My first visit to Makassar..

1 12 2008

Alhamdulillah, saya dah sampai Jogja lagi. Pesawat Merpati yang saya tumpangi delayed satu jam semalam , tapi untungnya nggak sampai batal. Soalnya ada pesawat dari Makassar jurusan Kupang semalam dibatalkan karena masalah cuaca yang tak ramah. Yah…  kayaknya memang ngga berlaku ungkapan “Merpati tak pernah ingkar janji” …hehe….

Cuma nampaknya saya harus diet agak ketat nih beberapa hari ke depan. Berat badan dah naik sekilo selama 2 hari di Makassar. Lha gimana tidak, mosok mau menolak jamuan makan yang enak-enak? dan rasanya itu lho….. ra sah mbayar (maksudnya gak usah bayar, alias ditraktir)…. hehe…. Itu yang bikin lebih enak. Sampai di Makassar Sabtu pagi dan dijemput panitia. Setelah naruh tas di hotel dan ganti baju, jam 11 dah sampai ke STIFA Kebangsaan untuk memberikan kuliah tamu pada mhs S1 di sana. Habis itu dijamu makan siang di rumah makan Padang “Sederhana” yang harganya tidak sederhana… Hm.. saya coba beberapa macam lauk kesukaan, agak sedikit lepas kontrol nih hehe….. Cuma ya agak lucu juga, wong di Makassar kok malah makannya masakan Padang.

Siangnya habis makan siang, ngasih kuliah tamu lagi di Fak Farmasi UNHAS sampai sore. Pulangnya sempat diputer-puterin di kota Makassar oleh Pak Alam, kolega dosen Unhas yang pernah belajar di UGM. Lumayanlah, sempat lihat rumahnya Pak Wapres JK, lihat pantai Losari, dan bagian-bagian menarik dari Makassar walau cuma nonton dari mobil. Nah, malamnya saya diundang dinner di rumah makan Bahari bersama pembicara lainnya termasuk Bu Dirjen Bina Kefarmasian Depkes dan pak Direktur Bina Farmasi Klinik dan Komunitas. Hm…. makan lagi hehe….. Kali ini makanannya aneka seafood khas Makassar. Sayang kalau dilewatkan, kan? Ikan kerapu besaar digoreng, kepiting, cumi, udang, ikan bawal, dll. Oya, yang menarik, makanan pembukanya adalah otak-otak ikan. Jadi sebelum menu utama datang, kami dihidangi otak-otak ikan. Wow, itu kesukaan saya juga. Hm,..saya pulang dengan kekenyangan …..

Paginya breakfast di hotel Clarion tempat saya menginap. Itu juga nyam-nyam… saya cobain nasgorkam alias nasi goreng kambing, scrambbled egg kesukaan saya, dan aneka makanan lain.. Wah, bener-bener deh, kalau dah lihat makanan enak (dan gratis) suka lepas kontrol……

cotoPagi menjelang siangnya acara inti yaitu Seminar Kefarmasian di Unhas di mana saya menjadi salah satu pembicara. Singkat cerita, alhamdulillah… everythings was OK. Kali ini makan siangnya masakan Padang lagi pake kotak. Tapi saya cuma makan sedikit karena rasanya masih agak kenyang dengan breakfast paginya. Nah, untung cuma makan dikit siangnya, karena menjelang sorenya sebelum diantar ke Bandara, saya masih ditraktir Pak Alam dengan hidangan khas Makassar, yaitu Sop Konro dan Konro Bakar. Nah, ni dia yang saya tunggu-tunggu hehe…. mosok di Makassar kok belum sempat mencoba makanan khasnya. Hmm…. enaak. Konro Bakar ternyata berisi Iga sapi yang bakar dengan bumbu yang khas. Sedangkan Sop Konro ya sop Iga sapi yang punya citarasa khas juga. Sudah deh, sudah puas sekarang sudah ngerasain suasana Makassar.

Yang menarik dari orang Makassar sepanjang yang saya amati adalah cara bicaranya yang keras kayak orang marah-marah hehe….. Kita sering lihat di TV, mahasiswa Makassar terkenal sering berantem, mungkin karena sumbunya pendek jadi gampang meledak. Semangatnya juga berkobar-kobar. Seorang mahasiswa berkomentar dengan berapi-api dalam sesi saya, bahwa sebaiknya penulisan resep itu adalah tugas apoteker !! Dokter cukup mendiagnosa saja, nanti urusan pemilihan obatnya diserahkan pada apoteker sehingga apoteker-lah yang menulis resep.

Sik,sik…. nanti dulu, Daeng…… jangan kebablasan begitu!! Regulasi yang berlaku sekarang adalah bahwa pemilihan obat dan penulisan resep adalah wewenang dokter. Apoteker boleh memberikan saran atau rekomendasi mengenai obat, tapi apakah dokter akan menerima atau tidak saran apoteker, itu sudah di luar wewenang apoteker. Mbok sekarang lihat dulu lah pada diri sendiri, apakah apoteker sudah menjalankan peranannya dengan baik di masyarakat? Sebagai ahli tentang obat, sudahkah apoteker memberikan pelayanan informasi obat yang cukup kepada pasien atau siapapun yang membutuhkan? Sudahkah masyarakat merasakan kehadiran apoteker di tengah-tengah mereka yang akan menjamin bahwa obat yang diberikan aman, efektif, dan ekonomis? Jangan sampai lahan sendiri belum digarap kok mau minta lahan orang lain!!

Well, semangat itu perlu bahkan sangat penting. Tapi mesti diarahkan menuju hal yang positif dan dengan cara bijaksana. Selamat berjuang, para Daeng…. Pertahankan semangat Sultan Hasanuddin!!

Nah, begitulah my first visit to Makassar…. Mudah-mudahan ada yang mau ngundang lagi ke tempat lain hehe………

Iklan

Aksi

Information

2 responses

19 02 2009
Ayah Nissa

Wah ada istilah sumbunya pendek jadi mudah meledak. Anak saya lahir di Makasar (waktu itu Ujung Pandang) tahun 1998, apa karena sumbunya pendek ya, kok sekarang walaupun tidak di Makasar emosinya gampang meledak. Apa pengaruh tempat lahir ya, terus kira kira sumbunya bisa dipanjangin ngga, he he he. Bisa bisanya nih Bu Dosen bikin istilah.

3 12 2008
saldi hapiwaty dan desi lilianita

assalamu alaikum bu zullies…….dari mahasiswa STIFA KEBANGSAAN nih,….membaca blog ibu about makassar seru juga yach….hehehe……..keasyikan makan ya bu…….maaf bu……boleh nanya nih??oia apa ibu bisa menjelaskan lebih detail tentang penyuntikan pada spinal untuk orang yang pengen melahirkan tanpa rasa sakit??mekanismenya bagaimana bu??terima kasih sebelumnya bu…….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: