Tulisan akhir tahun (tentang apoteker)

31 12 2008

Dear netter,

Bela-belain aku nulis hari ini supaya ada monumen tulisan akhir tahun he..he….

Tapi sebenernya sih isinya ngalor-ngidul saja… Yang  jelas, hari ini aku merasa tersanjung…. seorang senior Apoteker memberikan apresiasi terhadap tulisan di blog ini dan me-link-kan blog alakadarnya ini pada blog-nya yaitu Portal Apoteker.  Akupun memberikan link di blog ini bagi Portal Apoteker pada Situs Khusus Apoteker. Silakan dikunjungi. (Thanks, Mas Dani, … tapi nanti kalo blog ini mulai ngaco isinya, nggak usah segan-segan didelete aja link-nya, Mas. Bener…). Sungguh, aku pun mengapresiasi dengan sepuluh jempol ke atas terhadap Blog Portal Apoteker yang memang menjadi media berbagi untuk sejawat apoteker Indonesia di seluruh dunia. Tulisan-tulisan kritisnya terhadap berbagai hal menyangkut profesi apoteker wajib  dibaca..  Suerr !

Tapi ngomong-ngomong soal profesi apoteker,… aku jadi malu sendiri. Apakah aku seorang apoteker beneran? Bukan juga…. aku memang punya ijazah apoteker, tapi tidak praktek kefarmasian. Kalau ditanya profesiku apa, ya mungkin akan aku bilang “dosen” atau “guru”. Dosen yang apoteker atau apoteker yang dosen, entahlah… mana yang lebih tepat. Pernah juga sih, ada yang tanya, mengapa aku tidak pegang Apotek atau punya Apotek. Wah…. terus terang, alasan utamanya adalah waktu. Tugas menjadi dosen, apalagi pingin jadi dosen yang baik hehe…, sudah cukup menyita waktu. Sementara, apoteker itu idealnya juga selalu ada di apotek memberikan pelayanannya. Hal ini tentu sulit sekali dicapai jika bekerja di dua tempat. Belum lagi tugas domestik rumah tangga sebagai seorang ibu…… hmm….  tak kurang banyaknya. Tapi setidaknya, aku juga berupaya menjunjung tinggi profesi apoteker dan sekaligus “mempraktekkan” sedikit ilmu kefarmasian, setidaknya melalui blog ini, atau ketika memberi kuliah atau menjadi pemateri di suatu seminar.

Dan blog ini…. aduh, sungguh masih jauh untuk berkontribusi terhadap perkembangan profesi apoteker. Karena ini adalah blog pribadi, jadinya lebih banyak ngobrol ngalor-ngidul, ngomongin pengalaman pribadi, atau bicara ala kadarnya sekedar menumpahkan keinginan menulis…  Jadi malu kalau diharapkan terlalu banyak. Tapi siapa tau ada yang bisa mengambil manfaatnya dari tulisan di blog ini.  Blog ini tidak punya misi khusus, jadi isinya memang campur-campur. Kadang tulisan sebagai apoteker, kadang sebagai dosen, kadang sebagai ibu, kadang sebagai manusia kecil di hadapan Tuhannya….. dan apa saja lah yang lagi melintas di pikiran.  Kalaupun ada manfaatnya bagi sejawat apoteker, mungkin bisa melalui bahan-bahan kuliah di Fakultas, terutama untuk topik-topik farmakoterapi, paling tidak sebagai refreshing.  Jelek-jelek gini, pernah juga sih saya diundang untuk mengisi acara sejawat ISFI di daerah untuk Pendidikan Berkelanjutan untuk Apoteker. Juga beberapa kali mengisi Pelatihan Farmasi Klinik dan jadi pemateri pada PUKA (Penataran dan Uji Kompetensi Apoteker). Makalah-makalah presentasi saya tadi Insya Allah akan diupload bertahap untuk bisa dimanfaatkan sejawat dan juga adik-adik mahasiswa. Tapi untuk itu perlu kunjungi blog saya di http://zulliesikawati.staff.ugm.ac.id/?page_id=98 , karena dari blog ini agak sulit untuk mendownload (butuh waktu lebih lama karena muter dulu ke situs lain). Tapi kalau ternyata belum sempet diupload  jangan kecewa, ya…. sering-sering aja ditengok hehe…..

Nah, … terkait dengan profesi apoteker, ada satu komentar yang pernah aku dapatkan ketika mempostingkan tentang ” Somadryl sebagai obat kuat wanita”…. Katanya (aku kutip sesuai aslinya),” kayaknya apoteker itu lebih pinter mengobati daripada dokter deh, setuju g bu?”…. (dari theRons, http://ronirizqi.wordpress.com). He..he… pasti bisa jadi sumber polemik nih kalau Cak Moki baca… (bercanda). Terlepas dari serius atau tidak komentar tadi, tapi pada intinya peran apoteker dalam proses terapi memang belum banyak diterima atau diketahui banyak kalangan…. Padahal mahasiswa Farmasi UGM jaman sekarang (mulai angkatan 2001, yang memilih minat Farmasi Klinik dan Komunitas) mendapatkan pelajaran Farmakoterapi sampai 10 SKS kuliah dan 5 SKS praktikum. Jadi apoteker pun punya ilmunya. Tapi memang dari segi kewenangan, Apoteker sejauh ini tidak berwenang dalam menentukan macam terapi yang diberikan kepada pasien, walaupun ia boleh memberi saran atau rekomendasi kepada dokter untuk suatu pilihan terapi atau dosis yang sesuai. Masalahnya adalah, dokternya mau apa tidak menerima saran tersebut. Biasanya ada semacam “gengsi”, atau bahkan ada rasa semacam “diintervensi”….. Padahal, sebenernya pekerjaan dokter bisa lebih ringan lho… kalau misalnya ia mau berbagi peran dengan apoteker untuk memilihkan jenis obatnya, karena ilmu apoteker tentang obat dan berbagai efek dan adverse efeknya tentunya lebih daripada dokter.

Sebagai contohnya, ini cerita nyata lho… kebetulan aku pernah membimbing satu skripsi mahasiswa tentang “Kajian penatalaksanaan rhinitis alergi di sebuah RS”. Data mencatat bahwa beberapa orang pasien mendapatkan obat dari dokter yang sama, dengan nama paten yang berbeda padahal isinya sama!!. Ada juga yang mendapat obat paten dan generik bersama-sama, padahal isinya sama!! Coba, siapa yang salah? Apakah dokternya, yang hanya hafal nama paten yang disodorkan oleh detailer, sehingga tidak tau bahwa isinya sama? Apakah apotekernya? Kalau mau fair, apoteker ya ikut salah, kalau sampai komposisi obat demikian bisa sampai ditangan pasien. Di mana fungsi penjaminannya sehingga terjadi duplikasi obat seperti itu?? Masih untung “cuma” obat alergi/antihistamin…. coba kalau obat diabetes misalnya, apa ngga pasiennya syok hipoglikemik karena gula darah turun drastis karena makan obat antidiabetes dobel?

Perlu tahapan yang panjang untuk bisa mencapai sinergi dokter-apoteker seperti yang sudah terjadi di negara-negara maju. Alih-alih merasa dibantu, malah ada sebagian dokter menganggap bahwa farmasis klinik akan berperan seperti “polisi”, yang akan mencari-cari kesalahan peresepan dokter. Oh, no, no! Tentu tidak demikian. Kita semua kan manusia yang bisa salah atau alpa. Dan saya rasa kita memang perlu saling bekerja sama, yang semuanya ditujukan untuk kepentingan pasien. Itu saja.

Nah, kayaknya memang peran apoteker perlu ditingkatkan supaya lebih menjamin keamanan pengobatan pada pasien. Buat netter yang “orang awam”, tidak perlu ragu-ragu jika ingin menanyakan sesuatu terkait dengan obat kepada apoteker. Cari saja tuh apotekernya di apotek. Dan tentunya sejawat apoteker juga perlu menyiapkan diri untuk mengambil peran itu…. Kesan pertama yang positif, akan membantu memposisikan apoteker di mata masyarakat…


Aksi

Information

3 responses

25 03 2009
didik sugi

Trim’s sangat membantu. Jadi teringat sewaktu masih kuliah dulu….dapat mata kuliah profesi 1 sks. Sukses terus bu zulies…!

5 01 2009
Portal Apoteker

Kenapa harus di delete ? Justru dengan adanya tukeran link, kita akan lebih termotivasi untuk menulis yang bertanggungjawab. Dan saya yakin sejawat juga sependapat, buktinya tampilan blog ini makin keren dan isinya juga tambah “bergizi”…
Ayo ajak dosen dosen yang lain untuk nge blog juga.. Jangan sampai kalah dengan para mahasiswa dan mantan mahasiswanya..

Jawab:
hehe… iya deh, terimakasih semangatnya.

3 01 2009
Enade

~garuk-garuk kepala.

Membaca tulisan ini jadi teringat kopian ijasah apoteker yang bersanding manis dengan kertas-kertas “penting” lainnya di map biru di samping printer.
Ah … sudahlah …

~gak bisa berkomentar lebih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: