Mozaik hidup di Jepang (3): Harakiri…

20 11 2008

samurai seppukuSuatu hari ketika masih tinggal di Jepang, kami dikejutkan dengan sebuah berita bahwa ada teman Indonesia yang belajar di Hiroshima meninggal karena bunuh diri. Konon kabarnya itu merupakan usaha bunuh dirinya yang ketiga dan sukses, setelah sebelumnya mencoba menggunakan cara lain dan gagal. Caranya yang berhasil itu (katanya) adalah dengan menutup semua pintu dan jendela di labnya dan membuka saluran-saluran gas, dan ia meninggal karena menghirup gas-gas tersebut. Tapi persisnya sih kami tidak tahu.

Bunuh diri? Hm… apa dia ketularan orang Jepang? Orang Jepang terkenal punya kebudayaan bunuh diri. Konon dulu para pendekar samurai melakukan harakiri (bunuh diri) untuk mempertahankan kehormatannya. Harakiri berasal dari kata hara = perut, dan kiri = memotong. Para pendekar samurai dulu melakukan bunuh diri dengan menusuk perutnya dengan samurainya. Dari pada mati terbunuh oleh musuh, lebih terhormat mati dengan tangan sendiri, begitu barangkali. Istilah harakiri sendiri tidak lagi banyak dipakai di Jepang utk menyebut bunuh diri, mereka lebih banyak menggunakan kata “seppuku”.  Bahasa Jepang yang lebih populer untuk bunuh diri secara umum adalah jisatsu.

Hal ini merupakan fenomena menarik mengingat bahwa Jepang termasuk salah satu negara maju di dunia yang menghasilkan banyak pemenang Nobel. Pada tahun 2000, angka kematian akibat bunuh diri di Jepang mencapai 25 orang per 100.000 penduduk, jauh melebihi Inggris (7,4 per 100.000) dan Amerika (12 per 100.000). Pada tahun 2007, terdapat sebanyak 30.093 kasus bunuh diri yang dilaporkan, meningkat 2,9% dibandingkan tahun sebelumnya. Para “pebunuh-diri” di Jepang umumnya orang dewasa muda, dengan usia berkisar 25-39 tahun. Dan pada kisaran usia 40-54 tahun pebunuh diri didominasi oleh pria, yang diduga terkait dengan masalah kehilangan pekerjaan atau resesi ekonomi. Sedangkan pada usia remaja (15-24 th), alasan bunuh diri kadang bisa sangat sepele dan naif…. artis idolanya bunuh diri, ia ikut bunuh diri. Olala…. mengapa ya bisa terjadi demikian ?

Jika harakiri dulu dilakukan para pendekar samurai untuk mempertahankan harga diri dan kehormatan, bunuh diri jaman sekarang lebih bervariasi motifnya. Motif utama antara lain adalah malu. Pernah ada pejabat tinggi Jepang yang bunuh diri karena tuduhan korupsi yang sebenarnya belum terbukti.  Daripada malu masuk penjara mungkin, lebih baik bunuh diri. Motif berikutnya adalah putus asa. Sebuah laporan terbitan British Medical Journal menyebutkan bahwa pada golongan usia 40-54 tahun, upaya bunuh diri sering terkait dengan urusan pengangguran atau resesi ekonomi. Koran Jepang Asahi Shinbun tgl 27 sept 2008 melaporkan bahwa berdasarkan laporan dari Kementrian Pertahanan, angka bunuh diri pada personil Departemen Pertahanan di Jepang mencapai 34,4 per 100.000 penduduk pada tahun fiskal 2007. Dari sekian itu, 22% kasus disebabkan karena mereka tidak bisa bayar hutang, sisanya karena kekerasan oleh seniornya, dan 50% lebih motifnya tidak diketahui.

Ada fenomena lain yang menarik dalam hal motif bunuh diri orang Jepang, yaitu sebagai ekspresi bentuk tanggung-jawab, yang diistilahkan dengan inseki-jisatsu. Bunuh diri dengan motif sebagai bentuk tanggung-jawab ini justru banyak dilakukan oleh orang-orang dengan kedudukan sosial yang tinggi, seperti direktur perusahaan, politisi, kepala sekolah, dll. yang biasanya menjadi penanggun-jawab dari suatu aktivitas besar. Kegagalan dalam mengelola perusahaan sehingga menyebabkan bangkrut misalnya, atau musibah di sekolah yang menyebabkan terjadinya kematian siswa, bisa menyebabkan direktur perusahaan atau Kepala Sekolahnya bunuh diri. Inseki-jisatsu ini juga bisa terjadi di lingkip keluarga. Sering diberitakan seorang ayah bunuh diri karena putranya tertangkap melakukan perbuatan kriminal. Di samping malu, itu adalah bentuk tanggung-jawabnya yang gagal mendidik anak sehingga anaknya melakukan tindakan kriminal. Menariknya, nampaknya tudak ada upaya-upaya pencegahan bunuh diri ini karena nampaknya dianggap hal biasa dan diterima secara sosial dan budaya di Jepang.

Modus operandi bunuh diri juga bermacam-macam. karena memang cara bunuh diri sekarang lebih bervariasi dan canggih hehe…. Ada yang terjun dari gedung tinggi (ini cukup banyak), menabrakkan diri ke kereta yang berjalan, menembak diri, dll. Sampai-sampai di stasiun KA perlu diberi detektor pencegah bunuh diri. Bandingkan dengan kasus bunuh diri di Gunung Kidul yang juga cukup banyak di Indonesia. Kebanyakan mereka bunuh diri dengan gantung diri atau minum racun serangga.. lebih kuno dan konvensional hehe…..

Yah, bunuh diri diyakini oleh para penganut agama monoteis sebagai tindakan berdosa. Tapi nampaknya orang Jepang memang tidak menganut hal ini. Aku melihatnya sebagai suatu keputus-asaan karena merasa tidak ada jalan lain yang lebih baik, mereka tidak memiliki tempat bergantung yang mereka yakini, dan tidak ada tujuan hidup yang lebih berarti. Agama bagi mereka sangat pragmatis, mana yang enak ya dipakai. Mereka bisa merayakan kelahiran bayi menurut ajaran Budha, menikah dengan cara Kristen/katolik di gereja, dan memperlakukan orang meninggal dengan ajaran Shinto. Mereka menganut politeisme dengan banyak dewa, tapi ternyata banyak dewa tidak bisa menolong mereka mengatasi kesulitan hidupnya………

Bersyukurlah yang masih meyakini adanya satu-satunya penolong utama yaitu Allah SWT, yang tak akan memberi beban melebihi kemampuan umatNya… dan akan menolong siapapun yang memohon, dan mengampuni siapapun yang bertaubat.

Ya Allah, hanya padaMu hamba menyembah, dan hanya padaMu hamba mohon pertolongan…..


Aksi

Information

2 responses

8 09 2014
anna

bu…. saya sedang bermasalah, membaca tulisan ibu jd terharu.. Allah tidak menguji makhluknya melampaui kemampuannya… Sukses selalu utk ibu…

26 02 2010
arie

wah, bagus bgt info ny.. kebetulan aku lgi ad tugas ttg bunuh diri remaja jepang… klo ada info lgi, tlong kasih tau y… ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: