My days in October…

31 10 2010

Dear kawan,

Alhamdulillah, bisa punya waktu lagi untuk menyambangi kawan-kawan melalui blog tercinta ini….  Suer deh,..waktu menjadi barang mahal sekali dua bulan belakangan ini. Bukannya sok sibuk siih….tapi memang harus ada skala prioritas yang harus dikerjakan. Padahal banyak loh peristiwa yang ingin aku dokumentasikan dalam blog ini, banyak pula request tulisan dari kawan-kawan yang belum kupenuhi, pertanyaan yang belum sempat kurespon…. aduuh, maap deh..  Sampai-sampai aku pasrah kalau-kalau blog ini akan ditinggalkan pembacanya…  Padahal sumpih, aku cinta mati dengan blog-ku ini… Tau ngga kawan, blog ini telah berjasa menyambungkan banyak tali silaturahmi dengan kawan-kawan di mana saja berada… bahkan yang belum pernah bertemu muka sekalipun. Jadi merasa selalu ada kawan di mana-mana. Beberapa kali aku bertemu kawan-kawan yang belum pernah kukenal sebelumnya dalam beberapa acara. Mereka menyapa “Ini bu Zullies ya?… saya sering baca tulisan ibu loh… Sekarang baru bisa ketemu dengan orangnya..” Lalu ngajak foto bersama hehee…… kayak jumpa fans saja,… lebay bombay deh!. Beberapa undangan menjadi pembicara di suatu acara (termasuk waktu nongol di Metro TV) juga karena blog ini… Dan sesuai “misi”nya, blog ini hanyalah sebagai media berbagi dan pelepas penat dan hanya memuat tulisan orisinil dariku saja, jadi maklum kalo tulisannya suka-suka dan waktunya tergantung mood.

Oya, kalau ada pertanyaan yang belum sempat kujawab, aku juga harus minta maaf. Kalau pas pertanyaan itu aku tau pasti jawabannya, biasanya langsung aku jawab. Tapi kan aku tidak “maha tahu”… jadi lebih sering aku harus searching dulu untuk mendapatkan jawaban yang paling pas, karena aku takut salah menjawab dan malah menyesatkan. Nah, kalau ada waktu longgar utk searching, mungkin aku bisa segera menjawab, tapi kalo lagi pas banyak acara lain, terpaksalah jawaban aku tunda…. jadi yah.. mohon maklumnya. (Hmm… tau ngga rahasianya dosen mengapa mereka keliatan pintar?… Mereka cuma menang semalam saja…. maksudnya duluan baca semalam hehe… Kalau ada dosen yang malas baca dan update ilmunya, berani taruhan deh…pasti kalah sama mahasiswanya..!!)

Yah, .. sejak tulisan terakhirku mengenai Lebaranku dan sedikit tulisan tentang promo buku terbaruku, aku memang belum sempat nulis lagi. Rutinitas yang lumayan padat dan beberapa job tambahan lumayan menyita waktu. Aku coba ingat-ingat lagi dan dokumentasikan di sini ya…

Alkohol dalam sirup obat batuk, bagaimana tanggapan kita?

Syrup rendah alcohol (< 1%)

Awal Oktober, tepatnya tg 1 Oktober, aku buka dengan menjadi narasumber pada sebuah diskusi dalam bahasa Inggris di Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Salut deh, mereka sudah mulai memfasilitasi mahasiswanya untuk berani bicara dalam bahasa Inggris. Walaupun tulisan dan penyampaian masih belepotan di sana-sini, tapi bravo…. sudah berani. Dalam urusan bicara bahasa asing memang tidak boleh malu berbuat salah. Kenapa mesti malu wong memang bukan bahasanya sendiri. Dengan pernah salah, dan dikoreksi, kita malah jadi ingat terus bagaimana bicara yang benar… Pada diskusi itu, mahasiswa diminta mempresentasikan papernya terkait dengan tanggapan mereka mengenai penggunaan alkohol dalam sediaan obat, kasusnya adalah sirup obat batuk. Dalam bahasa Inggris tentu. Aku mendapat tugas memberikan tanggapan tentang penggunaan alkohol dari perspektif farmakologinya, sementara narasumber yang satu, beliau Prof Dr Ahmad Mursyidi, Apt memberikan dari sisi pendekatan agamanya. Dengan adanya masalah seperti ini, bagaimana pandangan kita, terutama farmasis muslim?

Kita ketahui bahwa alkohol memang pelarut yang sangat baik untuk berbagai senyawa kimia termasuk obat. Alkohol bersifat ampifil (memiliki sifat hidrofilik dan hidrofobik sekaligus), sehingga bisa larut dalam air maupun minyak. Apa gunanya alkohol dalam obat batuk? Apakah ada efeknya sebagai antitusif? Sejauh yang aku tau, kandungan etanol dalam sirup relatif kecil (< 5%) untuk bisa menghasilkan efek farmakologis yang signifikan (kecuali minumnya berbotol-botol hehe…..). Efeknya sebagai depresan sistem saraf karena ia berikatan dengan reseptor GABA mungkin belum akan tercapai dengan konsentrasi tersebut. Ia juga tidak berefek sebagai antitusif. Dan nampaknya bukan itu tujuan utama penambahan alkohol dalam sirup, dan lebih ditujukan sebagai pelarut. Selama bisa ditemukan pelarut lain yang sama baiknya dengan etanol, tak ada alasan lagi menggunakan etanol bukan? Nah, dari sisi agama Islam, Prof Mursyidi menyatakan bahwa penggunaan alkohol dalam sediaan, sedikit atau banyak, dengan berbagai kajian dan dalil, hukumnya haram. Kata beliau, mosok sejak jaman beliau kuliah sampai sekarang penggunaan etanol sebagai pelarut obat dianggap keadaan “darurat” terus…!  Padahal kita tau bahwa komponen etanol itu adalah komponen yang memabukkan, dan itu termasuk khamr yang diharamkan dalam Islam. Dan itulah tantangan apoteker Muslim untuk bisa mencari pengganti etanol ini. Dan alhamdulillah, nampaknya concern tentang ini sudah mulai meningkat di kalangan produsen obat. Beberapa produk obat telah mencantumkan keterangan “bebas alkohol” atau “low alcohol”, sehingga itu bisa menjadi alternatif yang baik bagi konsumen Muslim yang peduli.

Selain itu ada pula narasumber yang pakar bahasa Inggris, yang memberi tanggapan dari sisi bahasanya. Yang menarik dari ulasan narasumber terakhir adalah bahwa kadang kita berbahasa Inggris dengan budaya Indonesia bahkan mungkin Jawa. Dalam bahasa Indonesia, seringkali kita menyampaikan “Terimakasih atas kehadiran Anda”… yang kemudian diInggriskan menjadi “ Thank you for your coming”…. Nah, hati-hati loh…. ternyata kalimat Inggris seperti itu berkonotasi “saru”….  (pikir sendiri deh..), mestinya yang benar cukup, “Thanks for coming”… Hehe…ternyata ngga gampang juga ngomong dalam bahasa Inggris…perlu kenal idiom-idiom yang tepat..

Seminar dan Kompetisi Konseling Pasien

Persis hari berikutnya, tanggal 2 Okt, lagi-lagi aku diminta menjadi narasumber/pembicara dalam Seminar Nasional tentang Konseling Pasien dan menjadi Juri dalam Kompetisi Konseling yang diselenggarakan oleh Pusat Informasi Obat Gadjah Mada (PIOGAMA). Rasanya bangga dan bahagia bisa menjadi bagian dari suatu even yang bermanfaat ini  dan sekaligus turut mengawal sejak mulai perencanaan dan pelaksanaan seminar ini karena memang aku menjadi penasihat PIOGAMA (sok penasihat deh….lagi-lagi lebay bombaay..!). Acaranya sendiri berlangsung lancar, tentu dengan segala kelebihan dan kekurangannya.  Aku mendapat tugas untuk memaparkan tentang “Swamedikasi” atau pengobatan sendiri. Pembicara yang lain adalah Ibu Dra. Harlina Kisdarjono, Apt, MM, yang memaparkan tentang Teknik-teknik Konseling pasien, dan Mbak Bondan, Apt, dari Apotek UGM yang memberikan tentang Pengobatan rasional. Waktu yang singkat bagi pembicara dalam menyampaikan materi dan menjawab pertanyaan menyebabkan kami harus menggunakan waktu secara efektif. Akhirnya pada saat sesi tanya jawab, aku tidak sempat menjawab semua pertanyaan, karena ada 26 pertanyaan yang harus dijawab dalam 15 menit. Nanti deh, kalau sudah lebih longgar lagi, aku akan coba tuliskan pertanyaan-pertanyaan yang masuk untukku dan jawabannya di blog ini. (tapi ngga sekarang yaa…. aku memang pernah “menjanjikan” akan menulis, tapi belum ada waktu yang pas).

Lagi-lagi aku harus angkat jempol (dua tangan dan dua kaki deh..) atas semangat adik-adik Panitia dan juga partisipasi peserta yang datang dari berbagai kota, misalnya Bandung, Purwokerto, Solo, dll. Konseling tentang obat kepada pasien merupakan salah satu kompetensi yang perlu dimiliki farmasis dalam menjalankan pelayanan kefarmasian. Tujuannya adalah untuk meningkatkan pengetahuan pasien tentang penyakit dan obatnya, sehingga akan meningkatkan kepatuhan pasien terhadap pengobatan yang tepat, yang pada gilirannya diharapkan dapat meningkatkan outcome terapi pasien.

Kompetisi Konselingnya diselenggarakan dalam 2 hari. Ada yang untuk tingkat beginner (S1) dan advance (Profesi). Ada yang lucu-lucu ketika aku menjadi Juri Kompetisi Konseling. Tapi overall sih, bagus…. semua peserta mencoba menampilkan kemampuan terbaiknya ketika dihadapkan pada kasus pasien yang diperankan oleh “aktris dan aktor” dari Panitia. Satu yang lucu misalnya ketika seorang peserta dihadapkan dengan kasus seorang pasien yang mau mencari obat pencahar yang dimasukkan lewat dubur. Waktu menjelaskan bagaimana cara pakai suppositorianya sih oke aja. Tapi penjelasannya itu loh….katanya obat harus diminum pada malam hari dan  supaya obat itu berefek pada pagi hari. “Kalau sudah kepengin BAB gimana?”tanya pasien. Kata si apoteker, “Ya ditahan dulu sampai obatnya berefek…..” Hahaha….lha piye to iki? Wong cari obat untuk melancarkan BAB, setelah udah kepengin BAB kok malah disuruh nahan dulu…….  Ada-ada saja.

HPEQ = Health Professional Education Quality

Hmm….mahluk apa lagi tuh? Yah, ini salah satu my additional job…. ceritanya DIKTI sedang punya proyek besar untuk mengembangkan standar program pendidikan kesehatan dan standar kompetensi beberapa profesi kesehatan. Keterangan lebih jauh bisa dilihat di sini deh (http://www.hpeq.dikti.go.id/ ). Nah, untuk profesi Farmasi sebagai salah satu profesi kesehatan, aku diminta untuk menjadi salah satu anggota Technical Committe-nya untuk component 2, bersama-sama sejawat Farmasis yang lain yang berasal dari berbagai penjuru tanah air, baik dari unsur organisasi profesi dan institusi pendidikan.   Sudah ada beberapa pertemuan yang diselenggarakan mengenai HPEQ ini, yaitu di Jakarta dan di Bogor, dan aku baru sempat menghadiri pertemuan ke 3 di Jakarta pada tanggal 17-18 Oktober kemarin. Informasi lebih lanjut tentang kegiatan HPEQ Farmasi tersebut bisa dilihat di sini. Dan nampaknya dalam setahun ke depan, hidupku akan bakal diwarnai juga oleh aktivitas HPEQ yang rencananya akan ada banyak pertemuan lagi yang bakal diselenggarakan di berbagai kota bergantian untuk mengembangkan standar program pendidikan kesehatan dan standar kompetensi tadi.

Akreditasi Program Pasca Sarjana Fakultas Farmasi UGM

My another additional job adalah persiapan Akreditasi Program Pasca Sarjana Ilmu Farmasi, Fak Farmasi UGM. Info tentang Program S2-S3 Ilmu farmasi UGM dapat dilihat di sini (http://s2-s3.farmasi.ugm.ac.id/). Bulan September dan Oktober ini aku terlibat dan cukup disibukkan dengan pengisian borang-borang untuk Akreditasi Program S2, di mana aku menjadi salah satu Koordinator Program, tepatnya Koordinator Program Magister Farmasi Klinik. (Info tentang program Magister farmasi Klinik dpaat dilihat di sini http://mfk.farmasi.ugm.ac.id/). Masa berlaku akreditasi S2 Farmasi UGM akan habis pada bulan Januari 2011 besok, sehingga kami harus segera memproses untuk akreditasi lagi pada periode berikutnya. Mengisi borang-borang itu bukan hal mudah juga, karena harus penuh ketelitian dan data-data yang lengkap. Walaupun kami bekerja dalam tim, tetap saja ada waktu-waktu kami harus bekerja keras, sampai harus lembur di hari Minggu untuk menyelesaikannya. Alhamdulillah, untuk kegiatan ini sudah berakhir di akhir Oktober ini dan siap dikirimkan ke BAN-PT. Semoga nanti tetap terakreditasi A, Amien.

Buku Farmakoterapi penyakit Sistem Syaraf Pusat

Masih di bulan Oktober, ada yang menantang adrenalinku…. yaitu tawaran insentif penulisan buku teks dari Majelis Guru Besar UGM, dengan deadline tanggal 29 Oktober. Hm…. tawaran yang terlalu menarik untuk dilewatkan. Salah satu syaratnya adalah memiliki draft buku yang sudah siap diterbitkan, dinyatakan dengan surat pernyataan dari Penerbit. Kebetulan aku pernah nulis dikit-dikit sih, sesuai dengan mata kuliah yang aku ajarkan, yaitu tentang Farmakoterapi Penyakit Sistem Syaraf Pusat. Draft itu sudah teronggok beberapa tahun belum aku sentuh lagi. Sebenarnya satu Penerbit yang pernah menerbitkan bukuku sebelumnya sudah “mengejar-ngejar” draft ini untuk segera diterbitkan, tapi aku masih belum sempat-sempat dan belum menyempatkan diri untuk menyelesaikannya. Setelah ada “stimulus” berupa insentif (dasar mata duitan hehehe….. ngga ding, masih normal kan? ), barulah aku memaksakan diriku untuk menyelesaikannya sebelum tanggal 29 Okt. Sayang kan kalau dilewatkan? Jadilah di sela-sela pekerjaan rutin dan additional tadi, kujalani perjuangan siang malam menulis demi terselesaikannya draft ini hehe…. (dengan bantuan Marlita dan Endang. Thanks for assistance). Ternyata memang “stress kecil” itu bermanfaat lho, sebagai pemicu dan meningkatkan kinerja… kalau ngga ada tantangan, kita biasanya akan santai-santai, sehingga performa juga ala kadarnya…. Asal jangan stress terus-menerus saja, ntar malah masuk rumah sakit…hehe. Dan yang penting lagi, stress tadi harus dihadapi dengan ikhlas, apalagi jika itu adalah pilihan hidup kita sendiri…  Menerima tantangan atau tidak adalah sebuah pilihan... jadi kalau mau mengambil kesempatan itu, ya harus dijalani dengan ikhlas, maka akan terasa ringan walau penuh perjuangan…. Perjuangan itu Insya Allah berbuah manis di akhirnya.

Kongres Nasional (Konas) IKAFI (Ikatan ahli Farmakologi Indonesia)

Bersama para profesor senior dalam satu sesi

Bulan Oktober ini aku akhiri dengan acara Konas IKAFI yang berlangsung pada tanggal 29-31 Oktober 2010  di Fak Kedokteran Yogyakarta. Di samping menjadi panitia, aku juga diminta menjadi narasumber di salah satu simposium dalam Konas tersebut,. Kali ini topik yang dimintakan padaku adalah “ Molecular aspect of anti-inflammatory drugs”. Suer, aku grogi loh, berada satu sesi bersama profesor-profesor sekaligus dokter senior sebagai pembicara ketiga. Sebelum presentasi aku mondar-mandir aja kaya kambing mau beranak yang udah pembukaan 7 (ada ngga yaa..? hehe ).  Tapi apa daya, tugas negara harus dijalankan sebisanya.  Tema simposium cukup menarik yaitu “Update in comprehensive pain treatment”, jadi pesertanya pun lumayan banyak. Katanya sih materi akan diupload di sini (http://www.ikafi.com ), ditunggu saja. Prof Aznan Lelo, SpKK dari FK-USU menyampaikan tentang “Update in rheumatic pain management: focus on safety and efficacy”. Beliau menyampaikan dalam gaya Sumatra (Batak)nya yang khas…. penuh semangat. Asyik mendengarnya. Katanya, satu hal yang penting dalam masalah nyeri adalah bahwa nyeri itu suatu “persepsi” atau mindset. Tergantung pada persepsi itu, rasa nyeri bisa jadi akan berkurang atau bertambah. Seorang yang menganggap dirinya sakit, akan merasa lebih sakit, dan sebaliknya, jika ia bisa menset pikirannya bahwa itu tidak sakit, maka sakit bisa berkurang rasanya. Dan menurut Prof Lukas Meliala, SpKJ, SpS (pembicara satunya dari FK-UGM), ada “sakit yang bukan penyakit”… Nah loh!  Banyak orang merasa nyeri, tapi sebenarnya pada fisiknya tidak ada masalah apa-apa. Dia sakit lebih karena psikisnya yang sakit. Tentu hal ini harus menjadi pertimbangan sendiri dalam menatalaksana nyeri. Menarik bukan?? Prof Meliala juga memaparkan dengan berapi-api dan gayanya yang khas. Yang menarik lagi, kata beliau….”definisi nyeri adalah perasaan yang tidak menyenangkan…dst”. Nah, kalau ada orang yang senang disakiti, apa itu bisa dikatakan nyeri ? “….. Iya juga, yaa….  Hmm….profesor terakhir alias pembicara ketiga yang paling payah deh…. tidak perlu dikomentari lah…. 

Abu vulkanik di atas tanaman di rumahku

Letusan Merapi di dini hari tanggal 30 Oktober cukup mewarnai suasana hari itu. Rumah dan jalan-jalan diselimuti abu vulkanik. Tapi untunglah tidak sampai membuat masalah yang berarti pada pelaksanaan Konas IKAFI. Kongres berjalan cukup lancar. Alhamdulillah.

Demikianlah kawan, my days in October….hard days, but still can enjoy that… Persis di akhir Oktober inilah baru sempat aku dokumentasikan kegiatanku bulan ini, setelah tadi juga udah sempatkan memanjakan diri dengan creambath, facial, pedicure, dan cuciin mobil hehe…. Berita-berita tentang bencana alam di bulan ini cukup memprihatinkanku juga, dan aku hanya bisa mendoakan semoga saudara-saudara kita masih dilindungi Allah swt, dari bencana yang lebih besar lagi. Amien… Selamat datang bulan November, semoga hari esok selalu lebih baik dari hari ini…

About these ads

Aksi

Information

6 responses

9 01 2011
Iman

Ibu, materi yang swamedikasinya boleh diupload ga ya bu? Sepertinya banyak farmasis di apotek yang belum mengetahui tentang swamedikasi… Mungkin bisa bermanfaat

jawab:
materinya dalam bentuk powerpoint… agak sulit klo di-upload di blog ini.. saya coba dulu ya

10 11 2010
zhai

wheuwww…. padattt yah jadwalnya Bunda…^^

tetap sehat Bun’, and tetep nulis.. coz’ sy rajin ngikutin tulisanya.. hehe.. :D

4 11 2010
afifah

wah senang sekali bisa mendengar pemaparan bu zullies kemaren pada saat konas :-D, mengenang masa S1 dulu…. semoga bisa bertemu lagi kapan-kapan di kesempatan yang lebih baik…. amien.

NB: tapi kemaren agak sedih juga, kenapa apoteker yang jadi pembicara sedikit sekali ya…. semoga di kongres berikutnya akan semakin banyak para apoteker yang muncul…. amin

2 11 2010
Tyas

so inspiring…makasih bu..

1 11 2010
ismi

hm…Subhanallah….IBu, matursuwun njeh informasinya…(~_~)…hihi…jadi tau juga karakteristik proffesor itu..hihi…

Jawab:
profesor yang mana dulu, Mbak? hehe…. beda-beda loh karakternya

31 10 2010
ayu trisnadewi, Apt.

jangan minder bu .. materi ibu menarik juga kok ..
dan memang jadi selingan penampakan yg berbeda diantara prof2 seniorr .. ^^

sayangnya karena waktu yang terbatas, saya ga dapet kesempatan tanya2 .. dan pengen poto bareng jg tp maluu .. huhu.

jawab:
hehe…thanks supportnya yaa…

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 492 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: