Dear netters.
Kata orang-orang pinter di dunia pendidikan, sekarang eranya “student-centered learning“… yang artinya pembelajaran berpusat pada mahasiswa. Metode belajar mengajar sebaiknya tidak lagi satu arah, tetapi mesti ada interaksi dua arah antara student dan teacher, di mana student-lah yang menjadi pembelajar aktif.
Nah, sekedar untuk memberikan kail, bukan ikannya, catatan kuliah sebagai “pemancing” akan disediakan sebagai panduan waktu kuliah. Tapi jangan salah….. nanti bakal banyak tugas lhooo… hehehe…..
Catatan kuliah Farmakologi Dasar, Farmakologi Molekuler, Farmakoterapi Sistem Pernafasan, Farmakoterapi Sistem Saraf, dll, silakan diunduh di http://zulliesikawati.staff.ugm.ac.id/?page_id=98
That is my another weblog in UGM site. Have a nice visit! Semoga bermanfaat.
mau tanya tentang,osteoporsis?
begini,,istri saya dicek ternyata osteoporosis di level 2,5 kata dokter
gimana dengan cita-cita saya pengen punya 4 anak?
adakah saran yang bagus?
please kirim jawba via email prof?
thks ya
malam prof, perkenalkan nama saya marta, guru sebuah smf di jakarta, saya butuh pain-management-bw,prof tapi tidak bisa di buka, boleh upload lagi prof, terima kasih file filenya
Jawab:
Oke, nanti saya kirim via e-mail ya
aslm ibu…..mf mgnggu….pi mhs farmasi yg sdang nysun skripsi….pnlitian pi mmbhs ttg aktftas stimulan pd mencit, yg ingin pi tnyakan lteratur yg mmbhs bbrp mtoda utk uji aktiftas SSP tsb, ato ibu bs mnjlaskan bbrp mtda nya, mhn blsnnya……
Jawab:
Coba lihat di bukunya Vogel, yang berjudul “Drug Discovery and Evaluation:Pharmacological Assays”, mungkin ada. Atau searching di internet saja, tanya mas Google.
Ibu , mohon maaf saya ingin bertanya tentang BST lagi. Jika akan melakukan uji antimalaria, tepatkah kalau skreening fraksi-fraksi pelarut hasil pemisahan suatu senyawa memakai metode BST? terimakasih banyak bu.
Jwab:
Boleh saja, uji BST bisa digunakan untuk skrining awal suatu aktivitas obat. Tapi untuk uji aktivitas tertentu, selanjutnya perlu digunakan metode uji yang lebih spesifik.
Aslm… Selamat atas juara 2 nya Prof…
Perkenalkan, saya Feby, mahasiswa PSM Biomedik BKU Farmakologi Kedokteran… Saya punya banyak pertanyaan yang kadang-kadang sulit mencari referensinya… Apakah saya boleh koresponden dengan Prof. untuk sharing pengalaman?…Terima kasih…
Jawab:
Terimakasih, silakan saja kalau mau kontak….. via e-mail atau langsung, saya tunggu.
Selamat Siang Prof. Perkenalkan nama saya Anandika maya kresna, Saya mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Jember. Mohon maaf karena telah mengganggu, karena saya dari Universitas Lain(maaf Prof), saya mau menanyakan mengenai obat untuk penyakit asma, karena sudah2 tahun asma saya tidak kambuh, pada saat saya menulis komen ini, asma saya sedang kambuh. Dan apabila di telusuri, asma saya ini memang keturunan. karena dari riwayat Eyang kakung saya, juga menderita penyakit tersebut. mama Saya sekarang juga mulai muncul gejala-gejala asma. mohon bantuannya Prof.
Jawab:
Dear Anandika,
Tentang asma dan pengobatannya sudah saya postingkan somewhere dalam blog ini, mungkin nanti bisa dicek lagi. Silakan ditelusuri. Asma memang harus dikontrol dengan pengobatan, jika asmanya agak berat, maka perlu pengobatan rutin, tapi jika ringan, obat cukup digunakan bila perlu saja.
Mau tanya nih bu, kalau toksisitas invitro dengan BST apa bisa dianggap mewakili toksisitas in vivo dengan mencit (akut,subakut dan kronis), masih perlu tdk uji tsb utk keamanan obat? trimakasih
Jawab:
Tentu saja tidak sama, dan tidak bisa mewakili. Uji toksisitas dengan BST biasanya adalah untuk men-skreening aktivitas suatu senyawa, terutama senyawa anti kanker. Yang dicari malah yang toksis. Sedangkan uji toksisitas in vivo dengan mencit atau tikus adalah untuk melihat keamanan suatu obat, diharapkan obat tidak toksis. Kadar obat yang digunakan utk uji BST tentu beda sekali dengan uji in vivo, dan sulit untuk diekstrapolasikan. Untuk keperluan pendaftaran obat untuk dipasarkan, harus melalui uji toksisitas in vivo (akut, sub akut, subkronis, kronis, tergantung jenis obatnya, apakah dipakai jangka pendek atau jangka panjang).
Selamat malam ibu, saya ingin bertanya tentang bagaimana mekanisme kerja tetes mata dari diteteskan hingga dapat menimbulkan efek baik lokal maupun sistemik secara molekular, khususnya pada kasus penyakit katarak,glaukoma, dan conjuctivitis , mungkin ibu ada rujukan website atau rujukan jurnal, kalau mungkin ada yang berbentuk animasi(swf) sehingga lebih mudah untuk dipahami, terima kasih sebelumnya, salam…
Jawab:
Agak sulit, dik, untuk menjawab. Tetes mata sendiri isinya kan macam-macam, dengan contoh penyakit yang macam-macam pula, tentu mekanisme-nya ada sendiri-sendiri. Apalagi kalau sampai molekular. Tetes mata untuk cataract tentu isinya lain dengan untuk conjuctivitis, atau glaukoma. Saya tidak punya referensi khusus tentang ini, biasanya kalau butuh tinggal searching di Google.
Ibu, Farmakoterapi saya dapet B bu. saya yang PPOK gak yakin benar sih bu. Bu, boleh tuh bu kalo pembahsan kasus soal ujian Profesi kemaren di bahas di sini. he..he…
Jawab:
Oke deh, nanti saya tampilkan pembahasannya.