
Dear temans,
Sekedar cerita ringan saja……
pagi ini aku menghadiri acara wisuda pascasarjana UGM di gedung Grha Sabha Pramana memenuhi undangan sebagai Pengelola Program Magister Farmasi Klinik. Acara wisuda kali ini sedikit lain, di mana acara pengalungan samir ditiadakan. Pada wisuda-wisuda sebelumnya, para dekan akan memberikan ijazah dan Pengelola Program S2 masing-masing fakultas akan mengalungkan samir pada wisudawan/wati dari fakultasnya. Lumayan, hari ini acara berlangsung lebih efisien waktu daripada sebelumnya, karena samir sudah dipakai wisudawan pada saat upacara.
Aku mengikuti acara wisuda tadi sampai selesai. Wisudawan yang memiliki IPK tertinggi dari masing-masing fakultas menjadi perwakilan wisudawan yang langsung mendapatkan ijazah dari Rektor dan duduk di deretan depan. Sebagian besar dari mereka meraih predikat cumlaude, bahkan beberapa diantaranya mendapat nilai IPK pas-pasan, yaitu pas : 4,00. Gile beneer…..
Aku jadi teringat IP-ku dulu…. suatu kali di akhir suatu semester, aku melaporkan pada ayahku (alm) tentang hasil belajarku (seperti kebiasaan dalam keluarga kami) dengan wajah kubuat memelas, ” Papi,….. semester ini IP saya mepet…”. Ayahku sedikit kaget dan prihatin…, ” Berapa ?”. ” Mm….. mepet,…mepet empat,…. IPnya 3, 89″ kataku sambil senyum-senyum. Wuaa… ayahku langsung tersenyum lega, demikian pula ibu. Dan senyum itulah yang selalu memacuku untuk memberikan yang terbaik dan menjadi kebahagiaan bagi orang tua… Nah, sekarang pertanyaannya…… apakah IP tinggi selalu berkorelasi dengan keberhasilan dalam pekerjaan ?
Hm…. agak sulit dijawab. Untuk pekerjaan sebagai dosen kayaknya korelasinya lumayan tinggi. Tapi belum tentu juga lho, mereka yang ber-IP menjulang bisa mentransfer ilmunya pada orang lain dengan lebih baik daripada yang ber-IP lebih rendah. Aku mengenal seorang sejawat yang IP-nya tidak tinggi-tinggi amat, tapi dengan kemampuan komunikasi personalnya, dia bisa sekali mengemas ilmunya dan mentransfernya kepada murid-murid atau sejawatnya dengan enak dan menyenangkan. Etos kerjanya tinggi, sehingga prestasi kerjanya pun baik. Tapi ada juga sih, yang IPnya mepet 4, tapi pendiam dan sedikit kuper, seperti pakai kacamata kuda…. sehingga kurang bersinar dalam pekerjaannya…
Tentu IP tinggi itu baik, bahkan perlu. Tapi lebih dari itu, perlu ada kemampuan-kemampuan lain yang dikembangkan di luar kemampuan kognitif. Seperti yang sering dikatakan para ahli, selain IQ (intelectual quotient), seseorang perlu punya EQ (emotional quotient), dan bahkan SQ (spiritual quotient) yang baik. Ketidakseimbangan itu bisa menyebabkan ketimpangan dalam pekerjaan maupun dalam berkehidupan.
Apalagi jika terkait dengan pekerjaan-pekerjaan kefarmasian yang harus banyak berhadapan dengan orang lain, dengan pasien, dokter, perawat, dan tenaga kesehatan, IP tinggi saja tidak cukup. Seseorang perlu punya attitude yang baik, kemampuan komunikasi, rasa empati, kemauan menolong orang, dll, yang itu masuk pada ranah kecerdasan emosi maupun kecerdasan spiritual. Itulah yang nanti akan lebih mendukung keberhasilannya dalam berkarya di masyarakat.
Aku termasuk yang EQ-nya agak rendah nih hehe….. mudah “ciut nyali”, kurang percaya diri, pemalu, mudah terpuruk kalau dikritik, dll. Tapi ya sekarang aku sedang belajar untuk tambah percaya diri dan berani hehe…… salah satunya dengan membuat blog ini. Termasuk hari ini, aku sedikit kurang pede dan ragu-ragu ketika akan mengenakan toga pada saat mengikuti acara wisuda tadi. Sebenarnya kemarin Prof Sudibyo (pengelola S2 yang biasanya mendampingi Pak Dekan untuk mengalungkan samir pada wisudawan) memintaku untuk bergiliran dengan beliau mendampingi pak Dekan karena beliau ada acara. Kali ini tidak ada acara pengalungan, tapi pengelola diminta menyaksikan saja. Tentunya dengan tetap memakai toga, dan di duduk di panggung depan di belakang dekan-dekan. Tapi tadi aku tidak jadi pake toga. Tau kenapa ?
Jangan bilang-bilang, ya, …….. aku ceritain kisah sedikit memalukan yang kualami berkaitan dengan toga ini….
Seperti yang diceritakan di awal posting ini, dalam acara wisuda program pasca sarjana, biasanya (dulu) dekan akan memberikan ijazah pada wisudawan dari fakultasnya, sedangkan pengelola program S2 akan mengalungkan samir. Di Fakultas Farmasi UGM ini ada dua Program Studi Pasca Sarjana, yaitu Program Studi Ilmu Farmasi dan Program Studi Farmasi Klinik dimana aku sekarang menjadi pengelolanya.
Suatu kali…. sekitar tahun 2006, sewaktu aku masih menjadi wakil Pengelola Program MFK, dan Ketuanya pun waktu itu masih relatif baru, yaitu Dr. Imono Argo Donatus (alm), aku pernah diutus Pak Imono mewakili beliau ke acara wisuda pasca sarjana. Beliau waktu itu juga baru pada awal masa jabatannya dan belum begitu tahu tentang tata cara wisuda S2. Karena program studi MFK sudah menjadi Program Studi sendiri, maka beliau pikir pengelolanya juga akan mengalungkan samir pada wisudawan yang berasal dari program studinya. Karenanya, aku diminta datang dengan mengenakan toga.
Demikianlah, pada hari H wisuda, dengan sedikit tergopoh-gopoh aku menuju ke Grha Sabha Pramana, dan menanyakan dimana ruang untuk mengenakan toga. Singkat cerita, karena sedikit terlambat (maklum baru pernah), aku berjalan sendiri menggunakan toga lewat jalan utara gedung menuju lantai 2. Apa yang terjadi ? Beberapa kali aku terpaksa menerima tatapan penuh tanya orang-orang yang ada di sekitar situ, dan petugas yang disana mengira aku ini wisudawati yang nyasar…. sehingga beberapa kali aku perlu menjelaskan bahwa aku ini pengelola S2 dari Fakultas Farmasi. Sudah gitu, sesampainya di tempat, ternyata aku sebenernya tidak perlu pake toga, karena dari Fakultas Farmasi sudah ada pengelola S2 yang mewakili. Uff…… bisa dibayangkan kan, betapa malunya!! Mungkin mukaku sudah merah kayak kepiting rebuss….. Aku langsung ngacir turun, melepas toga, dan balik ke fakultas. Terpincang-pincang lagi… karena untuk itu aku bela-belain pake sepatu berhak tinggi yang sempat membuat lecet….. uffff…!! Duh…. jadi “trauma” pake toga hehe…
Ketika aku ceritakan hal ini pada Pak Dekan sekalian apologize bahwa aku hari ini tidak mendampingi beliau pake toga karena ragu-ragu, beliau bilang bahwa maklum kalau orang saat itu mengira aku wisudawati kesasar…. hehe… soalnya wajahku masih kayak mahasiswa, dah gitu postur tubuhku imut-imut….. ” Apa perlu pake badge di dada bertuliskan Prof. Dr. ? ” kata beliau bercanda.
Yah, memang agak repot kalau penampilan kelihatan masih muda, imut lagi, hehe… banyak yang sering “under estimate”…., tapi mendinglah, daripada masih muda tapi penampilan kayak nenek-nenek……
(sory kalau ceritanya ngga matching dengan judulnya hehe……)
Besok masyarakat Tionghoa merayakan tahun baru Imlek. Tulisan kecil kali ini akupersembahkan untuk sahabatku si Along. (Haai, Long !….. kamu mesti baca tulisanku, nih…. tapi jangan ge-er ya…… hehe..), untuk mengenang dan mengapresiasi pertemanan kami selama ini.
Dear temans,
Dear temans,
Dear temans,
komentar