World Class Faculty = menghasilkan apoteker profesional?

7 01 2009

Satu paragraf tulisan mas Dani di Portal Apoteker tentang sekolah apoteker cukup menggerakkan tanganku untuk menulis (eh… mengetik). Soalnya aku lagi merasa relevan banget dengan hal ini…..

Mereka yang ada di perguruan tinggi cenderung lebih menonjolkan profesinya sebagai dosen, karena faktanya memang demikian, dan tidak ingat akan masalah masalah aktual di lapangan yang dialami oleh mantan mahasiswanya. Kalau mau jujur apoteker yang baru lulus sebenarnya belum siap untuk bekerja. Apalagi di apotek.”

Sebetulnya yang akan aku sampaikan bukan substansi apa yang ditulis dalam posting itu, tetapi sedikit bergeser ke arah pertanyaan yang menjadi judul posting ini. Betul sekali bahwa pemegang ijazah apoteker yang bekerja menjadi dosen memang lebih menonjolkan profesi dosennya, daripada apoteker. Seperti halnya pada diriku sendiri. Tapi kalau aku sih sebenernya  lebih karena merasa “minder”…. karena memang tidak praktek, sehingga memang tidak tau banyak aneka kondisi faktual di lapangan. Informasi dari lapangan lebih sering kuperoleh secara tidak langsung dengan berinteraksi dengan sejawat dalam berbagai even kegiatan.  Jadi daripada merasa diri sebagai apoteker, tapi nggak tau banyak tentang praktek kefarmasian, mendingan ngaku jadi dosen hehe….. Kalau sebagai dosen beranilah diadu hehe…. jelek-jelek gini aku pernah tiga kali memenangi grant untuk inovasi metode pembelajaran di UGM..

Nah, .. yang sedang ada dalam pikiranku adalah … aku justru agak kuatir bahwa misi yang diusung  institusi pendidikan (dalam hal ini farmasi) makin menjauh dari bumi. Tau tidak teman,…. beberapa hari ini aku sedang “bertapa” sampai-sampai tidak sempat ngeblog… karena sedang ikut menyusun sebuah proposal pengembangan fakultas yang in line dengan visi dan misi universitas, yakni menjadi World Class Research University (WCRU), atau… Universitas Riset Berkelas Dunia gitu loh…!  Fakultas Farmasi UGM juga akan menuju Fakultas yang (kalau bisa) bertaraf internasional. Impiannya adalah Fakultas Farmasi UGM akan dikenal secara internasional, memiliki kelas internasional dengan banyak foreign students, kami akan memiliki laboratorium berkelas (mendekati) internasional, menghasilkan penelitian-penelitian berkelas dunia, dengan staf edukatifnya yang recognized  di dunia (dan akhirat), dan seterusnya dan seterusnya yang meningkatkan reputasi Universitas Gadjah Mada di mata internasional.

Tapi kalau lagi baca centang-perenang masalah-masalah keprofesian farmasi di Indonesia seperti yang dipaparkan oleh sejawat pada Portal Apoteker, aku jadi bertanya sendiri… apakah pendidikan tinggi farmasi yang ada di Indonesia memang belum bisa mendidik apoteker untuk siap bekerja dan memiliki kompetensi yang diharapkan? yang punya semangat “pharmaceutical care” sehingga mau bekerja profesional walaupun belum mendapat apresiasi wajar secara finansial? memiliki etika keprofesian sehingga bermartabat di mata masyarakat dan tenaga kesehatan lainnya? Yang bisa duduk sama tinggi dan dihargai profesi lain? Kok kayaknya profesi apoteker nih nggak segera naik-naik pangkat menjadi profesi pilihan para calon mertua….. (ini adalah salah satu indikator eksistensi suatu profesi di mata masyarakat he he…)

Dengan mengejar visinya menjadi institusi pendidikan berkelas dunia, akankah signifikan menghasilkan apoteker-apoteker berkelas juga seperti yang diidamkan? Aku belum yakin. Jangan-jangan apoteker kita over-educated dalam hal tertentu, tapi tetap saja tidak siap menghadapi kondisi di lapangan? Kami yang di dunia pendidikan juga perlu introspeksi apakah apa yang diberikan selama ini sudah cukup memberikan bekal pada lulusan untuk siap bersaing di dunia kerja dan memenangkan pertarungan… 

Tapi mungkin dengan menaikkan level fakultas menjadi “Fakultas berkelas dunia (dan akhirat)”  mudah-mudahan akan lebih memberikan rasa percaya diri pada lulusannya, sehingga bisa lebih siap secara psikologis untuk memasuki dunia kerja. Syukur juga bisa diterima bekerja di negara-negara lain sebagai konsekwensi era perdagangan bebas nantinya..

