Bahayanya obat herbal yang dicampur BKO, 51 produk ditarik oleh BPOM

30 11 2014

Dear kawan,

jamu-bpom-dlmTulisan ini adalah reposting tulisanku di harian Tribun Yogya hari ini. Sayangnya yang di koran tidak menampilkan daftar tabel 51 obat yang diumumkan oleh BPOM mengandung BKO karena keterbatasan space. Karena itu aku repost di sini disertai link yang bisa dibuka mengenai daftar obat herbal tersebut..

Belakangan ini jamu atau obat herbal menjadi primadona dan pilihan masyarakat sebagai alternatif pengobatan, karena dipandang aman dan harganya lebih murah. Hal ini membuat maraknya pertumbuhan industri obat tradisional dengan aneka produknya. Sayangnya, alih-alih memproduksi obat herbal yang manjur dan aman, beberapa di antara mereka berbuat curang dengan mencampurkan komponen obat herbalnya dengan obat-obat kimia, dengan tujuan agar efeknya lebih ces-pleng. Hal ini tidak dibenarkan dalam peraturan pendaftaran dan produksi obat tradisional di Indonesia. Setelah melakukan pengawasan sejak bulan November 2013 sampai Agustus 2014, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (Badan POM) menemukan sebanyak 51 produk Obat tradisional yang mengandung bahan kimia obat (OT-BKO), dimana 42 diantaranya merupakan produk OT tidak terdaftar (ilegal). Karena itu, pada tanggal 26 November 2014 yang baru lalu, BPOM menyampaikan siaran pers mengenai beberapa produk jamu yang masuk dalam kategori tersebut dan membatalkan nomor ijin produk-produknya.  Daftar produk yang masuk kategori tersebut dapat dilihat pada tautan ini..
Berdasarkan siaran pers tersebut, diketahui bahwa obat tradisional yang dicampur dengan bahan kimia obat didominasi oleh jamu penghilang rasa sakit (pegel linu, rematik) dan herbal penambah stamina (obat kuat). Obat kimia yang paling sering dicampurkan adalah parasetamol, fenilbutason, deksametason, antalgin, sildenafil dan tadalafil sitrat. Artikel ini akan membahas bahayanya jika obat-obat kimia tersebut dicampur dalam sediaan jamu/herbal dan digunakan secara jangka panjang.
Parasetamol atau asetaminofen

metabolisme parasetamol/asetaminofen membentuk NAPQI

metabolisme parasetamol/asetaminofen membentuk NAPQI

Parasetamol adalah obat penghilang sakit (analgesik) yang sebenarnya aman jika digunakan sesuai aturannya. Obat ini banyak dijumpai pada komponen obat flu maupun sakit kepala. Jika dicampurkan ke dalam jamu, misalnya jamu pegel linu atau jamu rematik, tentu akan meningkatkan kemanjuran jamu tersebut. Jika hanya dipakai sekali dua kali memang tidak berbahaya bagi kesehatan. Tetapi masalahnya, masyarakat pada umumnya menganggap jamu itu aman dan mereka cenderung mengkonsumsi setiap hari. Jika dipakai setiap hari, maka parasetamol akan terakumulasi dalam tubuh. Pada dosis besar, parasetamol dapat merusak hati/liver menyebabkan gangguan liver. Di dalam tubuh, parasetamol akan dimetabolisir menghasilkan zat radikal bebas yang bernama N-acetyl-p-benzoquinoneimine (NAPQI). Dalam keadaan normal, NAPQI akan didetoksikasi secara cepat oleh enzim glutation dari hati. Pada dosis berlebih, hati tidak mampu lagi mendetoksikasinya, dan zat radikal bebas tersebut justru dapat merusak hati.

Pet Health Care Phenylbutazone Bute Banned

Peringatan pelarangan penggunaan fenilbutazon untuk manusia

Fenilbutason
Fenilbutason juga merupakan obat penghilang sakit (analgesik) seperti parasetamol, tetapi memiliki sifat yang berbeda. Obat ini sebenarnya sudah tidak banyak digunakan lagi karena efek sampingnya yang besar. Obat ini banyak digunakan untuk binatang seperti kuda.  Di Amerika, obat ini bahkan sudah ditarik dari peredaran karena banyak obat baru yang lebih aman. Efek samping khas dari fenilbutason adalah penekanan pada sumsum tulang belakang yang berfungsi menghasilkan sel-sel darah putih, sehingga menyebabkan turunnya jumlah sel darah putih. Penurunan sel darah putih menyebabkan seseorang mudah terkena infeksi. Selain itu, fenilbutason juga menyebabkan efek samping pada lambung, karena menghambat prostaglandin yang dibutuhkan untuk perlindungan selaput lendir lambung. Penggunaan yang terus-menerus dalam bentuk jamu tentu akan memberikan efek samping yang berbahaya, bahkan bisa menyebabkan perdarahan lambung. Repotnya, pasien tidak merasakan sakit pada lambungnya karena tertutupi efek fenilbutazon sebagai penghilang rasa sakit, namun tahu-tahu mengalami anemia atau tinjanya berwarna hitam (melena) akibat mengandung darah yang sudah kering.

gastrointestinal-bleeding_3

Ilustrasi perdarahan lambung yang bisa disebabkan karena pemakaian obat kortikosteroid secara kronis

Deksametason
Deksametason adalah obat golongan kortikosteroid yang memilliki efek anti radang yang kuat. Jika digunakan sesuai aturannya, obat kortikosteroid memiliki banyak kegunaan, terutama pada penyakit-penyakit peradangan, seperti rematik, asma, alergi, dan penyakit autoimun seperti lupus, sindrom nefrotik, artritis rematoid, dll. Namun di sisi lain, efek sampingnya cukup luas, antara lain adalah meningkatkan kadar gula darah (meningkatkan resiko diabetes), keropos tulang (osteoporosis), menghambat pertumbuhan anak-anak, menyebabkan gemuk pada bagian tubuh tertentu (wajah bulat/moon face, bahu seperti berpunuk), menyebabkan garis-garis merah di perut (striae), menurunkan daya tahan tubuh sehingga mudah terkena infeksi, meningkatkan resiko hipertensi karena menahan garam di dalam tubuh, menyebabkan gangguan lambung (perdarahan lambung), dll. Penggunaan obat ini tidak boleh sembarangan dan perlu pengawasan tenaga kesehatan yang berwenang. Jika digunakan sesuai aturan, tentu efek-efek samping ini dapat dikelola agar tidak membahayakan. Penghentiannya pun tidak boleh secara tiba-tiba, karena juga dapat membahayakan kesehatan. Mengapa demikian ? Karena selama penggunaan kortikosteroid dari luar, produksi hormon ini secara alami dari tubuh akan terhenti. Jika penggunaan dari luar tiba-tiba dihentikan, tubuh akan kekurangan hormon ini secara normal dan akan terjadi reaksi-reaksi yang tidak diinginkan, seperti: kadar gula darah turun, tekanan darah turun drastis dari posisi duduk ke berdiri (hipotensi ortostatik), dehidrasi (kekurangan cairan), lemah, lesu, dll. Penggunaan yang tidak terkontrol dalam bentuk jamu tentu dapat meningkatkan risiko kesehatan bagi pasien. Alih-alih sehat, malahan masuk rumah sakit akibat menggunakan jamu bercampur dengan obat kimia.

Antalgin
Antalgin adalah obat penghilang rasa sakit yang juga banyak dipakai masyarakat. Ia bekerja dengan menghambat sintesis prostaglandin yang berperan sebagai mediator nyeri. Hampir sama dengan fenilbutazon, efek samping antalgin yang berat adalah gangguan darah yang disebut agranulositosis, yang berarti berkurangnya jumlah sel darah putih, khususnya neutrofil granulosit. Gejala agranulositosis adalah gampang terkena infeksi, tubuh terasa lemah (tidak enak badan, lemah, pusing, sakit otot), diikuti dengan terjadinya tukak pada membran mukosa, demam dan denyut jantung meningkat.

Sildenafil dan tadalafil
Sildenafil dan tadalafil adalah obat yang digunakan untuk mengatasi gangguan ereksi pada pria. Masyarakat mengenalnya sebagai obat kuat untuk pria. Banyak jamu atau obat herbal yang ditujukan untuk meningkatkan stamina pria mengandung sildenafil sebagai campurannya. Sildenafil dan tadalafil adalah obat keras yang semestinya diperoleh dengan resep dokter. Dia bekerja dengan cara melebarkan pembuluh darah penis, sehingga aliran darah ke organ tersebut lancar, sehingga menguatkan ereksi. Tetapi jika dipakai secara berlebihan, apalagi oleh orang-orang yang sedang menggunakan obat-obat antihipertensi yang bekerja melebarkan pembuluh darah juga (vasodilator), maka akan terjadi penurunan tekanan darah secara drastis dan pasien bisa pingsan, bahkan bisa menimbulkan kematian. Efek samping lain obat ini adalah buta warna, sakit kepala, pusing, hidung tersumbat, sampai dengan sakit pada kandung kemih. Alih-alih perkasa, pasien justru bisa terkapar tidak berdaya akibat efek samping obatnya.
Hati-hati memilih produk obat herbal
Dengan paparan di atas, maka dapat dipahami bahayanya mengkonsumsi obat-obat herbal yang dicampur dengan obat kimia tanpa aturan yang benar. Apalagi masyarakat sering berpendapat bahwa jamu itu aman dan bisa digunakan dalam jangka panjang. Efek obat herbal atau jamu memang pada umumnya terjadi secara bertahap (perlahan). Jika terlalu cepat atau terlalu kuat, justru boleh dicurigai adanya campuran dengan obat kimia. Kami menghimbau masyarakat untuk berhati-hati memilih dan membeli obat herbal. Belilah di apotek atau toko obat yang dipercaya. Pilihlah obat herbal yang diproduksi oleh industri farmasi yang sudah cukup dikenal, mereka biasanya tidak berani bertindak kriminal dengan mencampurkan bahan kimia obat ke dalam produk obat herbalnya.





Hati-hati menggunakan antibiotika agar tidak terjadi resistensi bakteri

5 10 2014

Dear kawan,

ini reposting tulisanku di Harian Tribun hari ini…. satu halaman penuh loh.. :)

Baru-baru ini, dalam sebuah kesempatan Ibu Menteri Kesehatan dr. Nafsiah Mboi meminta kepada Apoteker untuk tidak sembarangan memberikan atau menjual antibiotik tanpa resep dokter, karena penggunaan antibiotika yang tidak tepat dapat memicu terjadinya resistensi bakteri. Sebuah himbauan yang simpatik, tetapi Penulis berpendapat bahwa masalah resistensi bakteri tidak hanya melibatkan peran apoteker sebagai penyedia obat, tetapi juga ada dua faktor utama yang lain, yaitu pola peresepan oleh dokter yang tidak selalu tepat dan perilaku pasien sendiri yang salah dalam menggunakan antibiotika. Tulisan kali ini lebih ditujukan kepada masyarakat luas untuk lebih mengenali bakteri, obat-obat antibiotika dan cara penggunaannya yang tepat, sehingga dapat turut mencegah terjadinya risiko resistensi bakteri. Lebih mudah mengedukasi masyarakat, daripada mengingatkan dokter yang pintar-pintar hehe….

Apakah bakteri itu?

Macam-macam bakteri

Macam-macam bakteri

Bakteri adalah organisme yang sangat kecil dan berukuran mikron, yang hanya dapat dilihat dengan mikroskop, sehingga disebut juga mikroorganisme. Mikroorganisme sendiri ada bermacam-macam jenisnya, antara lain adalah virus, jamur, parasit, termasuk bakteri. Bakteri dapat dijumpai di hampir semua tempat, seperti tanah, air, udara, hidup bersama dengan organisme lain (ber-simbiosis), bahkan dalam tubuh manusia. Sebagian dari mereka bersifat merugikan dan dikenal sebagai penyebab infeksi dan penyakit pada manusia, sedangkan sebagian lain ada yang bermanfaat misalnya di bidang pangan, pengobatan dan industri. Bakteri yang menyebabkan penyakit pada manusia, maupun pada hewan dan tumbuhan, disebut bakteri patogen. Beberapa contoh bakteri patogen dan penyakit yang ditimbulkannya adalah seperti di bawah ini:
No. Nama bakteri Penyakit yang ditimbulkan
1. Salmonella typhi :  Tifus
2. Shigella dysenteriae : Disentri basiler
3. Vibrio cholera : Kolera
4. Haemophilus influenza : Influensa
5. Diplococcus pneumoniae : Pneumonia (radang paru-paru)
6. Mycobacterium tuberculosis : TBC paru-paru
7. Clostridium tetani : Tetanus
8. Neiseria meningitis : Meningitis (radang selaput otak)
9. Neiseria gonorrhoeae : Gonorrhaeae (kencing nanah)
10. Treponema pallidum : Sifilis atau Lues atau raja singa
11. Mycobacterium leprae : Lepra (kusta)
12. Treponema pertenue : Puru atau patek

Bakteri masih dapat terbagi lagi berdasarkan kemampuannya mengikat pewarna Gram, sehingga ada yang digolongkan sebagai bakteri Gram negatif dan Gram positif. Kemampuannya mengikat pewarna Gram ini ditentukan oleh perbedaan struktur dinding sel bakteri. Perbedaan ini dapat menyebabkan perbedaan sensitivitas bakteri terhadap jenis antibiotika golongan tertentu. Ada antibiotika yang lebih poten terhadap bakteri Gram negatif daripada positif, atau sebaliknya, atau bisa membunuh dua-duanya.

Antibiotika dan macamnya
antibioticsGolongan obat yang bisa membunuh bakteri disebut dengan golongan obat antibiotika. Terdapat sedikitnya 4 golongan antibiotika berdasarkan mekanisme kerjanya dalam membunuh bakteri, yaitu:
1. Yang bekerja menghambat pembentukan dinding sel bakteri, contoh : golongan Penisilin dan Sefalosporin, misalnya amoksisilin, ampisilin, sefotaksim, sefiksim, seftriakson
2. Yang bekerja menghambat tanskripsi dan replikasi DNA bakteri, contoh: golongan kuinolon (siprofloksasin), rifampisin, aktinomisin
3. Yang bekerja menghambat sintesis protein bakteri, contohnya golongan makrolida (eritromisin, azitromisin), aminoglikosida, tetrasiklin, kloramfenikol, dll
4. mengantagonis asam folat yg diperlukan untuk pertumbuhan bakteri, contohnya : golongan sulfa

Dari sini dapat diketahui bahwa macam antibiotika itu cukup banyak, dan masing-masing memiliki spesifikasi dan potensi terhadap jenis bakteri tertentu. Ketika seorang pasien didiagnosa terkena infeksi bakteri, maka dokter akan memilihkan antibotika yang sesuai dengan kondisi pasien (jenis penyakit, macam bakteri penginfeksi, sensitivitas kuman terhadap antibotika).

Mengapa bakteri bisa resisten/kebal terhadap antibiotika?

Proses berkembangnya bakteri yg resisten

Proses berkembangnya bakteri yg resisten

Yang dimaksud dengan resistensi bakteri adalah kondisi ketika suatu strain bakteri menjadi resisten (kebal) terhadap antibiotik. Resistensi ini berkembang secara alami melalui mutasi yang terjadi secara perlahan dan acak dan juga bisa disebabkan oleh pemakaian obat antibiotik yang tidak tepat sebagai adaptasi bakteri terhadap tekanan lingkungan. Setelah gen resisten dihasilkan, bakteri kemudian dapat mentransfer informasi genetik secara horisontal (antar individu) dengan pertukaran plasmid. Mereka kemudian akan mewariskan sifat itu kepada keturunannya, yang akan menjadi generasi resisten. Bakteri bisa memiliki beberapa gen resistensi, sehingga disebut bakteri multiresisten atau “superbug”. Resistensi antibiotik merupakan masalah kesehatan masyarakat utama di seluruh dunia. Resistensi bakteri memang seperti tidak terasakan secara langsung akibatnya oleh pasien, namun baru akan terasakan dampaknya ketika seseorang terinfeksi dan tidak sembuh-sembuh setelah diberi antibiotika. Hal ini bisa terjadi jika pasien tersebut terinfeksi oleh bakteri yang resisten antibiotik, sehingga pengobatannya menjadi lebih sulit dan harus menggunakan obat yang lebih kuat dan lebih mahal dengan lebih banyak efek samping. Jika kejadian ini terakumulasi dalam sekelompok masyarakat, maka biaya kesehatan menjadi sangat meningkat.

Seperti apa penggunaan antibiotika yang tidak tepat?
Walaupun hubungan langsungnya tidak sangat jelas, tetapi banyak laporan menunjukkan bahwa ada hubungan antara penggunaan antibiotika yang tidak tepat dengan kejadian resistensi bakteri. Bakteri adalah organisme yang memiliki daya adaptasi yang tinggi, sehingga resistensi terhadap antibiotika bisa merupakan respon bakteri terhadap lingkungannya, termasuk terhadap paparan antibiotika. Alih-alih terbunuh, sebagian dari mereka justru berkembang menjadi kebal terhadap antibiotik tersebut. Beberapa contoh penggunaan antibiotika yang tidak tepat dan memicu resistensi antibiotik adalah :
1. Penggunaan antibiotik berlebihan
Antibiotika tidak bisa membunuh virus. Beberapa penyakit yang sering kita jumpai seperti flu, batuk, diare, sebagian besar disebabkan oleh virus. Namun seringkali dokter meresepkan atau juga pasien berinisiatif untuk menggunakan antibiotik. Semestinya antibiotik hanya diperlukan bila flu dan pilek sudah ditumpangi infeksi sekunder oleh bakteri, dan itu dapat terlihat dari adanya tanda-tanda infeksi. Penggunaan yang tidak tepat seperti ini bisa menyebabkan bakteri yang semula “lemah” akan ber-evolusi menjadi bakteri yang “kuat” dan resisten.
2. Penggunaan antibiotik yang terputus/tidak habis
Sering terjadi pasien menghentikan penggunaan antibiotika jika sudah merasa sembuh, padahal penggunaan antibiotika seharusnya dilakukan sampai jangka waktu tertentu, misalnya 5 hari atau 7 hari. Antibiotik harus habis diminum walaupun sudah merasa nyaman. Penggunaan yg tidak habis akan membunuh bakteri yang sensitif saja, dan meninggalkan bakteri yang masih “kuat’. Selanjutnya bakteri yang masih hidup menjadi resisten/kebal dan berkembang biak, dan memerlukan antibiotik yang lebih kuat (dan biasanya lebih mahal) ketika mengalami infeksi berikutnya.

Bagaimana seharusnya?

stop penggunaan antibiotika berlebihan

stop penggunaan antibiotika berlebihan

Mengetahui hal ini maka ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menekan kejadian resistensi bakteri:
1. Dokter sebaiknya lebih berhati-hati dalam meresepkan antibiotika, jangan terlalu mudah meresepkan antibiotika untuk penyakit-penyakit yang lebih banyak disebabkan oleh virus. Hal ini yang kemudian sering ditiru oleh masyarakat, di mana ketika merasakan sakit yang diduga sama, dan karena dulu pernah mendapatkan resep antibiotika, maka masyarakat mencoba mengobati sendiri dengan antibiotika.

2. Tenaga kesehatan selain dokter seperti bidan, perawat, mantri, juga semestinya tidak mudah memberikan antibiotika kepada pasien.

3. Apoteker lebih berhati-hati memberikan/menjual antibiotika. Jangan memberikan/menjual antibiotika sembarangan tanpa resep dokter. Jangan gantungkan rezeki Anda di sini, Insya Allah ada sumber lain yang lebih bermaslahat bagi masyarakat. Jika menyiapkan resep antibiotika untuk pasien, sebaiknya berikan edukasi secukupnya mengenai cara penggunaan obatnya yang tepat, misalnya : harus habis, dll.
4. Masyarakat/pasien sebaiknya tidak mudah pula mengobati diri sendiri dengan antibiotika. Karena penyakit yang nampaknya sama, belum tentu demikian, sehingga sebaiknya mendapatkan diagnosa yang tepat dari dokter. Apotek menjual antibiotika tanpa resep karena ada permintaan pasien. Rangkaian proses ini perlu diputuskan. Jangan mudah apalagi memaksa membeli antibiotik di Apotek tanpa resep dokter. Jangan menggunakan antibiotik pada penyakit-penyakit ringan akibat virus seperti flu, batuk, pilek, diare.
5. Dokter dan apoteker sebagai sesama tenaga kesehatan perlu meningkatkan komunikasi yang lebih efektif terkait dengan penggunaan antibiotika. Apoteker lebih memahami mengenai antibiotik dan indikasinya, sementara dokter juga terbuka untuk diingatkan jika meresepkan antibiotika secara kurang rasional.

Demikian, semoga bermanfaat….





Bagaimana cara menggunakan obat di bulan Ramadhan?

1 07 2014

Dear kawan,

minum obatBulan Ramadhan telah datang lagi. Umat Islam menyambut dengan suka cita akan hadirnya bulan suci karena teringat janji pahala berlipat ganda dari Allah SWT,  bagi yang ikhlas dan bersungguh-sungguh menjalani ibadahnya. Sehingga meskipun Islam membolehkan orang yang sedang sakit untuk tidak berpuasa, sebagian ummat bahkan ada yang tetap ingin menjalankan ibadah puasa Ramadhan walaupun memiliki gangguan kesehatan dan harus menggunakan obat secara rutin. Lalu bagaimana cara mengatur waktu minum obat pada saat puasa supaya tidak mengganggu hasil terapi yang diharapkan? Artikel ini mencoba mengupas cara penggunaan obat selama bulan Ramadhan.

Penggunaan obat yang tidak membatalkan puasa

Tidak semua penggunaan obat membatalkan puasa, yaitu dalam bentuk yang tidak diminum melalui mulut dan masuk saluran cerna. Dalam sebuah seminar medis-religius yang diselenggarakan di Marokko, tahun 1997, para ahli medis maupun agama sepakat bahwa beberapa bentuk sediaan obat di bawah ini tidak membatalkan puasa, antara lain:

  1. Tetes mata dan telinga
  2. Obat-obat yang diabsorpsi melalui kulit (salep, krim, plester)
  3. Obat yang digunakan melalui vagina, seperti suppositoria
  4. Obat-obat yang disuntikkan, baik melalui kulit, otot, sendi, dan vena, kecuali pemberian makanan via intravena
  5. Pemberian gas oksigen dan anestesi
  6. Obat yang diselipkan di bawah lidah (seperti nitrogliserin untuk angina pectoris)
  7. Obat kumur, sejauh tidak tertelan

Bagaimana penggunaan obat minum saat puasa?

Jadwal waktu minum obat mau tak mau harus berubah saat bulan Ramadhan buat mereka yang ingin tetap berpuasa. Obat hanya bisa diminum selepas buka puasa sampai sebelum subuh saat sahur. Perubahan jadwal waktu minum obat mungkin dapat mempengaruhi nasib obat dalam tubuh (farmakokinetika obat), yang nantinya bisa mempengaruhi efek terapi obat. Karena itu perlu kehati-hatian dalam merubah jadwal minum obat. Konsultasikan dengan dokter atau apoteker Anda. Untuk obat-obat yang diminum sekali sehari dan kebetulan diminum pada malam hari tentu tidak ada perbedaan yang berarti ketika digunakan saat bulan Ramadhan. Demikian pula yang diminum sekali sehari pada pagi hari, dapat diminum saat sahur tanpa perubahan efek yang signifikan. Sedangkan untuk obat yang digunakan dua kali sehari, disarankan untuk diminum pada saat sahur dan saat berbuka.

Bagaimana dengan obat yang harus diminum 3-4 kali sehari?

Untuk pasien yang mendapatkan obat-obat yang harus diminum 3 kali sehari disarankan untuk minta kepada dokternya untuk meresepkan obat bentuk sediaan lepas lambat atau aksi panjang sehingga frekuensi pemakaian bisa dikurangi menjadi sekali atau 2 kali sehari. Atau bisa juga minta diganti dengan obat lain yang masih memiliki efek dan mekanisme sama, tetapi memiliki durasi aksi yang lebih panjang. Sebagai contohnya, obat hipertensi kaptopril yang harus diminum 2-3 kali sehari dapat digantikan oleh lisinopril yang digunakan sekali sehari. Atau misalnya ibuprofen, suatu obat anti radang, bisa digantikan dengan piroxicam atau meloxicam yang bisa diminum sekali sehari.

Jika tidak bisa diganti, maka penggunaannya adalah dari waktu buka puasa hingga sahur, yang sebaiknya dibagi dalam interval waktu yang sama. Misalnya untuk obat dengan dosis 3 kali sehari, maka dapat diberikan dengan interval waktu 5 jam, yaitu pada sekitar pukul 18.00 (saat buka puasa), pukul 23.00 (menjelang tengah malam), dan pukul 04.00 (saat sahur). Obat yang harus diminum 4 kali sehari dapat diberikan dalam interval 3-4 jam, yaitu pada pukul 18.00, pukul 22.00, pukul 01.00 dan pukul 04.00. Tentu waktunya harus disesuaikan dengan jadwal imsakiah setempat. Sebagian besar obat dapat diubah jadwalnya seperti ini tanpa mengubah efek terapinya secara signifikan, termasuk penggunaan antibiotika. Kelihatannya agak sulit jika harus minum obat di malam hari, tetapi ini adalah waktu yang bisa memberikan efek optimal. Jika perlu gunakan alarm untuk membangunkan tidur.

Bagaimana dengan penggunaan obat sebelum dan sesudah makan?

Obat dapat berinteraksi dengan makanan, yang berarti adanya makanan dapat mempengaruhi efek obat. Ada obat-obat yang baik digunakan sebelum makan karena absorpsinya lebih baik pada saat lambung kosong, dan ada yang sebaliknya, diminum setelah makan karena dapat menyebabkan iritasi lambung atau lebih baik penyerapannya jika ada makanan. Selama bulan Ramadhan, perhatikan pula aturan minum obatnya, apakah sesudah atau sebelum makan.

Jika aturannya 1 kali sehari sebelum makan : obat bisa diminum pada saat sahur (setengah jam sebelum makan) atau pada saat berbuka (setengah jam sebelum makan). Gunakan sesuai anjuran, apakah biasanya pagi atau malam. Obat hipertensi misalnya, baiknya diminum pagi hari karena tekanan darah paling tinggi pada pagi hari. Sebaliknya, obat penurun kolesterol sebaiknya diminum malam hari. Usahakan konsisten dengan waktu minumnya, apakah pagi atau malam.

Jika aturannya 1 kali sehari setelah makan, maka obat bisa diminum pada waktu seperti di atas, hanya saja diminumnya kira-kira 5-10 menit setelah makan besar. Setelah makan artinya kondisi lambung berisi makanan.

Untuk penggunaan 2,3 atau 4 kali sehari, pada prinsipnya sama, seperti yang dijelaskan di atas mengenai jam minum obat. Jika diminta sebelum makan berarti sekitar 30 menit sebelum makan. Jika ada obat yang harus diminum tengah malam sesudah makan, maka perut dapat diisi dulu dengan roti atau sedikit nasi sebelum minum obat.

Penggunaan obat pada penyakit kronis di bulan Ramadhan

Beberapa penyakit kronis memerlukan pengobatan terus-menerus, seperti penyakit diabetes, epilepsi, asma, dan hipertensi. Untuk mereka yang tetap ingin berpuasa, perlu dilakukan pemantauan yang lebih ketat terkait dengan perubahan jadwal pemberian obatnya dan kondisi penyakitnya. Berikut akan diulas penggunaan obat dan pemantauan terapi pada penyakit-penyakit kronis tersebut.

Diabetes Melitus (kencing manis)

Secara umum, puasa tidak disarankan bagi penderita diabetes, karena berisiko mengalami hipoglikemia (kurangnya kadar guka darah) pada saat puasa, atau sebaliknya hiperglikemia (kelebihan kadar gula darah) pada saat berbuka puasa. Obat golongan sulfonilurea seperti glibenklamid, gliklazid, dan glimepirid memiliki risiko efek samping hipoglikemi yang besar, sehingga kurang direkomendasikan bagi pasien diabetes. Sebagai gantinya, pasien dapat menggunakan obat metformin 3 kali sehari, yang pada saat puasa harus diminum 2 dosis pada saat buka puasa dan satu dosis pada saat sahur. Obat semacam acarbose juga relatif aman untuk penderita diabetes, karena kurang menyebabkan hipoglikemi.

Pasien yang tetap menggunakan obat golongan sulfonilurea sekali sehari sebaiknya meminumnya saat buka puasa sebelum makan. Sedangkan untuk yang dua kali sehari, maka obat diminum satu dosis pada saat buka puasa dan setengah dosis pada saat sahur. Namun demikian ada pula ahli yang menyarankan untuk tidak mengkonsumsi obat pada saat sahur karena dikuatirkan mengalami hipoglikemi jika pasien berpuasa. Pada pasien yang menggunakan insulin premix atau aksi sedang 2 kali sehari, perlu dipertimbangkan perubahan ke insulin aksi panjang atau sedang pada sore hari dan insulin aksi pendek bersama makan. Gunakan dosis biasa pada saat berbuka dan setengah dosis pada saat sahur. Usahakan banyak minum pada saat tidak berpuasa untuk menghindari dehidrasi. Pemantauan kadar gula sebaiknya dilakukan lebih kerap dari biasanya. Jika kadar gula turun di bawah 60 mg/dL, pasien disarankan segera berbuka puasa. Juga jika kadar gula terlalu tinggi (> 300 mg/dL), pasien disarankan tidak berpuasa.

Pasien hipertensi, asma dan epilepsi

Pasien dengan penyakit kronis seperti hipertensi, asma dan epilepsi yang harus menggunakan obat secara teratur dapat tetap berpuasa, dengan mengatur waktu minum obatnya pada saat berbuka dan sahur. Minta kepada dokter untuk memberikan obat-obat yang bersifat aksi panjang sehingga cukup diminum sekali atau dua kali sehari. Secara umum kondisi harus tetap dijaga dengan mengatur makanan, misalnya mengurangi garam atau lemak, banyak minum air putih, olahraga secara cukup. Pasien asma dengan penggunaan inhaler secara teratur dapat menggunakan inhalernya pada saat setelah waktu buka puasa dan pada saat sahur. Namun jika diperlukan penggunaan inhaler pada saat serangan akut di siang hari, pasien dapat membatalkan puasanya. Pasien hipertensi perlu memantau tekanan darahnya lebih kerap pada bulan puasa daripada bulan tidak puasa.

Demikian sekilas tentang penggunaan obat pada saat bulan Ramadhan. Sekali lagi Islam membolehkan orang yang sakit untuk tidak berpuasa. Jika sakit Anda cukup berat dan ingin berpuasa, konsultasikan pada dokter Anda apakah boleh berpuasa atau tidak. Tidak perlu memaksakan diri berpuasa jika fisik tidak mengijinkan.

Selamat berpuasa, semoga amal ibadah Ramadhan kita diterima oleh Allah SWT.  Amiien

 

Bahan bacaan :

http://care.diabetesjournals.org/content/33/8/1895.long

http://www.khaleejtimes.com/kt-article-display-1.asp?xfile=data/nationgeneral/2013/July/nationgeneral_July104.xml&section=nationgeneral

http://www.bmj.com/content/329/7469/778

 

 





Mengenal Dekstrometorfan, obat batuk yang sering disalahgunakan

30 05 2014

Dear kawan,

DEXTROMETHORPHANBarusan beredar kabar bahwa mulai 30 Juni 2014, semua produk obat yang mengandung dekstrometorfan harus ditarik dari pasaran. Penarikan ini disampaikan oleh Direktur Pengawasan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif Badan POM Sri Utami Ekaningtyas, pada diskusi bertajuk “Penarikan Zat Berbahan Dekstrometorfan Tunggal”, di Jakarta, Senin (26/5/2014) petang. Sebenarnya Badan Pengawas Obat dan Makanan, pada Juli 2013 telah mengeluarkan surat penarikan obat yang mengandung dekstrometorfan sediaan tunggal dari pasaran, dan memberikan waktu satu tahun kepada industri Farmasi untuk menarik produk-produknya. Nah, saat ini hampir satu tahun sejak pengumuman diedarkan, maka akhir Juni besok merupakan batas akhir penarikannya.

Apa sih dekstrometorfan itu? Seberapa membahayakan sampai harus ditarik dari peredaran padahal sudah bertahun-tahun digunakan sebagai obat batuk dan menjadi komponen obat flu yang sangat banyak beredar di pasaran?

Deskripsi Dekstrometrofan

Pertama kali diperkenalkan di pasar pada tahun 1950-an di Amerika, Dekstrometorfan (DMP) merupakan obat penekan batuk (anti tusif) yang sangat populer dan selama ini dapat diperoleh secara bebas, dan banyak dijumpai pada sediaan obat batuk maupun flu. Indikasi obat ini adalah untuk batuk kering atau batuk tidak berdahak. Dosis untuk dewasa adalah 10-20 mg secara oral setiap 4 jam atau 30 mg setiap 6-8 jam dengan dosis maksimal 120 mg/hari. Dosis anak-anak usia 6 – 12 tahun adalah 5-10 mg per-oral setiap 4 jam atau 15 mg setiap 6-8 jam dengan dosis maksimum 60 mg/hari. Untuk usia 2-6 tahun, dosisnya 2.5-5 mg per-oral setiap 4 jam atau 7.5 mg atau setiap 6-8 jam dengan dosis maksimum 30 mg/hari. Efek anti batuknya bisa bertahan 5-6 jam setelah penggunaan per-oral. Jika digunakan sesuai aturan, obat ini relatif aman, jarang menimbulkan efek samping yang berarti. Efek samping yang banyak dijumpai adalah mengantuk.

Bagaimana mekanisme kerjanya?

Dekstrometorfan (DMP) adalah suatu senyawa turunan morfin, yang memiliki nama kimia/IUPAC (+)-3-methoxy-17-methyl-(9α,13α,14α)-morphinan, suatu dekstro isomer dari levomethorphan. Senyawa ini cukup kompleks karena memiliki kemampuan untuk mengikat beberapa reseptor, sehingga juga diduga memiliki banyak efek.

Ikatan DMP pada beberapa reseptor

Ikatan DMP pada beberapa reseptor

Mekanismenya sebagai penekan batuk (anti tusif) diduga terkait dengan kemampuannya mengikat reseptor sigma-1 yang berada di dekat pusat batuk di medulla dan terlibat dalam pengaturan refleks batuk. Fungsi fisiologis reseptor sigma-1 masih banyak yang belum diketahui, tetapi aktivasi reseptor sigma-1 salah satunya memberikan efek penekanan batuk. Reseptor sigma semula diduga merupakan subtipe dari respetor opiat, namun penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa ia merupakan reseptor non-opiat, walaupun dapat diikat juga dengan beberapa senyawa turunan opiat.

Selain merupakan agonis bagi reseptor sigma, DMP adalah antagonis reseptor NMDA (N-Methyl D-aspartat) yang berada di sistem syaraf pusat. Dengan demikian efek farmakologi DMP, terutama jika pada dosis tinggi, menyerupai PCP (phencyclidine) atau ketamin yang merupakan antagonis reseptor NMDA. Antagonisme terhadap reseptor NMDA dapat menyebabkan efek euforia, antidepresan, dan efek psikosis seperti halusinasi penglihatan maupun pendengaran. Didukung dengan mudahnya didapat dan harganya yang murah, hal inilah yang menyebabkan DMP menjadi obat yang sering disalahgunakan dalam dosis tinggi. Penyalahgunaan DMP ini sudah cukup luas dan saat ini telah mencapai tahap yang mengkuatirkan, dan inilah yang “memaksa” BPOM mengumumkan penarikannya dari pasaran. Di California (USA), penyalahgunaan DMP ini marak mulai tahun 2000-an.

Apa efeknya kalau overdosis?

Penggunaan dosis tinggi DMP bukannya tanpa masalah. Selain memberikan efek behavioral, intoksikasi atau overdosis DMP dapat menyebabkan hiper-eksitabilitas, kelelahan, berkeringat, bicara kacau, hipertensi, dan mata melotot (nystagmus). Apalagi jika digunakan bersama dengan alkohol, efeknya bisa sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kematian. Demikian pula jika dipakai bersama dengan obat lain seperti dalam komposisi obat flu, jika dipakai dalam dosis 5 – 10 kali dari yang dianjurkan akan mempotensiasi dan menambah efek toksiknya.

Dalam hal efek terhadap perilaku (behavioral effects), penyalahguna DMP menggambarkan adanya 4 plateau efek yang tergantung dosis, seperti berikut:

Plateau Dose (mg) Behavioral Effects
1st 100–200 Stimulasi ringan
2nd 200–400 Euforia dan halusinasi
3rd 300– 600 Gangguan persepsi visual dan hilangnya koordinasi motorik
4th 500-1500 Dissociative sedation

 

Perlu kewaspadaan

Dengan paparan di atas sudah cukup jelas efek dekstrometorfan dan mengapa harus dibatasi penggunaannya. Dekstrometorfan tentunya masih bisa digunakan sebagai antitusif, tetapi harus diperoleh dengan resep dokter dan digunakan sesuai dosis yang direkomendasikan. Perlu kewaspadaan kita semua untuk berhati-hati dalam penggunaan dekstrometorfan di masyarakat.

Semoga bermanfaat.

 

Sumber bacaan:

http://www.who.int/medicines/areas/quality_safety/5.1Dextromethorphan_pre-review.pdf

http://physiology.elte.hu/gyakorlat/cikkek/The%20pharmacology%20of%20cough.pdf

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1574192/





Memilih obat asma: oral atau inhalasi?

25 12 2013

Dear kawan,

tulisan kali ini adalah re-publish tulisanku yang dimuat di Harian Tribun edisi tg 23 Desember 2013, dengan harapan terjangkau lebih luas bagi pembaca….

Perbandingan saluran nafas normal dan saat serangan asma

Perbandingan saluran nafas normal dan saat serangan asma

Asma merupakan salah satu penyakit saluran nafas yang banyak dijumpai, baik pada anak-anak maupun dewasa. Kata asma (asthma) berasal dari bahasa Yunani yang berarti “terengah-engah”. Lebih dari 200 tahun yang lalu, Hippocrates menggunakan istilah asma untuk menggambarkan kejadian pernafasan yang pendek-pendek. Manifestasi penyakit asma sangat bervariasi dalam hal keparahannya. Sekelompok pasien mungkin bebas dari serangan dalam jangka waktu lama dan hanya mengalami gejala jika mereka berolahraga atau terpapar alergen atau terinfeksi virus pada saluran pernafasannya. Pasien lain mungkin mengalami gejala yang terus-menerus atau serangan akut yang sering. Pola gejalanya juga berbeda antar satu pasien dengan pasien lainnya. Misalnya, seorang pasien mungkin mengalami batuk hanya pada malam hari, sedangkan pasien lain mengalami gejala dada sesak dan bersin-bersin baik siang maupun malam. Selain itu, dalam satu pasien sendiri, pola, frekuensi, dan intensitas gejala bisa bervariasi antar waktu ke waktu.

Bagaimana pengobatan asma ?

Karena manifestasi klinis asma bervariasi, ada yang ringan, sedang dan berat, maka pengobatannya harus disesuaikan dengan berat ringannya asma. Asma ringan mungkin cukup diobati pada saat serangan, tidak perlu terapi jangka panjang, sedangkan asma yang sedang sampai berat perlu dikontrol dengan pengobatan jangka panjang untuk mencegah serangan berikutnya.

Jadi, berdasarkan penggunaannya, pengobatan asma ada dua macam, yaitu pengobatan saat serangan/kambuh (obat pelega) dan pengobatan jangka panjang (obat pencegah atau pengontrol serangan). Obat pengontrol harus dipakai setiap hari untuk mencegah kekambuhan, dan biasanya diperlukan oleh pasien asma yang berat dimana kekambuhan terjadi hampir setiap hari.

Obat pelega saluran nafas biasanya memiliki aksi yang cepat untuk melonggarkan saluran nafas. Contohnya adalah salbutamol, terbutalin, ipratropium bromide dan teofilin/aminofillin. Salbutamol merupakan golongan obat beta agonis yang aksinya cepat, dan banyak dijumpai dalam berbagai bentuk sediaan. Ada yang berbentuk tablet, sirup, atau inhalasi. Untuk mengatasi serangan asma, obat ini merupakan pilihan pertama. Dalam bentuk inhalasi, salbutamol tersedia dalam bentuk tunggal (contoh: Ventolin), atau dalam bentuk kombinasi dengan ipratriopium bromid (contoh: Combivent). Dalam bentuk sirup, salbutamol sering dikombinasikan dengan obat pengencer dahak. Terbutalin hanya dijumpai dalam bentuk sediaan obat minum (sediaan oral), sedangkan aminofilin dijumpai dalam bentuk injeksi. Teofilin tersedia dalam bentuk tablet atau sirup, biasanya dikombinasi dengan obat lain seperti efedrin (contoh: Neo Napacin, Asma Soho) atau salbutamol (Teosal). Semua obat-obat di atas harus diperoleh dengan resep dokter, kecuali untuk obat kombinasi teofilin dan efedrin, dapat diperoleh tanpa resep.

Obat-obat pengontrol yang digunakan untuk pengobatan jangka panjang meliputi inhalasi steroid, b2 agonis aksi panjang, sodium kromoglikat atau kromolin, nedokromil, modifier leukotrien, dan golongan metilksantin. Obat-obat untuk penggunaan jangka panjang sebaiknya menggunakan bentuk inhalasi, karena efek samping sistemiknya lebih kecil daripada jika diberikan dalam bentuk oral/obat minum. Contoh obat yang digunakan untuk terapi jangka panjang adalah inhalasi kombinasi budesonide dan formoterol (contoh: Symbicort) dan kombinasi salmeterol dan flutikason (contoh : Seretide). Bentuknya bermacam-macam, ada yang disebut inhaler, diskhaler, turbuhaler, yang dibedakan dari cari penggunaannya. Obat ini relatif aman dipakai jangka panjang untuk mengontrol asma yang berat. Obat lain yang diindikasikan untuk pencegahan asma adalah ketotifen (suatu anti alergi), teofilin lepas lambat, dan sodium kromoglikat/nedokromil. Namun obat-obat yang terakhir ini adalah pilihan kedua jika pilihan pertama tidak ada atau tidak berefek. Obat ketotifen (contoh: sirup Profilas) kurang direkomendasikan dalam pencegahan asma karena bukti klinisnya belum cukup kuat, sementara teofilin juga perlu hati-hati dalam penggunaannya karena efek sampingnya cukup banyak (jantung berdebar, insomia, mual muntah, dll) dan mudah mencapai dosis toksiknya.

Sediaan oral versus inhalasi?

Bentuk sediaan inhalasi

Bentuk sediaan inhalasi

Idealnya, obat-obat untuk asma diberikan secara inhalasi, artinya dihirup melalui mulut. Bentuknya bisa suatu aerosol atau serbuk kering. Keuntungan sediaan inhalasi adalah lebih cepat mencapai sasaran (yaitu di saluran nafas) dibandingkan obat minum yang harus “jalan-jalan” dulu melalui lambung, usus, pembuluh darah dan baru mencapai targetnya di bronkus/saluran nafas. Dengan demikian efeknya lebih cepat diperoleh dan dosis yang digunakan jauh lebih kecil daripada bentuk obat minum. Ini sangat penting terutama pada serangan akut yang membutuhkan efek pelega yang cepat.

Selain itu, keuntungan lainnya adalah efek sampingnya yang relatif kecil. Karena digunakan secara lokal di saluran nafas dan sedikit sekali yang masuk ke peredaran darah, maka efek sampingnya ke organ lain menjadi lebih kecil. Hal ini penting terutama untuk obat-obat yang harus dipakai jangka panjang sebagai pencegah kekambuhan asma. Apalagi jika obatnya jenis steroid, jika diberikan secara oral/obat minum dalam jangka panjang, maka banyak efek samping yang bisa muncul seperti moon face, diabetes, osteoporosis, hipertensi, mudah infeksi, dll. Demikian pula obat asma lain, jika diberikan dalam bentuk obat minum, efek sampingnya lebih besar daripada bentuk inhalasi.

Namun demikian, kelemahan obat inhalasi adalah harganya yang masih mahal bagi sebagian kalangan masyarakat dan memerlukan teknik penggunaan tersendiri yang harus dikuasai oleh pasien. Penggunaan meter-dose inhaler (MDI) misalnya, memerlukan koordinasi yang pas antara menghirup dan menekan obatnya. Bagi anak-anak atau orang usia lanjut yang sudah gemetaran sering kali mengalami kesulitan menggunakan MDI. Untuk itu, jika Anda mendapatkan obat bentuk ini, pastikan Anda benar menggunakannya. Tanyakan apoteker untuk cara penggunaan yang benar dan berlatihlah. Kalau salah menggunakan, maka tujuan terapi mungkin tidak tercapai alias asmanya tidak terkontrol. Bentuk lain dari inhaler adalah bentuk nebulizer, yang lebih mudah penggunaannya, namun memerlukan alat tertentu yang masih mahal juga harganya.

Karena harga bentuk sediaan inhaler yang masih relatif mahal bagi kalangan tertentu, banyak masyarakat yang memilih sediaan obat yang diminum. Ada beberapa merk obat bebas terbatas yang ditujukan untuk asma. Umumnya mereka berisi kombinasi teofilin dan efedrin. Secara teori dari banyak penelitian, kombinasi teofilin dan efedrin bukanlah pilihan pertama untuk melegakan asma. Tetapi boleh saja digunakan selama Anda memang mendapatkan manfaat dari obat ini. Tetapi waspadalah terhadap efek samping yang bisa terjadi, apalagi jika penggunaannya tidak dibatasi. Sebaiknya pastikan dahulu keparahan asma Anda melalui pemeriksaan dokter, agar bisa diberikan obat yang paling tepat.





Waspadai obat penggemuk badan: mau gemuk malah remuk… !

27 10 2013

Dear kawan,

loving-our-bodiesSemua orang tentu ingin punya bentuk tubuh yang ideal. Di samping lebih sehat, tentu akan lebih percaya diri. Yang merasa terlalu gemuk kepengin kurus, dan yang merasa terlalu kurus ingin gemuk… Aku sendiri pengen turun berat badan barang 5 kg lagi deh…tapi susahnyaaa setengah mati…. Akhirnya pasrah lah, yang penting sehat..hehe… Kadang orang mau melakukan apa saja demi mencapai impiannya mendapatkan tubuh ideal, termasuk menggunakan obat-obatan. Eit, tapi tunggu dulu… jangan gegabah mengkonsumsi sembarang obat. Alih-alih mencapai bentuk tubuh ideal, yang terjadi malah badan jadi amburadul karena efek samping obat.

Beberapa waktu lalu aku mendapatkan pertanyaan mengenai obat gemuk yang baik. Apa saja sebenarnya obat yang bisa untuk membuat gemuk? Seberapa aman obat pembuat gemuk? Tulisan ini akan mengulas tentang obat-obat penggemuk badan.

  1. Pil penggemuk badan

Di internet banyak ditawarkan pil penggemuk badan dari China yang katanya berisi aneka herbal alami. Sebuah pil penggemuk badan misalnya, diiklankan berisi herbal seperti : Ginseng, Semen Cusculae, Fructus Crataegus, Fructus Hordel Germinatus, Fructus Quisqualis,  Radix Astragali, dan Rhizoma Atractylodis Mak. Jika ditelusuri, herbal-herbal ini umumnya berefek pada saluran pencernaan, misalnya memperbaiki fungsi pencernaan sehingga makanan lebih banyak yang terserap, meningkatkan nafsu makan, melancarkan peredaran darah, mengatur metabolisme lemak, dll. Jika memang hanya berisi herbal, sebenarnya baik-baik dan aman-aman saja. Pada umumnya efek obat herbal tidak terjadi secara cepat namun bertahap dan  perlahan-lahan. Tapi jika kemudian obat tersebut mengklaim efeknya sangat manjur, seperti yang disebutkan dalam salah satu iklan obat gemuk, bahwa “Dalam waktu 1 minggu berat badan Anda akan bertambah 5-7 Kg”, maka kita perlu waspada. Jangan-jangan pada obat herbal tersebut ada campuran obat sintetik yang efeknya membuat gemuk dengan cepat, tapi efek sampingnya berbahaya. Obat yang sering  dicampurkan dalam obat penggemuk badan adalah golongan kortikosteroid.

  1. Obat kortikosteroid

Obat golongan kortikosteroid termasuk golongan obat yang penting dalam dunia pengobatan, karena memiliki aksi farmakologi yang luas, sehingga sering digunakan dalam berbagai penyakit, sampai-sampai ada yang menyebutnya “obat dewa”, obat segala penyakit. Tapi di sisi lain, karena tempat aksinya luas, efek sampingnya pun luas dan tidak kurang berbahayanya. Penasaran kan tentang kortikosteroid ? Apakah itu?

Obat ini tergolong sebagai obat anti radang yang poten, dan sering digunakan untuk gangguan radang seperti alergi, asma, eksim, dan juga penyakit-penyakit autoimun seperti Lupus, rheumatoid arthritis, dll, karena efeknya yang bisa menekan kerja sistem imun yang berlebihan. Contoh obatnya adalah: deksametason, betametason, hidrokortison, triamcinolon, dll.

Obat ini memberikan efek “kelihatan” gemuk karena memiliki efek menahan air dalam tubuh, sehingga berat badan bertambah. Kemudian ia juga mempengaruhi metabolisme lemak tubuh dan distribusinya, sehingga menyebabkan pertambahan lemak di bagian-bagian tertentu tubuh, yaitu di wajah (jadi membulat), bahu, dan perut. Wajah bulat akibat penggunaan steroid sering disebut “moon face”. Pada orang yang sering menggunakan steroid, wajahnya akan tampak membulat. Orang yang kepengin gemuk mungkin akan merasa senang dengan efek ini. Tetapi gemuk yang dihasilkan bukanlah gemuk yan sehat. Selain itu, masih banyak pula efek samping yang bisa timbul dari pemakaian kortikosteroid. Apa saja?

a. Penekanan sistem pertahanan tubuh

Karena obat ini bisa menekan sistem imunitas/pertahanan tubuh, maka jika terluka akan lebih lama sembuhnya. Selain itu juga lebih mudah tertular infeksi. Termasuk juga banyak tumbuh jerawat dan gangguan kulit akibat infeksi jamur.

b. Meningkatkan risiko diabetes

Golongan obat ini meningkatkan proses glukoneogenesis, yaitu pembentukan glukosa dari protein,  sehingga beresiko meningkatkan kadar gula darah. Karena itu, orang dengan riwayat diabetes dapat mengalami kenaikan kadar gula darah yang nyata jika mengkonsumsi obat ini.

c. Meningkatkan risiko hipertensi

Karena obat ini bersifat menahan cairan tubuh, maka akan meningkatkan volume darah, dan bisa berpotensi menaikkan tekanan darah

d. Meningkatkan risiko osteoporosis/keropos tulang

Obat ini memiliki efek katabolik, yaitu mengurai protein sehingga mengurangi pembentukan protein, termasuk protein yang diperlukan untuk pembentukan tulang. Akibatnya terjadi osteoporosis atau keropos tulang, karena matriks protein tulang menyusut. Efek ini juga menyebabkan gangguan pertumbuhan jika digunakan pada anak-anak dalam jangka waktu lama.

e. Cushing syndrome

Gejala-gejala Cushing Syndrom akibat akumulasi steroid dalam tubuh

Gejala-gejala Cushing Syndrom akibat akumulasi steroid dalam tubuh

Obat golongan steroid yang digunakan dalam waktu lama akan menyebabkan gangguan yang disebut Cushing syndrome, yaitu efek-efek yang terjadi akibat akumulasi/penumpukan kortikosteroid di dalam tubuh, dengan tanda-tanda: terjadi garis-garis kemerahan di kulit terutama perut dan paha (disebut striae), jerawat, kumpulan lemak seperti punuk sapi/kerbau di bahu (buffalo hump), perdarahan bawah kulit/lebam, moon face, hipertensi, perdarahan lambung, keropos tulang, dll.

Jadi nampaknya potensi untuk menjadi gemuk dengan obat golongan steroid tidaklah sepadan dengan bahaya efek samping yang ditimbulkannya. Perlu berhati-hati jika Anda menggunakan obat yang katanya herbal alami, tetapi kemudian timbul efek-efek seperti di atas, maka kemungkinan besar pada herbal tersebut ditambah dengan obat golongan steroid. Jika Anda menyadari adanya steroid dalam jamu/herbal penggemuk badan yang anda gunakan, hentikanlah perlahan-lahan. Penggunaan obat golongan kortikosteroid tidak boleh dihentikan secara mendadak karena akan mengganggu adaptasi tubuh. Penghentian harus perlahan-lahan dengan dosis yang makin lama makin berkurang. Mengapa demikian ? Karena selama penggunaan kortikosteroid dari luar, produksi hormon ini secara alami dari tubuh akan terhenti, maka jika penggunaan dari luar tiba-tiba dihentikan, tubuh akan kekurangan hormon ini secara normal dan akan terjadi reaksi-reaksi yang tidak diinginkan, seperti: kadar gula darah turun, tekanan darah turun drastis dari posisi duduk ke berdiri (hipotensi ortostatik), dehidrasi (kekurangan cairan), lemah, lesu, dll.

3. Antihistamin (Siproheptadin dan ketotifen)

Obat golongan antihistamin sebenarnya ditujukan untuk mengatasi gangguan alergi, baik alergi kulit, saluran nafas, atau bagian tubuh lain. Namun efek samping obat ini adalah meningkatkan nafsu makan, sehingga juga sering “disalahgunakan” untuk meningkatkan nafsu makan pada anak-anak yang sulit makan, termasuk juga dicampurkan pada jamu penggemuk badan. Penggunaan siproheptadin atau ketotifen sebagai peningkat nafsu makan pada anak-anak dapat digolongkan sebagai penggunaan obat “off-label”, di mana obat digunakan dengan tujuan/indikasi di luar indikasi yang resmi dan disetujui oleh badan otoritas di bidang pengawasan obat, seperti FDA di Amerika atau Badan POM di Indonesia.

Bagaimana untuk menggemukkan badan?

Lalu, bagaimana cara yang tepat dan sehat untuk menggemukkan badan?  Yang pertama tentunya mengatur pola makan. Makanlah dengan porsi yang lebih besar dengan komponen lemak dan protein yang lebih tinggi. Makanlah yang disukai, sehingga bisa habis banyak. Gemuk yang bagus adalah dengan massa otot yang banyak, bukan sekedar lemak, apalagi air. Karena itu, perlu juga diimbangi dengan olah raga yang dapat meningkatkan massa otot.

Jika akan menggunakan obat, lebih aman menggunakan obat herbal, tetapi waspadai adanya kemungkinan obat herbal yang dicampuri bahan kimia obat yang berbahaya. Informasi seperti itu seringkali tidak tercantum dalam iklan dan promosi produknya. Apalagi jika menggunakan produk China yang tidak melalui pendaftaran di Badan POM dan dijual bebas melalui media online, maka perlu ada kehati-hatian. Sebuah temuan oleh Badan otoritas pengawasan obat dan makanan di Arab Saudi menunjukkan bahwa pil Kianpi yang berasal dari China dan beredar luas di banyak negara termasuk Indonesia, mengandung betametason dan siproheptadin, (cek di sini)  yang bisa menimbulkan efek samping berbahaya jika digunakan dalam jangka waktu lama. Efek obat herbal biasanya tidak sangat drastis, tetapi lebih bertahan. Karena itu, jangan berharap efek yang terlalu cepat, namun lebih baik diikuti dengan asupan makanan yang bergizi dan sehat.





Penyalahgunaan Trihex : Tindakan kreatif atau bodoh?

14 10 2013

Dear kawan,

Jidatku agak berkerut sedikit ketika asisten rumahtanggaku bertanya,” Ibu, Trihex itu obat apa sih?” Rupanya di TV sedang ditayangkan berita tentang penyalah-gunaan Trihex yang mulai marak belakangan. Aku jadi agak heran, setahuku Trihex atau nama lengkapnya Triheksifenidil (trihexyphenidyl) atau sering disingkat lagi dengan nama THP, adalah obat untuk mengatasi gejala Parkinson, dan juga digunakan untuk mengurangi efek samping obat antipsikotik pada pasien gangguan jiwa/skizoprenia. Wah, kok kreatif banget to…. sampai-sampai obat untuk or-gil juga disalahgunakan…

Untuk lebih paham obat ini, ayo kita kenali tentang obat ini dan penggunaannya yang benar.. Kita bahas dulu penyakit2 di mana obat ini dipakai…

Penyakit Parkinson’s

Penyakit Parkinson’s adalah penyakit degenerasi syaraf atau penurunan fungsi syaraf yang bersifat progresif (berkembang terus) yang umumnya terjadi pada usia lanjut, di atas 50 tahun. Gangguannya terjadi pada sistem saraf dopaminergik, yang berperan dalam fungsi gerakan, jadi penyakit ini ditandai dengan gangguan gerakan, misalnya tremor/gemetar, gerakan melambat dan kaku, dan seringkali terjadi ketidakstabilan postur. Pasien mengalami kekurangan neurotransmiter dopamin dalam sistem syarafnya.  Gejala Parkinson akan muncul ketika sudah terjadi kematian  50-80% saraf dopaminergik.

Ketidakseimbangan aksi dopamin dan asetilkolin menyebabkan gejala penyakit Parkinson's

Ketidakseimbangan aksi dopamin dan asetilkolin menyebabkan gejala penyakit Parkinson’s

Kekurangan dopamin ini menyebabkan ketidakseimbangan aksi neurotransmiter lain yaitu asetilkolin, yang menjadi berlebihan. Kelebihan aksi asetilkolin ini menyebabkan efek-efek yang disebut aksi kolinergik, seperti keluarnya air liur berlebihan (salivasi), otot-otot menjadi kaku sehingga wajah penderita Parkinson itu seperti memakai topeng.

Penyakit ini tidak bisa disembuhkan, tetapi bisa diperlambat perkembangannya dengan obat-obatan. Obat-obat yang dipakai adalah obat yang bisa meningkatkan ketersediaan dopamin, seperti levodopa, dan obat yang bisa mengaktifkan reseptor dopamin seperti apomorfin dan bromokriptin. Di sisi lain, untuk mencegah aksi kolinergiknya, digunakanlah obat  seperti triheksifenidil, seperti yang disebut di judul posting ini. Triheksifenidil adalah tergolong obat antikolinergik atau antimuskarinik, yang bekerja menghambat reseptor asetilkolin muskarinik.

Skizoprenia

Penyakit ini merupakan gangguan jiwa kronis yang ditandai dengan adanya gejala halusinasi, delusi (waham), disorganisasi pikiran, dan juga kadang disertai paranoid, menarik diri dari lingkungan, dll. Secara patofisiologi, penyakit ini disebabkan karena ketidak-seimbangan neurotransmiter dopamin di otak, di mana terjadi kelebihan aksi dopamin pada bagian mesolimbik, dan kekurangan dopamin pada bagian mesokortis. Karena itu, salah satu pengobatan skizoprenia adalah menggunakan obat-obat yang bisa menekan reseptor dopamin, yang disebut golongan obat antipsikotik. Contohnya adalah haloperidol, klorpromazin, dll. Nah, karena kerja obat-obat ini menekan aksi dopamin, maka efek samping obat ini mirip seperti kondisi kekurangan dopamin dan kelebihan aksi asetilkolin  pada pasien Parkinson, yang diistilahkan sebagai pseudoparkinson atau Parkinson semu. Gejala-gejalanya antara lain kekakuan otot yang nyeri, tremor, dan gerakan-gerakan tubuh yg tidak terkendali, yang disebut juga  efek samping ekstrapiramidal. Gejala-gejala ini sering membuat pasien tidak patuh pada pengobatan, padahal mereka harus menggunakan obat-obat tersebut dalam jangka panjang. Karena itu, untuk mecegah dan mengatasi efek samping tersebut, pasien sering diberi obat seperti triheksifenidil/THP ini. Jadi, obat THP digunakan bersama-sama dengan obat antipiskotik tipikal untuk mencegah efek samping ekstra piramidal.

Triheksifenidil

Salah satu merk obat yg mengandung triheksifenidil

Salah satu merk obat yg mengandung triheksifenidil

Seperti apa sih triheksifenidil? Seperti yang disebutkan di atas, obat ini tergolong obat antikolinergik atau antimuskarinik. Obat ini bekerja memblok aksi asetilkolin pada reseptornya, sehingga menghasilkan efek mengurangi kekakuan otot, pengeluaran air liur yang berlebihan, tremor, dan meningkatkan kemampuan mengatur gerakan yang biasanya terjadi pada pasien Parkinson atau pada pasien skizoprenia yang menggunakan obat antipsikotik. Ia juga turut mengatur pelepasan dopamin.

Obat ini tersedia dalam bentuk tablet  dosis 2 dan 5 mg, dan sediaan sirup/elixir yang mengandung 2 mg/5 ml. Untuk mengatasi gejala-gejala di atas, THP digunakan mulai pada dosis 1-2 mg per oral 2-3 kali sehari, atau sesuai kebutuhan, dengan dosis maksimum 15 mg sehari.

Mengapa obat ini bisa disalahgunakan?

Seperti yg telah disampaikan, obat ini bekerja menghambat reseptor asetilkolin. Diduga, sistem kolinergik terlibat dalam pengaturan mood seseorang, yang menyebabkan peningkatan perasaan.  Ada beberapa laporan yang mengatakan bahwa obat golongan antikolinergik yang beraksi sentral (di otak) memiliki efek meningkatkan mood (euforia), walaupun efek ini tidak selalu terjadi dan seringkali tidak terkontrol. Sebenarnya efek halusinogenik yang mungkin ditimbulkan oleh obat ini termasuk jarang, yaitu 2-4% pasien saja yg akan mengalami, dan pada lansia kejadiannya bisa mencapai 19%. Sedangkan efek euforia baru akan tercapai pada dosis tinggi.

Tindakan bodoh…

Dengan fenomena penyalahgunaan yang makin kreatif ini, memang perlu dilakukan pengawasan yang lebih ketat terhadap peredaran obat-obatan. Sebenernya penyalah-guna obat adalah orang yang BODOH, karena tidak memperhitungkan efek-efek lain yang bakal ditimbulkan dengan penggunaan obat yang diharapkan memberikan efek euforia. Padahal efek-efek lain dari THP cukup banyak, antara lain mulut kering, konstipasi, gangguan penglihatan, kebingungan, gangguan urinasi, mual muntah, palpitasi, amnesia, insomnia, dll., yang itu bisa melebihi efek euforia yang diharapkan.  Ketika efek euforia tercapai, efek-efek lain yang berbahaya mungkin sudah duluan menghinggapi, dan bahkan bisa berakibat fatal ketika sudah mencapai dosis toksiknya. Dan orang sehat yang mau memakai obat untuk “orang gila” pastinya gila juga…..

Demikian, sekilas info, semoga bermanfaat…








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 492 pengikut lainnya.