Memilih obat turun panas dan analgesik untuk anak-anak

18 11 2009

Dear kawan,

Sory nih… dah lama belum sempat nulis lagi …… Belakangan lagi banyak nongol di radio setelah debut pertama di Geronimo FM dulu hehe…. (Ceritanya bisa dibaca di sini).  Setelah di Geronimo, aku dan mbak Hartati (penulis Buku Bahaya Alkohol) diwawancara telepon oleh Farhan dari Delta FM Jakarta, dan oleh Bahana FM Jakarta. Lalu yang terakhir ini, atas kebaikan hati mas Sukir (makasih nggih…) aku dapat kesempatan ngocol di Unisi FM Yogya dan Trijaya FM Yogya. Semuanya masih terkait dengan topik bahaya alkohol, sebagai bagian dari promo buku kami dan juga kepedulian terhadap bahaya alkohol. Ternyata asyik juga tuh siaran….. bisa nih dilestarikan kalau ada yang mau ngajakin lagi…. Sayangnya yang dua siaran terakhir ngga sempet difoto-foto hehe… narsis banget!

Nah kali ini aku mau ngomongin masalah lain ya…..

Beberapa waktu lalu aku mendapat pertanyaan dari seorang pembaca blog ini, aku kutipkan sesuai aslinya :

First choice nyeri dan demam kan parasetamol. yang paling aman juga parasetamol. Tapi kenapa di obat demam untuk anak seperti bodrexin, contrexyn, inzana, isinya aspirin dan glisin semua? kalau apoteker ingin memilihkan obat demam untuk anak, pilih sirup yang isinya parasetamol atau obat2 tadi yang (diiklankan) memang untuk anak2?

Kemudian disambung oleh yang lain dengan postingan berita di Kompas seperti ini:

JAKARTA, KOMPAS.com - Sebuah riset independen Retail Audit Nielsen, Indonesia Urban mengungkapkan bahwa sekitar 70 persen konsumsi obat penurun demam anak di wilayah perkotaan di Indonesia adalah mengandung asam asetilsalisilat (acetyl salicylic acid). Asam asetilsalisilat adalah jenis bahan aktif yang tidak sesuai untuk konsumsi anak-anak karena diduga dapat menyebabkan sindroma Reye.

Well, kawan….. Ada apa dengan asam asetil salisilat atau asetosal? Apa benar bukan pilihan yang tepat untuk obat penurun panas atau penghilang nyeri pada anak-anak? Aku pernah menulis di blog ini tentang bagaimana memilih analgesik yang pas… (bisa dilihat di sini). Tapi tulisan itu masih agak luas, yaitu menguraikan berbagai jenis obat penghilang rasa sakit dan radang. Asetosal  termasuk obat yang banyak dipakai untuk mengatasi radang, sakit, dan demam. Nah, tulisan kali ini akan menyoroti asetosal saja, dan ada sedikit tambahan tentang parasetamol.

Bagaimana kerja asetosal sebagai obat turun panas dan penghilang nyeri (analgesik)?

Asam asetil salisilat atau asetosal banyak dijumpai dalam berbagai nama paten, salah satunya yang terkenal adalah Aspirin. Seperti halnya obat-obat analgesik yang lain, ia bekerja dengan cara menghambat sintesis prostaglandin. Prostaglandin sendiri adalah suatu senyawa dalam tubuh yang merupakan mediator nyeri dan radang/inflamasi. Ia terbentuk dari asam arakidonat pada sel-sel tubuh dengan bantuan enzim cyclooxygenase (COX). Dengan penghambatan pada enzim COX, maka prostaglandin tidak terbentuk, dan nyeri atau radang pun reda.

Prostaglandin juga merupakan senyawa yang mengganggu pengaturan suhu tubuh oleh hipotalamus sehingga menyebabkan demam. Hipotalamus sendiri merupakan bagian dari otak depan kita yang berfungsi sebagai semacam “termostat tubuh”, di mana di sana terdapat reseptor suhu yang disebut termoreseptor. Termoreseptor ini menjaga tubuh agar memiliki suhu normal, yaitu 36,5 – 37,5 derajat Celcius.

Pada keadaan tubuh sakit karena infeksi atau cedera sehingga timbul radang, dilepaskanlah prostaglandin tadi sebagai hasil metabolisme asam arakidonat. Prostaglandin akan mempengaruhi kerja dari termostat hipotalamus, di mana hipotalamus akan meningkatkan titik patokan suhu tubuh (di atas suhu normal). Adanya peningkatan titik patokan ini disebabkan karena termostat tadi menganggap bahwa suhu tubuh sekarang dibawah batas normal. Akibatnya terjadilah respon dingin/ menggigil. Adanya proses mengigil ini ditujukan utuk menghasilkan panas tubuh yang lebih banyak. Adanya perubahan suhu tubuh di atas normal karena memang “setting” hipotalamus yang mengalami gangguan oleh mekanisme di atas inilah yang disebut dengan demam. Karena itu, untuk bisa mengembalikan setting termostat menuju normal lagi, perlu menghilangkan prostaglandin tadi dengan obat-obat yang bisa menghambat sintesis prostaglandin.

 Efek samping asetosal?

Selain memiliki efek utama sebagai obat anti radang dan turun panas, asetosal memiliki beberapa efek lain sebagai efek samping.  Efek samping yang pertama adalah asetosal dapat mengencerkan darah. Kok bisa? Ya…., karena asetosal bekerja secara cukup kuat pada enzim COX-1 yang mengkatalisis pembentukan tromboksan dari platelet, suatu keping darah yang terlibat dalam proses pembekuan darah. Penghambatan sintesis tromboksan oleh asetosal menyebabkan berkurangnya efek pembekuan darah. Sehingga, asetosal bahkan dipakai sebagai obat pengencer darah pada pasien-pasien pasca stroke untuk mencegah serangan stroke akibat tersumbatnya pembuluh darah.

Apa implikasinya? Karena dia memiliki efek pengencer darah, maka tentu tidak tepat jika digunakan sebagai obat turun panas pada demam karena demam berdarah. Bayangin,… pada demam berdarah kan sudah ada risiko perdarahan karena berkurangnya trombosit, kok mau dikasih asetosal yang juga pengencer darah…. Apa ngga jadi tambah berdarah-darah tuh….. !!

Efek samping yang kedua dari asetosal atau Aspirin, dan sering menimpa anak-anak, adalah terjadinya  Sindrom Reye, suatu penyakit mematikan yang menganggu fungsi otak dan hati. Gejalanya berupa muntah tak terkendali, demam, mengigau dan tak sadar. Banyak studi telah menunjukkan adanya hubungan antara kejadian syndrome Reye pada anak-anak dengan penggunaan aspirin. Memang sih, angka kejadiannya tidak terlalu banyak, tapi sekali terjadi akibatnya sangat fatal. Sehingga, aspirin direkomendasikan untuk tidak digunakan sebagai turun panas pada anak-anak.

Efek samping asetosal yang ketiga sama dengan obat analgesik golongan AINS lainnya, adalah gangguan lambung, dan pernah dibahas di posting ini.

Hmm…. efek samping berikutnya adalah risiko kekambuhan asma bagi mereka yang punya riwayat asma. Aspirin atau asetosal termasuk salah satu analgesik yang sering dilaporkan memicu kekambuhan asma, sehingga perlu hati-hati juga untuk pasien yang punya riwayat asma.

Kekuatiran lain dari penggunaan asetosal adalah seringkali mereka ditampilkan dalam bentuk seperti permen jeruk. Okelah,…. memang tujuannya supaya anak tidak merasa sedang minum obat, karena seperti makan permen. Tapi justru bisa jadi, karena dianggap permen, anak-anak bisa minta lebih dari dosis yang seharusnya. Jika menyimpannya tidak hati-hati, anak-anak bisa cari sendiri “permen” tadi dan mengkonsumsinya tanpa sepengetahuan ortunya. Sehingga bisa dibayangkan jika asetosal dikonsumsi dalam dosis lebih dari seharusnya…..

Wah, lalu gimana dong?

Obat pilihan untuk turun panas pada anak-anak

Sampai sejauh ini, obat pilihan untuk analgesik dan antipiretik (turun panas) pada anak-anak masing dipegang oleh parasetamol. Obat ini relatif aman dari efek samping seperti yang dijumpai pada aspirin jika dipakai dalam dosis terapi yang normal. Efek sampingnya berupa gangguan hati/liver dapat terjadi hanya jika dipakai dalam dosis yang relatif besar (> 4 gram sehari). Namun perlu diketahui bahwa parasetamol tidak memiliki efek anti radang seperti aspirin atau analgesik OAINS lainnya.

Mengapa parasetamol relatif lebih aman dari efek samping?

Yups….. ada sedikit perbedaan mekanisme aksi parasetamol sebagai analgesik dan antipiretik. Ternyata, selain ada enzim siklooksigenase COX-1 dan COX-2 yang mengkatalisis pembentukan prostaglandin di jaringan, ada pula COX-3, yang lebih banyak terdapat di otak dan sistem saraf pusat. Nah, parasetamol ini ternyata lebih spesifik menghambat COX-3 yang ada di otak tadi, sehingga menghambat produksi prostaglandin yang akan mengacau termostat di hipotalamus tadi. Kerja ini menghasilkan efek menurunkan demam. Selain itu, karena prostaglandin juga terlibat dalam menurunkan ambang rasa nyeri, maka penghambatan prostaglandin dapat memberikan efek anti nyeri atau analgesik. Karena spesifik pada COX-3, tidak menghambat COX-2, maka efeknya sebagai anti radang di jaringan jadi kecil. Di sisi lain, karena juga tidak menghambat COX-1, maka efeknya terhadap gangguan lambung juga kecil karena tidak mempengaruhi produksi prostaglandin jaringan yang dibutuhkan untuk melindungi mukosa lambung. Juga tidak memiliki efek mengencerkan darah. Jadilah,… parasetamol relatif aman terhadap efek samping lambung, perdarahan, asma, dan juga syndrom Reye, dan merupakan pilihan yang aman dan tepat untuk obat turun panas dan analgesik pada anak-anak.

Demikianlah kira-kira pemilihan obat analgesik dan antipiretika yang tepat untuk anak-anak. Semoga bermanfaat.





Selebritis narsis di Geronimo 101,6 FM…..

3 11 2009

Dear kawan,

IMG_0211 crop geronimo

sehabis "on air".... (awas kelelep lho..)

Kali ini ceritaku tentang selebriti dadakan yang sedikit narsis.. hehe… yaitu pengalamanku mengisi acara di sebuah radio,  jangan diketawain yaa….. !!Hmm… suer deh, ini pengalaman pertamaku ngisi acara di radio… (Kalo  jadi narasumber di acara TV malah pernah, walau cuma TV lokal Yogya, dalam acara “UGM Berkomunikasi”). Dan ini adalah berkat usaha Mbak Hartati sebagai salah satu bentuk promo buku kami yang berjudul “Bahaya Alkohol dan cara mencegah kecanduannya”… aku sih cuma tinggal brangkat aja. Jadi ceritanya nih malam Senin kemarin aku ngisi acara sebagai bintang tamu di acara “Oh Indahnya Yogya”, yang dipandu oleh Mbak Sondy. Acaranya jam 21-22 malam di Geronimo 101,6 FM, sebuah radio ngetop di Yogya.

Persiapan

Minggu lalu aku menerima e-mail dari Mbak Tati, bahwa beliau sudah mengontak Radio Geronimo untuk bisa punya acara di sana. Salut deh Mbak Tati, .. beliau kreatif dan mencari segala upaya untuk mempromosikan buku kami. Aku sih ngikut saja. Singkat cerita, kami dikasih waktu tg 2 November ini, jam 21-22. Dan karena mbak Tati ada di Yunani, praktis aku deh yang harus berangkat mengisi acara. Hari Jumat aku dikontak mbak Sondy, host-nya, diminta mengirimkan CV dan sinopsis bukunya. Aku sendiri dengan agak-agak narsis menulis status di FB-ku supaya teman-teman mendengarkan siaran Senin malam jam 21-22 di radio Geronimo… haha…..

Hari Senin, hari H siaran, jadwalku lumayan padat sejak pagi. Ada 3 kuliah, malah semestinya 4 kuliah, tapi yang satu lupa (maaf deh, dear students). Aduh, aku mulai start grogi…. atau tepatnya agak tegang, membayangkan apa yang bakal terjadi untuk siaran malamnya. Maklum deh, baru pertama kali, jadi maklum aja… Sorenya setelah selesai kuliah terakhir, aku coba baca-baca lagi tulisanku yang pernah kutulis tentang alkohol. Aku masih belum punya gambaran mau disuruh ngomong apa nanti malam. Aku print beberapa yang kuanggap penting. Untungnya tak berapa lama Mbak Sondy kirim SMS, katanya akan mengirim outline acara nanti malam. Baguslah…, jadi aku punya pegangan…

Habis maghrib, beberapa jam sebelum siaran. Aku check e-mail dari Sondy, yang sempat tertunda karena server error, katanya. Alamaak, … jadi tambah tegang nih …. aku tulis status di FBku…” kayak nunggu ijab kabul aja” haha… Untunglah outline segera aku peroleh, dan aku pelajari bentar apa-apa yang akan dan perlu disampaikan dalam acara nanti. Salah satunya adalah pertanyaan tentang bagaimana aku bisa bekerja sama dengan Mbak Tati dalam menulis buku ini. Aku buka catatanku di blog ini, seingatku aku dulu pernah menulis tentang awal-awal aku diajak mbak Tati menulis (bisa dilihat di sini). Paling tidak aku menemukan data penting tentang sekitar kapan Mbak Tati mulai mengontak aku untuk berkolaborasi. Hmm…. ada gunanya juga nih kutulis semua yang kualami, bisa jadi dokumentasi hidup. Aku juga sempatkan lagi pelajari isi bukuku sendiri ,….. aku ingat hal-hal yang kuanggap penting. Wah, rasanya kayak mau ujian saja… haha… Selebihnya aku pasrah. Dan thanks buat teman-teman yang secara khusus mengontakku lewat FB atau YM untuk memberi semangat dan doa ….. Kayak mau maju perang saja….. !!

Selebriti on air

IMG_0217 dg Sondy geronimo

aku dan Sondy... sesama imut dilarang saling mendahului...

Aku sampai di Radio Geronimo FM sekitar jam 20.40-an. Sepanjang jalan, sambil nyetir  aku mencoba ngomong sendiri tentang alur cerita bagaimana aku bisa berkolaborasi dengan Mbak Tati. Kayak orang gila ngomong sendiri haha….!! Pas banget, ketika aku datang, Mbak Sondy juga datang. Kami ngobrol sebentar mengenai hal-hal yang mau disampaikan nantinya. Keteganganku mulai cair… lagipula mbak Sondy-nya juga ramah mengajak ngobrol. Menjelang jam 21.00, aku diajak masuk ke ruang siaran. Oya, sebelum itu, kami berusaha mengontak Mbak Tati lewat FB agar beliau juga bisa berpartisipasi dalam acara dengan cara menelpon dari Yunani.

Well, acara dimulai…. aku sudah bisa mulai santai… dasarnya aku orangnya santai dan suka juga bercanda, jadi tidak terlalu sulit mengimbangi Mbak Sondy. Malah ada yang komentar, katanya ternyata profesornya gaul juga haha….. Pertama, aku diminta menceritakan bagaimana aku bisa menulis bersama dengan mbak Tati, yang uniknya, kami sendiri bahkan belum pernah bertemu muka!! Ngomong lewat telpon juga cuma sekali. Aku ceritakan bahwa ide penulisan buku ini adalah berasal dari Mbak Tati. Beliau yang mengajak aku menulis. Aku sendiri hanyalah dosen biasa yang kebetulan suka nulis di blog, itu pun tulisan suka-suka aku. Suatu kali aku pernah aku menulis tentang Ginseng Mabur, yaitu kasus meninggalnya beberapa orang di Semarang akibat minum miras oplosan. Mungkin, secara tidak sengaja, mbak Tati menemukan namaku ketika searching di internet, lalu beliau mengontakku. What is a small world!! Kami sangat berterimakasih dengan penemu teknologi informasi canggih sekarang ini, yang memungkinkan dua orang yang berada di benua berbeda bertemu untuk menulis bersama. Dan kayaknya seperti itulah pertemuan jodoh hehe…… kayak ada chemistry-nya…. kami segera klik untuk menulis dan berbagi tugas penulisan. Tapi dari mbak Tati sendiri bahannya sudah banyak sekali, jadi sebenarnya aku lebih banyak melengkapi apa-apa yang sudah ditulis mbak Tati, terutama kalau berkaitan dengan masalah kesehatan.

Hm.. sesi-sesi berikutnya dalam siaran mengalir lancar. Sayangnya Mbak Tati tidak bisa terlalu lama bergabung lewat telepon. Yunani terlalu jauh kali yaa… jadi ada jeda antara waktu bicara dan suara yang sampai, jadi kadang suaranya tidak terdengar jelas. Apalagi ternyata paginya, Mbak Tati baru kena musibah.. kecurian laptop di rumahnya karena lupa kunci pintu ketika belanja. Wah, turut prihatin, Mbak…

Di satu sesi, Mbak Sondy memintaku menceritakan tentang kisah pecandu alkohol di berbagai belahan dunia. Di buku memang sudah dituliskan, dan itu merupakan cerita nyata yang diperoleh dari berbagai kontributor kami yang ada di berbagai negara. Terimakasih untuk para kontributor buku kami.  O,ya… ini juga salah satu kehebatan Mbak Tati sebagai penulis senior, yaitu memanfaatkan jaringan koneksinya dengan banyak teman di berbagai negara, sehingga mereka mau menyumbangkan tulisannya tentang kisah-kisah pecandu alkohol di berbagai negara, termasuk di beberapa daerah di Indonesia.   Dalam siaran kemaren, aku menekankan pada contoh kisah tragis mundurnya seorang Menteri Keuangan Jepang, Soichi Nakagawa, karena mabuk pada KTT G7 di Roma Italia pada bulan Pebruari 2009. Bukan mabuknya yang dimasalahkan, orang Jepang mah udah biasa mabuk. Tapi dengan mabuk nya itu sang Menteri tidak bisa menjawab pertanyaan pada konferensi pers dengan tepat dan itu malu-maluin banget negara Jepang. Dan itu memicu komentar yang keras di dalam negerinya, sehingga Pak Menteri memilih mengundurkan diri. Beritanya bisa dilhat di sini.

IMG_0204-crop

aku dan sang buku...

Pertanyaan yang masuk lewat SMS banyak sekali….. tapi waktunya terbatas, jadi tidak bisa semua terjawab. Maaf ya teman-teman, mudah-mudahan sudah cukup mewakili. Oya, untuk menjawab pertanyaan2 itu memang harus pandai-pandai mencari peluang untuk “ngepek buku” hehe… Alhamdulillah, diberi kelancaran. Tentu masih ada satu dua pertanyaan yang tidak memuaskan jawabannya, karena kemampuan dan ingatanku juga terbatas. Oya lagi, yang kirim pertanyaan, yang beruntung bisa dapat buku ini gratis loh…!

Aku menangkap bahwa antusiasme masyarakat ternyata cukup besar, terbukti dari banyaknya SMS yang masuk. Itu menunjukkan bahwa masalah alkohol memang masalah kita bersama, yang seperti fenomena gunung es. Banyak juga yang menanyakan bagaimana menghentikan kecanduan, karena bolak balik kembali lagi kepengin minum. Aku sampaikan bahwa ada beberapa cara mencegah kecanduan, tetapi sangat penting adalah niat dari diri sendiri. Jika tidak berhasil, bisa dilakukan terapi psikologis atau medis, yang tentunya harus dilakukan oleh orang yang kompeten di bidangnya.

Well, sudah cukup banyak contoh yang merugikan akibat penggunaan alkohol. Dan mau minum atau tidak, itu sebenarnya adalah pilihan hidup. Kalau kita sudah melihat banyaknya pengalaman buruk orang lain karena bahaya alkohol, mengapa kita harus merasakannya sendiri? Bodoh bukan? Dan kita tidak perlu berurusan dengan masalah alkohol dulu untuk membeli buku ini. Kita bisa berbagi ilmu dengan buku ini, untuk mengajak yang lain menghindari bahaya alkohol. Mudah-mudahan bermanfaat dan menjadi pahala yang tiada putus. Amien.

Yah, begitulah sedikit ceritaku ketika menjadi selebritis dadakan di radio Geronimo Senin malam kemarin. Dan apa narsisnya?… aku sempat foto-foto juga yang bisa Anda lihat di posting ini…. hehe…





My note (3): Ballarat journey..

24 10 2009

Dear kawan,

IMG_0115-crop

Menuju Ballarat city....

Judul posting ini mengambil nama sebuah kota kecil berjarak 110 km di barat Melbourne. Sama dengan Bendigo yang aku kunjungi dua hari lalu ketika melawat ke Fakultas Farmasi La Trobe University, kota ini merupakan salah satu kota bersejarah di Australia terkait dengan penambangan emas jaman dulu. Pada tahun 1851, John Dunlop dan James Regan menemukan beberapa ons emas di sungai Canadian di daerah Ballarat, dan saat itulah dianggap sebagai awal dari sejarah perburuan emas terbesar di dunia dan telah mengubah wajah Australia….. Ballarat saat ini menjadi kota yang cukup banyak dikunjungi wisatawan, karena memiliki berbagai tempat yang menarik. Ada Eureka Center, yang menggambarkan penemuan emas jaman dulu, ada observatorium, castle, Botanical garden, dll. Nama Ballarat yang terdengar agak aneh di telinga itu adalah berasal dari bahasa Aborigin: “Balla Arat”, yang artinya istirahat (rest) atau tempat berkemah ( “camping place”).

Yah,…. setelah tiga hari bekerja keras mikirin negara (haha…..), hari Sabtu ini kami memanfaatkan waktu untuk menambah wawasan tentang Australia,.. maksudnya jalan-jalan gitu loh… hehe.. Kami dijadwalkan pergi ke Ballarat, untuk bertemu dengan kanguru dan koala…..setelah sebelumnya bertemu dengan para profesor dan doktor dari Monash dan La Trobe University..

Namun sebelum ke Ballarat, kami akan menengok Festival Indonesia dulu, sebagai bentuk kecintaan kami pada negeri kita haha…. (gayane..). Pagi-pagi jam 10an dengan dipandu oleh dik Ika, kami berjalan menuju Federation Square, sekitar 10 menit jalan kaki dari Hotel, di depan Flinder Street Station. Di sanalah tempat diselenggarakannya Festival Indonesia, yang memperagakan berbagai budaya Indonesia di sebuah panggung besar. Wah, pas sekali, kami datang pas ada Festival Indonesia. Alhamdulillah, …. cuaca sangat bersahabat. Langit biru cerah dengan suhu yang cukup hangat. Di Federation Square sudah cukup ramai. Selain orang Indonesia sendiri, banyak juga orang-orang bule lainnya yang nonton dan ikut berpartisipasi disitu. Banyak stand-stand yang menjual makanan Indonesia. Dan ternyata banyak tuh, orang Indonesia yang ada di Melbourne… baik yang tinggal untuk studi atau yang menjadi permanent resident. Melbourne nampaknya memang tempat yang nyaman untuk tinggal. Dengan banyaknya universitas di kota ini, industri pendidikan merupakan salah satu motor perekonomian di sini. Perlakuan pada orang-orang dengan multikultur cukup baik, karena sudah biasa menghadapi orang dari berbagai negara.

Hmm… Setelah sempat menikmati empek-empek Palembang dan melihat-lihat sejenak, kami pergi menuju stasiun Southern Cross  untuk naik kereta menuju Ballarat. Setelah membeli tiket ke Ballarat yang harganya 28 dolar AUD, kami berempat pun memulai perjalanan ke Ballarat yang memerlukan waktu sekitar 75 menit dari Melbourne. Perjalanan cukup asyik aja, tapi yah… hampir sama seperti perjalanan ke Bendigo. Sesekali kami menjumpai peternakan domba atau sapi dari kejauhan. Bunga-bunga yang tidak diketahui namanya bermekaran indah mewarnai musim semi… kuning, ungu, merah muda, dll…

Oya, ada yang menarik sepanjang perjalanan kami di dalam kota Melbourne menuju stasiun. Aku melihat banyak wanita-wanita muda dengan baju resmi dan indah mengenakan topi bulu atau topi bunga bergerombol di pinggir jalan beserta para pria yang berbaju resmi pula. Olala…. ternyata mereka menunggu jemputan untuk  menonton pacuan kuda. Kata dik Ika, orang sini kalau mau nonton pacuan kuda pasti pake baju dan dandan heboh…. pernah kan lihat kaya gitu di TV ?..  Ya, kebetulan memang saat ini ada Melbourne Spring Carnival…. pacuan kuda bergengsi yang diselenggarakan sekali setahun pada musim semi, dan jadi tempat taruhan orang-orang berduit kelas dunia. Hm… aneh-aneh aja ya di dunia ini….

Koalanya yang kiri apa kanan ya?

Koalanya yang kiri apa kanan ya?

Tempat yang dituju di Ballarat tak lain adalah Ballarat Wildlife Park, sebuah taman yang penuh dengan kanguru, dan beberapa hewan lain yang ada dalam kandang, termasuk koala, wombat, emus, dan aneka reptil. Kanguru di Ballarat Wildlife Park ini tersebar bebas di lapangan yang cukup luas. Kita boleh memberi makan langsung pada kanguru dengan makanan yang sudah disediakan. Koala tidak sebebas kanguru, karena mereka cukup sensitif dan berbahaya jika merasa terganggu. Cakarnya yang tajam bisa merobek kulit kalau ia marah, jadi ketika kami berfoto bersama koala, ada petugas yang memandu dan mengarahkan. Lumayan lama berjalan-jalan di sini, kami kembali ke Melbourne jam 4 sore waktu setempat.

Yah, lumayan capek hari ini… tetapi cukup menyenangkan. Masuk hotel lagi jam 18.30an karena harus berjalan lumayan jauh dari stasiun ke hotel, lalu kumulailah menulis posting ini dan sebentar lagi mesti siap-siap packing untuk pulang besok. Cerita tentang cari oleh-oleh di Victoria Market sengaja tidak aku tuliskan …. takut ntar pada minta oleh-oleh…hehe…. sangunya terbatas je..

See you later in the next posting from Yogyakarta….





My note (2): Ke Monash dan La Trobe University

23 10 2009

Dear kawan,

Pertama kali menginjakkan kaki ke Melbourne, kami disambut hawa yang sejuk mendekati dingin. Pesawat Airbus 380 dengan kode SQ227 yang membawa kami mendarat mulus di airport pada pukul 10 waktu setempat. Alhamdulillah…. Urusan imigrasi tidak terlalu lama, tapi yang agak lama justru menunggu bagasi datang. Keluar dari Bandara sudah jam 11 lebih, padahal kami punya janji untuk ketemu Gregory Duncan jam 12.15. Jadilah kami cuma cuci muka tanpa sempat ganti baju lagi, segera meluncur ke Faculty of Pharmacy and Pharmaceutical Science Monash University. Kami dijemput dik Ika, kolega yang sedang studi S3 di sana, jadi ngga sampai nyasar….

nampang sebentar di depan Monash University (kiri: Prof Lukman, kanan: Prof Subagus)

nampang sebentar di depan Monash University (kiri: Prof Lukman, kanan: Prof Subagus)

Dengan pede walaupun gak mandi, kami sampai juga di Monash Uni di Parkville, dan kami sempatkan ke cafe bentar sambil menunggu waktu ketemu Greg. Aku SMS Greg bahwa kami menunggu di Primary Cafe yang ada di kampus tersebut. Tepat jam 12.15an, Greg datang menjumpai tamunya yang lusuh-lusuh ini, dan membawanya ke tempat pertemuan. Di situ, sesuai dengan pembicaraanku sebelumnya via e-mail, kami ingin melihat bagaimana pelaksanaan Journal Club untuk Evidence-based Practice, khususnya untuk mahasiswa S2 di bidang Farmasi Klinik.

Journal club EBP

For your info, evidence-based practice di dunia kefarmasian adalah adopsi dari evidence-based medicine yang berkembang di bidang kesehatan kedokteran. Maksudnya adalah bahwa praktek penatalaksanaan terapi suatu penyakit haruslah berdasarkan evidence, yaitu suatu bukti ilmiah yang sudah ditelaah dengan teliti. Biasanya berupa suatu hasil uji klinik obat tertentu, yang artinya uji pada manusia untuk memastikan efek suatu obat. Tidak bisa lagi berdasarkan pengalaman saja, atau ilmu yang sudah lewat bertahun-tahun. Farmasis atau apoteker memang tidak secara langsung memberikan pengobatan kepada pasien, namun sebagai bagian dari tim kesehatan, farmasis berhak dan berwenang memberikan saran kepada dokter mengenai pilihan pengobatannya, dan turut serta memonitor perkembangan kesehatan pasien. Itu yang terjadi di banyak negara maju. Untuk itu, apotekerpun harus selalu mengikuti perkembangan pengobatan terbaru yang berdasarkan bukti tadi. Dan untuk ini, Greg menggunakan istilah evidence-based practice untuk pharmacist.

Nah kawan,

Tidak semua publikasi tentang suatu uji klinik (yang dianggap sebagai evidence) ternyata cukup valid dan sesuai dengan situasi pasien tertentu. Untuk itu, seorang farmasis harus punya kekritisan untuk menilai validitas suatu publikasi di dalam sebuah jurnal. Itulah yang menjadi aktivitas jurnal club yang dipandu oleh Greg yang kami sempat ikuti. Semua peserta diskusi harus mempresentasikan hasil evaluasinya mengenai suatu paper tertentu yang dipilihnya sendiri dan disetujui oleh Greg.

Adapun kriteria evaluasinya adalah meliputi: 1. Kriteria validitas : Apakah hasil studinya valid? Hal ini bisa diamati dari beberapa hal, misalnya: apakah kelompok kontrol dan kelompok perlakuan memiliki prognosis yang sama, apakah ada randomisasi, apakah pasien pada kelompok perlakuan memiliki faktor prognosis yang sama dengan kelompok kontrol, dsb. 2. kriteria kepentingan: Seperti apa hasil studinya? Apakah hasilnya positif atau tidak, seberapa signifikan hasilnya, dll. 3. Kriteria aplikabilitas : Bagaimana saya bisa mengaplikasikan hasil studi ini pada pasien yang saya hadapi? Jika melihat kriteria inklusi dan ekslusi pasien, apakah hasil studi sesuai dengan pasien kita atau tidak, apakah hanya valid untuk keadaan pasien tertentu saja, dll. Contohnya, jika suatu studi klinik hanya dilakukan pada pasien yang hanya memiliki satu jenis penyakit saja, tentu tidak mudah mengaplikasikan hasil studi tersebut untuk pasien yang mengalami multiple disease.

Yah, semacam itulah…. aku rasa yang sangat penting adalah bagaimana kita tidak selalu menelan bulat-bulat (emangnya bakso..) semua informasi yang diperoleh, walaupun itu diterbitkan dalam jurnal ilmiah. Perlu ada kekritisan yang didukung dengan logika berpikir yang baik, sehingga tidak salah dalam menerapkan suatu informasi untuk suatu keadaan tertentu. Lepas dari itu, yang menarik dari jurnal club ini adalah pelaksanaannya yang menggunakan teknologi teleconference. Jadi peserta jurnal club sendiri yang ada di Melbourne kemaren ada 3 orang, sedang yang 2 lagi berada di Hongkong dan New Zealand. Dan mereka bisa berinteraksi secara real time untuk berdiskusi mengenai hasil analisis masing-masing. Hm… canggih kan? Kayaknya kapan-kapan perlu diterapkan nih… hehe…

Bertemu dengan Prof Nation cs

monash

delegasi bersama Prof Stewart dan Assoc Prof Marriot

Dari ruangan jurnal Club, kami dibawa bertemu dengan Prof Peter Stewart (Deputy Dean untuk urusan Pendidikan) dan Assoc Prof. Jennifer Marriot (Director of Bachelor Program) di Faculty of Pharmacy and Pharmaceutical Sciences, Monash University. Kami berbincang tentang berbagai hal tentang kegiatan pendidikan di Monash, baik untuk program pasca maupun bachelor. Kami sempat dipamerin ruangan untuk Virtual Practice, di mana di ruangan itu ada 3 screen lebar yang digunakan untuk memutar film seperti keadaan suatu apotek yang sebenarnya. Student akan praktek disitu berlatih untuk melaksanakan pelayanan kefarmasian. Sebetulnya sih di UGM nggak kalahlah…. secara subtansi, mata kuliah yang diajarkan hampir sama saja. Lulusannya pun cukuplah bisa diandalkan. Yang lebih utama sebenarnya adalah setelah lulus jadi apoteker. Organisasi profesi harus cukup kuat taringnya untuk mengatur praktek pelayanan kefarmasian di lapangan, karena akademisi sudah tidak bisa menjangkau lagi hal-hal yang terjadi di luar fakultas..

Satu hal yang menarik juga adalah pendidikan Bachelor (S1) farmasi Monash juga ada yang diselenggarakan di Malaysia. Untuk tujuan lebih menginternasional, mereka membuka “cabang” Monash yang standardnya sudah ditetapkan seperti di Monash Australia.

Setelah selesai dengan Prof Stewart, kami ketemu Prof Roger Nation. Beliau Director of Center of Medicine Use and Drug Safety. Beliau lebih banyak cerita tentang riset di sana. Ada dua pusat riset utama, yaitu Monash Institute of Pharmaceutical Science (MIPS) dan Center of Medicine Use and Safety (CMUS). Dari namanya udah keliatanlah, bahwa yang satu mengkover riset-riset pengembangan obat, sedangkan satunya riset-riset tentang penggunaan obat pada manusia. Pertemuannya sampai jam 16 sore waktu setempat. Aduh… sampai sini aku agak ngantuk hehe… dan lapar. Karena sejak sarapan pagi di pesawat (sahur kali ya…) siangnya belum berisi apa-apa lagi kecuali secangkir hot chocolate di cafe tadi. Akhirnya, seusai pertemuan kami menuju hotel untuk check ini dan istirahat.

Malamnya kami diundang oleh teman-teman Indonesia yang ada di Melbourne untuk makan malam di rumah Pak Mulyoto. Pak Mulyoto adalah dosen sebuah PTN di Indonesia yang setelah menyelesaikan PhD-nya menjadi permanen residen di sini dan bekerja di Monash University. Wah, kami disuguh barbeque daging kambing yang lezat, dan aneka makanan lain… Kami berbincang sampai jam 23 malam… Oya, jangan heran ya…. jam 23 malam di sini itu bisa dibilang belum terlalu larut…. Lhah, maghribnya aja jam 20-an, Isya jam 21an….

Ke La Trobe

harvey Yaris

Bersama Dr Harvey dan Yaris putihnya di Bendigo

Hari kedua ini kami punya acara untuk berkunjung ke Fakultas Farmasi La Trobe University. Dr Ken Harvey yang aku kontak sebelumnya very kindly drove us ke Bendigo, sebuah kota kecil berjarak 2 jam dari Melbourne, di mana fakultas farmasi berada. Dr Harvey menjemput kami di hotel dengan mobil Yaris putihnya. Jalan dari Melbourne ke Bendigo sangat mulus, di samping kiri kanan dihiasi pohon-pohon pinus dan padang hijau luas. Untungnya kami datang pas musim semi, jadi banyak bunga-bunga yang bermekaran. Tapi yah…. sebenarnya perjalanannya agak membosankan sih hehe… karena daerahnya datar, tidak banyak variasinya. Aku sendiri malah terkantuk-kantuk dan sempat tertidur, gara-gara paginya minum obat flu. Yah, flu yang aku peroleh sejak sebelum berangkat ternyata masih berlanjut di Melbourne.

Bendigo merupakan kota tua bekas penambangan emas jaman dulu. Kotanya cantik dan bersih, unik dengan perpaduan gedung-gedung kuno dan gedung jaman sekarang. Tapi alamaak…. sepi benar..!! Trotoar jalan sepi tak banyak orang berlalu lalang, apalagi pedagang kaki lima kayak di Yogya heheh…. Kayaknya sih aku ngga bakalan betah tinggal di sana….

Kami disambut cukup meriah oleh Prof Ken Raymond, perintis Fakultas Farmasi di La trobe University, yang aku kontak sebelumnya, dan beberapa staf dosen lainnya. Dengan suguhan aneka sandwich dan buah, kami berbincang berbagai hal tentang pendidikan dan riset. Kami sepakat untuk menjalin kerjasama lebih lanjut dan akan mencoba bertukar informasi tentang pendidikan dan riset. Secara kebetulan, salah satu riset yang lagi dikembangkan disana adalah tentang farmakogenetik, yang sekarang lagi jadi perhatianku. Mudah-mudahan saja deh, akan ada kerjasama yang lebih riil di kemudian hari. Amien.

City “tour”

Kami sampai kembali ke Melbourne jam 4 sore waktu setempat, diantar oleh Dr Harvey. Perut lapar membawa kami ke sebuah Restoran Thai… Hm, dingin-dingin dan sedikit flu enaknya makan yang panas dan segar nih…. Jadilah sup Tom Yam sea food asli Thai kupilih untuk mengisi perut… hmm, rasanya mantaap!! Setelah balik ke hotel sejenak untuk sholat, kami bertiga janjian untuk keluar lagi jalan-jalan di sekitar kota. Jam 6 sore di sini suasananya masih seperti jam 4 sore di Indonesia. Jadi kami pun berjalan mengeksplorasi Melbourne… benar-benar jalan kaki, plus sekali naik trem yang gratisan. Sayangnya sebagian toko di Melbourne sudah tutup…. Yah, kami jalan-jalan aja menembus dingin sampai jam 9 malam sambil sesekali mampir toko yang masih buka untuk lihat-lihat… Melbourne masih ramai dengan anak-anak muda yang berjalan-jalan. Wah, bajunya macam-macam….. ada yang sesuai dengan suhu, ada juga yang melawan berani melawan cuaca hehe…. Lhah, bajunya mini tak berlengan pula, bagaimana kalau musim panas ya?

Well, itulah cerita hari pertama dan kedua di Melbourne. …





Burundanga dalam kartu nama, is that true?

19 10 2009

Dear kawan,

Di sela-sela persiapanku menuju Melbourne esok pagi, malam ini aku membaca e-mail dari seorang kawan, yang mengingatkan adanya kejadian “kartu nama beracun”…..  Wah, kalau urusannya sama obat, indera laba-labaku berdencing hehe.. kaya Spiderman aja…. Jadi penasaran dan pengen tau…..

Isi e-mail selengkapnya seperti ini:

Seorang pria menghampiri seorang wanita yang sedang mengisi bensin dan menawarkan jasanya sebagai pengecat serta memberikan kartu namanya. Wanita itu menolaknya namun menerima kartu nama tersebut karena sopan santun. Pria tersebut kemudian masuk ke sebuah mobil yang dikemudikan pria lain. Pada saat wanita itu meninggalkan Pompa Bensin, dia melihat bahwa pria tersebut juga meninggalkan pompa bensin tersebut pada saat yang bersamaan. Hampir seketika, wanita tersebut merasa pusing dan kesulitan untuk bernapas. Dia mencoba untuk membuka jendela mobil dan kemudian menyadari bahwa bau tersebut berasal dari tangannya. Tangan yang sama dengan tangan yang ia gunakan pada saat menerima kartu nama dari pria di Pom Bensin tersebut. Wanita tersebut menyadari bahwa pria di pom bensin tersebut berada tepat dibelakang mobilnya dan ia merasa harus melakukan sesuatu pada saat itu juga. Wanita itu kemudian menepi ke jalan masuk rumah yang pertama ia temui dan memencet klakson mobilnya berulang-ulang untuk meminta tolong. Laki-laki yang membuntuti wanita tersebut kemudian melarikan diri tapi wanita tersebut masih merasa sangat pusing setelah beberapa menit sampai akhirnya dia dapat bernapas dengan normal. Sepertinya ada sesuatu yang terdapat pada kartu nama tersebut yang dapat menyakitinya. Obat ini disebut dengan “Burun Danga” dan ini digunakan oleh orang yang ingin melumpuhkan korbannya untuk mencuri dari korban tersebut atau memanfaatkannya. Obat ini empat kali lipat lebih ampuh dari ate rape drug (sorry ga ketemu terjemahan yang pas) dan dapat ditransfer kepada korban dengan sebuah kartu yang sederhana. Jadi harap untuk memperhatikan hal ini dan jangan menerima kartu pada saat anda sendiri atau di jalanan. Ini juga berlaku untuk orang yang tak dikenal yang datang ke rumah anda dan memberikan kartu nama pada saat menawarkan jasa mereka. Mohon kirim e-mail ini untuk memperingati semua wanita, atau bahkan pria yang anda kenal.

Nah, segera aku mencoba mencari informasi dengan keyword ”burundanga”… terus terang itu merupakan kata asing bagiku. Ternyata aku banyak menjumpai e-mail serupa dengan berbagai versi cerita. There must be something wrong nih…… is that true??

Apakah Burundanga?

tanaman penghasil burundanga

tanaman penghasil burundanga

Burundanga adalah nama jalanan dari obat yang disebut scopolamine (skopolamin).  Skopolamin sendiri berasal dari ekstrak tanaman Datura, Brugmansia species, dan Duboisia species. Temasuk keluarga terong-terongan dengan bunga berbentuk terompet. Ia merupakan komponen aktif dari tinctura Beladona, suatu obat jaman dulu, yang sering digunakan untuk anti kram usus dan obat asma. Skopolamin pertama kali diisolasi oleh saintis Jerman. Senyawa ini bekerja sebagai antagonis reseptor asetilkolin muskarinik, dan dulu banyak dipakai secara medis untuk anti mabuk perjalanan, mual muntah, anti kram perut, dan obat asma. Ia digunakan dalam dosis kecil (satuan miligram). Jika digunakan dalam dosis yang cukup besar, ia dapat menyebabkan efek delirium, semacam bingung, disorientasi, kehilangan memori, dan halusinasi.

Bagaimana penggunaan burundanga?

Di Amerika Selatan, terutama Columbia, burundanga digunakan untuk memicu kondisi “trance” pada sebuah acara ritual setempat. Laporan bahwa obat ini digunakan untuk aktivitas kriminal pertama kali ditemui di Columbia pada tahun 1980an. Menurut sebuah artikel dari Wall Street Journal tahun 1995, sejumlah kegiatan kriminal yang menggunakan burundanga meluas pada tahun 1990an. Skenario umumnya adalah seseorang ditawari minuman yang sudah diberi serbuk skopolamin ini. Tau-tau koban dijumpai telah berjalan bermil-mil tanpa mengenal atau teringat apa-apa. Umumnya korban telah kehilangan hartanya, baik uang, perhiasan, atau mobil, dll. Selain dimasukkan dalam minuman, korban bisa juga dipaksa menghirup, atau ditaburi mukanya sehingga ia terpapar dengan senyawa tersebut. Bisa juga terjadi kejahatan seksual, di mana korban (wanita) selain dipreteli perhiasannya, juga diperkotek-kotek….

Kembali kepada e-mail tadi, apakah cerita dalam e-mail itu benar?

Benarkah burundanga memang biasa dipakai untuk kejahatan di Amerika Latin? Jawabnya ya. Wall Street Journal tahun 1995 melaporkan bahwa penggunaan burundanga untuk kriminal cukup meningkat di AS yang dilakukan oleh para imigran asal Kolumbia. Bahkan ada semacam “warning” bagi orang-orang yang akan melancong ke Kolumbia, supaya hati-hati akan adanya kejahatan dengan modus operandi penggunaan burundanga ini.

Namun ada beberapa hal yang menyebabkan cerita di atas agak meragukan……. 

serbuk burundanga

serbuk burundanga

Pertama, disebutkan bahwa wanita tadi segera mengalami pusing dan kesulitan bernafas segera setelah memegang kartu nama tersebut. Ini agak aneh, karena burundanga harus terhirup atau tertelan untuk bisa menghasilkan efek. Kalaupun melalui kontak secara topikal (lewat tangan yang memgang kartu nama), butuh waktu lama untuk bisa menghasilkan efek.

Kedua, korban disebutkan mencium bau yang berasal dari tangan yang memegang kartu nama tersebut. Ini juga agak tidak masuk akal karena burundanga itu tidak berasa dan tidak berbau.

Begitulah kawan, yang bisa kutuliskan tentang penjelasan rumor tentang burundanga……

Anyway, terimakasih atas kepedulian teman-teman yang telah menyebarkan e-mail tesebut untuk mengingatkan teman-temannya. Namun dalam beberapa hal memang perlu ada kekritisan ketika menerima suatu informasi.

Namun demikian, walaupun cerita dalam e-mail tadi meragukan, ada baiknya tetap waspada, karena kejahatan ada di mana-mana dengan berbagai modus operandinya. Tapi juga tidak usah terlalu paranoid, kita punya pelindung yang Maha Kuat…. Jika kita selalu berserah diri dan memohon, Insya Allah Dia akan melindungi kita dari kejahatan mahlukNya. Amien.





Sekilas tentang Vertigo..

14 10 2009

Dear kawan,

vertigo

vertigo

Pernah merasa bumi terasa berputar gitu? Ngliyeng mau jatuh? Hm.. alhamdulillah, aku belum pernah. Tapi sering denger teman-teman ada yang menceritakan keluhannya. Mbak Nia temanku sedang menderita Vertigo, dan menginspirasi tulisan pendek ini. Semoga cepet sembuh, Jeng….

Apakah vertigo termasuk jenis sakit kepala seperti migrain? Ternyata bukan. Vertigo adalah salah satu jenis penyakit yang ditandai dengan gangguan ilusi gerakan. Jika yang terasa berputar adalah diri sendiri, disebut vertigo subyektif. Kalau yang berputar adalah lingkungan sekitarnya, disebut vertigo obyektif.

Apa penyebab vertigo?

 Vertigo disebabkan karena gangguan keseimbangan di telinga bagian dalam (alat keseimbangan, atau bagian vestibular) atau mungkin di otak. Bentuk paling sering dari vertigo adalah  Benign paroxysmal positional vertigo (BPPV), yaitu adanya ilusi gerakan yang disebabkan oleh gerakan kepala secara mendadak atau gerakan kepala ke arah tertentu. Jenis seperti ini umumnya tidak berat dan dapat diatasi.

Penyebab lain dari vertigo adalah peradangan pada telinga bagian dalam (labirinitis), yang ditandai dengan kejadian vertigo yang tiba-tiba dan kadang diikuti dengan kehilangan pendengaran. Penyebab paling sering adalah infeksi viral atau bakteri. Beberapa penyakit lain juga bisa menyebabkan vertigo, seperti Meniere disease, perdarahan di otak, multiple sclerosis, cedera kepala, dan migrain.

Apa gejalanya?

Pada umumnya penderita akan merasakan sensasi gerakan seperti berputar, baik dirinya sendiri atau lingkungan yang berputar. Selain itu, kadang ada juga yang disertai gejala mual atau muntah, berkeringat, dan gerakan mata yang abnormal. Gejala ini bisa terjadi dalam satuan menit atau jam, dapat bersifat konstan atau episodik (kadang-kadang). Ada pula yang merasakan telinga berdering, gangguan penglihatan, lemah, sulit bicara, atau kesulitan berjalan.

Kapan perlu mendapatkan penanganan medis dan apa obatnya?

Semua gejala dan tanda vertigo perlu dievaluasi oleh dokter. Sebagian besar penyebab vertigo tidak berbahaya, dan pada umumnya dapat diatasi dengan pengobatan. Pilihan obatnya tergantung dari diagnosisnya (jenis vetigo) dan penyebab vertigonya. Misalnya jika terjadi infeksi bakteri pada telinga dalam, tentu butuh antibiotika. Obat-obat yang umum dipakai untuk vertigo adalah: meclizine hydrochloride (Antivert), diphenhydramine (Benadryl), promethazine hydrochloride (Phenergan), dan diazepam (Valium)

Terapi alternatif?

Berbagai terapi non-obat dapat dicoba untuk mengatasi vertigo, mulai dari penggunaan obat herbal, akupuntur, meditasi, yoga, pengaturan diet, tai chi, sampai terapi spiritual. Setiap orang bisa memilih mana yang lebih cocok.

Namun sekali lagi, lepas dari semua usaha secara medis maupun nonmedis, jangan lupa memohon pada Pemberi Hidup dan Kesembuhan, karena Dialah yang akan memberi kesembuhan.

 Demikian semoga bermanfaat.





Menikmati shabu-shabu…

26 09 2009

Dear kawan,

metamfetamin HCl alias shabu-shabu

metamfetamin HCl alias shabu-shabu

Siapa yang belum pernah dengar istilah shabu-shabu ? Kata ini sangat terkenal dan dikaitkan dengan nama satu jenis drugs yang sering dipakai oleh pengguna narkoba atau NAPZA. Tentu kalian masih ingat dengan kasus yang cukup meramaikan dunia selebriti kita yaitu kasus Roy Marten, yang sampai harus dua kali mendekam di hotel prodeo. Dan di luar dunia selebriti, pasti kasus serupa mudah dijumpai setiap hari di media.

Hmm, kawan, ….

Ngomong tentang shabu-shabu, aku mengenal dekat seorang mantan pengguna shabu-shabu yang alhamdulillah kini sudah memilih jalan lurus dan hidup lebih sehat :) .  Katanya lebih baik jadi mantan “penjahat” daripada mantan penjahit ….eh salah… mantan orang  baik. Iyalah,…..  mudah-mudahan kita semua diberi hidup yang khusnul khotimah (akhir yang baik). Amien..hehe…..  Tulisan ini aku dedikasikan untuknya (thanks.. for what we’ve shared), untuk mantan pengguna lainnya, untuk yang lagi berpikir untuk mencoba, dan yang tidak mau mencoba sama sekali. Aku ceritakan pula pengalamanku mengkonsumsi shabu-shabu….

Apa itu shabu-shabu?

Shabu adalah nama slank dari salah satu obat yang sering dipakai para druggist. Selain shabu, masih banyak jenis obat lain yang sering dipakai.  Nah, shabu-shabu ini termasuk stimulan sistem saraf, dengan nama kimia methamphetamine hidroklorida, yaitu turunan dari senyawa stimulan syaraf amfetamin. Selain shabu, turunan amfetamin yang sangat ngetop untuk dipakai adalah ecstassy atau metilen dioksi metamfetamin (MDMA).

Tau nggak riwayatnya? Pada jaman perang dunia kedua, tahun 1940an, Pemerintah Jepang membagikan amfetamin kepada pada tentara, pelaut, pilot, dan para pekerja pabrik untuk memperkuat stamina mereka menghadapi perang. Pilot-pilot pada saat itu secara rutin menggunakan obat ini untuk tetap waspada dan terjaga selama perjalanan panjang untuk misi pengeboman. Setelah tahun 1945, sejumlah besar obat ini yang semula hanya digunakan oleh militer membanjiri pasar.

Pada tahun 1950-1960, di Amerika Serikat,  tablet metamfetamin yang diproduksi secara legal banyak dipakai oleh mahasiswa, sopir truk, dan atlet, untuk tujuan meningkatkan stamina, yang umumnya tidak menjadikan ketergantungan yang berlebihan. Namun pola ini berubah drastis ketika tahun 1960an mulai tersedia metamfetamin injeksi. Dan sejak itu penggunaan amfetamin meningkat tajam untuk tujuan-tujuan “rekreasional”. Metamfetamin jalanan dikenal dengan nama : speed, meth, crank. Selanjutnya muncul metamfetamin hidroklorid yang berbentuk kristal, yang dapat dihirup, yang dikenal dengan nama “ice”, crystal, glass, atau shabu-shabu ini. Efek fisiologis dan psikologis shabu dan zat-zat stimulan syaraf lainnya mirip dengan kokain, yaitu mengurangi kelelahan, meningkatkan kewaspadaan, dan menekan nafsu makan.

Secara farmakologi, amfetamin dan turunannya bekerja dengan meningkatkan aktivitas neurotransmiter norepinefrin dan dopamin dengan cara memblokade re-uptakenya di ujung saraf. Dua neurotransmiter ini bekerja pada sistem saraf simpatis meningkatkan kewaspadaan, meningkatkan denyut jantung, meningkatkan pernafasan, dll. Metamfetamin yang dihirup atau disuntikkan memberikan sensasi yang digambarkan sebagai “extremely pleasurable”, yang disebabkan efek halusinogennya.

Berbentuk bubuk kristal, shabu digunakan dengan cara dibakar dan dihisap dengan alat khusus yang disebut bong. Menurut sebuah sumber, harga shabu-shabu 1 gr  saat ini sekitar Rp. 1,7 juta. Kristal ini paling banyak digemari karena relatif tidak ada sakauwnya (dibandingkan heroin/putaw, atau kokain). Kalau lagi nagih hanya gelisah, tidak bisa berpikir dan bekerja, merasa kelelahan, dll. Menurut narasumber yang pernah menggunakan, awalnya ia menggunakan shabu ini untuk meningkatkan stamina. Bisa kuat tidak tidur dan tidak makan berhari-hari, lebih bersemangat, aktivitas seksual meningkat, dll.

Apa bahayanya?

Bahaya shabu-shabu memang tidak sebesar kokain atau heroin. Menurut narasumberku yang pernah menggunakan, dia bahkan tidak pernah mendengar cerita ada orang yang meninggal karena shabu. Dan menurutnya tidak ada istilah OD (overdosis) dalam penggunaan shabu, banyak sedikit sama saja efeknya.  Efek negatif yang paling sering dirasakan adalah paranoid,… rasa ketakutan yang berlebihan, atau sebaliknya kesenangan yang berlebihan. Namun bagaimanapun secara farmakologi, intoksikasi shabu bisa berakibat fatal, yaitu kematian. Pemakai mungkin akan mengalami peningkatan denyut jantung yang cepat, peningkatan pernafasan, peningkatan tekanan darah, dan mungkin bisa mengalami perdarahan otak akibat tekanan darah yang tinggi. Juga bisa terjadi peningkatan suhu tubuh (hiperthermia) dan kejang-kejang yang bisa berakibat koma, dan kemudian titik, alias koit hehe….. (walaupun kejadian ini mungkin tdk terlalu banyak).

Lah… kalo cuma mau meningkatkan stamina kan banyak cara lain yg lebih sehat dan kurang beresiko kan?

Hm… tapi pasti tak ada yang mengira ya kalau aku juga pernah mengkonsumsi shabu-shabu?? Beneran tuh..???!!

Iya, bener… begini ceritanya……

Menikmati shabu-shabu di Jepang

Tahun 1998 – 2001, aku berkesempatan tinggal di Jepang untuk studi S3. Orang Jepang suka mengadakan party (pesta) untuk merayakan sesuatu. Yang selalu ada pada pesta orang jepang adalah sake, beer, dan aneka alcoholic beverage lainnya. Tapi tentu saja tetap tersedia teh, jus buah, dan minuman lainnya, yang selalu aku pilih karena aku tidak minum alkohol. Nah, pada sebuah party di kota kecil dekat Matsuyama bersama profesor dan teman-teman lab, kami pernah pesta shabu-shabu.

Japanese shabu-shabu

Japanese shabu-shabu

Eit,…. jangan negative thinking dulu,….. shabu-shabu (atau syabu-syabu) yang kami nikmati adalah sejenis makanan Jepang yang dihidangkan dengan hot pot. Jenisnya mirip sukiyaki, di mana ada irisan daging tipis (bisa daging sapi, kambing,  ayam, bebek, atau babi), yang disajikan dengan suatu dipping sauce (saus pencelup). Ia digolongkan makanan musim dingin, tapi nyatanya bisa dijumpai sewaktu-waktu sepanjang tahun. Shabu-shabu umumnya disajikan bersama tofu (tahu Jepang yang lembut), dan aneka sayuran seperti hakusai, nori (rumput laut), bawang bombay, wortel, jamur shitake dan enokitake.

 

Cara menikmati shabu-shabu

Kalau shabu-shabu yang di atas dipakai dengan cara dihirup, yang satu ini dengan cara dimakan… Hmm..nyam-nyam..!! Makanan ini dinikmati dengan cara mencelupkan irisan daging yang sangat tipis dan sayuran pada sebuah mangkok/panci (pot) yang berisi air mendidih atau kaldu yang dibuat dari kombu, dan membolak-balik daging itu beberapa kali (menggunakan sumpit) sampai matang. Bunyi ketika irisan daging tipis dicelup bolak-balik itu terdengar seperti “ shabu-shabu”… hehe… (kalo bahasa kita mungkin kaya di “usap-usap”..), sehingga makanan ini diberi nama shabu-shabu. Daging yang sudah matang tersebut kemudian dicelup dulu ke dalam saus pencelup sebelum masuk mulut bersama nasi yang sudah disiapkan dalam mangkok-mangkok kecil. Setelah semua daging dan sayuran dimakan, maka sisa air mendidih itu menjadi seperti kaldu, dan biasanya dimakan belakangan.

Nama shabu-shabu itu sudah dipatenkan lho… oleh Suehiro, penemunya, pada tahun 1955. Waktu itu Suehiro untuk pertamakalinya memperkenalkan makanan shabu-shabu ini di restorannya di Osaka. Sebenernya makanan ini teinspirasi dari makanan China hot pot yang bernama “shuan yang rao”, sehingga memang lebih mirip makanan China tersebut, ketimbang makanan Jepang sejenis seperti sukiyaki.

Hm…. enak lho….. ! Yang jelas lebih sehat lah ketimbang shabu-shabu yang di atas tadi…. Dan bisa juga kok untuk nambah stamina hehe….. Jadi yang belum sempat mencoba shabu-shabu yang pertama, mendingan coba shabu-shabu yang barusan aku ceritakan ini…. Insya Allah bulan November besok aku ada undangan ke Jepang,.. ayo ikutan sambil menikmati shabu-shabu di sana……. !





Manfaat dan risiko obat asma

9 09 2009

Dear kawan,

Apa kabar?….

Duh, maafkan aku……. lamaa sekali aku tidak nulis lagi di blog-ku ini….. Terus terang aku rindu menulis di sini, tapi entahlah, mood menulisku sedang tidak begitu bagus sebulan terakhir ini ….. Ada aja deh.. yang lagi dipikirkan dan cukup mengokupasi perhatianku..  Selain itu, sekarang lagi eranya Face Book…, jadi sebagian ekspresi sudah dimunculkan di sana, sehingga blog tidak lagi menjadi sumber penyampaian ekspresi utama lagi. Kalau dulu dikit-dikit nulis di blog, sekarang sebagian sudah “dilampiaskan” di Face book… hehe.

Tapi syukurlah, lewat Face book juga aku diberi tau oleh seorang teman, kakak kelasku SMA dulu, bahwa aku muncul di Majalah Info Obat (thanks, mbak Uti… bisa  jadi inspirasi ngisi blog..).  Sebelum itu, teman yang lain cerita bahwa aku muncul juga di Trans TV utk acara Akar Pinang…  Wah, kalau yang ini sih aku nggak merasa…. tapi mungkin saja itu rekaman waktu aku jadi moderator di Launching Ceremony-nya World Conference tg 12 Agustus kemaren.. karena kebetulan salah satu pembicaranya adalah Pak Haji Agus, pengisi acara Akar Pinang. Nampaknya itu adalah rekaman tentang beliau tetapi akunya jadi ikut terekam dan nongol di TV hehe….

Nah, daripada blog-ku ini kosong, aku tampilkan saja hasil wawancara Majalah Info Obat (Rika) denganku mengenai Manfaat dan Risiko Obat Asma. Di bawah ini adalah tulisannya……..

Manfaat dan Risiko Obat Asma

inhaler

inhaler

Bicara mengenai obat asma, tak lepas dari berbagai pilihan jenis obat yang tersedia. Mulai dari golongan obat, tujuan penggunaan, maupun bentuk sediaan. Beda golongan obat akan menunjukkan efek yang berbeda pula. Efek yang berbeda akan mempengaruhi tujuan penggunaan, apakah obat digunakan untuk mencegah atau untuk mengatasi saat asma kambuh. Sedangkan bentuk sediaan mempengaruhi onset (waktu yang dibutuhkan dari obat dikonsumsi sampai obat berefek) dan efektivitas obat sehingga biasanya menyesuaikan dengan tujuan pengobatan dan kondisi pasien. Namun yang namanya obat selain memiliki manfaat, tentu tak lepas dari risiko efek samping yang ditimbulkan. Untuk mengetahui lebih jauh, Info Obat berbincang-bincang seputar manfaat dan risiko obat asma bersama Prof.Dr. Zullies Ikawati, Apt, salah satu staf pengajar di Fakultas Farmasi UGM.

Zullies memulai penjelasan mengenai obat golongan steroid. Contoh obat golongan steroid antara lain budesonide, beclometason dan deksametason. Obat lini pertama dalam terapi asma ini umum digunakan untuk tujuan pencegahan kambuhnya asma. Kendati dapat pula untuk mengatasi keadaan saat asma kambuh. Pada terapi pencegahan yang mengharuskan pasien mengkonsumsi obat secara rutin sebaiknya menggunakan bentuk sediaan inhalasi atau lebih dikenal dengan sebutan metered dose inhaler (MDI). Penggunaan inhalasi memiliki memiliki onset lebih cepat dibandingkan dengan penggunaan per oral (obat diminum sehingga melewati saluran cerna). Efek samping pun bisa diminimalisir karena obat hanya bekerja di seputar saluran pernapasan. Mengenai isu gangguan pertumbuhan anak dan timbulnya osteoporosis akibat penggunaan steroid terus-menerus, Zullies menambahkan belum ada fakta selama obat asma digunakan dalam bentuk sediaan inhalasi. Selain dalam bentuk sediaan inhalasi, tetap tidak tertutup kemungkinan menerima obat golongan steroid dalam bentuk sediaan per oral. Efek samping dari obat golongan steroid antara lain meningkatkan tekanan dan kadar gula darah, sehingga penggunaan steroid pada pengidap hipertensi dan diabetes mellitus (DM) perlu mendapat perhatian khusus. Obat golongan steroid juga memiliki efek sebagai imunosupressan yang dapat menurunkan kekebalan tubuh. Sehingga sebaiknya tetap menjaga kondisi dan stamina tubuh selama penggunaannya. Sedangkan penggunaan steroid untuk ibu hamil dan menyusui cukup aman selama obat diberikan atas rekomendasi dokter. Bahkan sebelum melahirkan kerap dilakukan suntikan intravena obat golongan steroid untuk mencegah kekambuhan asma saat ibu melahirkan. Yang perlu diperhatikan adalah saat pasien menerima terapi pencegahan yang mengharuskan penggunaan steroid secara rutin. Selama terapi tubuh menerima steroid dari luar/eksogen yang mengakibatkan sistem endogen (hormon) dalam tubuh tidak memproduksi steroid. Karena itu, penggunaan steroid tidak boleh dihentikan secara tiba-tiba, dan dosis harus diturunkan perlahan untuk memberi waktu pada sistem endogen agar bisa kembali bekerja memproduksi steroid.

Untuk mengatasi serangan akut, obat golongan beta-agonist misalnya salbutamol menjadi obat lini pertama yang bekerja sebagai bronkodilator (merelaksasi bronkus). Obat golongan ini pun sudah banyak tersedia dalam bentuk inhalasi sehingga bekerja lebih efektif dalam mengatasi serangan akut. Pada keadaan darurat dimana pasien mengalami kesulitan bernapas yang parah digunakan metode pemberian obat secara nebulisasi. Nebulisasi merupakan metode semacam pengasapan obat yang diberikan pada pasien sehingga obat dapat masuk ke saluran nafas dalam kondisi sulit bernafas sekalipun. Sayangnya tidak semua sarana kesehatan memiliki alat nebulizer karena relatif mahal. Di samping penggunaan short acting, ada juga obat golongan beta-agonist yang bekerja long acting, misalnya salmeterol atau formeterol, yang memiliki onset dan durasi efek yang lebih panjang dibanding salbutamol. Biasanya untuk terapi pencegahan kambuhnya asma. Efek samping golongan beta-agonist cukup beragam seperti: tremor/gemetar pada tangan, sakit kepala, hipokalemia (kekurangan kalium), dan takikardi (percepatan denyut jantung). Namun efek samping tersebut tidak selalu terjadi tiap kali penggunaan obat. Muncul atau tidaknya efek samping tergantung kondisi klinis masing-masing individu. Apabila obat beta-agonist digunakan dalam jangka panjang dan secara berlebihan dapat menurunkan efektivitasnya. Hal ini disebabkan karena terjadinya desensitisasi reseptor obat, sehingga reseptor menjadi kurang peka. Karenanya perlu dosis yang lebih besar untuk memperoleh efek yang sama. Untuk itu dokter akan mempertimbangkan dosis yang paling tepat untuk pasien sesuai dengan keadaan klinisnya.

 Terapi obat beta-agonist terkadang dikombinasikan dengan obat golongan antikolinergik untuk mencapai efek yang lebih baik. Sama dengan beta agonis, obat golongan antikolinergik misalnya ipratropium bromida bekerja dengan merelaksasi bronkus. Umumnya digunakan untuk mengatasi serangan akut. Efek samping yang timbul antara lain: mulut kering, mengantuk, dan gangguan penglihatan. Terutama pada penggunaan inhalasi dimana pasien melakukan teknik penyemprotan yang kurang tepat. Dalam beberapa saat mata dapat menjadi kabur. Zullies menyarankan agar pasien mengetahui teknik penggunaan inhalasi yang tepat misalnya dengan bertanya pada dokter atau apoteker. Satu lagi obat yang akrab dalam terapi asma, yaitu teofilin. Teofilin tergolong obat ’tua’ dalam arti sudah digunakan untuk terapi sejak lama. Teofilin memiliki jarak dosis terapi dan dosis toksik yang sempit. Hal ini dapat membahayakan jika pasien mengkonsumsi dosis yang berlebihan. Gejala keracunan teofilin antara lain: insomnia, sakit kepala, mual, dan takikardi. Oleh sebab itu saat ini teofilin sudah banyak ditinggalkan dalam terapi asma. Namun kadang-kadang masih tetap dipakai misalnya pada keadaan darurat, teofilin diberikan dengan menyuntikkan dalam bentuk aminofilin. Pemakaian teofilin ini dipertimbangkan karena harganya yang ekonomis. Teofilin pun masih terdapat sebagai salah satu bahan aktif obat asma yang dijual bebas. Setelah mengulas berbagai jenis obat asma, Zullies menyimpulkan bahwa obat-obat asma tersebut cukup aman. “Saya sarankan untuk penggunaan inhalasi, karena efeknya lebih cepat, sesuai sasaran karena langsung ke saluran nafas, efek sampingnya pun minimal jika dibandingkan penggunaan oral sehingga cukup aman. Dan teknik penggunaan inhalasi yang tepat sangat mempengaruhi keberhasilan terapi.”, imbuh Zullies menutup perbincangan. [Rika]

Thanks for Rika. Good job!





Menumpas obesitas…..

27 06 2009

Dear kawan,

Dua mingguan tidak menulis di blog rasanya seperti punya hutang…..  pasti sudah ada yang menunggu-nunggu hehe….. Karena itulah menjelang tengah malam ini kuupayakan menulis posting ini. Seharian tadi menguji seminar thesis Magister Farmasi Klinik 5 orang sekaligus. Waduh, Sabtu-sabtu masih aja ada kerjaan….  Tapi herannya, banyak aktivitas, banyak “stress”, ….. tapi kok nggak kurus-kurus yah… hehe…. Makin bertambah usia, badan makin mekar saja. Sebuah hasil pemeriksaan yang iseng-iseng kulakukan pada sebuah salon pelangsingan tubuh menyatakan bahwa untuk ukuran tinggi badanku, berat badanku sudah kelebihan 11 kg dari berat badan ideal. Wueek..kekek..!

Tapi yah… enjoy ajaa….! Kalau terlalu kurus entar malah dikira hidup menderita atau mengalami KDRT seperti Manohara hehe…….. Manohara yang menderita aja ngga kurus-kurus. Nah, kebetulan seorang sahabatku yang sedikit gendut memintaku menulis tentang obat-obat pelangsing yang banyak dipakai di masyarakat.  Hm… boleh juga, sekalian aku bisa belajar supaya tidak tambah kegendutan. Obat-obat pelangsing umumnya dipakai untuk mereka yang mengalami obesitas (atau takut menjadi obes). Jadi kita akan start dengan mengetahui dulu tentang obesitas.

 Apa itu obesitas?

mau segendut ini?

mau segendut ini?

Secara gampang, obesitas adalah keadaan kelebihan berat badan di atas normal. Salah satu cara mengukur apakah seseorang mengalami obesitas atau tidak adalah menggunakan ukuran BMI (body mass index), yaitu menghitung berat badan dibagi tinggi dalam kuadrat ( BMI = kg/m2). Pada umumnya, seseorang dengan usia 35 tahun dinyatakan obesitas jika ia memiliki BMI sama atau lebih dari 27. Untuk mereka yang berusia < 34 tahun, skor BMI sebesar 25 sudah termasuk dinyatakan obesitas. Secara umum, BMI sebesar 30 atau lebih sudah mengindikasikan obesitas sedang sampai berat. Coba ukur BMI kalian, kawan….

 Apa yang menyebabkan obesitas?

Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan seseorang mengalami obesitas, antara lain faktor genetik, lingkungan, psikologis, dll.

Faktor genetik

Obesitas umumnya cenderung bersifat menurun dalam keluarga, yang menunjukkan adanya pengaruh faktor genetik. Sebenarnya tak hanya masalah genetik, keluarga umumnya juga “menurunkan” pola makan dan gaya hidup yang bisa berkontribusi terhadap kejadian obesitas. Jika suatu orang tua membiarkan anaknya makan apa saja dan bahkan memfasilitasi anak untuk makan makanan yang enak-enak berlemak… yah… bagaimana anaknya nggak gemuk.

Faktor lingkungan

Faktor lingkungan memberikan pengaruh yang signifikan, misalnya kemudahan mendapatkan fast-food yang umumnya berkolesterol tinggi, pekerjaan yang kurang memungkinkan banyak gerakan fisik tubuh, atau lebih mengutamakan rasa makanan ketimbang faktor nutrisi di dalam memilih makanan.

Faktor psikologis

Faktor psikologis ini dapat mempengaruhi kebiasaan makan. Sebagian orang makan lebih banyak sebagai respon terhadap keadaan mood negatif seperti sedih, bosan, atau marah. Sebagian lagi mungkin mengalami gangguan makan seperti dorongan makan yang kurang terkendali (binge eating) walaupun sudah kenyang, atau kebiasaan ngemil yang sulit dihentikan. Orang-orang seperti ini sangat berisiko terhadap kegemukan, dan perlu mendapatkan perlakuan khusus, seperti konseling atau terapi psikologi lainnya.

Penyebab lain

Selain tiga faktor di atas, penyebab lain obesitas bisa berupa penyakit atau penggunaan obat tertentu. Penyakit hypotiroid, Cushing’s syndrome, dan depresi dapat memicu makan berlebihan. Beberapa obat seperti steroid dan antidepresan tertentu juga memiliki efek samping peningkatan berat badan.

Bagaimana mengatasi obesitas?

Yang pertama sekali tentu adalah pembatasan makan dan meningkatkan aktivitas fisik, sehingga asupan kalori dan penggunaannya terjadi seimbang. Namun jika ini sulit dilakukan dan tidak berhasil, maka perlu bantuan obat-obatan, yaitu obat anti obesitas.

Obat anti obesitas adalah obat-obat yang dapat menurunkan atau mengontrol berat badan. Obat-obat ini bekerja dengan mengubah proses fundamental dalam tubuh dan regulasi berat badan, dengan cara menekan nafsu makan, mempengaruhi metabolisme, atau mengurangi absorpsi makanan/kalori.

Bagaimana mekanisme aksi obat anti obesitas?

Obat-obat anti obesitas bekerja dengan beberapa mekanisme:

1. menekan nafsu makan.

2. Meningkatkan metabolisme tubuh

3. Menurunkan kemampuan tubuh untuk mengabsorpsi nutrien tertentu dari makanan, utamanya lemak, misalnya dengan cara menghambat peruraian lemak sehingga tidak dapat diserap oleh tubuh.

 Ada beberapa contoh obat anti obesitas, antara lain adalah:

1. Orlistat (Xenical)

Obat ini menggurangi penyerapan lemak di usus dengan cara menghambat enzim lipase dari pankreas. Lipase adalah enzim yang bertugas menguraikan lemak. Obat ini bisa menyebabkan feses menjadi berlemak, perut kembung, dan kontrol BAB terganggu. Tapi efek samping ini bisa dikurangi jika asupan makanan berlemak di kurangi.

 2. Sibutramin (Meridia, Reductil)

Obat ini bekerja secara sentral menekan nafsu makan, dengan mengatur ketersediaan neurotransmiter di otak, yaitu menghambat re-uptake serotonin dan norepinefrin. Namun obat ini harus digunakan secara hati-hati karena dapat meningkatkan tekanan darah, menyebabkan mulut kering, konstipasi, sakit kepala dan insomnia.

Sibutramin inilah yang sering ditambahkan oleh produsen nakal jamu pelangsing, sehingga beberapa waktu lalu pernah dilakukan penarikan 6 merk  jamu pelangsing oleh Badan POM karena dicampur dengan sibutramin. Sungguh, pencampuran jamu pelangsing dengan sibutramin ini merupakan tindakan kriminal yang sama sekali tidak memikirkan keselamatan penggunanya. Buat mereka yang memiliki gangguan penyakit kardiovaskuler tentu sangat riskan menggunakan jamu ini karena dapat meningkatkan tekanan darah dan mungkin risiko terjadinya stroke.

 Cara kerjanya hampir mirip seperti obat-obat golongan katekolamin dan turunannya. Ini mengingatkan pada salah satu obat yang cukup terkenal dan menghebohkan, yaitu fenilpropanolamin (PPA), yang juga banyak dijumpai pada komposisi obat flu. Sudah pernah aku tuliskan somewhere di blog ini bahwa di Amerika, PPA banyak dipakai sebagai pelangsing dengan dosis jauh lebih tinggi dari dosis yang dipakai untuk efek pelega hidung tersumbat. Dan ternyata, PPA ini meningkatkan risiko kejadian stroke hemoragik. Saat ini PPA tidak lagi dipakai sebagai obat pelangsing di sana.

 3. Obat-obat laksatif

Selain obat-obat di atas, obat-obat lain yang sering dipakai untuk mengurangi berat badan adalah golongan laksatif atau pencahar. Dengan melancarkan BAB (buang air besar) diharapkan berat badan juga relatif terkontrol. Banyak sediaan suplemen yang mengandung high-fiber yang ”diindikasikan” untuk melangsingkan tubuh dan dapat diperoleh secara bebas. Serat tinggi tadi diharapkan mengembang di saluran cerna dan memicu gerakan peristaltik usus sehingga akan memudahkan BAB. Walaupun mungkin berhasil, tetapi efeknya umumnya tidak terlalu signifikan. Selain sejenis fiber ini, beberapa pencahar lain juga sering dipakai sebagai pelangsing. Penggunaan pencahar sebagai pelangsing dalam waktu lama tidak disarankan karena usus akan menjadi “malas”, akan bekerja jika ada pemicunya, dan hal ini akan menjadikan semacam “ketergantungan”.

 4. Diuretik

Obat-obat diuretik (pelancar air seni) juga sering dipakai sebagai obat pelangsing. Tapi sebenarnya efeknya tidaklah signifikan dalam mengurangi berat badan. Justru penggunaannya harus diperhatikan karena dapat mengganggu keseimbangan elektrolit dalam tubuh karena banyak ion-ion tubuh yang mungkin akan terbawa melalui urin. Jika berat badannya disebabkan karena timbunan cairan, maka diuretik memang pilihan yang tepat, tetapi jika karena timbunan lemak, tentu diuretik tidak akan berefek signifikan. Umumnya teh-teh pelangsing mengandung senyawa alam yang bersifat diuretik sehingga memberikan efek kesan melangsingkan.

 5. Obat-obat herbal pelangsing

Sekarang banyak sekali ditawarkan berbagai produk herbal yang diklaim memiliki efek pelangsing. Ada yang dikatakan bekerja melarutkan lemak, atau mengurangi penyerapan lemak di usus. Salah satu herbal yang terkenal sebagai pelangsing adalah Jati Belanda. Senyawa tanin yang banyak terkandung di bagian daun, mampu mengurangi penyerapan makanan dengan cara mengendapkan mukosa protein yang ada dalam permukaan usus. Sementara itu, musilago yang berbentuk lendir bersifat sebagai pelicin. Dengan adanya musilago, absorbsi usus terhadap makanan dapat dikurangi. Hal ini yang yang menjadi alasan banyaknya daun jati belanda yang dimanfaatkan sebagai obat susut perut dan pelangsing.

Obat-obat herbal pelangsing memang lebih aman, tetapi efikasinya tentu perlu bukti-bukti penelitian lebih lanjut. Mungkin ada yang berhasil, mungkin pula tidak.

 Nah, begitulah… pilih yang mana?

Bagaimanapun menjadi langsing tentu lebih baik, tetapi jangan sampai ingin langsing tetapi malah jadi sakit karena efek samping. Jika benar-benar mengalami obesitas dan perlu pengobatan, konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan terapi yang sesuai. Cara-cara lain seperti akupunktur, akupressur, boleh juga dicoba. Jika perlu dilakukan liposuction (sedot lemak), tapi tentu harus dilakukan oleh tenaga medis profesional dan pertimbangan yang cermat.

Aku sendiri.. hm…. masih agak sulit untuk menahan ngemil. Yah…. gendut-gendut dikit tak apalah, yang penting sehat…. (menghibur diri hehe…..).

Demikian, semoga bermanfaat.





Maap… belum sempat nulis lagi..

26 06 2009

Dear kawan,

Musim ujian akhir dan koreksi, ujian skripsi dan thesis, deadline kumpulkan nilai, additional activities di fakultas seperti IMHERE dan DIPA WCRU, revisi props penelitian, visitasi ISO 9001-2000, urusan Magister Farmasi Klinik, dan rapat-rapat lain, telah menjerat tanganku sampai-sampai tidak sempat menulis apapun di blog ini. Mohon maap… kalau mungkin sudah ada yang menanti tulisan sederhana dari tanganku hehe…. (mode Ge-er ON).

Ditunggu saja dan doakan semoga masih selalu punya semangat dan ide untuk menulis dan berbagi…

Salaam..