Tentunya perlu ada jalinan erat antara pihak-pihak yang ada di dunia pendidikan dengan organisasi profesi supaya memiliki kesamaan pandang mengenai apa-apa yang harus dilakukan untuk mencapai kondisi eksistensi apoteker yang diharapkan. Dalam hal lain, mungkin organisasi profesi juga perlu memperbanyak upaya untuk menjalin kerjasama dengan profesi tenaga kesehatan lainnya, sehingga apa dan siapa apoteker itu benar-benar dikenali sehingga akan ditempatkan di tempat yang layak di sisinya… maksudnya di antara sesama tenaga kesehatan.

Tapi ma’aaaf….. saya juga cuma bisa nulis doang…

Dan sekarang akan masuk pertapaan lagi menyelesaikan proposal yang terpenggal…..


Aksi

Information

5 responses

11 01 2013
M. saefudin

Sebenarnya pada profesi dokter dan apoteker ada ketidak jujuran kepada masyarakat yang membutuhkan mereka, sebagai contoh dengan dalih etika profesi mereka memberikan resep obat yang tidak bisa dipahami oleh masyarakat pengguna, bahkan terkadang dibaca saja tidak bisa. Mestinya resep obat yang dikeluarkan oleh dokter dan apoteker mudah dibaca syukur mudah dipahami oleh pengguna dengan memberi keterangan yang sejelas-jelasnya pada pasiennya, sehingga masyarakat lebih ‘MELEK RESEP’ dan ‘MELEK OBAT’ ketika masyarakat lebih MELEK RESEP dan MELEK OBAT mereka secara tidak langsung ikut mengontrol profesionalisme DOKTER dan APOTEKER ketika pasien mendapatkan RESEP yang dapat bikin MELEK RESEP dan MELEK OBAT (artinya resep mudah dipahami manfaat dan efek samping dari obat itu) dengan pasien ikut mengontrol profesionalisme dokter dan apoteker sekalipun secara tidak langsung, dapat memberikan ‘REM ‘ bagi dokter dan Apoteker untuk tidak asal memberi resep tapi betul-betul dengan analisa dan pertimbangan yang matang. SEMAKIN MASYARAKAT MELEK RESEP DAN MELEK OBAT maka AKAN TERJADI PENINGKATAN PROFESIONALISME DOKTER dan OPATEKER karena MASYARAKAT secara TIDAK LANGSUNG IKUT MENGONTROL kedua PROFESI tersebut dan TERCIPTALAH DOKTER-DOKTER dan APOTEKER-APOTEKER yang JUJUR tidak menyembunyikan INFORMASI. semoga tersentil, maaf dari orang awam yang tidak MELEK RESEP dan MELEK OBAT karena SISTEM. terima kasih.

10 01 2009
mwellyan

Kalau menurut saya, Apoteker yang berkualitas adalah apoteker yang mampu memberi manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat sehingga mampu menaikkan nilai apoteker tersebut di mata masyarakat yang masih awam dengan dunia obat-obatan. Bu Zullies, terimakasih sudah memasang link situs saya di blog Ibu, saya pun sudah memasang link blog Ibu di halaman khusus konsultasi obat saya.

Jawab:
salam kenal, Pak. Terimakasih, mudah-mudahan kita bisa bekerja sama menaikkan nilai apoteker di mata masyarakat

8 01 2009
Portal Apoteker

Visi memang harus dibuat semenantang mungkin, seperti halnya menjadi world class… Tapi kita juga harus realistis tentang berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mewujudkan visi tersebut. Yang sering terjadi, ganti pimpinan ganti visi dan nggak nyambung lagi.. (mudah2an tidak terjadi di UGM).

Jawab:
yah… kita tunggu saja sekian tahun kedepan…

7 01 2009
Enade

~Hore … lagi-lagi jualan PERTAMAX ….

Saya juga sedikit khawatir dengan kans terjadi overeducated. Semoga tidak. Semoga semakin banyak apoteker handal di Indonesia.

7 01 2009
informasi obat

Semoga proposal yang ibu buat bisa lebih membumi buat kami sebagai praktisi di lapangan, khususnya apotek. salam kenal ibu…:)

Jawab:
Salam kenal kembali, sejawat… Insya Allah, lagi kami pikirkan. Mudah-mudahan bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: