Rekrutmen partisipan untuk penelitian farmakogenetik

29 10 2009

Dear kawan,

snp_1

Bagaimana gen mempengaruhi efek obat

Saat ini aku sedang melakukan penelitian bersama tim untuk memetakan polimorfisme genetik pada orang Indonesia. Pemikiran yang melatarbelakangi adalah bahwa hingga saat ini belum ada publikasi mengenai peta polimorfisme genetik pada orang asli Indonesia terkait dengan berbagai gen yang mungkin terlibat dalam respon obat. Untuk itu sangat perlu kiranya dilakukan pemetaan polimorfisme genetik pada penduduk asli Indonesia, apalagi Indonesia sangat kaya dengan suku bangsa, yang sangat memungkinkan terdapatnya variasi genetik yang luas.

Pada penelitian kali ini akan dilakukan pemetaan genetik khususnya pada suku Jawa sebagai suku dengan populasi terbesar di Indonesia. Pada kesempatan penelitian berikutnya dimungkinkan untuk memetakan pola polimorfisme genetik pada berbagai suku lainnya di Indonesia. Gen yang dipilih untuk diamati kali ini adalah gen yang mengkode enzim sitokrom P450 subtipe CYP2D6, CYP2C9, dan CYP2C19, karena mereka merupakan enzim yang paling banyak dilaporkan mengalami polimorfisme dan bertanggungjawab terhadap banyak kejadian adverse drug reaction dan kegagalan terapi beberapa obat yang lazim digunakan (Nelson, et al, 1996).

Penelitian ini merupakan penelitian kerjasama yang dilakukan oleh tim Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada dengan Institute for Research in Molecular Medicine (INFORMM) Universiti Sains Malaysia.

Untuk itu dibutuhkan relawan-relawan sebagai subyek penelitian ini, dengan kriteria :

pria/wanita, usia 18-40 tahun, sehat jasmani (berdasarkan pemeriksaan kesehatan yang akan dilakukan), suku Jawa asli (bapak dan ibunya orang Jawa, kakek dan nenek dari kedua pihak juga suku Jawa), diutamakan yang tinggal di Yogya dan sekitarnya untuk kemudahan teknisnya.

Subyek/relawan akan diminta hadir pada saat dan tempat yang akan diinformasikan kemudian, lalu diambil darahnya dan diperiksa kesehatannya secara umum, untuk memastikan kondisi kesehatannya, apakah memenuhi kriteria inklusi apa tidak. Direncanakan diperlukan sekitar 200 orang subyek yang memenuhi kriteria inklusi. Buat teman-teman yang tertarik, silakan mendaftarkan diri pada saya melalui e-mail atau message via FB, atau langsung mencatatkan diri di Magister Farmasi Klinik Fakultas Farmasi UGM Gdg Unit 3 lt 3 (contact person: Mbak Desi), atau kepada Pak Arief Rahman Hakim di bagian Farmakologi dan Farmasi Klinik Fak Farmasi UGM, bisa melalui e-mail atau message via FB beliau, atau langsung mencatatkan diri di Bagian Farmakologi.

Relawan dapat apa?

Relawan yang mendaftarkan diri akan mendapatkan pemeriksaan ksehatan lengkap secara gratis, baik nanti masuk dalam kriteria kesehatan subyek atau tidak. Selain itu, ada sekedar bingkisan pelepas lelah.

Demikian, mohon bantuan dan doa restunya yaa…..

Terimakasih banyak sebelumnya..





Dibalik layar : International Conference in Pharmacy and Advanced Pharmaceutical Sciences

9 10 2009
Dear kawan,

Rasanya aku perlu menyebut kegiatan International Conference ini dalam blog-ku sebagai kegiatan penting yang perlu didokumentasikan. Alhamdulillah, kerja keras tim selama beberapa bulan sebelumnya terbayar sudah dengan sukses dan lancarnya acara, serta kesan manis yang sudah dirasakan oleh sebagian besar tamu. Sempat diawali sedikit ketegangan internal terkait dengan tempat penyelenggaraan, prediksi jumlah peserta yang sedikit meleset, melesetnya beberapa sasaran sponsor, semuanya menjadi pelajaran berharga untuk penyelenggaraan sebuah acara besar. Salutlah buat Mbak Hilda sebagai Chairman of the Committee yang sudah mengorganisir semuanya!! Aku sendiri posisinya sebagai Steering Committee….. hirarkinya lebih tinggi sedikit haha…., lebih banyak memberi masukan-masukan, menjadi pendorong, dan tentu tetap berada bersama panitia untuk berbagai persiapan. Kegiatan Conference-nya sendiri diselenggarakan di Hotel Sheraton Mustika Yogyakarta, hotel bintang lima gitu loh…. !!

Menyambut tetamu

Kami mengundang beberapa narasumber dari luar negeri, 5 orang dari Jepang, 2 orang Malaysia, 1 orang Italia, 1 dari Australia, dan 1 orang dari Belanda. Cukup heboh lah…! Lucunya, para narasumber itu kebanyakan adalah kenalan dari beberapa dari kami anggota Panitia. Aku sendiri misalnya, mengundang Prof. Kazutaka Maeyama dari Ehime University, supervisorku ketika aku studi S3 dulu di sana. Mbak Hilda mengundang kenalannya dari Australia, Gregory Duncan dari Monash University, Ronny si sekretaris Panitia mengundang supervisornya dulu Prof .Paolo Caliceti dari Italia. Selain itu masih ada Prof. Timmerman, Prof. Syed Azhar, Prof. Izham, dll. Jadilah semacam ada pembagian tugas untuk mengurusi tamu masing-masing, walaupun itu sebenarnya ya tamu bersama. Ya untuk kepraktisan saja.

bersama invited speakers, berdiri: Hilda, Ronny, Zullies

bersama invited speakers, berdiri: Hilda, Ronny, Zullies

Hari Sabtu aku menemani Mbak Hilda menjemput Mr Duncan di Bandara. Walaupun ada penjemputan dari hotel, kayaknya lebih menghargai jika kita menjemputnya sendiri. Wah, Mr Duncan itu tinggi banget…. aku cuma separonya haha….. jadilah kalo mau ngomong sama beliau aku harus mendongak ke atas…!!

Hari Minggunya aku jemput Maeyama Sensei dan istrinya (di Jepang, profesor diundang dengan sebutan Sensei) di bandara bersama Rizal dan Agung, yang sama-sama pernah bekerja di Lab Sensei di Ehime. Aku ajak makan siang bentar dan aku putarkan lewat UGM biar Sensei bisa melihat UGM dari dekat, lalu aku antar ke hotel. Dua malam sebelum hari H acaranya Welcome Dinner terus … hehe… mengacaukan program pelangsingan tubuh nih.

Jalannya Conference

Acara pembukaan berjalan lancar, diikuti paparan oleh plenary speakers, dan invited speakers. Isinya macam-macam lah, terlalu banyak kalo mo diceritakan di sini. Topik kefarmasian oleh invited speakers dibagi dalam dua tema besar, yaitu Advanced Pharmaceutical Sciences dan Clinical/Social Pharmacy, sehingga audiens bisa memilih mau ikut yang mana. Aku sendiri bertugas sebagai moderator dalam salah satu sesi presentasi invited speakers. Siangnya sehabis lunch, acara dilanjutkan dengan presentasi oral para peserta conference. Demikian pula pada hari kedua.

Me, Maeyama Sensei, and colleagues

Me, Maeyama Sensei, and colleagues

Yang sedikit bikin surprise buatku adalah bahwa yang dipresentasikan oleh Prof Maeyama sebagian adalah hasil penelitianku selama studi di bawah bimbingannya dulu. Dah gitu, di bagian belakang pada ucapan terimakasih (acknowledgment), dipasanglah fotoku ketika masih di sana, ditayangkan pula… Waduh, jadi agak terharu deh hehe…. (arigatou, Sensei…). Ngomong-ngomong tentang senseiku ini, aku harus bersyukur alhamdulillah memiliki beliau sebagai pembimbing dulu,… karena beliau orangnya sangat humanis, ramah, perhatian, ngga serem seperti gambaran sebagian besar profesor Jepang yang serius dan jarang senyum. Dah gitu, orangnya nyeni lagi… karena beliau hobby melukis. Malah waktu diajak ke Candi Prambanan, beliau sempat melukis sebentar di sana… wow ..kereen!!

Susunan acara conference sendiri bisa ditengok di http://farmasi.ugm.ac.id/isapps . Tapi aku ngga akan cerita tentang acaranya secara detail, garing nanti hehe….. Aku coba memotret aja sudut-sudut kecil di kegiatan ini dari perspektifku sendiri. Satu inovasi yang dikreasi dalam konferensi ini adalah sistem barcode pada pendaftaran peserta yang terkoneksi dengan web. Sistem ini dikembangkan oleh mas Parno, ahli komputer kami. Salutlah atas kerja kerasnya. Kalau dari segi substansi, materi presentasi dari peserta sungguh sangat bervariasi, dari yang agak sederhana sampai yang canggih. Satu yang menarik perhatianku, karena kebetulan aku jadi moderator pada sesi itu, adalah presentasi dari salah satu peserta dari Malaysia, yang melaporkan hasil penelitiannya bahwa coklat bisa mengurangi kecemasan. Penelitian itu dilakukan terhadap mahasiswa progam studi keperawatan di sebuah universitas di sana, judulnya : An Interventional Pilot Study: Effect Of Dark Chocolate Consumption On Anxiety Level Among Female Nursing Students. Pemberian dark chocolate ternyata bisa mengurangi tingkat kecemasan pada subyek uji, namun uji ini baru dilakukan secara terbatas pada mahasiswa wanita. Wah, boleh juga nih….. sering-sering makan coklat, biar bisa mengurangi kecemasan hehe…. tapi katanya sih masih perlu uji lebih lanjut dengan lama pemberian yang berbeda, dan macam coklat yang berbeda.

Gala Dinner dan Penutupan

bersama Maeyama Sensei dan istri

bersama Maeyama Sensei dan istri

Hari pertama ditutup dengan acara Gala Dinner yang lumayan meriah di pinggir swimming pool Hotel. Suasananya romantis hehe… dengan lampu remang-remang. Undangan yang terdiri dari semua pembicara dan sebagian peserta dan panitia memenuhi tempat acara dilangsungkan. Acara diisi dengan Batik Fashion Show dari Danar Hadi, tarian, dan penampilan dari group musik mahasiswa Farmasi. Acara fashion show sendiri adalah usulanku, terinspirasi dari acara serupa  ketika aku mengikuti Regional Conference on Moleculer Medicine di Malaysia bulan Mei 2009. Dan pentas batik ini pas benar timing-nya dengan baru saja diakuinya batik sebagai warisan budaya Indonesia oleh UNESCO. Jadi klop-lah! Wah…. peragawatinya tinggi-tinggi, langsing, dan cantik!! Jalannya mendongak ke atas…. kayaknya waktu latihan mereka menggendong ransel di punggung. Aku terkesan juga atas penampilan para mahasiswa, baik yang jadi MC atau pun menyanyi dan memainkan musik. Hebat dan berbakat!! Nanti kalo latihan nyanyi aku diundang dong….. haha!

Acara penutupan kami buat sedikit berbeda. Sebelum acara pembacaan pemenang presentasi terbaik dan penutupan resmi oleh Dekan, kami membuat sebuah performance khusus. Kami ingin menunjukkan bahwa orang farmasi itu juga ngga selalu melulu berpenampilan serius karena kebanyakan mikir rumus hehe…. Aku sendiri suka menyanyi, dan mbak Hilda piawai main organ. Jadilah dengan cuek dan sok pede tanpa mempertimbangkan gangguan pendengaran yang bakal dialami audiens, aku (dengan mengajak Ronny) melantunkan lagu “Love of my life” dengan iringan organ Mbak Hilda….!  Prof Timerman dari Belanda juga kami daulat untuk menyanyi, dan tak ketinggalan Prof Caliceti dari Italia. Heboh!!

"Love of my life" by Zullies and Ronny.. sorry for annoying..

"Love of my life" by Zullies and Ronny.. sorry for annoying your ear.....

 

Alhamdulillah, semua berjalan relatif lancar…  Tentu tak ada yang sempurna, mohon maaf jika ada hal-hal yang masih kurang berkenan. Sebuah pelajaran penting untuk penyelenggaraan acara besar kami peroleh. Semoga bermanfaat.

Demikian catatan kecilku mengenai conference kami.





Catatan tentang Blog dan Lebaranku tahun 2009

23 09 2009

Dear kawan,

Tak terasa hampir setahun usia blog ala-kadarnya ini, dengan jumlah  kunjungan sekitar 41 ribuan. Banyak masukan yang membangun dan memotivasiku untuk setia menulis. Katanya banyak pula yang terinspirasi oleh tulisan-tulisanku, hm…..  terimakasih atas apresiasinya.. Aku coba telisik lagi, posting pertamaku adalah tanggal 6 Oktober 2008. Hmm.. masih naif banget waktu itu…. dengan tulisan2 pendek dan mendaur ulang simpanan tulisan2ku yang tercecer di beberapa tempat… 

Tapi belakangan memang frekuensi menulisku sudah mulai berkurang. Bahkan sebulan terakhir ini hampir sama sekali tiada tulisan baru. Aku mencoba evaluasi lagi nasib malang blog-ku ini, yang jarang ku-update lagi…  Yang pertama, ada sedikit kejenuhan, .. semua hal rasanya sudah pernah kutulis. Mau nulis tentang obat, sudah banyak blog serupa. Yang kedua, aku pun makin selektif menulis…. semakin banyak yang membaca, ada semacam ‘beban’ untuk tidak menulis asal-asalan saja. Yah, walaupun pada dasarnya ini adalah blog untuk berekspresi pelepas penat, tapi tentu harus ada muatan yang bermanfaat. Yang ketiga,… belum ada lagi peristiwa2 istimewa di seputar keseharianku yang mendorongku untuk menulis..  Biasanya aku suka mencari ide tulisan dari pengamatan atau pengalaman sehari-hari yang kukombinasi dengan pengetahuan tertentu. Ada sih tentu hal-hal istimewa dalam 1-2 bulan belakangan, tapi itu terlalu pribadi dan bukan untuk konsumsi publik hehe……  Aku masih menulis, tapi untuk diriku sendiri. Aku kan harus ja-im haha…. (jaga image).  Jadi mohon maklum jika produktivitasku menulis di blog ini sedang rendah sekarang….

Kali ini aku mencoba membuat catatan kecil lebaran tahun ini, sekedar untuk dokumentasi aku sendiri… Dan catatan lebaran kali ini adalah yang pertama kubuat karena Blog ini memang baru mengalami sekali lebaran.

Era Face Book

Sekali lagi aku perlu menyebut-nyebut tentang Face Book dan harus angkat jempol dengan ide inventif penemunya untuk mengkreasi suatu media pertemanan yang sangat fenomenal abad ini. Terus terang… aku termasuk yang “tiada hari tanpa membuka Face Book” hehe… walau kadang hanya sebentar2 untuk menengok suasana hiruk pikuk di dunia maya. Face Book ini perlu kusebut karena benar-benar mewarnai suasana Ramadhan maupun Idul Fitri tahun ini bagi sebagian besar orang…..  Aku jamin!! Ada yang mengisinya dengan penuh canda-tawa, ada yang serius penuh pesan hikmah dan menggunakannya sebagai media dakwah. Termasuk aku juga yang kadang muncul ide-ide iseng dan jail untuk ditulis, namun sesekali juga menulis serius membawa pesan tertentu. Kadang berbau sentimentil pula hehe……. sesuai suasana hati. Face Book pula yang menjadi media utama mengucapkan selamat berpuasa atau selamat Idul Fitri, di samping SMS atau MMS. Kartu Lebaran jadi terasa jadul !! Pak Pos jadi berkurang pekerjaannya nih…..

Ramadhan 1430 H

Hmm, kawan…., aku merasa Ramadhanku kali ini tidak begitu optimal. Astaghfirullohal adziim. Aku tidak bisa cerita banyak… tapi pada bulan yang mestinya penuh pengendalian diri dan emosi, nampaknya aku lebih banyak gagal. Emosi masih berfluktuasi naik turun, kurang sabar, sensitif, mudah menangis, …. yah begitulah. Aku masih harus banyak berlatih.. Sampai-sampai aku berpikir, begitukah memang sifat wanita?…. Ah, mestinya tidak. Banyak wanita-wanita kuat yang berhasil menguasai diri dan mengendalikan emosinya dalam berbagai keadaan.

Apa penyebabnya? Hm…. biar jadi ranah pribadi saja hehe….  Mengapa ini kutuliskan? Aku hanya ingin memberi gambaran tentang kompleksitas manusia.  Bahwa walaupun seseorang punya daya nalar yang baik, seringkali logika kalah dengan perasaan…. sampai-sampai pernah kutulis di status FBku…. bahwa tidak mudah mengkompromikan akal dan hati.  Dan hal-hal serupa tentu akan sering kita hadapi di kemudian hari. Itu sungguh ujian hati yang berat… bagaimana untuk tetap berpegang pada bisikan kalbu yang jernih, yang  menuntun pada kebaikan. Dan aku hanyalah manusia lemah belaka…. dan nampaknya sedang berada dalam titik terlemah…

Ramadhan pun berlalu, menyisakan harapan semoga akan bertemu bulan mulia ini tahun berikutnya, dan akan menjalaninya dengan lebih baik. Amien.

Persiapan untuk lebaran

Persiapan lebaran aku lakukan ala kadarnya saja. Yang penting mengeluarkan zakat mal dan membagi bingkisan lebaran untuk tetangga kiri kanan yang kurang beruntung. Dan tidak lupa, memberi THR untuk dua asisten di rumah hehe….. Aku sendiri tak ada baju baru khusus. Beberapa saat sebelumnya sudah beberapa kali jahitkan baju yang kainnya pemberian dari teman-teman (thanks, teman-teman…). Dan sebaliknya, justru bongkar-bongkar lemari mencari baju-baju lama yang masih pantas diberikan pada yang membutuhkan. Paling cari baju untuk anak-anak, juga untuk para keponakan, karena ibuku ingin 10 cucunya memakai baju batik yang senada/seragam pada acara silaturahmi keluarga besar hehe… kaya panti asuhan saja..

Mudik Lebaran

Anak-anakku sudah mulai libur semingguan sebelum lebaran. Yang sulung malah sudah tidak sabar lagi untuk mudik ke rumah eyangnya di Purwokerto, dan secara khusus meminta eyangnya untuk menjemputnya mudik. Yah, si sulung kami memang cukup lama menghabiskan masa balitanya bersama eyangnya karena dulu dia ditinggal ketika kami (ayah ibunya) belajar di Jepang selama tiga tahun. Kebetulan ia juga kelahiran Purwokerto, jadi maklum saja jika ia merasa sangat dekat dengan eyang dan kota kelahirannya itu. Aku sendiri masih bertahan sampai hari terakhir masuk kantor, sampai sore hari.  Tapi hawanya sudah mulai hawa liburan hehe…. jadi agak santai, sambil kirim-kirim dan cek-cek e-mail dan persiapan untuk rencana benchmarking ke Australia bulan Oktober ini. Insya Allah.

Perjalanan mudik pada hari Jumat alhamdulillah berjalan lancar. Jalanan masih normal… dengan waktu tempuh Jogja-Purwokerto selama 4,5 jam dengan mobil sendiri, termasuk break untuk sholat jumatan. Sampai Purwokerto aku agak pangling dengan berbagai perubahan kota. Alun-alun yang dulu pernah jadi tempat banyak aktivitasku di masa kecil dan remaja sudah banyak berubah wajah. Pohon-pohon pinggir jalan banyak yang berkurang. Makin banyak saja bangunan-bangunan baru di sepanjang jalan menuju rumah ibuku. Hm… tiba-tiba saja aku jadi sentimentil menyusuri jalan-jalan kotaku dan mengenang semua yang pernah lewat dua puluh lima tahun yang lalu…. Lagi-lagi, Face Book tidak dilupakan….hehe… melalui mobile text via HP ku-update status FBku:… “Purwokerto, I’m coming!”….

Kerepotan lebaran

Menurutku, yang paling menikmati liburan lebaran adalah para asisten rumahtangga alias PRT. Sudah dapat THR, bebas dari pekerjaan pula. Sedangkan sang majikan gantian kerepotan mengurus segala pernak-pernik keperluan rumah. Begitu jugalah aku, terutama untuk urusan anak-anak, terutama sekali si bungsu yang baru 3,5 tahun. Wah,… aku tak pernah bisa lepas dari urusan si kecil, mulai dari bangun tidur, mandi, sarapan, nemani bermain, makan siang, tidur siang, mandi sore, makan malam, sampai tidur lagi. Terasa banget tidak mudah to be the real mother, though I am not a perfect mother. Paling lega kalau anak sudah tidur hehe…. bisa nulis-nulis seperti sekarang ini, bisa buka Face Book, cek e-mail, dll.

Adik-adikku sudah mulai pula berdatangan dengan keluarga masing-masing. Rumah ibu menjadi ramai dan mulai berantakan kayak kapal pecah. Maklum cucu-cucunya masih anak-anak yang sukanya main melulu dan belum punya rasa tanggungjawab untuk membereskan. Kerepotan bertambah saja. Tapi yah… Lebaran adalah kerepotan yang menyenangkan, dan kesenangan yang merepotkan, begitu kutulis di status FBku.

Aku sebenarnya sedang tidak ingin menulis yang sedih-sedih… tapi bagaimanapun kadang ada keprihatinan menyusup. Melihat keponakanku yang kecil-kecil sudah pandai berceloteh, aku ingat si bungsu kami Dhika yang masih terbatas percakapannya. Yah… itulah ujian kami juga, mudah-mudahan Allah akan memberikan yang terbaik bagi kami semua, Amien.

Hari Idul Fitri tiba

keluarga kecil kami di Idul Fitri

keluarga kecil kami di Idul Fitri

Alhamdulillah, hari raya telah tiba. Pagi-pagi kami sekeluarga besar berangkat bersama ke Alun-alun Purwokerto untuk sholat Ied. Kali ini untuk pertamakalinya si bungsu aku coba ajak untuk berangkat sholat Ied. Terus terang, aku agak sangsi apakah Dhika sudah bisa diajak ke acara semacam, karena Dhika memang sedikit hiperaktif dan tidak betah diam. Tapi bismillah… aku coba saja. Aku sudah siapkan mainan yang kuharap bisa membuatnya betah menunggu. Apa yang terjadi ?… Rakaat pertama berjalan dengan lancar, Dhika duduk manis di dekatku. Pada rakaat kedua, nampaknya ia mulai bosan. Tiba-tiba saja ia lari melalui lorong yang terbentuk dari jamaah sholat ied. Waduh, aku mulai tidak khusyu, tapi sempat berharap dia segera kembali. Ketika sholat selesai, Dhika tidak kembali. Wah, aku lumayan panik mencarinya. Aku sedikit berlari melewati orang-orang yang sedang mendengarkan khotbah sambil berkali-kali mohon maaf karena melewatinya untuk mencari Dhika. Sejauh mata memandang tak banyak yang bisa kulihat karena pakaian jamaah warna-warni dan sulit sekali mencari anak kecil seusia Dhika. Sambil aku memohon kepada Allah semoga Dhika ketemu, akhirnya aku menatap sosok kecil di kejauhan sedang asyik berlari kecil menyusuri pinggir alun-alun di dekat pohon beringin paling timur. Alhamdulillah, aku langsung berlari kencang, takut kehilangan sosok kecil itu. Akhirnya kutemukan dan kobopong Dhika untuk kembali ke tempat kami berkumpul. Ah,.. sungguh pengalaman yang cukup mendebarkan. Alhamdulillah, kami masih diberi kesempatan  menemukan Dhika. Dhika sungguh ujian bagi kami untuk menjaga dan merawatnya. Beri kami kekuatan ya, Allah. Amien.

Usai sholat Ied, suasana rumah cukup hiruk pikuk dengan makan opor ayam dan ketupat, sungkem dengan ibu dan saling bermaafan di antara keluarga, serta pertemuan keluarga besar RT tempat tinggal kami di Masjid dekat rumah. Ini Lebaran ketiga tanpa ayah yang telah meninggalkan kami tahun 2006 yang lalu. Kami juga sempatkan ziarah ke makam ayah untuk mendoakan beliau. Cuma ada yang sedikit menganggu, ketika kami lagi khusyu berdoa di makam ayah, keponakanku yang masih umur 3,5 tahun tiba-tiba menyanyikan lagu dengan lidah cedalnya  ”C lagi A minol D minol ke G ke C lagi….”…Lagunya Lupa-lupa Ingat-nya Band Kuburan…. Waah, ketawa deh semua…… dan berdoa harus diulang lagi.

Reuni SMA 1 Purwokerto

Setelah sehari sebelumnya kami bersilaturahmi ke Pekalongan dan kembali pada esok paginya, H +4 Idul Fitri alias tanggal 23 September diisi dengan acara Reuni SMA Negeri 1 Purwokerto Angkatan 1987 di sebuah restoran alam di dekat Baturaden. Lumayan banyak yang datang, dan kami cukup terkaget-kaget dengan penampilan beberapa teman yang banyak berubah setelah belasan tahun tidak ketemu. Ada yang jadi kelas berat, ada yang bertahan langsing, ada yang tetap awet muda, dan macam-macam lagi. Cukup seru dan heboh…!! Semoga forum ini bisa menjadi media untuk berbagi dan bertukar pikiran dan pengalaman, terutama buat kemajuan almamater tercinta.

Hm.. hari yang cukup melelahkan hari ini. Semua anggota keluargaku langsung tidur pulas lebih awal.. sehingga aku bisa bebas nulis banyak malam ini hehe……

Penutup

Demikian catatan lebaranku kali ini yang kutulis pada H+4. Pagi tadi aku sudah mendapat SMS dari Pak Dekan untuk membuat laporan singkat tentang kegiatan DIPA WCRU (World Class Research University) untuk Fakultas Farmasi di mana kebetulan aku menjadi Ketua Task Force-nya, karena akan dilaporkan dalam Pidato Dies Fakultas Senin mendatang. Artinya….. hm, liburan telah usai. Siap-siap lagi menghadapi berbagai aktivitas pasca liburan. Semoga akan menjadi hidup baru yang lebih baik…. Amien.

Selamat Idul Fitri

Mohon maaf lahir dan batin.





Kerokan dalam World Conference, etc…….

16 08 2009

Dear kawan,

kerokan_2Lama tidak menyapa nih….. Yah, beberapa hari terakhir ini malah keasyikan Face Book-an hehe…..

Aku agak kesulitan memberi judul tulisanku kali ini, karena tulisan ini adalah akumulasi dari beberapa hal yang aku lewati seminggu kemarin….. semuanya pingin aku tuliskan….  jadilah aku pilih satu hal yang paling “eye catching” hehe…

World Conference

Minggu lalu acaraku lumayan padat…. terutama hari Rabu-Kamis lalu. Ceritanya UGM akan menyelenggarakan World Confererence on Science, Education, and Culture tahun 2010 nanti, dengan thema : Local Wisdom Inspiring Global Solution. Keren kan? Tapi mulai sekarang persiapannya sudah heboh nih… dan tg 12 Agustus kemaren ada acara Launching Ceremony untuk konferensi tersebut secara lumayan megah di Ghra Sabha Pramana. Dalam Launching itu diselenggarakan pula “satelite meeting” untuk masing-masing bidang (Science Tech, Culture, Education, Health, dll) untuk menggali berbagai local wisdom di bidang masing-masing yang nantinya akan diangkat menjadi bahan conference. Nah, ceritanya… aku menjadi salah satu moderator dalam meeting tersebut. Yah.. alhamdulillah, acara berjalan lancar…. kami berhasil mengidentifikasi berbagai topik untuk diangkat dalam World Conference 2010 nantinya. Di bidang health, topik pokok yang diangkat adalah penggunaan Herbal medicine sebagai salah satu kearifan lokal kita untuk bisa dibawa ke tingkat global. Selain herbal, banyak local wisdom di bidang kesehatan yang bisa diangkat. Untuk bisa diterima di dunia global, yang penting adalah metode yang digunakan dapat diterima juga secara global. Katakanlah… kerokan saat masuk angin. Perlu dilakukan kajian dengan metode yang bisa diterima, apa sih yang terjadi pada kerokan sehingga menjadi salah satu budaya sebagian besar kita (hayo… ngaku!) ketika masuk angin?

Ternyata sudah ada penelitian tentang pengaruh kerokan. Katanya, kerokan dengan intensitas kuat dan frekuensi rendah akan mengenai titik-titik saraf yang berhubungan dengan otak sehingga organ ini mensekresikan hormon endomorfin (B-endorfin, dinorfin, dan enkepalin). B-endorfin menimbulkan rasa nyaman karena ia berfungsi mengendalikan rasa nyeri. Adanya zat-zat itu dalam darah menyebabkan penderita merasa lebih bugar. B-endorfin juga merangsang organ viscera, terutama paru-paru dan jantung, sehingga penderita bisa bernapas lebih lega, serta peredaran darahnya jadi lebih baik. Zat ini juga yang bisa menyebabkan orang jadi ”ketagihan” kerokan ……. Hmm, siapa yang suka kerokan?

Nego costing I-MHERE

Nah, kawan… Selesai jadi moderator di Launching World conference, tanpa sempat pulang ke rumah, langsung cabut ke Bandara untuk mengejar pesawat ke Jakarta untuk penerbangan jam 14.30an. Aku berangkat sendiri karena teman-teman satu tim sudah berangkat dengan pesawat pagi. Sedangkan aku sendiri karena ada tugas yang barusan aku ceritakan ini, terpaksa menyusul sendiri dengan penerbangan siang. Untung pesawatnya delayed hehe… jadi sempat sholat dengan sedikit santai di mushola Bandara. O,ya… di Jakarta ini aku termasuk salah satu anggota tim dari UGM, khususnya Fakultas Farmasi, untuk nego costing dengan reviewer dari DIKTI untuk proposal I-MHERE kami. Alhamdulillah, bahwa UGM tahun ini dapat skema pendanaan untuk pengembangan universitas sebesar sekitar 10 Miliar setahun untuk 3 Fakultas yang terpilih, yang disebut kegiatan I-MHERE (Indonesia Managing Higher Education Relevance and Efficience). Pesawat mendarat jam 15.45-an, dan aku sendirian kayak orang ilang memilih naik Bus DAMRI tujuan Blok M, karena hotel tempat meeting-nya ada di kawasan Blok M. Mau naik taksi agak serem soalnya sudah sore dan sendirian. Setelah menunggu sesaat, jadilah aku membelah kota Jakarta dengan bus selama sekitar 2,5 jam dari Bandara ke Blok M dan menikmati kemacetannya. Huah..! Tapi yah… enjoy aja lah. Sampai terminal Blok M, aku naik bajaj ke Hotel…. asyik juga tuh, menyusuri malam dengan bajaj…

Tapi semua kecapekan itu terobati dengan dinner yang memanjakan lidah di hotel… hehe… setelah itu kami meeting sampai hampir tengah malam menyusun kesepakatan perbaikan proposal sesuai dengan hasil negosiasi. Siip lah… alhamdulillah, urusan IMHERE tidak ada masalah. Aku harus segera berangkat tidur karena besoknya mau balik Jogja lagi dengan pesawat jam 6 pagi….. !! Lhah, gimana lagi…. teman-teman bisa ambil pesawat siang karena mereka free, sedangkan aku kebetulan sudah janjian untuk menguji skripsi mahasiswa jam 13 dan 15 hari Kamisnya. Mau ambil pesawat jam 11 sudah fully booked. Tapi gak papa…. cukup heroik, hehe..

Penelitian Farmakogenetik

Hari Kamis siangnya ada satu good news datang buatku……. Proposal Penelitianku yang terakhir aku apply-kan ke DIKTI diterima. Alhamdulillah..! Rasanya senang aja mengingat bikinnya mirip Bandung Bondowoso, hanya 2-3 hari sebelum deadline. Kali ini adalah proposal kolaborasi dengan mitra internasional dari Institute for Research in Molecular Medicine (INFORMM) USM Malaysia. Topiknya hal baru buatku, makanya aku cukup excited ketika diterima. Judulnya ” Pemetaan polimorfisme genetik sitokrom P450 subtipe CYP2D6, CYP2C9, dan CYP2C19 pada populasi etnis Jawa di Indonesia”. Keren kan? Hehe…. Aku lagi tertarik dengan kajian farmakogenetik/genomik dan ingin melebarkan wawasan keilmuan kesana. Mengapa? Ini alasan yang kutulis di bagian pendahuluan proposalku:

Variasi antar individu dalam hal respon terhadap obat dan terjadinya efek obat yang tidak diinginkan (adverse drug reactions, ADRs) merupakan masalah kesehatan yang besar. Adanya ADR ini merupakan penyebab terbesar ketidak-patuhan pasien terhadap pengobatan maupun kegagalan pengobatan, terutama pada penyakit-penyakit kronis. Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap fenomena ini adalah faktor genetik. Karena itu, kemampuan untuk memahami kemungkinan penyebab variasi respon ini melalui studi farmakogenetik/genomik sangat perlu sebagai prediktor untuk meningkatkan respon terhadap obat, mencegah terjadinya ADR, yang pada gilirannya akan dapat mengurangi biaya kesehatan dan beban sosial akibat adanya ADR atau ketidakefektifan pengobatan. Di sisi lain, bagi industri farmasi, informasi ini sangat penting untuk mengetahui obat-obat mana yang paling sesuai dikembangkan untuk profil farmakogenetik orang Indonesia.

Fakta awal bahwa faktor genetik memainkan peran dalam variasi respon terhadap obat didasarkan pada adanya perbedaan fenotip enzim pemetabolisme obat pada individu yang mengalami adverse drug reaction. Berkurangnya aktivitas enzim pemetabolisme fase II di hati ternyata berkorelasi signifikan dengan terjadinya toksisitas saraf obat TBC isoniazid pada beberapa orang yang mengalaminya (Evans dan Relling, 1999). Fakta lebih baru menunjukkan bahwa berkurangnya aktivitas enzim pemetabolisme fase II tersebut disebabkan karena adanya polimorfisme pada enzim N-acetyl transferase 2 (NAT2). Contoh lain adalah penyakit Lupus yang disebabkan karena prokainamid, yang ternyata dijumpai pada individu yang mengalami mutasi pada enzim sitokrom 450 subtipe CYP2D6. Contoh ini membuka tantangan di bidang farmakologi yang disebut farmakogenetik, yang berfokus pada pencarian faktor genetik yang bertanggung-jawab terhadap variabilitas respon individu terhadap obat.

Polimorfisme pada gen yang mengkode protein yang terlibat dalam proses abosrpsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi obat, maupun terhadap respon terhadap obat, sangat berpengaruh signifikan respon in vivo suatu individu terhadap obat. Namun demikian, hingga saat ini belum ada publikasi mengenai peta polimorfisme genetik pada orang asli Indonesia terkait dengan berbagai gen yang mungkin terlibat dalam respon obat. Untuk itu sangat perlu kiranya dilakukan pemetaan polimorfisme genetik pada penduduk asli Indonesia, apalagi Indonesia sangat kaya dengan suku bangsa, yang sangat memungkinkan terdapatnya variasi genetik yang luas.

Pada penelitian kali ini akan dilakukan pemetaan genetik khususnya pada suku Jawa sebagai suku dengan populasi terbesar di Indonesia. Pada kesempatan penelitian berikutnya dimungkinkan untuk memetakan pola polimorfisme genetik pada berbagai suku lainnya di Indonesia. Gen yang dipilih untuk diamati adalah gen yang mengkode enzim sitokrom P450 subtipe CYP2D6, CYP2C9, dan CYP2C19, karena mereka merupakan enzim yang paling banyak dilaporkan mengalami polimorfisme dan bertanggungjawab terhadap banyak kejadian adverse drug reaction dan kegagalan terapi beberapa obat yang lazim digunakan (Nelson, et al, 1996). Penelitian ini merupakan penelitian kerjasama yang dilakukan oleh tim Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada dengan Institute for Research in Molecular Medicine (INFORMM) Universiti Sains Malaysia. Ruang lingkup kerjasama penelitian ini mencakup pemetaan polimorfisme genetik untuk berbagai gen-gen yang terlibat dalam respon obat pada berbagai etnis/suku di Indonesia. Langkanya laporan profil genetik orang asli Indonesia di jurnal-jurnal ilmiah internasional menjadi daya ungkit penelitian ini karena akan menjadi hasil yang orisinal dan bernilai ilmiah tinggi, sehingga sangat potensial untuk dipublikasikan secara internasional. Selanjutnya, adanya informasi farmakogenetik berbagai obat pada populasi penduduk asli Indonesia akan sangat bermanfaat sebagai prediktor terhadap kemungkinan risiko ADR, kegagalan terapi, maupun untuk prioritisasi pengembangan obat.

Penutup

Nah udah dulu ya…. Aku mau siap-siap mandi karena nanti harus ikut Upacara 17 Agustusan di kantor.

Dirgahayu negriku! Hiduplah Indonesia Rayaaa…!!!





Dosen sibuk dengan Face Book?

9 08 2009

rbon396l

Dear kawan,

Sebuah tulisan ringan saja di akhir minggu tentang Face Book dan dosen.

Demam face book makin merajalela saja…. Beberapa hari lalu, anakku yang masih kelas dua SD, si Hanisa, minta main “pet so ce ti”… Duh, apaan tuh, aku nggak mudeng… Katanya yang kayak dimainkan kakak Afan. Usut punya usut, ternyata itu adalah game di Face Book yaitu “ Pet Society”…. Dia minta pula “dibuatkan” Face Book atas namanya. Jadilah, oleh kakaknya dia dibuatkan account ke Face Book. Dia diajarin juga untuk cari teman dan invite teman… termasuk invite ibu dan bapaknya hehe… Sepupu-sepupu, tante-tante dan oomnya di-invitenya semua.

Yah… sebenarnya sih gak papa, karena memang sekarang adalah eranya internet… kasihan kalo dia gaptek sendiri… Tapi masalahnya, anak-anak sekarang jadi keranjingan internet…. Wah, repot sekali…. aku harus sering “teriak-teriaki” mereka untuk mulai belajar atau nyiapin pelajaran untuk hari besoknya. Asal ada waktu luang dikit saja, larinya ke internet. Kemarin ada tambahan lagi permintaannya,… “ Bu, aku pengin punya laptop sendiri kaya kakak”…. Waduh ..! Untungnya yang ini bisa diatasi dengan mengkoneksikan desktop computer di rumah dengan internet.. Semula dia pikir yang bisa internetan cuma laptop.

Yah… jaman bergerak cepat sekali…. kemajuan terjadi di segala bidang, utamanya teknologi infomasi, yang kadang bisa mempengaruhi gaya hidup manusia. Sungguh makin berat tugas orang tua jaman sekarang, untuk bisa bersinergi dengan kemajuan yang ada, jangan sampai kemajuan jaman justru mengarah menuju kemudhorotan.

Era Face Book sekarang juga mewarnai era baru hubungan antar manusia…  yang semula terpisah jauh oleh jarak dan waktu bisa bertemu di Face Book, termasuk antara dosen dengan mahasiswanya. Sekarang bukan jamannya lagi dosen sangar dan untouchable hehe….. dosen dan mahasiswa bisa berbagi informasi tentang hal-hal akademik maupun bukan. Seorang sejawatku dosen yang aktif ber-Face Book ria malah sampai tahu tentang mahasiswanya, si ini pacarnya siapa, si itu pandai bikin puding, si ini hobbynya apa, hehe….. Hmm, boleh juga….. asal nggak keasyikan sampai lupa tugas utama lho, Jeng…. (nama dirahasiakan).

Hm….omong-omong tentang dosen,  jadi ingat tentang profesi “dosen”….

Buatku sendiri, dosen bukanlah cita-citaku sejak kecil…. karena waktu aku kecil tidak ada yang memberiku informasi tentang profesi dosen. Tapi setelah aku selesai kuliah dan akan memilih jalan hidupku, aku memutuskan untuk mengambil jalan ini dengan banyak pertimbangan (aku pernah menulis ini somewhere in my blog) Alhamdulillah, ternyata pilihanku tidak salah. Di jalan ini pula aku bertemu dengan si dia yang kemudian menjadi ayah anak-anakku hehe…..

Dosen bukan pekerjaan yang menjanjikan secara finansial….. Aku ingat, dan masih menyimpan amplop gaji pertama suamiku (dosen juga) ketika kami baru saja menikah….. Amplop yang sudah berwarna kekuningan itu bertuliskan,” Gaji pertama yang kunafkahkan untuk istriku setelah dikurangi infak untuk adikku, Rp 100.000,– Rp 20.000,- = Rp 80.000,00” hehe….. bisa dibayangkan betapa limited-nya (waktu itu tahun 1995 akhir). Ia masih harus membiayai adik bungsunya untuk kuliah. Gajiku sendiri tidak jauh-jauh dari itu… Padahal kerja di Industri farmasi , setahuku waktu itu gajinya sekitar Rp 350-400 ribuan.  Mungkin lebih.  Tapi alhamdulillah, gaji dosen yang kecil tetap kami syukuri…. Dan kesyukuran dan keikhlasan kami mungkin telah membawa ijin Allah untuk kami belajar ke Jepang bersama-sama. Dari situ kami bisa menabung agak banyak dan bisa bernafas lebih leluasa…  Bahkan bisa berhaji bersama dan menghajikan ayah mertua pada tahun 2005. Alhamdulillah….

Nah, kembali ke profesi dosen… bagaimanapun aku sudah terlanjur mencintai profesi ini…. Dan syukurlah ia pun mencintai aku hehe…. sehingga aku banyak diberi kesempatan dan pengalaman luas menyelami ilmu, bisa jalan-jalan ke negeri orang, dan income financial pun mengikuti seiring dengan kinerja kita. Profesi ini menjanjikan keleluasaan berimpovisasi dalam hidup sehari-hari….  Mau rajin apa mau malas, terserah kita. Mau naik pangkat atau tidak, terserah kita….dan apa yang kita peroleh akan tergantung dari aktivitas kita…

Aku menikmati saat mengajar di kelas, menjelaskan sampai paham, dan ada kepuasan tersendiri jika bisa membuat mahasiswa paham dengan apa yang kita ajarkan. Mudah-mudahan menjadi ilmu yang bermanfaat yang pahalanya tidak putus-putus. Amien. Memang harus ada usaha keras bagaimana mengajar yang enak, jelas, dan tidak boring. Hm…. beberapa mahasiswa bilang sih aku ngajarnya lumayan enak dan sistematis hehe…. (ge-er). Lha, gimana, .. kalau nggak sistematis kan aku sendiri yang bingung waktu mau ngajar. Namun aku juga menyadari bahwa mahasiswa sekarang juga jauh lebih maju daripada jaman aku mahasiswa dulu. Mahasiswa bisa jadi lebih dulu “melek informasi” ketimbang dosennya, jika sang dosen tidak berusaha meng-update ilmunya. Dosen kan cuma menang baca duluan hehe…… kalau keduluan mahasiswanya ya bakalan mati kutu di kelas. Nah, makanya ketika Universitas menawarkan hibah untuk pengembangan metode pengajaran yang  membangun hubungan lebih serasi antara dosen dan mahasiwanya, aku coba apply dan berhasil mendapatkan hibah tersebut. Sudah pernah aku ceritakan di somewhere in my blog, bahwa aku membuat milis kelas untuk berdiskusi dan berbagai informasi tanpa dibatasi ruang dan waktu. Konsekuensinya, aku mesti sering online… disamping tetap menyediakan waktu untuk bertatap muka di luar kelas jika dibutuhkan. Thanks for semua participants di kelas, kalian telah membuat kelas kita lebih berwarna. Aku juga sering dapat info atau inspirasi baru dari kegiatan kelas maupun online.

Nah selain milis, Face Book pun sekarang jadi media komunikasi yang sangat efektif….  Kadang ada konsultasi atau pertanyaan yang dilontarkan untukku lewat Face book, pernah pula aku menerima undangan sebagai pembicara di sebuah Seminar yang diawali dari komunikasi melalui Face Book.

Dosen tak lagi menjadi sosok misterius dan angker….. Profesor juga boleh gaul kan? hehe….. walaupun mungkin tak bisa sekerap mahasiswanya untuk Face-Bookan… maklum, urusannya makin banyak, baik urusan kantor maupun urusan domestik rumahtangga. Belum lagi kadang harus “rebutan” internet dulu dengan anak di rumah…..

Oke, selamat berFace Book ria….





Bahaya alkohol mengintai kita…

2 08 2009

Dear kawan….,

alcoholAku yakin pembaca blog ini sebagian besar tidak begitu “aware” dengan bahaya alkohol… Bukan karena tidak tau atau tidak pernah membaca, tapi lebih karena jarang menyentuh apa lagi meminumnya (begitu mudah-mudahan). Termasuk aku sendiri pun, kalau nggak diajak Mbak Tati (Hartati Nurwijaya) menulis buku tentang ini, aku ya hanya tau sekedarnya saja….. karena merasa tidak berkepentingan, karena nggak pernah minum, dan Insya Allah tidak akan minum.

Tapi kawan, ….

kalau kita pelajari lagi dan lihat sekeliling kita….. betapa sebenarnya alkohol dan teman-temannya (drugs, narkoba) sudah mengintai di setiap sudut kota. Alkohol adalah salah satu pintu masuk untuk mengenal drugs dan menjadi salah satu penyebab utama kriminalitas remaja dan dewasa. Fenomena kecanduan atau bahaya alkohol seperti “fenomena gunung es”, yang hanya kelihatan puncaknya saja, tapi ternyata di bawah banyak sekali kejadiannya. Berita yang muncul di koran tentang matinya secara sia-sia beberapa orang akibat menenggak miras hanyalah nol koma nol sekian persen dari jumlah kejadian sebenarnya. Hal ini didasarkan fakta bahwa sebenarnya sejarah alkohol sama panjangnya dengan sejarah peradaban manusia itu sendiri.

Ini diketahui melalui hasil penelitian para ahli arkeologi bahwa minuman alkohol muncul pertama kalinya dari zaman peradaban Mesir kuno. Dari sinilah minuman alkohol berkembang hingga kini, dan masih menjadi bagian dari peradaban manusia. Kemudian dilanjutkan dengan sejarah alkohol di zaman Yunani kuno dan Romawi kuno. Dari sejarah tadi bermunculanlah berbagai jenis minuman beralkohol di berbagai belahan bumi, masing-masing dengan kekhasan pembuatannya, yang tidak lepas dari budaya setempat. Perancis terkenal dengan wine-nya, Rusia dengan vodka, Jepang dengan shochu dan sake, dan masih banyak lagi daerah-daerah menghasilkan minuman beralkohol yang khas, tidak terkecuali berbagai daerah di Indonesia. Tuak, arak, brem, ciu, lapen adalah sedikit saja dari macam minuman beralkohol tradisional di Indonesia.

Sekarang dengan era globalisasi, semakin mudah pula penyebaran budaya, termasuk budaya minum alkohol. Masih “untung” mayoritas penduduk kita adalah muslim yang notabene mengharamkan alkohol, sehingga kelihatannya budaya minum alkohol belum menjadi budaya kita. Tapi bukan rahasia pula bahwa banyak mereka yang mengaku muslim, tetapi minum alkohol pun tak dipantang.

Setelah menyadari bahwa lebih banyak mudharatnya ketimbang manfaatnya, sekarang di negara-negara yang punya “budaya” minum alkohol pun sudah mulai muncul gerakan-gerakan untuk berpikir ulang untuk minum alkohol – rethinking for drinking. Sebuah website yang disponsori oleh Pemerintah Amerika Serikat dan jajarannya (http://rethinkingdrinking.niaaa.nih.gov/ ) telah mengajak masyarakatnya untuk berpikir ulang untuk minum alkohol. Karena yang banyak itu pasti dimulai dari yang sedikit. Mereka menerbitkan booklet dengan judul Rethinking drinking: Alcohol and Your Health yang dapat diperoleh secara gratis.

Nah, keprihatinan terhadap bahaya alkohol untuk para generasi penerus bangsa inilah yang menjadi dorongan kami (Mbak Tati dan saya) untuk mewujudkannya dalam buku yang sekarang dalam proses penerbitan. Dalam buku itu dipaparkan berbagai macam minuman beralkohol dari berbagai penjuru dunia dan budaya minum alkoholnya. Beberapa kisah peminum alkohol dan akibatnya juga disampaikan, demikian pula efeknya, baik secara fisik maupun psikis dalam sudut pandang kesehatan. Tentu saja beberapa cara mencegah atau mengobati kecanduan alkohol juga diuraikan dengan gamblang. Terimakasih atas semua rekan dari berbagai belahan bumi yang sudah berkontribusi untuk buku ini.

Just for your info saja……

Tahukah kalian, kawan, bahwa jenis alkohol itu ada yang hanya merupakan hasil fermentasi dan ada juga yang didestilasi setelah fermentasi? Itu yang disebut jenis beer dan spirits, di mana spirits ini kadar alkoholnya lebih tinggi yang diperoleh dari proses destilasi. Sebuah tulisan pada jurnal Alcohol terbitan Mei 2009 (Vol 43, hal 185-195) melaporkan bahwa jenis alkohol yang diminum dapat mempengaruhi keparahan dari ketergantungan alkohol dan kepatuhannya terhadap pengobatan kecanduan alkohol. Baltieri, dkk menemukan bahwa keparahan ketergantungan alkohol lebih banyak dijumpai pada peminum spirits ketimbang beer, demikian pula kepatuhan pecandu spirits terhadap pengobatan kecanduan alkohol lebih kecil ketimbang pada pecandu beer, sehingga perlu dicarikan metode yang lebih baik untuk mengatasi kecanduan spirits.

Di Indonesia, bentuk spirits ini tidak banyak dijumpai pada minuman beralkohol asli Indonesia. Tapi yang lebih memprihatinkankan adalah banyaknya minuman-minuman oplosan yang umumnya dikonsumsi masyarakat kalangan ekonomi lemah, sebagai bentuk “pelarian” dari himpitan kehidupan. Sedih sekali melihatnya. Mestinya ada upaya dari berbagai pihak untuk bisa menekan penggunaan miras ini dengan lebih sistematis, sekaligus pemberian informasi yang lebih luas mengenai bahaya alkohol. Kampanye Bahaya Alkohol ke berbagai penjuru tanah air yang memiliki korban miras tinggi merupakan salah satu upaya yang akan kami lakukan (Insya Allah) bersamaan dengan peluncuran buku ini. Siapa ya yang akan mendukung? Kami sangat terbuka untuk mendapat dukungan semua pihak, baik moril maupun materiil. Mungkin ada yang mau ngasih penginapan gratis, atau akomodasi dan transportasi, atau apalah hehe…….. Silakan kontak saya saja melalui blog ini…

Demikianlah, ini iklan untuk buku kami : “Bahaya Alkohol dan Cara Mencegah Kecanduannya” yang mudah-mudahan akan segera diterbitkan oleh PT Elex Media Computindo hehe…..  Beli yaa…..





Mengintip dunia kecilku: bikin proposal riset…

24 07 2009

Dear kawan,

Alhamdulillah, aku sudah balik lagi ke Yogya dengan selamat…. (kayak dari mana aja hehe……). Kemarin pagi aku berangkat ke Jakarta, tepatnya ke Puspiptek Serpong untuk mempresentasikan proposal penelitianku tahun kedua yang akan didanai oleh Kementrian Negara Riset dan Teknologi (KNRT), jadi sering disebut penelitian Ristek. Presentasinya sih cuma sekitar 45 menit di hadapan para reviewer, dan alhamdulillah… berjalan lancar-lancar saja. Petangnya dah balik lagi Jogja. Perjalanan pun lancar, tidak ada delay pesawat, jam 19.40an sudah mendarat dengan mulus di Bandara Adisucipto. Cuaca pun cerah. Tinggal tunggu hasil nih…. mudah-mudahan bisa kayak Pak SBY hehe…. : Lanjutkan…. Lanjutkan!

pura-pura penelitian...

pura-pura penelitian...

Omong-omong tentang proposal penelitian, ada kawan yang minta aku menuliskan kiat-kiat membuat proposal penelitian biar bisa joss gitu lho…… Hm, sebenarnya sih aku juga nggak jago-jago amat menyusun proposal penelitian. Mungkin lebih karena faktor “luck” dan suka mencoba  hehe…. jadi lumayanlah….  kalau melihat list of my research activities di blog ini, cukup banyak juga penelitian-penelitian yang sudah aku lakukan. Dan dana-dana riset yang sempat aku peroleh (tidak ditampilkan karena alasan etika hehe…) berada pada rentang yang cukup luas, dari yang “kecil” senilai 30 jutaan, sampai yang ratusan juta-an. Untuk Penelitian Ristek yang lumayan bergengsi ini, aku sempat tembus dua kali, yaitu tahun 2007 dan 2009. Tahun 2007 aku mendapat insentif untuk Riset Terapan selama 2 tahun, dan tahun 2009 ini aku mendapat insentif Riset untuk Katagori Riset Peningkatan Kapasitas IPTEK dan Sistem Produksi. Aku mendapat dana (grant) untuk tahun pertama, dan sedang berjuang untuk mendapatkan dana tahun kedua. Mudah-mudahan nanti juga ada tahun ketiga, karena penelitian ini memang aku rencanakan selama 3 tahun. Pada tahun yang sama ini (2009), proposal penelitianku yang lain juga berhasil didanai oleh UGM untuk jenis Penelitian Kolaborasi Internasional. Untuk ini aku bermitra dengan profesor pembimbingku waktu studi S3 dulu di Jepang. Dan saat ini aku masih berharap-harap cemas untuk sebuah proposal yang aku ajukan ke DIKTI beberapa saat lalu untuk kategori Penelitian Kolaborasi Internasional, tapi untuk topik yang sama sekali berbeda dan dengan mitra luar negeri yang berbeda.  Hehe…. gayanya sok saintis banget ya…….

Bagaimana sih caranya menulis proposal penelitian ?

Hm… penelitian tentu berawal dari sebuah “research question”…. sesuatu yang kita tidak tahu dan ingin mengetahui jawabannya. Untuk itulah kita mengadakan penelitian. Ide penelitian bisa berasal dari mana-mana… Aku biasanya mengandalkan insting saja ditambah baca-baca literatur. Yang jelas harus original, dapat menghasilkan sesuatu yang baru yang belum ada sebelumnya. Sesuatu itu bisa suatu produk, atau suatu pernyataan atau jawaban atas sebuah pertanyaan.

Untuk jadi “proyektor” alias mroyek penelitian, kita tentu perlu menyesuaikan dengan aturan dari penyandang dana, topik-topik apa yang lebih disukai untuk didanai. Dalam panduan penulisan proposal, biasanya disebutkan secara detail apa-apa yang harus ditulis dan topik apa yang menjadi ruang lingkup pendanaan. Kebetulan latar belakang ilmuku adalah farmasi, khususnya farmakologi, maka  topik-topik yang kukembangkan terutama adalah pengembangan obat baru atau uji farmakologi suatu bahan baru (bisa bahan alam atau sintetik) untuk suatu efek tertentu.

Kalau ditanya kiat-nya apa supaya bisa berhasil, aku bingung juga… apa ya? Coba kuurutkan satu-satu bagaimana sistematika proposal penelitian…

1. Latar belakang penelitian atau pendahuluan

Ini bagian yang sangat penting yang menentukan apakah suatu proposal atraktif atau tidak bagi penyandang dana (yang diwakili oleh reviewer). Kita harus bisa secara meyakinkan menulis bahwa penelitian ini memang sangat penting  dan sangat bermanfaat jika penelitian ini bisa terlaksana. Misalnya : bisa meningkatkan daya saing produk berbasis bahan alam pada pelayanan kesehatan formal, mengurangi ketergantungan terhadap produk ekspor, atau apalah….. tergantung topik penelitian. Mungkin perlu dengan kalimat-kalimat yang sedikit bombastis, tapi tetap relevan… hehe….

2. Rancangan dan metode penelitian

Ini juga sangat krusial untuk menunjukkan bahwa penelitian kita akan dapat mencapai tujuan karena didukung dengan metode yang shahih/valid. Walaupun ide penelitian kita bagus dan hasilnya sangat bermanfaat, jika disain penelitiannya tidak sesuai tentu akan diragukan keberhasilannya. Sebuah penelitian untuk mengetahui/mempelajari efek dari suatu “jamu masuk angin” misalnya, atau mau mengembangkan obat baru untuk obat “masuk angin”, memerlukan metode yang valid untuk menentukan parameter efek jamu “masuk angin”. Apakah akan melihat efeknya menghangatkan badan, efeknya terhadap mual atau kembung, atau yang lain. Alat ukur apa yang dipakai juga sangat penting. Istilah masuk angin sendiri tidak dikenal secara medis, tetapi nyatanya di masyarakat sangat familiar dan banyak jamu yang diindikasikan sebagai jamu masuk angin… wesewes-ewes… baablas angine hehe….. ! Dari segi disain penelitian sendiri, maka disain yang paling pas adalah rancangan penelitian eksperimental, yang memerlukan ada kelompok kontrol dan perlakuan. Kelompok kontrol tidak mendapatkan obat, sedangkan kelompok perlakuan mendapatkan obat, lalu diukur parameter2 yang telah ditetapkan tadi. Pelaksanaannya bisa pada hewan uji atau langsung pada manusia. Jika pada hewan, maka parameter dan alat ukurnya harus dipilih yang sesuai, karena hewan tidak bisa ngomong untuk menceritakan apa yang dirasakan. Namun jika ujinya akan dilaksanakan pada manusia, tentu harus memenuhi etika pada manusia. Biasanya proposal harus direview dulu oleh suatu komite etik penelitian pada manusia, jika oke maka akan mendapat “ethical clearance”.

Jika suatu uji akan menggunakan hewan uji, maka harus dipilih hewan uji yang sesuai dengan tujuan penelitian. Efek obat terhadap kontraksi trakea yang diinduksi histamin misalnya, biasanya menggunakan marmut sebagai hewan uji, bukan tikus, karena tikus tidak memiliki reseptor histamin pada trakeanya. Pokoknya antara tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian dengan rancangan dan metode penelitiannya harus match.

Yah… semacam itulah….. kira-kira.

3. Sumberdaya manusia yang tersedia

Dalam sebuah proyek penelitian yang agak besar, tentu tidak mungkin dikerjakan sendiri oleh satu orang. Untuk itu perlu ada anggota, dan anggota peneliti tentu harus yang memiliki kompetensi yang relevan dengan topik penelitian. Hal ini biasanya terlihat dalam biodata peneliti yang harus disertakan dalam proposal.

4. Usulan biaya

The last but not least adalah usulan biaya. Usulan biaya harus cukup masuk akal dan sepadan dengan volume penelitian dan hasil  yang diharapkan. Jika terlihat terlalu mengada-ada malah akan diragukan, dan sangat mungkin biaya yang disetujui jauh lebih kecil dari yang diusulkan. Item-item biaya perlu diuraikan sedikit rinci untuk lebih meyakinkan reviewer bahwa kita paham betul medan kerja yang akan kita kerjakan.

Nah, kawan…

Begitu kira-kira gambaran umumnya. Hehe…. sory, ya, kalau cuma begini saja. Yah, aku nggak bisa nulis terlalu rinci, nanti bisa panjang sekali kalau mau pake contoh-contoh. O,ya…. satu lagi, kadang kita diminta mempresentasikan proposal penelitian kita di hadapan reviewer seperti yang aku lakukan di Serpong kemarin. Yang penting adalah percaya diri saja dan bisa menjelaskan dengan meyakinkan apa yang akan kita kerjakan.

Sekali lagi, proposalku juga tidak selalu berhasil…. tapi jangan pernah lelah mencoba. Proposal yang gagal bisa jadi bahan proposal baru dengan perbaikan di sana-sini.

Begitulah…. sedikit berbagi. Semoga bermanfaat.








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 447 pengikut lainnya.