Mohon maaf lahir dan batin

17 09 2009
Selamat Hari Raya Idul Fitri ya...

Selamat Hari Raya Idul Fitri ya...

Bulan Ramadhan tinggal 2 hari lagi… Ada perasaan campur aduk di sini… Antara gembira karena akan bertemu keluarga dan saudara-saudara dalam suasana Hari Raya,.. tapi juga sedih karena akan berpisah dengan Ramadhan yang mulia tanpa tahu akankah akan bertemu lagi tahun depan. Dan aku merasa ibadah Ramadhanku kali ini tidak maksimal…
Sejujurnya, banyak sekali ujian hati di Ramadhan kali ini…. kadang lulus kadang tidak….. Ramadhan dengan Face Book tahun ini menjadi salah satu keunikan dan sekaligus ujian…. akankah sesuatu yang bersifat netral itu menjadi manfaat atau mudharat. Dan kadang kita terbawa pada pilihan yang terakhir… Astaghfirullohal adziiim.

Idul Fitri nanti semogalah menjadi tonggak baru untuk hidup yang lebih baik dari sebelumnya. Untuk itu, kami sekeluarga mengucapkan :
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN
Semoga amal ibadah kita selama bulan Ramadhan diterima dan kita mendapat ampunanNya. Amien
.





Hati seperti spektrofotometri

23 08 2009

Dear kawan,

ramadan kareemSudah hari ke 3 puasa Ramadhan… mudah-mudahan belum terlambat jika aku ucapkan “Selamat Menunaikan Ibadah Puasa bulan Ramadhan” kepada semua pembaca blog ini…. Semoga amal ibadah kita diterima dan Allah mengampuni segala dosa-dosa kita. Amien. Mohon maaf lahir batin ya….

Sudah banyak tulisan-tulisan menyambut Ramadhan di berbagai media…. tulisan kali ini sekedar nasihat kepada diriku sendiri sebagai pengingat…., semoga bisa menyambut bulan suci ini dengan sebaik-baiknya…

Kawan,

Menjelang Ramadhan ini rasanya banyak kualami ujian hati. Tapi begitulah manusia… selalu ada ujian dan cobaan. Rasulullah SAW pernah bersabda, “Ingatlah dalam tubuh manusia itu ada segumpal “daging”. Bila ia baik, akan baiklah seluruh tubuh itu, tetapi hila ia rusak, maka akan rusak pula tubuh itu seluruhnya, segumpal “daging” itu adalah hati (kalbu),” (H.R, Bukhari Muslim]

Di bulan Ramadhan ini, semestinyalah kita siapkan hati untuk menerima banyak-banyak cahaya dan petunjuk Allah menuju kebaikan dan kebenaran, karena di bulan Ramadhan ini pasti banyak tausiah-tausiah berguna yang bisa kita peroleh dari bebagai sumber. Jika hati kita keruh, tentu akan sulit ditembus cahaya. Untuk ini, aku terpikir akan analogi spektrofotometri UV-vis. Kawan-kawan yang berlatar belakang farmasi atau kimia analisis tentu tidak asing dengan alat ukur yang satu ini, untuk menganalisis kadar suatu zat dalam sebuah larutan.

Pada prinsipnya, suatu sampel larutan yang mengandung zat tertentu dengan kadar tertentu, dapat diukur kadarnya dengan melewatkannya pada sinar UV atau sinar tampak pada panjang gelombang tertentu. Jika larutan pekat, maka sinar akan terabsorpsi oleh zat dalam larutan. Detektor hanya akan menangkap sedikit cahaya. Jika larutan jernih, maka cahaya tidak akan terhalangi, dan detektor akan menangkap lebih banyak cahaya. Banyaknya cahaya yang diserap (absorbansi) atau banyaknya cahaya yang diteruskan ke detektor (tansmittan) akan menentukan kadar zat yang terlarut.

Maka kawan,

Aku mengajak diriku sendiri untuk membersihkan hati… sehingga Cahaya Ilahi akan lebih banyak yang diterima oleh detektor kalbu… yang akan menuntun kita ke jalan yang lurus dan menjadi hambaNya yang lebih sujud. Sungguh tidak mudah…. karena hatiku sungguh masih sangat lemah. Beri hamba kekuatan ya, Allah, …Amien.

Selamat menunaikan ibadah Shaum Ramadhan…





Semarang dalam kenangan…

29 07 2009

Dear kawan,

Hari ini aku menghabiskan waktu seharian dengan perjalanan Jogja-Semarang dan memberi kuliah di sebuah universitas swasta di sana. Alhamdulillah, perjalanan lancar sekali, bahkan tak sampai perlu menunggu bus sama sekali karena aku segera mendapatkan bus yang akan berangkat, baik saat berangkat maupun pulangnya.

Aku sudah puluhan kali ke Semarang, tapi kali ini tiba-tiba saja ingin menulis tentang Semarang….. Kisah ringan-ringan saja untuk refreshing dari aktivitas yang terlalu memeras otak..

semarangHm… Semarang bukan kota yang asing untukku, bahkan termasuk kota yang cukup akrab sejak aku kecil, walaupun bukan termasuk jenis kota yang ingin aku tinggali. (Maaf, warga Semarang hehe….. lha, piye jal…. panas, sering banjir, emang enak?..).  Bahkan setengah darahku yang mengalir adalah darah Semarang, karena ayahku (alm) adalah asli dan besar di Semarang. Beliau bertemu ibuku pun di Semarang ketika ibuku yang asli Purwokerto itu bersekolah di sana.

Semarang punya banyak kenangan untukku, sejak kecil hingga dewasa, baik kenangan manis maupun sedih. Aku coba menggali lagi kenangan-kenanganku yang terkait dengan kota Semarang..

 Masa kecil

Sepanjang yang aku bisa ingat, sewaktu kecil aku dan adik-adik kerap diajak ayah-ibu pergi ke Semarang mengunjungi Embah. Kami menyebutnya Mbah Semarang. Beliau adalah orangtua angkat ayah karena ayah sudah yatim piatu sejak kecil. Aku ingat benar, rumahnya di daerah Bulu, di pinggir sungai kecil (selokan). Beliau berjualan es di dekat rumah. AKu senang kalau di sana, karena bisa minum es cincau gratis…. Ketika aku SMP, Embah wafat, dan sejak itu kami agak jarang pergi ke Semarang, kecuali jika  ada  saudara-saudara yang punya hajat. Semua pakdhe-pakdheku dari Ayah tinggal di Semarang.

Di luar urusan keluarga, Semarang juga cukup mengesankanku karena aku pernah menjadi tamu orang nomer satu Jawa Tengah saat itu alias Pak Gubernur ketika aku SD kelas 5. Ceritanya, melalui proses seleksi yang cukup panjang dari tingkat lokal, kecamatan, kabupaten, dan propinsi, aku bersama 2 orang teman lain dari Salatiga dan Boyolali berhasil menjadi Pelajar Teladan SD se-Jawa Tengah, di mana aku menduduki peringkat ke dua. Kemudian kami diundang menghadap Pak Gubernur sebagai salah satu bentuk penghargaannya. Hm… mengesankan sekali.

Lomba lain yang pernah aku ikuti sewaktu SD di Semarang adalah Lomba Baris Berbaris dan Senam Pagi Indonesia (PBB-SPI) bersama teman-teman satu tim SD. Entah kenapa, lomba-lomba semacam itu belakangan tidak pernah ada lagi. Waktu SMP, aku mengikuti seleksi yang sama di Semarang utk Siswa Teladan SMP tingkat propinsi,   demikian juga Lomba Baris Berbaris dan Senam Pagi, tetapi gagal mendapat peringkat.. Yah, tapi nggak papa… bagaimanapun pengalamannya sangat berharga.

Masa Kuliah

            Semasa aku kuliah di Jogja, aku bertautan lagi dengan kota Semarang karena sahabatku satu kamar kost berasal dari Semarang (Halo, Nik…!). Dialah sahabat tempat curhatku selama kuliah…. termasuk urusan asmara hehe….. Beberapa kali aku main ke rumahnya di Semarang. Selain itu, kebetulan Ayah juga pindah dinas ke Semarang, dan adikku pun juga ada yang kuliah di Semarang. Jadilah, Semarang menjadi kota yang akrab dengan kehidupanku. Nah, di Semarang pula sebuah cerita yang pernah menjadi salah satu episode dalam hidupku dimulai….. Semarang pernah menjadi bagian dari cerita tentang “kasih tak sampai” hehe….  Hatiku pernah sempat tertinggal di sana, dan sekaligus patah.. huu…huu. Tak banyak peristiwa sebenarnya di antara kami, karena semua berjalan dalam diam, …..  tapi dulu semuanya terasa istimewa. Yah, … sekarang aku bisa menulis ini dengan tersenyum-senyum geli… tapi dulu saat semua angan tiba-tiba harus terminated,.. waduh… pokoknya sangat pilu membiru….. mentari tak lagi bersinar… my sunshine has gone away…

Yaah….  tapi nampaknya itu memang jalan terbaik yang dipilihkan Allah untukku. Karena beberapa tahun kemudian Allah memberiku cahaya hidup baru dengan gelombang yang frekuensi dan amplitudonya sama, sehingga bisa saling berinterferensi dengan lebih sempurna. Dan kami sekarang sudah punya buntut tiga yang cakep dan cantik… hehe… Alhamdulillah….

Dan sekarang aku masih cukup sering pergi ke Semarang, biasanya untuk memberi kuliah di universitas swasta di sana, atau sebagai pembicara di sebuah acara. Dan bagiku Semarang masih menjadi kota dengan beragam kenangan….

Begitulah ……..





Mengintip dunia kecilku: bikin proposal riset…

24 07 2009

Dear kawan,

Alhamdulillah, aku sudah balik lagi ke Yogya dengan selamat…. (kayak dari mana aja hehe……). Kemarin pagi aku berangkat ke Jakarta, tepatnya ke Puspiptek Serpong untuk mempresentasikan proposal penelitianku tahun kedua yang akan didanai oleh Kementrian Negara Riset dan Teknologi (KNRT), jadi sering disebut penelitian Ristek. Presentasinya sih cuma sekitar 45 menit di hadapan para reviewer, dan alhamdulillah… berjalan lancar-lancar saja. Petangnya dah balik lagi Jogja. Perjalanan pun lancar, tidak ada delay pesawat, jam 19.40an sudah mendarat dengan mulus di Bandara Adisucipto. Cuaca pun cerah. Tinggal tunggu hasil nih…. mudah-mudahan bisa kayak Pak SBY hehe…. : Lanjutkan…. Lanjutkan!

pura-pura penelitian...

pura-pura penelitian...

Omong-omong tentang proposal penelitian, ada kawan yang minta aku menuliskan kiat-kiat membuat proposal penelitian biar bisa joss gitu lho…… Hm, sebenarnya sih aku juga nggak jago-jago amat menyusun proposal penelitian. Mungkin lebih karena faktor “luck” dan suka mencoba  hehe…. jadi lumayanlah….  kalau melihat list of my research activities di blog ini, cukup banyak juga penelitian-penelitian yang sudah aku lakukan. Dan dana-dana riset yang sempat aku peroleh (tidak ditampilkan karena alasan etika hehe…) berada pada rentang yang cukup luas, dari yang “kecil” senilai 30 jutaan, sampai yang ratusan juta-an. Untuk Penelitian Ristek yang lumayan bergengsi ini, aku sempat tembus dua kali, yaitu tahun 2007 dan 2009. Tahun 2007 aku mendapat insentif untuk Riset Terapan selama 2 tahun, dan tahun 2009 ini aku mendapat insentif Riset untuk Katagori Riset Peningkatan Kapasitas IPTEK dan Sistem Produksi. Aku mendapat dana (grant) untuk tahun pertama, dan sedang berjuang untuk mendapatkan dana tahun kedua. Mudah-mudahan nanti juga ada tahun ketiga, karena penelitian ini memang aku rencanakan selama 3 tahun. Pada tahun yang sama ini (2009), proposal penelitianku yang lain juga berhasil didanai oleh UGM untuk jenis Penelitian Kolaborasi Internasional. Untuk ini aku bermitra dengan profesor pembimbingku waktu studi S3 dulu di Jepang. Dan saat ini aku masih berharap-harap cemas untuk sebuah proposal yang aku ajukan ke DIKTI beberapa saat lalu untuk kategori Penelitian Kolaborasi Internasional, tapi untuk topik yang sama sekali berbeda dan dengan mitra luar negeri yang berbeda.  Hehe…. gayanya sok saintis banget ya…….

Bagaimana sih caranya menulis proposal penelitian ?

Hm… penelitian tentu berawal dari sebuah “research question”…. sesuatu yang kita tidak tahu dan ingin mengetahui jawabannya. Untuk itulah kita mengadakan penelitian. Ide penelitian bisa berasal dari mana-mana… Aku biasanya mengandalkan insting saja ditambah baca-baca literatur. Yang jelas harus original, dapat menghasilkan sesuatu yang baru yang belum ada sebelumnya. Sesuatu itu bisa suatu produk, atau suatu pernyataan atau jawaban atas sebuah pertanyaan.

Untuk jadi “proyektor” alias mroyek penelitian, kita tentu perlu menyesuaikan dengan aturan dari penyandang dana, topik-topik apa yang lebih disukai untuk didanai. Dalam panduan penulisan proposal, biasanya disebutkan secara detail apa-apa yang harus ditulis dan topik apa yang menjadi ruang lingkup pendanaan. Kebetulan latar belakang ilmuku adalah farmasi, khususnya farmakologi, maka  topik-topik yang kukembangkan terutama adalah pengembangan obat baru atau uji farmakologi suatu bahan baru (bisa bahan alam atau sintetik) untuk suatu efek tertentu.

Kalau ditanya kiat-nya apa supaya bisa berhasil, aku bingung juga… apa ya? Coba kuurutkan satu-satu bagaimana sistematika proposal penelitian…

1. Latar belakang penelitian atau pendahuluan

Ini bagian yang sangat penting yang menentukan apakah suatu proposal atraktif atau tidak bagi penyandang dana (yang diwakili oleh reviewer). Kita harus bisa secara meyakinkan menulis bahwa penelitian ini memang sangat penting  dan sangat bermanfaat jika penelitian ini bisa terlaksana. Misalnya : bisa meningkatkan daya saing produk berbasis bahan alam pada pelayanan kesehatan formal, mengurangi ketergantungan terhadap produk ekspor, atau apalah….. tergantung topik penelitian. Mungkin perlu dengan kalimat-kalimat yang sedikit bombastis, tapi tetap relevan… hehe….

2. Rancangan dan metode penelitian

Ini juga sangat krusial untuk menunjukkan bahwa penelitian kita akan dapat mencapai tujuan karena didukung dengan metode yang shahih/valid. Walaupun ide penelitian kita bagus dan hasilnya sangat bermanfaat, jika disain penelitiannya tidak sesuai tentu akan diragukan keberhasilannya. Sebuah penelitian untuk mengetahui/mempelajari efek dari suatu “jamu masuk angin” misalnya, atau mau mengembangkan obat baru untuk obat “masuk angin”, memerlukan metode yang valid untuk menentukan parameter efek jamu “masuk angin”. Apakah akan melihat efeknya menghangatkan badan, efeknya terhadap mual atau kembung, atau yang lain. Alat ukur apa yang dipakai juga sangat penting. Istilah masuk angin sendiri tidak dikenal secara medis, tetapi nyatanya di masyarakat sangat familiar dan banyak jamu yang diindikasikan sebagai jamu masuk angin… wesewes-ewes… baablas angine hehe….. ! Dari segi disain penelitian sendiri, maka disain yang paling pas adalah rancangan penelitian eksperimental, yang memerlukan ada kelompok kontrol dan perlakuan. Kelompok kontrol tidak mendapatkan obat, sedangkan kelompok perlakuan mendapatkan obat, lalu diukur parameter2 yang telah ditetapkan tadi. Pelaksanaannya bisa pada hewan uji atau langsung pada manusia. Jika pada hewan, maka parameter dan alat ukurnya harus dipilih yang sesuai, karena hewan tidak bisa ngomong untuk menceritakan apa yang dirasakan. Namun jika ujinya akan dilaksanakan pada manusia, tentu harus memenuhi etika pada manusia. Biasanya proposal harus direview dulu oleh suatu komite etik penelitian pada manusia, jika oke maka akan mendapat “ethical clearance”.

Jika suatu uji akan menggunakan hewan uji, maka harus dipilih hewan uji yang sesuai dengan tujuan penelitian. Efek obat terhadap kontraksi trakea yang diinduksi histamin misalnya, biasanya menggunakan marmut sebagai hewan uji, bukan tikus, karena tikus tidak memiliki reseptor histamin pada trakeanya. Pokoknya antara tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian dengan rancangan dan metode penelitiannya harus match.

Yah… semacam itulah….. kira-kira.

3. Sumberdaya manusia yang tersedia

Dalam sebuah proyek penelitian yang agak besar, tentu tidak mungkin dikerjakan sendiri oleh satu orang. Untuk itu perlu ada anggota, dan anggota peneliti tentu harus yang memiliki kompetensi yang relevan dengan topik penelitian. Hal ini biasanya terlihat dalam biodata peneliti yang harus disertakan dalam proposal.

4. Usulan biaya

The last but not least adalah usulan biaya. Usulan biaya harus cukup masuk akal dan sepadan dengan volume penelitian dan hasil  yang diharapkan. Jika terlihat terlalu mengada-ada malah akan diragukan, dan sangat mungkin biaya yang disetujui jauh lebih kecil dari yang diusulkan. Item-item biaya perlu diuraikan sedikit rinci untuk lebih meyakinkan reviewer bahwa kita paham betul medan kerja yang akan kita kerjakan.

Nah, kawan…

Begitu kira-kira gambaran umumnya. Hehe…. sory, ya, kalau cuma begini saja. Yah, aku nggak bisa nulis terlalu rinci, nanti bisa panjang sekali kalau mau pake contoh-contoh. O,ya…. satu lagi, kadang kita diminta mempresentasikan proposal penelitian kita di hadapan reviewer seperti yang aku lakukan di Serpong kemarin. Yang penting adalah percaya diri saja dan bisa menjelaskan dengan meyakinkan apa yang akan kita kerjakan.

Sekali lagi, proposalku juga tidak selalu berhasil…. tapi jangan pernah lelah mencoba. Proposal yang gagal bisa jadi bahan proposal baru dengan perbaikan di sana-sini.

Begitulah…. sedikit berbagi. Semoga bermanfaat.





I’m still alive….

21 07 2009

Halo kawan,

 I’m still alive!!

Yah, paling tidak begitulah… aku perlu menyapa kawan-kawan pembaca blog-ku, bahwa setidaknya aku masih hidup hehe…. . Apa kabar kawan? Pasti banyak aneka peristiwa telah terjadi pada masa seminggu ke belakang ya…. Termasuk peristiwa bom Jakarta yang benar-benar membuat kita geram dan prihatin. Peristiwa itu menjadi penting karena kebetulan minggu lalu kami sedang memiliki tamu dari Belanda yang menjadi instruktur dalam Workshop on Molecular Toxicology yang diselenggarakan di fakultas. Tadinya aku sengaja tidak menceritakan dulu kabar tersebut (waktu itu beliau sudah memulai lecture-nya), eh… ternyata malah putranya di Belanda menelponnya langsung menanyakan tentang hal tersebut…. Walah….! Tapi untunglah beliau tidak terpengaruh, karena setelah ini beliau memang masih akan lama jalan-jalan di Indonesia.

 Selain itu, sebenarnya telah ada pula beberapa ide tulisan yang ingin kutuangkan… suerr,… tapi seperti biasanya… tanganku hanya dua, dan waktuku hanya 24 jam, itu pun harus kubagi dengan baik-baik. Aku ingin berbagi bagaimana pengalamanku menyusun proposal penelitian sehingga bisa mendapat beberapa grants, bagaimana pengalaman mengembangkan metoda pembelajaran, juga sedikit cuplikan dari hasil workshop.. Aku usahakan, ya,…walau nggak bisa janji cepat-cepat…..

Tapi tahukah kalian, ……. bahwa di balik hingar-bingar kesibukanku yang nampaknya tak pernah henti susul-menyusul, ada kegundahan hati yang sesekali menyusup. Yang hanya bisa diatasi dengan berserah diri dan memohon pada yang Empunya hidup. Beberapa hari lalu aku sempat merasa sedih dan rapuh… aku merasa kehilangan waktuku untuk anak-anak, terutama si bungsu yang masih perlu perhatian banyak. Yah…. beberapa hari yang lalu ada yang sedikit berbeda dari Dhika, anak kami ketiga (3,5 tahun). Mulai hari Rabu sore lalu, kuamati  mood-nya sedang tidak bagus. Entah kenapa, sejak sore kelihatan sedih banget, cuma mau tiduran di tempat tidur sambil sesekali menangis. Padahal biasanya dia ceria, sedang mulai cerewet walaupun kadang kata-katanya belum ada maknanya. Aku coba hibur dengan mainan kesukaannya, atau game di komputer yang dia suka, hanya bertahan sebentar, tersenyum sedikit, lalu lesu lagi. Kelihatan lesu dan kehilangan semangat bermainnya. Aku mencoba introspeksi… mungkinkah ia sedang minta perhatian ibunya? Astaghfirullohal’aziim..

Sekitar tiga harian ia berperilaku tak seperti biasanya. Tidak semangat, tidak berespon. Aku agak kuatir juga, karena Dhika adalah anak istimewa kami. Aku sudah pernah cerita dulu (pernah kutulis di blog ini juga), bahwa Dhika adalah cahaya mata dan cermin hidup kami. Dhika anak kami memang berkembang sedikit beda dengan kakak-kakaknya. Secara fisik ia paling ganteng, putih dan bongsor. Tapi perkembangan wicaranya masih jauh dari teman-teman seusianya. Itulah yang aku sedihkan ketika ia menjadi diam dan lesu, karena ia belum bisa menceritakan perasaannya… belum bisa menyampaikan keinginannya. Kalian bisa rasakan kan perasaanku sebagai ibunya melihat demikian? Antara sedih dan bingung karena tidak tau apa maunya.

Itu yang kadang membersitkan kegundahan di hati kami, walaupun kami menyadari, bahwa semua adalah kehendak Allah, sebagai peringatan bagi kami untuk memperbaiki diri sehingga semakin sujud kepadaNya. Yah, kupikir memang di dunia ini tidak ada yang sempurna. Mungkin memang sebaiknya tidak perlu terlalu sempurna, sehingga orang akan tergerak untuk merunduk padaNya. Dan memang benar, bahwa orang lebih mudah lalai ketika dihadapkan pada semua yang serba baik, menyenangkan, sempurna…  lupa pada Sang Pemberi dan merasa bahwa itu sudah semestinya. Astaghfiruulohal’adziim..

Dhika main di lingkaran

Dhika main di lingkaran

Tapi alhamdulillah,…. sejak hari Minggu kemarin Dhika sudah mulai pulih lagi. Sudah ceria dan mau main-main lagi, tertawa-tawa. Beberapa hari belakangan aku memang benar-benar tak mau kehilangan waktu untuk bermain-main dengannya. Sepulang kantor sore hari, aku berusaha untuk tidak membuka laptop atau apapun yang terkait dengan pekerjaan. Untung pula ada libur sedikit panjang….  walau masih harus menyelesaikan beberapa hal, aku berusaha untuk menemani Dhika sebanyak mungkin. Main kejar-kejaran, panjat-panjat di lingkaran, lempar dan tangkap bola, menemani nonton Dora dan Elmo…

Ah… tidak mudah memang menjadi ibu yang baik, yang selalu ada di saat dibutuhkan. Aku sedang berpikir untuk mengurangi beberapa aktivitasku ke depan… Hm… mudah-mudahan bisa dan dapat dimaklumi.      

Well, selamat datang minggu yang baru…. semoga semua berjalan lancar dan menyenangkan.  Siap presentasi hasil riset utk “research week” UGM hari Rabu besok, siap presentasi hasil riset dan proposal penelitian Ristek di Puspiptek Serpong hari Kamisnya, dan routine work lainnya, termasuk main-main dengan Dhika. Amien….

 Have a nice week!!





Science of Love

9 06 2009

Dear kawan,

falling-loveKemarin aku dapat pertanyaan menarik dari seorang mahasiswa…,” Bu, mengapa sih kalau kita ketemu dengan orang yang kita sukai, rasanya deg-degan. Faktor apa yang menyebabkan?”… Hm,,… boleh juga nih untuk bahan tulisan. Ngomong tentang cinta atau love memang nggak pernah basi. Siapa sih yang belum pernah jatuh cinta? Aku sendiri setidaknya pernah empat kali “jatuh cinta” haha……. First love alias cinta monyet waktu SMP (siapa ya monyetnya?), cinta remaja waktu SMA, cinta  waktu kuliah, dan jatuh cinta dengan yang jadi suamiku sekarang hehe…..  Ternyata masalah cinta bisa asyik juga jika dikupas dari sisi sains…

Mengapa jatuh cinta?

Cinta sendiri sebenarnya adalah suatu cara manusia untuk menjaga keberlangsungan spesiesnya di muka bumi. Dengan jatuh cinta, menikah, punya anak, maka keberlangsungan hidup manusia akan terjaga. Sesederhana itu kah? Hm… tentu tidak. Manusia itu mahluk multi dimensional, jadi cinta bisa menjadi simpel atau rumit tergantung dari mana memandangnya.  Tulisan kali ini mencoba mensimplifikasi cinta dari sisi sains saja….

Ketika seseorang jatuh cinta, ternyata ada beberapa senyawa kimia di otak, yang biasa disebut neurotransmiter, dan hormon, yang turut bermain di dalamnya. Apa yang dilakukan seseorang ketika jatuh cinta? Ternyata orang jatuh cinta tidak selalu mengatakan apa yang dirasakannya. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa 55% orang menyatakan ketertarikannya dengan bahasa tubuh (body language), 38% menunjukkan melalui nada suaranya, dan hanya 7 % yang menunjukkan langsung dengan kata-kata. Hm… bener nggak ya?

Seorang antropolog biologi dari Rutgers University, Helen Fisher, menyatakan bahwa ada 3 tahap dalam cinta, yang disebutnya : lust, attraction, dan attachment, yang masing-masing tahap itu diatur oleh hormon dan atau senyawa kimia yang berbeda.

Tahap 1 : lust (hasrat, keinginan, desire)

Tahap ini diawali dengan ketertarikan atau gairah terhadap lawan jenis, yang dipengaruhi oleh hormon sex yaitu testosteron dan estrogen, pada pria dan wanita. Ini dimulai dari masa pubertas, di mana seseorang mulai tertarik dengan lawan jenisnya.

Tahap 2 : attraction

Tahap ini merupakan tahap yang “amazing” ketika seseorang benar-benar sedang jatuh cinta dan tidak bisa berpikir yang lain. Menurut Fisher, setidaknya ada 3 neurotransmiter yang terlibat dalam proses ini, yaitu adrenalin, serotonin, dan dopamin.

Adrenalin

Tahap awal ketika seorang jatuh cinta akan mengaktifkan semacam “fight or flight response”, yang akan meningkatkan pelepasan adrenalin dari ujung saraf. Adrenalin akan bertemu dengan reseptornya di persarafan simpatik, dan menghasilkan berbagai efek seperti percepatan denyut jantung (takikardi), aktivasi kelenjar keringat, menghambat salivasi, dll. Ini yang menyebabkan ketika seseorang secara tidak sengaja bertemu dengan seorang yang ditaksirnya, ia akan berdebar-debar, berkeringat, dan mulut jadi terasa kering/kelu. Iya, nggak?

Dopamin

Helen Fisher meneliti pada pasangan yang baru saja “jadian” mengenai level neurotransmiter di otaknya dengan suatu alat pencitraan, dan menemukan tingginya kadar dopamin pada otak mereka. Dopamin adalah suatu senyawa di otak yang berperan dalam sistem “keinginan dan kesenangan” sehingga meningkatkan rasa senang. Dan efeknya hampir serupa dengan seorang yang menggunakan kokain! Kadar dopamin yang tinggi di otak diduga yang menyebabkan energi yang meluap-luap, berkurangnya kebutuhan tidur atau makan, dan perhatian yang terfokus serta perasaan senang yang indah (exquisite delight) terhadap berbagai hal kecil pada hubungan cinta mereka…. Dopamin juga merupakan neurotransmiter yang menyebabkan adiksi… termasuk adiksi dalam cinta. Seperti  orang yang mengalami addiksi cocain atau ecstassy (obat yang menyebabkan penghambatan re-uptake dopamin)…… Secara neurobiologi keadaannya sama… yaitu level dopamin yang tinggi di otak…..

Tentang hal ini menurutku keadaannya mirip seperti seorang penderita bipolar yang mengalami state “hipomania” hehe…… perasaan yang elevated, energi yang meluap-luap, kreativitas yang meningkat, dll.  Aku berani jamin, orang yang lagi jatuh cinta itu pasti tidak akan merasa lelah kalaupun harus berjalan berkilo-kilometer kalau itu dijalani bersama yang lagi dicintai !! Jadi pintar bikin puisi, jadi semringah… Ya kan ? …. hehe

Serotonin

Yang terakhir adalah serotonin. Ketika jatuh cinta, kadar serotonin otak menurun. Serotonin merupakan neurotransmiter yang terlibat dalam obsesi. Turunnya level serotonin inilah yang menyebabkan mengapa ketika kita jatuh cinta, wajah si dia selalu terbayang-bayang terus di kepala…. menjadi terobsesi terhadap si dia. Dan keadaan kimia otak terkait dengan kadar serotonin pada orang yang sedang “falling in love” itu mirip dengan keadaan orang dengan gangguan Obsessive Compulsive Disorder!!  Ada obsesi atau keinginan terhadap sesuatu dan ada dorongan (kompulsi)  untuk berulang-ulang melakukan sesuatu  untuk mencapai keinginan (obsesi)-nya. Misalnya terobsesi untuk mendengar suara si dia, maka akan ada dorongan untuk menelponnya berulang-ulang, hehe…… bener kan?

Walah..walah….  dalam sudut pandang sains kesehatan…. “patofisiologi” cinta itu memang mirip patofisiologi penyakit….. Dan nyatanya memang tidak sedikit orang yang sakit fisik dan jiwa karena cinta …. hmmm….! Selain itu,  perasaan jatuh cinta itu bisa sangat mempengaruhi mood seseorang….. Kalau perasaan sedang sehati dengan dia, hidup terasa indah berbunga-bunga… Dan kalau sedang bertepuk sebelah tangan, hidup bagai kehilangan warna… Aiih!!  Dan cinta tidak memandang pangkat, jabatan, tingkat intelektual,…. karena itu fitrah manusia…

NGF (nerve growth factor)

Seorang peneliti lain, Enzo Emanuele dari University of Pavia di Italy, menemukan adanya senyawa lain yang terlibat dalam peristiwa jatuh cinta, yaitu NGF (nerve growth factor). Penemuannya itu merupakan penemuan yang pertama yang menyatakan bahwa NGF mungkin berperan penting dalam proses kimia pada orang jatuh cinta. Ia membandingkan 58 orang pria dan wanita, usia 18-31 tahun, yang baru saja jatuh cinta, dengan kelompok orang-orang yang sudah cukup lama memiliki hubungan cinta dan dengan kelompok lajang. Ia menjumpai bahwa pada kelompok orang yang sedang “falling in love” dijumpai kadar NGF dalam darah yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang sudah membina cinta lebih lama atau yang lajang, dengan perbandingan 227 unit berbanding 123 unit. Menariknya, ketika ia mengecek lagi pada orang yang sama dan masih dengan pasangan yang sama setahun kemudian, kadar NGF-nya turun mencapai kadar yang sama dengan kelompok yang sudah mantap hubungannya atau dengan yang lajang.

Tahap 3 : Attachment

Tahap ini adalah tahap ikatan yang membuat suatu pasangan bertahan untuk jangka waktu yang lama, dan bahkan untuk menikah dan punya anak. Para ilmuwan menduga bahwa ada 2 hormon utama yang lain yang terlibat dalam perasaan saling mengikat ini, yaitu oksitosin dan vasopresin.

Oxytocin – The cuddle hormone (hormon untuk menyayangi)

Oksitosin adalah salah satu hormone yang dilepaskan oleh pria maupun wanita ketika mereka berhubungan seksual, yang membuat mereka menjadi lebih dekat satu sama lain. Oksitosin juga merupakan hormone yang dilepaskan oleh sang ibu ketika proses melahirkan dan merupakan hormon pengikat kasih sayang ibu dengan anaknya.

Vasopressin

Sedangkan vasopressin adalah hormone penting lainnya yang menjaga komitmen hubungan suatu pasangan. Hormon ini juga dilepaskan setelah hubungan seksual…

Hm, menarik juga ya membicarakan cinta dari pandangan sains. Jadi ingat deh saat-saat jatuh cinta hehe….. it was amazing feeling !! Jadi pingin jatuh cinta lagi haha………

Duhai separuh jiwaku,

Memandangmu, adrenalinku terpacu

Mengaktivasi saraf-saraf simpatisku..

Takikardi, salivasi terhenti…

Dopamin pun mengiringi

membuatku addiksi

tak ingin kau pergi..

Serotonin berkurang

wajahmu tak mau hilang…

(Hehe…… ora romantis blas puisine…. )

NB: buat yang lagi kujatuhi cinta …





Mengenang Ayah

3 06 2009

Dear kawan,

photo papi 1Aku sudah pernah menulis tentang ibuku dan kekuatan doa ibuku yang menjadi salah satu sumber “kekuatanku”. Waktu itu mendekati hari Ibu. Sayangnya tidak ada hari Ayah, sehingga aku belum sempat menulis tentang ayahku, padahal ayah adalah sumber kekuatan hidupku juga. Dalam beberapa hal, peran ayah bahkan lebih daripada ibu, terutama dalam hal menopang semua kebutuhan kami sekeluarga. Dua hari yang lalu adalah peringatan seribu hari wafatnya ayah (aku baru sempat menulis sekarang). Mengenang ayah selalu membuat mataku jadi basah………

Bulan September 2006. Aku sedang dalam kesibukan dengan intensitas tinggi. Fakultas Farmasi sedang punya 3 gawe besar dalam waktu berdekatan, di mana aku terlibat secara intens di dalamnya. Yaitu Lustrum Fakultas, International Symposium on Recent Progress of Curcumin Research, dan menyambut visitasi Program Hibah Kompetisi (PHK) B. Yang terakhir itu adalah bentuk skema pendanaan dari DIKTI untuk pengembangan institusi yang harus diperebutkan secara kompetitif. Kebetulan saat itu aku menjadi Ketua Task Force dalam penyusunan proposal PHK-B.

Aku ingat benar, siang itu aku sedang rapat persiapan visitasi PHK-B, bahkan sedang bicara di forum tersebut, ketika telepon selulerku berbunyi. Hm… dari nomer telepon ibu di rumah. Aku angkat. Terdengar suara ibu terbata-bata di sana….,”..Lies,…. Papi wis ora nana…” kata itu dalam bahasa Jawa memberitakan bahwa Ayah sudah berpulang. Innalillahi wa inna ilaihi rooji’uun. Aku langsung lemas. Aku sampaikan pada pertemuan itu bahwa ayahku berpulang dan aku minta ujin keluar dari forum rapat karena akan mengabari adik-adik dan suamiku. Akupun menyetir pulang dengan hati sedih dan mata berkaca. Dan sorenya kami sekeluarga segera berangkat ke Purwokerto.

Tentang Ayah

Ayah adalah sumber semangatku untuk meraih pencapaian terbaik. Aku selalu senang dengan senyum lebar ayah ketika kusampaikan hasil-hasil belajarku yang memuaskannya. Paling tidak  kerja keras ayah untuk membiayai sekolah kami sedikit “terbayar”, walau Ayah tentu tak pernah meminta balasan, dan aku pun tak kan sanggup membayar semua kasih sayang dan kerja keras Ayah untuk kami semua. Makanya aku paling gemes dan prihatin jika melihat generasi muda yang menyia-nyiakan hidupnya dengan tindakan-tindakan bodoh yang mencelakakan dirinya. Tidakkah mereka mengingat betapa orang tua membanting tulang untuk menopang hidupnya?

Ayah sangat sayang kepada kami semua anak-anaknya, bahkan kadang terkesan berlebih. Hal ini karena ayah memiliki kehidupan yang keras sejak kecil, ia yatim piatu pada usia sangat muda, dan dirawat kakak sulungnya. Beliau tak ingin anak-anaknya mengalami penderitaan dan kekurangan seperti yang dialaminya dulu.

Ayah seorang pekerja keras, pandai berpidato (beliau dulu aktivis suatu partai politik masa orde baru yang harus sering berkampanye), humoris, tapi di sisi lain beliau agak tertutup/pendiam, tak pernah mau menyusahkan keluarga. Ayahku juga pandai menyanyi lho… dan ayah juga pandai, kreatif dan inovatif. Beliau pernah mendapat penghargaan Satya Lencana Pembangunan dari Presiden (Soeharto waktu itu) atas prestasinya dalam bekerja (waktu itu menjadi Camat di sebuah kecamatan di Kabupaten Banyumas). Ada beberapa sifat ayah yang nampaknya kuwarisi…… antara lain suka menyanyi…

Ada yang unik tentang interaksiku dengan ayah (dan ibu) dalam hal bahasa. Kami (aku dan adik-adik) berbahasa Indonesia dengan ayah, bahkan memanggilnya Papi. Sedangkan dengan ibu, aku dan adik-adik berbahasa Jawa (bahkan bukan bhs Jawa yang halus), dan memanggilnya Ibu. Itu ada ceritanya. Waktu kecil aku tinggal di sebuah kecamatan kecil tempat ayah menjadi camat. Aku tidak bisa dan tidak biasa berbahasa Indonesia. Waktu aku masuk TK di kota (kalian tahu, kawan….. ayah selalu mencarikan pendidikan terbaik untuk anak-anaknya, walau jauh di kota ditempuh juga), aku tidak bisa berbahasa Indonesia dengan baik di sekolah. Karena itu bu guru minta agar aku dilatih berbahasa Indonesia di rumah. Jadilah di rumah aku dibiasakan berbahasa Indonesia dengan ayah, bahkan memanggil beliau Papi (kalau yang ini sih karena ketularan temanku yang putranya kenalan ayah juga yang memanggil ayahnya Papi). Dan malah keterusan sampai kami dewasa….. hehe…

Kawan,

Meskipun sedih, kami mengikhlaskan kepergian ayah. (Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa-dosanya, menerima semua amal baiknya semasa hidup, ayah diberi kenikmatan di alam barzah, dan Insya Allah dijauhkan dari api neraka. Amien). Ayah berpulang setelah serangan stroke-nya yang ke-empat, yang telah membuat beliau banyak kehilangan daya hidupnya. Tidak kuasa berjalan lagi, bahkan tidak bisa bicara, sangat tergantung pada orang lain, tentu rasanya berat dan sedih. Ayah sering terlihat diam saja dan melamun. Kami agak serba salah, jika hendak “menasihati” ayah untuk bersabar dan istighfar…  Betapa tidak, beliau-lah yang selama ini selalu menasihati kami… Kalau sudah begitu, kami mencoba menghibur saja dengan cerita-cerita yang menyenangkan tentang cucu-cucu, atau apalah. Kalau ayah bisa tersenyum atau tertawa, rasanya senang sekali…

Serangan stroke

Aku ingat, ayah mendapat serangan stroke-nya yang pertama pada tahun 1992. Waktu itu aku masih kuliah tingkat akhir, dan ayah masih harus wira-wiri Purwokerto – Semarang, karena beliau bertugas di Semarang, sementara keluarga masih di Purwokerto. Beliau sempat dirawat di RS selama dua mingguan. Sejak itu cukup lama terkontrol. Aku tidak ingat persis kapan serangan kedua dan ketiganya, tapi nampaknya relatif masih ringan. Ayah masih rajin jalan kaki setiap pagi. Sampai kemudian terjadi serangan terakhirnya, yang cukup berat dan  membawa beliau berpulang setelah beberapa bulan tidak berdaya.

Stroke bisa berulang

Stroke adalah gangguan pada pembuluh darah di otak yang menyebabkan sel-sel saraf kekurangan oksigen dan nutrisi dan akhirnya mati. Gangguan itu bisa penyumbatan pembuluh darah (disebut stroke iskemi) atau karena pecahnya pembuluh darah (stroke hemoragi). Sudah pernah kutulis some where in my blog sedikit tentang stroke ini. Stroke yang dialami ayah adalah jenis stroke iskemi. Terjadi penyumbatan pada pembuluh darah otak sebelah kanan, sehingga menyebabkan kematian sel-sel syaraf tertentu, yang menyebabkan gangguan fungsi tubuh sebelah kiri. Manifestasi stroke bisa bervariasi satu orang dengan yang lain, tergantung saraf mana yang mengalami gangguan atau kematian.

Sekali seorang terkena stroke, ada risiko untuk terkena serangan berikutnya jika tidak dijaga dengan baik. Apalagi jika ada penyakit penyerta lain yang bisa berkontribusi meningkatkan faktor risiko, seperti hipertensi atau diabetes, seperti yang diderita ayah. Tiga penyakit ini kompak benar… sering berada bersama-sama….

Bagaimana mencegah berulangnya stroke?

Pasca pengatasan dari serangan stroke, seorang pasien umumnya perlu menjalani pengobatan seumur hidup dengan terapi yang diistilahkan sebagai terapi pemeliharaan. Selain dengan pengaturan makanan yang baik, olahraga, dan perbaikan pola hidup lain (berhenti merokok, alkohol, stress, dll), maka ada obat-obat yang harus diminum secara teratur. Obat itu biasanya ditujukan untuk menjaga darah agar tetap “encer”, dengan obat-obat pengencer darah seperti aspirin, dipiridamol, tiklopidin, atau klopidogrel. Obat ini harus digunakan secara teratur, walaupun tidak ada serangan atau tidak terasa ada keluhan apa-apa. Seringkali orang kehilangan kepatuhan minum obat ketika badan merasa enak.., padahal kelalaian minum obat itu justru berisiko menimbulkan kekambuhan.

Selain obat-obat pengencer darah, semua kondisi yang meningkatkan risiko kekambuhan juga harus dijaga, terutama tekanan darah. Umumnya pasien juga harus mengkonsumi obat-obat anti hipertensi dalam waktu lama. Jika ia terkena Diabetes juga, seperti ayah, tentu juga harus dikontrol dengan obat-obat diabetes. Kadar gula yang tinggi dalam darah dapat menyebabkan darah menjadi lebih kental. Ini berisiko untuk menyebabkan sumbatan pembuluh darah, apalagi jika faktor-faktor lain tidak terjaga.

Memang tidak mudah, terutama menjaga faktor makanan, seperti ayah. Ayah suka makan enak. Aku ingat dulu waktu aku masih SD dan SMP, aku senang sekali jika dijemput ayah, karena sepulang sekolah selalu diajak makan di restoran di depan alun-alun . Sekedar minum es kopyor atau es durian kesukaanku, dan mie bakso. Jadi walaupun ayah rajin minum obat, rajin kontrol ke dokter, tapi kadang ibu kewalahan juga jika ayah ingin makan sesuatu yang mestinya dipantangkan. Kadang ayah patuh, tapi kadang juga ingin makan makanan yang enak. Bayangkan, apa enaknya makan yang tanpa gula, tanpa garam ?…. hm….

Begitulah, kawan..

Walaupun semuanya tentu sudah digariskan Allah, tentu ada yang bisa kita ambil pelajarannya. Terutama bagi kami anak-anaknya yang “mewarisi” gen untuk penyakit hipertensi dan diabetes, perlu lebih hati-hati menjaga kesehatan. Dan selain secara fisik dengan menjaga pola makan, olahraga, dll, menjaga kesehatan itu bisa dengan menjaga perilaku keseharian, berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya, mengurangi dosa sebanyak-banyaknya, sehingga Allah berkenan menumpahkan rahmatNya sebanyak-banyaknya pula dan menghindarkan kita dari aneka penyakit. Dan semoga kami anak-anaknya bisa menjadi tabungan pahala untuk Ayah. Insya Allah. Amien.

Demikian tulisan in memoriam ku untuk ayah…

“Papi, saya sayang papi…… Semoga Papi berbahagia di alam barzah, dan Insya Allah kita dapat bertemu di Firdaus kelak. Amien….”





Story behind the scene : meraih momentum…

9 03 2009

Dear kawan,

Ijinkanlah aku menulis sebuah “story behind the scene” dalam satu episode hidupku, untuk melepaskan beban hati, dan untuk dipahami bahwa pada dalam setiap diri manusia ada sisik meliknya… yang seringkali tidak tampak seperti kelihatannya.

Beberapa minggu telah berlalu sejak aku menerima SK sebagai guru besar. Ucapan selamat berdatangan disertai ungkapan yang membesarkan hati… Kelihatan begitu hebat, excellent….. Terimakasih atas atensi teman-teman. Tapi dalam lubuk hatiku terdalam… ada perasaan gundah dan tak percaya… “ Is it true that I am now a professor ?…. Pantaskah ? Benarkah kau sudah siap membebani dirimu dengan gelar seberat itu sekarang?”

Kalau dibilang menyesal, tentu orang akan bilang aku belagu amat.. atau tidak bersyukur. Tapi sungguh ada perasaan miris…. mampukah? Kemaren aku mendapat SMS dari pegawai di Majelis Guru Besar (MGB) UGM. Katanya,” Selamat siang, Prof. SK Guru Besar panjenengan sudah turun dan tanggal 20 Maret akan diperkenalkan di pleno MGB…dst.” Duh….. hatiku jadi ciut. Aku yakin pak pegawai yang meng-SMS aku tadi tidak pernah membayangkan “profesor”-nya seperti apa. Aku membayangkan orang akan bilang,”.. Iki profesore kok ora meyakinkan….” atau…”Profesor kok kayak gini…. kok kayak gitu.”

Aku mencoba mengingat-ingat lagi pertimbanganku ketika aku akan mengajukan kenaikan pangkat untuk guru besar. Sungguh, sebelumnya aku tidak kepikiran untuk segera menjadi profesor. Tapi seorang seniorku waktu itu, mungkin basa-basi saja, sempat bertanya ringan,”… Kapan nih ngajuin guru besarnya?” Aku waktu itu hanya senyum-senyum saja, dan menjawab,” Ah… masih jauh, Pak…. nunggu sampai golongan IV/b dulu” (waktu itu aku masih golongan III/d).

Tapi pertanyaan itu tadi jadi menggelitikku,… kok Bapak tadi menanyakan gitu ya… memangnya aku sudah wangun jadi profesor. Coba ah, aku hitung-hitung lagi kum (kredit poin)-ku, untuk kegiatan pendidikan, penelitian, pengabdian masyarakat, dan penunjang. Wah…. kok ya ternyata cukup.

Tapi aku masih ragu-ragu. Akupun minta pertimbangan sekaligus ijin pada suami. ” Mas, kalau aku mau ngajuin guru besar duluan gimana ya?” Kata suamiku sih nggak papa. “Ya, nggak papa. Memangnya kalau jadi profesor nanti Adik jadi berubah? Enggak kan?”….. Iya juga sih, naik pangkat itu kan hal biasa dalam pekerjaan. Malah wajib, kata seorang sesepuh senior di Fakultas, sebagai pertanggung-jawaban terhadap pekerjaan kita. Oke, restu suami sudah diperoleh. Kum sudah cukup. Tinggal keputusanku sendiri kapan akan mengajukan kenaikan pangkat menjadi guru besar.

O,ya… proses pengajuan kenaikan pangkat sendiri butuh waktu, bisa berbulan-bulan. Just for your info, … pertama setelah menyusun kum dalam form yang sudah ditentukan (aku waktu itu menyusun sendiri dibantu “sekretaris pribadi”ku hehe…), pengusulan diajukan ke Bagian dan akan dievaluasi oleh para senior di Bagian. Jika oke, diajukan ke Senat Fakultas. Di sini yang paling berat, karena akan dinilai oleh Komisi II Senat yang memang bertugas dalam penilaian angka kredit dalam pengajuan kenaikan pangkat. Bisa jadi terjadi pengurangan nilai kum dari yang diusulkan jika memang dianggap kurang layak. Karena anggota Komisi II ini adalah beliau-beliau yang ahli dalam bidangnya, maka beliau-beliau ini akan mudah melihat kekurangan-kekurangan substantif dari usulan yang diajukan. Jika lolos, maka akan diajukan ke Majelis Guru Besar UGM untuk dievaluasi lagi. Katanya sih tahap ini relatif lebih ringan, karena secara substansi sudah diACC di fakultas. Setelah lolos lagi dari MGB, maka akan dikirim ke Jakarta, untuk dievaluasi akhir. Dan jika OK, maka SK akan segera ditanda-tangani. Pengalamanku sendiri, butuh waktu satu tahunan, mulai dari awal proses pengajuan di Bagian sampai SK turun.

Waktu itu awal tahun 2008……  Aku belum lama menggenapi usiaku jadi 39 tahun. Aku masih menimbang-nimbang kapan aku akan mengajukan kenaikan pangkat. Terus terang, aku masih merasa belum matang benar dan belum pantas mendapat gelar jabatan akademik tertinggi itu. Tunggulah 3-4 tahun lagi…. tambahlah lagi beberapa paper, kalau bisa di jurnal internasional. Begitu saran sebagian hatiku. Tapi kata sisi hatiku yang lain berbeda. “Jeng, …. ini momentum yang bagus. Kamu ingin sedikit istimewa… atau biasa-biasa saja? Kalau nunggu 3-4 tahun atau 5-6 tahun lagi….. nilainya mungkin akan sama saja jika kamu mengajukan 9-10 tahun lagi. Usia 40 tahun itu monumental lho…… kata orang – Live begins at forthy..— Kalau kamu bisa meraih gelar itu pada usia 40 tahun, kamu pasti akan punya monumen yang akan kamu kenang seumur hidup, dan bisa kau ceritakan pada anak cucu….. jadi ajukanlah sekarang juga. Prosesnya lama. Mudah-mudahan Desember nanti sudah kelar, sehingga pada ulangtahunmu ke 40 nanti, kamu bisa menghadiahi dirimu sendiri dengan gelar baru. Dan mudah-mudahan ini bisa menjadi spirit dan inspirasi buat teman-teman muda yang lain”.   Begitulah….. suatu pertimbangan sentimentil dari sisi hatiku yang sentimentil….

Akhirnya, dengan pertimbangan sentimentil itu aku beranikan diri mengajukan kenaikan pangkat menjadi guru besar. Kukatakan pertimbangan sentimentil, karena memang pertimbangannya kurang menggunakan logika. Belum dipikir nanti bebannya seperti apa dengan gelar seberat itu, yang baru terasakan sekarang….(uff..!). Walaupun akhirnya pada ulangtahunku di bulan Desember aku belum bisa menghadiahi diriku dengan SK itu, SK yang kuterima bulan Pebruari ini mulai berlaku sejak 1 Oktober 2008. Jadi memang kucapai juga satu momentum hidupku, menjadi profesor sebelum 40 tahun (kurang sedikit). Sungguh sentimentil bukan ?

 Jadi kawan, ……

Ketika aku mengajukan kenaikan pangkat menjadi guru besar itu, bukanlah berarti aku merasa sudah pantas. Tapi lebih untuk meraih suatu momentum berharga dalam kehidupanku. Seperti bayi yang lahir prematur, perlu dimasukkan inkubator,… begitulah rasanya keprofesoranku. Jadi aku masih harus menginkubasi diriku sampai menjadi cukup mature. Mudah-mudahan tidak mengurangi kewibawaan “korps” guru besar yang identik dengan kepakaran, wisdom, kematangan….. Jadi maafkan kalo aku masih suka “pecicilan”…atau terlalu ‘gaul”..

Tau tidak pertanyaan polos anakku ketika aku ceritakan bahwa ibu sekarang jadi profesor ? Dia tanya, “ Memangnya ibu menemukan apa kok bisa jadi profesor? “ Aku jadi sedikit tercekat. Aku tertawa saja, tapi juga jadi mikir. Iya juga, ya….. pada pemahaman orang awam termasuk anak kecil, profesor itu orang hebat, punya penemuan sesuatu yang hebat… dst. Ah….. ! Cukup berat beban harapan di hadapan…… Tapi sudahlah, enjoy saja….. wong sudah terjadi. Biarkan mengalir saja…

Akhirnya aku hanya bisa memohon kekuatan pada Allah semoga bisa menjalankan amanah ini dengan baik dan menjadi barokah. Dijauhkan dari kesombongan dan takabur. Mohon doa restunya saja dari teman-teman. Don’t expect too much, ya….

Jadi kawan,

Kalian pun bisa meraih momentum apapun dalam hidupmu, yang akan membuat hidupmu terasa lebih berharga…. Jangan lewatkan kesempatan, karena ia kerapkali tak datang dua kali….

Begitulah…….





Selembar kertas sakti….

24 02 2009

Akhirnya selembar kertas sakti itu datang juga. Kawanku si Along pernah bercanda menyampaikan, “Nanti kau tulis di blog-mu yah….. !”.

Hmm, ….. ingatanku melayang pada saat 16-17-an tahun yang lalu. Saat aku masih mahasiswa farmasi tingkat akhir. Hampir lulus S-1. Dekan saat itu melalui Kepala Bagian, menawariku posisi untuk menjadi dosen. Dari hasil konsultasi dengan ayah (alm) dan ibu, akhirnya aku menerima tawaran beliau. Menurut ayah, pekerjaan dosen itu cocok untuk seorang wanita, karena lebih fleksibel mengatur waktunya. Bagaimanapun, wanita yang kelak berumah-tangga, tentu ada lebih banyak tuntutan untuk mengurus rumah tangganya, ketimbang pria yang memang lebih dituntut untuk bekerja mencari nafkah. Bandingkan jika harus bekerja di Industri farmasi misalnya, yang mungkin memiliki jadwal kerja yang lebih ketat, dan pada umumnya berlokasi di Jakarta, mungkin waktu untuk mengurus rumah lebih sedikit. Kalaupun bisa, harus berjumpalitan lebih keras. Appreciate buat teman-teman putri yang bisa mengatur waktu antara kerja dan rumahtangga, di sela-sela jadwal yang ketat !

Alhamdulillah, pilihanku tidak salah. Aku menikmati pekerjaan ini. Dengan bantuan dan dorongan senior-senior di fakultas, aku pun mengalir bagai air. Bak sungai, banyak kelokan-kelokan, yang memperkaya aliran airku. Pengalaman yang dipetik dari senior-senior, dorongan dan ‘encouragement’-nya, serta pengalaman-pengalaman yang kualami sendiri, akhirnya membuat sungaiku makin lebar ketika mendekati muaranya. (Terimakasih, Bapak-ibu).

Hari ini, aku menerima berita dari bagian kepegawaian fakultas, katanya….. SK-ku sebagai Guru Besar sudah turun. O,o….. jadi kertas sakti itu datang juga akhirnya. Sebelumnya seorang seniorku sempat mencandai… katanya sebenarnya SK itu sudah sampai di UGM, tapi dibalikin lagi oleh Rektor ke Mendiknas, karena SK-nya salah…. yang tertulis “Guru Besar”…. padahal aku kan kecil, dan masih “kecil”…., jadi mestinya “Guru Kecil”….. haha……

Sungaiku mencapai muaranya. Tapi muara ini bukanlah akhir perjalanan, karena airku akan masuk ke dalam lautan ilmu yang maha luas, yang justru membuatku merasa semakin kecil. Inilah tahap baru dari penyelaman di dunia ilmu tak terbatas. Mestinya mendekati muara, sungai makin lurus dan tenang (demikian kata seorang seniorku), sebagaimana seseorang semakin matang dan bijak dengan bertambahnya usia dan kekayaan pengalamannya. Namun, rentang waktu 16-17an tahun mungkin belumlah waktu yang cukup lama untuk mencapai kematangan pribadi seseorang, setidaknya demikianlah yang terjadi padaku. Apalagi dengan gelar yang cukup berat pertanggung-jawabannya. Karenanya,  jangan berharap terlalu banyak dulu, aku pun belum tahu apa yang bakal terjadi kemudian. Terus terang, sebenarnya aku belum pe-de dengan pencapaian ini. Belum mature benar. Tapi di sisi lain ada semacam “tantangan”…. “Kamu bisa!”. Syukur-syukur bisa menginspirasi teman-teman muda yang lain……

Tentu aku bersyukur kepada Allah, telah memberikan kesempatan ini. Terimakasih, ya Allah. Sungguh anugerahMu yang besar. Sayang ayah (alm) tak sempat menyaksikan, beliau tentu bahagia medengarnya. Terimakasih, Ayah-ibu, yang selalu tulus mendukung dan mendoakan. Terimakasih, suamiku tersayang dan anak-anak tercinta, atas pengertian dan dorongannya. Terimakasih Bapak ibu seniorku di fakultas, yang telah melapangkan jalan. Terimakasih semuanya yang telah membantu. (wah,… ini mestinya kusampaikan di pidato pengukuhan nih hehe…… tapi rasanya aku tidak sabar mengucapkan terimakasih ini, karena aku sungguh berhutang budi kepada semua yang telah mendorong dan membantuku selama ini. Tulisan ini adalah ungkapan penghargaan yang tinggi dan ucapan terimakasihku kepada semua yang telah membantu).

Kata suamiku, pencapaianku untuk kum (credit point) di dunia untuk urusan pekerjaan sudah pol, aku bahkan bisa melenggang tanpa kum sampai golongan IV/e nantinya. Maka sekarang, waktunya untuk tidak lupakan kejar kum untuk urusan akhirat. Mohon doa restunya dari kawan-kawan, semoga gelar ini bisa memberi manfaat bagi lebih banyak orang. Amien.





Dibagikan, malah bertambah…

15 02 2009

Judul posting ini agak aneh, bukan…..? Posting ini kutulis jam 01.32 dini hari, setelah menyelesaikan tulisan tentang bahaya alkohol yang sedianya akan diterbitkan bersama Bu Hartati. Kenapa sih aku kayaknya semangat amat menulis? Yah…. mungkin jawabannya ada pada teka-teki yang akan kulontarkan ini….

Coba, apa jawabnya : Sesuatu apakah, yang jika dibagikan malah bertambah ? Apa hayooo ?!

Ya…betul,  jawabannya adalah ilmu. Ketika kita akan membagi ilmu, ternyata ilmu kita itu tidak akan berkurang, malah bertambah. Ketika aku akan menulis bahaya alkohol, atau menulis tentang keloid seperti posting sebelumnya, atau apalah, …… aku mesti searching dulu berbagai informasi. Dan ini akan menambah ilmu kita, kadang kita menemukan informasi baru, yang malah kita sendiri baru tahu bahwa “Oh…. ternyata begini to, … ternyata begitu to”. Dan aku sangat enjoy melakukan ini. Rasanya asyik sekali ketika kita kemudian menemukan sesuatu yang baru kita tahu. Dan ketika kita bisa membagikannya, apalagi pada yang membutuhkan, maka kita dapat bonus juga…. yaitu kepuasan batin… karena telah melakukan yang menurut kita adalah kebaikan. Syukur bisa dicatat sebagai amal baik yang berpahala. Amien.

Begitulah….

dan sekarang aku mau bobo dulu yah……