Penggunaan obat semasa hamil

14 11 2008

hamil1Kehamilan adalah saat yang menggembirakan (apalagi  bagi yang baru pertama), sekaligus mendebarkan. Akan seperti apa anakku nanti? Laki-laki atau perempuankah? Mirip siapakah? dan yang lebih penting lagi : sehatkah? sempurnakah fisiknya? Berkaitan dengan kesempurnaan fisik, selain tentu saja berserah pada takdir Sang Kreator, ada hal-hal yang bisa diupayakan, terutama dengan menjaga suplemen makanan yang tepat untuk perkembangan si kecil dalam kandungan dan melindungi dari paparan bahan-bahan yang berbahaya bagi janin.
Secara umum, kebutuhan tambahan utama bagi perkembangan janin adalah calcium/kapur sebagai unsur pembentuk tulang, dan besi/Fe sebagai unsur penyusun darah. Selain itu tentu ada vitamin-vitamin lainnya. Kebutuhan itu dapat dipenuhi melalui sayur-sayuran hijau, susu, daging, ikan, dll makanan sehari-hari, juga bisa diperoleh melalui suplemen vitamin. Berbagai suplemen vitamin telah sditawarkan, silakan memilih mana yang paling tepat, dengan melihat kandungan isinya.
Karena kebutuhan pada masa hamil adalah “lipat dua”, tidak ada salahnya anda menambah suplemen vitamin dalam makanan sehari-hari.

“Kontak” antara sang ibu dan janin adalah melalui plasenta. Beberapa obat tertentu (tergantung struktur senyawanya) dapat menembus “barrier” plasenta masuk ke dalam janin, sementara obat lain mungkin hanya sebagian atau tidak sama sekali. Sehingga perlu sekali diperhatikan penggunaan obat-obatan selama kehamilan, karena dapat mempengaruhi janin.

Obat bisa mempengaruhi janin dengan berbagai bentuk. Ada yang bisa membunuh janin, ada yang “hanya” menyebabkan cacat janin. Dan pengaruh obat ini juga tergantung pada usia janin pada saat obat digunakan. Satu kasus terkenal tentang efek obat terhadap janin adalah kasus “thalidomide” sekitar tahun 1960an. Thalidomide adalah obat tidur yang sekaligus juga untuk mengatasi mual muntah pada kehamilan yang saat itu baru disetujui pemkaiannya di Eropa. Apa yang terjadi beberapa tahun setelah obat tersebut dipasarkan?  Ternyata 12.000 bayi lahir dengan cacat yang disebut phocomelia (seperti kura-kura)  yaitu tak punya tangan atau kaki, kalaupun ada sangat pendek mirip seperti kura-kura. Dan itu terjadi pada bayi yang lahir dari ibu-ibu yang saat hamilnya mengkonsumsi thalidomide. Segera obat tersebut ditarik dari pasaran, dan tentu saja cukup membuat kehebohan di dunia kesehatan.

Bagaimana sih perkembangan bayi dalam rahim ? Menurut Saunders (1988), ada yang disebut masa embrionik, yaitu dari proses bertemunya sel terlur sampai perkembangan tertentu, yang berlangsung selama 8 minggu. Selanjutnya disebut fetal period (masa janin) yang berlangsung minggu ke 9 sampai lahir (38 minggu). Obat yang bersifat teratogenik (menyebabkan cacat) umumnya dapat berakibat signifikan jika diminum pada masa embrional pada minggu ketiga sampai 8.

Di bawah ini adalah urutan perkembangan janin:
Minggu ke 3 : perkembangan jantung dan susunan syaraf pusat
minggu ke 4 – 5 : mata, tangan dan kaki mulai dibuat, sementara jantung masih berkembang.
minggu ke 6 : gigi dan telinga mulai dibentuk
minggu ke 7-8 : langit-langit mulut dan alat kelamin luar mulai dibikin. Selanjutnya setelah organ-organ telah komplet, otak berkembang pada minggu ke 20-36.

Jika ada obat-obat yang bersifat teratogenik diminum pada masa ini, maka masing-masing organ akan terpengaruh tergantung saat minumnya.

Namun jangan kuatir, tidak setiap obat dapat berpengaruh signifikan terhadap janin. Untuk mengetahuinya, memang perlu ditanyakan kepada dokter atau apoteker. Pada banyak buku-buku informasi obat, pada setiap obat umumnya ada keterangan mengenai kategori risiko pada kehamilan.

Kategori A= artinya hasil studi pada wanita hamil menunjukkan bahwa obat tidak terbukti berisiko pada janin pada trimester pertama, dan tidak ada fakta risiko pada trimester selanjutnya. Artinya obat aman untuk kehamilan

Kategori B = studi pada hewan uji yang bunting menunjukkan bahwa tidak ada risiko pada janin, tetapi belum ada uji terkontrol pada manusia/wanita hamil. Jadi obat aman, tapi baru terbatas pada studi menggunakan hewan. Umumnya obat masih relatif dinyatakan aman untuk kehamilan.

Kategori C = studi pada hewan menunjukkan adanya efek terhadap janin (menyebabkan kecacatan atau kematian), namun studi pada manusia belum tersedia. Obat kategori ini boleh diberikan pada manusia hanya kalau manfaatnya melebihi risikonya pada janin.

Kategori D = terdapat bukti yang positif bahwa obat mempengaruhi janin, tetapi penggunaannya pada manusia mungkin masih dapat diterima walaupun berisiko (misalnya pada keadaan darurat yang memerlukan obat tersebut, atau pada suatu penyakit serius di mana obat lain yang lebih aman tidak tersedia, dan jika tidak diobati akan menyebabkan sesuatu yang lebih fatal).

Kategori X = Studi pada hewan maupun manusia benar-benar menunjukkan risiko kecacatan atau kematian pada janin. Obat kategori ini tidak boleh digunakan pada wanita hamil.

Beberapa obat yang sering Anda pakai mungkin perlu diperhatikan lagi kategorinya dalam risikonya terhadap kehamilan. Aspirin misalnya, digolongkan kategori C/D. Sedangkan Parasetamol tergolong kategori B. Antibiotika amoksisilin dan ampisilin termasuk kategori B. Metoklopramid, yang sering diresepkan untuk mengatasi mual muntah pada hamil muda juga tergolong kategori B. Fenitoin dan valproat yang digunakan untuk anti epilepsi tergolong kategori D. Sedangkan yang termasuk kategori X adalah estradiol dan estrogen. Informasi semacam ini bisa ditanyakan pada apoteker atau dokter Anda.

Yah, begitulah. Sebaiknya hindari sebisa mungkin penggunaan obat pada kehamilan, kecuali vitamin dan suplemen yang memang diperlukan untuk mendukung perkembangan janin. Usahakan kehamilan Anda  selalu dibawah pengawasan dokter, Insya Allah tidak akan terjadi hal-hal seperti tersebut di atas.

Dan di atas itu semua, tentu harus berserah diri pada sang Pencipta. Anak kita adalah cermin diri kita, karena akan mewarisi karakter orangtuanya.

Selamat menanti si kecil… Siapa takuutz ?


Aksi

Information

3 responses

28 04 2014
hero

Assalamualaikum buk
Bagaimana dgn obat flu jika hamil pada trimester pertama
Istri saya flu disertai demam
Tapi saya bingung mau diberikan obat apa tidak
Obat apakah yg aman untuk flu pd wanita hamil?

Jawab:
obat flu yang ada relatif aman untuk kehamilan

3 04 2009
Robby

Bu,,saya mau tanya bagaimana sebenarnya pengaruh tetrasiklin dan karbamazepin pada ibu hamil?
Apakah bersifat sebagai teratogenik?
Kalau iya,,bagaimana mekanisme aksinya?
Terima kasih…
=)
Jawab:
Tetrasiklin termasuk obat yang risk factor-nya D untuk kehamilan, jadi tidak aman. Ia bisa menembus plasenta dan masuk pada sistem sirkulasi janin. Dapat membentuk kelat dengan logam-lologam bervalensi 2 dan 3 (misal: Ca, Al, Mg). Jika digunakan pada kehamilan trimester 2-3, menyebabkan pewarnaan gigi (menjadi coklat). Karbamazepin juga masuk golongan D, tidak aman utk kehamilan, dapat menyebabkan kecacatan janin yang cukup beragam(dysmorphic facial features, cranial defect, cardiac defect, spinda bifida, dll).
Demikian, semoga bermanfaat.

$

17 11 2008
pengobatan kehamilan

artikel yang menarik…saya tunggu yang selanjutnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: