2009

type-i-diabetesDear temans,

Tulisan ini pesanan khusus dari teman penaku masa kecil … (halo, Pandu!.. apakabar?”), ia minta supaya aku mengulas tentang diabetes. Tulisan ini aku dedikasikan pada para penderita DM dan mereka yang bertubuh besoaar…

 

Hm.. diabetes melitus (DM) atau penyakit kencing manis bukan penyakit asing bagi keluarga kami. Almarhum ayah kami dan pakdhe (kakak ayah) mengidap DM, bahkan ibupun demikian. Dan tanda-tanda penyakit ini tidak begitu khas, bahkan sering tidak nampak, antara lain sering pipis-pipis, mudah haus, mudah lapar, ngantukan, cepat lelah, yang mungkin bisa dijumpai pada penyakit lain. Sehingga ketika suatu saat aku merasa .. kok jadi sering pipis ya, ngantukan, cepat lelah aku jadi kuatir juga, dan dengan keinginan sendiri pergi ke lab untuk cek kadar gula darah. Maklumlah, unsur genetik termasuk salah satu faktor risiko utama DM. Artinya, dengan 2 orang tua yang mengidap DM, maka risikoku mengidap DM juga meningkat ketimbang mereka yang tidak punya riwayat genetik DM pada orangtuanya. Ditambah lagi usia sudah berkepala empat dengan tubuh tidak bisa dikatakan langsing (kecuali dilihat dari bulan hehe…). Namun alhamdulillah,…. situasi masih aman terkendali, alias kadar gula darahku masih dalam level normal. Pada cek terakhir, kadar gula darah puasa masih sekitar 90 mg/dl (normalnya 70 – 110 mg/dl). Jadi mungkin gejala-gejala tadi hanya perasaan subyektifku saja… mungkin karena kurang tidur, banyak minum, dll. Dan itupun hilang sendiri.

 

Apa itu DM alias kencing manis?

DM adalah suatu gangguan metabolik dalam tubuh, yang disebabkan karena kurangnya hormon insulin atau resistensi reseptor insulin, atau keduanya, sehingga kadar gula darah meningkat di atas normalnya. Insulin sendiri adalah suatu senyawa endogen yang memiliki berbagai fungsi, salah satunya adalah membantu transport glukosa dari dalam darah masuk ke dalam sel-sel tubuh yang membutuhkan. Dengan kurangnya jumlah insulin tubuh, atau kurangnya aktivitas reseptor insulin, maka glukosa yang berasal dari makanan yang kita makan akan tetap tinggal dalam darah. Darah jadi terasa manis, bahkan glukosa itu pun terbawa sampai ke urin, jadilah pipis kita manis. Makanya dikasih nama “kencing manis”.

Penyakit ini umumnya dgolongkan menjadi 2 tipe besar, yaitu DM tipe 1 dan DM tipe 2. DM tipe 1 adalah yang disebabkan karena kerusakan pankreas sehingga tidak bisa menghasilkan insulin sama sekali. DM tipe ini disebut juga DM tergantung insulin, karena pengobatan utamanya adalah insulin itu sendiri yang diberikan dari luar tubuh. Sedangkan DM tipe 2 adalah yang disebabkan karena “malasnya” pankreas menghasilkan insulin sehingga jumlah insulin kurang, atau kalaupun pankreasnya masih memproduksi insulin secara normal, insulinnya tidak banyak berguna karena reseptornya “ngadat” bekerja alias resisten. Untuk itu pengobatannya adalah obat-obat yang bisa memicu produksi insulin atau mengaktifkan reseptor insulin (istilahnya meningkatkan sensitivitas reseptor insulin). DM tipe 1 umumnya terjadi karena gangguan sistem imun dan diidap sejak masa kanak-kanak. Tentunya mereka akan tergantung insulin dari luar selama hidupnya, karena tubuhnya tidak menghasilkan insulin sama sekali. Untungnya jumlah DM tipe ini tidak banyak, mungkin berkisar 5-10% dari jumlah kasus DM secara total. Sedangkan DM tipe 2 lebih banyak jumlahnya, dan umumnya diidap ketika dewasa atau menjelang tua, dan terkait dengan faktor risiko lain yaitu obesitas, pola makan dan gaya hidup kurang sehat (banyak makan, kurang olahraga), dan stress (tekanan hidup). DM tipe 2 ini relatif masih bisa dikontrol dengan menggunakan obat dan mengubah gaya hidup (diet, olah raga, dll).

Ada lagi jenis DM yang khusus dijumpai pada wanita hamil, walaupun tidak semua wanita hamil akan mengalami hal ini, yang disebut DM gestasional. Umumnya seusai melahirkan, DM ini akan sembuh sendiri. Tapi perlu diwaspadai, karena kejadian DM saat hamil tentu mengandung risiko juga terhadap bayinya, sehingga perlu penanganan tersendiri yang aman bagi ibu maupun janinnya.

 

Mengapa obesitas bisa meningkatkan risiko DM ?

Peningkatan berat badan dapat menyebabkan resistensi insulin, dan seorang gendut yang non-DM memiliki derajat resistensi yang sama dengan pasien DM tipe 2 yang kurus. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa pada seorang non-DM, terjadi juga penurunan sensitivitas reseptor insulin ketika Indeks Massa Tubuh (IMT)nya meningkat dari 18 kg/m2 menjadi 38 kg/m2. Peningkatan resistensi insulin ini nampaknya berkaitan erat dengan jumlah jaringan lemak dalam rongga tubuh yang disebut jaringan adiposa visceral (Visceral adipose tissue = VAT).

Jaringan adiposa visceral adalah sel-sel lemak yang berlokasi di dalam rongga perut. Sel-sel ini mewakili 20% lemak pada pria, dan 6% pada wanita. Jaringan lemak ini memiliki kecepatan lebih tinggi dalam proses peruraian lemak (lipolisis) ketimbang lemak yang ada di daerah subkutan (bawah kulit), menghasilkan peningkatan jumlah asam lemak bebas. Asam lemak bebas ini akan masuk ke sirkulasi darah dan menembus ke hati di mana mereka akan menstimulasi produksi VLDL (very low density lipoprotein), suatu kolesterol “jahat”, dan akan menyebabkan penurunan sensitivitas reseptor insulin pada jaringan perifer.

Jaringan adiposa visceral ini juga memproduksi suatu senyawa yang disebut sitokin (yaitu TNF-a) yang menyebabkan resistensi insulin.

Jadi…….. yang merasa gempal dan besar nih, perlu berupaya untuk bisa menurunkan BB, untuk menurunkan risiko terjadinya DM.

 

Bagaimana pengatasannya?

Apakah DM bisa sembuh ? Hm….. mungkin agak sulit (kecuali Allah berkehendak lain). Tapi yang bisa dilakukan adalah mengontrol agar kadar gula darah ada dalam level normal. Pengontrolan bisa dilakukan secara non-obat atau menggunakan obat. Pengontrolan kadar gula non-obat terutama ditujukan untuk DM tipe 2, sedangkan untuk DM Tipe 1 nampaknya agak sulit, karena penyebabnya bukan karena masalah pola makan dan gaya hidup. Untuk DM Tipe 1, mau nggak mau harus pakai insulin. Sedangkan untuk DM tipe 2, pilihannya bisa menggunakan insulin atau obat-obat antidiabetes oral (yang diminum).

Tujuan pengobatan adalah untuk mengurangi komplikasi mikrovaskuler dan makrovaskuler dan meningkatkan kualitas hidup, serta mengurangi angka kematian. Hal ini penting karena kadar glukosa yang tidak terkontrol akan meningkatkan risiko komplikasi mikro maupun makrovaskuler. Mikrovaskuler artinya pembuluh darah kecil. Kebayang kan…. jika kadar glukosa darah tinggi, tentu darah menjadi makin kental. Dan itu akan membuat aliran jadi lambat, bahkan mungkin akan tersumbat. Sumbatan inilah yang akan menyebabkan kematian sel-sel yang tidak memperoleh pasokan O2 dan makanan dari pembuluh darah, sehingga menyebabkan berbagai gangguan, antara lain retinopati (gangguan pada retina mata yang berangsur menyebabkan kebutaan), nefropati (gangguan ginjal), dan neuropati (gangguan persarafan). Sedangkan makrovaskuler artinya pembuluh darah besar, komplikasi DM pada makrovaskuler ini bisa berupa stroke, hipertensi, dan penyakit kardiovaskuler lainnya. Ih… sereem kan?

Nah, karena itu sangat penting untuk menjaga agar kadar gula darah selalu dalam level normal. Untuk DM tipe 2, kontrol gula darah dapat dilakukan dengan perbaikan pola makan dan OR, serta penggunaan obat. Sampai saat ini, terdapat 6 kelompok obat diabetes oral, yaitu : α-glucosidase inhibitors, biguanides, meglitinides, peroxisome proliferator-activated receptor γagonists (disebut juga golongan thiazolidinediones atau glitazones, DPP-IV inhibitors, dan sulfonilurea. Ada obat yang beraksi meningkatkan sekresi insulin seperti golongan meglitinides dan sulfonylurea (contohnya : glipizid, gliklazid, glibenklamid). Ada yang meningkatkan sensitivitas insulin seperti biguanide (contoh: metformin) dan glitazon (troglitazon, pioglitazon), dan ada pula yang memiliki mekanisme lainnya (contoh: acarbose). Obat-obat ini dapat diperoleh dengan resep dokter. Tergantung berat-ringannya DM, kadang obat ini dipakai secara tunggal, atau bisa juga kombinasi.

Selain obat DM oral, ada juga insulin, yang biasanya diberikan dalam bentuk injeksi. Insulin tersedia dalam berbagai preparat, ada yang beraksi cepat, sedang dan lambat. Jika Anda mendapatkan injeksi insulin, pastikan Anda bisa menggunakannya dan tau tempat-tempat mana saja dari tubuh yang bisa menjadi lokasi suntikan insulin. Hal ini bisa ditanyakan kepada Apoteker. Sekarang ada juga lho.. insulin dalam bentuk inhalasi (dihirup melalui hidung). Tapi mungkin belum banyak tersedia di Indonesia.

 

Berteman dengan diabetes

Kalau sudah terlanjur kena DM gimana ya? Yah…. pertama jangan sedih, tentu perlu diterima dengan lapang dada hehe.. Sangat penting untuk mendisiplinkan diri dalam pengaturan makan, olah raga dan minum obat secara teratur. Memang bukan ringan….. sebuah thesis mahasiswa yang belum lama ini aku menjadi pengujinya menemukan bahwa peningkatan pengetahuan tentang DM dan penatalaksanaannya ternyata tidak selalu berkorelasi langsung dengan kontrol kadar gula darah yang baik. Bisa diartikan bahwa… walaupun kita tau bahwa kita nggak boleh makan ini itu, tapi kadang-kadang kita tidak disiplin terhadap diri sendiri…. “alaaah… Cuma sedikit kok!, Cuma sekali ini aja kok…” yang ternyata terjadi berkali-kali… sehingga tau-tau kadar gula darah meningkat….

Jadi sekali lagi kuncinya adalah disiplin dan patuh pada pengobatan. Alhamdulillah, kadar glukosa ibuku lumayan terjaga, karena beliau rajin jalan kaki sebagai olahraganya dan patuh minum obat secara teratur. Setiap pagi, sedikitnya beliau jalan kaki keliling dusun selama satu jam. Makannya pun dijaga, padahal dulu beliau suka makanan yang manis-manis.

 

Dan sekali lagi.. disiplin. Jangan sampai jalan kaki satu jam, mampir pasar, pulang-pulang makan gudeg yang manis, atau lopis ketan dengan saus gula-jawanya yang kental hehe…..

 

Oke, semoga bermanfaat….


Aksi

Information

3 responses

14 02 2009
rumahherbalku

Saya kira sudah banyak blog yang membahas soal DM ini. Ada buku bagus juga terbitan Erlangga yang memberikan pengarahan mengenai hidup bersama dengan DM (kalau anda sudah terkena atau mempunyai faktor resiko DM).

Kalau untuk yang mencegah, sekali lagi ya harus secara menyeluruh (holistic). Bisa dibaca-2 sedikit contohnya di blog saya, rumahherbalku.wordpress.com

11 02 2009
Ayah Nissa

Kira kira bisa dijelaskan lebih lanjut upaya yang dilakukan agar tidak terkena DM. Di atas dijelaskan faktor faktor seperti : obesitas, pola makan dan gaya hidup kurang sehat (banyak makan, kurang olahraga), dan stress (tekanan hidup). Misalnya untuk pola makan itu harus yang bagaimana, apa menghindari makanan yg manis, berlemak atau bagaimana. Terus stress itu bagaimana bisa mengakibatkan DM. Terima kasih atas penjelasannya, semoga bermanfaat bagi yang belum terkena DM.

9 01 2009
rumahherbalku

Bagi anda yang kurang beruntung hidup bersama DM…

Indonesia memiliki sangat banyak tanaman obat yang dapat membantu menstabilkan gula darah, bahkan menjaganya untuk tetap normal, tentunya bagi penderita DM tipe 2.
Tanaman ini sangat beragan, dan mudah sekali didapat, diantaranya Sambiloto dan Brotowali. Keduanya sudah dikenal sejak jaman nenek moyang sebagai jamu “paitan” karena rasanya memang sangat pahit. Namun berkat kecanggihan teknologi, keduanya sudah banyak diproses dalam kemasan kapsul untuk mempermudah konsumsi.
Tetapi memang, DM bukan penyakit yang dapat sembuh sama sekali, namun lebih kepada penyakit gaya hidup, sehingga diperlukan kemauan keras dan konsistensi apabila kita ingin hidup secara normal.
Mengenai DM yang sebetulnya bisa dipicu oleh bermacam-2 sebab dan dapat menjadi komplikasi jika tidak dijaga, serta mengenai tanaman herbal, anda dapat berkonsultasi gratis di blog http://www.rumahherbalku.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: