Catatan tentang Blog dan Lebaranku tahun 2009

23 09 2009

Dear kawan,

Tak terasa hampir setahun usia blog ala-kadarnya ini, dengan jumlah  kunjungan sekitar 41 ribuan. Banyak masukan yang membangun dan memotivasiku untuk setia menulis. Katanya banyak pula yang terinspirasi oleh tulisan-tulisanku, hm…..  terimakasih atas apresiasinya.. Aku coba telisik lagi, posting pertamaku adalah tanggal 6 Oktober 2008. Hmm.. masih naif banget waktu itu…. dengan tulisan2 pendek dan mendaur ulang simpanan tulisan2ku yang tercecer di beberapa tempat… 

Tapi belakangan memang frekuensi menulisku sudah mulai berkurang. Bahkan sebulan terakhir ini hampir sama sekali tiada tulisan baru. Aku mencoba evaluasi lagi nasib malang blog-ku ini, yang jarang ku-update lagi…  Yang pertama, ada sedikit kejenuhan, .. semua hal rasanya sudah pernah kutulis. Mau nulis tentang obat, sudah banyak blog serupa. Yang kedua, aku pun makin selektif menulis…. semakin banyak yang membaca, ada semacam ‘beban’ untuk tidak menulis asal-asalan saja. Yah, walaupun pada dasarnya ini adalah blog untuk berekspresi pelepas penat, tapi tentu harus ada muatan yang bermanfaat. Yang ketiga,… belum ada lagi peristiwa2 istimewa di seputar keseharianku yang mendorongku untuk menulis..  Biasanya aku suka mencari ide tulisan dari pengamatan atau pengalaman sehari-hari yang kukombinasi dengan pengetahuan tertentu. Ada sih tentu hal-hal istimewa dalam 1-2 bulan belakangan, tapi itu terlalu pribadi dan bukan untuk konsumsi publik hehe……  Aku masih menulis, tapi untuk diriku sendiri. Aku kan harus ja-im haha…. (jaga image).  Jadi mohon maklum jika produktivitasku menulis di blog ini sedang rendah sekarang….

Kali ini aku mencoba membuat catatan kecil lebaran tahun ini, sekedar untuk dokumentasi aku sendiri… Dan catatan lebaran kali ini adalah yang pertama kubuat karena Blog ini memang baru mengalami sekali lebaran.

Era Face Book

Sekali lagi aku perlu menyebut-nyebut tentang Face Book dan harus angkat jempol dengan ide inventif penemunya untuk mengkreasi suatu media pertemanan yang sangat fenomenal abad ini. Terus terang… aku termasuk yang “tiada hari tanpa membuka Face Book” hehe… walau kadang hanya sebentar2 untuk menengok suasana hiruk pikuk di dunia maya. Face Book ini perlu kusebut karena benar-benar mewarnai suasana Ramadhan maupun Idul Fitri tahun ini bagi sebagian besar orang…..  Aku jamin!! Ada yang mengisinya dengan penuh canda-tawa, ada yang serius penuh pesan hikmah dan menggunakannya sebagai media dakwah. Termasuk aku juga yang kadang muncul ide-ide iseng dan jail untuk ditulis, namun sesekali juga menulis serius membawa pesan tertentu. Kadang berbau sentimentil pula hehe……. sesuai suasana hati. Face Book pula yang menjadi media utama mengucapkan selamat berpuasa atau selamat Idul Fitri, di samping SMS atau MMS. Kartu Lebaran jadi terasa jadul !! Pak Pos jadi berkurang pekerjaannya nih…..

Ramadhan 1430 H

Hmm, kawan…., aku merasa Ramadhanku kali ini tidak begitu optimal. Astaghfirullohal adziim. Aku tidak bisa cerita banyak… tapi pada bulan yang mestinya penuh pengendalian diri dan emosi, nampaknya aku lebih banyak gagal. Emosi masih berfluktuasi naik turun, kurang sabar, sensitif, mudah menangis, …. yah begitulah. Aku masih harus banyak berlatih.. Sampai-sampai aku berpikir, begitukah memang sifat wanita?…. Ah, mestinya tidak. Banyak wanita-wanita kuat yang berhasil menguasai diri dan mengendalikan emosinya dalam berbagai keadaan.

Apa penyebabnya? Hm…. biar jadi ranah pribadi saja hehe….  Mengapa ini kutuliskan? Aku hanya ingin memberi gambaran tentang kompleksitas manusia.  Bahwa walaupun seseorang punya daya nalar yang baik, seringkali logika kalah dengan perasaan…. sampai-sampai pernah kutulis di status FBku…. bahwa tidak mudah mengkompromikan akal dan hati.  Dan hal-hal serupa tentu akan sering kita hadapi di kemudian hari. Itu sungguh ujian hati yang berat… bagaimana untuk tetap berpegang pada bisikan kalbu yang jernih, yang  menuntun pada kebaikan. Dan aku hanyalah manusia lemah belaka…. dan nampaknya sedang berada dalam titik terlemah…

Ramadhan pun berlalu, menyisakan harapan semoga akan bertemu bulan mulia ini tahun berikutnya, dan akan menjalaninya dengan lebih baik. Amien.

Persiapan untuk lebaran

Persiapan lebaran aku lakukan ala kadarnya saja. Yang penting mengeluarkan zakat mal dan membagi bingkisan lebaran untuk tetangga kiri kanan yang kurang beruntung. Dan tidak lupa, memberi THR untuk dua asisten di rumah hehe….. Aku sendiri tak ada baju baru khusus. Beberapa saat sebelumnya sudah beberapa kali jahitkan baju yang kainnya pemberian dari teman-teman (thanks, teman-teman…). Dan sebaliknya, justru bongkar-bongkar lemari mencari baju-baju lama yang masih pantas diberikan pada yang membutuhkan. Paling cari baju untuk anak-anak, juga untuk para keponakan, karena ibuku ingin 10 cucunya memakai baju batik yang senada/seragam pada acara silaturahmi keluarga besar hehe… kaya panti asuhan saja..

Mudik Lebaran

Anak-anakku sudah mulai libur semingguan sebelum lebaran. Yang sulung malah sudah tidak sabar lagi untuk mudik ke rumah eyangnya di Purwokerto, dan secara khusus meminta eyangnya untuk menjemputnya mudik. Yah, si sulung kami memang cukup lama menghabiskan masa balitanya bersama eyangnya karena dulu dia ditinggal ketika kami (ayah ibunya) belajar di Jepang selama tiga tahun. Kebetulan ia juga kelahiran Purwokerto, jadi maklum saja jika ia merasa sangat dekat dengan eyang dan kota kelahirannya itu. Aku sendiri masih bertahan sampai hari terakhir masuk kantor, sampai sore hari.  Tapi hawanya sudah mulai hawa liburan hehe…. jadi agak santai, sambil kirim-kirim dan cek-cek e-mail dan persiapan untuk rencana benchmarking ke Australia bulan Oktober ini. Insya Allah.

Perjalanan mudik pada hari Jumat alhamdulillah berjalan lancar. Jalanan masih normal… dengan waktu tempuh Jogja-Purwokerto selama 4,5 jam dengan mobil sendiri, termasuk break untuk sholat jumatan. Sampai Purwokerto aku agak pangling dengan berbagai perubahan kota. Alun-alun yang dulu pernah jadi tempat banyak aktivitasku di masa kecil dan remaja sudah banyak berubah wajah. Pohon-pohon pinggir jalan banyak yang berkurang. Makin banyak saja bangunan-bangunan baru di sepanjang jalan menuju rumah ibuku. Hm… tiba-tiba saja aku jadi sentimentil menyusuri jalan-jalan kotaku dan mengenang semua yang pernah lewat dua puluh lima tahun yang lalu…. Lagi-lagi, Face Book tidak dilupakan….hehe… melalui mobile text via HP ku-update status FBku:… “Purwokerto, I’m coming!”….

Kerepotan lebaran

Menurutku, yang paling menikmati liburan lebaran adalah para asisten rumahtangga alias PRT. Sudah dapat THR, bebas dari pekerjaan pula. Sedangkan sang majikan gantian kerepotan mengurus segala pernak-pernik keperluan rumah. Begitu jugalah aku, terutama untuk urusan anak-anak, terutama sekali si bungsu yang baru 3,5 tahun. Wah,… aku tak pernah bisa lepas dari urusan si kecil, mulai dari bangun tidur, mandi, sarapan, nemani bermain, makan siang, tidur siang, mandi sore, makan malam, sampai tidur lagi. Terasa banget tidak mudah to be the real mother, though I am not a perfect mother. Paling lega kalau anak sudah tidur hehe…. bisa nulis-nulis seperti sekarang ini, bisa buka Face Book, cek e-mail, dll.

Adik-adikku sudah mulai pula berdatangan dengan keluarga masing-masing. Rumah ibu menjadi ramai dan mulai berantakan kayak kapal pecah. Maklum cucu-cucunya masih anak-anak yang sukanya main melulu dan belum punya rasa tanggungjawab untuk membereskan. Kerepotan bertambah saja. Tapi yah… Lebaran adalah kerepotan yang menyenangkan, dan kesenangan yang merepotkan, begitu kutulis di status FBku.

Aku sebenarnya sedang tidak ingin menulis yang sedih-sedih… tapi bagaimanapun kadang ada keprihatinan menyusup. Melihat keponakanku yang kecil-kecil sudah pandai berceloteh, aku ingat si bungsu kami Dhika yang masih terbatas percakapannya. Yah… itulah ujian kami juga, mudah-mudahan Allah akan memberikan yang terbaik bagi kami semua, Amien.

Hari Idul Fitri tiba

keluarga kecil kami di Idul Fitri

keluarga kecil kami di Idul Fitri

Alhamdulillah, hari raya telah tiba. Pagi-pagi kami sekeluarga besar berangkat bersama ke Alun-alun Purwokerto untuk sholat Ied. Kali ini untuk pertamakalinya si bungsu aku coba ajak untuk berangkat sholat Ied. Terus terang, aku agak sangsi apakah Dhika sudah bisa diajak ke acara semacam, karena Dhika memang sedikit hiperaktif dan tidak betah diam. Tapi bismillah… aku coba saja. Aku sudah siapkan mainan yang kuharap bisa membuatnya betah menunggu. Apa yang terjadi ?… Rakaat pertama berjalan dengan lancar, Dhika duduk manis di dekatku. Pada rakaat kedua, nampaknya ia mulai bosan. Tiba-tiba saja ia lari melalui lorong yang terbentuk dari jamaah sholat ied. Waduh, aku mulai tidak khusyu, tapi sempat berharap dia segera kembali. Ketika sholat selesai, Dhika tidak kembali. Wah, aku lumayan panik mencarinya. Aku sedikit berlari melewati orang-orang yang sedang mendengarkan khotbah sambil berkali-kali mohon maaf karena melewatinya untuk mencari Dhika. Sejauh mata memandang tak banyak yang bisa kulihat karena pakaian jamaah warna-warni dan sulit sekali mencari anak kecil seusia Dhika. Sambil aku memohon kepada Allah semoga Dhika ketemu, akhirnya aku menatap sosok kecil di kejauhan sedang asyik berlari kecil menyusuri pinggir alun-alun di dekat pohon beringin paling timur. Alhamdulillah, aku langsung berlari kencang, takut kehilangan sosok kecil itu. Akhirnya kutemukan dan kobopong Dhika untuk kembali ke tempat kami berkumpul. Ah,.. sungguh pengalaman yang cukup mendebarkan. Alhamdulillah, kami masih diberi kesempatan  menemukan Dhika. Dhika sungguh ujian bagi kami untuk menjaga dan merawatnya. Beri kami kekuatan ya, Allah. Amien.

Usai sholat Ied, suasana rumah cukup hiruk pikuk dengan makan opor ayam dan ketupat, sungkem dengan ibu dan saling bermaafan di antara keluarga, serta pertemuan keluarga besar RT tempat tinggal kami di Masjid dekat rumah. Ini Lebaran ketiga tanpa ayah yang telah meninggalkan kami tahun 2006 yang lalu. Kami juga sempatkan ziarah ke makam ayah untuk mendoakan beliau. Cuma ada yang sedikit menganggu, ketika kami lagi khusyu berdoa di makam ayah, keponakanku yang masih umur 3,5 tahun tiba-tiba menyanyikan lagu dengan lidah cedalnya  ”C lagi A minol D minol ke G ke C lagi….”…Lagunya Lupa-lupa Ingat-nya Band Kuburan…. Waah, ketawa deh semua…… dan berdoa harus diulang lagi.

Reuni SMA 1 Purwokerto

Setelah sehari sebelumnya kami bersilaturahmi ke Pekalongan dan kembali pada esok paginya, H +4 Idul Fitri alias tanggal 23 September diisi dengan acara Reuni SMA Negeri 1 Purwokerto Angkatan 1987 di sebuah restoran alam di dekat Baturaden. Lumayan banyak yang datang, dan kami cukup terkaget-kaget dengan penampilan beberapa teman yang banyak berubah setelah belasan tahun tidak ketemu. Ada yang jadi kelas berat, ada yang bertahan langsing, ada yang tetap awet muda, dan macam-macam lagi. Cukup seru dan heboh…!! Semoga forum ini bisa menjadi media untuk berbagi dan bertukar pikiran dan pengalaman, terutama buat kemajuan almamater tercinta.

Hm.. hari yang cukup melelahkan hari ini. Semua anggota keluargaku langsung tidur pulas lebih awal.. sehingga aku bisa bebas nulis banyak malam ini hehe……

Penutup

Demikian catatan lebaranku kali ini yang kutulis pada H+4. Pagi tadi aku sudah mendapat SMS dari Pak Dekan untuk membuat laporan singkat tentang kegiatan DIPA WCRU (World Class Research University) untuk Fakultas Farmasi di mana kebetulan aku menjadi Ketua Task Force-nya, karena akan dilaporkan dalam Pidato Dies Fakultas Senin mendatang. Artinya….. hm, liburan telah usai. Siap-siap lagi menghadapi berbagai aktivitas pasca liburan. Semoga akan menjadi hidup baru yang lebih baik…. Amien.

Selamat Idul Fitri

Mohon maaf lahir dan batin.





Mohon maaf lahir dan batin

17 09 2009
Selamat Hari Raya Idul Fitri ya...

Selamat Hari Raya Idul Fitri ya...

Bulan Ramadhan tinggal 2 hari lagi… Ada perasaan campur aduk di sini… Antara gembira karena akan bertemu keluarga dan saudara-saudara dalam suasana Hari Raya,.. tapi juga sedih karena akan berpisah dengan Ramadhan yang mulia tanpa tahu akankah akan bertemu lagi tahun depan. Dan aku merasa ibadah Ramadhanku kali ini tidak maksimal…
Sejujurnya, banyak sekali ujian hati di Ramadhan kali ini…. kadang lulus kadang tidak….. Ramadhan dengan Face Book tahun ini menjadi salah satu keunikan dan sekaligus ujian…. akankah sesuatu yang bersifat netral itu menjadi manfaat atau mudharat. Dan kadang kita terbawa pada pilihan yang terakhir… Astaghfirullohal adziiim.

Idul Fitri nanti semogalah menjadi tonggak baru untuk hidup yang lebih baik dari sebelumnya. Untuk itu, kami sekeluarga mengucapkan :
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN
Semoga amal ibadah kita selama bulan Ramadhan diterima dan kita mendapat ampunanNya. Amien
.





Manfaat dan risiko obat asma

9 09 2009

Dear kawan,

Apa kabar?….

Duh, maafkan aku……. lamaa sekali aku tidak nulis lagi di blog-ku ini….. Terus terang aku rindu menulis di sini, tapi entahlah, mood menulisku sedang tidak begitu bagus sebulan terakhir ini ….. Ada aja deh.. yang lagi dipikirkan dan cukup mengokupasi perhatianku..  Selain itu, sekarang lagi eranya Face Book…, jadi sebagian ekspresi sudah dimunculkan di sana, sehingga blog tidak lagi menjadi sumber penyampaian ekspresi utama lagi. Kalau dulu dikit-dikit nulis di blog, sekarang sebagian sudah “dilampiaskan” di Face book… hehe.

Tapi syukurlah, lewat Face book juga aku diberi tau oleh seorang teman, kakak kelasku SMA dulu, bahwa aku muncul di Majalah Info Obat (thanks, mbak Uti… bisa  jadi inspirasi ngisi blog..).  Sebelum itu, teman yang lain cerita bahwa aku muncul juga di Trans TV utk acara Akar Pinang…  Wah, kalau yang ini sih aku nggak merasa…. tapi mungkin saja itu rekaman waktu aku jadi moderator di Launching Ceremony-nya World Conference tg 12 Agustus kemaren.. karena kebetulan salah satu pembicaranya adalah Pak Haji Agus, pengisi acara Akar Pinang. Nampaknya itu adalah rekaman tentang beliau tetapi akunya jadi ikut terekam dan nongol di TV hehe….

Nah, daripada blog-ku ini kosong, aku tampilkan saja hasil wawancara Majalah Info Obat (Rika) denganku mengenai Manfaat dan Risiko Obat Asma. Di bawah ini adalah tulisannya……..

Manfaat dan Risiko Obat Asma

inhaler

inhaler

Bicara mengenai obat asma, tak lepas dari berbagai pilihan jenis obat yang tersedia. Mulai dari golongan obat, tujuan penggunaan, maupun bentuk sediaan. Beda golongan obat akan menunjukkan efek yang berbeda pula. Efek yang berbeda akan mempengaruhi tujuan penggunaan, apakah obat digunakan untuk mencegah atau untuk mengatasi saat asma kambuh. Sedangkan bentuk sediaan mempengaruhi onset (waktu yang dibutuhkan dari obat dikonsumsi sampai obat berefek) dan efektivitas obat sehingga biasanya menyesuaikan dengan tujuan pengobatan dan kondisi pasien. Namun yang namanya obat selain memiliki manfaat, tentu tak lepas dari risiko efek samping yang ditimbulkan. Untuk mengetahui lebih jauh, Info Obat berbincang-bincang seputar manfaat dan risiko obat asma bersama Prof.Dr. Zullies Ikawati, Apt, salah satu staf pengajar di Fakultas Farmasi UGM.

Zullies memulai penjelasan mengenai obat golongan steroid. Contoh obat golongan steroid antara lain budesonide, beclometason dan deksametason. Obat lini pertama dalam terapi asma ini umum digunakan untuk tujuan pencegahan kambuhnya asma. Kendati dapat pula untuk mengatasi keadaan saat asma kambuh. Pada terapi pencegahan yang mengharuskan pasien mengkonsumsi obat secara rutin sebaiknya menggunakan bentuk sediaan inhalasi atau lebih dikenal dengan sebutan metered dose inhaler (MDI). Penggunaan inhalasi memiliki memiliki onset lebih cepat dibandingkan dengan penggunaan per oral (obat diminum sehingga melewati saluran cerna). Efek samping pun bisa diminimalisir karena obat hanya bekerja di seputar saluran pernapasan. Mengenai isu gangguan pertumbuhan anak dan timbulnya osteoporosis akibat penggunaan steroid terus-menerus, Zullies menambahkan belum ada fakta selama obat asma digunakan dalam bentuk sediaan inhalasi. Selain dalam bentuk sediaan inhalasi, tetap tidak tertutup kemungkinan menerima obat golongan steroid dalam bentuk sediaan per oral. Efek samping dari obat golongan steroid antara lain meningkatkan tekanan dan kadar gula darah, sehingga penggunaan steroid pada pengidap hipertensi dan diabetes mellitus (DM) perlu mendapat perhatian khusus. Obat golongan steroid juga memiliki efek sebagai imunosupressan yang dapat menurunkan kekebalan tubuh. Sehingga sebaiknya tetap menjaga kondisi dan stamina tubuh selama penggunaannya. Sedangkan penggunaan steroid untuk ibu hamil dan menyusui cukup aman selama obat diberikan atas rekomendasi dokter. Bahkan sebelum melahirkan kerap dilakukan suntikan intravena obat golongan steroid untuk mencegah kekambuhan asma saat ibu melahirkan. Yang perlu diperhatikan adalah saat pasien menerima terapi pencegahan yang mengharuskan penggunaan steroid secara rutin. Selama terapi tubuh menerima steroid dari luar/eksogen yang mengakibatkan sistem endogen (hormon) dalam tubuh tidak memproduksi steroid. Karena itu, penggunaan steroid tidak boleh dihentikan secara tiba-tiba, dan dosis harus diturunkan perlahan untuk memberi waktu pada sistem endogen agar bisa kembali bekerja memproduksi steroid.

Untuk mengatasi serangan akut, obat golongan beta-agonist misalnya salbutamol menjadi obat lini pertama yang bekerja sebagai bronkodilator (merelaksasi bronkus). Obat golongan ini pun sudah banyak tersedia dalam bentuk inhalasi sehingga bekerja lebih efektif dalam mengatasi serangan akut. Pada keadaan darurat dimana pasien mengalami kesulitan bernapas yang parah digunakan metode pemberian obat secara nebulisasi. Nebulisasi merupakan metode semacam pengasapan obat yang diberikan pada pasien sehingga obat dapat masuk ke saluran nafas dalam kondisi sulit bernafas sekalipun. Sayangnya tidak semua sarana kesehatan memiliki alat nebulizer karena relatif mahal. Di samping penggunaan short acting, ada juga obat golongan beta-agonist yang bekerja long acting, misalnya salmeterol atau formeterol, yang memiliki onset dan durasi efek yang lebih panjang dibanding salbutamol. Biasanya untuk terapi pencegahan kambuhnya asma. Efek samping golongan beta-agonist cukup beragam seperti: tremor/gemetar pada tangan, sakit kepala, hipokalemia (kekurangan kalium), dan takikardi (percepatan denyut jantung). Namun efek samping tersebut tidak selalu terjadi tiap kali penggunaan obat. Muncul atau tidaknya efek samping tergantung kondisi klinis masing-masing individu. Apabila obat beta-agonist digunakan dalam jangka panjang dan secara berlebihan dapat menurunkan efektivitasnya. Hal ini disebabkan karena terjadinya desensitisasi reseptor obat, sehingga reseptor menjadi kurang peka. Karenanya perlu dosis yang lebih besar untuk memperoleh efek yang sama. Untuk itu dokter akan mempertimbangkan dosis yang paling tepat untuk pasien sesuai dengan keadaan klinisnya.

 Terapi obat beta-agonist terkadang dikombinasikan dengan obat golongan antikolinergik untuk mencapai efek yang lebih baik. Sama dengan beta agonis, obat golongan antikolinergik misalnya ipratropium bromida bekerja dengan merelaksasi bronkus. Umumnya digunakan untuk mengatasi serangan akut. Efek samping yang timbul antara lain: mulut kering, mengantuk, dan gangguan penglihatan. Terutama pada penggunaan inhalasi dimana pasien melakukan teknik penyemprotan yang kurang tepat. Dalam beberapa saat mata dapat menjadi kabur. Zullies menyarankan agar pasien mengetahui teknik penggunaan inhalasi yang tepat misalnya dengan bertanya pada dokter atau apoteker. Satu lagi obat yang akrab dalam terapi asma, yaitu teofilin. Teofilin tergolong obat ’tua’ dalam arti sudah digunakan untuk terapi sejak lama. Teofilin memiliki jarak dosis terapi dan dosis toksik yang sempit. Hal ini dapat membahayakan jika pasien mengkonsumsi dosis yang berlebihan. Gejala keracunan teofilin antara lain: insomnia, sakit kepala, mual, dan takikardi. Oleh sebab itu saat ini teofilin sudah banyak ditinggalkan dalam terapi asma. Namun kadang-kadang masih tetap dipakai misalnya pada keadaan darurat, teofilin diberikan dengan menyuntikkan dalam bentuk aminofilin. Pemakaian teofilin ini dipertimbangkan karena harganya yang ekonomis. Teofilin pun masih terdapat sebagai salah satu bahan aktif obat asma yang dijual bebas. Setelah mengulas berbagai jenis obat asma, Zullies menyimpulkan bahwa obat-obat asma tersebut cukup aman. “Saya sarankan untuk penggunaan inhalasi, karena efeknya lebih cepat, sesuai sasaran karena langsung ke saluran nafas, efek sampingnya pun minimal jika dibandingkan penggunaan oral sehingga cukup aman. Dan teknik penggunaan inhalasi yang tepat sangat mempengaruhi keberhasilan terapi.”, imbuh Zullies menutup perbincangan. [Rika]

Thanks for Rika. Good job!





Hati seperti spektrofotometri

23 08 2009

Dear kawan,

ramadan kareemSudah hari ke 3 puasa Ramadhan… mudah-mudahan belum terlambat jika aku ucapkan “Selamat Menunaikan Ibadah Puasa bulan Ramadhan” kepada semua pembaca blog ini…. Semoga amal ibadah kita diterima dan Allah mengampuni segala dosa-dosa kita. Amien. Mohon maaf lahir batin ya….

Sudah banyak tulisan-tulisan menyambut Ramadhan di berbagai media…. tulisan kali ini sekedar nasihat kepada diriku sendiri sebagai pengingat…., semoga bisa menyambut bulan suci ini dengan sebaik-baiknya…

Kawan,

Menjelang Ramadhan ini rasanya banyak kualami ujian hati. Tapi begitulah manusia… selalu ada ujian dan cobaan. Rasulullah SAW pernah bersabda, “Ingatlah dalam tubuh manusia itu ada segumpal “daging”. Bila ia baik, akan baiklah seluruh tubuh itu, tetapi hila ia rusak, maka akan rusak pula tubuh itu seluruhnya, segumpal “daging” itu adalah hati (kalbu),” (H.R, Bukhari Muslim]

Di bulan Ramadhan ini, semestinyalah kita siapkan hati untuk menerima banyak-banyak cahaya dan petunjuk Allah menuju kebaikan dan kebenaran, karena di bulan Ramadhan ini pasti banyak tausiah-tausiah berguna yang bisa kita peroleh dari bebagai sumber. Jika hati kita keruh, tentu akan sulit ditembus cahaya. Untuk ini, aku terpikir akan analogi spektrofotometri UV-vis. Kawan-kawan yang berlatar belakang farmasi atau kimia analisis tentu tidak asing dengan alat ukur yang satu ini, untuk menganalisis kadar suatu zat dalam sebuah larutan.

Pada prinsipnya, suatu sampel larutan yang mengandung zat tertentu dengan kadar tertentu, dapat diukur kadarnya dengan melewatkannya pada sinar UV atau sinar tampak pada panjang gelombang tertentu. Jika larutan pekat, maka sinar akan terabsorpsi oleh zat dalam larutan. Detektor hanya akan menangkap sedikit cahaya. Jika larutan jernih, maka cahaya tidak akan terhalangi, dan detektor akan menangkap lebih banyak cahaya. Banyaknya cahaya yang diserap (absorbansi) atau banyaknya cahaya yang diteruskan ke detektor (tansmittan) akan menentukan kadar zat yang terlarut.

Maka kawan,

Aku mengajak diriku sendiri untuk membersihkan hati… sehingga Cahaya Ilahi akan lebih banyak yang diterima oleh detektor kalbu… yang akan menuntun kita ke jalan yang lurus dan menjadi hambaNya yang lebih sujud. Sungguh tidak mudah…. karena hatiku sungguh masih sangat lemah. Beri hamba kekuatan ya, Allah, …Amien.

Selamat menunaikan ibadah Shaum Ramadhan…





Kerokan dalam World Conference, etc…….

16 08 2009

Dear kawan,

kerokan_2Lama tidak menyapa nih….. Yah, beberapa hari terakhir ini malah keasyikan Face Book-an hehe…..

Aku agak kesulitan memberi judul tulisanku kali ini, karena tulisan ini adalah akumulasi dari beberapa hal yang aku lewati seminggu kemarin….. semuanya pingin aku tuliskan….  jadilah aku pilih satu hal yang paling “eye catching” hehe…

World Conference

Minggu lalu acaraku lumayan padat…. terutama hari Rabu-Kamis lalu. Ceritanya UGM akan menyelenggarakan World Confererence on Science, Education, and Culture tahun 2010 nanti, dengan thema : Local Wisdom Inspiring Global Solution. Keren kan? Tapi mulai sekarang persiapannya sudah heboh nih… dan tg 12 Agustus kemaren ada acara Launching Ceremony untuk konferensi tersebut secara lumayan megah di Ghra Sabha Pramana. Dalam Launching itu diselenggarakan pula “satelite meeting” untuk masing-masing bidang (Science Tech, Culture, Education, Health, dll) untuk menggali berbagai local wisdom di bidang masing-masing yang nantinya akan diangkat menjadi bahan conference. Nah, ceritanya… aku menjadi salah satu moderator dalam meeting tersebut. Yah.. alhamdulillah, acara berjalan lancar…. kami berhasil mengidentifikasi berbagai topik untuk diangkat dalam World Conference 2010 nantinya. Di bidang health, topik pokok yang diangkat adalah penggunaan Herbal medicine sebagai salah satu kearifan lokal kita untuk bisa dibawa ke tingkat global. Selain herbal, banyak local wisdom di bidang kesehatan yang bisa diangkat. Untuk bisa diterima di dunia global, yang penting adalah metode yang digunakan dapat diterima juga secara global. Katakanlah… kerokan saat masuk angin. Perlu dilakukan kajian dengan metode yang bisa diterima, apa sih yang terjadi pada kerokan sehingga menjadi salah satu budaya sebagian besar kita (hayo… ngaku!) ketika masuk angin?

Ternyata sudah ada penelitian tentang pengaruh kerokan. Katanya, kerokan dengan intensitas kuat dan frekuensi rendah akan mengenai titik-titik saraf yang berhubungan dengan otak sehingga organ ini mensekresikan hormon endomorfin (B-endorfin, dinorfin, dan enkepalin). B-endorfin menimbulkan rasa nyaman karena ia berfungsi mengendalikan rasa nyeri. Adanya zat-zat itu dalam darah menyebabkan penderita merasa lebih bugar. B-endorfin juga merangsang organ viscera, terutama paru-paru dan jantung, sehingga penderita bisa bernapas lebih lega, serta peredaran darahnya jadi lebih baik. Zat ini juga yang bisa menyebabkan orang jadi ”ketagihan” kerokan ……. Hmm, siapa yang suka kerokan?

Nego costing I-MHERE

Nah, kawan… Selesai jadi moderator di Launching World conference, tanpa sempat pulang ke rumah, langsung cabut ke Bandara untuk mengejar pesawat ke Jakarta untuk penerbangan jam 14.30an. Aku berangkat sendiri karena teman-teman satu tim sudah berangkat dengan pesawat pagi. Sedangkan aku sendiri karena ada tugas yang barusan aku ceritakan ini, terpaksa menyusul sendiri dengan penerbangan siang. Untung pesawatnya delayed hehe… jadi sempat sholat dengan sedikit santai di mushola Bandara. O,ya… di Jakarta ini aku termasuk salah satu anggota tim dari UGM, khususnya Fakultas Farmasi, untuk nego costing dengan reviewer dari DIKTI untuk proposal I-MHERE kami. Alhamdulillah, bahwa UGM tahun ini dapat skema pendanaan untuk pengembangan universitas sebesar sekitar 10 Miliar setahun untuk 3 Fakultas yang terpilih, yang disebut kegiatan I-MHERE (Indonesia Managing Higher Education Relevance and Efficience). Pesawat mendarat jam 15.45-an, dan aku sendirian kayak orang ilang memilih naik Bus DAMRI tujuan Blok M, karena hotel tempat meeting-nya ada di kawasan Blok M. Mau naik taksi agak serem soalnya sudah sore dan sendirian. Setelah menunggu sesaat, jadilah aku membelah kota Jakarta dengan bus selama sekitar 2,5 jam dari Bandara ke Blok M dan menikmati kemacetannya. Huah..! Tapi yah… enjoy aja lah. Sampai terminal Blok M, aku naik bajaj ke Hotel…. asyik juga tuh, menyusuri malam dengan bajaj…

Tapi semua kecapekan itu terobati dengan dinner yang memanjakan lidah di hotel… hehe… setelah itu kami meeting sampai hampir tengah malam menyusun kesepakatan perbaikan proposal sesuai dengan hasil negosiasi. Siip lah… alhamdulillah, urusan IMHERE tidak ada masalah. Aku harus segera berangkat tidur karena besoknya mau balik Jogja lagi dengan pesawat jam 6 pagi….. !! Lhah, gimana lagi…. teman-teman bisa ambil pesawat siang karena mereka free, sedangkan aku kebetulan sudah janjian untuk menguji skripsi mahasiswa jam 13 dan 15 hari Kamisnya. Mau ambil pesawat jam 11 sudah fully booked. Tapi gak papa…. cukup heroik, hehe..

Penelitian Farmakogenetik

Hari Kamis siangnya ada satu good news datang buatku……. Proposal Penelitianku yang terakhir aku apply-kan ke DIKTI diterima. Alhamdulillah..! Rasanya senang aja mengingat bikinnya mirip Bandung Bondowoso, hanya 2-3 hari sebelum deadline. Kali ini adalah proposal kolaborasi dengan mitra internasional dari Institute for Research in Molecular Medicine (INFORMM) USM Malaysia. Topiknya hal baru buatku, makanya aku cukup excited ketika diterima. Judulnya ” Pemetaan polimorfisme genetik sitokrom P450 subtipe CYP2D6, CYP2C9, dan CYP2C19 pada populasi etnis Jawa di Indonesia”. Keren kan? Hehe…. Aku lagi tertarik dengan kajian farmakogenetik/genomik dan ingin melebarkan wawasan keilmuan kesana. Mengapa? Ini alasan yang kutulis di bagian pendahuluan proposalku:

Variasi antar individu dalam hal respon terhadap obat dan terjadinya efek obat yang tidak diinginkan (adverse drug reactions, ADRs) merupakan masalah kesehatan yang besar. Adanya ADR ini merupakan penyebab terbesar ketidak-patuhan pasien terhadap pengobatan maupun kegagalan pengobatan, terutama pada penyakit-penyakit kronis. Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap fenomena ini adalah faktor genetik. Karena itu, kemampuan untuk memahami kemungkinan penyebab variasi respon ini melalui studi farmakogenetik/genomik sangat perlu sebagai prediktor untuk meningkatkan respon terhadap obat, mencegah terjadinya ADR, yang pada gilirannya akan dapat mengurangi biaya kesehatan dan beban sosial akibat adanya ADR atau ketidakefektifan pengobatan. Di sisi lain, bagi industri farmasi, informasi ini sangat penting untuk mengetahui obat-obat mana yang paling sesuai dikembangkan untuk profil farmakogenetik orang Indonesia.

Fakta awal bahwa faktor genetik memainkan peran dalam variasi respon terhadap obat didasarkan pada adanya perbedaan fenotip enzim pemetabolisme obat pada individu yang mengalami adverse drug reaction. Berkurangnya aktivitas enzim pemetabolisme fase II di hati ternyata berkorelasi signifikan dengan terjadinya toksisitas saraf obat TBC isoniazid pada beberapa orang yang mengalaminya (Evans dan Relling, 1999). Fakta lebih baru menunjukkan bahwa berkurangnya aktivitas enzim pemetabolisme fase II tersebut disebabkan karena adanya polimorfisme pada enzim N-acetyl transferase 2 (NAT2). Contoh lain adalah penyakit Lupus yang disebabkan karena prokainamid, yang ternyata dijumpai pada individu yang mengalami mutasi pada enzim sitokrom 450 subtipe CYP2D6. Contoh ini membuka tantangan di bidang farmakologi yang disebut farmakogenetik, yang berfokus pada pencarian faktor genetik yang bertanggung-jawab terhadap variabilitas respon individu terhadap obat.

Polimorfisme pada gen yang mengkode protein yang terlibat dalam proses abosrpsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi obat, maupun terhadap respon terhadap obat, sangat berpengaruh signifikan respon in vivo suatu individu terhadap obat. Namun demikian, hingga saat ini belum ada publikasi mengenai peta polimorfisme genetik pada orang asli Indonesia terkait dengan berbagai gen yang mungkin terlibat dalam respon obat. Untuk itu sangat perlu kiranya dilakukan pemetaan polimorfisme genetik pada penduduk asli Indonesia, apalagi Indonesia sangat kaya dengan suku bangsa, yang sangat memungkinkan terdapatnya variasi genetik yang luas.

Pada penelitian kali ini akan dilakukan pemetaan genetik khususnya pada suku Jawa sebagai suku dengan populasi terbesar di Indonesia. Pada kesempatan penelitian berikutnya dimungkinkan untuk memetakan pola polimorfisme genetik pada berbagai suku lainnya di Indonesia. Gen yang dipilih untuk diamati adalah gen yang mengkode enzim sitokrom P450 subtipe CYP2D6, CYP2C9, dan CYP2C19, karena mereka merupakan enzim yang paling banyak dilaporkan mengalami polimorfisme dan bertanggungjawab terhadap banyak kejadian adverse drug reaction dan kegagalan terapi beberapa obat yang lazim digunakan (Nelson, et al, 1996). Penelitian ini merupakan penelitian kerjasama yang dilakukan oleh tim Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada dengan Institute for Research in Molecular Medicine (INFORMM) Universiti Sains Malaysia. Ruang lingkup kerjasama penelitian ini mencakup pemetaan polimorfisme genetik untuk berbagai gen-gen yang terlibat dalam respon obat pada berbagai etnis/suku di Indonesia. Langkanya laporan profil genetik orang asli Indonesia di jurnal-jurnal ilmiah internasional menjadi daya ungkit penelitian ini karena akan menjadi hasil yang orisinal dan bernilai ilmiah tinggi, sehingga sangat potensial untuk dipublikasikan secara internasional. Selanjutnya, adanya informasi farmakogenetik berbagai obat pada populasi penduduk asli Indonesia akan sangat bermanfaat sebagai prediktor terhadap kemungkinan risiko ADR, kegagalan terapi, maupun untuk prioritisasi pengembangan obat.

Penutup

Nah udah dulu ya…. Aku mau siap-siap mandi karena nanti harus ikut Upacara 17 Agustusan di kantor.

Dirgahayu negriku! Hiduplah Indonesia Rayaaa…!!!





Dosen sibuk dengan Face Book?

9 08 2009

rbon396l

Dear kawan,

Sebuah tulisan ringan saja di akhir minggu tentang Face Book dan dosen.

Demam face book makin merajalela saja…. Beberapa hari lalu, anakku yang masih kelas dua SD, si Hanisa, minta main “pet so ce ti”… Duh, apaan tuh, aku nggak mudeng… Katanya yang kayak dimainkan kakak Afan. Usut punya usut, ternyata itu adalah game di Face Book yaitu “ Pet Society”…. Dia minta pula “dibuatkan” Face Book atas namanya. Jadilah, oleh kakaknya dia dibuatkan account ke Face Book. Dia diajarin juga untuk cari teman dan invite teman… termasuk invite ibu dan bapaknya hehe… Sepupu-sepupu, tante-tante dan oomnya di-invitenya semua.

Yah… sebenarnya sih gak papa, karena memang sekarang adalah eranya internet… kasihan kalo dia gaptek sendiri… Tapi masalahnya, anak-anak sekarang jadi keranjingan internet…. Wah, repot sekali…. aku harus sering “teriak-teriaki” mereka untuk mulai belajar atau nyiapin pelajaran untuk hari besoknya. Asal ada waktu luang dikit saja, larinya ke internet. Kemarin ada tambahan lagi permintaannya,… “ Bu, aku pengin punya laptop sendiri kaya kakak”…. Waduh ..! Untungnya yang ini bisa diatasi dengan mengkoneksikan desktop computer di rumah dengan internet.. Semula dia pikir yang bisa internetan cuma laptop.

Yah… jaman bergerak cepat sekali…. kemajuan terjadi di segala bidang, utamanya teknologi infomasi, yang kadang bisa mempengaruhi gaya hidup manusia. Sungguh makin berat tugas orang tua jaman sekarang, untuk bisa bersinergi dengan kemajuan yang ada, jangan sampai kemajuan jaman justru mengarah menuju kemudhorotan.

Era Face Book sekarang juga mewarnai era baru hubungan antar manusia…  yang semula terpisah jauh oleh jarak dan waktu bisa bertemu di Face Book, termasuk antara dosen dengan mahasiswanya. Sekarang bukan jamannya lagi dosen sangar dan untouchable hehe….. dosen dan mahasiswa bisa berbagi informasi tentang hal-hal akademik maupun bukan. Seorang sejawatku dosen yang aktif ber-Face Book ria malah sampai tahu tentang mahasiswanya, si ini pacarnya siapa, si itu pandai bikin puding, si ini hobbynya apa, hehe….. Hmm, boleh juga….. asal nggak keasyikan sampai lupa tugas utama lho, Jeng…. (nama dirahasiakan).

Hm….omong-omong tentang dosen,  jadi ingat tentang profesi “dosen”….

Pagi ini di koran Kedaulatan Rakyat (terbitan hari Minggu 9 Agustus 2009  halaman 4) ada headline news berbunyi (aku kutip sesuai aslinya) : Oknum Dosen Kepergok Saat Berbuat Mesum…. Waduh..! Aku sebagai anggota korps dosen jadi agak “tersengat”….. Yah, dosen memang profesi biasa yang sama dengan profesi lainnya … tapi profesi ini kan berkait erat dengan bidang pendidikan, jadi masyarakat umumnya memberi perhatian lebih bagi mereka yang berprofesi ini. Dosen itu ya guru… buktinya kalau sudah mencapai angka kredit tertentu ia mendapat gelar “Guru Besar”. Katanya guru itu : “diguGU dan ditiRU”, dipercaya dan dijadikan teladan… lha kok Pak Dosen tadi malah “waGU dan saRU”……?

Hm…. buatku sendiri, dosen bukanlah cita-citaku sejak kecil…. karena waktu aku kecil tidak ada yang memberiku informasi tentang profesi dosen. Tapi setelah aku selesai kuliah dan akan memilih jalan hidupku, aku memutuskan untuk mengambil jalan ini dengan banyak pertimbangan (aku pernah menulis ini somewhere in my blog) Alhamdulillah, ternyata pilihanku tidak salah. Di jalan ini pula aku bertemu dengan si dia yang kemudian menjadi ayah anak-anakku hehe…..

Dosen bukan pekerjaan yang menjanjikan secara finansial….. Aku ingat, dan masih menyimpan amplop gaji pertama suamiku (dosen juga) ketika kami baru saja menikah….. Amplop yang sudah berwarna kekuningan itu bertuliskan,” Gaji pertama yang kunafkahkan untuk istriku setelah dikurangi infak untuk adikku, Rp 100.000,– Rp 20.000,- = Rp 80.000,00” hehe….. bisa dibayangkan betapa limited-nya (waktu itu tahun 1995 akhir). Ia masih harus membiayai adik bungsunya untuk kuliah. Gajiku sendiri tidak jauh-jauh dari itu… Padahal kerja di Industri farmasi , setahuku waktu itu gajinya sekitar Rp 350-400 ribuan.  Mungkin lebih.  Tapi alhamdulillah, gaji dosen yang kecil tetap kami syukuri…. Dan kesyukuran dan keikhlasan kami mungkin telah membawa ijin Allah untuk kami belajar ke Jepang bersama-sama. Dari situ kami bisa menabung agak banyak dan bisa bernafas lebih leluasa…  Bahkan bisa berhaji bersama dan menghajikan ayah mertua pada tahun 2005. Alhamdulillah….

Nah, kembali ke profesi dosen… bagaimanapun aku sudah terlanjur mencintai profesi ini…. Dan syukurlah ia pun mencintai aku hehe…. sehingga aku banyak diberi kesempatan dan pengalaman luas menyelami ilmu, bisa jalan-jalan ke negeri orang, dan income financial pun mengikuti seiring dengan kinerja kita. Profesi ini menjanjikan keleluasaan berimpovisasi dalam hidup sehari-hari….  Mau rajin apa mau malas, terserah kita. Mau naik pangkat atau tidak, terserah kita….dan apa yang kita peroleh akan tergantung dari aktivitas kita…

Aku menikmati saat mengajar di kelas, menjelaskan sampai paham, dan ada kepuasan tersendiri jika bisa membuat mahasiswa paham dengan apa yang kita ajarkan. Mudah-mudahan menjadi ilmu yang bermanfaat yang pahalanya tidak putus-putus. Amien. Memang harus ada usaha keras bagaimana mengajar yang enak, jelas, dan tidak boring. Hm…. beberapa mahasiswa bilang sih aku ngajarnya lumayan enak dan sistematis hehe…. (ge-er). Lha, gimana, .. kalau nggak sistematis kan aku sendiri yang bingung waktu mau ngajar. Namun aku juga menyadari bahwa mahasiswa sekarang juga jauh lebih maju daripada jaman aku mahasiswa dulu. Mahasiswa bisa jadi lebih dulu “melek informasi” ketimbang dosennya, jika sang dosen tidak berusaha meng-update ilmunya. Dosen kan cuma menang baca duluan hehe…… kalau keduluan mahasiswanya ya bakalan mati kutu di kelas. Nah, makanya ketika Universitas menawarkan hibah untuk pengembangan metode pengajaran yang  membangun hubungan lebih serasi antara dosen dan mahasiwanya, aku coba apply dan berhasil mendapatkan hibah tersebut. Sudah pernah aku ceritakan di somewhere in my blog, bahwa aku membuat milis kelas untuk berdiskusi dan berbagai informasi tanpa dibatasi ruang dan waktu. Konsekuensinya, aku mesti sering online… disamping tetap menyediakan waktu untuk bertatap muka di luar kelas jika dibutuhkan. Thanks for semua participants di kelas, kalian telah membuat kelas kita lebih berwarna. Aku juga sering dapat info atau inspirasi baru dari kegiatan kelas maupun online.

Nah selain milis, Face Book pun sekarang jadi media komunikasi yang sangat efektif….  Kadang ada konsultasi atau pertanyaan yang dilontarkan untukku lewat Face book, pernah pula aku menerima undangan sebagai pembicara di sebuah Seminar yang diawali dari komunikasi melalui Face Book.

Dosen tak lagi menjadi sosok misterius dan angker….. Profesor juga boleh gaul kan? hehe….. walaupun mungkin tak bisa sekerap mahasiswanya untuk Face-Bookan… maklum, urusannya makin banyak, baik urusan kantor maupun urusan domestik rumahtangga. Belum lagi kadang harus “rebutan” internet dulu dengan anak di rumah…..

Oke, selamat berFace Book ria….





Bahaya alkohol mengintai kita…

2 08 2009

Dear kawan….,

alcoholAku yakin pembaca blog ini sebagian besar tidak begitu “aware” dengan bahaya alkohol… Bukan karena tidak tau atau tidak pernah membaca, tapi lebih karena jarang menyentuh apa lagi meminumnya (begitu mudah-mudahan). Termasuk aku sendiri pun, kalau nggak diajak Mbak Tati (Hartati Nurwijaya) menulis buku tentang ini, aku ya hanya tau sekedarnya saja….. karena merasa tidak berkepentingan, karena nggak pernah minum, dan Insya Allah tidak akan minum.

Tapi kawan, ….

kalau kita pelajari lagi dan lihat sekeliling kita….. betapa sebenarnya alkohol dan teman-temannya (drugs, narkoba) sudah mengintai di setiap sudut kota. Alkohol adalah salah satu pintu masuk untuk mengenal drugs dan menjadi salah satu penyebab utama kriminalitas remaja dan dewasa. Fenomena kecanduan atau bahaya alkohol seperti “fenomena gunung es”, yang hanya kelihatan puncaknya saja, tapi ternyata di bawah banyak sekali kejadiannya. Berita yang muncul di koran tentang matinya secara sia-sia beberapa orang akibat menenggak miras hanyalah nol koma nol sekian persen dari jumlah kejadian sebenarnya. Hal ini didasarkan fakta bahwa sebenarnya sejarah alkohol sama panjangnya dengan sejarah peradaban manusia itu sendiri.

Ini diketahui melalui hasil penelitian para ahli arkeologi bahwa minuman alkohol muncul pertama kalinya dari zaman peradaban Mesir kuno. Dari sinilah minuman alkohol berkembang hingga kini, dan masih menjadi bagian dari peradaban manusia. Kemudian dilanjutkan dengan sejarah alkohol di zaman Yunani kuno dan Romawi kuno. Dari sejarah tadi bermunculanlah berbagai jenis minuman beralkohol di berbagai belahan bumi, masing-masing dengan kekhasan pembuatannya, yang tidak lepas dari budaya setempat. Perancis terkenal dengan wine-nya, Rusia dengan vodka, Jepang dengan shochu dan sake, dan masih banyak lagi daerah-daerah menghasilkan minuman beralkohol yang khas, tidak terkecuali berbagai daerah di Indonesia. Tuak, arak, brem, ciu, lapen adalah sedikit saja dari macam minuman beralkohol tradisional di Indonesia.

Sekarang dengan era globalisasi, semakin mudah pula penyebaran budaya, termasuk budaya minum alkohol. Masih “untung” mayoritas penduduk kita adalah muslim yang notabene mengharamkan alkohol, sehingga kelihatannya budaya minum alkohol belum menjadi budaya kita. Tapi bukan rahasia pula bahwa banyak mereka yang mengaku muslim, tetapi minum alkohol pun tak dipantang.

Setelah menyadari bahwa lebih banyak mudharatnya ketimbang manfaatnya, sekarang di negara-negara yang punya “budaya” minum alkohol pun sudah mulai muncul gerakan-gerakan untuk berpikir ulang untuk minum alkohol – rethinking for drinking. Sebuah website yang disponsori oleh Pemerintah Amerika Serikat dan jajarannya (http://rethinkingdrinking.niaaa.nih.gov/ ) telah mengajak masyarakatnya untuk berpikir ulang untuk minum alkohol. Karena yang banyak itu pasti dimulai dari yang sedikit. Mereka menerbitkan booklet dengan judul Rethinking drinking: Alcohol and Your Health yang dapat diperoleh secara gratis.

Nah, keprihatinan terhadap bahaya alkohol untuk para generasi penerus bangsa inilah yang menjadi dorongan kami (Mbak Tati dan saya) untuk mewujudkannya dalam buku yang sekarang dalam proses penerbitan. Dalam buku itu dipaparkan berbagai macam minuman beralkohol dari berbagai penjuru dunia dan budaya minum alkoholnya. Beberapa kisah peminum alkohol dan akibatnya juga disampaikan, demikian pula efeknya, baik secara fisik maupun psikis dalam sudut pandang kesehatan. Tentu saja beberapa cara mencegah atau mengobati kecanduan alkohol juga diuraikan dengan gamblang. Terimakasih atas semua rekan dari berbagai belahan bumi yang sudah berkontribusi untuk buku ini.

Just for your info saja……

Tahukah kalian, kawan, bahwa jenis alkohol itu ada yang hanya merupakan hasil fermentasi dan ada juga yang didestilasi setelah fermentasi? Itu yang disebut jenis beer dan spirits, di mana spirits ini kadar alkoholnya lebih tinggi yang diperoleh dari proses destilasi. Sebuah tulisan pada jurnal Alcohol terbitan Mei 2009 (Vol 43, hal 185-195) melaporkan bahwa jenis alkohol yang diminum dapat mempengaruhi keparahan dari ketergantungan alkohol dan kepatuhannya terhadap pengobatan kecanduan alkohol. Baltieri, dkk menemukan bahwa keparahan ketergantungan alkohol lebih banyak dijumpai pada peminum spirits ketimbang beer, demikian pula kepatuhan pecandu spirits terhadap pengobatan kecanduan alkohol lebih kecil ketimbang pada pecandu beer, sehingga perlu dicarikan metode yang lebih baik untuk mengatasi kecanduan spirits.

Di Indonesia, bentuk spirits ini tidak banyak dijumpai pada minuman beralkohol asli Indonesia. Tapi yang lebih memprihatinkankan adalah banyaknya minuman-minuman oplosan yang umumnya dikonsumsi masyarakat kalangan ekonomi lemah, sebagai bentuk “pelarian” dari himpitan kehidupan. Sedih sekali melihatnya. Mestinya ada upaya dari berbagai pihak untuk bisa menekan penggunaan miras ini dengan lebih sistematis, sekaligus pemberian informasi yang lebih luas mengenai bahaya alkohol. Kampanye Bahaya Alkohol ke berbagai penjuru tanah air yang memiliki korban miras tinggi merupakan salah satu upaya yang akan kami lakukan (Insya Allah) bersamaan dengan peluncuran buku ini. Siapa ya yang akan mendukung? Kami sangat terbuka untuk mendapat dukungan semua pihak, baik moril maupun materiil. Mungkin ada yang mau ngasih penginapan gratis, atau akomodasi dan transportasi, atau apalah hehe…….. Silakan kontak saya saja melalui blog ini…

Demikianlah, ini iklan untuk buku kami : “Bahaya Alkohol dan Cara Mencegah Kecanduannya” yang mudah-mudahan akan segera diterbitkan oleh PT Elex Media Computindo hehe…..  Beli yaa…..





Semarang dalam kenangan…

29 07 2009

Dear kawan,

Hari ini aku menghabiskan waktu seharian dengan perjalanan Jogja-Semarang dan memberi kuliah di sebuah universitas swasta di sana. Alhamdulillah, perjalanan lancar sekali, bahkan tak sampai perlu menunggu bus sama sekali karena aku segera mendapatkan bus yang akan berangkat, baik saat berangkat maupun pulangnya.

Aku sudah puluhan kali ke Semarang, tapi kali ini tiba-tiba saja ingin menulis tentang Semarang….. Kisah ringan-ringan saja untuk refreshing dari aktivitas yang terlalu memeras otak..

semarangHm… Semarang bukan kota yang asing untukku, bahkan termasuk kota yang cukup akrab sejak aku kecil, walaupun bukan termasuk jenis kota yang ingin aku tinggali. (Maaf, warga Semarang hehe….. lha, piye jal…. panas, sering banjir, emang enak?..).  Bahkan setengah darahku yang mengalir adalah darah Semarang, karena ayahku (alm) adalah asli dan besar di Semarang. Beliau bertemu ibuku pun di Semarang ketika ibuku yang asli Purwokerto itu bersekolah di sana.

Semarang punya banyak kenangan untukku, sejak kecil hingga dewasa, baik kenangan manis maupun sedih. Aku coba menggali lagi kenangan-kenanganku yang terkait dengan kota Semarang..

 Masa kecil

Sepanjang yang aku bisa ingat, sewaktu kecil aku dan adik-adik kerap diajak ayah-ibu pergi ke Semarang mengunjungi Embah. Kami menyebutnya Mbah Semarang. Beliau adalah orangtua angkat ayah karena ayah sudah yatim piatu sejak kecil. Aku ingat benar, rumahnya di daerah Bulu, di pinggir sungai kecil (selokan). Beliau berjualan es di dekat rumah. AKu senang kalau di sana, karena bisa minum es cincau gratis…. Ketika aku SMP, Embah wafat, dan sejak itu kami agak jarang pergi ke Semarang, kecuali jika  ada  saudara-saudara yang punya hajat. Semua pakdhe-pakdheku dari Ayah tinggal di Semarang.

Di luar urusan keluarga, Semarang juga cukup mengesankanku karena aku pernah menjadi tamu orang nomer satu Jawa Tengah saat itu alias Pak Gubernur ketika aku SD kelas 5. Ceritanya, melalui proses seleksi yang cukup panjang dari tingkat lokal, kecamatan, kabupaten, dan propinsi, aku bersama 2 orang teman lain dari Salatiga dan Boyolali berhasil menjadi Pelajar Teladan SD se-Jawa Tengah, di mana aku menduduki peringkat ke dua. Kemudian kami diundang menghadap Pak Gubernur sebagai salah satu bentuk penghargaannya. Hm… mengesankan sekali.

Lomba lain yang pernah aku ikuti sewaktu SD di Semarang adalah Lomba Baris Berbaris dan Senam Pagi Indonesia (PBB-SPI) bersama teman-teman satu tim SD. Entah kenapa, lomba-lomba semacam itu belakangan tidak pernah ada lagi. Waktu SMP, aku mengikuti seleksi yang sama di Semarang utk Siswa Teladan SMP tingkat propinsi,   demikian juga Lomba Baris Berbaris dan Senam Pagi, tetapi gagal mendapat peringkat.. Yah, tapi nggak papa… bagaimanapun pengalamannya sangat berharga.

Masa Kuliah

            Semasa aku kuliah di Jogja, aku bertautan lagi dengan kota Semarang karena sahabatku satu kamar kost berasal dari Semarang (Halo, Nik…!). Dialah sahabat tempat curhatku selama kuliah…. termasuk urusan asmara hehe….. Beberapa kali aku main ke rumahnya di Semarang. Selain itu, kebetulan Ayah juga pindah dinas ke Semarang, dan adikku pun juga ada yang kuliah di Semarang. Jadilah, Semarang menjadi kota yang akrab dengan kehidupanku. Nah, di Semarang pula sebuah cerita yang pernah menjadi salah satu episode dalam hidupku dimulai….. Semarang pernah menjadi bagian dari cerita tentang “kasih tak sampai” hehe….  Hatiku pernah sempat tertinggal di sana, dan sekaligus patah.. huu…huu. Tak banyak peristiwa sebenarnya di antara kami, karena semua berjalan dalam diam, …..  tapi dulu semuanya terasa istimewa. Yah, … sekarang aku bisa menulis ini dengan tersenyum-senyum geli… tapi dulu saat semua angan tiba-tiba harus terminated,.. waduh… pokoknya sangat pilu membiru….. mentari tak lagi bersinar… my sunshine has gone away…

Yaah….  tapi nampaknya itu memang jalan terbaik yang dipilihkan Allah untukku. Karena beberapa tahun kemudian Allah memberiku cahaya hidup baru dengan gelombang yang frekuensi dan amplitudonya sama, sehingga bisa saling berinterferensi dengan lebih sempurna. Dan kami sekarang sudah punya buntut tiga yang cakep dan cantik… hehe… Alhamdulillah….

Dan sekarang aku masih cukup sering pergi ke Semarang, biasanya untuk memberi kuliah di universitas swasta di sana, atau sebagai pembicara di sebuah acara. Dan bagiku Semarang masih menjadi kota dengan beragam kenangan….

Begitulah ……..





Mengintip dunia kecilku: bikin proposal riset…

24 07 2009

Dear kawan,

Alhamdulillah, aku sudah balik lagi ke Yogya dengan selamat…. (kayak dari mana aja hehe……). Kemarin pagi aku berangkat ke Jakarta, tepatnya ke Puspiptek Serpong untuk mempresentasikan proposal penelitianku tahun kedua yang akan didanai oleh Kementrian Negara Riset dan Teknologi (KNRT), jadi sering disebut penelitian Ristek. Presentasinya sih cuma sekitar 45 menit di hadapan para reviewer, dan alhamdulillah… berjalan lancar-lancar saja. Petangnya dah balik lagi Jogja. Perjalanan pun lancar, tidak ada delay pesawat, jam 19.40an sudah mendarat dengan mulus di Bandara Adisucipto. Cuaca pun cerah. Tinggal tunggu hasil nih…. mudah-mudahan bisa kayak Pak SBY hehe…. : Lanjutkan…. Lanjutkan!

pura-pura penelitian...

pura-pura penelitian...

Omong-omong tentang proposal penelitian, ada kawan yang minta aku menuliskan kiat-kiat membuat proposal penelitian biar bisa joss gitu lho…… Hm, sebenarnya sih aku juga nggak jago-jago amat menyusun proposal penelitian. Mungkin lebih karena faktor “luck” dan suka mencoba  hehe…. jadi lumayanlah….  kalau melihat list of my research activities di blog ini, cukup banyak juga penelitian-penelitian yang sudah aku lakukan. Dan dana-dana riset yang sempat aku peroleh (tidak ditampilkan karena alasan etika hehe…) berada pada rentang yang cukup luas, dari yang “kecil” senilai 30 jutaan, sampai yang ratusan juta-an. Untuk Penelitian Ristek yang lumayan bergengsi ini, aku sempat tembus dua kali, yaitu tahun 2007 dan 2009. Tahun 2007 aku mendapat insentif untuk Riset Terapan selama 2 tahun, dan tahun 2009 ini aku mendapat insentif Riset untuk Katagori Riset Peningkatan Kapasitas IPTEK dan Sistem Produksi. Aku mendapat dana (grant) untuk tahun pertama, dan sedang berjuang untuk mendapatkan dana tahun kedua. Mudah-mudahan nanti juga ada tahun ketiga, karena penelitian ini memang aku rencanakan selama 3 tahun. Pada tahun yang sama ini (2009), proposal penelitianku yang lain juga berhasil didanai oleh UGM untuk jenis Penelitian Kolaborasi Internasional. Untuk ini aku bermitra dengan profesor pembimbingku waktu studi S3 dulu di Jepang. Dan saat ini aku masih berharap-harap cemas untuk sebuah proposal yang aku ajukan ke DIKTI beberapa saat lalu untuk kategori Penelitian Kolaborasi Internasional, tapi untuk topik yang sama sekali berbeda dan dengan mitra luar negeri yang berbeda.  Hehe…. gayanya sok saintis banget ya…….

Bagaimana sih caranya menulis proposal penelitian ?

Hm… penelitian tentu berawal dari sebuah “research question”…. sesuatu yang kita tidak tahu dan ingin mengetahui jawabannya. Untuk itulah kita mengadakan penelitian. Ide penelitian bisa berasal dari mana-mana… Aku biasanya mengandalkan insting saja ditambah baca-baca literatur. Yang jelas harus original, dapat menghasilkan sesuatu yang baru yang belum ada sebelumnya. Sesuatu itu bisa suatu produk, atau suatu pernyataan atau jawaban atas sebuah pertanyaan.

Untuk jadi “proyektor” alias mroyek penelitian, kita tentu perlu menyesuaikan dengan aturan dari penyandang dana, topik-topik apa yang lebih disukai untuk didanai. Dalam panduan penulisan proposal, biasanya disebutkan secara detail apa-apa yang harus ditulis dan topik apa yang menjadi ruang lingkup pendanaan. Kebetulan latar belakang ilmuku adalah farmasi, khususnya farmakologi, maka  topik-topik yang kukembangkan terutama adalah pengembangan obat baru atau uji farmakologi suatu bahan baru (bisa bahan alam atau sintetik) untuk suatu efek tertentu.

Kalau ditanya kiat-nya apa supaya bisa berhasil, aku bingung juga… apa ya? Coba kuurutkan satu-satu bagaimana sistematika proposal penelitian…

1. Latar belakang penelitian atau pendahuluan

Ini bagian yang sangat penting yang menentukan apakah suatu proposal atraktif atau tidak bagi penyandang dana (yang diwakili oleh reviewer). Kita harus bisa secara meyakinkan menulis bahwa penelitian ini memang sangat penting  dan sangat bermanfaat jika penelitian ini bisa terlaksana. Misalnya : bisa meningkatkan daya saing produk berbasis bahan alam pada pelayanan kesehatan formal, mengurangi ketergantungan terhadap produk ekspor, atau apalah….. tergantung topik penelitian. Mungkin perlu dengan kalimat-kalimat yang sedikit bombastis, tapi tetap relevan… hehe….

2. Rancangan dan metode penelitian

Ini juga sangat krusial untuk menunjukkan bahwa penelitian kita akan dapat mencapai tujuan karena didukung dengan metode yang shahih/valid. Walaupun ide penelitian kita bagus dan hasilnya sangat bermanfaat, jika disain penelitiannya tidak sesuai tentu akan diragukan keberhasilannya. Sebuah penelitian untuk mengetahui/mempelajari efek dari suatu “jamu masuk angin” misalnya, atau mau mengembangkan obat baru untuk obat “masuk angin”, memerlukan metode yang valid untuk menentukan parameter efek jamu “masuk angin”. Apakah akan melihat efeknya menghangatkan badan, efeknya terhadap mual atau kembung, atau yang lain. Alat ukur apa yang dipakai juga sangat penting. Istilah masuk angin sendiri tidak dikenal secara medis, tetapi nyatanya di masyarakat sangat familiar dan banyak jamu yang diindikasikan sebagai jamu masuk angin… wesewes-ewes… baablas angine hehe….. ! Dari segi disain penelitian sendiri, maka disain yang paling pas adalah rancangan penelitian eksperimental, yang memerlukan ada kelompok kontrol dan perlakuan. Kelompok kontrol tidak mendapatkan obat, sedangkan kelompok perlakuan mendapatkan obat, lalu diukur parameter2 yang telah ditetapkan tadi. Pelaksanaannya bisa pada hewan uji atau langsung pada manusia. Jika pada hewan, maka parameter dan alat ukurnya harus dipilih yang sesuai, karena hewan tidak bisa ngomong untuk menceritakan apa yang dirasakan. Namun jika ujinya akan dilaksanakan pada manusia, tentu harus memenuhi etika pada manusia. Biasanya proposal harus direview dulu oleh suatu komite etik penelitian pada manusia, jika oke maka akan mendapat “ethical clearance”.

Jika suatu uji akan menggunakan hewan uji, maka harus dipilih hewan uji yang sesuai dengan tujuan penelitian. Efek obat terhadap kontraksi trakea yang diinduksi histamin misalnya, biasanya menggunakan marmut sebagai hewan uji, bukan tikus, karena tikus tidak memiliki reseptor histamin pada trakeanya. Pokoknya antara tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian dengan rancangan dan metode penelitiannya harus match.

Yah… semacam itulah….. kira-kira.

3. Sumberdaya manusia yang tersedia

Dalam sebuah proyek penelitian yang agak besar, tentu tidak mungkin dikerjakan sendiri oleh satu orang. Untuk itu perlu ada anggota, dan anggota peneliti tentu harus yang memiliki kompetensi yang relevan dengan topik penelitian. Hal ini biasanya terlihat dalam biodata peneliti yang harus disertakan dalam proposal.

4. Usulan biaya

The last but not least adalah usulan biaya. Usulan biaya harus cukup masuk akal dan sepadan dengan volume penelitian dan hasil  yang diharapkan. Jika terlihat terlalu mengada-ada malah akan diragukan, dan sangat mungkin biaya yang disetujui jauh lebih kecil dari yang diusulkan. Item-item biaya perlu diuraikan sedikit rinci untuk lebih meyakinkan reviewer bahwa kita paham betul medan kerja yang akan kita kerjakan.

Nah, kawan…

Begitu kira-kira gambaran umumnya. Hehe…. sory, ya, kalau cuma begini saja. Yah, aku nggak bisa nulis terlalu rinci, nanti bisa panjang sekali kalau mau pake contoh-contoh. O,ya…. satu lagi, kadang kita diminta mempresentasikan proposal penelitian kita di hadapan reviewer seperti yang aku lakukan di Serpong kemarin. Yang penting adalah percaya diri saja dan bisa menjelaskan dengan meyakinkan apa yang akan kita kerjakan.

Sekali lagi, proposalku juga tidak selalu berhasil…. tapi jangan pernah lelah mencoba. Proposal yang gagal bisa jadi bahan proposal baru dengan perbaikan di sana-sini.

Begitulah…. sedikit berbagi. Semoga bermanfaat.





I’m still alive….

21 07 2009

Halo kawan,

 I’m still alive!!

Yah, paling tidak begitulah… aku perlu menyapa kawan-kawan pembaca blog-ku, bahwa setidaknya aku masih hidup hehe…. . Apa kabar kawan? Pasti banyak aneka peristiwa telah terjadi pada masa seminggu ke belakang ya…. Termasuk peristiwa bom Jakarta yang benar-benar membuat kita geram dan prihatin. Peristiwa itu menjadi penting karena kebetulan minggu lalu kami sedang memiliki tamu dari Belanda yang menjadi instruktur dalam Workshop on Molecular Toxicology yang diselenggarakan di fakultas. Tadinya aku sengaja tidak menceritakan dulu kabar tersebut (waktu itu beliau sudah memulai lecture-nya), eh… ternyata malah putranya di Belanda menelponnya langsung menanyakan tentang hal tersebut…. Walah….! Tapi untunglah beliau tidak terpengaruh, karena setelah ini beliau memang masih akan lama jalan-jalan di Indonesia.

 Selain itu, sebenarnya telah ada pula beberapa ide tulisan yang ingin kutuangkan… suerr,… tapi seperti biasanya… tanganku hanya dua, dan waktuku hanya 24 jam, itu pun harus kubagi dengan baik-baik. Aku ingin berbagi bagaimana pengalamanku menyusun proposal penelitian sehingga bisa mendapat beberapa grants, bagaimana pengalaman mengembangkan metoda pembelajaran, juga sedikit cuplikan dari hasil workshop.. Aku usahakan, ya,…walau nggak bisa janji cepat-cepat…..

Tapi tahukah kalian, ……. bahwa di balik hingar-bingar kesibukanku yang nampaknya tak pernah henti susul-menyusul, ada kegundahan hati yang sesekali menyusup. Yang hanya bisa diatasi dengan berserah diri dan memohon pada yang Empunya hidup. Beberapa hari lalu aku sempat merasa sedih dan rapuh… aku merasa kehilangan waktuku untuk anak-anak, terutama si bungsu yang masih perlu perhatian banyak. Yah…. beberapa hari yang lalu ada yang sedikit berbeda dari Dhika, anak kami ketiga (3,5 tahun). Mulai hari Rabu sore lalu, kuamati  mood-nya sedang tidak bagus. Entah kenapa, sejak sore kelihatan sedih banget, cuma mau tiduran di tempat tidur sambil sesekali menangis. Padahal biasanya dia ceria, sedang mulai cerewet walaupun kadang kata-katanya belum ada maknanya. Aku coba hibur dengan mainan kesukaannya, atau game di komputer yang dia suka, hanya bertahan sebentar, tersenyum sedikit, lalu lesu lagi. Kelihatan lesu dan kehilangan semangat bermainnya. Aku mencoba introspeksi… mungkinkah ia sedang minta perhatian ibunya? Astaghfirullohal’aziim..

Sekitar tiga harian ia berperilaku tak seperti biasanya. Tidak semangat, tidak berespon. Aku agak kuatir juga, karena Dhika adalah anak istimewa kami. Aku sudah pernah cerita dulu (pernah kutulis di blog ini juga), bahwa Dhika adalah cahaya mata dan cermin hidup kami. Dhika anak kami memang berkembang sedikit beda dengan kakak-kakaknya. Secara fisik ia paling ganteng, putih dan bongsor. Tapi perkembangan wicaranya masih jauh dari teman-teman seusianya. Itulah yang aku sedihkan ketika ia menjadi diam dan lesu, karena ia belum bisa menceritakan perasaannya… belum bisa menyampaikan keinginannya. Kalian bisa rasakan kan perasaanku sebagai ibunya melihat demikian? Antara sedih dan bingung karena tidak tau apa maunya.

Itu yang kadang membersitkan kegundahan di hati kami, walaupun kami menyadari, bahwa semua adalah kehendak Allah, sebagai peringatan bagi kami untuk memperbaiki diri sehingga semakin sujud kepadaNya. Yah, kupikir memang di dunia ini tidak ada yang sempurna. Mungkin memang sebaiknya tidak perlu terlalu sempurna, sehingga orang akan tergerak untuk merunduk padaNya. Dan memang benar, bahwa orang lebih mudah lalai ketika dihadapkan pada semua yang serba baik, menyenangkan, sempurna…  lupa pada Sang Pemberi dan merasa bahwa itu sudah semestinya. Astaghfiruulohal’adziim..

Dhika main di lingkaran

Dhika main di lingkaran

Tapi alhamdulillah,…. sejak hari Minggu kemarin Dhika sudah mulai pulih lagi. Sudah ceria dan mau main-main lagi, tertawa-tawa. Beberapa hari belakangan aku memang benar-benar tak mau kehilangan waktu untuk bermain-main dengannya. Sepulang kantor sore hari, aku berusaha untuk tidak membuka laptop atau apapun yang terkait dengan pekerjaan. Untung pula ada libur sedikit panjang….  walau masih harus menyelesaikan beberapa hal, aku berusaha untuk menemani Dhika sebanyak mungkin. Main kejar-kejaran, panjat-panjat di lingkaran, lempar dan tangkap bola, menemani nonton Dora dan Elmo…

Ah… tidak mudah memang menjadi ibu yang baik, yang selalu ada di saat dibutuhkan. Aku sedang berpikir untuk mengurangi beberapa aktivitasku ke depan… Hm… mudah-mudahan bisa dan dapat dimaklumi.      

Well, selamat datang minggu yang baru…. semoga semua berjalan lancar dan menyenangkan.  Siap presentasi hasil riset utk “research week” UGM hari Rabu besok, siap presentasi hasil riset dan proposal penelitian Ristek di Puspiptek Serpong hari Kamisnya, dan routine work lainnya, termasuk main-main dengan Dhika. Amien….

 Have a nice week!!