Dokter – apoteker : cs apa vs ?

27 10 2008

Dear netters,

Apa yang Anda ketahui tentang profesi Apoteker? Tukang bikin obat? Tukang jualan obat? Atau.. barangkali Anda tidak tahu sama sekali tentang apoteker. Yah, Anda tidak salah, bahkan jika Anda tidak kenal profesi Apoteker. Sejak dulu,  Apoteker, atau Farmasis, memang dikenal sebagai pembuat obat di pabrik, atau penjual obat di apotek. Tapi sebenarnya, kebisaan apoteker tidak hanya itu. Bermula di negara maju seperti Amerika dan Inggris, pada dua dasawarsa teakhir, orientasi kegiatan farmasis/apoteker telah bergeser dari berorientasi produk menjadi berorientasi pasien. Artinya bahwa pelayanan farmasi tidak sebatas membuat atau menjual obat saja, tapi juga memastikan bahwa pasien menggunakan obatnya dengan tepat dan benar. Hal ini dapat dicapai dengan memberikan informasi dan edukasi seluas-luasnya pada pasien dan masyarakat mengenai penggunaan obat yang benar. Informasi dan edukasi ini bisa dilakukan dengan berbagai cara. Bisa di apotek, rumah sakit, lewat media massa, atau cara apa saja. Sementara itu, di rumah sakit, mulai tampil apoteker dengan “wajah baru” yaitu sebagai farmasis klinik. Yakni, apoteker yang memiliki keahlian klinik dan terlibat dalam tim kesehatan di rumah sakit untuk memantau terapi dan pengobatan pasien, guna memastikan bahwa pasien mendapatkan pengobatan yang tepat, aman dari efek samping, dan ekonomis. Di Indonesia, profesi farmasis klinik mulai menggeliat, walau masih perlu meniti jalan panjang.


Untuk itu, apoteker perlu bisa bekerja sama dengan tenaga kesehatan yang lain, termasuk dengan dokter.
Konsep kolaborasi dengan tenaga kesehatan yang lain relatif masih cukup baru bagi farmasi, dibanding bagi perawat misalnya, yang telah mengenal konsep tersebut sejak lama dan hal itu mudah ditemukan dalam berbagai literatur ilmu keperawatan. Tidak kurang di AS sendiri, hubungan antara dokter dan Apoteker belum mencapai taraf yang ideal. Usaha-usaha untuk menyakinkan dokter untuk memanfaatkan keahlian Apoteker dalam membantu memanage terapi pasien masih belum sepenuhnya berhasil. Tulisan ini mencoba menyoroti hubungan dokter-apoteker, yang mestinya jadi cs bukannya vs, kawan bukannya lawan.


Dalam sebuah publikasinya, McDonough dan Doucette (2001) mengusulkan satu model untuk Hubungan Kerja Kolaboratif antara Dokter dan Apoteker (Pharmacist-Phycisian Collaborative Working Relationship. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi hubungan ini antara lain disebutkan:

a.    Karakteristik partisipan. Yang termasuk karakteristik partisipan adalah faktor demografi seperti pendidikan dan usia. Contohnya, dokter muda yang sejak awal dididik untuk dapat bekerja sama dalam tim interdisipliner mungkin akan lebih mudah menerima konsep hubungan dokter-Apoteker.

b.    Karakteristik konteks. Yang dimaksud adalah kondisi pasien, tipe praktek (apakah tunggal atau bersama), kedekatan jarak praktek, banyaknya interaksi, akan menentukan seberapa intensif hubungan yang akan terjalin.

c.    Karakteristik pertukaran. Yang termasuk di sini antara lain adalah: ketertarikan secara profesional, komunikasi yang terbuka dan dua arah, kerjasama yang seimbang, penilaian terhadap performance, konflik dan resolusinya. Semakin seimbang pertukaran antara kedua belah pihak, akan memungkinkan hubungan kolaboratif yang lebih baik.

Bagaimana memulai suatu hubungan kerjasama yang kolaboratif antara dokter dan Apoteker? Menurut McDonough dan Doucette (2001) ada 4 tahap stage hubungan.

Stage 0 : Professional awareness.
Ini adalah stage awal, di mana masing-masing profesi saling mengenal dan mengetahui. Hubungannya masih “alamiah”, hanya sebatas Apoteker menerima resep dari dokter, kemudian dispensing. Apoteker mengontak dokter jika terjadi hal-hal tidak jelas yang terkait dengan resep (dosis, nama obat, dsb), dan menjawab pertanyaan tentang infomasi obat. Tidak ada diskusi lebih lanjut apakah obat telah memberikan hasil optimal kepada pasien.
Mestinya Apoteker tidak boleh puas hanya dengan stage tersebut, walau dianggap lebih aman secara profesional. Apoteker perlu meningkatkan peranannya untuk mencapai pada stage 1.

Stage 1 : Professional recognition.
Pada awalnya, usaha untuk meningkatkan frekuensi dan kualitas hubungan dokter-Apoteker cenderung unilateral, dengan Apoteker yang harus memulai. Apoteker perlu berusaha untuk membuat dokter menjadi paham tentang apa-apa yang bisa “disumbangkan” Apoteker terhadap pelayanan pasien, misalnya menunjukkan keahliannya dalam memberikan informasi obat yang up to date, memberikan alternatif obat untuk kondisi-kondisi khusus pasien, dsb.  Dari situ dokter akan dapat membangun dasar kepercayaan dan menumbuhkan komitmen terhadap hubungan kerjasama dengan Apoteker.Pada stage ini, komunikasi sering merupakan tantangan tersendiri. Jangan sampai terjadi miskomunikasi bahwa seolah-olah Apoteker akan “mengintervensi” wewenang dokter dalam memilih obat atau akan menjadi “polisi” yang akan mengawasi pengobatan oleh dokter. Justru perlu ditekankan bahwa Apoteker adalah mitra yang akan membantu dokter sesuai dengan kewenangannya, demi tercapainya pengobatan pasien yang optimal.
Pada stage ini dapat dirumuskan mengenai bentuk kerjasama, bagaimana cara komunikasinya, bagaimana protokolnya, dan dibuat suatu kesepakatan.

Stage 2: exploration and trial.
Setelah hubungan kerjasama disepakati untuk berlanjut, masuklah pada stage ke 2. Pada stage ini partisipan (dokter dan Apoteker) akan menguji kekompakan, harapan, kepercayaan dan komitmen mereka terhadap hubungan kerjasama. Dokter mungkin akan memutuskan untuk merujuk pasien ke Apoteker untuk hal-hal yang terkait dengan obat, misalnya penyesuaian dosis dan konseling obat, dan mengevaluasi kompetensi Apoteker untuk memutuskan apakah kerjasama ini cukup bermanfaat dan dapat dilanjutkan. Sebaliknya Apoteker juga dapat menilai apakah dokter tersebut dapat diajak bekerja sama yang positif.Pada fase ini, jika harapan dokter terhadap Apoteker terpenuhi, dokter akan memberikan kepercayaan kepada Apoteker untuk meneruskan kerjasama untuk bersama-sama memberikan pelayanan yang terbaik pada pasien. Sebaliknya jika ternyata harapan masing-masing tidak terpenuhi dari adanya hubungan ini, maka hubungan kerjasama mungkin akan berakhir.
Jika dokter dan Apoteker telah melihat dan mendapatkan manfaat kerjasama mereka dari stage exploration and trial, maka mereka dapat meningkatkan dan memperluas kerjasama profesional tersebut dan sampai ke stage 3.

Stage 3: professional relationship expansion.
Pada stage ini kuncinya adalah komunikasi, pengembangan norma/aturan yang disepakati, penilaian performance, dan resolusi konflik. Pada fase ini the exchange efforts masih belum seimbang, dengan Apoteker perlu secara kontinyu mengkomunikasikan mengenai manfaat bagi pasien yang mendapat pelayanan farmasi yang tepat. Jika performance Apoteker sesuai dengan ekspektasi dokter, dokter dan Apoteker secara pelan-pelan akan memantapkan lingkup dan kedalaman saling ketergantungan (interdependence) mereka. Tujuannya adalah memelihara atau meningkatkan kualitas pertukaran sehingga hubungan profesional dapat terus dikembangkan

Stage 4: commitment to the collaborative working relationship.
Kolaborasi akan semakin mungkin terwujud jika dokter telah melihat bahwa dengan adanya kerjasama dengan Apoteker resiko praktek pelayanannya menjadi lebih kecil, dan banyak nilai tambah yang diperoleh dari kepuasan pasien. Komitmen akan lebih mungkin tercapai jika usaha dan keinginan bekerjasama dari masing-masing pihak relatif sama. Dokter akan mengandalkan pengetahuan dan keahlian Apoteker mengenai obat-obatan, sementara Apoteker akan bersandar pada informasi klinis yang diberikan oleh dokter ketika akan membantu memanage terapi pasien. Pada stage ini pertemuan tatap muka untuk mendiskusikan masalah pasien, masalah-masalah pelayanan, dan hal-hal lain harus dijadwalkan, dan bisa dikembangkan bersama tenaga kesehatan yang lain. Selain itu adanya komitmen kerjasama ini perlu diinformasikan kepada tenaga kesehatan yang lain sehingga mereka dapat turut terlibat di dalamnya.

Demikian model kolaborasi antar tenaga kesehatan, khususnya antara dokter dan Apoteker. Tentunya masih diperlukan waktu untuk bisa sampai pada tingkat yang diiinginkan. Bagi Apoteker sendiri perlu selalu meningkatkan pengetahuan dan keahlian, meng-update diri  terhadap informasi-informasi kesehatan yang sangat cepat berkembang, sehingga mendapat kepercayaan dari tenaga kesehatan lain sebagai tenaga yang berkompeten dalam hal obat dan pengobatan.

Selamat mencoba!


Aksi

Information

10 responses

12 07 2016
10 07 2016
Henki

Tulisan yg mencerahkan Prof. Semoga profesi ini bisa semakin baik dan terasa kehadirannya. Ijin berbagi ya Prof.

Salam
Henki

10 07 2016
dewi musniati

Alhamdulillaah…stlh berproses mll akreditasi puskesmas, hub apoteker-dokter mjd lbh baik, saling tergantung satu sama lain… Jayalah apoteker…!!!!

14 03 2015
rizal rambe

tulisan yang sangat bagus untuk dokter dan apoteker,apoteker tidak ingin setener dokter tapi dokter harus tau atau pun tenaga teknis kesehatan lainnya,bahwa pasien dapat disembuhkan hanya dengan menggunakan obat,dan obat hanya bisa dibuat oleh apoteker dan yg memberikan apoteker bukan tenaga kesehatan lainnya dalam kontek tidak menyangkut pautkan Tuhan
terimakasih

27 11 2011
laelahidayati

like this prof🙂 belajar tentang profesionalis antara apoteker dan dokter🙂

16 11 2011
CatatanHatiKu

Hiduppp APOTEKER ! Saatnyaa kita berperan lebih baik untuk masyarakat..🙂

3 01 2009
Enade

Hmm… membaca kata TATAP di komentar “tukangukreq” membawa saya kembali ide PATAT (Pelayanan Apoteker Tanpa ApoTek) yaitu “Dimanapun berada dan bertindak dalam pekerjaan apapun, seorang apoteker melakukan fungsinya seoptimal mungkin sebagai apoteker, at least bisa menjalankan fungsi komunikasi, informasi dan edukasi (KIE).”

Beberapa contoh yang bisa dilihat sekarang sudah bermunculan, terutama di dunia maya, antara lain: blog Bu Zullies ini, Portal Apotek Indonesia, Situs Informasi Obat, dan masih beberapa lagi.

Semoga kemudahan untuk berekspresi di zaman yang semakin canggih ini membawa angin segar bagi dunia profesi Apoteker di Indonesia.

Salam,
DosenGila

1 01 2009
tukangukreq

sepertinya kita masih di stage 0, itu pun ada yang belum melakukan, lebih ngambil cari aman nya,

Apalagi mau masuk ke stage 1, “mengambil inisiatif”, untuk mendekati dokter, mengajak pertemuan, Apalagi mau menunjukkan obat yang up to date, kadang dokter lebih tahu lebih dulu, karena Seminar, lounching obat baru, produk baru, pihak industri Farmasi lebih sering mengajak dokter daripada apoteker.

Itupun juga harus dilakukan secara Nasional,

Pertama harus meyakinkan pihak Industri Farmasi, agar lebih percaya pada Apoteker, selagi hal ini belum bisa, bagaimana dokter percaya bahwa pihak apoteker lebih tahu masalah obat. Proses ini tentu akan makan waktu cukup panjang.

Jadi ya, “memang nasib kita”, masih sebagai “penjual obat” di apotik.

yang bisa paling ya “numpang hidup” di apotik, dengan program TATAP, itupun pada akhirnya juga bermasalah.

Faham saya program TATAP itu, sebetulnya untuk mencari solusi banjirnya lulusan apoteker agar mereka bisa terserap pasar,
saya nggak yakin dan nggak sepakat bahwa ini merupakan satu-2nya solusi, seperti anggapan anda. karena apapun namanya bisnis yang bersentuhan dengan “barang”, entah berupa “obat” atau yang lainnya, tentu ada permainan/persaingan pasar/harga, apalagi jumlah produser cukup banyak, Pelayanan harus “OK”, tapi yang penting juga omzet meningkat “supaya bisa bayar APOTEKER”.
Anda beranggapan kalau pakai TATAP, tentu omzet meningkat? BELUM TENTU !!, Bisa meningkat darimaaaaana? kalau iya tentunya ada yang diserap? apotik lain ?? punya teman kita? — teman kita merugi donk?

coba seandainya semua pakai TATAP, Omzet siapa yang bakal terserap?

Ya kembali pada “barang” / atau “obat”

Beda kalau kita memang bergerak pada wilayah “Jasa” seperti dokter, Konsultan, Arsitek, designer, dll

Apotik itu sekelas toko bangunan, dipandang oleh Arsitek & kontraktor,
Bedanya, Arsitek dalam merancang “material” yang dibutuhkan, mempelajari dulu ketersediaan “material” yang ada di toko bangunan, tinggal keberanian toko bangunan menyediakan produk2 baru.

Seperti, konotasi anda ke sepakbola, disana adanya cuma “jasa”, cuma pinter2nya mengelola atau merebut bola, tidak ada “barang”, bakal beda bila “bolanya” ber fluktuasi, misal ada 3 bola,

Juga ada penentu lain. di bisnis apotik.

Penentu lain adalah pemakai / costumer apotik, sebetulnya pembeli di apotik khan bukan pasien, tetapi “dokter” (penulis resep), pasien hanya “pembayar resep”, (korban dokter juga),

Jika pada saat tertentu dokter memakai obat hasil produksi pabrik A, tentu kita akan berusaha menyediakan obat tersebut, ternyata besok sudah berubah lagi pakai produk pabrik B, sedang dokter lain senang pakai produk pabrik C, D, E, tentunya ini akan menyulitkan

Efek yang bakal ditimbulkan program TATAP:
– Biaya Operasional Apotik tentu lebih tinggi.
– Kalau biasanya, bisa dilayani oleh beberapa pegawai front desk, tentunya akan dikonsentrasi ke apoteker,
– Pelayanan akan jadi luuaambat, nyebelin,
kalau dilayani seperti sekarang, apa manfaatnya program TATAP? darimana bisa meningkatkan OMZET?
– Belum lagi, yang bawa resep hanya pesuruhnya, dan pasiennya sudah capek antrian ke dokter, masak mau disuruh antri lagi ke apoteker? kalau sudah begini, apa yang mau di konsultasi kan?

30 12 2008
Portal Apoteker

Saya justru mengapresiasi tulisan sejawat karena bisa menjadi referensi bagi kita, para apoteker dan dokter. Tulisan saya bermaksud mempertanyakan mengapa dokter bijak mengatakan jangan menanyakan kegunaan obat kepada apoteker, yang notabene memiliki kompetensi utama di bidang obat.

Anyway.. untuk lebih menggairahkan profesi kita, mohon ijin blog sejawat saya link ke Portal Apoteker.

Keep blogging.

Jawab:
thanks mas Dani atas apresiasinya. Maaf, kemaren saya masih gaptek hehe… belum baca tulisan mas Dani di portal apoteker.

29 12 2008
eSebegitu Rendahkah Profesi Apoteker? | PORTAL APOTEKER | indonesia

[…] sudah agak lama membaca artikel yang berjudul Menulis Fungsi Obat di blognya CakMoki dan artikel Dokter-Apoteker cs apa vs ? di blognya sejawat Zullies. Semula saya kurang menaruh perhatian terhadap isi kedua artikel. Namun […]

Jawab:
trims komentarnya. Tapi tulisan saya justru lagi mengangkat derajat profesi apoteker, yang nggak cuma bikin obat saja….. Mudah-mudahan semakin dikenal masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: