Mengapa respon seseorang terhadap obat bisa berbeda dengan orang lain?

20 10 2008

Mungkin kita sering mendengar ungkapan seseorang bahwa obat A misalnya, kok tidak berefek ya buat dia, padahal temannya menggunakan obat tersebut hasilnya baik. Atau sebaliknya, obat tertentu menyebabkan efek berbahaya bagi seseorang, tapi tidak bagi yang lain. Sebuah laporan menyatakan bahwa 20-40 % pasien depresi berespon buruk atau bahkan tidak berespon terhadap terapi dengan obat antidepresi. Hal ini juga dapat terjadi pada obat-obat yang lain.

Kok bisa ya?

Hal ini bisa dijelaskan dengan istilah farmakogenetik. Apa maksudnya?

Keragaman efek suatu obat terhadap seseorang merupakan interaksi dari faktor lingkungan dan faktor genetik. Termasuk dalam faktor lingkungan antara lain adalah faktor nutrisi, faktor obat-obat lain yang digunakan bersama, faktor penyakit, dan faktor gaya hidup, seperti merokok atau konsumsi alkohol, dll. Faktor ini berinteraksi dengan faktor genetik yang mengkode berbagai protein penentu nasib obat dalam badan dan efek obat; seperti reseptor, kanal ion, dan enzim pemetabolisme obat.

Jadi, respon obat seseorang bisa dipengaruhi oleh faktor nutrisi/diet pasien, katakanlah seorang penderita hipertensi yang mestinya diet garam, jika ia tidak disiplin terhadap asupan garam, tentu efek obat tidak akan nyata terlihat, dibandingkan penderita hipertensi lain yang menjaga asupan garamnya. Adanya obat-obat lain yang digunakan bersama dapat pula saling berinteraksi sehingga menurunkan atau mengubah efek obat lain, sehingga respon seseorang terhadap obat bisa berbeda dengan orang lain yang mungkin tidak mengalami interaksi obat. Selain itu, keparahan penyakit dan gaya hidup seseorang, mungkin akan mempengaruhi respon seseorang terhadap obat.

Dalam kaitannya dengan faktor genetik, orang pada ras tertentu misalnya, ternyata memiliki jumlah enzim pemetabolisme yang lebih banyak daripada orang lain akibat variasi genetik. Hal ini menyebabkan keberadaan obat di dalam tubuh menjadi dipersingkat (karena metabolismenya diperbesar), sehingga efeknya pun menjadi lebih kecil. Atau sebaliknya, ras lain mengalami mutasi pada gen tertentu sehingga menyebabkan berkurangnya kemampuan tubuh memetabolisme obat, sehingga keberadaaan obat dalam tubuh meningkat dan efeknya menjadi besar atau bahkan toksis.

Nah… itu penjelasan ilmiahnya. Emang ada penjelasan yang tidak ilmiah ? mungkin tidak tepat ya kalau dikatakan “tidak ilmiah”. Lebih pasnya adalah penjelasan dengan pendekatan spiritual. Seperti apa?

Penyakit adalah salah satu bentuk musibah/bencana, dan musibah adalah salah satu bentuk peringatan Allah kepada manusia karena kesalahan manusia sendiri. Dan Allah menurunkan azab kecil berupa penyakit, agar manusia kembali ke jalanNya.

 Menurut QS 42 Asy Syuura 30 (silakan cek di dalam Qur’an)

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)”

 QS 32 As Sajdah 21:

“Dan Sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar)”

Makanya, berdasarkan konsep ini, jika manusia sedang diberi peringatan berupa sakit, tentunya mereka harus introspeksi diri, dan memohon ampun atas segala kesalahan yang mungkin telah membuat Allah menurunkan musibah sakit tersebut. Jika Allah mengampuni dosa-dosa kita, tentu sangat mudah bagi Allah untuk menghentikan azab-Nya, sehingga penyakit pun sembuh.

Mencari ikhtiar kesembuhan secara medis tentu tidak salah, selama tidak membabi buta, termasuk dengan menggunakan obat. Tapi jangan lupa, yang menentukan kesembuhan adalah Allah. Dokter dan obat adalah perantara belaka.

 QS 42 Asy Syuura 31:

“Dan kamu tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di muka bumi, dan kamu tidak memperoleh seorang pelindung dan tidak pula penolong selain Allah”

Nah, kalau berdasarkan pendekatan ini, maka manakala seseorang sudah sedemikian berserah diri dan mohon ampun pada Allah serta memohon kesembuhan, maka obat mungkin akan berefek sesuai yang diharapkan. Jika obat belum berefek, atau bahkan menyebabkan peristiwa yang tidak diharapkan, maka tentu masih ada yang harus diperbaiki dari seseorang, sampai Allah mengijinkan kesembuhannya.

Nah, lebih cocok pendekatan yang mana?

Terserah Anda saja…….

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: