Seputar autisme (Bag 3 dari 4 tulisan: Terapi behavioral)

10 12 2008

Dear Temans,

kali ini akan kukisahkan tentang terapi behavioral pada Dhika.

Ketika aku searching di internet, banyak informasi tentang macam-macam terapi untuk anak autis. Ada terapi behavioral, terapi bermain, terapi okupasi, sampai terapi musik, cahaya, akuatik, dll. Aku pilih salah satu dulu yang mungkin bisa dilakukan yaitu terapi behavioral. Terapi ini mengajarkan kemampuan-kemampuan sosial, motorik dan kognitif. Aku mulai kisahnya ya…

Beberapa hari setelah kedatanganku ke sekolah autis, seorang pria menelponku dan memperkenalkan diri sebagai guru sekolah autis dan ia bisa memberikan privat untuk Dhika. Kami sepakat untuk bertemu di rumah untuk pembicaraan lebih lanjut. Singkat cerita, kami sepakati Pak guru tadi memberikan privat pada Dhika dua kali seminggu, setiap kali datang durasinya 1 jam. Untuk mencegah dari gangguan lingkungan, aku menyiapkan satu ruang khusus untuk belajar Dhika, yang katanya tidak boleh banyak gambar dan ornamen lain supaya tidak menganggu konsentrasi. Untuk kegiatan paling awal, Dhika akan diajari untuk memperbanyak kontak mata dan menjalankan perintah-perintah sederhana, begitu kata Pak Guru.

Pertama kali les (kami menyebutnya begitu), Dhika menangis sepanjang sesi. Ia dimasukkan dalam ruangan tadi bersama Pak gurunya, aku hanya bisa mengintip dengan sedih. Aku dengar pak gurunya bilang,” Lihat…! Lihat, Dhika! …” ketika ia minta Dhika melihat suatu benda atau diminta menatap Pak guru. Pada pertemuan kedua dan ketiga, acaranya masih sama, dan Dhika masih menangis terus. Dan menurut gurunya, itu memang biasa, apalagi ini baru beberapa kali. Katanya di sekolah autis bahkan ada yang sampai 6 bulan selalu menangis setiap diterapi. Pada pertemuan berikutnya, Dhika mulai nampak menunjukkan semacam trauma. Bukannya menjadi semakin akrab, tapi malah takut jika pak guru datang. Tapi kami paksa juga untuk masuk ruang belajarnya, walaupun kami usahakan untuk ganti suasana kamar. Pernah Dhika menangis sampai muntah, akhirnya kami hentikan sesi belajarnya. Pernah juga Dhika kuintip sedang duduk di lantai terkantuk-kantuk, pak guru berusaha membangunkan dan mengajaknya belajar. Lama-lama aku merasa bahwa terapi seperti ini kurang efektif. Bagaimana bisa menuruti perintah jika Dhikanya menangis terus karena takut. Akhirnya, setelah enam kali sesi dan aku juga sudah mulai paham cara belajarnya, secara hati-hati aku sampaikan bahwa nampaknya untuk sementara lesnya dihentikan dulu. Aku kuatir nanti malah dia jadi trauma dan takut dengan orang. Agak lama setelah itu aku mendengar informasi bahwa Pak Guru tadi memang termasuk yang agak keras cara mengajarnya.

Untuk memberikan terapi sendiri di rumah, dari segi waktu agak sulit karena aku harus bekerja, dan kamipun butuh seorang yang lebih ahli. Makanya aku kemudian membuat iklan di koran, ”Dibutuhkan seorang guru untuk anak autis, dst.” O,ya, walaupun aku belum yakin bahwa Dhika autis, aku merasa lebih baik menganggap dan memberikan terapi demikian, daripada aku menolak anggapan ini dan malah terlambat memberikan terapi kalau dia nanti benar-benar terbukti autis.

Hehe… agak geli juga mengingat hal itu, karena setelah itu aku jadi ”kebanjiran” tawaran untuk menjadi guru Dhika. Cuma agak begonya, waktu itu aku tidak mencantumkan persyaratan yang kuinginkan, kecuali wanita, sehingga yang datang adalah orang dari berbagai latar belakang pendidikan dan pengalaman. Aku jadi berlagak seperti Manajer SDM suatu perusahaan yang sedang menyeleksi calon pegawai baru hehe…..  Aku mencantumkan persyaratan wanita karena aku menganggap bahwa guru wanita akan lebih halus pendekatannya, karena dengan guru pria sebelumnya Dhika nampak takut. Namun walaupun demikian, ada juga satu pria yang mendaftar dan sempat ikut ”audisi” hehe… Dan ternyata, justru pak guru inilah yang akhirnya kupilih, karena beliau satu-satunya pelamar yang memiliki ijazah formal Pendidikan Luar Biasa dari IKIP dan punya pengalaman menangani anak autis. Beliau juga kulihat memiliki keIslaman yang kuat, yang nampak dari cara bicara dan menyampaikan pendapat dan prinsipnya. Akhirnya Dhika mulai les lagi dengan Pak Fredi, kali ini disepakati 3 kali seminggu. Dengan pengalaman sebelumnya, aku bilang ke Pak Fredi untuk melakukan pendekatan yang lebih halus dengan berbagai cara supaya Dhika tidak takut. Selain itu, aku mengikutkan pengasuh Dhika dalam sesi belajar supaya Dhika tidak takut sendirian. Ruangnya pun aku pindah ke ruang tengah yang luas. Untuk mensiasati gangguan dari luar, selama Dhika belajar, kakak-kakaknya yang aku suruh main keluar, atau yang penting jangan sliwar-sliwer lewat di ruang tengah.

dhika5

Alhamdulillah, pendekatan Pak Fredi lebih baik, dan aku juga banyak mendapat tambahan pengalaman dari Pak Fredi. Dhika mau belajar, menyusun puzzle angka, huruf, menyusun lingkaran cincin, dan aneka mainan lain. Karena Dhika juga suka game komputer, kegiatan juga divariasi dengan main komputer. Sesekali Dhika diajak belajar di luar naik motor yang juga dia sukai. Dhika kelihatan lebih enjoy dan tidak nangis lagi. Yah, walaupun sebenarnya hal itu juga bisa kita lakukan sendiri di rumah, tetapi dengan adanya pak Fredi, kegiatan Dhika jadi lebih terstruktur. Tatap matanya juga lebih baik, dan ia mau menuruti perintah-perintah sederhana. Sekitar 6 bulan Dhika belajar dengan Pak Fredi. Sayangnya, menjelang Idul Fitri tahun 2008 lalu, pak Fredi dan istri pamit karena akan pindah ke luar Jawa untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Kebetulan istrinya yang orang Palembang sedang hamil anak pertamanya, dan mereka memutuskan akan menunggu kelahiran putra pertamanya di sana, di tengah-tengah keluarga istrinya.

 

 Diet khusus

Oya, banyak info menyatakan bahwa seorang autis perlu diet khusus, terutama adalah menghindari gluten (suatu protein yang dijumpai pada makanan yang terbuat dari gandum) dan kasein (protein susu). Tetapi tidak semua pasien autis harus mengikuti diet ini, karena sifatnya individual. Ada yang berefek, ada yang tidak. Karena itu tidak ada salahnya aku coba, yaitu mengganti susunya dengan susu kedelai. Syukurlah Dhika tidak masalah ketika susunya kuganti. Sampai sekitar 3 bulan kuganti susunya, nampaknya tidak ada perubahan signifikan dalam kesehariannya. Jadi kusimpulkan bahwa diet ini tidak berefek pada Dhika. Karenanya, aku balik lagi ke susu sapi. Ketika kembali ke susu sapi, juga tidak ada pengaruh signifikan terhadap Dhika, jadi aku teruskan menggunakan susu sapi saja. Untuk diet gluten-nya, aku tidak perlu lakukan perubahan khusus pada pola makannya, karena Dhika memang belum banyak mengkonsumsi makanan berbahan dasar gandum.

 

Pemeriksaan menyeluruh

Satu hal yang sering ditanyakan Pak Fredi adalah apa usahaku secara medis, karena beliau juga ingin tau apakah usahanya memberikan terapi Dhika telah membuahkan perkembangan yang baik, bukan hanya dari perasaan dan pengamatan kami saja. Untuk itu, aku sendiri juga ingin memastikan lagi keadaan Dhika secara medis, benarkah dia autis atau tidak, bagaimana keadaan Dhika sekarang dari sudut pandang ahlinya.

O,ya,  sembari memberikan les pada Dhika, aku juga mencoba mencari-cari kira-kira sekolah mana yang nanti bisa menjadi sekolah yang cocok buat Dhika karena Dhika sudah 2,5 tahun. Apabila ia memang berkebutuhan khusus, sekolah mana yang mau menerimanya. Suatu kali aku melihat iklan sebuah sekolah yang katanya menyelenggarakan program inklusif bagi mereka yang berkebutuhan khusus. Ketika aku bertanya kesana, mereka memang bisa menerima, tetapi untuk mendaftar kami perlu menyertakan rekomendasi dari suatu lembaga yang berkompeten mengenai keadaan Dhika. Kami disarankan menuju ke Pusat Pengkajian dan Pengamatan Tumbuh Kembang Anak (P3TKA) yang berlokasi di Yogya bagian selatan. Kamipun membawa Dhika kesana, sekaligus untuk menjawab pertanyaan Pak Fredi, dan pertanyaan kami juga, tentang perkembangan Dhika dalam pandangan medis.

Setelah menelpon untuk konfirmasi jadwal, kami membawa Dhika ke P3KTA untuk pemeriksaan. Pemeriksaan di sana relatif lengkap, yang  melibatkan dokter, psikolog, psikiater, dan beberapa ahli terkait lainnya. Pemeriksaannyapun tidak cukup sekali. Sedikitnya kami datang 3 kali untuk berbagai pemeriksaan. Pada saat pemeriksaan pertama, Dhika lumayan kooperatif. Walaupun dia tidak mau masuk ke ruang pemeriksaan, dia main di luar dan diamati oleh pemeriksanya, sembari kami diwawancara berbagai hal tentang Dhika. Pemeriksaan kedua dan ketiga agak repot karena Dhika menangis terus, sampai-sampai pemeriksaan dilakukan di mobil  karena Dhika tidak mau turun dari mobil.

Sampai akhirnya, dengan pemeriksaan berbagai aspek meliputi pemeriksaan psikiatri dan psikologi, aspek komunikasi, aspek ketrampilan hidup sehari-hari, aspek sosialisasi, aspek ketrampilan motorik, Dhika dinyatakan mengalami Gangguan Perkembangan Multifasik, namun dikatakan bahwa masih mungkin terjadi pergeseran diagnosa karena usia Dhika belum 3 tahun, sehingga masih ada kemungkinan perubahan. Dari hasil pemeriksaan dengan Childhood Autism Rating Scale (CARS), Dhika belum bisa dinyatakan autis karena scorenya lebih rendah dari score untuk menyatakan diagnosa autis.

Bagaimana kisah selanjutnya? Nantikan postingku berikutnya.


Aksi

Information

One response

23 01 2009
wawan

assalaamualaikum bu zullies,
saya dan istri mendapatkan pengalaman yang hampir serupa dengan bu zullies. apakah kiranya saya bisa berkomunikasi lewat imel dengan ibu.
bila ibu berkenan, mohon balas di imel saya (saya cantumkan imel asli saya di komen ini).
terima kasih sekali.
salam,
wawan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: