Selebritis narsis di Geronimo 101,6 FM…..

3 11 2009

Dear kawan,

IMG_0211 crop geronimo

sehabis "on air".... (awas kelelep lho..)

Kali ini ceritaku tentang selebriti dadakan yang sedikit narsis.. hehe… yaitu pengalamanku mengisi acara di sebuah radio,  jangan diketawain yaa….. !!Hmm… suer deh, ini pengalaman pertamaku ngisi acara di radio… (Kalo  jadi narasumber di acara TV malah pernah, walau cuma TV lokal Yogya, dalam acara “UGM Berkomunikasi”). Dan ini adalah berkat usaha Mbak Hartati sebagai salah satu bentuk promo buku kami yang berjudul “Bahaya Alkohol dan cara mencegah kecanduannya”… aku sih cuma tinggal brangkat aja. Jadi ceritanya nih malam Senin kemarin aku ngisi acara sebagai bintang tamu di acara “Oh Indahnya Yogya”, yang dipandu oleh Mbak Sondy. Acaranya jam 21-22 malam di Geronimo 101,6 FM, sebuah radio ngetop di Yogya.

Persiapan

Minggu lalu aku menerima e-mail dari Mbak Tati, bahwa beliau sudah mengontak Radio Geronimo untuk bisa punya acara di sana. Salut deh Mbak Tati, .. beliau kreatif dan mencari segala upaya untuk mempromosikan buku kami. Aku sih ngikut saja. Singkat cerita, kami dikasih waktu tg 2 November ini, jam 21-22. Dan karena mbak Tati ada di Yunani, praktis aku deh yang harus berangkat mengisi acara. Hari Jumat aku dikontak mbak Sondy, host-nya, diminta mengirimkan CV dan sinopsis bukunya. Aku sendiri dengan agak-agak narsis menulis status di FB-ku supaya teman-teman mendengarkan siaran Senin malam jam 21-22 di radio Geronimo… haha…..

Hari Senin, hari H siaran, jadwalku lumayan padat sejak pagi. Ada 3 kuliah, malah semestinya 4 kuliah, tapi yang satu lupa (maaf deh, dear students). Aduh, aku mulai start grogi…. atau tepatnya agak tegang, membayangkan apa yang bakal terjadi untuk siaran malamnya. Maklum deh, baru pertama kali, jadi maklum aja… Sorenya setelah selesai kuliah terakhir, aku coba baca-baca lagi tulisanku yang pernah kutulis tentang alkohol. Aku masih belum punya gambaran mau disuruh ngomong apa nanti malam. Aku print beberapa yang kuanggap penting. Untungnya tak berapa lama Mbak Sondy kirim SMS, katanya akan mengirim outline acara nanti malam. Baguslah…, jadi aku punya pegangan…

Habis maghrib, beberapa jam sebelum siaran. Aku check e-mail dari Sondy, yang sempat tertunda karena server error, katanya. Alamaak, … jadi tambah tegang nih …. aku tulis status di FBku…” kayak nunggu ijab kabul aja” haha… Untunglah outline segera aku peroleh, dan aku pelajari bentar apa-apa yang akan dan perlu disampaikan dalam acara nanti. Salah satunya adalah pertanyaan tentang bagaimana aku bisa bekerja sama dengan Mbak Tati dalam menulis buku ini. Aku buka catatanku di blog ini, seingatku aku dulu pernah menulis tentang awal-awal aku diajak mbak Tati menulis (bisa dilihat di sini). Paling tidak aku menemukan data penting tentang sekitar kapan Mbak Tati mulai mengontak aku untuk berkolaborasi. Hmm…. ada gunanya juga nih kutulis semua yang kualami, bisa jadi dokumentasi hidup. Aku juga sempatkan lagi pelajari isi bukuku sendiri ,….. aku ingat hal-hal yang kuanggap penting. Wah, rasanya kayak mau ujian saja… haha… Selebihnya aku pasrah. Dan thanks buat teman-teman yang secara khusus mengontakku lewat FB atau YM untuk memberi semangat dan doa ….. Kayak mau maju perang saja….. !!

Selebriti on air

IMG_0217 dg Sondy geronimo

aku dan Sondy... sesama imut dilarang saling mendahului...

Aku sampai di Radio Geronimo FM sekitar jam 20.40-an. Sepanjang jalan, sambil nyetir  aku mencoba ngomong sendiri tentang alur cerita bagaimana aku bisa berkolaborasi dengan Mbak Tati. Kayak orang gila ngomong sendiri haha….!! Pas banget, ketika aku datang, Mbak Sondy juga datang. Kami ngobrol sebentar mengenai hal-hal yang mau disampaikan nantinya. Keteganganku mulai cair… lagipula mbak Sondy-nya juga ramah mengajak ngobrol. Menjelang jam 21.00, aku diajak masuk ke ruang siaran. Oya, sebelum itu, kami berusaha mengontak Mbak Tati lewat FB agar beliau juga bisa berpartisipasi dalam acara dengan cara menelpon dari Yunani.

Well, acara dimulai…. aku sudah bisa mulai santai… dasarnya aku orangnya santai dan suka juga bercanda, jadi tidak terlalu sulit mengimbangi Mbak Sondy. Malah ada yang komentar, katanya ternyata profesornya gaul juga haha….. Pertama, aku diminta menceritakan bagaimana aku bisa menulis bersama dengan mbak Tati, yang uniknya, kami sendiri bahkan belum pernah bertemu muka!! Ngomong lewat telpon juga cuma sekali. Aku ceritakan bahwa ide penulisan buku ini adalah berasal dari Mbak Tati. Beliau yang mengajak aku menulis. Aku sendiri hanyalah dosen biasa yang kebetulan suka nulis di blog, itu pun tulisan suka-suka aku. Suatu kali aku pernah aku menulis tentang Ginseng Mabur, yaitu kasus meninggalnya beberapa orang di Semarang akibat minum miras oplosan. Mungkin, secara tidak sengaja, mbak Tati menemukan namaku ketika searching di internet, lalu beliau mengontakku. What is a small world!! Kami sangat berterimakasih dengan penemu teknologi informasi canggih sekarang ini, yang memungkinkan dua orang yang berada di benua berbeda bertemu untuk menulis bersama. Dan kayaknya seperti itulah pertemuan jodoh hehe…… kayak ada chemistry-nya…. kami segera klik untuk menulis dan berbagi tugas penulisan. Tapi dari mbak Tati sendiri bahannya sudah banyak sekali, jadi sebenarnya aku lebih banyak melengkapi apa-apa yang sudah ditulis mbak Tati, terutama kalau berkaitan dengan masalah kesehatan.

Hm.. sesi-sesi berikutnya dalam siaran mengalir lancar. Sayangnya Mbak Tati tidak bisa terlalu lama bergabung lewat telepon. Yunani terlalu jauh kali yaa… jadi ada jeda antara waktu bicara dan suara yang sampai, jadi kadang suaranya tidak terdengar jelas. Apalagi ternyata paginya, Mbak Tati baru kena musibah.. kecurian laptop di rumahnya karena lupa kunci pintu ketika belanja. Wah, turut prihatin, Mbak…

Di satu sesi, Mbak Sondy memintaku menceritakan tentang kisah pecandu alkohol di berbagai belahan dunia. Di buku memang sudah dituliskan, dan itu merupakan cerita nyata yang diperoleh dari berbagai kontributor kami yang ada di berbagai negara. Terimakasih untuk para kontributor buku kami.  O,ya… ini juga salah satu kehebatan Mbak Tati sebagai penulis senior, yaitu memanfaatkan jaringan koneksinya dengan banyak teman di berbagai negara, sehingga mereka mau menyumbangkan tulisannya tentang kisah-kisah pecandu alkohol di berbagai negara, termasuk di beberapa daerah di Indonesia.   Dalam siaran kemaren, aku menekankan pada contoh kisah tragis mundurnya seorang Menteri Keuangan Jepang, Soichi Nakagawa, karena mabuk pada KTT G7 di Roma Italia pada bulan Pebruari 2009. Bukan mabuknya yang dimasalahkan, orang Jepang mah udah biasa mabuk. Tapi dengan mabuk nya itu sang Menteri tidak bisa menjawab pertanyaan pada konferensi pers dengan tepat dan itu malu-maluin banget negara Jepang. Dan itu memicu komentar yang keras di dalam negerinya, sehingga Pak Menteri memilih mengundurkan diri. Beritanya bisa dilhat di sini.

IMG_0204-crop

aku dan sang buku...

Pertanyaan yang masuk lewat SMS banyak sekali….. tapi waktunya terbatas, jadi tidak bisa semua terjawab. Maaf ya teman-teman, mudah-mudahan sudah cukup mewakili. Oya, untuk menjawab pertanyaan2 itu memang harus pandai-pandai mencari peluang untuk “ngepek buku” hehe… Alhamdulillah, diberi kelancaran. Tentu masih ada satu dua pertanyaan yang tidak memuaskan jawabannya, karena kemampuan dan ingatanku juga terbatas. Oya lagi, yang kirim pertanyaan, yang beruntung bisa dapat buku ini gratis loh…!

Aku menangkap bahwa antusiasme masyarakat ternyata cukup besar, terbukti dari banyaknya SMS yang masuk. Itu menunjukkan bahwa masalah alkohol memang masalah kita bersama, yang seperti fenomena gunung es. Banyak juga yang menanyakan bagaimana menghentikan kecanduan, karena bolak balik kembali lagi kepengin minum. Aku sampaikan bahwa ada beberapa cara mencegah kecanduan, tetapi sangat penting adalah niat dari diri sendiri. Jika tidak berhasil, bisa dilakukan terapi psikologis atau medis, yang tentunya harus dilakukan oleh orang yang kompeten di bidangnya.

Well, sudah cukup banyak contoh yang merugikan akibat penggunaan alkohol. Dan mau minum atau tidak, itu sebenarnya adalah pilihan hidup. Kalau kita sudah melihat banyaknya pengalaman buruk orang lain karena bahaya alkohol, mengapa kita harus merasakannya sendiri? Bodoh bukan? Dan kita tidak perlu berurusan dengan masalah alkohol dulu untuk membeli buku ini. Kita bisa berbagi ilmu dengan buku ini, untuk mengajak yang lain menghindari bahaya alkohol. Mudah-mudahan bermanfaat dan menjadi pahala yang tiada putus. Amien.

Yah, begitulah sedikit ceritaku ketika menjadi selebritis dadakan di radio Geronimo Senin malam kemarin. Dan apa narsisnya?… aku sempat foto-foto juga yang bisa Anda lihat di posting ini…. hehe…





Rekrutmen partisipan untuk penelitian farmakogenetik

29 10 2009

Dear kawan,

snp_1

Bagaimana gen mempengaruhi efek obat

Saat ini aku sedang melakukan penelitian bersama tim untuk memetakan polimorfisme genetik pada orang Indonesia. Pemikiran yang melatarbelakangi adalah bahwa hingga saat ini belum ada publikasi mengenai peta polimorfisme genetik pada orang asli Indonesia terkait dengan berbagai gen yang mungkin terlibat dalam respon obat. Untuk itu sangat perlu kiranya dilakukan pemetaan polimorfisme genetik pada penduduk asli Indonesia, apalagi Indonesia sangat kaya dengan suku bangsa, yang sangat memungkinkan terdapatnya variasi genetik yang luas.

Pada penelitian kali ini akan dilakukan pemetaan genetik khususnya pada suku Jawa sebagai suku dengan populasi terbesar di Indonesia. Pada kesempatan penelitian berikutnya dimungkinkan untuk memetakan pola polimorfisme genetik pada berbagai suku lainnya di Indonesia. Gen yang dipilih untuk diamati kali ini adalah gen yang mengkode enzim sitokrom P450 subtipe CYP2D6, CYP2C9, dan CYP2C19, karena mereka merupakan enzim yang paling banyak dilaporkan mengalami polimorfisme dan bertanggungjawab terhadap banyak kejadian adverse drug reaction dan kegagalan terapi beberapa obat yang lazim digunakan (Nelson, et al, 1996).

Penelitian ini merupakan penelitian kerjasama yang dilakukan oleh tim Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada dengan Institute for Research in Molecular Medicine (INFORMM) Universiti Sains Malaysia.

Untuk itu dibutuhkan relawan-relawan sebagai subyek penelitian ini, dengan kriteria :

pria/wanita, usia 18-40 tahun, sehat jasmani (berdasarkan pemeriksaan kesehatan yang akan dilakukan), suku Jawa asli (bapak dan ibunya orang Jawa, kakek dan nenek dari kedua pihak juga suku Jawa), diutamakan yang tinggal di Yogya dan sekitarnya untuk kemudahan teknisnya.

Subyek/relawan akan diminta hadir pada saat dan tempat yang akan diinformasikan kemudian, lalu diambil darahnya dan diperiksa kesehatannya secara umum, untuk memastikan kondisi kesehatannya, apakah memenuhi kriteria inklusi apa tidak. Direncanakan diperlukan sekitar 200 orang subyek yang memenuhi kriteria inklusi. Buat teman-teman yang tertarik, silakan mendaftarkan diri pada saya melalui e-mail atau message via FB, atau langsung mencatatkan diri di Magister Farmasi Klinik Fakultas Farmasi UGM Gdg Unit 3 lt 3 (contact person: Mbak Desi), atau kepada Pak Arief Rahman Hakim di bagian Farmakologi dan Farmasi Klinik Fak Farmasi UGM, bisa melalui e-mail atau message via FB beliau, atau langsung mencatatkan diri di Bagian Farmakologi.

Relawan dapat apa?

Relawan yang mendaftarkan diri akan mendapatkan pemeriksaan ksehatan lengkap secara gratis, baik nanti masuk dalam kriteria kesehatan subyek atau tidak. Selain itu, ada sekedar bingkisan pelepas lelah.

Demikian, mohon bantuan dan doa restunya yaa…..

Terimakasih banyak sebelumnya..





My note (3): Ballarat journey..

24 10 2009

Dear kawan,

IMG_0115-crop

Menuju Ballarat city....

Judul posting ini mengambil nama sebuah kota kecil berjarak 110 km di barat Melbourne. Sama dengan Bendigo yang aku kunjungi dua hari lalu ketika melawat ke Fakultas Farmasi La Trobe University, kota ini merupakan salah satu kota bersejarah di Australia terkait dengan penambangan emas jaman dulu. Pada tahun 1851, John Dunlop dan James Regan menemukan beberapa ons emas di sungai Canadian di daerah Ballarat, dan saat itulah dianggap sebagai awal dari sejarah perburuan emas terbesar di dunia dan telah mengubah wajah Australia….. Ballarat saat ini menjadi kota yang cukup banyak dikunjungi wisatawan, karena memiliki berbagai tempat yang menarik. Ada Eureka Center, yang menggambarkan penemuan emas jaman dulu, ada observatorium, castle, Botanical garden, dll. Nama Ballarat yang terdengar agak aneh di telinga itu adalah berasal dari bahasa Aborigin: “Balla Arat”, yang artinya istirahat (rest) atau tempat berkemah ( “camping place”).

Yah,…. setelah tiga hari bekerja keras mikirin negara (haha…..), hari Sabtu ini kami memanfaatkan waktu untuk menambah wawasan tentang Australia,.. maksudnya jalan-jalan gitu loh… hehe.. Kami dijadwalkan pergi ke Ballarat, untuk bertemu dengan kanguru dan koala…..setelah sebelumnya bertemu dengan para profesor dan doktor dari Monash dan La Trobe University..

Namun sebelum ke Ballarat, kami akan menengok Festival Indonesia dulu, sebagai bentuk kecintaan kami pada negeri kita haha…. (gayane..). Pagi-pagi jam 10an dengan dipandu oleh dik Ika, kami berjalan menuju Federation Square, sekitar 10 menit jalan kaki dari Hotel, di depan Flinder Street Station. Di sanalah tempat diselenggarakannya Festival Indonesia, yang memperagakan berbagai budaya Indonesia di sebuah panggung besar. Wah, pas sekali, kami datang pas ada Festival Indonesia. Alhamdulillah, …. cuaca sangat bersahabat. Langit biru cerah dengan suhu yang cukup hangat. Di Federation Square sudah cukup ramai. Selain orang Indonesia sendiri, banyak juga orang-orang bule lainnya yang nonton dan ikut berpartisipasi disitu. Banyak stand-stand yang menjual makanan Indonesia. Dan ternyata banyak tuh, orang Indonesia yang ada di Melbourne… baik yang tinggal untuk studi atau yang menjadi permanent resident. Melbourne nampaknya memang tempat yang nyaman untuk tinggal. Dengan banyaknya universitas di kota ini, industri pendidikan merupakan salah satu motor perekonomian di sini. Perlakuan pada orang-orang dengan multikultur cukup baik, karena sudah biasa menghadapi orang dari berbagai negara.

Hmm… Setelah sempat menikmati empek-empek Palembang dan melihat-lihat sejenak, kami pergi menuju stasiun Southern Cross  untuk naik kereta menuju Ballarat. Setelah membeli tiket ke Ballarat yang harganya 28 dolar AUD, kami berempat pun memulai perjalanan ke Ballarat yang memerlukan waktu sekitar 75 menit dari Melbourne. Perjalanan cukup asyik aja, tapi yah… hampir sama seperti perjalanan ke Bendigo. Sesekali kami menjumpai peternakan domba atau sapi dari kejauhan. Bunga-bunga yang tidak diketahui namanya bermekaran indah mewarnai musim semi… kuning, ungu, merah muda, dll…

Oya, ada yang menarik sepanjang perjalanan kami di dalam kota Melbourne menuju stasiun. Aku melihat banyak wanita-wanita muda dengan baju resmi dan indah mengenakan topi bulu atau topi bunga bergerombol di pinggir jalan beserta para pria yang berbaju resmi pula. Olala…. ternyata mereka menunggu jemputan untuk  menonton pacuan kuda. Kata dik Ika, orang sini kalau mau nonton pacuan kuda pasti pake baju dan dandan heboh…. pernah kan lihat kaya gitu di TV ?..  Ya, kebetulan memang saat ini ada Melbourne Spring Carnival…. pacuan kuda bergengsi yang diselenggarakan sekali setahun pada musim semi, dan jadi tempat taruhan orang-orang berduit kelas dunia. Hm… aneh-aneh aja ya di dunia ini….

Koalanya yang kiri apa kanan ya?

Koalanya yang kiri apa kanan ya?

Tempat yang dituju di Ballarat tak lain adalah Ballarat Wildlife Park, sebuah taman yang penuh dengan kanguru, dan beberapa hewan lain yang ada dalam kandang, termasuk koala, wombat, emus, dan aneka reptil. Kanguru di Ballarat Wildlife Park ini tersebar bebas di lapangan yang cukup luas. Kita boleh memberi makan langsung pada kanguru dengan makanan yang sudah disediakan. Koala tidak sebebas kanguru, karena mereka cukup sensitif dan berbahaya jika merasa terganggu. Cakarnya yang tajam bisa merobek kulit kalau ia marah, jadi ketika kami berfoto bersama koala, ada petugas yang memandu dan mengarahkan. Lumayan lama berjalan-jalan di sini, kami kembali ke Melbourne jam 4 sore waktu setempat.

Yah, lumayan capek hari ini… tetapi cukup menyenangkan. Masuk hotel lagi jam 18.30an karena harus berjalan lumayan jauh dari stasiun ke hotel, lalu kumulailah menulis posting ini dan sebentar lagi mesti siap-siap packing untuk pulang besok. Cerita tentang cari oleh-oleh di Victoria Market sengaja tidak aku tuliskan …. takut ntar pada minta oleh-oleh…hehe…. sangunya terbatas je..

See you later in the next posting from Yogyakarta….





My note (2): Ke Monash dan La Trobe University

23 10 2009

Dear kawan,

Pertama kali menginjakkan kaki ke Melbourne, kami disambut hawa yang sejuk mendekati dingin. Pesawat Airbus 380 dengan kode SQ227 yang membawa kami mendarat mulus di airport pada pukul 10 waktu setempat. Alhamdulillah…. Urusan imigrasi tidak terlalu lama, tapi yang agak lama justru menunggu bagasi datang. Keluar dari Bandara sudah jam 11 lebih, padahal kami punya janji untuk ketemu Gregory Duncan jam 12.15. Jadilah kami cuma cuci muka tanpa sempat ganti baju lagi, segera meluncur ke Faculty of Pharmacy and Pharmaceutical Science Monash University. Kami dijemput dik Ika, kolega yang sedang studi S3 di sana, jadi ngga sampai nyasar….

nampang sebentar di depan Monash University (kiri: Prof Lukman, kanan: Prof Subagus)

nampang sebentar di depan Monash University (kiri: Prof Lukman, kanan: Prof Subagus)

Dengan pede walaupun gak mandi, kami sampai juga di Monash Uni di Parkville, dan kami sempatkan ke cafe bentar sambil menunggu waktu ketemu Greg. Aku SMS Greg bahwa kami menunggu di Primary Cafe yang ada di kampus tersebut. Tepat jam 12.15an, Greg datang menjumpai tamunya yang lusuh-lusuh ini, dan membawanya ke tempat pertemuan. Di situ, sesuai dengan pembicaraanku sebelumnya via e-mail, kami ingin melihat bagaimana pelaksanaan Journal Club untuk Evidence-based Practice, khususnya untuk mahasiswa S2 di bidang Farmasi Klinik.

Journal club EBP

For your info, evidence-based practice di dunia kefarmasian adalah adopsi dari evidence-based medicine yang berkembang di bidang kesehatan kedokteran. Maksudnya adalah bahwa praktek penatalaksanaan terapi suatu penyakit haruslah berdasarkan evidence, yaitu suatu bukti ilmiah yang sudah ditelaah dengan teliti. Biasanya berupa suatu hasil uji klinik obat tertentu, yang artinya uji pada manusia untuk memastikan efek suatu obat. Tidak bisa lagi berdasarkan pengalaman saja, atau ilmu yang sudah lewat bertahun-tahun. Farmasis atau apoteker memang tidak secara langsung memberikan pengobatan kepada pasien, namun sebagai bagian dari tim kesehatan, farmasis berhak dan berwenang memberikan saran kepada dokter mengenai pilihan pengobatannya, dan turut serta memonitor perkembangan kesehatan pasien. Itu yang terjadi di banyak negara maju. Untuk itu, apotekerpun harus selalu mengikuti perkembangan pengobatan terbaru yang berdasarkan bukti tadi. Dan untuk ini, Greg menggunakan istilah evidence-based practice untuk pharmacist.

Nah kawan,

Tidak semua publikasi tentang suatu uji klinik (yang dianggap sebagai evidence) ternyata cukup valid dan sesuai dengan situasi pasien tertentu. Untuk itu, seorang farmasis harus punya kekritisan untuk menilai validitas suatu publikasi di dalam sebuah jurnal. Itulah yang menjadi aktivitas jurnal club yang dipandu oleh Greg yang kami sempat ikuti. Semua peserta diskusi harus mempresentasikan hasil evaluasinya mengenai suatu paper tertentu yang dipilihnya sendiri dan disetujui oleh Greg.

Adapun kriteria evaluasinya adalah meliputi: 1. Kriteria validitas : Apakah hasil studinya valid? Hal ini bisa diamati dari beberapa hal, misalnya: apakah kelompok kontrol dan kelompok perlakuan memiliki prognosis yang sama, apakah ada randomisasi, apakah pasien pada kelompok perlakuan memiliki faktor prognosis yang sama dengan kelompok kontrol, dsb. 2. kriteria kepentingan: Seperti apa hasil studinya? Apakah hasilnya positif atau tidak, seberapa signifikan hasilnya, dll. 3. Kriteria aplikabilitas : Bagaimana saya bisa mengaplikasikan hasil studi ini pada pasien yang saya hadapi? Jika melihat kriteria inklusi dan ekslusi pasien, apakah hasil studi sesuai dengan pasien kita atau tidak, apakah hanya valid untuk keadaan pasien tertentu saja, dll. Contohnya, jika suatu studi klinik hanya dilakukan pada pasien yang hanya memiliki satu jenis penyakit saja, tentu tidak mudah mengaplikasikan hasil studi tersebut untuk pasien yang mengalami multiple disease.

Yah, semacam itulah…. aku rasa yang sangat penting adalah bagaimana kita tidak selalu menelan bulat-bulat (emangnya bakso..) semua informasi yang diperoleh, walaupun itu diterbitkan dalam jurnal ilmiah. Perlu ada kekritisan yang didukung dengan logika berpikir yang baik, sehingga tidak salah dalam menerapkan suatu informasi untuk suatu keadaan tertentu. Lepas dari itu, yang menarik dari jurnal club ini adalah pelaksanaannya yang menggunakan teknologi teleconference. Jadi peserta jurnal club sendiri yang ada di Melbourne kemaren ada 3 orang, sedang yang 2 lagi berada di Hongkong dan New Zealand. Dan mereka bisa berinteraksi secara real time untuk berdiskusi mengenai hasil analisis masing-masing. Hm… canggih kan? Kayaknya kapan-kapan perlu diterapkan nih… hehe…

Bertemu dengan Prof Nation cs

monash

delegasi bersama Prof Stewart dan Assoc Prof Marriot

Dari ruangan jurnal Club, kami dibawa bertemu dengan Prof Peter Stewart (Deputy Dean untuk urusan Pendidikan) dan Assoc Prof. Jennifer Marriot (Director of Bachelor Program) di Faculty of Pharmacy and Pharmaceutical Sciences, Monash University. Kami berbincang tentang berbagai hal tentang kegiatan pendidikan di Monash, baik untuk program pasca maupun bachelor. Kami sempat dipamerin ruangan untuk Virtual Practice, di mana di ruangan itu ada 3 screen lebar yang digunakan untuk memutar film seperti keadaan suatu apotek yang sebenarnya. Student akan praktek disitu berlatih untuk melaksanakan pelayanan kefarmasian. Sebetulnya sih di UGM nggak kalahlah…. secara subtansi, mata kuliah yang diajarkan hampir sama saja. Lulusannya pun cukuplah bisa diandalkan. Yang lebih utama sebenarnya adalah setelah lulus jadi apoteker. Organisasi profesi harus cukup kuat taringnya untuk mengatur praktek pelayanan kefarmasian di lapangan, karena akademisi sudah tidak bisa menjangkau lagi hal-hal yang terjadi di luar fakultas..

Satu hal yang menarik juga adalah pendidikan Bachelor (S1) farmasi Monash juga ada yang diselenggarakan di Malaysia. Untuk tujuan lebih menginternasional, mereka membuka “cabang” Monash yang standardnya sudah ditetapkan seperti di Monash Australia.

Setelah selesai dengan Prof Stewart, kami ketemu Prof Roger Nation. Beliau Director of Center of Medicine Use and Drug Safety. Beliau lebih banyak cerita tentang riset di sana. Ada dua pusat riset utama, yaitu Monash Institute of Pharmaceutical Science (MIPS) dan Center of Medicine Use and Safety (CMUS). Dari namanya udah keliatanlah, bahwa yang satu mengkover riset-riset pengembangan obat, sedangkan satunya riset-riset tentang penggunaan obat pada manusia. Pertemuannya sampai jam 16 sore waktu setempat. Aduh… sampai sini aku agak ngantuk hehe… dan lapar. Karena sejak sarapan pagi di pesawat (sahur kali ya…) siangnya belum berisi apa-apa lagi kecuali secangkir hot chocolate di cafe tadi. Akhirnya, seusai pertemuan kami menuju hotel untuk check ini dan istirahat.

Malamnya kami diundang oleh teman-teman Indonesia yang ada di Melbourne untuk makan malam di rumah Pak Mulyoto. Pak Mulyoto adalah dosen sebuah PTN di Indonesia yang setelah menyelesaikan PhD-nya menjadi permanen residen di sini dan bekerja di Monash University. Wah, kami disuguh barbeque daging kambing yang lezat, dan aneka makanan lain… Kami berbincang sampai jam 23 malam… Oya, jangan heran ya…. jam 23 malam di sini itu bisa dibilang belum terlalu larut…. Lhah, maghribnya aja jam 20-an, Isya jam 21an….

Ke La Trobe

harvey Yaris

Bersama Dr Harvey dan Yaris putihnya di Bendigo

Hari kedua ini kami punya acara untuk berkunjung ke Fakultas Farmasi La Trobe University. Dr Ken Harvey yang aku kontak sebelumnya very kindly drove us ke Bendigo, sebuah kota kecil berjarak 2 jam dari Melbourne, di mana fakultas farmasi berada. Dr Harvey menjemput kami di hotel dengan mobil Yaris putihnya. Jalan dari Melbourne ke Bendigo sangat mulus, di samping kiri kanan dihiasi pohon-pohon pinus dan padang hijau luas. Untungnya kami datang pas musim semi, jadi banyak bunga-bunga yang bermekaran. Tapi yah…. sebenarnya perjalanannya agak membosankan sih hehe… karena daerahnya datar, tidak banyak variasinya. Aku sendiri malah terkantuk-kantuk dan sempat tertidur, gara-gara paginya minum obat flu. Yah, flu yang aku peroleh sejak sebelum berangkat ternyata masih berlanjut di Melbourne.

Bendigo merupakan kota tua bekas penambangan emas jaman dulu. Kotanya cantik dan bersih, unik dengan perpaduan gedung-gedung kuno dan gedung jaman sekarang. Tapi alamaak…. sepi benar..!! Trotoar jalan sepi tak banyak orang berlalu lalang, apalagi pedagang kaki lima kayak di Yogya heheh…. Kayaknya sih aku ngga bakalan betah tinggal di sana….

Kami disambut cukup meriah oleh Prof Ken Raymond, perintis Fakultas Farmasi di La trobe University, yang aku kontak sebelumnya, dan beberapa staf dosen lainnya. Dengan suguhan aneka sandwich dan buah, kami berbincang berbagai hal tentang pendidikan dan riset. Kami sepakat untuk menjalin kerjasama lebih lanjut dan akan mencoba bertukar informasi tentang pendidikan dan riset. Secara kebetulan, salah satu riset yang lagi dikembangkan disana adalah tentang farmakogenetik, yang sekarang lagi jadi perhatianku. Mudah-mudahan saja deh, akan ada kerjasama yang lebih riil di kemudian hari. Amien.

City “tour”

Kami sampai kembali ke Melbourne jam 4 sore waktu setempat, diantar oleh Dr Harvey. Perut lapar membawa kami ke sebuah Restoran Thai… Hm, dingin-dingin dan sedikit flu enaknya makan yang panas dan segar nih…. Jadilah sup Tom Yam sea food asli Thai kupilih untuk mengisi perut… hmm, rasanya mantaap!! Setelah balik ke hotel sejenak untuk sholat, kami bertiga janjian untuk keluar lagi jalan-jalan di sekitar kota. Jam 6 sore di sini suasananya masih seperti jam 4 sore di Indonesia. Jadi kami pun berjalan mengeksplorasi Melbourne… benar-benar jalan kaki, plus sekali naik trem yang gratisan. Sayangnya sebagian toko di Melbourne sudah tutup…. Yah, kami jalan-jalan aja menembus dingin sampai jam 9 malam sambil sesekali mampir toko yang masih buka untuk lihat-lihat… Melbourne masih ramai dengan anak-anak muda yang berjalan-jalan. Wah, bajunya macam-macam….. ada yang sesuai dengan suhu, ada juga yang melawan berani melawan cuaca hehe…. Lhah, bajunya mini tak berlengan pula, bagaimana kalau musim panas ya?

Well, itulah cerita hari pertama dan kedua di Melbourne. …





My note (1): a long way to Melbourne..

21 10 2009

Dear kawan,

Malam telah jatuh di Melbourne. Meskipun katanya ini adalah musim semi memasuki musim panas, udaranya masih dingin menusuk tulang. Siang tadi lumayan, sekitar 18-19 derajat, tapi malam ini mungkin sekitar 9-10 derajat. Yah, kali ini aku sedang berada di Melbourne (Australia) untuk sebuah kunjungan inisiasi kerjasama pendidikan dan riset, terutama utk program studi S2, seperti diamanahkan oleh Kegiatan DIPA WCRU Fakultas Farmasi UGM th 2009 ini. Aku (sebagai salah satu pengelola program S2, sekaligus Ketua task force DIPA WCRU) berangkat bersama Prof Subagus Wahyuono (Wakil Dekan 1 bidang Pendidikan dan Riset), dan Prof Lukman Hakim (PIC utk program ini).

Persiapan

Kali ini aku berperan sebagai “pengatur acara” buat Bapak-bapak tadi. Maklumlah, aku yang paling muda…biasaa, pasti kebagian dipelonco dulu hehe. Diawali dari sebuah fax untuk Prof Bagus dari Dr. Ken Harvey (La Trobe University), aku menyaut kesempatan itu untuk memperkenalkan diri sekaligus menanyakan kemungkinan kami berkunjung kesana untuk sebuah benchmarking visit dan penjajagan kerjasama. Dr Harvey cukup responsif, e-mailku segera dibalasnya, dan kami pun berkomunikasi lumayan intensif utk merencanakan kunjungan kesana. Karena di Melbourne cukup banyak Universitas, kami coba juga menjajagi universitas lain. Pilihan jatuh ke Monash University karena kebetulan ada salah satu kolega kami (dosen Farmasi) yang sedang studi PhD di sana. Aku coba searching informasi dan menemukan beberapa kontak person yang kira-kira bisa dihubungi. Jadilah aku mengontak Prof Roger Nation untuk tujuan yang sama. Kali ini agak sedikit bete, karena sewaktu aku e-mail, prof Nation sedang dalam kunjungan ke luar negeri, jadi aku harus menunggu responnya cukup lama. Tetapi alhamdulillah, tanggapan positif. Aku juga mengontak Dr Mulyoto, orang Indonesia yang jadi staf peneliti di Monash Uni, dan singkat cerita persiapan kunjungan lumayan oke. Oya, satu lagi…. sewaktu International Conference kemaren, kami mengundang Greg Duncan dari Monash juga, jadi beliau pun aku kontak dan tanggapannya sangat baik. Setelah oke semua, aku pun menyusun jadwal kunjungan.

Long way to Melbourne

Persiapan pribadi mulai dilakukan. Mengecek weather forecast, untuk memperkirakan nanti perlu bawa baju apa hehe… apakah perlu bawa baju hangat apa tidak. Lalu memberitahu anak-anak bahwa ibu akan pergi beberapa hari ke Australia. Alhamdulillah, mereka bisa mengerti, walaupun Hanisa sempat pengen ikut. Aku juga perlu “mengimpor” ibuku dari Purwokerto untuk menjaga anak-anak di rumah, seperti biasanya jika aku harus pergi ke luar kota atau luar negeri agak lama. Lebih ayem rasanya kalau ada eyangnya yang menjaga, walaupun bapaknya juga ada. Alhamdulillah, sampai sejauh ini tidak ada masalah. Si kecil Dhika mungkin belum begitu paham, namun nampaknya ia bisa merasakannya. Beberapa hari belakangan lagi lengket terus, mengikuti kemanapun aku berada di rumah… Wah, maafkan ibu, sayang…. ibu pergi sebentar ya..

Kali ini kami menggunakan maskapai penerbangan Singapore Airlines. Rute yang kami tempuh lumayan panjang, yaitu Jogja-Jakarta, Jakarta-Singapore-Melbourne. Perjalanan Jogja-Jakarta lancar-lancar saja. Kami transit agak lama di jakarta menunggu pesawat SQ yang akan membawa kami ke Singapura. Untungnya pergi bertiga, jadi ngga bete-bete amat karena ada teman bicara. Aku juga tak pernah lepas dari laptopku yang setia, sehingga masih bisa buka internet, check e-mail, buka FB, dll. Singkat cerita, sampailah kami ke Bandara Changi dengan lancar pula, pada pukul 17 waktu setempat. Perbedaan waktu Jakarta-Singapura adalah satu jam. Bandara Changi cukup nyaman disinggahi. Menurut jadwal , kami transit sekitar 4 jam di sana, karena pesawat ke Melbourne dijadwalkan terbang pukul 21.00. Untungnya pula ada free internet akses di sana, sehingga aku masih bisa berselancar di dunia maya, sekedar membuka Face Book, dan check e-mail masuk. Pukul 20 kami sudah diminta boarding. Nah,… mulailah sedikit masalah datang. Setelah beberapa lama duduk manis di pesawat dengan badan lelah dan ngantuk, pesawat ternyata tidak segera terbang. Sampai akhirnya pada pukul 21-an, diumumkan bahwa there is a minor problem dengan pesawat, sehingga perlu ada sedikit perbaikan. Kami bahkan dipersilakan turun lagi dari pesawat, kembali ke ruang tunggu. Diperkirakan pesawat akan terbang sekitar jam 23.30an, jadi delayed sekitar 2,5 jam. Uff..!

changi bunga crop

wajah lelah di sela-sela kecantikan anggrek di Changi Airport

Untungnya Bandara Changi cukup nyaman, dan indah pula. Di Terminal 2 ada satu area yang sangat cantik penuh dengan tanaman anggrek aneka jenis mengelilingi kolam ikan. Sungguh, aku salut sekali dengan Bandara Changi. Daripada bete, selain bisa internetan gratis, aku sempatin foto-foto… serasa di taman bunga deeh…!!

Akhirnya pesawat berangkat pukul 24.00. Bismillah.. Walaupun tidak begitu nyaman tidur di kursi dengan posisi duduk, akhirnya aku terlelap juga… Alhamdulillah, akhirnya pesawat mendarat dengan mulus di Bandara Melbourne pada pukul 10 waktu setempat. Cerita hari pertama di melbourne aku lanjutkan di next posting, skrg aku dah ngantuk, mau bobo dulu…….





Burundanga dalam kartu nama, is that true?

19 10 2009

Dear kawan,

Di sela-sela persiapanku menuju Melbourne esok pagi, malam ini aku membaca e-mail dari seorang kawan, yang mengingatkan adanya kejadian “kartu nama beracun”…..  Wah, kalau urusannya sama obat, indera laba-labaku berdencing hehe.. kaya Spiderman aja…. Jadi penasaran dan pengen tau…..

Isi e-mail selengkapnya seperti ini:

Seorang pria menghampiri seorang wanita yang sedang mengisi bensin dan menawarkan jasanya sebagai pengecat serta memberikan kartu namanya. Wanita itu menolaknya namun menerima kartu nama tersebut karena sopan santun. Pria tersebut kemudian masuk ke sebuah mobil yang dikemudikan pria lain. Pada saat wanita itu meninggalkan Pompa Bensin, dia melihat bahwa pria tersebut juga meninggalkan pompa bensin tersebut pada saat yang bersamaan. Hampir seketika, wanita tersebut merasa pusing dan kesulitan untuk bernapas. Dia mencoba untuk membuka jendela mobil dan kemudian menyadari bahwa bau tersebut berasal dari tangannya. Tangan yang sama dengan tangan yang ia gunakan pada saat menerima kartu nama dari pria di Pom Bensin tersebut. Wanita tersebut menyadari bahwa pria di pom bensin tersebut berada tepat dibelakang mobilnya dan ia merasa harus melakukan sesuatu pada saat itu juga. Wanita itu kemudian menepi ke jalan masuk rumah yang pertama ia temui dan memencet klakson mobilnya berulang-ulang untuk meminta tolong. Laki-laki yang membuntuti wanita tersebut kemudian melarikan diri tapi wanita tersebut masih merasa sangat pusing setelah beberapa menit sampai akhirnya dia dapat bernapas dengan normal. Sepertinya ada sesuatu yang terdapat pada kartu nama tersebut yang dapat menyakitinya. Obat ini disebut dengan “Burun Danga” dan ini digunakan oleh orang yang ingin melumpuhkan korbannya untuk mencuri dari korban tersebut atau memanfaatkannya. Obat ini empat kali lipat lebih ampuh dari ate rape drug (sorry ga ketemu terjemahan yang pas) dan dapat ditransfer kepada korban dengan sebuah kartu yang sederhana. Jadi harap untuk memperhatikan hal ini dan jangan menerima kartu pada saat anda sendiri atau di jalanan. Ini juga berlaku untuk orang yang tak dikenal yang datang ke rumah anda dan memberikan kartu nama pada saat menawarkan jasa mereka. Mohon kirim e-mail ini untuk memperingati semua wanita, atau bahkan pria yang anda kenal.

Nah, segera aku mencoba mencari informasi dengan keyword ”burundanga”… terus terang itu merupakan kata asing bagiku. Ternyata aku banyak menjumpai e-mail serupa dengan berbagai versi cerita. There must be something wrong nih…… is that true??

Apakah Burundanga?

tanaman penghasil burundanga

tanaman penghasil burundanga

Burundanga adalah nama jalanan dari obat yang disebut scopolamine (skopolamin).  Skopolamin sendiri berasal dari ekstrak tanaman Datura, Brugmansia species, dan Duboisia species. Temasuk keluarga terong-terongan dengan bunga berbentuk terompet. Ia merupakan komponen aktif dari tinctura Beladona, suatu obat jaman dulu, yang sering digunakan untuk anti kram usus dan obat asma. Skopolamin pertama kali diisolasi oleh saintis Jerman. Senyawa ini bekerja sebagai antagonis reseptor asetilkolin muskarinik, dan dulu banyak dipakai secara medis untuk anti mabuk perjalanan, mual muntah, anti kram perut, dan obat asma. Ia digunakan dalam dosis kecil (satuan miligram). Jika digunakan dalam dosis yang cukup besar, ia dapat menyebabkan efek delirium, semacam bingung, disorientasi, kehilangan memori, dan halusinasi.

Bagaimana penggunaan burundanga?

Di Amerika Selatan, terutama Columbia, burundanga digunakan untuk memicu kondisi “trance” pada sebuah acara ritual setempat. Laporan bahwa obat ini digunakan untuk aktivitas kriminal pertama kali ditemui di Columbia pada tahun 1980an. Menurut sebuah artikel dari Wall Street Journal tahun 1995, sejumlah kegiatan kriminal yang menggunakan burundanga meluas pada tahun 1990an. Skenario umumnya adalah seseorang ditawari minuman yang sudah diberi serbuk skopolamin ini. Tau-tau koban dijumpai telah berjalan bermil-mil tanpa mengenal atau teringat apa-apa. Umumnya korban telah kehilangan hartanya, baik uang, perhiasan, atau mobil, dll. Selain dimasukkan dalam minuman, korban bisa juga dipaksa menghirup, atau ditaburi mukanya sehingga ia terpapar dengan senyawa tersebut. Bisa juga terjadi kejahatan seksual, di mana korban (wanita) selain dipreteli perhiasannya, juga diperkotek-kotek….

Kembali kepada e-mail tadi, apakah cerita dalam e-mail itu benar?

Benarkah burundanga memang biasa dipakai untuk kejahatan di Amerika Latin? Jawabnya ya. Wall Street Journal tahun 1995 melaporkan bahwa penggunaan burundanga untuk kriminal cukup meningkat di AS yang dilakukan oleh para imigran asal Kolumbia. Bahkan ada semacam “warning” bagi orang-orang yang akan melancong ke Kolumbia, supaya hati-hati akan adanya kejahatan dengan modus operandi penggunaan burundanga ini.

Namun ada beberapa hal yang menyebabkan cerita di atas agak meragukan……. 

serbuk burundanga

serbuk burundanga

Pertama, disebutkan bahwa wanita tadi segera mengalami pusing dan kesulitan bernafas segera setelah memegang kartu nama tersebut. Ini agak aneh, karena burundanga harus terhirup atau tertelan untuk bisa menghasilkan efek. Kalaupun melalui kontak secara topikal (lewat tangan yang memgang kartu nama), butuh waktu lama untuk bisa menghasilkan efek.

Kedua, korban disebutkan mencium bau yang berasal dari tangan yang memegang kartu nama tersebut. Ini juga agak tidak masuk akal karena burundanga itu tidak berasa dan tidak berbau.

Begitulah kawan, yang bisa kutuliskan tentang penjelasan rumor tentang burundanga……

Anyway, terimakasih atas kepedulian teman-teman yang telah menyebarkan e-mail tesebut untuk mengingatkan teman-temannya. Namun dalam beberapa hal memang perlu ada kekritisan ketika menerima suatu informasi.

Namun demikian, walaupun cerita dalam e-mail tadi meragukan, ada baiknya tetap waspada, karena kejahatan ada di mana-mana dengan berbagai modus operandinya. Tapi juga tidak usah terlalu paranoid, kita punya pelindung yang Maha Kuat…. Jika kita selalu berserah diri dan memohon, Insya Allah Dia akan melindungi kita dari kejahatan mahlukNya. Amien.





Sekilas tentang Vertigo..

14 10 2009

Dear kawan,

vertigo

vertigo

Pernah merasa bumi terasa berputar gitu? Ngliyeng mau jatuh? Hm.. alhamdulillah, aku belum pernah. Tapi sering denger teman-teman ada yang menceritakan keluhannya. Mbak Nia temanku sedang menderita Vertigo, dan menginspirasi tulisan pendek ini. Semoga cepet sembuh, Jeng….

Apakah vertigo termasuk jenis sakit kepala seperti migrain? Ternyata bukan. Vertigo adalah salah satu jenis penyakit yang ditandai dengan gangguan ilusi gerakan. Jika yang terasa berputar adalah diri sendiri, disebut vertigo subyektif. Kalau yang berputar adalah lingkungan sekitarnya, disebut vertigo obyektif.

Apa penyebab vertigo?

 Vertigo disebabkan karena gangguan keseimbangan di telinga bagian dalam (alat keseimbangan, atau bagian vestibular) atau mungkin di otak. Bentuk paling sering dari vertigo adalah  Benign paroxysmal positional vertigo (BPPV), yaitu adanya ilusi gerakan yang disebabkan oleh gerakan kepala secara mendadak atau gerakan kepala ke arah tertentu. Jenis seperti ini umumnya tidak berat dan dapat diatasi.

Penyebab lain dari vertigo adalah peradangan pada telinga bagian dalam (labirinitis), yang ditandai dengan kejadian vertigo yang tiba-tiba dan kadang diikuti dengan kehilangan pendengaran. Penyebab paling sering adalah infeksi viral atau bakteri. Beberapa penyakit lain juga bisa menyebabkan vertigo, seperti Meniere disease, perdarahan di otak, multiple sclerosis, cedera kepala, dan migrain.

Apa gejalanya?

Pada umumnya penderita akan merasakan sensasi gerakan seperti berputar, baik dirinya sendiri atau lingkungan yang berputar. Selain itu, kadang ada juga yang disertai gejala mual atau muntah, berkeringat, dan gerakan mata yang abnormal. Gejala ini bisa terjadi dalam satuan menit atau jam, dapat bersifat konstan atau episodik (kadang-kadang). Ada pula yang merasakan telinga berdering, gangguan penglihatan, lemah, sulit bicara, atau kesulitan berjalan.

Kapan perlu mendapatkan penanganan medis dan apa obatnya?

Semua gejala dan tanda vertigo perlu dievaluasi oleh dokter. Sebagian besar penyebab vertigo tidak berbahaya, dan pada umumnya dapat diatasi dengan pengobatan. Pilihan obatnya tergantung dari diagnosisnya (jenis vetigo) dan penyebab vertigonya. Misalnya jika terjadi infeksi bakteri pada telinga dalam, tentu butuh antibiotika. Obat-obat yang umum dipakai untuk vertigo adalah: meclizine hydrochloride (Antivert), diphenhydramine (Benadryl), promethazine hydrochloride (Phenergan), dan diazepam (Valium)

Terapi alternatif?

Berbagai terapi non-obat dapat dicoba untuk mengatasi vertigo, mulai dari penggunaan obat herbal, akupuntur, meditasi, yoga, pengaturan diet, tai chi, sampai terapi spiritual. Setiap orang bisa memilih mana yang lebih cocok.

Namun sekali lagi, lepas dari semua usaha secara medis maupun nonmedis, jangan lupa memohon pada Pemberi Hidup dan Kesembuhan, karena Dialah yang akan memberi kesembuhan.

 Demikian semoga bermanfaat.





Dibalik layar : International Conference in Pharmacy and Advanced Pharmaceutical Sciences

9 10 2009
Dear kawan,

Rasanya aku perlu menyebut kegiatan International Conference ini dalam blog-ku sebagai kegiatan penting yang perlu didokumentasikan. Alhamdulillah, kerja keras tim selama beberapa bulan sebelumnya terbayar sudah dengan sukses dan lancarnya acara, serta kesan manis yang sudah dirasakan oleh sebagian besar tamu. Sempat diawali sedikit ketegangan internal terkait dengan tempat penyelenggaraan, prediksi jumlah peserta yang sedikit meleset, melesetnya beberapa sasaran sponsor, semuanya menjadi pelajaran berharga untuk penyelenggaraan sebuah acara besar. Salutlah buat Mbak Hilda sebagai Chairman of the Committee yang sudah mengorganisir semuanya!! Aku sendiri posisinya sebagai Steering Committee….. hirarkinya lebih tinggi sedikit haha…., lebih banyak memberi masukan-masukan, menjadi pendorong, dan tentu tetap berada bersama panitia untuk berbagai persiapan. Kegiatan Conference-nya sendiri diselenggarakan di Hotel Sheraton Mustika Yogyakarta, hotel bintang lima gitu loh…. !!

Menyambut tetamu

Kami mengundang beberapa narasumber dari luar negeri, 5 orang dari Jepang, 2 orang Malaysia, 1 orang Italia, 1 dari Australia, dan 1 orang dari Belanda. Cukup heboh lah…! Lucunya, para narasumber itu kebanyakan adalah kenalan dari beberapa dari kami anggota Panitia. Aku sendiri misalnya, mengundang Prof. Kazutaka Maeyama dari Ehime University, supervisorku ketika aku studi S3 dulu di sana. Mbak Hilda mengundang kenalannya dari Australia, Gregory Duncan dari Monash University, Ronny si sekretaris Panitia mengundang supervisornya dulu Prof .Paolo Caliceti dari Italia. Selain itu masih ada Prof. Timmerman, Prof. Syed Azhar, Prof. Izham, dll. Jadilah semacam ada pembagian tugas untuk mengurusi tamu masing-masing, walaupun itu sebenarnya ya tamu bersama. Ya untuk kepraktisan saja.

bersama invited speakers, berdiri: Hilda, Ronny, Zullies

bersama invited speakers, berdiri: Hilda, Ronny, Zullies

Hari Sabtu aku menemani Mbak Hilda menjemput Mr Duncan di Bandara. Walaupun ada penjemputan dari hotel, kayaknya lebih menghargai jika kita menjemputnya sendiri. Wah, Mr Duncan itu tinggi banget…. aku cuma separonya haha….. jadilah kalo mau ngomong sama beliau aku harus mendongak ke atas…!!

Hari Minggunya aku jemput Maeyama Sensei dan istrinya (di Jepang, profesor diundang dengan sebutan Sensei) di bandara bersama Rizal dan Agung, yang sama-sama pernah bekerja di Lab Sensei di Ehime. Aku ajak makan siang bentar dan aku putarkan lewat UGM biar Sensei bisa melihat UGM dari dekat, lalu aku antar ke hotel. Dua malam sebelum hari H acaranya Welcome Dinner terus … hehe… mengacaukan program pelangsingan tubuh nih.

Jalannya Conference

Acara pembukaan berjalan lancar, diikuti paparan oleh plenary speakers, dan invited speakers. Isinya macam-macam lah, terlalu banyak kalo mo diceritakan di sini. Topik kefarmasian oleh invited speakers dibagi dalam dua tema besar, yaitu Advanced Pharmaceutical Sciences dan Clinical/Social Pharmacy, sehingga audiens bisa memilih mau ikut yang mana. Aku sendiri bertugas sebagai moderator dalam salah satu sesi presentasi invited speakers. Siangnya sehabis lunch, acara dilanjutkan dengan presentasi oral para peserta conference. Demikian pula pada hari kedua.

Me, Maeyama Sensei, and colleagues

Me, Maeyama Sensei, and colleagues

Yang sedikit bikin surprise buatku adalah bahwa yang dipresentasikan oleh Prof Maeyama sebagian adalah hasil penelitianku selama studi di bawah bimbingannya dulu. Dah gitu, di bagian belakang pada ucapan terimakasih (acknowledgment), dipasanglah fotoku ketika masih di sana, ditayangkan pula… Waduh, jadi agak terharu deh hehe…. (arigatou, Sensei…). Ngomong-ngomong tentang senseiku ini, aku harus bersyukur alhamdulillah memiliki beliau sebagai pembimbing dulu,… karena beliau orangnya sangat humanis, ramah, perhatian, ngga serem seperti gambaran sebagian besar profesor Jepang yang serius dan jarang senyum. Dah gitu, orangnya nyeni lagi… karena beliau hobby melukis. Malah waktu diajak ke Candi Prambanan, beliau sempat melukis sebentar di sana… wow ..kereen!!

Susunan acara conference sendiri bisa ditengok di http://farmasi.ugm.ac.id/isapps . Tapi aku ngga akan cerita tentang acaranya secara detail, garing nanti hehe….. Aku coba memotret aja sudut-sudut kecil di kegiatan ini dari perspektifku sendiri. Satu inovasi yang dikreasi dalam konferensi ini adalah sistem barcode pada pendaftaran peserta yang terkoneksi dengan web. Sistem ini dikembangkan oleh mas Parno, ahli komputer kami. Salutlah atas kerja kerasnya. Kalau dari segi substansi, materi presentasi dari peserta sungguh sangat bervariasi, dari yang agak sederhana sampai yang canggih. Satu yang menarik perhatianku, karena kebetulan aku jadi moderator pada sesi itu, adalah presentasi dari salah satu peserta dari Malaysia, yang melaporkan hasil penelitiannya bahwa coklat bisa mengurangi kecemasan. Penelitian itu dilakukan terhadap mahasiswa progam studi keperawatan di sebuah universitas di sana, judulnya : An Interventional Pilot Study: Effect Of Dark Chocolate Consumption On Anxiety Level Among Female Nursing Students. Pemberian dark chocolate ternyata bisa mengurangi tingkat kecemasan pada subyek uji, namun uji ini baru dilakukan secara terbatas pada mahasiswa wanita. Wah, boleh juga nih….. sering-sering makan coklat, biar bisa mengurangi kecemasan hehe…. tapi katanya sih masih perlu uji lebih lanjut dengan lama pemberian yang berbeda, dan macam coklat yang berbeda.

Gala Dinner dan Penutupan

bersama Maeyama Sensei dan istri

bersama Maeyama Sensei dan istri

Hari pertama ditutup dengan acara Gala Dinner yang lumayan meriah di pinggir swimming pool Hotel. Suasananya romantis hehe… dengan lampu remang-remang. Undangan yang terdiri dari semua pembicara dan sebagian peserta dan panitia memenuhi tempat acara dilangsungkan. Acara diisi dengan Batik Fashion Show dari Danar Hadi, tarian, dan penampilan dari group musik mahasiswa Farmasi. Acara fashion show sendiri adalah usulanku, terinspirasi dari acara serupa  ketika aku mengikuti Regional Conference on Moleculer Medicine di Malaysia bulan Mei 2009. Dan pentas batik ini pas benar timing-nya dengan baru saja diakuinya batik sebagai warisan budaya Indonesia oleh UNESCO. Jadi klop-lah! Wah…. peragawatinya tinggi-tinggi, langsing, dan cantik!! Jalannya mendongak ke atas…. kayaknya waktu latihan mereka menggendong ransel di punggung. Aku terkesan juga atas penampilan para mahasiswa, baik yang jadi MC atau pun menyanyi dan memainkan musik. Hebat dan berbakat!! Nanti kalo latihan nyanyi aku diundang dong….. haha!

Acara penutupan kami buat sedikit berbeda. Sebelum acara pembacaan pemenang presentasi terbaik dan penutupan resmi oleh Dekan, kami membuat sebuah performance khusus. Kami ingin menunjukkan bahwa orang farmasi itu juga ngga selalu melulu berpenampilan serius karena kebanyakan mikir rumus hehe…. Aku sendiri suka menyanyi, dan mbak Hilda piawai main organ. Jadilah dengan cuek dan sok pede tanpa mempertimbangkan gangguan pendengaran yang bakal dialami audiens, aku (dengan mengajak Ronny) melantunkan lagu “Love of my life” dengan iringan organ Mbak Hilda….!  Prof Timerman dari Belanda juga kami daulat untuk menyanyi, dan tak ketinggalan Prof Caliceti dari Italia. Heboh!!

"Love of my life" by Zullies and Ronny.. sorry for annoying..

"Love of my life" by Zullies and Ronny.. sorry for annoying your ear.....

 

Alhamdulillah, semua berjalan relatif lancar…  Tentu tak ada yang sempurna, mohon maaf jika ada hal-hal yang masih kurang berkenan. Sebuah pelajaran penting untuk penyelenggaraan acara besar kami peroleh. Semoga bermanfaat.

Demikian catatan kecilku mengenai conference kami.





Menikmati shabu-shabu…

26 09 2009

Dear kawan,

metamfetamin HCl alias shabu-shabu

metamfetamin HCl alias shabu-shabu

Siapa yang belum pernah dengar istilah shabu-shabu ? Kata ini sangat terkenal dan dikaitkan dengan nama satu jenis drugs yang sering dipakai oleh pengguna narkoba atau NAPZA. Tentu kalian masih ingat dengan kasus yang cukup meramaikan dunia selebriti kita yaitu kasus Roy Marten, yang sampai harus dua kali mendekam di hotel prodeo. Dan di luar dunia selebriti, pasti kasus serupa mudah dijumpai setiap hari di media.

Hmm, kawan, ….

Ngomong tentang shabu-shabu, aku mengenal dekat seorang mantan pengguna shabu-shabu yang alhamdulillah kini sudah memilih jalan lurus dan hidup lebih sehat :) .  Katanya lebih baik jadi mantan “penjahat” daripada mantan penjahit ….eh salah… mantan orang  baik. Iyalah,…..  mudah-mudahan kita semua diberi hidup yang khusnul khotimah (akhir yang baik). Amien..hehe…..  Tulisan ini aku dedikasikan untuknya (thanks.. for what we’ve shared), untuk mantan pengguna lainnya, untuk yang lagi berpikir untuk mencoba, dan yang tidak mau mencoba sama sekali. Aku ceritakan pula pengalamanku mengkonsumsi shabu-shabu….

Apa itu shabu-shabu?

Shabu adalah nama slank dari salah satu obat yang sering dipakai para druggist. Selain shabu, masih banyak jenis obat lain yang sering dipakai.  Nah, shabu-shabu ini termasuk stimulan sistem saraf, dengan nama kimia methamphetamine hidroklorida, yaitu turunan dari senyawa stimulan syaraf amfetamin. Selain shabu, turunan amfetamin yang sangat ngetop untuk dipakai adalah ecstassy atau metilen dioksi metamfetamin (MDMA).

Tau nggak riwayatnya? Pada jaman perang dunia kedua, tahun 1940an, Pemerintah Jepang membagikan amfetamin kepada pada tentara, pelaut, pilot, dan para pekerja pabrik untuk memperkuat stamina mereka menghadapi perang. Pilot-pilot pada saat itu secara rutin menggunakan obat ini untuk tetap waspada dan terjaga selama perjalanan panjang untuk misi pengeboman. Setelah tahun 1945, sejumlah besar obat ini yang semula hanya digunakan oleh militer membanjiri pasar.

Pada tahun 1950-1960, di Amerika Serikat,  tablet metamfetamin yang diproduksi secara legal banyak dipakai oleh mahasiswa, sopir truk, dan atlet, untuk tujuan meningkatkan stamina, yang umumnya tidak menjadikan ketergantungan yang berlebihan. Namun pola ini berubah drastis ketika tahun 1960an mulai tersedia metamfetamin injeksi. Dan sejak itu penggunaan amfetamin meningkat tajam untuk tujuan-tujuan “rekreasional”. Metamfetamin jalanan dikenal dengan nama : speed, meth, crank. Selanjutnya muncul metamfetamin hidroklorid yang berbentuk kristal, yang dapat dihirup, yang dikenal dengan nama “ice”, crystal, glass, atau shabu-shabu ini. Efek fisiologis dan psikologis shabu dan zat-zat stimulan syaraf lainnya mirip dengan kokain, yaitu mengurangi kelelahan, meningkatkan kewaspadaan, dan menekan nafsu makan.

Secara farmakologi, amfetamin dan turunannya bekerja dengan meningkatkan aktivitas neurotransmiter norepinefrin dan dopamin dengan cara memblokade re-uptakenya di ujung saraf. Dua neurotransmiter ini bekerja pada sistem saraf simpatis meningkatkan kewaspadaan, meningkatkan denyut jantung, meningkatkan pernafasan, dll. Metamfetamin yang dihirup atau disuntikkan memberikan sensasi yang digambarkan sebagai “extremely pleasurable”, yang disebabkan efek halusinogennya.

Berbentuk bubuk kristal, shabu digunakan dengan cara dibakar dan dihisap dengan alat khusus yang disebut bong. Menurut sebuah sumber, harga shabu-shabu 1 gr  saat ini sekitar Rp. 1,7 juta. Kristal ini paling banyak digemari karena relatif tidak ada sakauwnya (dibandingkan heroin/putaw, atau kokain). Kalau lagi nagih hanya gelisah, tidak bisa berpikir dan bekerja, merasa kelelahan, dll. Menurut narasumber yang pernah menggunakan, awalnya ia menggunakan shabu ini untuk meningkatkan stamina. Bisa kuat tidak tidur dan tidak makan berhari-hari, lebih bersemangat, aktivitas seksual meningkat, dll.

Apa bahayanya?

Bahaya shabu-shabu memang tidak sebesar kokain atau heroin. Menurut narasumberku yang pernah menggunakan, dia bahkan tidak pernah mendengar cerita ada orang yang meninggal karena shabu. Dan menurutnya tidak ada istilah OD (overdosis) dalam penggunaan shabu, banyak sedikit sama saja efeknya.  Efek negatif yang paling sering dirasakan adalah paranoid,… rasa ketakutan yang berlebihan, atau sebaliknya kesenangan yang berlebihan. Namun bagaimanapun secara farmakologi, intoksikasi shabu bisa berakibat fatal, yaitu kematian. Pemakai mungkin akan mengalami peningkatan denyut jantung yang cepat, peningkatan pernafasan, peningkatan tekanan darah, dan mungkin bisa mengalami perdarahan otak akibat tekanan darah yang tinggi. Juga bisa terjadi peningkatan suhu tubuh (hiperthermia) dan kejang-kejang yang bisa berakibat koma, dan kemudian titik, alias koit hehe….. (walaupun kejadian ini mungkin tdk terlalu banyak).

Lah… kalo cuma mau meningkatkan stamina kan banyak cara lain yg lebih sehat dan kurang beresiko kan?

Hm… tapi pasti tak ada yang mengira ya kalau aku juga pernah mengkonsumsi shabu-shabu?? Beneran tuh..???!!

Iya, bener… begini ceritanya……

Menikmati shabu-shabu di Jepang

Tahun 1998 – 2001, aku berkesempatan tinggal di Jepang untuk studi S3. Orang Jepang suka mengadakan party (pesta) untuk merayakan sesuatu. Yang selalu ada pada pesta orang jepang adalah sake, beer, dan aneka alcoholic beverage lainnya. Tapi tentu saja tetap tersedia teh, jus buah, dan minuman lainnya, yang selalu aku pilih karena aku tidak minum alkohol. Nah, pada sebuah party di kota kecil dekat Matsuyama bersama profesor dan teman-teman lab, kami pernah pesta shabu-shabu.

Japanese shabu-shabu

Japanese shabu-shabu

Eit,…. jangan negative thinking dulu,….. shabu-shabu (atau syabu-syabu) yang kami nikmati adalah sejenis makanan Jepang yang dihidangkan dengan hot pot. Jenisnya mirip sukiyaki, di mana ada irisan daging tipis (bisa daging sapi, kambing,  ayam, bebek, atau babi), yang disajikan dengan suatu dipping sauce (saus pencelup). Ia digolongkan makanan musim dingin, tapi nyatanya bisa dijumpai sewaktu-waktu sepanjang tahun. Shabu-shabu umumnya disajikan bersama tofu (tahu Jepang yang lembut), dan aneka sayuran seperti hakusai, nori (rumput laut), bawang bombay, wortel, jamur shitake dan enokitake.

 

Cara menikmati shabu-shabu

Kalau shabu-shabu yang di atas dipakai dengan cara dihirup, yang satu ini dengan cara dimakan… Hmm..nyam-nyam..!! Makanan ini dinikmati dengan cara mencelupkan irisan daging yang sangat tipis dan sayuran pada sebuah mangkok/panci (pot) yang berisi air mendidih atau kaldu yang dibuat dari kombu, dan membolak-balik daging itu beberapa kali (menggunakan sumpit) sampai matang. Bunyi ketika irisan daging tipis dicelup bolak-balik itu terdengar seperti “ shabu-shabu”… hehe… (kalo bahasa kita mungkin kaya di “usap-usap”..), sehingga makanan ini diberi nama shabu-shabu. Daging yang sudah matang tersebut kemudian dicelup dulu ke dalam saus pencelup sebelum masuk mulut bersama nasi yang sudah disiapkan dalam mangkok-mangkok kecil. Setelah semua daging dan sayuran dimakan, maka sisa air mendidih itu menjadi seperti kaldu, dan biasanya dimakan belakangan.

Nama shabu-shabu itu sudah dipatenkan lho… oleh Suehiro, penemunya, pada tahun 1955. Waktu itu Suehiro untuk pertamakalinya memperkenalkan makanan shabu-shabu ini di restorannya di Osaka. Sebenernya makanan ini teinspirasi dari makanan China hot pot yang bernama “shuan yang rao”, sehingga memang lebih mirip makanan China tersebut, ketimbang makanan Jepang sejenis seperti sukiyaki.

Hm…. enak lho….. ! Yang jelas lebih sehat lah ketimbang shabu-shabu yang di atas tadi…. Dan bisa juga kok untuk nambah stamina hehe….. Jadi yang belum sempat mencoba shabu-shabu yang pertama, mendingan coba shabu-shabu yang barusan aku ceritakan ini…. Insya Allah bulan November besok aku ada undangan ke Jepang,.. ayo ikutan sambil menikmati shabu-shabu di sana……. !





Catatan tentang Blog dan Lebaranku tahun 2009

23 09 2009

Dear kawan,

Tak terasa hampir setahun usia blog ala-kadarnya ini, dengan jumlah  kunjungan sekitar 41 ribuan. Banyak masukan yang membangun dan memotivasiku untuk setia menulis. Katanya banyak pula yang terinspirasi oleh tulisan-tulisanku, hm…..  terimakasih atas apresiasinya.. Aku coba telisik lagi, posting pertamaku adalah tanggal 6 Oktober 2008. Hmm.. masih naif banget waktu itu…. dengan tulisan2 pendek dan mendaur ulang simpanan tulisan2ku yang tercecer di beberapa tempat… 

Tapi belakangan memang frekuensi menulisku sudah mulai berkurang. Bahkan sebulan terakhir ini hampir sama sekali tiada tulisan baru. Aku mencoba evaluasi lagi nasib malang blog-ku ini, yang jarang ku-update lagi…  Yang pertama, ada sedikit kejenuhan, .. semua hal rasanya sudah pernah kutulis. Mau nulis tentang obat, sudah banyak blog serupa. Yang kedua, aku pun makin selektif menulis…. semakin banyak yang membaca, ada semacam ‘beban’ untuk tidak menulis asal-asalan saja. Yah, walaupun pada dasarnya ini adalah blog untuk berekspresi pelepas penat, tapi tentu harus ada muatan yang bermanfaat. Yang ketiga,… belum ada lagi peristiwa2 istimewa di seputar keseharianku yang mendorongku untuk menulis..  Biasanya aku suka mencari ide tulisan dari pengamatan atau pengalaman sehari-hari yang kukombinasi dengan pengetahuan tertentu. Ada sih tentu hal-hal istimewa dalam 1-2 bulan belakangan, tapi itu terlalu pribadi dan bukan untuk konsumsi publik hehe……  Aku masih menulis, tapi untuk diriku sendiri. Aku kan harus ja-im haha…. (jaga image).  Jadi mohon maklum jika produktivitasku menulis di blog ini sedang rendah sekarang….

Kali ini aku mencoba membuat catatan kecil lebaran tahun ini, sekedar untuk dokumentasi aku sendiri… Dan catatan lebaran kali ini adalah yang pertama kubuat karena Blog ini memang baru mengalami sekali lebaran.

Era Face Book

Sekali lagi aku perlu menyebut-nyebut tentang Face Book dan harus angkat jempol dengan ide inventif penemunya untuk mengkreasi suatu media pertemanan yang sangat fenomenal abad ini. Terus terang… aku termasuk yang “tiada hari tanpa membuka Face Book” hehe… walau kadang hanya sebentar2 untuk menengok suasana hiruk pikuk di dunia maya. Face Book ini perlu kusebut karena benar-benar mewarnai suasana Ramadhan maupun Idul Fitri tahun ini bagi sebagian besar orang…..  Aku jamin!! Ada yang mengisinya dengan penuh canda-tawa, ada yang serius penuh pesan hikmah dan menggunakannya sebagai media dakwah. Termasuk aku juga yang kadang muncul ide-ide iseng dan jail untuk ditulis, namun sesekali juga menulis serius membawa pesan tertentu. Kadang berbau sentimentil pula hehe……. sesuai suasana hati. Face Book pula yang menjadi media utama mengucapkan selamat berpuasa atau selamat Idul Fitri, di samping SMS atau MMS. Kartu Lebaran jadi terasa jadul !! Pak Pos jadi berkurang pekerjaannya nih…..

Ramadhan 1430 H

Hmm, kawan…., aku merasa Ramadhanku kali ini tidak begitu optimal. Astaghfirullohal adziim. Aku tidak bisa cerita banyak… tapi pada bulan yang mestinya penuh pengendalian diri dan emosi, nampaknya aku lebih banyak gagal. Emosi masih berfluktuasi naik turun, kurang sabar, sensitif, mudah menangis, …. yah begitulah. Aku masih harus banyak berlatih.. Sampai-sampai aku berpikir, begitukah memang sifat wanita?…. Ah, mestinya tidak. Banyak wanita-wanita kuat yang berhasil menguasai diri dan mengendalikan emosinya dalam berbagai keadaan.

Apa penyebabnya? Hm…. biar jadi ranah pribadi saja hehe….  Mengapa ini kutuliskan? Aku hanya ingin memberi gambaran tentang kompleksitas manusia.  Bahwa walaupun seseorang punya daya nalar yang baik, seringkali logika kalah dengan perasaan…. sampai-sampai pernah kutulis di status FBku…. bahwa tidak mudah mengkompromikan akal dan hati.  Dan hal-hal serupa tentu akan sering kita hadapi di kemudian hari. Itu sungguh ujian hati yang berat… bagaimana untuk tetap berpegang pada bisikan kalbu yang jernih, yang  menuntun pada kebaikan. Dan aku hanyalah manusia lemah belaka…. dan nampaknya sedang berada dalam titik terlemah…

Ramadhan pun berlalu, menyisakan harapan semoga akan bertemu bulan mulia ini tahun berikutnya, dan akan menjalaninya dengan lebih baik. Amien.

Persiapan untuk lebaran

Persiapan lebaran aku lakukan ala kadarnya saja. Yang penting mengeluarkan zakat mal dan membagi bingkisan lebaran untuk tetangga kiri kanan yang kurang beruntung. Dan tidak lupa, memberi THR untuk dua asisten di rumah hehe….. Aku sendiri tak ada baju baru khusus. Beberapa saat sebelumnya sudah beberapa kali jahitkan baju yang kainnya pemberian dari teman-teman (thanks, teman-teman…). Dan sebaliknya, justru bongkar-bongkar lemari mencari baju-baju lama yang masih pantas diberikan pada yang membutuhkan. Paling cari baju untuk anak-anak, juga untuk para keponakan, karena ibuku ingin 10 cucunya memakai baju batik yang senada/seragam pada acara silaturahmi keluarga besar hehe… kaya panti asuhan saja..

Mudik Lebaran

Anak-anakku sudah mulai libur semingguan sebelum lebaran. Yang sulung malah sudah tidak sabar lagi untuk mudik ke rumah eyangnya di Purwokerto, dan secara khusus meminta eyangnya untuk menjemputnya mudik. Yah, si sulung kami memang cukup lama menghabiskan masa balitanya bersama eyangnya karena dulu dia ditinggal ketika kami (ayah ibunya) belajar di Jepang selama tiga tahun. Kebetulan ia juga kelahiran Purwokerto, jadi maklum saja jika ia merasa sangat dekat dengan eyang dan kota kelahirannya itu. Aku sendiri masih bertahan sampai hari terakhir masuk kantor, sampai sore hari.  Tapi hawanya sudah mulai hawa liburan hehe…. jadi agak santai, sambil kirim-kirim dan cek-cek e-mail dan persiapan untuk rencana benchmarking ke Australia bulan Oktober ini. Insya Allah.

Perjalanan mudik pada hari Jumat alhamdulillah berjalan lancar. Jalanan masih normal… dengan waktu tempuh Jogja-Purwokerto selama 4,5 jam dengan mobil sendiri, termasuk break untuk sholat jumatan. Sampai Purwokerto aku agak pangling dengan berbagai perubahan kota. Alun-alun yang dulu pernah jadi tempat banyak aktivitasku di masa kecil dan remaja sudah banyak berubah wajah. Pohon-pohon pinggir jalan banyak yang berkurang. Makin banyak saja bangunan-bangunan baru di sepanjang jalan menuju rumah ibuku. Hm… tiba-tiba saja aku jadi sentimentil menyusuri jalan-jalan kotaku dan mengenang semua yang pernah lewat dua puluh lima tahun yang lalu…. Lagi-lagi, Face Book tidak dilupakan….hehe… melalui mobile text via HP ku-update status FBku:… “Purwokerto, I’m coming!”….

Kerepotan lebaran

Menurutku, yang paling menikmati liburan lebaran adalah para asisten rumahtangga alias PRT. Sudah dapat THR, bebas dari pekerjaan pula. Sedangkan sang majikan gantian kerepotan mengurus segala pernak-pernik keperluan rumah. Begitu jugalah aku, terutama untuk urusan anak-anak, terutama sekali si bungsu yang baru 3,5 tahun. Wah,… aku tak pernah bisa lepas dari urusan si kecil, mulai dari bangun tidur, mandi, sarapan, nemani bermain, makan siang, tidur siang, mandi sore, makan malam, sampai tidur lagi. Terasa banget tidak mudah to be the real mother, though I am not a perfect mother. Paling lega kalau anak sudah tidur hehe…. bisa nulis-nulis seperti sekarang ini, bisa buka Face Book, cek e-mail, dll.

Adik-adikku sudah mulai pula berdatangan dengan keluarga masing-masing. Rumah ibu menjadi ramai dan mulai berantakan kayak kapal pecah. Maklum cucu-cucunya masih anak-anak yang sukanya main melulu dan belum punya rasa tanggungjawab untuk membereskan. Kerepotan bertambah saja. Tapi yah… Lebaran adalah kerepotan yang menyenangkan, dan kesenangan yang merepotkan, begitu kutulis di status FBku.

Aku sebenarnya sedang tidak ingin menulis yang sedih-sedih… tapi bagaimanapun kadang ada keprihatinan menyusup. Melihat keponakanku yang kecil-kecil sudah pandai berceloteh, aku ingat si bungsu kami Dhika yang masih terbatas percakapannya. Yah… itulah ujian kami juga, mudah-mudahan Allah akan memberikan yang terbaik bagi kami semua, Amien.

Hari Idul Fitri tiba

keluarga kecil kami di Idul Fitri

keluarga kecil kami di Idul Fitri

Alhamdulillah, hari raya telah tiba. Pagi-pagi kami sekeluarga besar berangkat bersama ke Alun-alun Purwokerto untuk sholat Ied. Kali ini untuk pertamakalinya si bungsu aku coba ajak untuk berangkat sholat Ied. Terus terang, aku agak sangsi apakah Dhika sudah bisa diajak ke acara semacam, karena Dhika memang sedikit hiperaktif dan tidak betah diam. Tapi bismillah… aku coba saja. Aku sudah siapkan mainan yang kuharap bisa membuatnya betah menunggu. Apa yang terjadi ?… Rakaat pertama berjalan dengan lancar, Dhika duduk manis di dekatku. Pada rakaat kedua, nampaknya ia mulai bosan. Tiba-tiba saja ia lari melalui lorong yang terbentuk dari jamaah sholat ied. Waduh, aku mulai tidak khusyu, tapi sempat berharap dia segera kembali. Ketika sholat selesai, Dhika tidak kembali. Wah, aku lumayan panik mencarinya. Aku sedikit berlari melewati orang-orang yang sedang mendengarkan khotbah sambil berkali-kali mohon maaf karena melewatinya untuk mencari Dhika. Sejauh mata memandang tak banyak yang bisa kulihat karena pakaian jamaah warna-warni dan sulit sekali mencari anak kecil seusia Dhika. Sambil aku memohon kepada Allah semoga Dhika ketemu, akhirnya aku menatap sosok kecil di kejauhan sedang asyik berlari kecil menyusuri pinggir alun-alun di dekat pohon beringin paling timur. Alhamdulillah, aku langsung berlari kencang, takut kehilangan sosok kecil itu. Akhirnya kutemukan dan kobopong Dhika untuk kembali ke tempat kami berkumpul. Ah,.. sungguh pengalaman yang cukup mendebarkan. Alhamdulillah, kami masih diberi kesempatan  menemukan Dhika. Dhika sungguh ujian bagi kami untuk menjaga dan merawatnya. Beri kami kekuatan ya, Allah. Amien.

Usai sholat Ied, suasana rumah cukup hiruk pikuk dengan makan opor ayam dan ketupat, sungkem dengan ibu dan saling bermaafan di antara keluarga, serta pertemuan keluarga besar RT tempat tinggal kami di Masjid dekat rumah. Ini Lebaran ketiga tanpa ayah yang telah meninggalkan kami tahun 2006 yang lalu. Kami juga sempatkan ziarah ke makam ayah untuk mendoakan beliau. Cuma ada yang sedikit menganggu, ketika kami lagi khusyu berdoa di makam ayah, keponakanku yang masih umur 3,5 tahun tiba-tiba menyanyikan lagu dengan lidah cedalnya  ”C lagi A minol D minol ke G ke C lagi….”…Lagunya Lupa-lupa Ingat-nya Band Kuburan…. Waah, ketawa deh semua…… dan berdoa harus diulang lagi.

Reuni SMA 1 Purwokerto

Setelah sehari sebelumnya kami bersilaturahmi ke Pekalongan dan kembali pada esok paginya, H +4 Idul Fitri alias tanggal 23 September diisi dengan acara Reuni SMA Negeri 1 Purwokerto Angkatan 1987 di sebuah restoran alam di dekat Baturaden. Lumayan banyak yang datang, dan kami cukup terkaget-kaget dengan penampilan beberapa teman yang banyak berubah setelah belasan tahun tidak ketemu. Ada yang jadi kelas berat, ada yang bertahan langsing, ada yang tetap awet muda, dan macam-macam lagi. Cukup seru dan heboh…!! Semoga forum ini bisa menjadi media untuk berbagi dan bertukar pikiran dan pengalaman, terutama buat kemajuan almamater tercinta.

Hm.. hari yang cukup melelahkan hari ini. Semua anggota keluargaku langsung tidur pulas lebih awal.. sehingga aku bisa bebas nulis banyak malam ini hehe……

Penutup

Demikian catatan lebaranku kali ini yang kutulis pada H+4. Pagi tadi aku sudah mendapat SMS dari Pak Dekan untuk membuat laporan singkat tentang kegiatan DIPA WCRU (World Class Research University) untuk Fakultas Farmasi di mana kebetulan aku menjadi Ketua Task Force-nya, karena akan dilaporkan dalam Pidato Dies Fakultas Senin mendatang. Artinya….. hm, liburan telah usai. Siap-siap lagi menghadapi berbagai aktivitas pasca liburan. Semoga akan menjadi hidup baru yang lebih baik…. Amien.

Selamat Idul Fitri

Mohon maaf lahir dan batin.