Dioksin dan pembalut wanita?

16 11 2010

Dear kawan,

Dioksin

Pernah beredar rumor lama bahwa pembalut wanita itu mengandung dioksin yang berbahaya bagi kesehatan dan dikaitkan dengan kejadian kanker servix. Sehingga ini menjadi bahan promosi bagi beberapa merk pembalut wanita, yang menyebut dirinya “bebas dioksin”…. Well, tulisan ini adalah request dari beberapa kawan…. sudah lama sih, tapi baru sempat menuliskannya sekarang…

Rumor tentang dioksin pada pembalut wanita sebenarnya sudah beredar cukup lama, mungkin bahkan sekitar 10 tahun yang lalu melalui internet. Hal ini cukup meresahkan masyarakat, karena tidak hanya pembalut wanita, diaper yang merupakan popok bayi sekali pakai,  juga disebut-sebut mengandung dioksin yang berbahaya.

Ketika mencoba searching mengenai dioksin pada pembalut, aku terdampar dalam belantara informasi yang sangat beraneka-rupa, termasuk iklan-iklan pembalut wanita. Waduuh….. susah sekali ternyata mencari informasi yang obyektif, valid, dan berimbang serta cukup komplit. Tak urung FDA (Food and Drug Administration), semacam Badan POM-nya Amerika turut sibuk memberikan penjelasan. Informasinya bisa dilihat di sini :

 http://www.fda.gov/MedicalDevices/Safety/AlertsandNotices/PatientAlerts/ucm070003.htm

Sebenernya apa sih dioksin itu? Seberapa berbahayanya? Apa benar terdapat pada produk pembalut wanita dan diaper?

Sejarah pembalut wanita

Aku mulai dengan menceritakan tentang sejarah pembalut wanita, yaa…. karena ternyata ceritanya cukup menarik. Wanita jaman sekarang tentu ngga pernah mikir lagi ketika masa menstruasi tiba…. Tinggal beli saja pembalut wanita di supermarket. Mereka tersedia dalam berbagai merk. Bahkan dalam satu merkpun ditawarkan berbagai varian, mulai yang tipis ketika darah haid sedikit, yang penyerapan maksimal ketika darah haid banyak, sampai yang khusus digunakan untuk malam hari, itupun bisa bervariasi panjangnya….tinggal pilih dan pakai saja. Tapi kebayang ngga sih…. jaman dulu, ketika belum ada pembalut wanita atau tampon…… Hiii..kayak apa ya?  Dan perempuan memang harus sangat kreatif waktu itu untuk mengatasi darah haid supaya tidak kemana-mana. Pada waktu itu, daftar bahan penyerap benar-benar sangat terbatas, antara lain adalah bulu hewan, lumut, spons laut dan rumput laut, juga kapas biasa, wol, kain dan serat sayuran.

Ribuan tahun yang lalu, para wanita Mesir kuno sudah mengenal pembalut yang pada saat itu masih terbuat dari daun papyrus yang dilembutkan dan bentuknya seperti tampon. Di negara lain tampon terbuat dari serabut kayu ringan, wol, serat nabati tanaman, dan di Afrika, para wanitanya menggunakan gulungan rumput. Semantara wanita Yunani kuno menggunakan bahan kapas halus dan dan dibungkus kayu kecil sebagai tampon. Iih…. ngga kebayang yaaa…..

Pada tahun 1867 ditemukan menstrual cup (mangkuk menstruasi). Mangkuk ini diletakkan kedalam kantong kain yang dihubungkan dengan sabuk yang diikat di pinggang. Pada saat itu, wanita tidak menggunakan apa-apa dibalik roknya, sehingga jika sedang menstruasi, mereka memakai pembalut tersebut. Pada tahun 1876, bahan dari mangkuk menstruasi tersebut diganti bahannya menjadi bahan karet yang memungkinkan dapat menampung darah haid, lalu terus mengalir melalui selang menuju ke kantong penampungan yang digunakan diluar badan. Namun, yang menggunakan menstrual cup hanya orang-orang tertentu saja. Orang miskin masih menggunakan kain yang bisa dicuci sehingga bisa dipakai berulang kali, karena mereka tidak sanggup membeli menstrual cup.

Barulah pada perang dunia pertama, cikal bakal disposable pads (pembalut sekarang ini) ditemukan. Seorang perawat Perang Dunia pertama, ketika itu mereka menyadari bahwa pembalut yang mereka gunakan untuk membalut luka tentara ternyata bisa mereka gunakan ketika haid. Lalu pada tahun 1900-an, disposable pads dibuat. Kotex adalah brand pertama untuk pembalut yang dipasarkan di Amerika pada tahun 1920. Selanjutnya, inovasi pun terjadi. Pada tahun 1960-an, pembalut yang menggunakan sabuk mulai digantikan dengan pembalut yang menggunakan lem. Lem tersebut berfungsi untuk menahan pada bagian bawah celana dalam. Bahannya pun diganti, dari bahan serat kayu (rayon) dan katun, sampai bahan-bahan lainnya yang seperti gel.

Pembalut wanita mengandung dioksin?

Pembalut wanita dan tampon (termasuk diaper bayi) yang banyak beredar saat ini umumnya terbuat dari katun, rayon, atau campuran rayon dan kapas. Rayon terbuat dari serat selulosa yang berasal dari pulp kayu. Nah, untuk mendapatkan bahan baku rayon untuk tampon dan pembalut ini, umumnya perlu dilakukan proses pemutihan pulp kayu (bleaching) dan pemurnian. Di bawah ini ada beberapa cara pemutihan:

1. Pemutihan menggunakan gas klorin. Proses ini dapat menghasilkan dioksin sebagai produk sampingannya. Proses ini digunakan oleh pemasok bahan baku rayon untuk tampon di masa lalu. Diperlukan beberapa proses berikutnya untuk menghilangkan dioksin. Di Amerika, proses ini tidak boleh lagi digunakan oleh produsen pembalut wanita atau tampon dan sanitary napkins lainnya.

2. Pemutihan yang bebas elemen klorin. Pemutihan ini tidak menggunakan gas klorin, tetapi menggunakan hidrogen peroksida. Proses ini tidak menghasilkan dioksin sebagai kontaminan, sehingga sering pula disebut proses pemutihan bebas dioksin.

Dari sinilah nampaknya kemudian muncul rumor bahwa pembalut wanita mengandung dioksin. Beberapa tahun yang lalu, FDA meminta produsen besar tampon dan pembalut untuk menguji produk mereka terhadap dioksin menggunakan metode analisis yang disetujui oleh US EPA (Environmental Protection Agency). Data menunjukkan bahwa tingkat dioksin dalam rayon berkisar dari tidak terdeteksi sampai dengan 1 bagian dalam 3 triliun, jauh di bawah ambang batas yang menempatkan konsumen pada risiko kanker. FDA telah menetapkan bahwa dioksin terdapat pada rayon terdapat pada tingkat yang sangat rendah yang tidak menimbulkan risiko kesehatan.

Tapi ini di Amerika loh….. memang sampai saat ini belum pernah diberitakan tentang suara BPOM terhadap isu dioksin dalam pembalut wanita ini, atau pemeriksaan terhadap produk-produk pembalut wanita. Atau memang produk-produk ini di Indonesia dipandang sudah cukup aman? Hmm….. siapa yang bisa menjawab?

Apa sih dioksin itu?

Kita kenali sekilas tentang dioksin, yuk… ! Dioksin merupakan bahan pencemar lingkungan. Dioksin menjadi perhatian karena mereka sangat beracun. Percobaan telah menunjukkan bahwa mereka dapat mempengaruhi sejumlah organ dan sistem. Setelah dioksin memasuki tubuh, mereka bertahan lama karena stabilitas kimia dan kemampuan mereka untuk diserap oleh jaringan lemak, di mana mereka kemudian disimpan dalam tubuh. Waktu paruh mereka di dalam tubuh diperkirakan 7-11 tahun. Dalam lingkungan, dioksin cenderung menumpuk dalam rantai makanan. Semakin tinggi posisi dalam rantai makanan, semakin tinggi konsentrasi dioksin. Nama kimia untuk dioksin adalah: 2,3,7,8 – tetrachlorodibenzo para dioksin (TCDD). Nama “dioksin” sering digunakan untuk keluarga poliklorinasi dibenzo dioksin (PCDDs) dan poliklorinasi dibenzofurans (PCDFs) yang memiliki kemiripan struktur kimia. Dioksin tertentu seperti polychlorinated biphenyls (PCB) dengan sifat racun serupa juga termasuk dalam istilah”dioksin”. Ada 419 jenis senyawa sejenis dioksin yang telah diidentifikasi, tetapi hanya sekitar 30 di antaranya yang dianggap memiliki toksisitas yang signifikan, dimana TCDD adalah yang paling beracun.

Dari mana sumber kontaminasi dioksin ?

Dioksin merupakan produk sampingan utama dari proses-proses industri, tetapi juga dapat merupakan hasil dari proses alam, seperti letusan gunung berapi dan kebakaran hutan. Dioksin merupakan senyawa samping yang tidak diinginkan dari berbagai proses manufaktur termasuk peleburan, pemutihan klorin pulp kertas dan pembuatan beberapa herbisida dan pestisida. Dalam hal pelepasan dioksin ke lingkungan, insinerator limbah yang tidak terkontrol (limbah padat dan limbah rumah sakit) sering menjadi penyebab utama karena pembakaran yang tidak sempurna. Meskipun pembentukan dioksin adalah lokal, distribusinya ke dalam lingkungan bersifat global. Dioksin ditemukan dalam lingkungan di seluruh dunia. Tingkat tertinggi dari senyawa ini ditemukan pada sedimen, tanah dan makanan, terutama produk susu, daging, ikan dan kerang. Tingkat yang sangat rendah ditemukan pada tanaman, air dan udara.

Insiden kontaminasi dioksin

Dunia mencatat beberapa kejadian terkait dioksin. Banyak negara memonitor pasokan makanan mereka terhadap dioksin. Hal ini mengarahkan pada deteksi dini terhadap kontaminasi dan dapat mencegah dampak pada skala yang lebih besar. Salah satu contoh adalah deteksi peningkatan kadar dioksin pada susu pada tahun 2004 di Belanda, sampai melacak ke tanah liat yang digunakan dalam produksi pakan ternak. Dalam kasus lain, peningkatan kadar dioksin terdeteksi dalam pakan hewan di Belanda pada tahun 2006 dan sumber tersebut teridentifikasi pada lemak yang terkontaminasi yang digunakan dalam produksi pakan. Pada akhir 2008, Irlandia menarik produk daging babi dan produk daging babi yang terdeteksi mengandung dioksin 200 kali diatas batas aman. Pada tahun 1999, tingginya tingkat dioksin ditemukan pada unggas dan telur dari Belgia. Selanjutnya, makanan hewani (unggas, telur, daging babi), yang terkontaminasi dioksin terdeteksi di beberapa negara lain. Penyebabnya adalah penggunaan pakan ternak yang terkontaminasi dengan limbah industri minyak berbasis PCB yang dibuang secara ilegal. Pada Maret 1998, tingginya tingkat dioksin dalam susu yang dijual di Jerman terlacak pada pelet pulp jeruk yang digunakan sebagai pakan ternak yang diekspor dari Brasil. Penyelidikan ini menghasilkan larangan semua impor pulp jeruk ke Uni Eropa dari Brasil. Sebelumnya insiden kontaminasi makanan telah dilaporkan di bagian lain dunia. Meskipun semua negara dapat dipengaruhi, kasus kontaminasi kebanyakan dilaporkan di negara-negara industri di mana pemantauan terhadap  kontaminasi makanan sudah memadai, ada kesadaran yang lebih besar terhadap bahaya dioksin, dan adanya kontrol peraturan yang lebih baik untuk mendeteksi masalah dioksin. Bagaimana dengan Indonesia? Hmm……. tauk ah, gelaap….

Apa sih pengaruh dioksin pada kesehatan manusia ?

Presiden Ukraina Yushchenko mengalami chloracne akibat dioksin

Paparan jangka pendek dioksin kadar tinggi pada manusia dapat mengakibatkan lesi kulit, seperti chloracne (sejenis jerawat akibat paparan senyawa halogen, termasuk dioksin) dan penggelapan warna kulit, dan gangguan fungsi hati. (Salah satu contoh kasus chloracne yang terkenal adalah yang dialami Presiden Ukraina Viktor Yuschenko. Untuk sekedar tau aja….. Pak Presiden ini diduga keracunan dioksin melalui makanan…. sampel darahnya mengandung 100.000 U/gram TCDD, suatu kadar tertinggi kedua yang pernah tercatat pada manusia….. Hmm, emangnya Anda makan apa sih, Mr. President? ). Sedangkan paparan jangka panjang menyebabkan penurunan sistem kekebalan tubuh, perkembangan sistem saraf, sistem endokrin dan fungsi reproduksi. Paparan kronis dioksin pada hewan telah mengakibatkan beberapa jenis kanker. TCDD dievaluasi olehBadan Internasional untuk Riset Kanker (IARC) WHO  pada tahun 1997. Berdasarkan data hewan dan pada data epidemiologi manusia, TCDD diklasifikasikan oleh IARC sebagai “karsinogen bagi manusia” . Namun, TCDD tidak mempengaruhi material genetik dan ada tingkat eksposur di bawah tingkat tertentu di mana risiko kanker dapat diabaikan.

Kelompok yang paling sensitif terhadap paparan dioksin adalah janin yang sedang berkembang. Bayi baru lahir, yang sistem organnya sedang berkembang dengan cepat, juga lebih rentan terhadap efek-efek tertentu dioksin. Selain itu, beberapa individu atau kelompok individu mungkin terkena paparan dioksin tingkat yang lebih tinggi melalui diet mereka (misalnya, konsumen ikan di bagian-bagian tertentu di dunia) atau pekerjaan mereka (misalnya, pekerja di industri pulp dan kertas, pada instalasi pembakaran limbah, dan di lokasi limbah berbahaya).

Bagaimana pencegahan dan pengendalian paparan dioksin ?

Pembakaran yang tepat dari bahan yang terkontaminasi adalah metode terbaik untuk mencegah dan mengendalikan paparan dioksin. Hal ini juga dapat menghancurkan limbah minyak berbasis PCB yang merupakan sumber dioksin. Proses insinerasi membutuhkan temperatur tinggi, lebih dari 850° C. Untuk penghancuran sejumlah besar bahan terkontaminasi, kadang bahkan diperlukan suhu yang lebih tinggi , yaitu 1000° C atau lebih. Pencegahan atau pengurangan eksposur manusia paling baik dilakukan melalui langkah-langkah yang diarahkan pada sumber-sumber dioksin, misalnya dengan kontrol yang ketat terhadap proses-proses industri untuk mengurangi pembentukan dioksin sebanyak mungkin. Ini adalah tanggung jawab pemerintah. Lebih dari 90% dari paparan dioksin adalah melalui penyediaan makanan, terutama daging dan produk susu, ikan, dan kerang. Karena itu, melindungi pasokan makanan menjadi sangat penting. Kontaminasi sekunder pada pasokan makanan perlu dihindari sepanjang rantai makanan. Harus ada kontrol dan praktek yang baik selama produksi, pengolahan, distribusi dan penjualan untuk menghasilkan produksi makanan yang aman. Sistem pemantauan kontaminasi pangan harus ada untuk memastikan bahwa tingkat toleransi tidak terlampaui. Ini adalah peran pemerintah untuk memantau keamanan pasokan makanan dan untuk mengambil tindakan untuk melindungi kesehatan masyarakat. Ketika ada insiden kontaminasi yang diduga, Pemerintah harus memiliki rencana untuk mengidentifikasi, menahan dan membuang pakan dan makanan yang terkontaminasi. Populasi terpapar harus diperiksa dalam hal paparan (misalnya mengukur kontaminan dalam darah atau ASI) dan efek (misalnya pengawasan klinis untuk mendeteksi tanda-tanda penyakit).

Apa yang harus dilakukan konsumen untuk mengurangi risiko eksposur?

Mengurangi konsumsi lemak dari daging dan mengkonsumsi produk susu rendah lemak dapat mengurangi risiko senyawa dioksin. Juga, diet yang seimbang (cukup buah-buahan, sayuran dan sereal) akan membantu untuk menghindari paparan berlebihan dioksin dari satu sumber. Ini adalah strategi jangka panjang untuk mengurangi beban tubuh dan mungkin paling relevan terutama bagi wanita, untuk mengurangi dampak pada perkembangan janin jika hamil atau menyusui bayinya di kemudian hari dalam kehidupannya. Apa yang diperlukan untuk mengidentifikasi dan mengukur dioksin dalam lingkungan dan makanan? Analisis kimia kuantitatif dioksin membutuhkan metode canggih yang tersedia hanya pada laboratorium yang jumlahnya terbatas di seluruh dunia. Sebagian besar ada di di negara-negara industri. Biaya analisisnya lumayan tinggi dan bervariasi sesuai dengan jenis sampel, tetapi berkisar dari lebih dari US $ 1.700 untuk analisis suatu sampel biologis tunggal. Indonesia sebagai negara berkembang, perlu kiranya memberi perhatian pada kemungkinan pencemaran dioksin pada berbagai produk yang beredar di masyarakat.

Dalam pertemuan terbaru pakar yang diadakan pada tahun 2001, Joint FAO / WHO Komite Ahli Aditif Makanan (JECFA) melakukan penilaian risiko yang komprehensif terhadap senyawa-senyawa dioksin. Para ahli menyimpulkan bahwa asupan yang dapat ditoleransi harus ditetapkan untuk dioksin berdasar asumsi bahwa ada ambang batas untuk semua efek, termasuk kanker. Para ahli menetapkan bahwa asupan bulanan yang dapat ditoleransi (PTMI) adalah 70 picogram / kg per bulan. Tingkat ini adalah jumlah dioksin yang dapat tertelan selama seumur hidup tanpa efek kesehatan yang dapat terdeteksi.

Dioksin terdapat sebagai campuran yang kompleks di lingkungan dan dalam makanan. Dalam rangka untuk menilai risiko potensial dari seluruh campuran, konsep kesetaraan beracun telah diterapkan ke grup kontaminan ini. TCDD, anggota yang paling beracun dalam keluarga dioksin, digunakan sebagai senyawa acuan, dan semua dioksin lainnya diukur potensi racun relatifnya terhadap TCDD, berdasarkan studi eksperimental. Selama 15 tahun terakhir, WHO, melalui Program Internasional untuk Keamanan Bahan Kimia (IPCS), telah menetapkan dan secara teratur mengevaluasi ulang faktor ekivalensi racun (TEFs = toxic equivalence factor) untuk dioksin dan senyawa terkait melalui konsultasi ahli. Nilai WHO-TEF yang telah ditetapkan berlaku untuk manusia, mamalia, burung dan ikan. Konsultasi tersebut terakhir diadakan pada tahun 2005 untuk memperbarui TEFs manusia dan mamalia.

Pembalut wanita dan dioksin?

Kembali ke masalah pembalut wanita dan diaper yang kemungkinan terkontaminasi dioksin, tentu kita perlu berhati-hati dan mencari tau mengenai kualitas produk yang kita gunakan. Sebuah saran yang tersaji pada website YLKI mungkin bisa dicoba untuk menguji kualitas produk yang digunakan ( http://www.ylki.or.id/consults/view/121 ). Disebutkan demikian (aku kutipkan sesuai aslinya) :

Untuk pengujian apakah terbuat dari pulp/kertas daur ulang, Anda dapat melakukan pengetesan apakah pembalut yang anda beli aman atau tidak, sbb:

Sobek produk pembalut Anda, ambil bagian inti dalamnya. Ambil segelas air putih. Usahakan gunakan gelas transparan sehingga lebih jelas. Ambil sebagian dari lembaran inti pembalut Anda dan celupkan ke dalam air tersebut. Aduk dengan sumpit. Lihat perubahan warna air (karena kalo higienis dan bersih, seharusnya air akan tetap jernih). Lihat apakah produk tersebut tetap utuh atau hancur seperti pulp. Jika hancur dan airnya KERUH, berarti Anda menggunakan produk yang kurang berkualitas, dan banyak mengandung zat pemutih (DIOXIN).

Tapi……. terus terang aku sendiri tidak bisa menjamin apakah dengan cara ini kita bisa memastikan produk tersebut mengandung DIOKSIN atau tidak, karena kandungan dioksin tidak akan terdeteksi oleh pandangan mata biasa, apalagi jika kadarnya kecil.  Analisis dioksin memerlukan instrumen yang memadai. Cara tadi mungkin lebih ditujukan untuk melihat kualitas bahan bakunya, apakah berasal dari pulp yang berkualitas atau tidak, bukan dari cara pemutihannya. Tentunya perlu campur tangan pihak berwenang seperti Badan POM untuk bisa melakukan sampling terhadap produk-produk sanitary yang diduga mengandung dioksin dan mengumumkannya kepada masyarakat seperti halnya FDA, untuk mencegah keresahan berkembang.

Kalaupun pembalut mengandung dioksin, bagaimana ia bisa terpapar pada manusia menyebabkan kanker servix?

Menurut tulisan yang tersebar luas, termasuk pada website YLKI diatas, dikatakan bahwa dioksin bisa terserap ke dalam rahim dengan cara sbb:

Bila darah haid (bersifat panas) jatuh ke permukaan pembalut , maka zat dioxin akan dilepaskan melalui proses penguapan. Uap tersebut pertama-tama akan mengenai permukaan vagina, kemudian diserap ke dalam rahim melalui saluran Serviks, lalu masuk ke uterus, melalui tuba fallopi dan berakhir di ovarium.Sehingga menyebabkan : kanker leher rahim, gatal2, myoma dll.

Tapii….. kita perlu cermati dulu sifat-sifat dioksin. Benarkah dia bersifat begitu mudah menguap pada suhu tubuh atau suhu darah haid?  Menurut informasi terpercaya mengenai profil dan sifat-sifat dioksin, dapat dilihat pada website berikut ini  (http://ntp.niehs.nih.gov/ntp/roc/eleventh/profiles/s168tcdd.pdf), titik didih (boiling point)  dioksin, khususnya TCDD,  adalah 446,5 derajat celcius !! Ia tidak larut dalam air, dan lebih larut dalam pelarut organik. So….. bagaimana ia bisa bercampur dengan darah haid, apalagi kemudian menguap dan uapnya masuk ke dalam rahim?  Jadi terus-terang aku belum bisa mengerti bagaimana dioksin bisa masuk ke dalam rahim melalui pembalut.  Mohon pencerahannya jika ada yang lebih paham……

Untuk melihat seperti apa penjelasan produsen pembalut wanita mengenai rumor ini, aku mencoba menengok secara acak saja website salah satu produsen, yaitu Kotex (http://www.kotexfits.com/faqs/products/#a13 ). Dalam hal ini produsen menjelaskan bahwa bahan yang digunakan dalam tampon dan pembalut Kotex ® diputihkan menggunakan Elemental Chlorine Free (ECF), proses yang secara signifikan mengurangi potensi untuk pembentukan dioksin pada proses pemutihan. Menggunakan studi analitis yang sangat sensitif, laboratorium independen tidak dapat menemukan dioxin yang dihasilkan oleh proses pemutihan di tampon Kotex ®. So? ….  (silakan saja Anda cek pada informasi resmi website produk-produk lainnya….bagaimana concern mereka terhadap isu dioksin).  

Aku berasumsi (entah benar atau tidak) bahwa produsen-produsen besar tentu tidak akan gegabah untuk menggunakan proses pemutihan yang menghasilkan dioksin, mengingat bahwa concern tentang ini sudah sangat tinggi di negara-negara maju dan pelanggarannya sudah bisa masuk ranah hukum. Namun tentu tetap diperlukan upaya sistematik dari pihak berwenang untuk bisa memantau dan mengawasi masalah dioksin ini, tidak hanya pada produk pembalut wanita atau diaper, tetapi juga produk makanan. Dan aku juga berharap agar tidak ada pihak-pihak yang menggali di air keruh sehingga menimbulkan keresahan masyarakat untuk tujuan mengambil keuntungan sendiri dengan mempromosikan produk-produknya dan mengatakan bahwa semua produk pembalut mengandung dioksin, kecuali produknya.

Demikianlah kira-kira, mudah-mudahan bermanfaat…

Tulisan ini berasal dari berbagai sumber, antara lain : http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs225/en/index.html

About these ads

Aksi

Information

43 responses

9 06 2014
Glutera

Terima kasih info nya sangat berguna.

6 04 2014
patomi

Reblogged this on Patomi's Weblog and commented:
Yuk..Cermati lagi..:)

6 04 2014
patomi

reblog ya bu..:)

11 05 2013
ikhsan jauhari

wah ternyata ada juga ya pembalut yang tidak aman. harus di waspadai nih…

mau aman? kunjungi aja Dunia Cewe

26 01 2013
Petaka di Usia Muda « shahira site's

[...] 4. Pemakaian pembalut yang memakai bahan Dioksin. [...]

26 07 2012
DreamTheater

Wah..artikel lama tapi masih tetap bermanfaat….
Salam kenal bu….
Istri saya baru saja operasi endometriosis, jadi saya browsing2 soal itu sampai akhirnya ‘terdampar’ disini…
sebelumnya saya sudah mau menuduh pembalut yg biasa dipakai itu yg memicu endometriosis, tapi setelah saya baca secara lengkap ternyata itu cuma hoax dari produsen pembalut lain ya?
sebelumnya saat masih sakit/belum diambil endonya, karena keluar darah banyak & kesakitan sewaktu haid, istri sempet pake pembalut2 herbal yg mahal itu (saya tdk tahu itu MLM atau tidak karena belinya di apotek), tapi istri bilang dipakenya memang lebih enak drpd pembalut biasa. Terasa hangat & mengurangi sakit, sehingga walau mahal tetap dibela2in beli.
Apakah sudah ada penelitian terhadap pembalut2 yg beredar di Indonesia bu? Juga terhadap diaper2 di Indonesia?
Terimakasih, sukses buat Ibu.

Jawab:
Saya belum baca ttg penelitian2 ttg pembalut yang beredar di Indonesia, juga terhadap diaper. Utk pembalut yang katanya pembalut herbal, sebenarnya silakan saja dipakai walau mahal. Memang ditambahi beberapa bahan lain yang membuat hangat dan berbau semriwing. Tapi sebaiknya juga tidak mudah menyebut bahwa pembalut lainnya merupakan penyebab kanker atau endometriosis…

21 05 2012
Andriansyah Munthe

Infonya sangat bagus Bu. Boleh izin untuk share di blog saya Bu?

Silakan

15 01 2012
yudit

Pakai Pembalut natesh aja Bu, bebas dioksin.just share

15 06 2011
sumayyah

bu boleh saya copas ke blog saya dan saya share, insyaALLAH SAYA CANTUMKAN SUMBER ASLINYA….

jawab:
silakan

15 06 2011
sumayyah

bu, boleh saya copas ke blog saya bu? saya sediakan sumber aslinya….ini juga buat catatan saya…masyaALLAH tulisannya membuka pikiran….makasih ya bu…

8 04 2011
yenni hartati

Assalamu’alaikum,

Bu, saya sering baca artikel yang ibu tulis. Bagus2 dan sangat bermanfaat. Makanya blog ibu ini saya link di blog saya.

Soal penguapan zat cair. Saya ingat waktu kuliah kimia dasar di ITB dulu, dosennya pak Hiskia Ahmad. Beliau mengatakan penguapan itu tidak hanya terjadi ketika titik didih telah tercapai. Namun penguapan terjadi di semua suhu. Titik didih hanya menunjukkan bahwa pada suhu tersebut konsentrasi uap sudah mencapai titik jenuh. Beliau menganalogikan dengan air hujan yang membasahi jalan di malam hari. Tapi keesokan harinya, kita mendapati jalan sudah kering. Hal ini menunjukkan bahwa air tersebut telah menguap. Contoh lainnya seperti pakaian basah yang dijemur di dalam ruangan pun, bisa kering, menandakan air sudah menguap.

Jadi, bila memang suatu pembalut mengandung dioksin, bisa saja dioksin itu turut menguap saat kita pakai.

Mungkin itu sedikit share aja bu. Terima kasih

Jawab:
Terimakasih masukannya, Mbak Yeni. Saya kira memang benar jika penguapan bisa terjadi sebelum titik didihnya. Namun semakin tinggi titik didihnya, seperti dioksin, mungkin semakin sedikit yang bisa menguap di suhu kamar. Mudah2an saja tidak banyak lagi pembalut yang mengandung dioksin.

3 04 2011
ummu zaid

kalau bahan gel dari pembalut & popok bagaimana bu? karena saya sempat juga membaca bahwa bahan tersebut juga berbahaya.
Fakta tentang popok sekali pakai

Tahukah Anda, Diaper Fact
Bunda/Ayah, ada artikel di internet (http://www.realdiaperassociation.org/diaperfacts.php) yang membahas fakta tentang diaper (Diaper Fact).

Artikel tersebut mengungkapkan bahwa adanya zat kimia berbahaya pada popok disposable seperti:
1) traces of Dioxin, zat kimia berbahaya, produk sampingan dari proses pemutihan kertas. Dioxin ini adalah penyebab kanker nomor satu. Dioxin sudah dilarang di banyak negara maju, tapi tidak tahu di Indonesia sudah terlarang kah ?
2) Tributyl-tin (TBT) – pollutan beracun yang diketahui menyebabkan masalah hormonal di manusia dan binatang
3) Sodium polyacrylate, polimer berdaya serap super (Super Absorbent Polymer/SAP) yang menjadi jelly saat terkena cairan. Sejak tahun 1980 diketahui bahwa bahan ini meningkatkan resiko toxic shock syndrome.
mohon tanggapannya….

Jawab:
saya kira tidak semuanya demikian. Untuk yang berkualitas rendah barangkali memang begitu. Memang harus pandai-pandai memilihnya.

22 02 2011
ridwan

mba..sy sekarang lg kampanye..kanker serviks…karena dari beberapa artikel yg sy baca..ternyata di dalam pembalut setiap 1cm2 terdapat 107 bakteri hasil sampingan proses Blaching yg menggunakan Chlorin yg menghasilkan DIOXIN..semoga itu benar bt info sama org2 yg kita sanyangi

16 02 2011
ISNAENI

Informasi yg menarik. Ijin untuk berbagi ya Bu… Terimakasih

25 01 2011
Abu Anas

mohon idzin shareBu… mdh2an ilmunya berkah Aamiin

9 01 2011
gatot pulunggono

Terimakasih infonya dan Mohon ijin share tulisan Prof,

jawab:
silakan….

24 12 2010
Rahmawati

Thanks Banget buat infonya Mba,
Akhirnya dapat juga informasi yang saya cari, sempat khawatir untuk pakai pembalut yang biasa karena banyaknya article tentang kanker servics yang disebabkan pembalut…
Ijin share yach Mba…
Thanks

22 12 2010
winda alfarizi

wah baguss bangetzzzz informasinya makasih yah mbkkk !!!!! izin ngutip yah !!! alx bagus bgtzz isinya !!!! visit my blogg yuahh @ http://wilmamsky.blogspot.com/ !!! wajibb !! hehehhe

4 12 2010
abu syifa

Jazakumullahu khairan…………………atas informasi bu.

30 11 2010
maya

Terima kasih atas infonya.
Akhir-akhir ini banyak teman-teman yang mengikuti mlm untuk pembalut-pembalut yang dikatakan bebas dioksin.
Hal ini sempat membuat saya jenuh, karena efek-efek samping yang diceritakan jika menggunakan pembalut biasa, padahal seingat saya efek-efek itu juga bisa terjadi dari pola hidup.
Kebetulan saya kenal dengan dokter ahli kandungan, tetapi seingat saya dia tidak pernah menyuruh saya mengganti pembalut yang saya gunakan, tetapi lebih kepada mengatur pola hidup saya (pola makan, olah raga, dan istirahat).
Ijin untuk copas ke jaringan saya, untuk berbagi info ke teman-teman.

Terima kasih.

Jawab:
silakan

29 11 2010
asibayi.com

Wah artikel yang bagus, kayaknya perlu diperluas lagi dengan trend cloth diaper vs pospak. Soalnya produsen2 clodi menjadikan isu dioksin sbg andalan juga.

23 11 2010
23 11 2010
syamsa

ibu ijin share boleh !!!
sangat menarik tulisannya =)

Jwab:
silakan saja

21 11 2010
irma

wahh…bisa jd bhn pertimbgn nih..
sy sempat beranggapn smua pmblt di pasaran berbahaya…ehhmm mksh skali lg bu..!

20 11 2010
siti lutfia

tq
ilmu yg bermanfaat

20 11 2010
rika

sangan penting dan menarik sekali utk diketahui para ibu, dan wanita. izin share, bu. Trims.

18 11 2010
justfitri

Waah…ibu bermanfaat sekali postingannya…terimakasih infonya ya..ijin share.

18 11 2010
NAni Yusuf

Bu Zullies, trimakasih bgt infonya sangaaattt berharga
mau nanya ni Bu,
kalo produk pemutih pakaian yg dijual bebas seperti Bayclin begitu apakah juga dapat menghasilkan dioksin? karena itu kan juga larutan klorin ya Bu
tiba2 jadi kepikiran karena saya sering pakai pemutih pakaian untuk membersihkan celana atau baju bayi saya yg terkenan pupnya (hehe maklum bu, susah kalo gak pakai pemutih :D ).
terimakasih

Jawab:
saya belum menemukan informasi ttg itu, tapi kemungkinan proses bleaching di pabrik yg menghasilkan dioksin dan pemutihan pakaian dengan larutan pemutih tidak sama. Lagipula setelah direndam pemutih kan udah dibilas, Mbak

18 11 2010
gauldansehat

tulisan yang sangat detail dan menarik, memang fenomena ca cervix cukup mengerikan bagi kaum wanita. Ijin share artikelnya ya…

18 11 2010
indah

assalamu’alaikum Bu….
terimakasih bu..tulisan ibu ini benar-benar membantu saya dalam memahami isu dioxin pada pembalut khususnya, dan juga sudah berkenan memberikan penjelasan yang mendalam tentang permasalahan yang saya tanyakan via e-mail…
terimakasih bu…..

17 11 2010
djeng eni

Mba Zullies, apakabar .. Terimakasih banyak infonya :)
Bila diperkenankan, saya ijin co-pas untuk share informasi ke milis popok-kain yaa :)
Matursuwun mba Zulies

jawab:
Monggo, Jeng…

17 11 2010
dwiekamalea

Salam knal sebelumnya…

Wah artikelnya bagus sekali ka2..Sangat berguna buat kita2 yang perempuan…
Boleh ya saya post di fb saya n di milis..Biar bisa dibaca temen2 saya yg juga perempuan…Biar mereka jg jd tau…Trimakash

Jawab:
salam kenal kembali, silakan

17 11 2010
wiwien

saya alumni farmasi ugm, wah benar-benar suatu pencerahan, saya juga pernah mengikuti ceramah kesehatan oleh seorang ketua IDI di suatu wilayah yang membicarakan kesehtan reproduksi dan bahayanya menggunakan pembalut yang biasa ada,karena penggunaan pemutih, tapi sudah bisa kutebak, ujung2nya akan mengatakan produknya yang bebas senyawa berbahaya(dioksin), jadi forum ini kemudian rame2beli pembalut tersebut…Ah pemanfaatan…

17 11 2010
Defhi Kusmiati Agustina

Terimakasih Bwat infonya ;)

17 11 2010
Retno sari

Assalamu’alaikum Prof……
Saya apoteker unpad tetapi dl S1 d Stifar Semarang.
Senang sekali ada pencerahan ttg pembalut vs dioksin. Sangat2 bermanfaat apalagi isu ttg dioksin skrg sdg maraknya beredar d masyarakat….
kmrn sempat terprovokasi jg dg isu tsb, alhmdllh skrg sdh ada jawabannya…
Trma kasih banyak Prof.,shg informasi berharga ini dpt dsebarluaskan k masyarakat….
Wss…..

17 11 2010
LaiLia Berjilbab

wahh… ngeri juga ya

17 11 2010
Susanti Gunawan

Bu zullies mau tanya…tentang proses pemutihan baju secara tradisional juga memakai kaporit, suatu senyawa klor, apakah jg akan menghasilkan dioksin? Kl iya, apkah berarti pemutihan dg kaporit jg berbahaya? Terus ttg proses klorinasi, di rumah saya sumber airnya pake PDAM yg kadang2 bau kaporit, apakah ini juga berbahaya??? Jadi takut niy bu… Terima kasih bu zulies..GBU!

jawab:
Saya tidak tau persis, mbak… tapi mungkin proses bleaching di pabrik dengan pemutihan menggunakan kaporit berbeda ya. Untuk air berkaporit, saya belum sempat cari informasi mengenai bahayanya. mestinya tidak dan tentu ada pihak yang bertanggung-jawab jika memang ini berbahaya. Saya kira tidak perlu terlalu takut. maaf, kalau jawabannya tidak memuaskan.

17 11 2010
fatmah nurjanti

Terima kasih atas info yang mbak berikan, sangat bermanfaat!. Saya akan menanyakan bagaimana dengan kampanye merk-merk tertentu (distribusi terbatas dan mahal) ? Apakah memang buatan mereka lebih aman? Saya terus terang sempat terprovokasi ( meskipun akhirnya tidak berlanjut karena mahal)karena infonya benar-benar mengerikan. Apakah memang benar begitu? Mungkin perlu dilakukan gerakan yang mengkaji masalah ini dengan lebih seksama dan menasional, karena manfaatnya akan sangat besar. Juga perlu kebesaran hati merk-merk ternama untuk mau diuji kelayakannya.
Terima kasih…

jawab:
betul sekali, mbak…

17 11 2010
joni prayoga

Perkenalkan,saya Joni mhsswa apoteker @ UNPAD. info yg menarik ibu profesor, :) saya sangat tertarik dengan artikel pembalut vs. dioksin…sangat padat dan berisi. Namun saya belum mendapatkan kejelasan tentang: bagaimana ‘sesungguhnya’ cara mengetahui apakah sebuah pembalut mengandung dioksin?
Dari artikel ibu d atas saya menangkap bahwa kotek (R) telah menggunakan proses ECF untuk pemutihan, nah bagaimana dengan merk lainnya?
terimakasih banyak atas infonya bu :D

jawab:
Salam kenal kembali, Joni. terus terang saya juga belum tau persis bagaimana cara seorang awam untuk mengetahui apakah sebuah pembalut mengandung dioksin, karena teknik analisis keberadaan dioksin sendiri memerlukan instrumen yang memadai. Akhirnya saya hanya bisa mencoba melihat penjelasan dan concern dari pihak produsen terkait dengan dioksin, contohnya Kotex, mengenai proses pemutihan yang digunakan. Saya belum mengecek informasi dari produk lain, hanya berasumsi saja, bahwa untuk produsen2 besar dan ternama mungkin sudah meninggalkan metode bleaching dengan klor, namun demikian saya memang belum tau pasti. Itulah sebabnya saya menghimbau kepada pihak berwenang seperti BPOM untuk proaktif seperti FDA yang melakukan pemeriksaan terhadap beberapa sampel produk sanitary yang beredar di AS, untuk memberikan kepastian dan kemantapan bagi masyarakat, dan menghindarkan pembodohan masyarakat oleh produk2 pembalut tertentu yang memanfaatkan isu dioksin ini untuk promosi produknya.

17 11 2010
Aha Gambreng

wah.. sepertinya saya salah masuk… tapi tak apa… saya perlu tau juga… hahahah…. salam

17 11 2010
fiksifiksigue

waaah sangat bermanfaat! terima kasih ya!

16 11 2010
'Ru Blajar Ngeblog

Assalamualaikum..mbak nak kedokteran ya..masih kuliah atu jd dosen??
kebetulan aQ pengguna baru di wordpress..jadi masih bingung sangat…
Q lihat blog mbak bagus…boleh dunk diajarin…

16 11 2010
Budi Wiyono Onggodinoyo

terimakasih atas info yg sangat berharga. mudah2an semakin banyak yg ikut baca n menyebarkannya. GBU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 447 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: