Pelatihan Farmasi Klinik

11 05 2009

Dear kawan,
Seminggu ini aku punya gawe nih….. bukan mau mantu hehe…. tapi mulai hari Selasa ini sampai dengan Jumat, Magister Farmasi Klinik UGM menyelenggarakan Pelatihan Farmasi Klinik. Pelatihan ini ditujukan untuk teman-teman sejawat apoteker se Indonesia, yang ingin meng-update ilmunya di bidang kefarmasian terutama yang bersentuhan dengan pasien. Pelatihan seperti ini telah diselenggarakan secara rutin setiap tahunnya, bekerja sama dengan Direktorat Farmasi Klinik dan Komunitas, Dep Kesehatan RI, sejak tahun 2002 hingga sekarang. Topiknya berganti-ganti, dari Penyakit Kardiovaskuler dan DM, Kanker, Asma, PPOK, Infeksi dan alergi pada anak-anak, dll. Topik kali ini adalah Patofisiologi dan Farmakoterapi pada penyakit Artritis dan epilepsi, dengan mengundang beberapa dokter ahli dan pakar kefarmasian terkait.

O,ya… Pelatihan yang sama untuk gelombang ketiga akan diselenggarakan pada tanggal 16-18 Juni mendatang. Yang belum ikutan dan ingin refreshing di Yogya sambil menimba ilmu, silakan bergabung. Pendaftaran bisa dilakukan via telepon ke 0274-553110 (kontak person: Mbak Desy atau Mbak Tini), atau via e-mail : mfk_ugm@yahoo.com. Informasi lengkap dapat dilihat pada website: http://mfk.farmasi.ugm.ac.id.

Posting kali ini isinya iklan ini dulu ya…… belum sempat cerita yang lain nih….





Gado-gado

25 04 2009

Dear kawan,
Maafkan, blog-ku sudah agak lama melompong…… Dan saking lamanya tidak nulis, dan sudah ada beberapa hal yang tersimpan di kepala dan mau ditulis…. sampai bingung mau ngasih judul apa posting ini, hehe….. Akhirnya kukasih saja judul : Gado-gado…. karena isinya campuran berbagai hal..

Seminar tentang PPA
Seperti yang kuceritakan di posting sebelumnya, hari ini jadi juga aku menjadi pembicara di sebuah Seminar Regional yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Farmasi UII Yogyakarta (Thanks for inviting…Besok mesti ke UII lagi untuk menjadi reviewer proposal penelitian mahasiswa. Mudah-mudahan gak bosen lihat muka saya hehe…. ). Seminarnya sendiri cukup meriah dengan sekitar 200 orang yang hadir (menurut laporan Ketua Panitianya). Sebuah inisiatif yang bagus dari mahasiswa untuk memberi respon terhadap issue yang berkembang masyarakat !! Aku sangat menghargai. Subtansi masalahnya sendiri sudah aku tulis pada posting sebelum ini, yaitu tentang maraknya lagi isu bahaya PPA (Phenylpropanolamine) yang banyak dijumpai pada komposisi obat flu. Kesimpulannya, komposisi obat flu yang mengandung PPA cukup aman dipakai, selama masyarakat mengikuti aturan yang tertera dalam kemasannya. Apalagi dosis PPA dalam obat flu yang diijinkan beredar di Indonesia maksimal 15 mg/sekali minum, jauh lebih kecil dari dosis yang dilaporkan meningkatkan risiko stroke hemoragik di AS.

Pembicara yang profesional
Menjadi pembicara yang menarik dan profesional itu tidak mudah…. Apalagi untuk aku yang pada dasarnya pemalu (dan malu-maluin)…hehe. Dan ternyata ada trik dan kiat-kiatnya, bagaimana untuk bisa menyentuh hati atau menggelorakan pendengarnya, sehingga pesan yang kita bawakan sampai kepada sasarannya. Bagaimana menggunakan vokal yang jelas, menyihir hadirin dengan kata-kata yang powerful, berbicara secara sistematis dan terstruktur, membangun image yang kuat lewat tindakan dan bahasa tubuh, bagaimana mengatasi gangguan saat di panggung, dll. Wow….. tidak gampang! Semua ini bisa dibaca pada buku Talk-inc Points yang disusun oleh Erwin Parengkuan dkk. Terimakasih untuk mas Lutfi yang menghadiahi aku buku ini tadi pagi dalam seminar hehe……. Oya, mas Lutfi ini adalah MC pada seminar tadi pagi, dan beliau adalah MC profesional (sekaligus mengaku sebagai pembaca setia blog ini hehe….). Aku jadi merasa tersanjung….

Dhika
Siangnya selesai berbicara di seminar aku menjemput Dhika di Play group-nya. Mestinya Dhika hari ini menjadi “model” untuk pelatihan terapi okupasi bagi beberapa tenaga kesehatan terkait. Awalnya Dhika asyik saja masuk dan main di ruang bermain, tetapi ketika mulai banyak orang, ia mulai merasa “terancam”, dan tidak mau masuk ke ruang bermain tempat terapi okupasi dilaksanakan. Jadi batal deh…..
Oya, alhamdulillah, Dhika sudah mulai nambah kata-kata. Sekarang sedang suka menyanyi lagu “Naik Kereta Api”… ia sudah mau menirukan beberapa kata-kata. Mudah-mudahan saja Dhika akan semakin bertambah kemampuannya dan dapat mengejar ketertinggalannya…. Mohon doanya, ya.

Obat setelan
Wah, topik bahasannya kok aneh ya… meloncat-loncat. Tapi memang itulah yang kualami hari ini. Sore sehabis mandi tak sengaja aku melongok TV, yang ternyata sedang menayangkan suatu program investigasi mengenai “kurangnya pelayanan apoteker”, yang bahkan cenderung “sembrono”. Aduuh, aku jadi langsung terhenyak…… Begitukah pandangan umum terhadap profesi apoteker? Padahal tadi pagi aku masih berjumpa dengan calon-calon apoteker yang penuh idealisme dan semangat tinggi. Salah satu kajiannya adalah maraknya penjualan obat setelan, di mana masyarakat bisa membeli secara bebas.

Wah, aku sendiri malah baru dengar istilah obat setelan. Kurang piknik nih. Yang dimaksud obat setelan adalah paket kombinasi beberapa obat yang sudah diset untuk suatu gangguan penyakit tertentu, utamanya gangguan-gangguan ringan, seperti sakit gigi, rematik, batuk pilek, dll. Di situ ditayangkan kemasan-kemasan plastik yang berisi beberapa obat berbeda untuk suatu penyakit. Misalnya untuk rematik ada piroksikam dan deksametason, untuk demam, batuk pilek ada tablet gliseril guaikolat, dekstrometorfan, CTM, dan parasetamol. Nah… masalahnya…… obat-obat itu ada yang mestinya harus dengan resep dokter.
Selain itu, dalam tayangan tadi juga menyoroti apoteker ikut-ikut mendiagnosa, yang semestinya adalah tugas dokter, demikian yang dinyatakan dalam narasi tayangan tersebut.

Well…… kalau ada apotek yang dengan mudah menjual obat yang mestinya dengan resep, tanpa informasi apa-apa dari apoteknya (apoteker atau asistennya), aku turut menyayangkan. Sungguh dilematis memang buat sejawat di lapangan. Kalau nggak seperti itu, mungkin income apotek kurang dan tak bisa hidup layak. Untungnya aku tidak pegang apotek hehe… jadi bisa ngomong begini. Tapi paling tidak, untuk mengurangi “dosa-dosa” itu, berikanlah informasi sejelas-jelasnya mengenai pemakaian obat tersebut.
Apoteker “mendiagnosa”?….
Untuk penyakit-penyakit ringan (minor illness) dan dapat menggunakan obat-obat tanpa resep (OTC) menurutku sah-sah saja. Ketika seorang datang mencari obat rematik misalnya, tentu jangan asal diambilkan obat saja, tapi sebaiknya ditanyakan mengenai riwayat penyakit pasien, apakah dia juga punya penyakit maag misalnya, atau asma, karena penggunaan obat-obat anti radang semacam piroksikam, diklofenak, dll dapat meningkatkan keparahan sakit maagnya atau asmanya. Jadi sebenarnya bukan “mendiagnosa” ya, seperti disampaikan dalam narasi tayangan di TV, tapi lebih untuk memastikan keadaan pasien sehingga apoteker bisa memilihkan obat yang tepat. Idealnya demikian…..

Narasi pada tayangan di TV seringkali kurang tepat dan cenderung tendensius, yang kadang terdengar berlebihan. Mungkin karena kurangnya pemahaman mengenai masalah sebenarnya. Istilah apoteker mendiagnosa akan menggiring pada “membuka kapak peperangan” dengan sejawat dokter, sama dengan ketika apoteker mendengar bahwa ada dokter melakukan “dispensing”. Mudah-mudahan tidak terjadi kesalahpahaman antar profesi yang semestinya justru bekerja sama demi kesembuhan pasien.

Buat sejawat apoteker di lapangan, sekarang masyarakat semakin kritis dan pintar. Bangunlah image positif bagi profesi apoteker, apalagi sekarang banyak stasiun TV yang suka mencari berita-berita sensasional, dengan kamera tersembunyi, yang kadang akan menjadi berita yang seringkali kurang proporsional dan memojokkan.
Tapi sebenarnya kalau kita kembalikan pada diri kita, untuk apa sejatinya manusia diciptakan…… apapun yang kita lakukan, pasti ada kamera yang menyorot, yaitu kamera Malaikat Roqib dan Atid… yang akan mendokumentasikan semua apa-apa yang kita lakukan, menjadi catatan amal baik dan buruk, dan menjadi laporan kepada Allah. Mengapa kita tidak berangkat dari situ untuk menjalani profesi masing-masing dengan hati nurani?

Wah, kayak gado-gado kan cerita hari ini?
Tapi gado-gado enak juga, menyehatkan……





Wanita, mahluk multi tasking….

17 04 2009

kartiniDear kawan,

Menjelang hari Kartini, kali ini aku menulis sebuah posting agak berbau gender… hehe.. mohon para pria tidak protes.

Pagi tadi aku dijadwalkan bertemu dengan seorang wanita kuat (termasuk jajaran pimpinan univesitas)  untuk sebuah urusan. Tapi ternyata ada perubahan schedule, karena mendadak beliau harus pergi ke Jakarta, untuk menemani observasi kesehatan putranya, yang memang telah lama memiliki gangguan kesehatan. Putranya bahkan sudah dua kali menjalani transplantasi ginjal. Sekali dengan ginjal ibunya, sekali dengan ginjal donor.

Yah, terpikir olehku…. begitulah kodrat seorang ibu. Betapapun sibuk dan berat pekerjaannya, tetapi urusan anak, urusan rumah tangga, adalah tetap nomor satu. Dan itulah wanita. Kalau ditanya, mana yang lebih kuat, wanita atau pria? Mana yang lebih mandiri, wanita atau pria? Hehe…… para wanita pasti akan menjawab: WANITA.

Ya, wanita adalah mahluk yang kuat dan multi-tasking. Mereka bisa memainkan banyak peran dan terbiasa mengerjakan banyak hal dalam satu waktu. Bahkan simbah-simbah putri kita dulu yang bukan pekerja kantoran, mereka jitu dalam manajemen waktu. Mereka biasa mengerjakan beberapa pekerjaan secara simultan. Sambil merendam pakaian yang akan dicuci, mereka menyiapkan sarapan pagi. Setelah itu, menyuci, masak sambil disambi nyuapin anak, setrika baju, dll. Sudah gitu, masih harus mengurus suami pula. Dan mereka bekerja selama 24 jam. Opo ora hebat? Wanita yang bekerja pun harus berperan ganda. Jika Bapak-bapak pulang kantor bisa leyeh-leyeh, baca koran, nyruput kopi….  Ibu-ibu sepulang kantor masih harus ngurusin rumah… mandiin anak, menyiapkan makan malam, dll.

Wanita juga lebih mandiri. Terbukti lebih banyak janda-janda yang ditinggal wafat suaminya yang dapat bertahan hidup sendiri dan menghidupi anak-anaknya, ketimbang duda-duda yang bisa hidup sendiri merawat anaknya. Bener kan?

Aku sering ditanya, bagaimana caranya mengatur waktu dan kiat-kiat mencapai sukses hehe…. Aku jadi malu. Orang sering beranggapan bahwa aku tentu sangat sibuk bekerja sehingga bisa menjadi profesor dalam usia relatif muda. Ada yang tanya, kok Ibu sempat juga menerbitkan buku? Mengajar ? Penelitian? Membimbing skripsi atau thesis?  Ngeblog pula? Kapan tidurnya? Hehe…. Mungkin tidak percaya kalau aku bilang…. aku normal-normal saja, mengalir saja mengikuti aliran hidup…. masih sempat mengikuti berita infotainment, nonton Termehek-mehek, mainan Facebook atau ngeblog, jalan-jalan dengan keluarga, ngurusin tanaman di rumah, dll. Makanya kalau ditanya kiatnya apa, aku jadi bingung….

Mungkin kuncinya adalah manajemen waktu yang baik. Sebagai ibu tiga anak yang masih kecil-kecil, aku harus pandai-pandai bagi waktu. Dan bagaimanapun, tugas domestik rumah tangga, masih merupakan peran tradisional dan utama wanita. Aku sendiri merasakan, kalau urusan anak sakit, anak sekolah atau belajar mau ujian, sampai urusan baju anak atau urusan kebutuhan rumah, itu masih tugas seorang ibu. Ada satu contoh kecil, yaitu  ketika anakku yang kedua (waktu itu umur 4 tahun), masuk TK A (nol kecil). Waktu itu, dia bener-bener tidak mau ditinggal di sekolah, dan tidak mau diantar siapapun kecuali ibunya. Jadilah aku tiap pagi mengantar dan ikut “sit in” di TK, dan harus selalu di dalam kelas. Itu berlangsung hampir 3 bulan. Sementara bulan-bulan itu tugas pembimbingan skripsi juga lagi banyak, karena banyak yang mau ujian.. Jadilah aku nungguin anak di TK sambil koreksi skripsi, dan buka konsultasi skripsi di TK… Mahasiswa yang butuh konsultasi skripsi aku minta datang ke TK Masjid Kampus UGM hehe….

Terkait dengan manajemen waktu adalah membuat prioritas pekerjaan dan pendelegasian pekerjaan. Selain membuat list pekerjaan mana yang harus dikerjakan dulu dalam sehari, perlu juga melakukan pendelegasian pekerjaan. Ada pekerjaan-pekerjaan yang perlu pemikiran khusus sehingga harus dikerjakan sendiri, ada yang bisa dikerjakan oleh orang lain dimana kita yang mengarahkan. Untuk ini aku memang memiliki asisten. Alhamdulillah, terus terang aku sangat terbantu dengan asisten-asistenku ini. Pekerjaanku menjadi sangat accelerated. Di rumah, ada asisten rumah tangga alias PRT yang sudah kuanggap sebagai bagian dari keluarga. Aku sangat beruntung memilikinya yang bisa menghandle urusan rumah, terutama si kecil Dhika. Jadi dalam beberapa urusan domestik, aku mendelegasikan tugas pada mbak asisten RT-ku, misalnya untuk masak, antar Dhika sekolah, cuci-cuci dan bersih-bersih rumah. Tapi pekerjaan yang perlu pakai otak seperti menemani anak belajar dan mengoreksi hasil pekerjaannya, tentu aku lakukan sendiri. Juga pekerjaan yang menggunakan hati, seperti menemani anak-anak main, bercanda, belanja, atau apalah yang memerlukan sentuhan ibu, tentu harus kulakukan sendiri. Dan tentunya juga sentuhan untuk suami hehe……. tidak boleh didelegasikan pada siapa-siapa….

Bagaimana dengan di kantor? Alhamdulillah juga, aku memiliki asisten pribadi yang sangat membantu. Mungkin aku termasuk sedikit dosen di fakultas yang punya asisten/sekretaris pribadi yang aku hire secara khusus. Jadi untuk urusan administratif yang nota bene tidak terlalu banyak membutuhkan ilmu khusus kefarmasian, bisa dikerjakan oleh mbak asistenku, yang selain cekatan juga kreatif. Aku sangat beruntung memilikinya. Ia bahkan bisa memberi banyak ide-ide praktis yang kadang aku tidak sempat memikirkannya. Filing surat-surat penting dan nilai mahasiswa, urusan keuangan penelitian, urusan fotocopy & dan penggandaan proposal, urusan tetek bengek seperti pesan tiket kalau aku mau keluar kota/negeri, dll., sampai pengurusan kenaikan pangkat, aku banyak dibantu olehnya. Jadi aku bisa menghemat waktuku untuk memikirkan hal-hal yang lebih ilmiah atau bersifat kebijakan hehe….. Bikin proposal riset, menulis paper atau buku, meng-update bahan kuliah, baca/koreksi thesis atau skripsi, dll. Apalagi urusanku di luar “pekerjaan pribadi” juga lumayan padat…. Menjadi Kepala Lab, Asisten Wakil Dekan III, Ketua PIOGAMA, Pengelola Magister Farmasi Klinik, Ketua Task Force Kegiatan Pengembangan Fakultas (DIPA WCRU 2009), Anggota Tim Pembangunan RS UGM, …….. kebayang kan kalau gak punya asisten?

Sudah begitu saja kadang waktu rasanya tidak cukup. Aku biasa berangkat ke kantor pagi-pagi (sekalian antar anak-anak sekolah) dan pulang lewat jam kantor (sekalian jemput anak pulang sekolah). Kadang di rumah ada yang masih harus dikerjakan, dan itu aku usahakan setelah urusan rumah selesai. Biasanya malam setelah anak-anak tidur.

Hal lain yang terkait dengan manajemen waktu adalah pemanfaatan teknologi informasi, walaupun aku masih agak-agak gaptek.  Teknologi kan dibuat untuk mempermudah tugas manusia? Aku termasuk yang tidak bisa lepas dari laptop, dan kalau bisa selalu online. Jadi kalau lagi ada waktu luang, dan kebetulan ada inspirasi menulis, aku bisa manfaatkan waktu untuk menulis atau mencicil tulisan. Yahoo Messenger juga jadi alat komunikasi efektif. Jika aku sedang ada di luar kantor atau di luar kota atau bahkan di luar negeri, aku tetap bisa berkomunikasi dengan teman dosen maupun staff untuk urusan pekerjaan, bertukar file, koreksi draft surat-surat, dll.  Dengan demikian dua-tiga urusan dapat dikerjakan dalam waktu yang bersamaan. Sangat efisien dan accelerated!

Yah, jadi begitulah…. gak ada kiat-kiat yang istimewa bukan?

Kembali ke judul posting ini….. kayaknya itulah kelebihan wanita. Multi-tasking

Jadi jangan sepelekan wanita …..





Menulis itu (tidak) gampang….

3 04 2009

 

Dear teman,

 

Malam mulai larut. Aku menengok blog-ku yang beberapa hari ini terlantar tanpa tulisan baru semenjak aku pulang dari negeri orang. Kasihaan… Wah, blog sekarang kalah dengan Face book…. Invitation untuk gabung dalam Face book datang setiap hari. Untuk Face book aku masih sempat menengok dan menulis sepatah dua patah…. Tapi blog-ku jadi merana..

Ada dua penyebabnya:

1. Tidak sempat menulis

Seminggu ditinggal, pekerjaan langsung bertumpuk. Beberapa draft thesis S2 menanti dibaca, bikin laporan benchmarking dari Belanda kemarin, review proposal penelitian, persiapan kegiatan WCRU Fakultas, dll, dll. Di rumah, anak-anak mulai ujian mid semester, perlu perhatian lebih. Maklumlah, masih belum bisa bertanggung-jawab atas dirinya sendiri. Belajar harus ditemani ibu…. Belum lagi si bungsu yang sudah lama ditinggal… Aku tak ingin kehilangan kedekatanku dengannya, dan aku sendiri yang punya kepentingan untuk menemani dia bermain…..  (Ah maafkan ibu, Nak…)

2. Tidak punya ide menulis

Dengan kepadatan acara tadi, rasanya ide menulis pun menguap… di otak sudah berderet hal yang perlu dipikir duluan…..

 

Tapi….

Aku merasa harus menulis, karena sudah lama tak ada tulisan baru. Pasti sudah banyak yang menanti…. hehe… ge-er banget. Jadilah aku menulis posting ini tentang pengalaman menulis…..

 

Menulis apa yang paling gampang?

Paling gampang adalah menulis pengalaman sendiri. Itu sama seperti kita bercerita secara lisan. Masalahnya tinggal pemilihan kata, penyusunan kalimat biar terbaca indah, juga keruntutan tulisan. Seorang pembaca blog ini pernah menanyakan, ibu kok kalau nulis begitu runtut, enak dibaca… (hehe.. jadi ge-er lagi). Apa langsung ditulis di blog, atau ditulis di tempat lain dulu? Yah, biasanya kalau ada inspirasi menulis, aku ketik dulu tulisanku di MS word. Setelah jadi dibaca lagi, dan edit sana-sini jika perlu, baru aku copy dan paste ke Blog. Itupun nanti masih bisa disunting lagi jika dianggap masih kurang sesuai.

Oya, walaupun menulis sekedar cerita, akurasi data cukup penting. Contohnya ketika aku menuliskan catatan perjalananku selama ke Groningen kemaren,  maka aku perlu menambah bacaan atau informasi lain tentang Groningen untuk melengkapi ceritaku, misalnya berapa jumlah penduduknya, berapa persis temperaturnya, dll. Bahkan penulis novel pun, yang nampaknya “hanya” cerita imajinasi, seringkali perlu survai dulu mengenai tempat di mana kisah itu di-setting, supaya data yang melengkapi cerita itu akurat.

 

Menulis apa yang paling gampang kedua?

Buatku, menulis tentang ilmu yang pernah aku pelajari itu paling gampang berikutnya. Kalau untuk aku, tentunya aku merasa gampang kalau menulis tentang obat dan pengobatan. Yang menjadi critical point-nya di sini adalah bagaimana menuliskan sesuatu itu sesuai dengan audiens pembacanya. Blog ini aku tetapkan sebagai blog pribadi dengan segmen pembaca yang luas, bukan blog khusus untuk profesi tertentu. Jadi aku perlu mengolah ilmu pengobatan  yang ilmiah itu menjadi suatu tulisan populer, tanpa meninggalkan substansi yang ingin disampaikan. Pemilihan kata dan cara penyampaian menjadi penting. Jangan lupa juga dengan tata-bahasa. Bagaimana dengan gaya bahasa? Karena ini blog-ku sendiri dengan tulisan suka-suka aku, aku memilih gaya bahasa santai dan sesekali diselipi humor (itupun kalau ada yang merasa lucu hehe….).  Tentu tidak akan sama dengan menulis untuk koran misalnya. Walaupun bahasanya ilmiah populer, sebaiknya tidak banyak haha-hihi-nya. Aku sendiri sudah lama tidak nulis di koran, keenakan nulis di blog saja, santai…. dan pasti diterbitkan hehe…

 

Menulis apa yang lebih sulit?

Agak lebih sulit lagi adalah menulis opini. Untuk menulis suatu opini, seseorang perlu wawasan yang luas, sehingga opininya itu cukup masuk akal dan berimbang. Ini tidak gampang. Seseorang juga perlu cukup responsif dan kritis terhadap suatu keadaan yang berkembang di masyarakat. Mungkin tidak sangat banyak orang yang bisa demikian. Aku termasuk yang tidak bisa.

 

Bagaimana kalau menulis cerpen atau novel?

Wah..wah… kalau yang ini butuh bakat tersendiri. Bakat mengkhayal, berimajinasi, dan menuangkannya dalam tulisan. Dulu sekali waktu SMA aku pernah menulis cerpen….. tapi cuma untuk dibaca sendiri saja hehe…. terinspirasi dengan kisah cinta semasa SMA. Ternyata susah betul menulis cerpen atau novel kalau kita memang tidak berbakat.

 

Bagaimana kalau menulis buku teks?

Menulis buku teks atau buku ajar itu rasanya lebih gampang daripada menulis novel. Kalau yang ini aku punya pengalamannya. Pertama, kita perlu bikin kerangka dulu apa yang akan kita tulis. Bab-nya apa saja, sub bab-nya apa. Lalu mengumpulkan sumber-sumber yang relevan, yang sebaiknya berasal dari literatur primer, yaitu paper-paper pada jurnal. Yang ini mungkin mirip kalau bikin skripsi atau thesis atau makalah. Tapi sangat diutamakan kita tidak sekedar menyalin atau menyadur, apalagi dari literatur tersier (baca: buku teks lain). Di sini diperlukan kemampuan mengkompilasi dan menyusun informasi dari berbagai sumber literatur menjadi suatu bacaan yang lengkap tapi runtut. Kalau sedang “in”… wah, asyik sekali menyelami berbagai bacaan dan menuliskannya kembali.

 

Bagaimana menulis buku ilmiah populer?

Ini hampir sama dengan menulis buku teks, tapi pilihan katanya mesti menggunakan bahasa orang awam.  Literatur dan akurasi data tentu sangat penting, tapi cara penulisannya tidak sama dengan buku teks yang sering harus men-sitasi referensi yang relevan. Untuk yang ini, pengalamanku adalah menulis bersama bu Hartati dari Yunani mengenai Bahaya Alkohol, dari berbagai aspeknya. Tapi yang ini belum terbit nih…. masih menanti kepastian Penerbit.

Oya,…. supaya suatu buku bisa laris di pasar, tentunya kita harus pandai-pandai memilih topik apa yang ceruk pasarnya masih dalam, alias belum banyak buku sejenis……

 

Di bagian sini aku akan sedikit berbagi mengenai pengalaman menerbitkan buku berdasarkan pengalaman pribadi. Ketika aku menyusun buku pertamaku berjudul “ Pengantar Farmakologi Molekuler” tahun 2004, aku sendiri yang jadi produsernya. Maksudnya mencetak dengan biaya sendiri, bukan melalui suatu Penerbit profesional. Pertimbangannya, pasarnya sudah jelas, yaitu mahasiswa sendiri. Dari segi keuntungan finansial, bisa lebih besar karena harga cetak dengan harga jual buku bisa selisih agak jauh. Tapi kelemahannya dengan memproduseri sendiri adalah jangkauan distribusinya sangat terbatas. Kalau kita tidak punya tenaga marketing ya bakalan sulit untuk menjangkau pasar yang luas.

Bagaimana jika kita menjual tulisan kita pada penerbit ?

Tahun 2006, setelah perbaikan di sana-sini, aku tawarkan buku tadi ke Penerbit, waktu itu adalah Gadjah Mada University Press. Jika kita tawarkan tulisan ke Penerbit, kita memang tidak perlu modal untuk pencetakan. Tapi secara finansial biasanya kita tidak banyak mendapat lebih. Dapatnya hanya royalti sesuai kesepakatan, yang berbeda antar penerbit satu dengan penerbit lainnya. Jika buku kita laris, dan sering dicetak ulang, memang hasilnya bisa lebih banyak. Tapi jika tidak, ya tidak dapat banyak. Kurang sepadan dengan capeknya menulis hehe….. Tapi keuntungannya, jalur distribusinya luas. Dalam hal ini kita mendapat keuntungan nama, menjadi lebih dikenal, karena pasarnya lebih luas. Paling tidak ada rasa tersendiri ketika masuk ke Toko Buku besar seperti Gramedia atau Toga Mas, buku tulisan kita terpampang di sana hehe…… bisa dipamerin ke anak-anak… “ Ini lho, Nak…. buku tulisan ibu…”.  Buku keduaku “Farmakoterapi Penyakit SIstem Pernafasan” aku perlakukan sama dan diterbitkan oleh Penerbit Adipura.

 

Wah, akhirnya lumayan panjang juga tulisan ini, setelah beberapa hari macet idenya. Sudah dulu ya, masih banyak yang harus dikerjakan. Dan satu PR menulisku yang belum kelar-kelar adalah menulis Pidato Pengukuhan Guru Besar…   Aduuh, yang ini benar-benar tidak gampang……. kayaknya perlu bertapa di gua Selarong dulu untuk cari inspirasi hehe….

 

Buat yang baru pemula menulis, blog merupakan sarana latihan yang baik….

Jadi cobalah….. komentar baik atau buruk itu biasa, rambut sama hitam, tapi isi kepala bisa beda hehe……

 

Salam..

 





Mengapa dekstrometorfan sering disalahgunakan?

15 03 2009

Dear kawan,

Alhamdulillah, sebuah perjalanan telah dilalui dengan selamat. Pagi tadi aku pergi ke Salatiga memenuhi undangan teman sejawat untuk memberi materi pada pertemuan Rakerda ISFI Jawa Tengah. It was nice,…. ketemu teman-teman lama dan para sejawat (senior maupun junior) yang masih penuh semangat memperjuangkan keharuman nama profesi apoteker.

Perjalanannya sendiri cukup lancar, cuaca cerah mengiringi kepergian dan kepulanganku. Kegagahan gunung Merapi dan Merbabu terlihat sangat jelas sampai ke puncaknya. Baru pertama kali lho aku melihat Merapi dengan sangat jelas dari sisi timur laut. Jalan-jalan dihiasi oleh kibaran bendera aneka parpol dan poster wajah-wajah caleg yang berharap dicontreng pada Pemilu nanti…. oh!

Acara Rakerdanya sendiri cukup ramai. Hanya saja, karena acara sedikit mundur, waktuku untuk berbicara lumayan terbatas. Tapi nggak apalah. Aku bersama sejawat Pak Partana yang ahli hukum berada pada satu sesi diskusi panel. Aku meninjau dari sisi farmakoterapi (seperti permintaan panitia), dan Pak Partana dari sisi hukumnya.

Ada satu pertanyaan dari sejawat yang terasa olehku sendiri tidak memuaskan jawabannya karena keterbatasan waktu dan ilmu. Untuk itu aku ingin mencoba mengupas lagi dalam posting ini. Sejawat Santi menceritakan bahwa penyalahgunaan Dekstrometorfan (DMP) akhir-akhir ini meningkat. Pertanyaannya, mengapa ia sering disalahgunakan?

Dekstrometorfan (DMP) adalah suatu obat penekan batuk (anti tusif) yang dapat diperoleh secara bebas, dan banyak dijumpai pada sediaan obat batuk maupun flu. Dosis dewasa adalah 15-30 mg, diminum 3-4 kali sehari. Efek anti batuknya bisa bertahan 5-6 jam setelah penggunaan per-oral. Jika digunakan sesuai aturan, jarang menimbulkan efek samping yang berarti.

Dalam seminar tadi, aku menyebut desktrometorfan adalah sejenis senyawa opiat,namun lemah. Sebagian literatur memang menyebutnya demikian. Secara kimia, DMP (D-3-methoxy-N-methyl-morphinan) adalah suatu dekstro isomer dari levomethorphan, suatu derivat morfin semisintetik. Walaupun strukturnya mirip narkotik, DMP tidak beraksi pada reseptor opiat sub tipe mu (seperti halnya morfin atau heroin), tetapi ia beraksi pada reseptor opiat subtipe sigma, sehingga efek ketergantungannya relatif kecil. Pada dosis besar, efek farmakologi DMP menyerupai PCP atau ketamin yang merupakan antagonis reseptor NMDA. DMP sering disalahgunakan karena pada dosis besar ia menyebabkan efek euforia dan halusinasi penglihatan maupun pendengaran. Intoksikasi atau overdosis DMP dapat menyebabkan hiper-eksitabilitas, kelelahan, berkeringat, bicara kacau, hipertensi, dan mata melotot (nystagmus). Apalagi jika digunakan bersama dengan alkohol, efeknya bisa sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kematian.

Penyalahguna DMP menggambarkan adanya 4 plateau yang tergantung dosis, seperti berikut:

 

 

Plateau

Dose (mg)

Behavioral Effects

1st

100–200

Stimulasi ringan

2nd

200–400

Euforia dan halusinasi

3rd

300– 600

Gangguan persepsi visual dan hilangnya koordinasi motorik

4th

500-1500

Dissociative sedation

 

Peran apoteker

Nah, untuk itu memang sejawat apoteker perlu mulai mewaspadai dan mengontrol ketat penggunaan obat-obat ini. Di banyak negara, penyalahgunaan DMP banyak dilaporkan, dan DMP banyak dikombinasi dengan obat-obat adiktif lain. Sampai saat ini memang belum ada regulasi yang mengatur penggunaan DMP, termasuk di Amerika. Namun dengan peningkatan penyalahgunaan DMP, lembaga berwenang di Amerika yaitu DEA (Drug Enforcement Administration) sedang mereview kemungkinan untuk melakukan kontrol terhadap penggunaan DMP. Infonya bisa ditengok pada http://www.deadiversion.usdoj.gov/drugs_concern/dextro_m/dextro_m.htm. Saya rasa kita pun harus memulainya.

Penutup

Begitulah, kawan, ….. mudah-mudahan bermanfaat. Dan kayaknya sekarang aku sedikit beralih profesi menjadi “wanita panggilan”…. hehe… Dalam bulan ini sudah ada dua undangan lagi menanti untuk menjadi pembicara di acara sejawat apoteker di Cilacap dan Solo. Buat sejawat di Salatiga, terimakasih oleh-oleh dan souvenir lukisannya… Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan.





Memperkenalkan : PIOGAMA

17 02 2009

Dear temans,

Salah satu bentuk pengabdian profesi apoteker kepada masyarakat adalah dengan memberikan pelayanan informasi obat yang dibutuhkan. Demikianlah yang dicoba dilakukan oleh dosen-dosen Fakultas Farmasi UGM pada tahun 1997-an, dengan mendirikan suatu lembaga pelayanan informasi obat bernama PIOGAMA. Namun apa mau dikata, ketika para punggawanya pada berangkat sekolah keluar negeri, maka PIOGAMApun tiada yang mengelola.

Upaya menghidupkan lagi PIOGAMA sempat dilakukan pada tahun 2002-an, namun kurang berdaya. Sampai pada akhirnya, sekitar tahun 2004, saya diundang mahasiswa saat itu untuk memberikan materi pada sebuah acara kemahasiswaan. Acara itu berbuntut keinginan untuk menghidupkan lagi kegiatan pelayanan informasi obat, yang kali ini melibatkan aktivitas mahasiswa. Karena PIOGAMAnya belum hidup lagi, kami menggunakan nama PIO-MFK. Mengapa? Kebetulan saya sebagai Pengelola Magister Farmasi Klinik saat itu punya sedikit otoritas untuk memberdayakan sumber-sumber yang ada. Tanpa menunggu lama, buletin PIO-MFK yang pertama sebagai karya nyata PIO terbitlah pada bulan Mei 2004. Buletin ini didistribusikan cukup luas di berbagai kota di Jawa dan luar Jawa melalui apotek-apotek yang menjadi mitra. Teman-teman yang mau langganan buletin PIOGAMA boleh juga lho…….  bisa pesan melalui e-mail : pio_mfk@yahoo.com.

Pada tahun 2006, PIO-MFK mendapat legalitas dari fakultas menjadi PIOGAMA dengan saya diberi amanah menjadi Ketuanya. Alhamdulillah, penerbitan buletin masih bertahan sampai sekarang. Selain itu, kegiatan penyuluhan pada masyarakat terutama pada musim mahasiswa KKN cukup laris manis banyak permintaan.  PIOGAMA juga bekerja sama dengan majalah Anakku mensuplai tulisan-tulisan setiap bulannya. Yah… pelan-pelan berjalan, karena memang harus disambi-sambi dengan kegiatan rutin lain.

Nah, blog PIOGAMA bisa dikunjungi di http://piogama.ugm.ac.id    Belum sangat keren sih, …… tapi tentu upaya-upaya untuk berbagai ilmu tentang obat dan kesehatan melalui PIOGAMA perlu kita dukung. Mudah-mudahan akan berkembang terus….

Salam





Farmasis klinik,… riwayatmu dulu dan eksistensimu sekarang

23 01 2009

Belum lagi sempat aku menulis sedikit pandanganku terhadap tulisan pada Blog mas Dani yang berjudul “Clinical Pharmacist make economic sense”, sudah muncul lagi tulisan berjudul “Siapa Bilang Apoteker Tidak Diperlukan?”, yang menurutku saling berkaitan…. (salut deh, Mas…  konsisten ber-posting. Aku sendiri belakangan agak kendor nih…. Maklum masih belajaran…).

Tulisan pertama agak khusus membicarakan tentang farmasis klinik. Mungkin buat temen-temen netter yang masih awam dengan istilah farmasis klinik, sedikit deh aku ceritakan. Istilah farmasi klinik mulai muncul di tahun 1960-an di Amerika, yaitu suatu penekanan pada fungsi apoteker yang bekerja langsung bersentuhan dengan pasien. Menurut ibu Koda-Kimble (salah satu perintis “gerakan” farmasi klinik, sekarang menjadi dekan pada School of Pharmacy University of California di San Francisco), praktek apoteker di sana pada saat itu (1960-an) bersifat stagnan. Pelayanan kesehatan sangat berpusat pada dokter. Kontak apoteker dengan pasien sangat minimal. Ada istilah yang digunakan beliau untuk menggambarkan lulusan farmasi pada saat itu yaitu : Over-educated, Underutilized, Apathetic, Isolated, Inferiority complex. Itu keadaan di Amerika tahun 1960-an. Lho…kok mirip seperti keadaan di Indonesia sekarang ya……. hehe.. pliss deh!… Mudah-mudahan enggak lah. Karenanya, ibu Koda-Kimble dan sejawatnya memunculkan suatu wacana baru untuk pekerjaan kefarmasian. Upaya-upaya awal yang akan dilakukan adalah:

u Focus on the Patient

Pharmaceutical centers

Patient record systems

OTC counter-prescribing

Counseling on prescription drugs

Emergence of continuing education

Therapeutic approach

Pathophysiology

Symptom management

Tapi saat itu wacana itu juga tidak mudah diterima. Mengapa? Belum ada role model!

Tapi beliau tidak mudah menyerah. Pada tahun 1965, beliau cs mengusulkan suatu proposal ke pimpinan rumah sakit sbb:

  • School will establish a staff “Drug Stations” on the hospital wards

Will relieve nurses of certain drug-related duties

Will make it possible for the physician, if he so wishes, to discuss drug usage with the pharmacist at the time the decision is being made

Will provide students with experience in applying classroom knowledge to practical aspects of drug usage in therapeutic situations

Seperti apa kesan-kesan yang muncul  ketika program ini pertama kali dilaksanakan?

Bu Koda Kimble menggambarkan sebagai berikut :

Physician confusion

Pharmacist presence on the wards

Pharmacist intrusion on drug prescribing

Dokter-dokter agak bingung, “ lho… kok apoteker masuk ke bangsal-bangsal?” Kok apoteker ikut campur urusan peresepan obat ya ?”

Nurse enthusiasm

Quick access to medicines

Pharmacist drug expertise

Tapi para perawat malah senang dan antusias, karena mereka bisa lebih cepat mendapatkan pelayanan obat, sudah siap pakai lagi, karena disiapkan oleh apotekernya. Perawat juga merasakan bahwa urusan obat memang keahliannya apoteker, jadi mereka bisa lebih focus pada perawatan pasien.

Pharmacist exhaustion

Long hours, rapidly expanding roles, new knowledge

“Continual mental pressure to perform at a very high level at all times.”

Tapi apotekernya lumayan kecapekan….. waktu kerjanya jadi lebih lama, perannya jadi bertambah dan berubah dengan cepat, perlu pengetahuan baru. Selain itu juga terdapat semacam tekanan mental juga, karena mereka mesti berada pada kondisi prima dalam pelayanan. Mesti siap setiap kali dibutuhkan.

Visitors dubious

Impressed

An “ivory tower” phenomenon

Pasien atau pengunjung masih ragu-ragu, tapi mereka terkesan. Apoteker yang semula seperti ada di “menara gading” kini mulai turun ke bumi……

Singkat cerita, setelah melalui perjuangan yang berdarah-darah, maka kini profesi apoteker mendapat tempat yang sangat layak di sana. Dan “gerakan” farmasi klinik ini makin menyebar luas ke berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Sayangnya, nampaknya wacana farmasi klinik ini belum banyak dipahami, apalagi diterima, oleh sejawat dokter. Mereka memandang apoteker tidak perlu ikut-ikut campur menemui pasien. Apalagi turut dalam proses terapi. Persis deh..kayak dokter-dokter jaman dulu di Amerika hehe…… (jadi kayaknya kita nih hidup seperti keadaan di AS 50-an tahun yang lalu…). Tapi tentunya apoteker juga harus introspeksi….   jangan berharap dokter bisa segera menerima keberadaan apoteker, kalau performa apoteker sendiri masih meragukan….. jangan-jangan apotekernya sendiri  juga belum siap berubah dan mengambil peran baru yang lebih signifikan dalam pelayanan pada pasien. Haloo, bagaimana nih sejawat ??

Nah, seperti yang sering disebut-sebut, maka filosofi pelayanan farmasi klinik adalah “pharmaceutical care” (asuhan kefarmasian). Care itu bisa berarti peduli….. artinya, seorang apoteker mesti  peduli dan penuh empati pada pasien, sehingga pasien bisa merasakan manfaat keberadaannya. Asuhan kefarmasian ini sebenarnya bisa dilaksanakan di mana-mana, di RS, apotek, atau di tempat lain. Untuk hal ini, aku punya sedikit cerita.

Kemaren, seorang mahasiswa bimbingan thesisku, bu Nurjanah namanya, datang menemuiku untuk konsultasi thesisnya. Ia mahasiswa S2 Magister Farmasi Klinik berasal dari Sulawesi Tenggara. Oya, thesisnya mengambil topik Kajian penggunaan obat antihipertensi pada pasien jantung di sebuah RS di Kendari. Waktu konsultasi thesis, sempatlah dia ngobrol tentang pengalamannya selama mengerjakan thesis. Katanya, gara-gara dia mengerjakan thesisnya, ia malah sekarang jadi laris dicari pasien untuk konsultasi obat hehe…. Ceritanya, dalam mengambil data, ia langsung mewawancarai pasien. Suatu kali ada pasien subyek penelitiannya yang mengeluhkan bahwa setelah mengkonsumsi sekian macam obat antihipertensi, kok sekarang “ayam jagonya” jadi ngga bisa berkokok lagi, alias impoten. Pasien itu menduga bahwa ada salah satu obat (kebetulan itu adalah spironolakton, suatu diuretik) yang menyebabkan impotensi tadi, dan ia pun berkonsultasi pada apoteker kita tadi, bagaimana jika ia menghentikan obat tersebut, boleh apa tidak. Bu Nurjanah lalu memeriksa macam obat-obat yang diterima pasien, dan ternyata memang ada sejenis antihipertensi golongan beta bloker yang memang sering dilaporkan menyebabkan impotensi. Beliau menyarankan kepada pasien utk berkonsultasi ke dokter, bagaimana jika mengurangi dosis obat tersebut. Apa yang terjadi ? Seminggu kemudian, sang pasien menemui ibu kita tadi dengan sumringah, dan katanya, “.. Terimakasih, bu…. saya sekarang sudah hidup lagi…” hehe……

Aku rasa, ini adalah salah satu bentuk pelayanan kefarmasian yang bisa bermanfaat bagi pasien. Aku turut bangga, teman-teman sejawat sudah mulai banyak menggunakan ilmunya untuk membantu pasien, yang pada gilirannya akan memberikan kesan positif terhadap keberadaan apoteker. Dan apoteker di Sulawesi Tenggara bolehlah dicontoh semangatnya, katanya saat ini sedang memperjuangkan untuk mendapatkan insentif dari Gubenur dengan besaran yang sama dengan dokter dan dokter gigi, tentunya setelah kinerjanya memberikan asuhan kerfarmasian dirasakan gunanya. Dan satu hal lagi… Kepala Dinas Kesehatannya apoteker loo…!

Jadi, siapa bilang apoteker tidak diperlukan lagi ?

Kaitannya dengan peranan farmasis klinik dalam menghemat biaya pengobatan pasien, aku juga punya cerita lain. Tapi kali ini berasal dari penelitian sejawat, yaitu bu Fita. Penelitiannya menjumpai bahwa ternyata banyak “unnecessary drug therapy” yang dijumpai di RS. Oya, untuk menentukan bahwa suatu obat benar-benar diperlukan pasien atau tidak, beliau bekerja sama dengan klinisi (dokter) senior untuk meng-assess, yaitu dengan mengamati kondisi medis riil pasien dan mengecek obat-obatan yang digunakan. Dan begitulah…. ternyata banyak obat yang diresepkan yang sebenernya tidak benar-benar diperlukan, dan jika itu dikonversi ke biaya, tenyata banyak biaya-biaya pemborosan yang mungkin memberatkan pasien. Kalau saja farmasi kliniknya sudah aktif, dokternya mau bekerja sama dengan apoteker dalam proses  terapi pasien, mungkin akan banyak biaya-biaya yang bisa dihemat. That’s still a dream…… I hope it will come true….

O,ya… paragraf bagian sini adalah iklan hehe…… Sebagai pengelola program Magister Farmasi Klinik UGM, kami mengundang sejawat untuk sama-sama menambah bekal ilmu dan meningkatkan ke-pede-an dengan belajar di Magister Farmasi Klinik UGM, supaya nanti bisa lebih pede dan profesional dalam menjalankan pekerjaan kefarmasiannya. Farmasis klinik, gitu loh…… !!  Keterangan lebih lanjut, klik disini hehe…..

Dah dulu yaaa……





World Class Faculty = menghasilkan apoteker profesional?

7 01 2009

Satu paragraf tulisan mas Dani di Portal Apoteker tentang sekolah apoteker cukup menggerakkan tanganku untuk menulis (eh… mengetik). Soalnya aku lagi merasa relevan banget dengan hal ini…..

Mereka yang ada di perguruan tinggi cenderung lebih menonjolkan profesinya sebagai dosen, karena faktanya memang demikian, dan tidak ingat akan masalah masalah aktual di lapangan yang dialami oleh mantan mahasiswanya. Kalau mau jujur apoteker yang baru lulus sebenarnya belum siap untuk bekerja. Apalagi di apotek.”

Sebetulnya yang akan aku sampaikan bukan substansi apa yang ditulis dalam posting itu, tetapi sedikit bergeser ke arah pertanyaan yang menjadi judul posting ini. Betul sekali bahwa pemegang ijazah apoteker yang bekerja menjadi dosen memang lebih menonjolkan profesi dosennya, daripada apoteker. Seperti halnya pada diriku sendiri. Tapi kalau aku sih sebenernya  lebih karena merasa “minder”…. karena memang tidak praktek, sehingga memang tidak tau banyak aneka kondisi faktual di lapangan. Informasi dari lapangan lebih sering kuperoleh secara tidak langsung dengan berinteraksi dengan sejawat dalam berbagai even kegiatan.  Jadi daripada merasa diri sebagai apoteker, tapi nggak tau banyak tentang praktek kefarmasian, mendingan ngaku jadi dosen hehe….. Kalau sebagai dosen beranilah diadu hehe…. jelek-jelek gini aku pernah tiga kali memenangi grant untuk inovasi metode pembelajaran di UGM..

Nah, .. yang sedang ada dalam pikiranku adalah … aku justru agak kuatir bahwa misi yang diusung  institusi pendidikan (dalam hal ini farmasi) makin menjauh dari bumi. Tau tidak teman,…. beberapa hari ini aku sedang “bertapa” sampai-sampai tidak sempat ngeblog… karena sedang ikut menyusun sebuah proposal pengembangan fakultas yang in line dengan visi dan misi universitas, yakni menjadi World Class Research University (WCRU), atau… Universitas Riset Berkelas Dunia gitu loh…!  Fakultas Farmasi UGM juga akan menuju Fakultas yang (kalau bisa) bertaraf internasional. Impiannya adalah Fakultas Farmasi UGM akan dikenal secara internasional, memiliki kelas internasional dengan banyak foreign students, kami akan memiliki laboratorium berkelas (mendekati) internasional, menghasilkan penelitian-penelitian berkelas dunia, dengan staf edukatifnya yang recognized  di dunia (dan akhirat), dan seterusnya dan seterusnya yang meningkatkan reputasi Universitas Gadjah Mada di mata internasional.

Tapi kalau lagi baca centang-perenang masalah-masalah keprofesian farmasi di Indonesia seperti yang dipaparkan oleh sejawat pada Portal Apoteker, aku jadi bertanya sendiri… apakah pendidikan tinggi farmasi yang ada di Indonesia memang belum bisa mendidik apoteker untuk siap bekerja dan memiliki kompetensi yang diharapkan? yang punya semangat “pharmaceutical care” sehingga mau bekerja profesional walaupun belum mendapat apresiasi wajar secara finansial? memiliki etika keprofesian sehingga bermartabat di mata masyarakat dan tenaga kesehatan lainnya? Yang bisa duduk sama tinggi dan dihargai profesi lain? Kok kayaknya profesi apoteker nih nggak segera naik-naik pangkat menjadi profesi pilihan para calon mertua….. (ini adalah salah satu indikator eksistensi suatu profesi di mata masyarakat he he…)

Dengan mengejar visinya menjadi institusi pendidikan berkelas dunia, akankah signifikan menghasilkan apoteker-apoteker berkelas juga seperti yang diidamkan? Aku belum yakin. Jangan-jangan apoteker kita over-educated dalam hal tertentu, tapi tetap saja tidak siap menghadapi kondisi di lapangan? Kami yang di dunia pendidikan juga perlu introspeksi apakah apa yang diberikan selama ini sudah cukup memberikan bekal pada lulusan untuk siap bersaing di dunia kerja dan memenangkan pertarungan… 

Tapi mungkin dengan menaikkan level fakultas menjadi “Fakultas berkelas dunia (dan akhirat)”  mudah-mudahan akan lebih memberikan rasa percaya diri pada lulusannya, sehingga bisa lebih siap secara psikologis untuk memasuki dunia kerja. Syukur juga bisa diterima bekerja di negara-negara lain sebagai konsekwensi era perdagangan bebas nantinya..

Tentunya perlu ada jalinan erat antara pihak-pihak yang ada di dunia pendidikan dengan organisasi profesi supaya memiliki kesamaan pandang mengenai apa-apa yang harus dilakukan untuk mencapai kondisi eksistensi apoteker yang diharapkan. Dalam hal lain, mungkin organisasi profesi juga perlu memperbanyak upaya untuk menjalin kerjasama dengan profesi tenaga kesehatan lainnya, sehingga apa dan siapa apoteker itu benar-benar dikenali sehingga akan ditempatkan di tempat yang layak di sisinya… maksudnya di antara sesama tenaga kesehatan.

Tapi ma’aaaf….. saya juga cuma bisa nulis doang…

Dan sekarang akan masuk pertapaan lagi menyelesaikan proposal yang terpenggal…..





Secangkir kopi di awal tahun….

5 01 2009

coffee_roaster1Dear netters,

Suka minum kopi ? Hari pertama masuk kantor lagi setelah libur panjang kubuka dengan menyeruput secangkir kopi hangat…………

Aku bukan penggemar berat kopi, hanya sesekali saja minum…. Tapi judul e-mail newsletter dari Medscape yang barusan kuterima cukup menarik ”Health benefits from coffee”…. dan menginspirasi judul tulisan ini. Langsung deh aku kejar, dan aku menemukan abstrak sebuah hasil penelitian di Annals of Internal Medicines 2008; 148 (12):904-914. Judulnya : The relationship of coffee consumption with mortality”.(http://www.medscape.com/medline/abstract/18559841).

Studi ini berupa studi cohort prospektif yang merupakan pengamatan bertahun-tahun (selama 18 tahun pada pria dan 24 tahun pada wanita) yang melibatkan 41 ribu lebih pria dan 86 ribu lebih wanita sehat yang tidak memiliki riwayat penyakit kardiovaskuler maupun kanker. Konsumsi kopi mereka sejak th 1980 (untuk wanita) dan th 1986 (untuk pria) dicatat dan dianalisis, dihubungkan dengan kejadian kematian akibat kanker atau penyakit kardiovaskuler atau penyebab lain-lain. Konsumsi kopi dikelompokkan menjadi beberapa kategori, yaitu : < 1 cangkir/bulan, 1 cangkir/bulan – 4 cangkir/minggu, 2-3 cangkir/hari, 4-5 cangkir/hari, >=6 cangkir/hari. (Anda termasuk yang mana nih ?)……..

Hasilnya?

Ternyata ada hubungan terbalik antara banyaknya minum kopi dengan kejadian kematian akibat penyakit kardiovaskuler, dan tidak ada hubungannya dengan asupan kafein. Selain itu, tidak ada hubungan signifikan antara konsumsi kopi dengan kematian akibat kanker atau penyebab lain. Konsumsi kopi tanpa kafein nampaknya ada hubungannya dengan sedikit penurunan kematian akibat penyakit kardiovaskuler.

Nah lho….. jadi minum kopi ternyata ada manfaatnya, TAPI……. manfaat ringan minum kopi terhadap penurunan risiko penyakit kardiovaskuler masih perlu penelitian lebih lanjut.

Hm… secangkir kopi pun menemaniku menghadapi sederetan aktivitas yang sudah menanti di tahun 2009. Aktivitas rutin sebagai manusia, istri, dan ibu untuk menyiapkan si sulung yang akan menempuah UAN SD pertengahan tahun ini. Pekerjaan kantor seperti koreksi ujian, koreksi beberapa thesis dan skripsi, proyek penelitian yang menanti disentuh, persiapan kuliah semester depan (termasuk aplikasi Hibah Pengajaran STAR yang pernah kuceritakan pada posting sebelumnya), laporan kegiatan PHK internal UGM, dll. sudah antri di daftar pekerjaan. Selain itu, pekerjaan kolektif yaitu bersama-sama membangun Fakultas Farmasi UGM menuju ”Fakultas riset berkelas dunia namun tetap berpijak pada bumi Indonesia” juga tidak ringan. Mudah-mudahan upaya itu nanti bisa menghasilkan apoteker-apoteker Indonesia baru yang lebih bermutu dan lebih bermanfaat bagi masyakarat banyak. Tentu perlu banyak energi lebih dari secangkir kopi….

Anyway, marilah kita membangun negeri menjadi lebih baik di tahun ini, dengan mengawali dari diri sendiri, keluarga, lingkungan, pekerjaan, profesi…. sehingga akan bersinergi membangun negeri yang gemilang !

Selamat tahun baru…





Tulisan akhir tahun (tentang apoteker)

31 12 2008

Dear netter,

Bela-belain aku nulis hari ini supaya ada monumen tulisan akhir tahun he..he….

Tapi sebenernya sih isinya ngalor-ngidul saja… Yang  jelas, hari ini aku merasa tersanjung…. seorang senior Apoteker memberikan apresiasi terhadap tulisan di blog ini dan me-link-kan blog alakadarnya ini pada blog-nya yaitu Portal Apoteker.  Akupun memberikan link di blog ini bagi Portal Apoteker pada Situs Khusus Apoteker. Silakan dikunjungi. (Thanks, Mas Dani, … tapi nanti kalo blog ini mulai ngaco isinya, nggak usah segan-segan didelete aja link-nya, Mas. Bener…). Sungguh, aku pun mengapresiasi dengan sepuluh jempol ke atas terhadap Blog Portal Apoteker yang memang menjadi media berbagi untuk sejawat apoteker Indonesia di seluruh dunia. Tulisan-tulisan kritisnya terhadap berbagai hal menyangkut profesi apoteker wajib  dibaca..  Suerr !

Tapi ngomong-ngomong soal profesi apoteker,… aku jadi malu sendiri. Apakah aku seorang apoteker beneran? Bukan juga…. aku memang punya ijazah apoteker, tapi tidak praktek kefarmasian. Kalau ditanya profesiku apa, ya mungkin akan aku bilang “dosen” atau “guru”. Dosen yang apoteker atau apoteker yang dosen, entahlah… mana yang lebih tepat. Pernah juga sih, ada yang tanya, mengapa aku tidak pegang Apotek atau punya Apotek. Wah…. terus terang, alasan utamanya adalah waktu. Tugas menjadi dosen, apalagi pingin jadi dosen yang baik hehe…, sudah cukup menyita waktu. Sementara, apoteker itu idealnya juga selalu ada di apotek memberikan pelayanannya. Hal ini tentu sulit sekali dicapai jika bekerja di dua tempat. Belum lagi tugas domestik rumah tangga sebagai seorang ibu…… hmm….  tak kurang banyaknya. Tapi setidaknya, aku juga berupaya menjunjung tinggi profesi apoteker dan sekaligus “mempraktekkan” sedikit ilmu kefarmasian, setidaknya melalui blog ini, atau ketika memberi kuliah atau menjadi pemateri di suatu seminar.

Dan blog ini…. aduh, sungguh masih jauh untuk berkontribusi terhadap perkembangan profesi apoteker. Karena ini adalah blog pribadi, jadinya lebih banyak ngobrol ngalor-ngidul, ngomongin pengalaman pribadi, atau bicara ala kadarnya sekedar menumpahkan keinginan menulis…  Jadi malu kalau diharapkan terlalu banyak. Tapi siapa tau ada yang bisa mengambil manfaatnya dari tulisan di blog ini.  Blog ini tidak punya misi khusus, jadi isinya memang campur-campur. Kadang tulisan sebagai apoteker, kadang sebagai dosen, kadang sebagai ibu, kadang sebagai manusia kecil di hadapan Tuhannya….. dan apa saja lah yang lagi melintas di pikiran.  Kalaupun ada manfaatnya bagi sejawat apoteker, mungkin bisa melalui bahan-bahan kuliah di Fakultas, terutama untuk topik-topik farmakoterapi, paling tidak sebagai refreshing.  Jelek-jelek gini, pernah juga sih saya diundang untuk mengisi acara sejawat ISFI di daerah untuk Pendidikan Berkelanjutan untuk Apoteker. Juga beberapa kali mengisi Pelatihan Farmasi Klinik dan jadi pemateri pada PUKA (Penataran dan Uji Kompetensi Apoteker). Makalah-makalah presentasi saya tadi Insya Allah akan diupload bertahap untuk bisa dimanfaatkan sejawat dan juga adik-adik mahasiswa. Tapi untuk itu perlu kunjungi blog saya di http://zulliesikawati.staff.ugm.ac.id/?page_id=98 , karena dari blog ini agak sulit untuk mendownload (butuh waktu lebih lama karena muter dulu ke situs lain). Tapi kalau ternyata belum sempet diupload  jangan kecewa, ya…. sering-sering aja ditengok hehe…..

Nah, … terkait dengan profesi apoteker, ada satu komentar yang pernah aku dapatkan ketika mempostingkan tentang ” Somadryl sebagai obat kuat wanita”…. Katanya (aku kutip sesuai aslinya),” kayaknya apoteker itu lebih pinter mengobati daripada dokter deh, setuju g bu?”…. (dari theRons, http://ronirizqi.wordpress.com). He..he… pasti bisa jadi sumber polemik nih kalau Cak Moki baca… (bercanda). Terlepas dari serius atau tidak komentar tadi, tapi pada intinya peran apoteker dalam proses terapi memang belum banyak diterima atau diketahui banyak kalangan…. Padahal mahasiswa Farmasi UGM jaman sekarang (mulai angkatan 2001, yang memilih minat Farmasi Klinik dan Komunitas) mendapatkan pelajaran Farmakoterapi sampai 10 SKS kuliah dan 5 SKS praktikum. Jadi apoteker pun punya ilmunya. Tapi memang dari segi kewenangan, Apoteker sejauh ini tidak berwenang dalam menentukan macam terapi yang diberikan kepada pasien, walaupun ia boleh memberi saran atau rekomendasi kepada dokter untuk suatu pilihan terapi atau dosis yang sesuai. Masalahnya adalah, dokternya mau apa tidak menerima saran tersebut. Biasanya ada semacam “gengsi”, atau bahkan ada rasa semacam “diintervensi”….. Padahal, sebenernya pekerjaan dokter bisa lebih ringan lho… kalau misalnya ia mau berbagi peran dengan apoteker untuk memilihkan jenis obatnya, karena ilmu apoteker tentang obat dan berbagai efek dan adverse efeknya tentunya lebih daripada dokter.

Sebagai contohnya, ini cerita nyata lho… kebetulan aku pernah membimbing satu skripsi mahasiswa tentang “Kajian penatalaksanaan rhinitis alergi di sebuah RS”. Data mencatat bahwa beberapa orang pasien mendapatkan obat dari dokter yang sama, dengan nama paten yang berbeda padahal isinya sama!!. Ada juga yang mendapat obat paten dan generik bersama-sama, padahal isinya sama!! Coba, siapa yang salah? Apakah dokternya, yang hanya hafal nama paten yang disodorkan oleh detailer, sehingga tidak tau bahwa isinya sama? Apakah apotekernya? Kalau mau fair, apoteker ya ikut salah, kalau sampai komposisi obat demikian bisa sampai ditangan pasien. Di mana fungsi penjaminannya sehingga terjadi duplikasi obat seperti itu?? Masih untung “cuma” obat alergi/antihistamin…. coba kalau obat diabetes misalnya, apa ngga pasiennya syok hipoglikemik karena gula darah turun drastis karena makan obat antidiabetes dobel?

Perlu tahapan yang panjang untuk bisa mencapai sinergi dokter-apoteker seperti yang sudah terjadi di negara-negara maju. Alih-alih merasa dibantu, malah ada sebagian dokter menganggap bahwa farmasis klinik akan berperan seperti “polisi”, yang akan mencari-cari kesalahan peresepan dokter. Oh, no, no! Tentu tidak demikian. Kita semua kan manusia yang bisa salah atau alpa. Dan saya rasa kita memang perlu saling bekerja sama, yang semuanya ditujukan untuk kepentingan pasien. Itu saja.

Nah, kayaknya memang peran apoteker perlu ditingkatkan supaya lebih menjamin keamanan pengobatan pada pasien. Buat netter yang “orang awam”, tidak perlu ragu-ragu jika ingin menanyakan sesuatu terkait dengan obat kepada apoteker. Cari saja tuh apotekernya di apotek. Dan tentunya sejawat apoteker juga perlu menyiapkan diri untuk mengambil peran itu…. Kesan pertama yang positif, akan membantu memposisikan apoteker di mata masyarakat…








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 378 pengikut lainnya.