Selebritis narsis di Geronimo 101,6 FM…..

3 11 2009

Dear kawan,

IMG_0211 crop geronimo

sehabis "on air".... (awas kelelep lho..)

Kali ini ceritaku tentang selebriti dadakan yang sedikit narsis.. hehe… yaitu pengalamanku mengisi acara di sebuah radio,  jangan diketawain yaa….. !!Hmm… suer deh, ini pengalaman pertamaku ngisi acara di radio… (Kalo  jadi narasumber di acara TV malah pernah, walau cuma TV lokal Yogya, dalam acara “UGM Berkomunikasi”). Dan ini adalah berkat usaha Mbak Hartati sebagai salah satu bentuk promo buku kami yang berjudul “Bahaya Alkohol dan cara mencegah kecanduannya”… aku sih cuma tinggal brangkat aja. Jadi ceritanya nih malam Senin kemarin aku ngisi acara sebagai bintang tamu di acara “Oh Indahnya Yogya”, yang dipandu oleh Mbak Sondy. Acaranya jam 21-22 malam di Geronimo 101,6 FM, sebuah radio ngetop di Yogya.

Persiapan

Minggu lalu aku menerima e-mail dari Mbak Tati, bahwa beliau sudah mengontak Radio Geronimo untuk bisa punya acara di sana. Salut deh Mbak Tati, .. beliau kreatif dan mencari segala upaya untuk mempromosikan buku kami. Aku sih ngikut saja. Singkat cerita, kami dikasih waktu tg 2 November ini, jam 21-22. Dan karena mbak Tati ada di Yunani, praktis aku deh yang harus berangkat mengisi acara. Hari Jumat aku dikontak mbak Sondy, host-nya, diminta mengirimkan CV dan sinopsis bukunya. Aku sendiri dengan agak-agak narsis menulis status di FB-ku supaya teman-teman mendengarkan siaran Senin malam jam 21-22 di radio Geronimo… haha…..

Hari Senin, hari H siaran, jadwalku lumayan padat sejak pagi. Ada 3 kuliah, malah semestinya 4 kuliah, tapi yang satu lupa (maaf deh, dear students). Aduh, aku mulai start grogi…. atau tepatnya agak tegang, membayangkan apa yang bakal terjadi untuk siaran malamnya. Maklum deh, baru pertama kali, jadi maklum aja… Sorenya setelah selesai kuliah terakhir, aku coba baca-baca lagi tulisanku yang pernah kutulis tentang alkohol. Aku masih belum punya gambaran mau disuruh ngomong apa nanti malam. Aku print beberapa yang kuanggap penting. Untungnya tak berapa lama Mbak Sondy kirim SMS, katanya akan mengirim outline acara nanti malam. Baguslah…, jadi aku punya pegangan…

Habis maghrib, beberapa jam sebelum siaran. Aku check e-mail dari Sondy, yang sempat tertunda karena server error, katanya. Alamaak, … jadi tambah tegang nih …. aku tulis status di FBku…” kayak nunggu ijab kabul aja” haha… Untunglah outline segera aku peroleh, dan aku pelajari bentar apa-apa yang akan dan perlu disampaikan dalam acara nanti. Salah satunya adalah pertanyaan tentang bagaimana aku bisa bekerja sama dengan Mbak Tati dalam menulis buku ini. Aku buka catatanku di blog ini, seingatku aku dulu pernah menulis tentang awal-awal aku diajak mbak Tati menulis (bisa dilihat di sini). Paling tidak aku menemukan data penting tentang sekitar kapan Mbak Tati mulai mengontak aku untuk berkolaborasi. Hmm…. ada gunanya juga nih kutulis semua yang kualami, bisa jadi dokumentasi hidup. Aku juga sempatkan lagi pelajari isi bukuku sendiri ,….. aku ingat hal-hal yang kuanggap penting. Wah, rasanya kayak mau ujian saja… haha… Selebihnya aku pasrah. Dan thanks buat teman-teman yang secara khusus mengontakku lewat FB atau YM untuk memberi semangat dan doa ….. Kayak mau maju perang saja….. !!

Selebriti on air

IMG_0217 dg Sondy geronimo

aku dan Sondy... sesama imut dilarang saling mendahului...

Aku sampai di Radio Geronimo FM sekitar jam 20.40-an. Sepanjang jalan, sambil nyetir  aku mencoba ngomong sendiri tentang alur cerita bagaimana aku bisa berkolaborasi dengan Mbak Tati. Kayak orang gila ngomong sendiri haha….!! Pas banget, ketika aku datang, Mbak Sondy juga datang. Kami ngobrol sebentar mengenai hal-hal yang mau disampaikan nantinya. Keteganganku mulai cair… lagipula mbak Sondy-nya juga ramah mengajak ngobrol. Menjelang jam 21.00, aku diajak masuk ke ruang siaran. Oya, sebelum itu, kami berusaha mengontak Mbak Tati lewat FB agar beliau juga bisa berpartisipasi dalam acara dengan cara menelpon dari Yunani.

Well, acara dimulai…. aku sudah bisa mulai santai… dasarnya aku orangnya santai dan suka juga bercanda, jadi tidak terlalu sulit mengimbangi Mbak Sondy. Malah ada yang komentar, katanya ternyata profesornya gaul juga haha….. Pertama, aku diminta menceritakan bagaimana aku bisa menulis bersama dengan mbak Tati, yang uniknya, kami sendiri bahkan belum pernah bertemu muka!! Ngomong lewat telpon juga cuma sekali. Aku ceritakan bahwa ide penulisan buku ini adalah berasal dari Mbak Tati. Beliau yang mengajak aku menulis. Aku sendiri hanyalah dosen biasa yang kebetulan suka nulis di blog, itu pun tulisan suka-suka aku. Suatu kali aku pernah aku menulis tentang Ginseng Mabur, yaitu kasus meninggalnya beberapa orang di Semarang akibat minum miras oplosan. Mungkin, secara tidak sengaja, mbak Tati menemukan namaku ketika searching di internet, lalu beliau mengontakku. What is a small world!! Kami sangat berterimakasih dengan penemu teknologi informasi canggih sekarang ini, yang memungkinkan dua orang yang berada di benua berbeda bertemu untuk menulis bersama. Dan kayaknya seperti itulah pertemuan jodoh hehe…… kayak ada chemistry-nya…. kami segera klik untuk menulis dan berbagi tugas penulisan. Tapi dari mbak Tati sendiri bahannya sudah banyak sekali, jadi sebenarnya aku lebih banyak melengkapi apa-apa yang sudah ditulis mbak Tati, terutama kalau berkaitan dengan masalah kesehatan.

Hm.. sesi-sesi berikutnya dalam siaran mengalir lancar. Sayangnya Mbak Tati tidak bisa terlalu lama bergabung lewat telepon. Yunani terlalu jauh kali yaa… jadi ada jeda antara waktu bicara dan suara yang sampai, jadi kadang suaranya tidak terdengar jelas. Apalagi ternyata paginya, Mbak Tati baru kena musibah.. kecurian laptop di rumahnya karena lupa kunci pintu ketika belanja. Wah, turut prihatin, Mbak…

Di satu sesi, Mbak Sondy memintaku menceritakan tentang kisah pecandu alkohol di berbagai belahan dunia. Di buku memang sudah dituliskan, dan itu merupakan cerita nyata yang diperoleh dari berbagai kontributor kami yang ada di berbagai negara. Terimakasih untuk para kontributor buku kami.  O,ya… ini juga salah satu kehebatan Mbak Tati sebagai penulis senior, yaitu memanfaatkan jaringan koneksinya dengan banyak teman di berbagai negara, sehingga mereka mau menyumbangkan tulisannya tentang kisah-kisah pecandu alkohol di berbagai negara, termasuk di beberapa daerah di Indonesia.   Dalam siaran kemaren, aku menekankan pada contoh kisah tragis mundurnya seorang Menteri Keuangan Jepang, Soichi Nakagawa, karena mabuk pada KTT G7 di Roma Italia pada bulan Pebruari 2009. Bukan mabuknya yang dimasalahkan, orang Jepang mah udah biasa mabuk. Tapi dengan mabuk nya itu sang Menteri tidak bisa menjawab pertanyaan pada konferensi pers dengan tepat dan itu malu-maluin banget negara Jepang. Dan itu memicu komentar yang keras di dalam negerinya, sehingga Pak Menteri memilih mengundurkan diri. Beritanya bisa dilhat di sini.

IMG_0204-crop

aku dan sang buku...

Pertanyaan yang masuk lewat SMS banyak sekali….. tapi waktunya terbatas, jadi tidak bisa semua terjawab. Maaf ya teman-teman, mudah-mudahan sudah cukup mewakili. Oya, untuk menjawab pertanyaan2 itu memang harus pandai-pandai mencari peluang untuk “ngepek buku” hehe… Alhamdulillah, diberi kelancaran. Tentu masih ada satu dua pertanyaan yang tidak memuaskan jawabannya, karena kemampuan dan ingatanku juga terbatas. Oya lagi, yang kirim pertanyaan, yang beruntung bisa dapat buku ini gratis loh…!

Aku menangkap bahwa antusiasme masyarakat ternyata cukup besar, terbukti dari banyaknya SMS yang masuk. Itu menunjukkan bahwa masalah alkohol memang masalah kita bersama, yang seperti fenomena gunung es. Banyak juga yang menanyakan bagaimana menghentikan kecanduan, karena bolak balik kembali lagi kepengin minum. Aku sampaikan bahwa ada beberapa cara mencegah kecanduan, tetapi sangat penting adalah niat dari diri sendiri. Jika tidak berhasil, bisa dilakukan terapi psikologis atau medis, yang tentunya harus dilakukan oleh orang yang kompeten di bidangnya.

Well, sudah cukup banyak contoh yang merugikan akibat penggunaan alkohol. Dan mau minum atau tidak, itu sebenarnya adalah pilihan hidup. Kalau kita sudah melihat banyaknya pengalaman buruk orang lain karena bahaya alkohol, mengapa kita harus merasakannya sendiri? Bodoh bukan? Dan kita tidak perlu berurusan dengan masalah alkohol dulu untuk membeli buku ini. Kita bisa berbagi ilmu dengan buku ini, untuk mengajak yang lain menghindari bahaya alkohol. Mudah-mudahan bermanfaat dan menjadi pahala yang tiada putus. Amien.

Yah, begitulah sedikit ceritaku ketika menjadi selebritis dadakan di radio Geronimo Senin malam kemarin. Dan apa narsisnya?… aku sempat foto-foto juga yang bisa Anda lihat di posting ini…. hehe…





My note (3): Ballarat journey..

24 10 2009

Dear kawan,

IMG_0115-crop

Menuju Ballarat city....

Judul posting ini mengambil nama sebuah kota kecil berjarak 110 km di barat Melbourne. Sama dengan Bendigo yang aku kunjungi dua hari lalu ketika melawat ke Fakultas Farmasi La Trobe University, kota ini merupakan salah satu kota bersejarah di Australia terkait dengan penambangan emas jaman dulu. Pada tahun 1851, John Dunlop dan James Regan menemukan beberapa ons emas di sungai Canadian di daerah Ballarat, dan saat itulah dianggap sebagai awal dari sejarah perburuan emas terbesar di dunia dan telah mengubah wajah Australia….. Ballarat saat ini menjadi kota yang cukup banyak dikunjungi wisatawan, karena memiliki berbagai tempat yang menarik. Ada Eureka Center, yang menggambarkan penemuan emas jaman dulu, ada observatorium, castle, Botanical garden, dll. Nama Ballarat yang terdengar agak aneh di telinga itu adalah berasal dari bahasa Aborigin: “Balla Arat”, yang artinya istirahat (rest) atau tempat berkemah ( “camping place”).

Yah,…. setelah tiga hari bekerja keras mikirin negara (haha…..), hari Sabtu ini kami memanfaatkan waktu untuk menambah wawasan tentang Australia,.. maksudnya jalan-jalan gitu loh… hehe.. Kami dijadwalkan pergi ke Ballarat, untuk bertemu dengan kanguru dan koala…..setelah sebelumnya bertemu dengan para profesor dan doktor dari Monash dan La Trobe University..

Namun sebelum ke Ballarat, kami akan menengok Festival Indonesia dulu, sebagai bentuk kecintaan kami pada negeri kita haha…. (gayane..). Pagi-pagi jam 10an dengan dipandu oleh dik Ika, kami berjalan menuju Federation Square, sekitar 10 menit jalan kaki dari Hotel, di depan Flinder Street Station. Di sanalah tempat diselenggarakannya Festival Indonesia, yang memperagakan berbagai budaya Indonesia di sebuah panggung besar. Wah, pas sekali, kami datang pas ada Festival Indonesia. Alhamdulillah, …. cuaca sangat bersahabat. Langit biru cerah dengan suhu yang cukup hangat. Di Federation Square sudah cukup ramai. Selain orang Indonesia sendiri, banyak juga orang-orang bule lainnya yang nonton dan ikut berpartisipasi disitu. Banyak stand-stand yang menjual makanan Indonesia. Dan ternyata banyak tuh, orang Indonesia yang ada di Melbourne… baik yang tinggal untuk studi atau yang menjadi permanent resident. Melbourne nampaknya memang tempat yang nyaman untuk tinggal. Dengan banyaknya universitas di kota ini, industri pendidikan merupakan salah satu motor perekonomian di sini. Perlakuan pada orang-orang dengan multikultur cukup baik, karena sudah biasa menghadapi orang dari berbagai negara.

Hmm… Setelah sempat menikmati empek-empek Palembang dan melihat-lihat sejenak, kami pergi menuju stasiun Southern Cross  untuk naik kereta menuju Ballarat. Setelah membeli tiket ke Ballarat yang harganya 28 dolar AUD, kami berempat pun memulai perjalanan ke Ballarat yang memerlukan waktu sekitar 75 menit dari Melbourne. Perjalanan cukup asyik aja, tapi yah… hampir sama seperti perjalanan ke Bendigo. Sesekali kami menjumpai peternakan domba atau sapi dari kejauhan. Bunga-bunga yang tidak diketahui namanya bermekaran indah mewarnai musim semi… kuning, ungu, merah muda, dll…

Oya, ada yang menarik sepanjang perjalanan kami di dalam kota Melbourne menuju stasiun. Aku melihat banyak wanita-wanita muda dengan baju resmi dan indah mengenakan topi bulu atau topi bunga bergerombol di pinggir jalan beserta para pria yang berbaju resmi pula. Olala…. ternyata mereka menunggu jemputan untuk  menonton pacuan kuda. Kata dik Ika, orang sini kalau mau nonton pacuan kuda pasti pake baju dan dandan heboh…. pernah kan lihat kaya gitu di TV ?..  Ya, kebetulan memang saat ini ada Melbourne Spring Carnival…. pacuan kuda bergengsi yang diselenggarakan sekali setahun pada musim semi, dan jadi tempat taruhan orang-orang berduit kelas dunia. Hm… aneh-aneh aja ya di dunia ini….

Koalanya yang kiri apa kanan ya?

Koalanya yang kiri apa kanan ya?

Tempat yang dituju di Ballarat tak lain adalah Ballarat Wildlife Park, sebuah taman yang penuh dengan kanguru, dan beberapa hewan lain yang ada dalam kandang, termasuk koala, wombat, emus, dan aneka reptil. Kanguru di Ballarat Wildlife Park ini tersebar bebas di lapangan yang cukup luas. Kita boleh memberi makan langsung pada kanguru dengan makanan yang sudah disediakan. Koala tidak sebebas kanguru, karena mereka cukup sensitif dan berbahaya jika merasa terganggu. Cakarnya yang tajam bisa merobek kulit kalau ia marah, jadi ketika kami berfoto bersama koala, ada petugas yang memandu dan mengarahkan. Lumayan lama berjalan-jalan di sini, kami kembali ke Melbourne jam 4 sore waktu setempat.

Yah, lumayan capek hari ini… tetapi cukup menyenangkan. Masuk hotel lagi jam 18.30an karena harus berjalan lumayan jauh dari stasiun ke hotel, lalu kumulailah menulis posting ini dan sebentar lagi mesti siap-siap packing untuk pulang besok. Cerita tentang cari oleh-oleh di Victoria Market sengaja tidak aku tuliskan …. takut ntar pada minta oleh-oleh…hehe…. sangunya terbatas je..

See you later in the next posting from Yogyakarta….





My note (2): Ke Monash dan La Trobe University

23 10 2009

Dear kawan,

Pertama kali menginjakkan kaki ke Melbourne, kami disambut hawa yang sejuk mendekati dingin. Pesawat Airbus 380 dengan kode SQ227 yang membawa kami mendarat mulus di airport pada pukul 10 waktu setempat. Alhamdulillah…. Urusan imigrasi tidak terlalu lama, tapi yang agak lama justru menunggu bagasi datang. Keluar dari Bandara sudah jam 11 lebih, padahal kami punya janji untuk ketemu Gregory Duncan jam 12.15. Jadilah kami cuma cuci muka tanpa sempat ganti baju lagi, segera meluncur ke Faculty of Pharmacy and Pharmaceutical Science Monash University. Kami dijemput dik Ika, kolega yang sedang studi S3 di sana, jadi ngga sampai nyasar….

nampang sebentar di depan Monash University (kiri: Prof Lukman, kanan: Prof Subagus)

nampang sebentar di depan Monash University (kiri: Prof Lukman, kanan: Prof Subagus)

Dengan pede walaupun gak mandi, kami sampai juga di Monash Uni di Parkville, dan kami sempatkan ke cafe bentar sambil menunggu waktu ketemu Greg. Aku SMS Greg bahwa kami menunggu di Primary Cafe yang ada di kampus tersebut. Tepat jam 12.15an, Greg datang menjumpai tamunya yang lusuh-lusuh ini, dan membawanya ke tempat pertemuan. Di situ, sesuai dengan pembicaraanku sebelumnya via e-mail, kami ingin melihat bagaimana pelaksanaan Journal Club untuk Evidence-based Practice, khususnya untuk mahasiswa S2 di bidang Farmasi Klinik.

Journal club EBP

For your info, evidence-based practice di dunia kefarmasian adalah adopsi dari evidence-based medicine yang berkembang di bidang kesehatan kedokteran. Maksudnya adalah bahwa praktek penatalaksanaan terapi suatu penyakit haruslah berdasarkan evidence, yaitu suatu bukti ilmiah yang sudah ditelaah dengan teliti. Biasanya berupa suatu hasil uji klinik obat tertentu, yang artinya uji pada manusia untuk memastikan efek suatu obat. Tidak bisa lagi berdasarkan pengalaman saja, atau ilmu yang sudah lewat bertahun-tahun. Farmasis atau apoteker memang tidak secara langsung memberikan pengobatan kepada pasien, namun sebagai bagian dari tim kesehatan, farmasis berhak dan berwenang memberikan saran kepada dokter mengenai pilihan pengobatannya, dan turut serta memonitor perkembangan kesehatan pasien. Itu yang terjadi di banyak negara maju. Untuk itu, apotekerpun harus selalu mengikuti perkembangan pengobatan terbaru yang berdasarkan bukti tadi. Dan untuk ini, Greg menggunakan istilah evidence-based practice untuk pharmacist.

Nah kawan,

Tidak semua publikasi tentang suatu uji klinik (yang dianggap sebagai evidence) ternyata cukup valid dan sesuai dengan situasi pasien tertentu. Untuk itu, seorang farmasis harus punya kekritisan untuk menilai validitas suatu publikasi di dalam sebuah jurnal. Itulah yang menjadi aktivitas jurnal club yang dipandu oleh Greg yang kami sempat ikuti. Semua peserta diskusi harus mempresentasikan hasil evaluasinya mengenai suatu paper tertentu yang dipilihnya sendiri dan disetujui oleh Greg.

Adapun kriteria evaluasinya adalah meliputi: 1. Kriteria validitas : Apakah hasil studinya valid? Hal ini bisa diamati dari beberapa hal, misalnya: apakah kelompok kontrol dan kelompok perlakuan memiliki prognosis yang sama, apakah ada randomisasi, apakah pasien pada kelompok perlakuan memiliki faktor prognosis yang sama dengan kelompok kontrol, dsb. 2. kriteria kepentingan: Seperti apa hasil studinya? Apakah hasilnya positif atau tidak, seberapa signifikan hasilnya, dll. 3. Kriteria aplikabilitas : Bagaimana saya bisa mengaplikasikan hasil studi ini pada pasien yang saya hadapi? Jika melihat kriteria inklusi dan ekslusi pasien, apakah hasil studi sesuai dengan pasien kita atau tidak, apakah hanya valid untuk keadaan pasien tertentu saja, dll. Contohnya, jika suatu studi klinik hanya dilakukan pada pasien yang hanya memiliki satu jenis penyakit saja, tentu tidak mudah mengaplikasikan hasil studi tersebut untuk pasien yang mengalami multiple disease.

Yah, semacam itulah…. aku rasa yang sangat penting adalah bagaimana kita tidak selalu menelan bulat-bulat (emangnya bakso..) semua informasi yang diperoleh, walaupun itu diterbitkan dalam jurnal ilmiah. Perlu ada kekritisan yang didukung dengan logika berpikir yang baik, sehingga tidak salah dalam menerapkan suatu informasi untuk suatu keadaan tertentu. Lepas dari itu, yang menarik dari jurnal club ini adalah pelaksanaannya yang menggunakan teknologi teleconference. Jadi peserta jurnal club sendiri yang ada di Melbourne kemaren ada 3 orang, sedang yang 2 lagi berada di Hongkong dan New Zealand. Dan mereka bisa berinteraksi secara real time untuk berdiskusi mengenai hasil analisis masing-masing. Hm… canggih kan? Kayaknya kapan-kapan perlu diterapkan nih… hehe…

Bertemu dengan Prof Nation cs

monash

delegasi bersama Prof Stewart dan Assoc Prof Marriot

Dari ruangan jurnal Club, kami dibawa bertemu dengan Prof Peter Stewart (Deputy Dean untuk urusan Pendidikan) dan Assoc Prof. Jennifer Marriot (Director of Bachelor Program) di Faculty of Pharmacy and Pharmaceutical Sciences, Monash University. Kami berbincang tentang berbagai hal tentang kegiatan pendidikan di Monash, baik untuk program pasca maupun bachelor. Kami sempat dipamerin ruangan untuk Virtual Practice, di mana di ruangan itu ada 3 screen lebar yang digunakan untuk memutar film seperti keadaan suatu apotek yang sebenarnya. Student akan praktek disitu berlatih untuk melaksanakan pelayanan kefarmasian. Sebetulnya sih di UGM nggak kalahlah…. secara subtansi, mata kuliah yang diajarkan hampir sama saja. Lulusannya pun cukuplah bisa diandalkan. Yang lebih utama sebenarnya adalah setelah lulus jadi apoteker. Organisasi profesi harus cukup kuat taringnya untuk mengatur praktek pelayanan kefarmasian di lapangan, karena akademisi sudah tidak bisa menjangkau lagi hal-hal yang terjadi di luar fakultas..

Satu hal yang menarik juga adalah pendidikan Bachelor (S1) farmasi Monash juga ada yang diselenggarakan di Malaysia. Untuk tujuan lebih menginternasional, mereka membuka “cabang” Monash yang standardnya sudah ditetapkan seperti di Monash Australia.

Setelah selesai dengan Prof Stewart, kami ketemu Prof Roger Nation. Beliau Director of Center of Medicine Use and Drug Safety. Beliau lebih banyak cerita tentang riset di sana. Ada dua pusat riset utama, yaitu Monash Institute of Pharmaceutical Science (MIPS) dan Center of Medicine Use and Safety (CMUS). Dari namanya udah keliatanlah, bahwa yang satu mengkover riset-riset pengembangan obat, sedangkan satunya riset-riset tentang penggunaan obat pada manusia. Pertemuannya sampai jam 16 sore waktu setempat. Aduh… sampai sini aku agak ngantuk hehe… dan lapar. Karena sejak sarapan pagi di pesawat (sahur kali ya…) siangnya belum berisi apa-apa lagi kecuali secangkir hot chocolate di cafe tadi. Akhirnya, seusai pertemuan kami menuju hotel untuk check ini dan istirahat.

Malamnya kami diundang oleh teman-teman Indonesia yang ada di Melbourne untuk makan malam di rumah Pak Mulyoto. Pak Mulyoto adalah dosen sebuah PTN di Indonesia yang setelah menyelesaikan PhD-nya menjadi permanen residen di sini dan bekerja di Monash University. Wah, kami disuguh barbeque daging kambing yang lezat, dan aneka makanan lain… Kami berbincang sampai jam 23 malam… Oya, jangan heran ya…. jam 23 malam di sini itu bisa dibilang belum terlalu larut…. Lhah, maghribnya aja jam 20-an, Isya jam 21an….

Ke La Trobe

harvey Yaris

Bersama Dr Harvey dan Yaris putihnya di Bendigo

Hari kedua ini kami punya acara untuk berkunjung ke Fakultas Farmasi La Trobe University. Dr Ken Harvey yang aku kontak sebelumnya very kindly drove us ke Bendigo, sebuah kota kecil berjarak 2 jam dari Melbourne, di mana fakultas farmasi berada. Dr Harvey menjemput kami di hotel dengan mobil Yaris putihnya. Jalan dari Melbourne ke Bendigo sangat mulus, di samping kiri kanan dihiasi pohon-pohon pinus dan padang hijau luas. Untungnya kami datang pas musim semi, jadi banyak bunga-bunga yang bermekaran. Tapi yah…. sebenarnya perjalanannya agak membosankan sih hehe… karena daerahnya datar, tidak banyak variasinya. Aku sendiri malah terkantuk-kantuk dan sempat tertidur, gara-gara paginya minum obat flu. Yah, flu yang aku peroleh sejak sebelum berangkat ternyata masih berlanjut di Melbourne.

Bendigo merupakan kota tua bekas penambangan emas jaman dulu. Kotanya cantik dan bersih, unik dengan perpaduan gedung-gedung kuno dan gedung jaman sekarang. Tapi alamaak…. sepi benar..!! Trotoar jalan sepi tak banyak orang berlalu lalang, apalagi pedagang kaki lima kayak di Yogya heheh…. Kayaknya sih aku ngga bakalan betah tinggal di sana….

Kami disambut cukup meriah oleh Prof Ken Raymond, perintis Fakultas Farmasi di La trobe University, yang aku kontak sebelumnya, dan beberapa staf dosen lainnya. Dengan suguhan aneka sandwich dan buah, kami berbincang berbagai hal tentang pendidikan dan riset. Kami sepakat untuk menjalin kerjasama lebih lanjut dan akan mencoba bertukar informasi tentang pendidikan dan riset. Secara kebetulan, salah satu riset yang lagi dikembangkan disana adalah tentang farmakogenetik, yang sekarang lagi jadi perhatianku. Mudah-mudahan saja deh, akan ada kerjasama yang lebih riil di kemudian hari. Amien.

City “tour”

Kami sampai kembali ke Melbourne jam 4 sore waktu setempat, diantar oleh Dr Harvey. Perut lapar membawa kami ke sebuah Restoran Thai… Hm, dingin-dingin dan sedikit flu enaknya makan yang panas dan segar nih…. Jadilah sup Tom Yam sea food asli Thai kupilih untuk mengisi perut… hmm, rasanya mantaap!! Setelah balik ke hotel sejenak untuk sholat, kami bertiga janjian untuk keluar lagi jalan-jalan di sekitar kota. Jam 6 sore di sini suasananya masih seperti jam 4 sore di Indonesia. Jadi kami pun berjalan mengeksplorasi Melbourne… benar-benar jalan kaki, plus sekali naik trem yang gratisan. Sayangnya sebagian toko di Melbourne sudah tutup…. Yah, kami jalan-jalan aja menembus dingin sampai jam 9 malam sambil sesekali mampir toko yang masih buka untuk lihat-lihat… Melbourne masih ramai dengan anak-anak muda yang berjalan-jalan. Wah, bajunya macam-macam….. ada yang sesuai dengan suhu, ada juga yang melawan berani melawan cuaca hehe…. Lhah, bajunya mini tak berlengan pula, bagaimana kalau musim panas ya?

Well, itulah cerita hari pertama dan kedua di Melbourne. …





Sekilas tentang Vertigo..

14 10 2009

Dear kawan,

vertigo

vertigo

Pernah merasa bumi terasa berputar gitu? Ngliyeng mau jatuh? Hm.. alhamdulillah, aku belum pernah. Tapi sering denger teman-teman ada yang menceritakan keluhannya. Mbak Nia temanku sedang menderita Vertigo, dan menginspirasi tulisan pendek ini. Semoga cepet sembuh, Jeng….

Apakah vertigo termasuk jenis sakit kepala seperti migrain? Ternyata bukan. Vertigo adalah salah satu jenis penyakit yang ditandai dengan gangguan ilusi gerakan. Jika yang terasa berputar adalah diri sendiri, disebut vertigo subyektif. Kalau yang berputar adalah lingkungan sekitarnya, disebut vertigo obyektif.

Apa penyebab vertigo?

 Vertigo disebabkan karena gangguan keseimbangan di telinga bagian dalam (alat keseimbangan, atau bagian vestibular) atau mungkin di otak. Bentuk paling sering dari vertigo adalah  Benign paroxysmal positional vertigo (BPPV), yaitu adanya ilusi gerakan yang disebabkan oleh gerakan kepala secara mendadak atau gerakan kepala ke arah tertentu. Jenis seperti ini umumnya tidak berat dan dapat diatasi.

Penyebab lain dari vertigo adalah peradangan pada telinga bagian dalam (labirinitis), yang ditandai dengan kejadian vertigo yang tiba-tiba dan kadang diikuti dengan kehilangan pendengaran. Penyebab paling sering adalah infeksi viral atau bakteri. Beberapa penyakit lain juga bisa menyebabkan vertigo, seperti Meniere disease, perdarahan di otak, multiple sclerosis, cedera kepala, dan migrain.

Apa gejalanya?

Pada umumnya penderita akan merasakan sensasi gerakan seperti berputar, baik dirinya sendiri atau lingkungan yang berputar. Selain itu, kadang ada juga yang disertai gejala mual atau muntah, berkeringat, dan gerakan mata yang abnormal. Gejala ini bisa terjadi dalam satuan menit atau jam, dapat bersifat konstan atau episodik (kadang-kadang). Ada pula yang merasakan telinga berdering, gangguan penglihatan, lemah, sulit bicara, atau kesulitan berjalan.

Kapan perlu mendapatkan penanganan medis dan apa obatnya?

Semua gejala dan tanda vertigo perlu dievaluasi oleh dokter. Sebagian besar penyebab vertigo tidak berbahaya, dan pada umumnya dapat diatasi dengan pengobatan. Pilihan obatnya tergantung dari diagnosisnya (jenis vetigo) dan penyebab vertigonya. Misalnya jika terjadi infeksi bakteri pada telinga dalam, tentu butuh antibiotika. Obat-obat yang umum dipakai untuk vertigo adalah: meclizine hydrochloride (Antivert), diphenhydramine (Benadryl), promethazine hydrochloride (Phenergan), dan diazepam (Valium)

Terapi alternatif?

Berbagai terapi non-obat dapat dicoba untuk mengatasi vertigo, mulai dari penggunaan obat herbal, akupuntur, meditasi, yoga, pengaturan diet, tai chi, sampai terapi spiritual. Setiap orang bisa memilih mana yang lebih cocok.

Namun sekali lagi, lepas dari semua usaha secara medis maupun nonmedis, jangan lupa memohon pada Pemberi Hidup dan Kesembuhan, karena Dialah yang akan memberi kesembuhan.

 Demikian semoga bermanfaat.





Menikmati shabu-shabu…

26 09 2009

Dear kawan,

metamfetamin HCl alias shabu-shabu

metamfetamin HCl alias shabu-shabu

Siapa yang belum pernah dengar istilah shabu-shabu ? Kata ini sangat terkenal dan dikaitkan dengan nama satu jenis drugs yang sering dipakai oleh pengguna narkoba atau NAPZA. Tentu kalian masih ingat dengan kasus yang cukup meramaikan dunia selebriti kita yaitu kasus Roy Marten, yang sampai harus dua kali mendekam di hotel prodeo. Dan di luar dunia selebriti, pasti kasus serupa mudah dijumpai setiap hari di media.

Hmm, kawan, ….

Ngomong tentang shabu-shabu, aku mengenal dekat seorang mantan pengguna shabu-shabu yang alhamdulillah kini sudah memilih jalan lurus dan hidup lebih sehat :) .  Katanya lebih baik jadi mantan “penjahat” daripada mantan penjahit ….eh salah… mantan orang  baik. Iyalah,…..  mudah-mudahan kita semua diberi hidup yang khusnul khotimah (akhir yang baik). Amien..hehe…..  Tulisan ini aku dedikasikan untuknya (thanks.. for what we’ve shared), untuk mantan pengguna lainnya, untuk yang lagi berpikir untuk mencoba, dan yang tidak mau mencoba sama sekali. Aku ceritakan pula pengalamanku mengkonsumsi shabu-shabu….

Apa itu shabu-shabu?

Shabu adalah nama slank dari salah satu obat yang sering dipakai para druggist. Selain shabu, masih banyak jenis obat lain yang sering dipakai.  Nah, shabu-shabu ini termasuk stimulan sistem saraf, dengan nama kimia methamphetamine hidroklorida, yaitu turunan dari senyawa stimulan syaraf amfetamin. Selain shabu, turunan amfetamin yang sangat ngetop untuk dipakai adalah ecstassy atau metilen dioksi metamfetamin (MDMA).

Tau nggak riwayatnya? Pada jaman perang dunia kedua, tahun 1940an, Pemerintah Jepang membagikan amfetamin kepada pada tentara, pelaut, pilot, dan para pekerja pabrik untuk memperkuat stamina mereka menghadapi perang. Pilot-pilot pada saat itu secara rutin menggunakan obat ini untuk tetap waspada dan terjaga selama perjalanan panjang untuk misi pengeboman. Setelah tahun 1945, sejumlah besar obat ini yang semula hanya digunakan oleh militer membanjiri pasar.

Pada tahun 1950-1960, di Amerika Serikat,  tablet metamfetamin yang diproduksi secara legal banyak dipakai oleh mahasiswa, sopir truk, dan atlet, untuk tujuan meningkatkan stamina, yang umumnya tidak menjadikan ketergantungan yang berlebihan. Namun pola ini berubah drastis ketika tahun 1960an mulai tersedia metamfetamin injeksi. Dan sejak itu penggunaan amfetamin meningkat tajam untuk tujuan-tujuan “rekreasional”. Metamfetamin jalanan dikenal dengan nama : speed, meth, crank. Selanjutnya muncul metamfetamin hidroklorid yang berbentuk kristal, yang dapat dihirup, yang dikenal dengan nama “ice”, crystal, glass, atau shabu-shabu ini. Efek fisiologis dan psikologis shabu dan zat-zat stimulan syaraf lainnya mirip dengan kokain, yaitu mengurangi kelelahan, meningkatkan kewaspadaan, dan menekan nafsu makan.

Secara farmakologi, amfetamin dan turunannya bekerja dengan meningkatkan aktivitas neurotransmiter norepinefrin dan dopamin dengan cara memblokade re-uptakenya di ujung saraf. Dua neurotransmiter ini bekerja pada sistem saraf simpatis meningkatkan kewaspadaan, meningkatkan denyut jantung, meningkatkan pernafasan, dll. Metamfetamin yang dihirup atau disuntikkan memberikan sensasi yang digambarkan sebagai “extremely pleasurable”, yang disebabkan efek halusinogennya.

Berbentuk bubuk kristal, shabu digunakan dengan cara dibakar dan dihisap dengan alat khusus yang disebut bong. Menurut sebuah sumber, harga shabu-shabu 1 gr  saat ini sekitar Rp. 1,7 juta. Kristal ini paling banyak digemari karena relatif tidak ada sakauwnya (dibandingkan heroin/putaw, atau kokain). Kalau lagi nagih hanya gelisah, tidak bisa berpikir dan bekerja, merasa kelelahan, dll. Menurut narasumber yang pernah menggunakan, awalnya ia menggunakan shabu ini untuk meningkatkan stamina. Bisa kuat tidak tidur dan tidak makan berhari-hari, lebih bersemangat, aktivitas seksual meningkat, dll.

Apa bahayanya?

Bahaya shabu-shabu memang tidak sebesar kokain atau heroin. Menurut narasumberku yang pernah menggunakan, dia bahkan tidak pernah mendengar cerita ada orang yang meninggal karena shabu. Dan menurutnya tidak ada istilah OD (overdosis) dalam penggunaan shabu, banyak sedikit sama saja efeknya.  Efek negatif yang paling sering dirasakan adalah paranoid,… rasa ketakutan yang berlebihan, atau sebaliknya kesenangan yang berlebihan. Namun bagaimanapun secara farmakologi, intoksikasi shabu bisa berakibat fatal, yaitu kematian. Pemakai mungkin akan mengalami peningkatan denyut jantung yang cepat, peningkatan pernafasan, peningkatan tekanan darah, dan mungkin bisa mengalami perdarahan otak akibat tekanan darah yang tinggi. Juga bisa terjadi peningkatan suhu tubuh (hiperthermia) dan kejang-kejang yang bisa berakibat koma, dan kemudian titik, alias koit hehe….. (walaupun kejadian ini mungkin tdk terlalu banyak).

Lah… kalo cuma mau meningkatkan stamina kan banyak cara lain yg lebih sehat dan kurang beresiko kan?

Hm… tapi pasti tak ada yang mengira ya kalau aku juga pernah mengkonsumsi shabu-shabu?? Beneran tuh..???!!

Iya, bener… begini ceritanya……

Menikmati shabu-shabu di Jepang

Tahun 1998 – 2001, aku berkesempatan tinggal di Jepang untuk studi S3. Orang Jepang suka mengadakan party (pesta) untuk merayakan sesuatu. Yang selalu ada pada pesta orang jepang adalah sake, beer, dan aneka alcoholic beverage lainnya. Tapi tentu saja tetap tersedia teh, jus buah, dan minuman lainnya, yang selalu aku pilih karena aku tidak minum alkohol. Nah, pada sebuah party di kota kecil dekat Matsuyama bersama profesor dan teman-teman lab, kami pernah pesta shabu-shabu.

Japanese shabu-shabu

Japanese shabu-shabu

Eit,…. jangan negative thinking dulu,….. shabu-shabu (atau syabu-syabu) yang kami nikmati adalah sejenis makanan Jepang yang dihidangkan dengan hot pot. Jenisnya mirip sukiyaki, di mana ada irisan daging tipis (bisa daging sapi, kambing,  ayam, bebek, atau babi), yang disajikan dengan suatu dipping sauce (saus pencelup). Ia digolongkan makanan musim dingin, tapi nyatanya bisa dijumpai sewaktu-waktu sepanjang tahun. Shabu-shabu umumnya disajikan bersama tofu (tahu Jepang yang lembut), dan aneka sayuran seperti hakusai, nori (rumput laut), bawang bombay, wortel, jamur shitake dan enokitake.

 

Cara menikmati shabu-shabu

Kalau shabu-shabu yang di atas dipakai dengan cara dihirup, yang satu ini dengan cara dimakan… Hmm..nyam-nyam..!! Makanan ini dinikmati dengan cara mencelupkan irisan daging yang sangat tipis dan sayuran pada sebuah mangkok/panci (pot) yang berisi air mendidih atau kaldu yang dibuat dari kombu, dan membolak-balik daging itu beberapa kali (menggunakan sumpit) sampai matang. Bunyi ketika irisan daging tipis dicelup bolak-balik itu terdengar seperti “ shabu-shabu”… hehe… (kalo bahasa kita mungkin kaya di “usap-usap”..), sehingga makanan ini diberi nama shabu-shabu. Daging yang sudah matang tersebut kemudian dicelup dulu ke dalam saus pencelup sebelum masuk mulut bersama nasi yang sudah disiapkan dalam mangkok-mangkok kecil. Setelah semua daging dan sayuran dimakan, maka sisa air mendidih itu menjadi seperti kaldu, dan biasanya dimakan belakangan.

Nama shabu-shabu itu sudah dipatenkan lho… oleh Suehiro, penemunya, pada tahun 1955. Waktu itu Suehiro untuk pertamakalinya memperkenalkan makanan shabu-shabu ini di restorannya di Osaka. Sebenernya makanan ini teinspirasi dari makanan China hot pot yang bernama “shuan yang rao”, sehingga memang lebih mirip makanan China tersebut, ketimbang makanan Jepang sejenis seperti sukiyaki.

Hm…. enak lho….. ! Yang jelas lebih sehat lah ketimbang shabu-shabu yang di atas tadi…. Dan bisa juga kok untuk nambah stamina hehe….. Jadi yang belum sempat mencoba shabu-shabu yang pertama, mendingan coba shabu-shabu yang barusan aku ceritakan ini…. Insya Allah bulan November besok aku ada undangan ke Jepang,.. ayo ikutan sambil menikmati shabu-shabu di sana……. !





Manfaat dan risiko obat asma

9 09 2009

Dear kawan,

Apa kabar?….

Duh, maafkan aku……. lamaa sekali aku tidak nulis lagi di blog-ku ini….. Terus terang aku rindu menulis di sini, tapi entahlah, mood menulisku sedang tidak begitu bagus sebulan terakhir ini ….. Ada aja deh.. yang lagi dipikirkan dan cukup mengokupasi perhatianku..  Selain itu, sekarang lagi eranya Face Book…, jadi sebagian ekspresi sudah dimunculkan di sana, sehingga blog tidak lagi menjadi sumber penyampaian ekspresi utama lagi. Kalau dulu dikit-dikit nulis di blog, sekarang sebagian sudah “dilampiaskan” di Face book… hehe.

Tapi syukurlah, lewat Face book juga aku diberi tau oleh seorang teman, kakak kelasku SMA dulu, bahwa aku muncul di Majalah Info Obat (thanks, mbak Uti… bisa  jadi inspirasi ngisi blog..).  Sebelum itu, teman yang lain cerita bahwa aku muncul juga di Trans TV utk acara Akar Pinang…  Wah, kalau yang ini sih aku nggak merasa…. tapi mungkin saja itu rekaman waktu aku jadi moderator di Launching Ceremony-nya World Conference tg 12 Agustus kemaren.. karena kebetulan salah satu pembicaranya adalah Pak Haji Agus, pengisi acara Akar Pinang. Nampaknya itu adalah rekaman tentang beliau tetapi akunya jadi ikut terekam dan nongol di TV hehe….

Nah, daripada blog-ku ini kosong, aku tampilkan saja hasil wawancara Majalah Info Obat (Rika) denganku mengenai Manfaat dan Risiko Obat Asma. Di bawah ini adalah tulisannya……..

Manfaat dan Risiko Obat Asma

inhaler

inhaler

Bicara mengenai obat asma, tak lepas dari berbagai pilihan jenis obat yang tersedia. Mulai dari golongan obat, tujuan penggunaan, maupun bentuk sediaan. Beda golongan obat akan menunjukkan efek yang berbeda pula. Efek yang berbeda akan mempengaruhi tujuan penggunaan, apakah obat digunakan untuk mencegah atau untuk mengatasi saat asma kambuh. Sedangkan bentuk sediaan mempengaruhi onset (waktu yang dibutuhkan dari obat dikonsumsi sampai obat berefek) dan efektivitas obat sehingga biasanya menyesuaikan dengan tujuan pengobatan dan kondisi pasien. Namun yang namanya obat selain memiliki manfaat, tentu tak lepas dari risiko efek samping yang ditimbulkan. Untuk mengetahui lebih jauh, Info Obat berbincang-bincang seputar manfaat dan risiko obat asma bersama Prof.Dr. Zullies Ikawati, Apt, salah satu staf pengajar di Fakultas Farmasi UGM.

Zullies memulai penjelasan mengenai obat golongan steroid. Contoh obat golongan steroid antara lain budesonide, beclometason dan deksametason. Obat lini pertama dalam terapi asma ini umum digunakan untuk tujuan pencegahan kambuhnya asma. Kendati dapat pula untuk mengatasi keadaan saat asma kambuh. Pada terapi pencegahan yang mengharuskan pasien mengkonsumsi obat secara rutin sebaiknya menggunakan bentuk sediaan inhalasi atau lebih dikenal dengan sebutan metered dose inhaler (MDI). Penggunaan inhalasi memiliki memiliki onset lebih cepat dibandingkan dengan penggunaan per oral (obat diminum sehingga melewati saluran cerna). Efek samping pun bisa diminimalisir karena obat hanya bekerja di seputar saluran pernapasan. Mengenai isu gangguan pertumbuhan anak dan timbulnya osteoporosis akibat penggunaan steroid terus-menerus, Zullies menambahkan belum ada fakta selama obat asma digunakan dalam bentuk sediaan inhalasi. Selain dalam bentuk sediaan inhalasi, tetap tidak tertutup kemungkinan menerima obat golongan steroid dalam bentuk sediaan per oral. Efek samping dari obat golongan steroid antara lain meningkatkan tekanan dan kadar gula darah, sehingga penggunaan steroid pada pengidap hipertensi dan diabetes mellitus (DM) perlu mendapat perhatian khusus. Obat golongan steroid juga memiliki efek sebagai imunosupressan yang dapat menurunkan kekebalan tubuh. Sehingga sebaiknya tetap menjaga kondisi dan stamina tubuh selama penggunaannya. Sedangkan penggunaan steroid untuk ibu hamil dan menyusui cukup aman selama obat diberikan atas rekomendasi dokter. Bahkan sebelum melahirkan kerap dilakukan suntikan intravena obat golongan steroid untuk mencegah kekambuhan asma saat ibu melahirkan. Yang perlu diperhatikan adalah saat pasien menerima terapi pencegahan yang mengharuskan penggunaan steroid secara rutin. Selama terapi tubuh menerima steroid dari luar/eksogen yang mengakibatkan sistem endogen (hormon) dalam tubuh tidak memproduksi steroid. Karena itu, penggunaan steroid tidak boleh dihentikan secara tiba-tiba, dan dosis harus diturunkan perlahan untuk memberi waktu pada sistem endogen agar bisa kembali bekerja memproduksi steroid.

Untuk mengatasi serangan akut, obat golongan beta-agonist misalnya salbutamol menjadi obat lini pertama yang bekerja sebagai bronkodilator (merelaksasi bronkus). Obat golongan ini pun sudah banyak tersedia dalam bentuk inhalasi sehingga bekerja lebih efektif dalam mengatasi serangan akut. Pada keadaan darurat dimana pasien mengalami kesulitan bernapas yang parah digunakan metode pemberian obat secara nebulisasi. Nebulisasi merupakan metode semacam pengasapan obat yang diberikan pada pasien sehingga obat dapat masuk ke saluran nafas dalam kondisi sulit bernafas sekalipun. Sayangnya tidak semua sarana kesehatan memiliki alat nebulizer karena relatif mahal. Di samping penggunaan short acting, ada juga obat golongan beta-agonist yang bekerja long acting, misalnya salmeterol atau formeterol, yang memiliki onset dan durasi efek yang lebih panjang dibanding salbutamol. Biasanya untuk terapi pencegahan kambuhnya asma. Efek samping golongan beta-agonist cukup beragam seperti: tremor/gemetar pada tangan, sakit kepala, hipokalemia (kekurangan kalium), dan takikardi (percepatan denyut jantung). Namun efek samping tersebut tidak selalu terjadi tiap kali penggunaan obat. Muncul atau tidaknya efek samping tergantung kondisi klinis masing-masing individu. Apabila obat beta-agonist digunakan dalam jangka panjang dan secara berlebihan dapat menurunkan efektivitasnya. Hal ini disebabkan karena terjadinya desensitisasi reseptor obat, sehingga reseptor menjadi kurang peka. Karenanya perlu dosis yang lebih besar untuk memperoleh efek yang sama. Untuk itu dokter akan mempertimbangkan dosis yang paling tepat untuk pasien sesuai dengan keadaan klinisnya.

 Terapi obat beta-agonist terkadang dikombinasikan dengan obat golongan antikolinergik untuk mencapai efek yang lebih baik. Sama dengan beta agonis, obat golongan antikolinergik misalnya ipratropium bromida bekerja dengan merelaksasi bronkus. Umumnya digunakan untuk mengatasi serangan akut. Efek samping yang timbul antara lain: mulut kering, mengantuk, dan gangguan penglihatan. Terutama pada penggunaan inhalasi dimana pasien melakukan teknik penyemprotan yang kurang tepat. Dalam beberapa saat mata dapat menjadi kabur. Zullies menyarankan agar pasien mengetahui teknik penggunaan inhalasi yang tepat misalnya dengan bertanya pada dokter atau apoteker. Satu lagi obat yang akrab dalam terapi asma, yaitu teofilin. Teofilin tergolong obat ’tua’ dalam arti sudah digunakan untuk terapi sejak lama. Teofilin memiliki jarak dosis terapi dan dosis toksik yang sempit. Hal ini dapat membahayakan jika pasien mengkonsumsi dosis yang berlebihan. Gejala keracunan teofilin antara lain: insomnia, sakit kepala, mual, dan takikardi. Oleh sebab itu saat ini teofilin sudah banyak ditinggalkan dalam terapi asma. Namun kadang-kadang masih tetap dipakai misalnya pada keadaan darurat, teofilin diberikan dengan menyuntikkan dalam bentuk aminofilin. Pemakaian teofilin ini dipertimbangkan karena harganya yang ekonomis. Teofilin pun masih terdapat sebagai salah satu bahan aktif obat asma yang dijual bebas. Setelah mengulas berbagai jenis obat asma, Zullies menyimpulkan bahwa obat-obat asma tersebut cukup aman. “Saya sarankan untuk penggunaan inhalasi, karena efeknya lebih cepat, sesuai sasaran karena langsung ke saluran nafas, efek sampingnya pun minimal jika dibandingkan penggunaan oral sehingga cukup aman. Dan teknik penggunaan inhalasi yang tepat sangat mempengaruhi keberhasilan terapi.”, imbuh Zullies menutup perbincangan. [Rika]

Thanks for Rika. Good job!





Menumpas obesitas…..

27 06 2009

Dear kawan,

Dua mingguan tidak menulis di blog rasanya seperti punya hutang…..  pasti sudah ada yang menunggu-nunggu hehe….. Karena itulah menjelang tengah malam ini kuupayakan menulis posting ini. Seharian tadi menguji seminar thesis Magister Farmasi Klinik 5 orang sekaligus. Waduh, Sabtu-sabtu masih aja ada kerjaan….  Tapi herannya, banyak aktivitas, banyak “stress”, ….. tapi kok nggak kurus-kurus yah… hehe…. Makin bertambah usia, badan makin mekar saja. Sebuah hasil pemeriksaan yang iseng-iseng kulakukan pada sebuah salon pelangsingan tubuh menyatakan bahwa untuk ukuran tinggi badanku, berat badanku sudah kelebihan 11 kg dari berat badan ideal. Wueek..kekek..!

Tapi yah… enjoy ajaa….! Kalau terlalu kurus entar malah dikira hidup menderita atau mengalami KDRT seperti Manohara hehe…….. Manohara yang menderita aja ngga kurus-kurus. Nah, kebetulan seorang sahabatku yang sedikit gendut memintaku menulis tentang obat-obat pelangsing yang banyak dipakai di masyarakat.  Hm… boleh juga, sekalian aku bisa belajar supaya tidak tambah kegendutan. Obat-obat pelangsing umumnya dipakai untuk mereka yang mengalami obesitas (atau takut menjadi obes). Jadi kita akan start dengan mengetahui dulu tentang obesitas.

 Apa itu obesitas?

mau segendut ini?

mau segendut ini?

Secara gampang, obesitas adalah keadaan kelebihan berat badan di atas normal. Salah satu cara mengukur apakah seseorang mengalami obesitas atau tidak adalah menggunakan ukuran BMI (body mass index), yaitu menghitung berat badan dibagi tinggi dalam kuadrat ( BMI = kg/m2). Pada umumnya, seseorang dengan usia 35 tahun dinyatakan obesitas jika ia memiliki BMI sama atau lebih dari 27. Untuk mereka yang berusia < 34 tahun, skor BMI sebesar 25 sudah termasuk dinyatakan obesitas. Secara umum, BMI sebesar 30 atau lebih sudah mengindikasikan obesitas sedang sampai berat. Coba ukur BMI kalian, kawan….

 Apa yang menyebabkan obesitas?

Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan seseorang mengalami obesitas, antara lain faktor genetik, lingkungan, psikologis, dll.

Faktor genetik

Obesitas umumnya cenderung bersifat menurun dalam keluarga, yang menunjukkan adanya pengaruh faktor genetik. Sebenarnya tak hanya masalah genetik, keluarga umumnya juga “menurunkan” pola makan dan gaya hidup yang bisa berkontribusi terhadap kejadian obesitas. Jika suatu orang tua membiarkan anaknya makan apa saja dan bahkan memfasilitasi anak untuk makan makanan yang enak-enak berlemak… yah… bagaimana anaknya nggak gemuk.

Faktor lingkungan

Faktor lingkungan memberikan pengaruh yang signifikan, misalnya kemudahan mendapatkan fast-food yang umumnya berkolesterol tinggi, pekerjaan yang kurang memungkinkan banyak gerakan fisik tubuh, atau lebih mengutamakan rasa makanan ketimbang faktor nutrisi di dalam memilih makanan.

Faktor psikologis

Faktor psikologis ini dapat mempengaruhi kebiasaan makan. Sebagian orang makan lebih banyak sebagai respon terhadap keadaan mood negatif seperti sedih, bosan, atau marah. Sebagian lagi mungkin mengalami gangguan makan seperti dorongan makan yang kurang terkendali (binge eating) walaupun sudah kenyang, atau kebiasaan ngemil yang sulit dihentikan. Orang-orang seperti ini sangat berisiko terhadap kegemukan, dan perlu mendapatkan perlakuan khusus, seperti konseling atau terapi psikologi lainnya.

Penyebab lain

Selain tiga faktor di atas, penyebab lain obesitas bisa berupa penyakit atau penggunaan obat tertentu. Penyakit hypotiroid, Cushing’s syndrome, dan depresi dapat memicu makan berlebihan. Beberapa obat seperti steroid dan antidepresan tertentu juga memiliki efek samping peningkatan berat badan.

Bagaimana mengatasi obesitas?

Yang pertama sekali tentu adalah pembatasan makan dan meningkatkan aktivitas fisik, sehingga asupan kalori dan penggunaannya terjadi seimbang. Namun jika ini sulit dilakukan dan tidak berhasil, maka perlu bantuan obat-obatan, yaitu obat anti obesitas.

Obat anti obesitas adalah obat-obat yang dapat menurunkan atau mengontrol berat badan. Obat-obat ini bekerja dengan mengubah proses fundamental dalam tubuh dan regulasi berat badan, dengan cara menekan nafsu makan, mempengaruhi metabolisme, atau mengurangi absorpsi makanan/kalori.

Bagaimana mekanisme aksi obat anti obesitas?

Obat-obat anti obesitas bekerja dengan beberapa mekanisme:

1. menekan nafsu makan.

2. Meningkatkan metabolisme tubuh

3. Menurunkan kemampuan tubuh untuk mengabsorpsi nutrien tertentu dari makanan, utamanya lemak, misalnya dengan cara menghambat peruraian lemak sehingga tidak dapat diserap oleh tubuh.

 Ada beberapa contoh obat anti obesitas, antara lain adalah:

1. Orlistat (Xenical)

Obat ini menggurangi penyerapan lemak di usus dengan cara menghambat enzim lipase dari pankreas. Lipase adalah enzim yang bertugas menguraikan lemak. Obat ini bisa menyebabkan feses menjadi berlemak, perut kembung, dan kontrol BAB terganggu. Tapi efek samping ini bisa dikurangi jika asupan makanan berlemak di kurangi.

 2. Sibutramin (Meridia, Reductil)

Obat ini bekerja secara sentral menekan nafsu makan, dengan mengatur ketersediaan neurotransmiter di otak, yaitu menghambat re-uptake serotonin dan norepinefrin. Namun obat ini harus digunakan secara hati-hati karena dapat meningkatkan tekanan darah, menyebabkan mulut kering, konstipasi, sakit kepala dan insomnia.

Sibutramin inilah yang sering ditambahkan oleh produsen nakal jamu pelangsing, sehingga beberapa waktu lalu pernah dilakukan penarikan 6 merk  jamu pelangsing oleh Badan POM karena dicampur dengan sibutramin. Sungguh, pencampuran jamu pelangsing dengan sibutramin ini merupakan tindakan kriminal yang sama sekali tidak memikirkan keselamatan penggunanya. Buat mereka yang memiliki gangguan penyakit kardiovaskuler tentu sangat riskan menggunakan jamu ini karena dapat meningkatkan tekanan darah dan mungkin risiko terjadinya stroke.

 Cara kerjanya hampir mirip seperti obat-obat golongan katekolamin dan turunannya. Ini mengingatkan pada salah satu obat yang cukup terkenal dan menghebohkan, yaitu fenilpropanolamin (PPA), yang juga banyak dijumpai pada komposisi obat flu. Sudah pernah aku tuliskan somewhere di blog ini bahwa di Amerika, PPA banyak dipakai sebagai pelangsing dengan dosis jauh lebih tinggi dari dosis yang dipakai untuk efek pelega hidung tersumbat. Dan ternyata, PPA ini meningkatkan risiko kejadian stroke hemoragik. Saat ini PPA tidak lagi dipakai sebagai obat pelangsing di sana.

 3. Obat-obat laksatif

Selain obat-obat di atas, obat-obat lain yang sering dipakai untuk mengurangi berat badan adalah golongan laksatif atau pencahar. Dengan melancarkan BAB (buang air besar) diharapkan berat badan juga relatif terkontrol. Banyak sediaan suplemen yang mengandung high-fiber yang ”diindikasikan” untuk melangsingkan tubuh dan dapat diperoleh secara bebas. Serat tinggi tadi diharapkan mengembang di saluran cerna dan memicu gerakan peristaltik usus sehingga akan memudahkan BAB. Walaupun mungkin berhasil, tetapi efeknya umumnya tidak terlalu signifikan. Selain sejenis fiber ini, beberapa pencahar lain juga sering dipakai sebagai pelangsing. Penggunaan pencahar sebagai pelangsing dalam waktu lama tidak disarankan karena usus akan menjadi “malas”, akan bekerja jika ada pemicunya, dan hal ini akan menjadikan semacam “ketergantungan”.

 4. Diuretik

Obat-obat diuretik (pelancar air seni) juga sering dipakai sebagai obat pelangsing. Tapi sebenarnya efeknya tidaklah signifikan dalam mengurangi berat badan. Justru penggunaannya harus diperhatikan karena dapat mengganggu keseimbangan elektrolit dalam tubuh karena banyak ion-ion tubuh yang mungkin akan terbawa melalui urin. Jika berat badannya disebabkan karena timbunan cairan, maka diuretik memang pilihan yang tepat, tetapi jika karena timbunan lemak, tentu diuretik tidak akan berefek signifikan. Umumnya teh-teh pelangsing mengandung senyawa alam yang bersifat diuretik sehingga memberikan efek kesan melangsingkan.

 5. Obat-obat herbal pelangsing

Sekarang banyak sekali ditawarkan berbagai produk herbal yang diklaim memiliki efek pelangsing. Ada yang dikatakan bekerja melarutkan lemak, atau mengurangi penyerapan lemak di usus. Salah satu herbal yang terkenal sebagai pelangsing adalah Jati Belanda. Senyawa tanin yang banyak terkandung di bagian daun, mampu mengurangi penyerapan makanan dengan cara mengendapkan mukosa protein yang ada dalam permukaan usus. Sementara itu, musilago yang berbentuk lendir bersifat sebagai pelicin. Dengan adanya musilago, absorbsi usus terhadap makanan dapat dikurangi. Hal ini yang yang menjadi alasan banyaknya daun jati belanda yang dimanfaatkan sebagai obat susut perut dan pelangsing.

Obat-obat herbal pelangsing memang lebih aman, tetapi efikasinya tentu perlu bukti-bukti penelitian lebih lanjut. Mungkin ada yang berhasil, mungkin pula tidak.

 Nah, begitulah… pilih yang mana?

Bagaimanapun menjadi langsing tentu lebih baik, tetapi jangan sampai ingin langsing tetapi malah jadi sakit karena efek samping. Jika benar-benar mengalami obesitas dan perlu pengobatan, konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan terapi yang sesuai. Cara-cara lain seperti akupunktur, akupressur, boleh juga dicoba. Jika perlu dilakukan liposuction (sedot lemak), tapi tentu harus dilakukan oleh tenaga medis profesional dan pertimbangan yang cermat.

Aku sendiri.. hm…. masih agak sulit untuk menahan ngemil. Yah…. gendut-gendut dikit tak apalah, yang penting sehat…. (menghibur diri hehe…..).

Demikian, semoga bermanfaat.





Maap… belum sempat nulis lagi..

26 06 2009

Dear kawan,

Musim ujian akhir dan koreksi, ujian skripsi dan thesis, deadline kumpulkan nilai, additional activities di fakultas seperti IMHERE dan DIPA WCRU, revisi props penelitian, visitasi ISO 9001-2000, urusan Magister Farmasi Klinik, dan rapat-rapat lain, telah menjerat tanganku sampai-sampai tidak sempat menulis apapun di blog ini. Mohon maap… kalau mungkin sudah ada yang menanti tulisan sederhana dari tanganku hehe…. (mode Ge-er ON).

Ditunggu saja dan doakan semoga masih selalu punya semangat dan ide untuk menulis dan berbagi…

Salaam..





Science of Love

9 06 2009

Dear kawan,

falling-loveKemarin aku dapat pertanyaan menarik dari seorang mahasiswa…,” Bu, mengapa sih kalau kita ketemu dengan orang yang kita sukai, rasanya deg-degan. Faktor apa yang menyebabkan?”… Hm,,… boleh juga nih untuk bahan tulisan. Ngomong tentang cinta atau love memang nggak pernah basi. Siapa sih yang belum pernah jatuh cinta? Aku sendiri setidaknya pernah empat kali “jatuh cinta” haha……. First love alias cinta monyet waktu SMP (siapa ya monyetnya?), cinta remaja waktu SMA, cinta  waktu kuliah, dan jatuh cinta dengan yang jadi suamiku sekarang hehe…..  Ternyata masalah cinta bisa asyik juga jika dikupas dari sisi sains…

Mengapa jatuh cinta?

Cinta sendiri sebenarnya adalah suatu cara manusia untuk menjaga keberlangsungan spesiesnya di muka bumi. Dengan jatuh cinta, menikah, punya anak, maka keberlangsungan hidup manusia akan terjaga. Sesederhana itu kah? Hm… tentu tidak. Manusia itu mahluk multi dimensional, jadi cinta bisa menjadi simpel atau rumit tergantung dari mana memandangnya.  Tulisan kali ini mencoba mensimplifikasi cinta dari sisi sains saja….

Ketika seseorang jatuh cinta, ternyata ada beberapa senyawa kimia di otak, yang biasa disebut neurotransmiter, dan hormon, yang turut bermain di dalamnya. Apa yang dilakukan seseorang ketika jatuh cinta? Ternyata orang jatuh cinta tidak selalu mengatakan apa yang dirasakannya. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa 55% orang menyatakan ketertarikannya dengan bahasa tubuh (body language), 38% menunjukkan melalui nada suaranya, dan hanya 7 % yang menunjukkan langsung dengan kata-kata. Hm… bener nggak ya?

Seorang antropolog biologi dari Rutgers University, Helen Fisher, menyatakan bahwa ada 3 tahap dalam cinta, yang disebutnya : lust, attraction, dan attachment, yang masing-masing tahap itu diatur oleh hormon dan atau senyawa kimia yang berbeda.

Tahap 1 : lust (hasrat, keinginan, desire)

Tahap ini diawali dengan ketertarikan atau gairah terhadap lawan jenis, yang dipengaruhi oleh hormon sex yaitu testosteron dan estrogen, pada pria dan wanita. Ini dimulai dari masa pubertas, di mana seseorang mulai tertarik dengan lawan jenisnya.

Tahap 2 : attraction

Tahap ini merupakan tahap yang “amazing” ketika seseorang benar-benar sedang jatuh cinta dan tidak bisa berpikir yang lain. Menurut Fisher, setidaknya ada 3 neurotransmiter yang terlibat dalam proses ini, yaitu adrenalin, serotonin, dan dopamin.

Adrenalin

Tahap awal ketika seorang jatuh cinta akan mengaktifkan semacam “fight or flight response”, yang akan meningkatkan pelepasan adrenalin dari ujung saraf. Adrenalin akan bertemu dengan reseptornya di persarafan simpatik, dan menghasilkan berbagai efek seperti percepatan denyut jantung (takikardi), aktivasi kelenjar keringat, menghambat salivasi, dll. Ini yang menyebabkan ketika seseorang secara tidak sengaja bertemu dengan seorang yang ditaksirnya, ia akan berdebar-debar, berkeringat, dan mulut jadi terasa kering/kelu. Iya, nggak?

Dopamin

Helen Fisher meneliti pada pasangan yang baru saja “jadian” mengenai level neurotransmiter di otaknya dengan suatu alat pencitraan, dan menemukan tingginya kadar dopamin pada otak mereka. Dopamin adalah suatu senyawa di otak yang berperan dalam sistem “keinginan dan kesenangan” sehingga meningkatkan rasa senang. Dan efeknya hampir serupa dengan seorang yang menggunakan kokain! Kadar dopamin yang tinggi di otak diduga yang menyebabkan energi yang meluap-luap, berkurangnya kebutuhan tidur atau makan, dan perhatian yang terfokus serta perasaan senang yang indah (exquisite delight) terhadap berbagai hal kecil pada hubungan cinta mereka…. Dopamin juga merupakan neurotransmiter yang menyebabkan adiksi… termasuk adiksi dalam cinta. Seperti  orang yang mengalami addiksi cocain atau ecstassy (obat yang menyebabkan penghambatan re-uptake dopamin)…… Secara neurobiologi keadaannya sama… yaitu level dopamin yang tinggi di otak…..

Tentang hal ini menurutku keadaannya mirip seperti seorang penderita bipolar yang mengalami state “hipomania” hehe…… perasaan yang elevated, energi yang meluap-luap, kreativitas yang meningkat, dll.  Aku berani jamin, orang yang lagi jatuh cinta itu pasti tidak akan merasa lelah kalaupun harus berjalan berkilo-kilometer kalau itu dijalani bersama yang lagi dicintai !! Jadi pintar bikin puisi, jadi semringah… Ya kan ? …. hehe

Serotonin

Yang terakhir adalah serotonin. Ketika jatuh cinta, kadar serotonin otak menurun. Serotonin merupakan neurotransmiter yang terlibat dalam obsesi. Turunnya level serotonin inilah yang menyebabkan mengapa ketika kita jatuh cinta, wajah si dia selalu terbayang-bayang terus di kepala…. menjadi terobsesi terhadap si dia. Dan keadaan kimia otak terkait dengan kadar serotonin pada orang yang sedang “falling in love” itu mirip dengan keadaan orang dengan gangguan Obsessive Compulsive Disorder!!  Ada obsesi atau keinginan terhadap sesuatu dan ada dorongan (kompulsi)  untuk berulang-ulang melakukan sesuatu  untuk mencapai keinginan (obsesi)-nya. Misalnya terobsesi untuk mendengar suara si dia, maka akan ada dorongan untuk menelponnya berulang-ulang, hehe…… bener kan?

Walah..walah….  dalam sudut pandang sains kesehatan…. “patofisiologi” cinta itu memang mirip patofisiologi penyakit….. Dan nyatanya memang tidak sedikit orang yang sakit fisik dan jiwa karena cinta …. hmmm….! Selain itu,  perasaan jatuh cinta itu bisa sangat mempengaruhi mood seseorang….. Kalau perasaan sedang sehati dengan dia, hidup terasa indah berbunga-bunga… Dan kalau sedang bertepuk sebelah tangan, hidup bagai kehilangan warna… Aiih!!  Dan cinta tidak memandang pangkat, jabatan, tingkat intelektual,…. karena itu fitrah manusia…

NGF (nerve growth factor)

Seorang peneliti lain, Enzo Emanuele dari University of Pavia di Italy, menemukan adanya senyawa lain yang terlibat dalam peristiwa jatuh cinta, yaitu NGF (nerve growth factor). Penemuannya itu merupakan penemuan yang pertama yang menyatakan bahwa NGF mungkin berperan penting dalam proses kimia pada orang jatuh cinta. Ia membandingkan 58 orang pria dan wanita, usia 18-31 tahun, yang baru saja jatuh cinta, dengan kelompok orang-orang yang sudah cukup lama memiliki hubungan cinta dan dengan kelompok lajang. Ia menjumpai bahwa pada kelompok orang yang sedang “falling in love” dijumpai kadar NGF dalam darah yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang sudah membina cinta lebih lama atau yang lajang, dengan perbandingan 227 unit berbanding 123 unit. Menariknya, ketika ia mengecek lagi pada orang yang sama dan masih dengan pasangan yang sama setahun kemudian, kadar NGF-nya turun mencapai kadar yang sama dengan kelompok yang sudah mantap hubungannya atau dengan yang lajang.

Tahap 3 : Attachment

Tahap ini adalah tahap ikatan yang membuat suatu pasangan bertahan untuk jangka waktu yang lama, dan bahkan untuk menikah dan punya anak. Para ilmuwan menduga bahwa ada 2 hormon utama yang lain yang terlibat dalam perasaan saling mengikat ini, yaitu oksitosin dan vasopresin.

Oxytocin – The cuddle hormone (hormon untuk menyayangi)

Oksitosin adalah salah satu hormone yang dilepaskan oleh pria maupun wanita ketika mereka berhubungan seksual, yang membuat mereka menjadi lebih dekat satu sama lain. Oksitosin juga merupakan hormone yang dilepaskan oleh sang ibu ketika proses melahirkan dan merupakan hormon pengikat kasih sayang ibu dengan anaknya.

Vasopressin

Sedangkan vasopressin adalah hormone penting lainnya yang menjaga komitmen hubungan suatu pasangan. Hormon ini juga dilepaskan setelah hubungan seksual…

Hm, menarik juga ya membicarakan cinta dari pandangan sains. Jadi ingat deh saat-saat jatuh cinta hehe….. it was amazing feeling !! Jadi pingin jatuh cinta lagi haha………

Duhai separuh jiwaku,

Memandangmu, adrenalinku terpacu

Mengaktivasi saraf-saraf simpatisku..

Takikardi, salivasi terhenti…

Dopamin pun mengiringi

membuatku addiksi

tak ingin kau pergi..

Serotonin berkurang

wajahmu tak mau hilang…

(Hehe…… ora romantis blas puisine…. )

NB: buat yang lagi kujatuhi cinta …





Pelupa = tanda-tanda penyakit Alzheimer ?

30 05 2009

Dear kawan,

veer200602_fancy_Page_26_Image_0001“Apa kabar? Masih ingat saya, nggak, Mbak?”…. begitu seringkali kuterima sapaan melalui Face Book. Hm… kadang ingat, kadang ada yang sudah lupa. Maklum… sudah lama tidak pernah ketemu. Tapi ngomong-omong masalah lupa, ada yang sedang sedikit kukuatirkan akhir-akhir ini….. Rasanya makin hari makin mudah lupa…. kenapa ya? Ketika kuceritakan pada suami, dia mencandai…”berarti memang sudah pantes jadi profesor…

Dalam beberapa hari kemaren, aku sudah banyak melupakan beberapa hal penting, termasuk kuliah. Sampai malu sendiri (sory, my dear students!). Hari Kamis kemarin ada undangan untuk menghadiri pengukuhan Guru Besar Prof. dr. Sunartini, SpA(K), PhD, dari Fakultas Kedokteran. Beliau meminta kami datang mengenakan toga Guru Besar. For your info, kalau ada pengukuhan Guru Besar baru, maka para guru besar diminta hadir mengenakan toga dan duduk di bagian depan bersama anggota Majelis Guru Besar yang lain. Bu Sunartini termasuk kenalan baik karena kami berada dalam satu tim ketika acara benchmarking ke Belanda bulan Maret lalu. Jadi aku memutuskan untuk menghadiri sebagai penghargaan terhadap beliau. Salahnya…… aku lupa kalau hari Kamis pagi itu masih ada kuliah, dan akupun lupa belum menyampaikan kepada partnerku bu Woro mengenai hal ini. Pikiranku bahkan agak terlalu fokus pada rencana menghadiri acara pengukuhan. Maklum, ada rasa agak gimana gitu…. soalnya bakal bergabung dengan banyak profesor-profesor betulan dan senior dari Fakultas Kedokteran…. Rasanya kaya “uji nyali” aja….hehe…. Wah, untung bu Woro bisa dengan sigap mengawal diskusi dalam kuliah… Payah bukan?

Sehari sebelumnya, aku lupa meninggalkan mapku berisi surat-surat di ruang kuliah. Kalau jenis lupa yang seperti ini sih agak sering. Kalau yang ketlingsut adalah HP, masih agak mudah, bisa di-call. Tapi kalau barang lain… Wah, repot. Kamis sorenya, aku lupa lagi kalau masih ada kuliah. Semakin payah bukan? Soalnya rasanya kayak sudah selesai masa perkuliahan karena sudah mulai diminta bikin soal ujian… eh, ternyata masih ada kuliah sekali lagi.  Aku baru saja duduk lagi di ruangan setelah keluar sebentar menjemput anak sekolah dan sedang membuka pecel untuk makan siang ketika tiba-tiba seorang mahasiswa menelponku bahwa sudah ditunggu di ruang kuliah. Waduh, My God…! Wah ada kuliah to? Aku lupa blas ! Sory banget. Aku nggak pernah selupa ini sebelumnya……. Bungkusan pecel yang sudah kubuka dan belum sempat kunikmati lalu kutinggal dan aku berlari menuju ruang kuliah. Sore sepulang kuliah dan sedang dalam perjalanan, sekretarisku menelpon apakah aku tidak kehilangan dompet? Ternyata aku pun lupa meninggalkan dompetku di ruangan kantor. Ughhh…….. Astaghfirullohal’adziim….

Apakah karena sudah mulai overload yah…… ? Harus beralih dari satu urusan ke urusan lain dengan cepat dalam hitungan menit dalam sehari atau seminggu. Sehingga ada yang tercecer. Kayaknya aku memang mulai harus mengurangi beberapa aktivitas. Mudah-mudahan saja bukan gejala awal dari Alzheimer disease…. (amien). Apa itu Alzheimer disease?

Alzheimer disease

Penyakit ini menjadi terkenal setelah mantan Presiden AS Ronald Reagan menderita penyakit ini setelah turun dari kursi kepresidenannya. Dideskripsikan pertama kali oleh dokter Alois Alzheimer pada tahun1907, penyakit ini merupakan suatu suatu sindrom demensia (kepikunan) yang ditandai dengan penurunan ingatan dan kemampuan kognitif pasien secara progresif/cepat. Apa bedanya dengan kepikunan biasa yang biasanya dijumpai pada orang lanjut usia? Bedanya, pada Alzheimer perkembangan penyakitnya sangat cepat. Tapi memang tidak banyak orang memahami hal ini, dan seringkali penyakit ini dianggap sebagai penyakit kepikunan biasa.

Apa yang terjadi pada otak penderita Alzheimer?

Pasien umumnya mengalami penyusutan otak dan terjadi pengurangan (degenerasi) saraf secara signifikan, terutama pada saraf kolinergik. Kerusakan saraf kolinergik terjadi terutama pada daerah limbik otak (yang terlibat dlm emosi) dan korteks (yang terlibat dlm memori dan pusat pikiran/advanced reasoning center). Ini yang menyebabkan penderita mengalami penurunan ingatan dan kemampuan intelektual yang terjadi secara cepat dan mempengaruhi fungsi sosialnya.

Beberapa gejalanya diantaranya adalah:

- penurunan ingatan jangka pendek atau kemampuan belajar atau menyimpan informasi

- penurunan kemampuan berbahasa dan kesulitan menemukan kata atau kesulitan memahami pertanyaan atau petunjuk

- ketidakmampuan menggambar atau mengenal gambar dua-tiga dimensi, dll.

Berdasarkan Global Deterioration Scale, perkembangan penyakit ini dari awal sampai akhir adalah seperti tertera dalam tabel di bawah ini.

Stage Level Deskripsi
Stage 1 Normal Tidak ada perubahan fungsi kognitif
Stage 2 Pelupa Mengeluh kehilangan sesuatu atau lupa nama teman, ttp tdk mempengaruhi pekerjaan dan fungsi sosial. Umumnya mrpk bagian dari proses penuaan yg normal
Stage 3 Early confusion Ada penurunan kognisi yang menyebabkan gangguan fungsi sosial dan kerja. Anomia, kesulitan mengingat kata yang tepat dlm percakapan, dan sulit mengingat. Pasien mulai sering bingung/anxiety
Stage 4 Late confusion(early AD) Pasien tdk bisa lagi mengatur keuangan atau aktivitas rumahtangga, sulit mengingat peristiwa yg baru terjadi, mulai meninggalkan tugas yang sulit, tetapi biasanya masih menyangkal punya masalah memori
Stage 5 Early dementia(moderate AD) Pasien tidak bisa lagi bertahan tanpa bantuan orang lain. Sering terjadi disorientasi (waktu, tempat), sulit memilih pakaian, lupa kejadian masa lalu. Tetapi pasien umumnya masih menyangkal punya masalah , hanya biasanya jadi curigaan atau mudah depresi
Stage 6 Middle dementia(moderately severe AD) Pasien butuh bantuan untuk kegiatan sehari-hari (mandi, berpakaian, toileting), lupa nama keluarga, sulit menghitung mundur dari angka 10. Mulai muncul gejala agitasi, paranoid, dan delusion
Stage 7 Late dementia Pasien tidak bisa bicara jelas (mgkn cuma bergumam atau teriak), tidak bisa jalan, atau makan sendiri. Inkontinensi urin dan feses. Kesadaran bisa berkurang dan akhirnya koma.

Bagaimana terapinya?

Tentu tidak mungkin untuk membuat orang menjadi muda kembali dan mengembalikan sel-sel sarafnya untuk kembali seperti sedia kala, sehingga tujuan terapi adalah memelihara fungsi-fungsi pasien selama mungkin, menunda perkembangan penyakit, dan mengontrol gangguan/kelakuan yang tidak diinginkan. Perlu ada kerjasama yang baik dari keluarga untuk mensupport pasien, karena pada stage tertentu pasien sudah tidak bisa lagi melakukan kegiatan harian secara mandiri.

Kalau dari segi obatnya, ada beberapa obat yang bisa digunakan, yaitu :

1. Terapi pertama adalah untuk mengatasi gejala penurunan kognisi atau menunda progresivitas penyakit, disebut terapi kolinergik. Terapi ini ditujukan untuk meningkatkan kadar asetilkolin di otak dengan cara menghambat pengrusakan asetilkolin oleh enzim. Golongan obatnya disebut kolinesterase inhibitor, contoh obatnya adalah takrin, donepezil, rivastigmin, galantamin

2. Terapi kedua untuk mencegah degenerasi sel syaraf, misalnya dengan Vitamin E sebagai antioksidan kuat, dan obat yang bekerja pada reseptor glutamat, yaitu memantin. Ekstrak ginko biloba pernah disebut-sebut juga memiliki efek proteksi syaraf dan meningkatkan daya ingat. Tetapi informasi terakhir dari uji klinik tentang penggunaan ginko biloba untuk mencegah penyakit Alzheimer menunjukkan bahwa Ginko biloba tidak memberi efek signifikan. Bisa dilihat pada http://www.emaxhealth.com/1002/91/26772/ginkgo-biloba-does-not-prevent-alzheimer-039-s-disease.html. Sedangkan Vitamin E ternyata cukup efektif untuk mencegah kepikunan, seperti yang dilaporkan pada pertemuan ilmiah tahunan American Geriatrics Society (AGS) 2009. Lengkapnya dapat dicek pada http://www.medscape.com/viewarticle/702333.

Hm… mungkin aku perlu mulai minum vitamin E nih dari sekarang……

3. Terapi ketiga adalah terapi simptomatik untuk mengurangi gejala-gejala non-kognitif, seperti depresi, kecemasan, insomnia, halusinasi, dll. Untuk mengatasi gejala ini digunakan obat yang sesuai, misalnya depresi diatasi dengan antidepresan, kecemasan diatasi dengan penenang, dst.

Mengingat Allah

Ketika aku tulis di status Face Book-ku bahwa aku sekarang merasa sudah mulai pelupa, seorang sahabat nyeletuk untuk “banyak-banyak dzikir biar ingat”….. hehe… Tapi benar sekali sih….. Penyakit itu datangnya atas ijin Allah. Maka kita perlu selalu mengingatNya dan memohon untuk selalu diberi hidayah dan petunjukNya, melalui daya ingat dan daya pikir kita…. semoga tetap bekerja sesuai alamnya. Dan semoga dengan daya ingat dan daya pikir yang diberikanNya, kita bisa memanfatkannya sebanyak-banyaknya untuk kemaslahatan orang banyak. Amien.