Semarang dalam kenangan…

29 07 2009

Dear kawan,

Hari ini aku menghabiskan waktu seharian dengan perjalanan Jogja-Semarang dan memberi kuliah di sebuah universitas swasta di sana. Alhamdulillah, perjalanan lancar sekali, bahkan tak sampai perlu menunggu bus sama sekali karena aku segera mendapatkan bus yang akan berangkat, baik saat berangkat maupun pulangnya.

Aku sudah puluhan kali ke Semarang, tapi kali ini tiba-tiba saja ingin menulis tentang Semarang….. Kisah ringan-ringan saja untuk refreshing dari aktivitas yang terlalu memeras otak..

semarangHm… Semarang bukan kota yang asing untukku, bahkan termasuk kota yang cukup akrab sejak aku kecil, walaupun bukan termasuk jenis kota yang ingin aku tinggali. (Maaf, warga Semarang hehe….. lha, piye jal…. panas, sering banjir, emang enak?..).  Bahkan setengah darahku yang mengalir adalah darah Semarang, karena ayahku (alm) adalah asli dan besar di Semarang. Beliau bertemu ibuku pun di Semarang ketika ibuku yang asli Purwokerto itu bersekolah di sana.

Semarang punya banyak kenangan untukku, sejak kecil hingga dewasa, baik kenangan manis maupun sedih. Aku coba menggali lagi kenangan-kenanganku yang terkait dengan kota Semarang..

 Masa kecil

Sepanjang yang aku bisa ingat, sewaktu kecil aku dan adik-adik kerap diajak ayah-ibu pergi ke Semarang mengunjungi Embah. Kami menyebutnya Mbah Semarang. Beliau adalah orangtua angkat ayah karena ayah sudah yatim piatu sejak kecil. Aku ingat benar, rumahnya di daerah Bulu, di pinggir sungai kecil (selokan). Beliau berjualan es di dekat rumah. AKu senang kalau di sana, karena bisa minum es cincau gratis…. Ketika aku SMP, Embah wafat, dan sejak itu kami agak jarang pergi ke Semarang, kecuali jika  ada  saudara-saudara yang punya hajat. Semua pakdhe-pakdheku dari Ayah tinggal di Semarang.

Di luar urusan keluarga, Semarang juga cukup mengesankanku karena aku pernah menjadi tamu orang nomer satu Jawa Tengah saat itu alias Pak Gubernur ketika aku SD kelas 5. Ceritanya, melalui proses seleksi yang cukup panjang dari tingkat lokal, kecamatan, kabupaten, dan propinsi, aku bersama 2 orang teman lain dari Salatiga dan Boyolali berhasil menjadi Pelajar Teladan SD se-Jawa Tengah, di mana aku menduduki peringkat ke dua. Kemudian kami diundang menghadap Pak Gubernur sebagai salah satu bentuk penghargaannya. Hm… mengesankan sekali.

Lomba lain yang pernah aku ikuti sewaktu SD di Semarang adalah Lomba Baris Berbaris dan Senam Pagi Indonesia (PBB-SPI) bersama teman-teman satu tim SD. Entah kenapa, lomba-lomba semacam itu belakangan tidak pernah ada lagi. Waktu SMP, aku mengikuti seleksi yang sama di Semarang utk Siswa Teladan SMP tingkat propinsi,   demikian juga Lomba Baris Berbaris dan Senam Pagi, tetapi gagal mendapat peringkat.. Yah, tapi nggak papa… bagaimanapun pengalamannya sangat berharga.

Masa Kuliah

            Semasa aku kuliah di Jogja, aku bertautan lagi dengan kota Semarang karena sahabatku satu kamar kost berasal dari Semarang (Halo, Nik…!). Dialah sahabat tempat curhatku selama kuliah…. termasuk urusan asmara hehe….. Beberapa kali aku main ke rumahnya di Semarang. Selain itu, kebetulan Ayah juga pindah dinas ke Semarang, dan adikku pun juga ada yang kuliah di Semarang. Jadilah, Semarang menjadi kota yang akrab dengan kehidupanku. Nah, di Semarang pula sebuah cerita yang pernah menjadi salah satu episode dalam hidupku dimulai….. Semarang pernah menjadi bagian dari cerita tentang “kasih tak sampai” hehe….  Hatiku pernah sempat tertinggal di sana, dan sekaligus patah.. huu…huu. Tak banyak peristiwa sebenarnya di antara kami, karena semua berjalan dalam diam, …..  tapi dulu semuanya terasa istimewa. Yah, … sekarang aku bisa menulis ini dengan tersenyum-senyum geli… tapi dulu saat semua angan tiba-tiba harus terminated,.. waduh… pokoknya sangat pilu membiru….. mentari tak lagi bersinar… my sunshine has gone away…

Yaah….  tapi nampaknya itu memang jalan terbaik yang dipilihkan Allah untukku. Karena beberapa tahun kemudian Allah memberiku cahaya hidup baru dengan gelombang yang frekuensi dan amplitudonya sama, sehingga bisa saling berinterferensi dengan lebih sempurna. Dan kami sekarang sudah punya buntut tiga yang cakep dan cantik… hehe… Alhamdulillah….

Dan sekarang aku masih cukup sering pergi ke Semarang, biasanya untuk memberi kuliah di universitas swasta di sana, atau sebagai pembicara di sebuah acara. Dan bagiku Semarang masih menjadi kota dengan beragam kenangan….

Begitulah ……..


Tindakan

Information

3 tanggapan

19 10 2009
anik

ha..ha..ha…zulies ternyata masih terkonang-konang…wah…kalau di ingat mungkin saat itu kejadiannya cukup merepotkan karena aku juga ikut wira-wiri klarifikasi..untungnya aku masih nganggur belum bekerja…..tapi aku gak bisa naek motor atawa mobil jadi wira wiri nya naek anggkot atawa jalan…. hi..hi bisa aja.. kalau jadi ama dia pasti tidak begini ceritanya di blogmu…..tapi aku heran plus bingung kok kejadian yg begitu menyedihkan justru bisa jadi penyemangat buat prof zulis…..selamat prof……anda berhasil dan itu sudah terbukti….salam buat mas eko…..

Jawab:
Halo, Nik… hei, komentarmu takedit hehe…. soale “kejeron…”.. you know what happened ya…
Yah, pada setiap sesuatu itu, hal yang pahit sekalipun, pasti ada pelajarannya…. ada hikmahnya…
jadi yah… keep fight!!

18 08 2009
tris

Ibu saya bilang dan beliau udah pernah ngalamin sdr”kalo orang yang masuk angin beneran sama yang ngga, bedanya tuh pas dikerokin, yang masuk angin bakal merah banget bekas kerokannya”…saya masih kepikiran soal itu…

30 07 2009
Yus

Wah Bu Zullies ini romantis juga ya . . . . ., cerita masa lalunya enak dibaca. Dari cerita masa lalu inilah saya mengenal bu Zullies. Bukan karena ada unsur romantisnya lho, he he he. Saya mengenal bu Zullies saat sama sama mengikuti pemilihan murid teladan tingkat SD. Saya tahu banget karena dia pemenang tingkat kabupaten dan mewakili untuk tingkat propinsi, sementara bu Zullies mungkin tidak tahu saya (saya tidak tahu urutan berapa saat itu, tapi yang jelas dapat bea siswa sebesar Rp. 60 ribu). Wah lumayan juga lho ngambilnya di BRI Jl Bank. Itulah awal saya mengenal bu Zullies dan sejak itu pula sudah tidak pernah bertemu lagi sampai sekarang atau paling tidak pernah melihat sekali saat SMP di kegiatan perkemahan (bu Zullies SMP 1 dan saya di SMP 2). Makanya saya tidak kaget kalau sekarang sudah Profesor. Karena dari awal sudah beda ilmunya makanya sekarang jalan hidupnya beda, tapi paling tidak masih sama sama mengabdi buat negara sebagai PNS (hitung hitung sebagai imbalan atas bea siswa yang dulu pernah diterima dari negara, he he he). Sukses ya dengan kegiatannya.

Jawab:
Haha… mas Yus ini bisa saja…

Tinggalkan komentar