Belajar di negeri Hirohito dengan modal “bejo”…

12 11 2008

Beberapa hari ini aku sering ditanya tentang bagaimana caranya aku bisa belajar S3 di Jepang, dengan beasiswa apa? Bagaimana cara mendapatkan profesor yang mau menjadi supervisornya? Dan lain-lain.

 

Biar tidak perlu mengulang-ulang cerita, aku coba tuliskan lika-liku perjalananku belajar di negeri sakura, yang sungguh sebenarnya tidak terlalu istimewa… tapi siapa tau ada yang bisa mengambil pelajaran dari pengalaman ini. Mungkin agak panjang tulisannya, yang akan aku bagi-bagi dalam beberapa bagian.

Bag I : Mengapa Jepang ?

Ketika diterima menjadi dosen di UGM, salah satu keinginanku tentunya bisa belajar keluar negeri. Gayung bersambut ketika suamiku pun bercita-cita serupa, belajar ke luar negeri !! Maka tak lama setelah menikah, suamiku mencoba lebih dulu apply beberapa proposal beasiswa. Maksudku nanti, kalau suamiku sudah jelas belajar di mana, aku menyesuaikan. Ada 3 negara yang disasar waktu itu, Australia, Belgia, dan Jepang. Australia karena relatif dekat dan sudah ada profesor yang bersedia menjadi supervisor, Belgia karena dulu ia pernah training di sana, dan Jepang karena terkenal beasiswanya paling tinggi sedunia hehe……

Sebenarnya Jepang tidak terlalu menarik buatku (kecuali beasiswanya yang tinggi) karena berarti harus belajar bahasa baru lagi yang tidak pernah dipelajari sebelumnya. Tapi ternyata takdir membawaku kesana, karena setelah apply dua kali, pada kali kedua suamiku berhasil mendapatkan beasiswa dari Monbusho (Pemerintah Jepang) untuk belajar program S3. Ada hikmahnya juga bahwa suamiku baru berhasil dapat beasiswa setelah mencoba dua kali, karena jika pada kesempatan pertama ia lolos, kami yang notabene waktu itu masih pengantin baru harus hidup terpisah. Dengan baru berhasil pada kali kedua, kami masih bisa bersama sampai anak kami yang pertama lahir, tahun 1997. Ia berangkat ke Jepang ketika putra pertama kami berumur 50 hari. Selama ia di Jepang, aku mulai mengarahkan pencarianku untuk belajar di Jepang pula. Syukur bisa bersama, begitu harapanku. Atau paling tidak berdekatan kota, supaya masih mudah untuk saling bersua. Aku coba apply beberapa penawaran beasiswa, antara lain INPEX Foundation dan Hitachi Scholarship Foundation, untuk program S2. Oya, suamiku belajar di Ehime University, di kota Matsuyama, Ehime Perfecture di Pulau Shikoku. Aku ingat, ketika itu nilai 1 yen adalah 20an rupiah.

Bag 2 : Bagaimana mencari profesor sebagai supervisor?
Ada beberapa cara yang kutempuh untuk mencari profesor yang mau jadi supervisor. Hal ini perlu karena pada aplikasi proposal sholarship juga diminta melampirkan “Letter of acceptance” dari profesor yang akan membimbing kita. Katanya dengan ini akan lebih mendukung aplikasi proposal kita.

Cara pertama, karena waktu itu masih belum pe-de, aku minta tolong dosen senior yang punya kenalan dengan profesor di Jepang untuk memperkenalkan aku kepadanya. Waktu itu aku sempat dibantu Prof Lukman untuk memperkenalkan diriku dengan profesor yang beliau kenal, dan bidang yang kucari waktu itu adalah Clinical Pharmacy. Ya, sebenarnya profesornya bersedia, tapi beliau mewanti-wanti, bahwa untuk belajar Clinical Pharmacy di Jepang, aku harus fluently speak Japanese, karena dalam proses belajar nanti aku akan berinteraksi dengan pasien, dokter, dan tenaga kesehatan lain. Padahal orang Jepang belum tentu bisa berbahasa Inggris. Wah, aku jadi agak ciut.

 Cara kedua, aku searching di internet. Kebetulan Ehime University tdk memiliki Fakultas Farmasi, jadi aku mesti cari Universitas lain yang sesuai dengan bidang yang ingin aku tempuh. Jadilah aku mencari Universitas yang dekat-dekat dengan Ehime, dan ketemulah Hiroshima. Kota yang pernah dibom atom tahun 1945 dulu itu lumayan dekat dengan Ehime. Walaupun beda pulau, tapi transportasinya sangat mudah, bahkan ada juga jalan darat yang menghubungkan dua pulau besar di Jepang itu (pulau Shikoku dan Honshu), melalui jembatan Shimanami Kaido. Aku klik Hiroshime University, klik lagi Fakultas Farmasi, dan klik lagi ke bidang yang aku mau, lalu ketemulah nama satu profesor. Dengan gambling aku menge-mail Profesor tersebut dengan menyertakan CV dan menyampaikan keinginanku untuk belajar di bawah supervisinya dan aku sampaikan bahwa aku sedang akan apply sebuah scholarship dan membutuhan “Letter of Acceptance” beliau. Alhamdulillah, singkat cerita, beliau mau dan mengirimkan surat yang kubutuhkan, tinggal kemudian aku apply ke scholarship yang menawarkan waktu itu yaitu Hitachi.

Cara yang sama aku lakukan dengan profesor lain dari Universitas lain, ketika apply scholarship yang lain, dan beliau juga mau memberikan surat kesediaannya menjadi supervisor seandainya aku berhasil mendapatkan scholarship tersebut. Waktu itu aku mendapatkan profesor dari Tokushima University, yang masih satu pulau dengan Ehime. Alhamdulillah, aku gagal dalam mendapatkan dua scholarship tersebut. Dan, waktu itu aku memang belum banyak pengalaman dan wawasan, jadi ya aku menerima saja. Gagal kok alhamdulillah ? hehe….. Ya, aku beryukur karena ternyata kegagalan ini membawaku ke jalan yang lain menuju negeri Sakura. Kali ini suamiku turun tangan. Di Ehime University memang tidak ada Fakultas Farmasi, tetapi ada Fakultas Kedokteran. Dan di sana ada ilmu yang cukup dekat dengan ilmu kefarmasian yaitu Ilmu Farmakologi. Jadilah suamiku diantar oleh temannya yang sudah lama tinggal di Jepang mencoba menemui sang Profesor Farmakologi sambil membawa CV-ku. Setelah mengetahui bahwa suamiku sudah belajar di Jepang dengan beasiswa Monbusho dan setelah mempelajari CV-ku, singkat cerita beliau menerimaku untuk belajar di sana. Aku di sana diterima sebagai “foreign researcher” yang akan bekerja di labnya, dan bukan sebagai students yang harus bayar tuitition. Untuk itu nanti aku akan digaji dari Lab, yang jumlahnya tidak banyak, tapi cukuplah, karena aku toh nanti bisa hidup dari beasiswa suami.

 Bag 3: Langsung Program S3

Prof Maeyama pake sweater biru tua (duduk paling kanan), disebelahnya adalah Prof. Beaven, tamu dari Amerika saat itu. Sebelahnya lagi ada Elizabeth, mahasiswa S1 dari Swedia yang lagi magang di lab. Yang manis berkerudung putih adalah aku sendiri hehe.....

Semula aku mencari scholarship untuk program Master, karena waktu itu aku memang baru S1. Tapi ternyata di Ehime University aku malah bisa langsung program S3. Kok bisa ? Jadi ceritanya, di Fak Kedokteran Ehime Univ memang tidak ada Program S2, karena di sana dokter menyelesaikan kuliahnya selama 4 + 2 tahun, yang setara dengan program Master, jadi hanya ada program S3 untuk postgraduate-nya. Nah, untuk program S3, di Ehime Univ ada kesempatan untuk memperoleh PhD secara “by research” (tidak perlu ada kuliah, dan tidak perlu menjadi students). Syaratnya adalah memiliki period of research selama 8 tahun, risetnya nanti harus dipublikasikan secara internasional, dan sesuai aturannya, tentu harus mengikuti “entrance examination” untuk resmi masuk program S3, serta harus ikut ujian disertasi untuk mempertahankan disertasinya. Karena aku sudah resmi jadi dosen Fak Farmasi per 1 Maret 1993, dan telah melakukan kegiatan penelitian selama kurun waktu itu yang aku lampirkan dalam CV-ku, maka pada Maret 1998 (ketika aku pertamakali datang ke Ehime), aku dianggap telah “completing 5 years of research period”, sehingga aku tinggal perlu 3 tahun lagi untuk memenuhi syarat program S3 di Ehime. Inilah keberuntunganku yang pertama (alhamdulillah). Jadilah aku belajar disana, di Department of Pharmacology, Fac of Medicine, Ehime University. Profesorku, Prof Kazutaka Maeyama, sangat baik dan perhatian. Singkat cerita, alhamdulillah, aku bisa menyelesaikan risetku dengan baik, mempublikasikan beberapa publikasi internasional selama di sana dalam kurun waktu 3 tahun, dan menyelesaikan ujian disertasi dengan baik. Sehingga, aku dan suami bahkan bisa selesai dalam waktu yang bersamaan. Ia ujian disertasi bulan Pebruari, aku bulan Maret. Kami pulang ke Indonesia pada awal April 2001 menggondol gelar PhD.

 

 Bab 4: Honey moon dan hikmah di balik krismon
Keberuntunganku kedua adalah aku jadi bisa hidup bersama suami di Jepang. Padahal semula aku membayangkan bahwa mungkin aku harus hidup terpisah dari suami karena kami belajar di kota yang berbeda. Alhamdulillah, ternyata malah bisa bareng. Datang ke Jepang dijemput suami, sampai sana tinggal masuk apartemen yang sudah disiapkan, sudah tidak perlu “thingak-thinguk” lagi karena sudah ada “guide” untuk hidup sehari-hari. Malah rasanya kaya honey moon saja, karena cuma hidup berdua, sekasur berdua hehe…. Selain urusan penelitian masing-masing, kami sering gunakan waktu untuk jalan-jalan baik di dalam kota atau keluar kota, bahkan keluar pulau dan ke luar negeri. Ke luar negeri berangkat dari Jepang membawa uang yen rasanya lain lho….. hehe…. nggak terlalu berhitung kalau mau beli-beli sesuatu.

Bagaimanapun, ada harga yang harus kami bayar. Yaitu kerinduan pada anak yang aku tinggal di rumah eyangnya ketika aku harus berangkat ke Jepang. Umurnya waktu itu baru 1 tahun 2 bulan. Masih menyusu ASI. Kebayang kan, aku sampai nangis bombay…… sedih banget meninggalkan si kecil, sampai sering terbawa mimpi di awal-awal hidupku di Jepang. Setiap malam nelpon ke Indonesia hanya untuk menanyakan kabarnya.

Di sisi lain, tahun 1998, terjadi peristiwa bersejarah di tanah air, yaitu mundurnya Presiden Soeharto dan awal era reformasi. Aku hanya menyaksikan hiruk pikuk itu dari jauh, dan ketika Pak Harto menyampaikan pengunduran dirinya, aku hanya lihat dari TV di lab ditemani teman-teman satu lab. Mata uang rupiah terjun bebas, nilai yen melejit, yang dulu tahun 1997 ketika suamiku berangkat berkisar 20-21 rupiah, meningkat menjadi 60-70 rupiah. Yah, maafkan aku, teman, kalau aku seolah-olah tertawa di atas penderitaan bangsaku (ceilee..)…… soalnya aku justru mendapatkan keberuntungan berikutnya, yaitu nilai tabunganku jadi meningkat karena kami menyimpan dalam mata uang yen. Yang ketika dibawa ke tanah air rasanya jadi banyaak sekali, yang tak pernah terbayang bisa memilikinya jika kami tidak sempat berada di negeri sakura dan hanya mengandalkan gaji PNS yang takseberapa….

Bag akhir: Penutup
Nah, begitulah kisah lika-liku perjalananku selama belajar di negeri orang. Terasa sekali bahwa keberhasilanku lebih banyak karena kemurahan Allah semata, bukan karena prestasi akademik yang menjulang, tapi lebih karena keberuntungan. Orang bodoh itu biasanya kalah dengan orang pintar. Orang pintar kalah dengan orang tekun. Tapi orang pintar dan tekun seringkali kalah dengan orang beruntung hehe…….. “Bejo” kalau orang Jawa bilang. Dan aku tidak berhenti bersyukur atas  semua kesempatan yang diberikan Allah ini kepadaku. Alhamdulillah. Semoga dengan selalu bersyukur, Allah akan memberikan kenikmatan lebih banyak lagi kepada kita. Amien. Tentu aku juga berterimakasih pada berbagai pihak yang telah melancarkan program belajarku saat itu, temasuk para petinggi Fakultas waktu itu.

 

Saking terkesannya aku dengan rasa keberuntungan ini, maka ketika anak kedua kami lahir setahun setelah kami pulang ke tanah air, aku menyisipkan kata “Faza” pada namanya, yang berasal dari bahasa Arab yang artinya beruntung. Semoga itu menjadi doa baginya, untuk menjadi seorang yang selalu beruntung. Amien. Tentu bukan nama “Bejo” yang aku sematkan, karena kayaknya kurang estetis untuk nama seorang cewek. Bejowati ? ….. Hmm… kurang manis!


Aksi

Information

6 responses

27 08 2012
Dina Syofia Syamer

Assalamualaikum, Bu. Saya merasa terinspirasi dg pengalaman Ibu. Saya jg sdg mencoba utk mendapatkan beasiswa S2 di Jepang. Mudah2an saya bs mengikuti jejak Ibu. Tapi bagaimana Ibu mendapatkan izin belajar PNS? Mohon share ya Bu. Terima kasih

Jawab:
Saya kira itu tergantung instansi masing-masing. Kalau saya sebagai dosen, tugas belajar itu “wajib”, jadi mudah mendapat izin dari instansi, bahkan didorong utk belajar ke luar negeri. Silakan ditanyakan pada bagian kepegawaian instansi Anda.

25 12 2009
Syifa Fauzia

Bu, saLam kenal…
Saya Syifa, yang insyaaLLah bakaL berangkat ke Ehime dengan modaL “Bejo” juga di buLan Januari 2010…
Nanti saya akan ke sana dengan 10 orang teman dari UGM, 12 dari UNHAS, dan 2 dari IPB…
Untuk diceritakan, akan sangat panjang…
Saya berharap bisa bertemu Ibu yang sangat inspiratif bagi saya disana…

My best regards..
Syifa Fauzia
International Relations of Hasanuddin University

Jawab:
dear Mbak Syifa,
syukurlah kalau Anda punya kesempatan pergi belajar di sana. sayangnya saya udah ngga di sana lhoo, saya di Yogya. tapi mudah-mudahan saja masih ada kesempatan main ke sana lagi.
terimakasih apresiasinya.
Salam

27 11 2009
Vivi Dewi Sindoro

Cerita yang OK!

15 01 2009
Santi

Wah..jadi kecanduan nengok blog ini. Cerita yang menarik Bu…terutama bagian “meninggalkan anak di tempat eyang” sebab sepertinya Saya juga kan segera mengikuti jejak itu terkait rencana S2 ke OZ bbrp bulan lagi. Lega rasanya tau bahwa Saya bukan satu2nya ibu yang terpaksa meninggalkan anak demi secuil ilmu dan segepok dollar.🙂

Jawab:
Iya deh, selamat berjuang…. tidak mudah memang meninggalkan anak, apalagi masih kecil… but, we have to choose…

4 12 2008
afifah

terima kasih bagi-bagi pengalamannya. awalnya kemaren langsung mau email ke salah satu profesor jepang juga, tapi kurang pede. jadi nanya2 dulu bu biar nanti gak malu-maluin… doakan ya bu… saya dapat sekolah yang terbaik… amien

17 11 2008
giyztar

selamat ya bu.dosen.semoga sekarang di tanah air menjadi lebih bermanfaat dengan ilmunya dari jepang…perjalanan yang menarik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: