Seputar Autisme, sebuah pengalaman spiritual (Bag 1: deteksi dini Autisme)

7 12 2008

Dear teman,

Liburan sedikit panjang, aku sempat menulis agak banyak. Kali ini aku akan berbagi informasi dan pengalaman seputar autisme, berdasar pengalaman pribadi. Mungkin ada yang mengalami hal yang sama, semoga ini bermanfaat. Tulisan ini akan dipostingkan bersambung, terdiri dari beberapa bagian, supaya ngga kepanjangan.

Autis. Kata ini sempat menghantuiku dan membuatku kuatir ketika sampai usia dua tahun, Dhika anak bungsu kami, belum banyak bicara. Responnya juga kurang, kalau dipanggil cuek, tidak mau mengok. Aku kuatir dia autis, katanya cirri-cirinya demikian. Aku mencoba mencari tau lebih banyak tentang autisma. Dan menurut informasi yang aku peroleh, autis adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial.  Kata autis sendiri berasal dari bahasa Yunani “auto”, yang berarti sendiri, yang ditujukan pada seseorang yang menunjukkan gejala “hidup dalam dunianya sendiri”.

Pada umumnya penyandang autisma mengacuhkan suara, penglihatan ataupun kejadian yang melibatkan mereka. Jika ada reaksi biasanya reaksi ini tidak sesuai dengan situasi atau malahan tidak ada reaksi sama sekali. Mereka menghindari atau tidak berespon terhadap kontak sosial (pandangan mata, sentuhan kasih sayang, bermain dengan anak lain dan sebagainya). Pemakaian istilah autis kepada penyandang diperkenalkan pertama kali oleh Leo Kanner, seorang psikiater dari Harvard (Kanner, Austistic Disturbance of Affective Contact) pada tahun 1943 berdasarkan pengamatan terhadap 11 penyandang yang menunjukkan gejala kesulitan berhubungan dengan orang lain, mengisolasi diri, perilaku yang tidak biasa dan cara berkomunikasi yang aneh.

ketawa-1Deteksi dini autisma
Dhika lahir normal dengan berat 3,3 kg. Yang menarik, sampai detik sebelum dia lahir, aku masih mengira bayiku perempuan, karena kata dokter hasil USGnya mengatakan demikian. Ketika kemudian ternyata laki-laki, aku surprised juga. Selama mengandung dia, alhamdulillah, aku baik-baik saja. Ia lahir sepuluh hari lebih awal dari perkiraan, karenanya sehari sebelum melahirkan aku masih berani sempatkan menguji skripsi mahasiswa. Sampai usia setahun Dhika tampak tak ada masalah. Ia bahkan pernah bisa menirukan bunyi cecak pada usia 7 bulan. Ia jalan pada usia 12 bulan lebih beberapa hari. Motoriknya tidak ada masalah. Tapi sampai usia 1,5 tahun, perbendaharaan katanya belum ada tambahan. Ia bahkan tidak pernah memanggil ibu atau bapak, atau kakak. Aku mulai agak cemas, tetapi masih berpikir mungkin hanya sedikit terlambat saja. Kebetulan keponakanku (anak adik kandungku) juga terlambat bicara.

Aku menunggu Dhika umur dua tahun sambil mencari berbagai informasi tentang autisma, karena sempat kuatir juga ia autis. Dan katanya autis sulit terdeteksi pada usia terlalu dini, jadi ditunggu saja perkembangannya, begitu pikirku. Dari sebuah literatur, aku menemukan informasi tentang deteksi dini autisma. Salah satunya adalah Pervasive Developmental Disorders Screening Test PDDST – II.

PDDST-II adalah salah satu alat skrining yang telah dikembangkan oleh Siegel B. dari Pervasive Developmental Disorders Clinic and Laboratory, Amerika Serikat sejak tahun 1997. Perangkat ini banyak digunakan di berbagai pusat terapi gangguan perliaku di dunia. Beberapa penelitian menunjukkan hasil yang cukup baik sebagai alat bantu diagnosis atau skrining Autis.

Skrining yang dilakukan pada umur 12-18 bulan :

  1. Apakah bayi anda sering terlihat bosan atau tidak berminat terhadap pembicaraan atau suatu aktivitas di sekitarnya?
  2. Apakah anak anda sering mengerjakan suatu pekerjaan atau bermain dengan suatu benda, yang dilakukannya berulang-ulang dalam waktu yang lama, sehingga anda merasa heran mengapa anak seumurnya dapat berkonsentrasi sangat baik?
  3. Apakah anda memperhatikan bahwa anak anda dapat sangat awas terhadap suara tertentu misalnya iklan di TV, tetapi seperti tidak mendengar suara lain yang sama kerasnya, bahkan tidak menoleh bila dipanggil?
  4. Apakah anda merasa bahwa perkembangan anak (selain perkembangan kemampuan berbicara) agak lambat (misalnya terlambat berjalan)?
  5. Apakah anak anda hanya bermain dengan satu atau dua mainan yang disukainya saja hampir sepanjang waktunya, atau tidak berminat terhadap mainan?
  6. Apakah anak anda sangat menyukai meraba suatu benda secara aneh, misalnya meraba-raba berbagai tekstur seperti karpet atau sutera?
  7. Apakah ada seseorang yang menyatakan kekuatiran bahwa anak anda mungkin mengalami gangguan pendengaran?
  8. Apakah anak anda senang memperhatikan dan bermain dengan jari-jarinya?
  9. Apakah anak anda belum dapat atau tidak dapat menyatakan keinginannya, baik dengan menggunakan kata-kata atau dengan menunjuk menggunakan jarinya?
  10. Skrining pada umur 18-24 bulan :
  11. Apakah anak anda tampaknya tidak berminat untuk belajar bicara?
  12. Apakah anak anda seperti tidak mempunyai rasa takut terhadap benda atau binatang yang berbahaya?
  13. Bila anda mencoba menarik perhatiannya, apakah kadang-kadang anda merasa bahwa ia menghindari menatap mata anda?
  14. Apakah anak anda suka digelitik dan berlari bersama, tetapi tidak menyukai bermain “ciluk-ba”
  15. Apakah ia pernah mengalami saat-saat ia menjadi kurang berminat terhadap mainan?
  16. Apakah ia menghindari atau tidak menyukai boneka atau mainan berbulu?
  17. Apakah ia tidak suka bermain dengan boneka atau mainan berbulu?
  18. Apakah ia terpesona pada sesuatu yang bergerak, misalnya membuka-buka halaman buku, menuang pasir, memutar roda mobil-mobilan atau memperhatikan gerakan air?
  19. Apakah anda merasa bahwa kadang-kadang anak anda tidak peduli apakah anda berada atau tidak ada di sekitarnya?
  20. Apakah kadang-kadang suasana hatinya berubah tiba-tiba tanpa alasan yang jelas?
  21. Apakah ia mengalami kesulitan untuk bermain dengan mainan baru, walaupun setelah terbiasa ia dapat bermain dengan mainan tersebut?
  22. Apakah ia pernah berhenti menggunakan mimik yang sudah pernah dikuasainya, seperti melambaikan tangan untuk menyatakan da-dah, mencium pipi, atau menggoyangkan kepala untuk menyatakan tidak?
  23. Apakah anak anda sering melambaikan tangan ke atas dan ke bawah di samping atau di depan tubuhnya seperti melambai-lambai bila merasa senang?
  24. Apakah anak anda menangis bila anda pergi, tetapi seperti tidak peduli saat anda datang kembali?

Penafsiran :

Bila ada 3 atau lebih jawaban “Ya” untuk nomor ganjil di antara semua pertanyaan tersebut, anak harus diperiksa lebih lanjut untuk menentukan apakah ia mengalami autisme.

Bila ada 3 atau lebih jawaban “Ya” untuk nomor genap di antara semua pertanyaan tersebut, anak harus diperiksa apakah ia mengalami gangguan perkembangan selain autisme.

Ada juga deteksi dini dengan CHAT (Checklist Autism in Toddlers, di atas usia 18 bulan) (Pediatrics 107 : 5, May 2001)

Dengan metode ini, ada pertanyaan-pertanyaan yang dapat ditanyakan kepada orang tua atau pengasuh si anak, yang meliputi aspek-aspek : imitation, pretend play, and joint attention.

BAGIAN A
Alo – anamnesis (keterangan yang ditanyakan dokter dan diberikan oleh orang tua atau orang lain yang biasa mengasuhnya)

  1. Senang diayun-ayun atau diguncang guncang naik-turun (bounced) di lutut ?
  2. Tertarik (memperhatikan) anak lain ?
  3. Suka memanjat benda-benda, seperti mamanjat tangga ?
  4. Bisa bermain cilukba, petak umpet ?
  5. Pernah bermain seolah-olah membuat secangkir teh menggunakan mainan berbentuk cangkir dan teko, atau permainan lain ?
  6. Pernah menunjuk atau menerima sesuatu dengan menunjukkan jari ?
  7. Pernah menggunakan jari untuk menunjuk ke sesuatu agar anda melihat ke sana ?
  8. Dapat bermain dengan mainan yang kecil (mobil mainan atau balok-balok) ?
  9. Pernah memberikan suatu benda untuk menunjukkan sesuatu ?

BAGIAN B.
Pengamatan

  1. Selama pemeriksaan apakah anak menatap (kontak mata dengan) pemeriksa ?
  2. Usahakan menarik perhatian anak, kemudian pemeriksa menunjuk sesuatu di ruangan pemeriksaan sambil mengatakan : “Lihat, itu. Ada bola (atau mainan lain)” Perhatikan mata anak, apakah anak melihat ke benda yang ditunjuk. Bukan melihat tangan pemeriksa
  3. Usahakan menarik perhatian anak, berikan mainan gelas / cangkir dan teko. Katakan pada anak anda : “Apakah kamu bisa membuatkan secangkir susu untuk mama ?” Diharapkan anak seolah-olah membuat minuman, mengaduk, menuang, meminum. Atau anak mampu bermain seolah-olah menghidangkan makanan, minuman, bercocok tanam, menyapu, mengepel dll.
  4. Tanyakan pada anak : ” Coba tunjukkan mana ‘anu’ (nama benda yang dikenal anak dan ada disekitar kita). Apakah anak menunjukkan dengan jarinya ? Atau sambil menatap wajah anda ketika menunjuk ke suatu benda ?
  5. Dapatkah anak anda menyusun kubus / balok menjadi suatu menara ?

Interpretasi

  1. Risiko tinggi menderita autis : bila tidak bisa melakukan A5, A7, B2, B3, dan B4
  2. Risiko kecil menderita autis : tidak bisa melakukan A7 dan B4
  3. Kemungkinan gangguan perkembangan lain : tidak bisa melakukan >3
  4. Dalam batas normal : tidak bisa melakukan ❤

Bagaimana hasil pengamatanku sendiri terhadap Dhika pada saat itu menggunakan berbagai metode ini? Yah, ada yang iya dan tidak, yang mendekati ke arah autisme. Dhika memang suka berputar-putar, ia nampak menghindari tatap mata, ia tidak suka menunjuk benda atau mengikuti arah jika ditunjukkan sesuatu. Tapi Dhika masih ada kelekatan denganku, ia menangis jika kutinggal, ia tidak terlalu suka memperhatikan benda bergerak atau roda berputar (masih dalam batas wajar), ia masih suka dipeluk. Ada semacam penolakan dari dalam diriku, dan berharap bahwa Dhika tidak autism. Tapi aku memang bukan ahlinya, aku memerlukan bantuan dokter untuk memastikan.

Bagaimana diagnosa Dhika menurut dokter ? Tunggu postingku berikutnya.

Iklan

Aksi

Information

2 responses

7 02 2014
deliana

Dear mbak. Saya pny anak umur 18 bulan. Saat ini blm bisa mengucapa kata yang benar.hanya bahasa planet nya dan.seringkali dipanggil tdk menoleh…akhir akhir ini saya khwatir krn anak.teman saya sudah pandai berbicara. Mnrt pengalaman mbak apakaah anak saya dlm batas wajar dan apakah kecepatan berbicara ini berpengaruh pada pertumbuhan di masa depananya? Makasi y mbak

jawab:
Sebaiknya diperiksakan saja, Mbak… untuk memastikan tumbuh kembangnya. oya, saya tidak punya lagi kontaknya pak Fredi, maaf tdk bisa membantu.

23 01 2011
laras tri saputri

ass.. wr.wb
maaf bu, saya mau tanya. kalau normalnya anak balita seumuran 2-3tahun kira-kira anak tsb sudah bs melakukan apa saja y bu??
sebab saya punya seorang sepupu. kira2 umurnya 2-3tahun, sebut saja si X. X ni di umur 2tahunan, dia normal seperti anak2 biasanya. sdh bisa berjalan, bermain. tp x ni blm pernah berbicara sedikitpun. x ni, jika d panggil tdk menoleh, seolah-olah tidak mmperdulikan keadaan disekitarnya. tapi jika da suatu benda atau binatang, x ni da ketertarikan untuk bermain dgn benda2 yg dia anggap menarik.
dulu semenjak saya blm baca blog ini saya belum tahu apa kemungkinan penyakit g diderita oleh X nii. tp setelah saya baca, gejala2 yang telah ibu sebutkan tsb diatas mirip dgn x ini. kebetulan x ini, org yg tdk ada (ekonomi kurang), apa mungkin bu, pengaruh kekurangan gizi bs menyebabkan terjadinya autisme??
dilihat dari segi fisiknya, x ini di umurnya sekarang kurus, perutnya seperti kembung. dan dari umur 1tahun sampai sekarang saya lihat tidak ada perkembangan secara fisiknya bu..

dimohon balasannya..
terimakasih
was..

jawab:
Sekali lagi penyebab autis itu bermacam-macam, mbak…. mungkin saja kurang gizi bisa menyebabkan perkembangan yang kurang, tapi nyatanya tidak semua demikian bukan? Dan untuk menetapkan diagnosa autis juga tidak mudah, harus dilakukan pemeriksaan yang lengkap. Sebaiknya diperiksakan ke dokter saja. Begitu ya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: