Bagaimana cara menggunakan obat di bulan Ramadhan?

1 07 2014

Dear kawan,

minum obatBulan Ramadhan telah datang lagi. Umat Islam menyambut dengan suka cita akan hadirnya bulan suci karena teringat janji pahala berlipat ganda dari Allah SWT,  bagi yang ikhlas dan bersungguh-sungguh menjalani ibadahnya. Sehingga meskipun Islam membolehkan orang yang sedang sakit untuk tidak berpuasa, sebagian ummat bahkan ada yang tetap ingin menjalankan ibadah puasa Ramadhan walaupun memiliki gangguan kesehatan dan harus menggunakan obat secara rutin. Lalu bagaimana cara mengatur waktu minum obat pada saat puasa supaya tidak mengganggu hasil terapi yang diharapkan? Artikel ini mencoba mengupas cara penggunaan obat selama bulan Ramadhan.

Penggunaan obat yang tidak membatalkan puasa

Tidak semua penggunaan obat membatalkan puasa, yaitu dalam bentuk yang tidak diminum melalui mulut dan masuk saluran cerna. Dalam sebuah seminar medis-religius yang diselenggarakan di Marokko, tahun 1997, para ahli medis maupun agama sepakat bahwa beberapa bentuk sediaan obat di bawah ini tidak membatalkan puasa, antara lain:

  1. Tetes mata dan telinga
  2. Obat-obat yang diabsorpsi melalui kulit (salep, krim, plester)
  3. Obat yang digunakan melalui vagina, seperti suppositoria
  4. Obat-obat yang disuntikkan, baik melalui kulit, otot, sendi, dan vena, kecuali pemberian makanan via intravena
  5. Pemberian gas oksigen dan anestesi
  6. Obat yang diselipkan di bawah lidah (seperti nitrogliserin untuk angina pectoris)
  7. Obat kumur, sejauh tidak tertelan

Bagaimana penggunaan obat minum saat puasa?

Jadwal waktu minum obat mau tak mau harus berubah saat bulan Ramadhan buat mereka yang ingin tetap berpuasa. Obat hanya bisa diminum selepas buka puasa sampai sebelum subuh saat sahur. Perubahan jadwal waktu minum obat mungkin dapat mempengaruhi nasib obat dalam tubuh (farmakokinetika obat), yang nantinya bisa mempengaruhi efek terapi obat. Karena itu perlu kehati-hatian dalam merubah jadwal minum obat. Konsultasikan dengan dokter atau apoteker Anda. Untuk obat-obat yang diminum sekali sehari dan kebetulan diminum pada malam hari tentu tidak ada perbedaan yang berarti ketika digunakan saat bulan Ramadhan. Demikian pula yang diminum sekali sehari pada pagi hari, dapat diminum saat sahur tanpa perubahan efek yang signifikan. Sedangkan untuk obat yang digunakan dua kali sehari, disarankan untuk diminum pada saat sahur dan saat berbuka.

Bagaimana dengan obat yang harus diminum 3-4 kali sehari?

Untuk pasien yang mendapatkan obat-obat yang harus diminum 3 kali sehari disarankan untuk minta kepada dokternya untuk meresepkan obat bentuk sediaan lepas lambat atau aksi panjang sehingga frekuensi pemakaian bisa dikurangi menjadi sekali atau 2 kali sehari. Atau bisa juga minta diganti dengan obat lain yang masih memiliki efek dan mekanisme sama, tetapi memiliki durasi aksi yang lebih panjang. Sebagai contohnya, obat hipertensi kaptopril yang harus diminum 2-3 kali sehari dapat digantikan oleh lisinopril yang digunakan sekali sehari. Atau misalnya ibuprofen, suatu obat anti radang, bisa digantikan dengan piroxicam atau meloxicam yang bisa diminum sekali sehari.

Jika tidak bisa diganti, maka penggunaannya adalah dari waktu buka puasa hingga sahur, yang sebaiknya dibagi dalam interval waktu yang sama. Misalnya untuk obat dengan dosis 3 kali sehari, maka dapat diberikan dengan interval waktu 5 jam, yaitu pada sekitar pukul 18.00 (saat buka puasa), pukul 23.00 (menjelang tengah malam), dan pukul 04.00 (saat sahur). Obat yang harus diminum 4 kali sehari dapat diberikan dalam interval 3-4 jam, yaitu pada pukul 18.00, pukul 22.00, pukul 01.00 dan pukul 04.00. Tentu waktunya harus disesuaikan dengan jadwal imsakiah setempat. Sebagian besar obat dapat diubah jadwalnya seperti ini tanpa mengubah efek terapinya secara signifikan, termasuk penggunaan antibiotika. Kelihatannya agak sulit jika harus minum obat di malam hari, tetapi ini adalah waktu yang bisa memberikan efek optimal. Jika perlu gunakan alarm untuk membangunkan tidur.

Bagaimana dengan penggunaan obat sebelum dan sesudah makan?

Obat dapat berinteraksi dengan makanan, yang berarti adanya makanan dapat mempengaruhi efek obat. Ada obat-obat yang baik digunakan sebelum makan karena absorpsinya lebih baik pada saat lambung kosong, dan ada yang sebaliknya, diminum setelah makan karena dapat menyebabkan iritasi lambung atau lebih baik penyerapannya jika ada makanan. Selama bulan Ramadhan, perhatikan pula aturan minum obatnya, apakah sesudah atau sebelum makan.

Jika aturannya 1 kali sehari sebelum makan : obat bisa diminum pada saat sahur (setengah jam sebelum makan) atau pada saat berbuka (setengah jam sebelum makan). Gunakan sesuai anjuran, apakah biasanya pagi atau malam. Obat hipertensi misalnya, baiknya diminum pagi hari karena tekanan darah paling tinggi pada pagi hari. Sebaliknya, obat penurun kolesterol sebaiknya diminum malam hari. Usahakan konsisten dengan waktu minumnya, apakah pagi atau malam.

Jika aturannya 1 kali sehari setelah makan, maka obat bisa diminum pada waktu seperti di atas, hanya saja diminumnya kira-kira 5-10 menit setelah makan besar. Setelah makan artinya kondisi lambung berisi makanan.

Untuk penggunaan 2,3 atau 4 kali sehari, pada prinsipnya sama, seperti yang dijelaskan di atas mengenai jam minum obat. Jika diminta sebelum makan berarti sekitar 30 menit sebelum makan. Jika ada obat yang harus diminum tengah malam sesudah makan, maka perut dapat diisi dulu dengan roti atau sedikit nasi sebelum minum obat.

Penggunaan obat pada penyakit kronis di bulan Ramadhan

Beberapa penyakit kronis memerlukan pengobatan terus-menerus, seperti penyakit diabetes, epilepsi, asma, dan hipertensi. Untuk mereka yang tetap ingin berpuasa, perlu dilakukan pemantauan yang lebih ketat terkait dengan perubahan jadwal pemberian obatnya dan kondisi penyakitnya. Berikut akan diulas penggunaan obat dan pemantauan terapi pada penyakit-penyakit kronis tersebut.

Diabetes Melitus (kencing manis)

Secara umum, puasa tidak disarankan bagi penderita diabetes, karena berisiko mengalami hipoglikemia (kurangnya kadar guka darah) pada saat puasa, atau sebaliknya hiperglikemia (kelebihan kadar gula darah) pada saat berbuka puasa. Obat golongan sulfonilurea seperti glibenklamid, gliklazid, dan glimepirid memiliki risiko efek samping hipoglikemi yang besar, sehingga kurang direkomendasikan bagi pasien diabetes. Sebagai gantinya, pasien dapat menggunakan obat metformin 3 kali sehari, yang pada saat puasa harus diminum 2 dosis pada saat buka puasa dan satu dosis pada saat sahur. Obat semacam acarbose juga relatif aman untuk penderita diabetes, karena kurang menyebabkan hipoglikemi.

Pasien yang tetap menggunakan obat golongan sulfonilurea sekali sehari sebaiknya meminumnya saat buka puasa sebelum makan. Sedangkan untuk yang dua kali sehari, maka obat diminum satu dosis pada saat buka puasa dan setengah dosis pada saat sahur. Namun demikian ada pula ahli yang menyarankan untuk tidak mengkonsumsi obat pada saat sahur karena dikuatirkan mengalami hipoglikemi jika pasien berpuasa. Pada pasien yang menggunakan insulin premix atau aksi sedang 2 kali sehari, perlu dipertimbangkan perubahan ke insulin aksi panjang atau sedang pada sore hari dan insulin aksi pendek bersama makan. Gunakan dosis biasa pada saat berbuka dan setengah dosis pada saat sahur. Usahakan banyak minum pada saat tidak berpuasa untuk menghindari dehidrasi. Pemantauan kadar gula sebaiknya dilakukan lebih kerap dari biasanya. Jika kadar gula turun di bawah 60 mg/dL, pasien disarankan segera berbuka puasa. Juga jika kadar gula terlalu tinggi (> 300 mg/dL), pasien disarankan tidak berpuasa.

Pasien hipertensi, asma dan epilepsi

Pasien dengan penyakit kronis seperti hipertensi, asma dan epilepsi yang harus menggunakan obat secara teratur dapat tetap berpuasa, dengan mengatur waktu minum obatnya pada saat berbuka dan sahur. Minta kepada dokter untuk memberikan obat-obat yang bersifat aksi panjang sehingga cukup diminum sekali atau dua kali sehari. Secara umum kondisi harus tetap dijaga dengan mengatur makanan, misalnya mengurangi garam atau lemak, banyak minum air putih, olahraga secara cukup. Pasien asma dengan penggunaan inhaler secara teratur dapat menggunakan inhalernya pada saat setelah waktu buka puasa dan pada saat sahur. Namun jika diperlukan penggunaan inhaler pada saat serangan akut di siang hari, pasien dapat membatalkan puasanya. Pasien hipertensi perlu memantau tekanan darahnya lebih kerap pada bulan puasa daripada bulan tidak puasa.

Demikian sekilas tentang penggunaan obat pada saat bulan Ramadhan. Sekali lagi Islam membolehkan orang yang sakit untuk tidak berpuasa. Jika sakit Anda cukup berat dan ingin berpuasa, konsultasikan pada dokter Anda apakah boleh berpuasa atau tidak. Tidak perlu memaksakan diri berpuasa jika fisik tidak mengijinkan.

Selamat berpuasa, semoga amal ibadah Ramadhan kita diterima oleh Allah SWT.  Amiien

 

Bahan bacaan :

http://care.diabetesjournals.org/content/33/8/1895.long

http://www.khaleejtimes.com/kt-article-display-1.asp?xfile=data/nationgeneral/2013/July/nationgeneral_July104.xml&section=nationgeneral

http://www.bmj.com/content/329/7469/778

 

 





Mengenal Dekstrometorfan, obat batuk yang sering disalahgunakan

30 05 2014

Dear kawan,

DEXTROMETHORPHANBarusan beredar kabar bahwa mulai 30 Juni 2014, semua produk obat yang mengandung dekstrometorfan harus ditarik dari pasaran. Penarikan ini disampaikan oleh Direktur Pengawasan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif Badan POM Sri Utami Ekaningtyas, pada diskusi bertajuk “Penarikan Zat Berbahan Dekstrometorfan Tunggal”, di Jakarta, Senin (26/5/2014) petang. Sebenarnya Badan Pengawas Obat dan Makanan, pada Juli 2013 telah mengeluarkan surat penarikan obat yang mengandung dekstrometorfan sediaan tunggal dari pasaran, dan memberikan waktu satu tahun kepada industri Farmasi untuk menarik produk-produknya. Nah, saat ini hampir satu tahun sejak pengumuman diedarkan, maka akhir Juni besok merupakan batas akhir penarikannya.

Apa sih dekstrometorfan itu? Seberapa membahayakan sampai harus ditarik dari peredaran padahal sudah bertahun-tahun digunakan sebagai obat batuk dan menjadi komponen obat flu yang sangat banyak beredar di pasaran?

Deskripsi Dekstrometrofan

Pertama kali diperkenalkan di pasar pada tahun 1950-an di Amerika, Dekstrometorfan (DMP) merupakan obat penekan batuk (anti tusif) yang sangat populer dan selama ini dapat diperoleh secara bebas, dan banyak dijumpai pada sediaan obat batuk maupun flu. Indikasi obat ini adalah untuk batuk kering atau batuk tidak berdahak. Dosis untuk dewasa adalah 10-20 mg secara oral setiap 4 jam atau 30 mg setiap 6-8 jam dengan dosis maksimal 120 mg/hari. Dosis anak-anak usia 6 – 12 tahun adalah 5-10 mg per-oral setiap 4 jam atau 15 mg setiap 6-8 jam dengan dosis maksimum 60 mg/hari. Untuk usia 2-6 tahun, dosisnya 2.5-5 mg per-oral setiap 4 jam atau 7.5 mg atau setiap 6-8 jam dengan dosis maksimum 30 mg/hari. Efek anti batuknya bisa bertahan 5-6 jam setelah penggunaan per-oral. Jika digunakan sesuai aturan, obat ini relatif aman, jarang menimbulkan efek samping yang berarti. Efek samping yang banyak dijumpai adalah mengantuk.

Bagaimana mekanisme kerjanya?

Dekstrometorfan (DMP) adalah suatu senyawa turunan morfin, yang memiliki nama kimia/IUPAC (+)-3-methoxy-17-methyl-(9α,13α,14α)-morphinan, suatu dekstro isomer dari levomethorphan. Senyawa ini cukup kompleks karena memiliki kemampuan untuk mengikat beberapa reseptor, sehingga juga diduga memiliki banyak efek.

Ikatan DMP pada beberapa reseptor

Ikatan DMP pada beberapa reseptor

Mekanismenya sebagai penekan batuk (anti tusif) diduga terkait dengan kemampuannya mengikat reseptor sigma-1 yang berada di dekat pusat batuk di medulla dan terlibat dalam pengaturan refleks batuk. Fungsi fisiologis reseptor sigma-1 masih banyak yang belum diketahui, tetapi aktivasi reseptor sigma-1 salah satunya memberikan efek penekanan batuk. Reseptor sigma semula diduga merupakan subtipe dari respetor opiat, namun penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa ia merupakan reseptor non-opiat, walaupun dapat diikat juga dengan beberapa senyawa turunan opiat.

Selain merupakan agonis bagi reseptor sigma, DMP adalah antagonis reseptor NMDA (N-Methyl D-aspartat) yang berada di sistem syaraf pusat. Dengan demikian efek farmakologi DMP, terutama jika pada dosis tinggi, menyerupai PCP (phencyclidine) atau ketamin yang merupakan antagonis reseptor NMDA. Antagonisme terhadap reseptor NMDA dapat menyebabkan efek euforia, antidepresan, dan efek psikosis seperti halusinasi penglihatan maupun pendengaran. Didukung dengan mudahnya didapat dan harganya yang murah, hal inilah yang menyebabkan DMP menjadi obat yang sering disalahgunakan dalam dosis tinggi. Penyalahgunaan DMP ini sudah cukup luas dan saat ini telah mencapai tahap yang mengkuatirkan, dan inilah yang “memaksa” BPOM mengumumkan penarikannya dari pasaran. Di California (USA), penyalahgunaan DMP ini marak mulai tahun 2000-an.

Apa efeknya kalau overdosis?

Penggunaan dosis tinggi DMP bukannya tanpa masalah. Selain memberikan efek behavioral, intoksikasi atau overdosis DMP dapat menyebabkan hiper-eksitabilitas, kelelahan, berkeringat, bicara kacau, hipertensi, dan mata melotot (nystagmus). Apalagi jika digunakan bersama dengan alkohol, efeknya bisa sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kematian. Demikian pula jika dipakai bersama dengan obat lain seperti dalam komposisi obat flu, jika dipakai dalam dosis 5 – 10 kali dari yang dianjurkan akan mempotensiasi dan menambah efek toksiknya.

Dalam hal efek terhadap perilaku (behavioral effects), penyalahguna DMP menggambarkan adanya 4 plateau efek yang tergantung dosis, seperti berikut:

Plateau Dose (mg) Behavioral Effects
1st 100–200 Stimulasi ringan
2nd 200–400 Euforia dan halusinasi
3rd 300– 600 Gangguan persepsi visual dan hilangnya koordinasi motorik
4th 500-1500 Dissociative sedation

 

Perlu kewaspadaan

Dengan paparan di atas sudah cukup jelas efek dekstrometorfan dan mengapa harus dibatasi penggunaannya. Dekstrometorfan tentunya masih bisa digunakan sebagai antitusif, tetapi harus diperoleh dengan resep dokter dan digunakan sesuai dosis yang direkomendasikan. Perlu kewaspadaan kita semua untuk berhati-hati dalam penggunaan dekstrometorfan di masyarakat.

Semoga bermanfaat.

 

Sumber bacaan:

http://www.who.int/medicines/areas/quality_safety/5.1Dextromethorphan_pre-review.pdf

http://physiology.elte.hu/gyakorlat/cikkek/The%20pharmacology%20of%20cough.pdf

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1574192/





Catatan perjalanan : Perjalanan hati ke Tanah Suci..

11 05 2014

Dear kawan,

Kupenuhi panggilanMu, ya Allah..

Kupenuhi panggilanMu, ya Allah..

Sudah beberapa perjalanan keluar kota terlewatkan untuk aku tulis karena tak sempat menuliskannya, tapi untuk perjalanan kali ini aku ingin mendokumentasikannya untuk pribadi.. karena ini sebuah perjalanan yang tidak sekedar jalan-jalan melihat suasana, tetapi sebuah perjalanan religi yang penuh makna.. Yah, perjalanan ke Tanah Suci dalam ibadah umroh tentu membawa suasana hati tersendiri.. Sebuah perjalanan spiritual recharging setelah hampir 10 tahun berlalu sejak kami berhaji awal tahun 2005 yang lalu.

Keinginan untuk ibadah umroh sudah ada sejak pertengahan tahun 2013, tapi baru pada akhir bulan Januari 2014, kesempatan itu datang ketika sebuah informasi menghampiri bahwa kawan kantor suamiku akan berangkat umroh bulan April ini. Segera kami meminta informasi detail agar bisa bergabung, dan singkat cerita kebetulan masih ada space untuk dua orang dan jadilah kami bergabung bersama Koperasi Anggrek Mekar di Minomartani sebagai koordinator jamaah dari Jogja. Kami menggunakan pelayanan dari agen haji dan umroh Tisa Tour Jakarta. Setelah sempat ada pengunduran jadwal dari jadwal semula, jadilah kami berangkat pada tanggal 28 April s/d 7 Mei 2014.

Persiapan pemberangkatan

Minggu terakhir sebelum berangkat aku mulai sibuk dengan aneka persiapan, terutama terkait dengan pekerjaan. Kebetulan tanggal 28 Mei adalah tanggal deadline pengumpulan aneka proposal penelitian dan pengabdian masyarakat yang didanai oleh Dikti. Jadi lumayan berkejaran dengan waktu untuk menyiapkan aneka macam sebelum pergi. Selain urusan pekerjaan, tentu urusan perlengkapan pribadi juga disiapkan. Tidak lupa vaksinasi meningitis yang memang diwajibkan. Saat menjelang berangkat, berita mengenai wabah virus MERS (middle east respiratory syndrome) mulai merebak. Beberapa kawan mengingatkan untuk berhati-hati menjaga kesehatan terkait dengan virus MERS, dengan menyiapkan masker, vitamin C, dan obat imunostimulator. Jadilah aku juga menyiapkan masker secukupnya dan obat mengandung Echinacea. Kami sudah tidak sempat lagi vaksinasi influenza karena sudah terlalu mepet waktunya. Salah seorang sejawat senior bahkan menyarankan mengkonsumsi isoprinosine, suatu imunomodulator yang sekaligus berefek antiviral untuk berjaga-jaga. Sayangnya saran beliau baru aku terima ketika sudah transit di Jakarta, dan ketika bela-belain mencari di dua apotek terdekat dengan hotel transit, tak ada apotek yang punya obat tersebut… Ya udah, bismillah…. semoga sehat-sehat saja… Aku sempat terpikir untuk mencari lagi setelah sampai di Madinah saja (tapi ternyata ketika sampai sana juga tidak tersedia).

Long way to Madina: Pak Mintardi

Bersama Pak Mintardi di bandara Soetta

Bersama Pak Mintardi di bandara Soetta

Akhirnya setelah menunggu cukup lama sejak jam 3 pagi di bandara Soetta sambil mengurus bagasi, pembagian paspor dan boarding pass, dll, pesawat Saudia Airlines siap membawa kami menuju Madinah dengan penerbangan langsung Jakarta – Madinah. Di Bandara Soetta kami bertemu dengan jamaah umroh Tisa Tour dari kota-kota yang lain, yang semuanya berjumlah 240 jamaah. Salah satu jamaah dari Minomartani cukup menarik perhatianku.. Beliau kurus kecil dengan penampilan sederhana. Usut punya usut, beliau ternyata adalah tukang rongsok yang mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk bisa ikut umroh… Subhanallah…! sungguh pelajaran kecil yang indah tentang niat kuat seseorang yang berpadu dengan ijinNya… Pak Mintardi, begitu namanya, berupaya dengan cara menggunakan uang hasil rongsokannya untuk menyewa lahan dan ditanami buah dan sayuran.. Dari situlah ia mengumpulkan dan menabung untuk bisa ibadah umroh… Malulah kita yang diberi kelebihan materi jika kalah dengan niat kuat pak Min untuk beribadah umroh…

Perjalanan Jakarta-Madinah ditempuh dalam waktu 9 jam. Yang menarik, karena perjalanan pada siang hari dan menuju ke barat, maka waktunya menjadi siang terus dalam perjalanan. Kami berangkat pukul 8:50 WIB dan mendarat di Bandara Madinah pada pukul 14.00 waktu setempat. Yang agak kurang nyaman di pesawat Saudia Airlines adalah pengaturan tempat duduk yang kayaknya urut abjad atau entah bagaimana, sehingga antar keluarga atau pasangan suami istri bisa duduk terpisah jauh. Walau dimungkinkan untuk bertukar tempat duduk setelah di pesawat, tapi tentu itu tidak mudah jika tidak ada yang mau bertukar. Mbak dan mas pramugarinya juga kayanya agak kesal kalau penumpangnya pada seliweran di dalam pesawat mencari keluarga atau rombongannya… Tapi untunglah, ternyata penumpang di sebelahku pindah karena mau mendekati keluarganya dan ada tempat duduk yang kosong, sehingga aku bisa minta suami untuk duduk di sebelahku selama dalam perjalanan ke Madinah.. Alhamdulillah…

Madinah al munawarah : Raudhah

Suhu udara sekitar 34 derajat celcius menyambut kami di Madinah. Cuaca kering dan panas segera terasa walau sudah kami duga sebelumnya. Setelah melalui antrean panjang di imigrasi, akhirnya kami dibawa menuju hotel menggunakan bus. Oya,.. masalah antrean adalah salah satu yang harus disiapkan secara mental hehe… mau makan antre, ke toilet antre, masuk dan keluar masjid antre.. Hotel kami yaitu Al Eiman Taibah cukup nyaman dengan jarak sekitar 250 m dari masjid Nabawi.

Di masjid Nabawi menjelang dhuhur, payung terbuka menaungi

Di masjid Nabawi menjelang dhuhur, payung terbuka menaungi

Akhirnya untuk pertamakalinya di Madinah aku menginjakkan kaki di masjid Nabawi lagi untuk sholat maghrib.. (dulu pernah ke sini pada saat berhaji tahun 2005). Ada rasa haru menyeruak dan matapun membasah.. Begitu besar rasa syukurku masih diijinkanNya kembali menginjakkan kaki pada Masjid indah dan megah peninggalan Rasulullah SAW.. Masjidnya besar dan indah, dengan banyak pilar-pilar di luarnya yang pada siang hari akan terbuka menjadi payung yang menaungi dari teriknya matahari Arab. Air zam-zam melimpah di dalam gentong-gentong plastik di dalam masjid dan bisa diminum kapanpun dan berapapun.. Keutamaan masjid Nabawi adalah nilai pahalanya yang 1000 kali jika beribadah di tempat ini dibandingkan dengan di tempat lain (kecuali Masjidil Haram yang 100.000 kali). Berada bersama ribuan orang dari berbagai penjuru dunia membuat diri merasa sangat kecil tak berdaya.. Masjidnya besaar.., jika sudah masuk ke dalam harus nambah doa supaya tidak batal wudhu atau pengen pipis hehe… karena kalau batal harus keluar lumayan jauh di toilet-toilet yang ada di halaman masjid…

Di antara semua tempat di Masjid Nabawi, ada satu tempat favorit di Masjid Nabawi yang menjadi rebutan banyak orang untuk dikunjungi, yaitu Raudhah. Apa sih istimewanya? Raudhah dalam bahasa Indonesia adalah taman, yang maksudnya adalah taman Syurga atau taman Nabi. Dulunya, Raudhah merupakan ruang di antara mimbar dan kamar rasulullah SAW di dalam Masjid Nabawi. Raudhah merupakan tempat dengan luasan berukuran 22 x 15 m, bersebelahan dengan makam Nabi SAW, yang diimani sebagai tempat yang mustajab untuk berdoa. Rasulullah bersabda: “Antara mimbarku dan rumahku merupakan taman dari taman-taman syurga” (HR. Al Bukhari & Muslim). Saat ini Raudhah ditandai dengan karpet berwarna hijau, yang membedakannya dengan area masjid Nabawi yang lain yang berkarpet merah. Di sana kita bisa sholat sunnah atau berdoa.

Tidak mudah untuk mendapat giliran masuk Raudah terutama bagi wanita, karena dibatasi oleh waktu-waktu tertentu, yaitu pada pagi hari jam 8 – 10 pagi, siang sehabis dhuhur sampai jam 15, dan malam selepas isya sampai tengah malam. Itu pun harus bergiliran dengan ratusan atau bahkan ribuan jamaah yang lain, sampai-sampai petugas di Masjid Nabawi menerapkan giliran berdasarkan negara asal untuk masuk ke sana. Alhamdulillah, aku mendapatkan dua kali kesempatan masuk, sekali di waktu dhuha, sekali lagi di tengah malam. Bisa sholat dan berdoa di Raudhah, wuih..jangan tanya apa yang kurasakan…. nangis bombay deh… memohon segala macam sama Allah… Bicara tentang doa, menurutku tempat yang mustajab adalah salah satu faktor saja dari terkabulnya doa kita. Yang utama adalah iman, keyakinan, kesungguhan dan amal sholeh kita. Insya Allah, Ia akan tetap mengabulkan doa kita dari mana saja selama kita bersungguh-sungguh memohon dan meyakini kekuasaanNya.

Setelah tiga hari merasakan nikmatnya beribadah di Masjid Nabawi, akhirnya kami harus meninggalkannya untuk beralih ke Mekkah. Kami sempat juga mengunjungi beberapa tempat bersejarah di sekitar Madinah, seperti Masjid Quba dan Jabal Uhud, serta beberapa tempat menarik seperti Jabal magnet dan Kebun Kurma. Oiya, makanan di hotel enak-enak dan berselera Indonesia. Aku terpaksa gagal ber-diet karena harus jaga kesehatan …( alasan hehe…)

Mekkah Al Mukaromah : MERS

Perjalanan ke Mekkah kami mulai pada hari keempat pada siang hari selepas dhuhur. Bapak-bapak sudah diminta mengenakan kain ihrom karena kami akan langsung menuju Bir Ali untuk mengambil miqot (batas mulainya) untuk umroh. Perjalanan Mekkah – Madinah cukup melelahkan menggunakan bus selama 6 jam. Jalannya lurus dan datar, dengan pemandangan bukit-bukit batu yang tandus dipadu dengan hamparan tanah pasir. Kalau sudah begitu jadi teringat tanah air yang ijo royo-royo… alangkah bersyukurnya hidup di Indonesia yang subur makmur…

Yang menarik, sepanjang perjalanan dan termasuk di sekitar Mekkah nantinya, aku tidak menemui seekor onta-pun. Padahal mahluk yang satu ini adalah bisa dibilang simbol kota-kota di Arab. Kalau belum ketemu onta rasanya belum sampai ke Arab hehe… Yah, hal ini terkait dengan mewabahnya MERS yang disebut-sebut cukup ganas dan mematikan. Apakah MERS itu?

MERS adalah singkatan dari Middle East Respiratory Syndrome (MERS), yang merupakan penyakit berupa sekumpulan gejala gangguan pernafasan akibat infeksi virus. Adanya penyakit ini pertama kali dilaporkan di Arab Saudi pada tahun 2012. Penyakit ini disebabkan oleh sejenis virus korona yang dinamakan MERS-CoV. Pasien yang mengalami infeksi virus ini mengalami gangguan pernafasan yang berat/parah. Gejalanya adalah demam tinggi, batuk-batuk, dan sesak nafas. Lebih dari 30% pasien yang dipastikan terinfeksi virus ini meninggal karenanya. Karena diduga penyebarannya adalah melalui onta, maka selama di Arab kami dijauhkan dari onta. Jadi ngga bisa narsis sama onta deh….hehe… Tulisan tentang MERS telah aku sajikan tersendiri dalam satu tulisan khusus.

Masjidil Haram

Dari masjid Bir Ali untuk mengambil miqot (batas awal dimulainya ibadah umroh/haji) kami teruskan perjalanan dengan bus, dan sampai di Mekkah pada pukul 21:00 malam. Hotel Mira Ajyan menjadi tempat penginapan selama di Mekkah, yang jaraknya sekitar 300 m dari Masjidil Haram. Setelah makan malam dan beres-beres koper, pukul 23:00an kami berangkat ke Masjidil Haram untuk menjalankan ibadah umroh (thawaf, syai, dan tahallul). Kembali rasa haru tak terbendung saat memandang Masjidil Haram yang megah dengan Kabah di dalamnya.. Bersyukur sekali bisa menginjakkan kaki lagi di Baitullah.. Ibadah lengkap selesai sekitar pukul 03:00 dini hari, dilanjutkan i’tikaf sambil menunggu waktu sholat shubuh.. Hadehh… lumayan tepar juga.. entah berapa kilometer kami berjalan untuk thawaf dan sa’i, dll… tapi nikmatnya luar biasa… tenang, adem, penuh syukur dan kepasrahan… Paginya kami terkapar lelah dan ngantuk sampai saatnya dhuhur. Kembali ke Masjid lagi pada saatnya sholat. Alhamdulillah, selama di Mekkah bisa selalu sholat berjamaah di masjidil Haram. Alhamdulillah juga, bahwa selama di Mekkah kami bisa melakukan 3 kali ibadah umroh dari miqot yang berbeda-beda, yaitu Tan’im, Bir Ali, dan Hudaibiyah.

Masjidil Haram saat ini masih dalam renovasi untuk perluasan masjid. Renovasi dilakukan secara bertahap agar tidak mengganggu jalannya ibadah umroh maupun haji, dan diperkirakan akan selesai pada tahun 2050. Kelak direncanakan bentuk Masjidil Haram akan seperti piringan dengan kabah sebagai pusatnya. Apakah nanti masih bisa menyaksikannya… wallahu a’lam… Yang jelas jamaah harus semakin hati-hati untuk tidak nyasar hehe.. karena dengan design sekarang pun sangat mungkin jamaah nyasar dan tidak tau jalan pulang karena masjidnya sangat besar dengan pintu-pintu keluar yang mirip satu sama lain..

Di Jabal Rahmah...

Di Jabal Rahmah…

Di sekitar Mekkah kami mengunjungi museum Kabah, padang Arafah dengan Jabal Rahmah-nya, Musdalifah, dan Mina. Di Jabal Rahmah turun sebentar untuk sekedar berfoto dan berdoa. Jabal Rahmah adalah bukit di bagian timur padang Arafah dan diyakini sebagai pertemuan antara Nabi Adam dan Siti Hawa setelah mereka dipisahkan dan diturunkan dari syurga oleh Allah selama bertahun-tahun setelah melakukan kesalahan dengan memakan buah khuldi yang terlarang. Banyak orang meyakini bahwa tempat ini sebagai tempat suci untuk menungkapkan keinginan dan hajat mereka terkait dengan keluarga. Misalnya ingin mendapat pasangan, dikarunia anak yang sholeh dan sholehah, atau berdoa agar keluarga yang dibangun Sakinah Mawaddah Warahmah. Namun sebenarnya tidak ada tuntunan khusus dari Rasulullah mengenai hal ini.

 

Kembali ke tanah air

Setelah empat hari di Mekkah, sampailah waktunya kembali ke tanah air. Di hari terakhir di Mekkah aku masih menyelesaikan satu kali umroh (thawaf, sa’i dan tahallul) dan sholat ashar berjamaah. Rasanya lega dan bersyukur sekali bisa menjalani ibadah dengan lancar sejak dari Madinah sampai Mekkah. Kondisi kesehatan juga tetap terjaga selama di sana. Sempat kuatir juga bahwa akan kedatangan “tamu bulanan” karena sudah hampir waktunya. Tanda-tandanya sudah terasa di Madinah. Akhirnya hanya bisa berdoa saja semoga diijinkan menyelesaikan semua rangkaian ibadah utama di Mekkah tanpa halangan. Alhamdulillah, sang bulan datang pas banget di malam terakhir di Mekkah. Agak gelo sedikit karena tidak sempat maghrib, isya, dan thawaf wada (perpisahan) di Masjidil Haram, tapi sudah bersyukur sekali semua ibadah utama telah terselesaikan. Semoga diterima oleh Allah SWT. amiien…

Pukul 6 pagi esoknya kami meninggalkan Mekkah menuju Jeddah untuk kembali ke tanah air. Rasa haru untuk berpisah dengan Kabah bercampur dengan rasa rindu dengan anak-anak di rumah.. Semoga bisa kembali lain kali bersama keluarga. Sebuah pengalaman tak tergantikan. Dan aku merasakan sekali bahwa ibadah umroh dan haji ini banyak melibatkan kegiatan fisik, terutama berjalan. Karena itu kesehatan yang prima sangat penting. Buat kawan-kawan muslim yang masih muda dan kuat, apalagi jika mampu, sebaiknya segerakan untuk menjalankan ibadah haji atau umroh. Jangan terlalu berhitung dengan biayanya, Insya Allah Dia akan menggantikan dengan yang lebih baik. Amiien…

Demikian sekadar dokumentasi perjalananku ke Tanah Suci. Semoga kelak bisa kembali lagi bersama keluarga. Amiien..





Wabah MERS yang bikin geger… apa dan bagaimana pencegahannya?

11 05 2014

Dear kawan,

Tulisanku hari ini di harian Tribun Yogya, aku sajikan kembali untuk kawan-kawan di blog ini. Dalam dua minggu terakhir ini, berita tentang wabah penyakit dan virus MERS menyebar cukup cepat di berbagai media masa, termasuk media sosial dan telekomunikasi, yang menyebabkan sedikit kepanikan di kalangan masyarakat. Belum lagi ditingkahi dengan berita-berita palsu (hoax) yang menyebutkan bahwa virus MERS sudah masuk ke Surabaya, bahkan Yogyakarta. Aku kebetulan berada di Arab Saudi pada kurun waktu tanggal 28 April – 6 Mei 2014 untuk menunaikan ibadah umroh, dan menjumpai bahwa situasi di sana seperti tidak terpengaruh dengan berita wabah MERS. Beribu-ribu orang dari berbagai penjuru dunia masih datang dan pergi ke Madinah dan Mekkah untuk menunaikan ibadah umroh. Kayaknya sih beritanya tidak seheboh di tanah air. Namun demikian, untuk kehati-hatian dan lebih jelasnya,  artikel kali ini akan membahas tentang apa itu wabah MERS dan virusnya, serta bagaimana pencegahannya.

Apakah MERS itu?

Virus Mers-CoV

Virus Mers-CoV

MERS adalah singkatan dari Middle East Respiratory Syndrome (MERS), yang merupakan penyakit berupa sekumpulan gejala gangguan pernafasan akibat infeksi virus. Adanya penyakit ini pertama kali dilaporkan di Arab Saudi pada tahun 2012. Penyakit ini disebabkan oleh sejenis virus korona yang dinamakan MERS-CoV. Pasien yang mengalami infeksi virus ini mengalami gangguan pernafasan yang berat/parah. Gejalanya adalah demam tinggi, batuk-batuk, dan sesak nafas. Lebih dari 30% pasien yang dipastikan terinfeksi virus ini dilaporkan meninggal karenanya. Sampai saat ini, semua kasus MERS yang dilaporkan terjadi pada 7 negara yang berada di semenanjung Arab, yakni Saudi Arabia, United Arab Emirates (UAE), Qatar, Oman, Jordan, Kuwait dan Yemen. Virus ini menyebar dari pasien yang terinfeksi pada orang lain melalui kontak yang dekat, terutama melalui cairan saluran nafas. Kasus pertama di Amerika dijumpai pada tanggal 2 Mei 2014, pada seorang pelancong yang berasal dari Arab Saudi. Hal ini menimbulkan kekuatiran bahwa penyakit ini telah menyebar ke berbagai negara lainnya, termasuk Indonesia. Negara kita memiliki kekuatiran tersendiri karena mempunyai jumlah jamaah umroh dan haji  terbanyak setiap tahunnya. Untuk kegiatan umroh sendiri, hampir setiap hari ada jamaah yang berasal dari Indonesia dalam jumlah cukup besar. Negara-negara lain yang telah menemui kasus MERS akibat perjalanan dari Arab Saudi antara lain adalah : Inggris, Perancis, Tunisia, Italia, Malaysia dan Amerika.

Apa gejala MERS?

Gejala MERS : demam, batuk, lemah, sesak nafas

Gejala MERS : demam, batuk, lemah, sesak nafas

Sebagian orang yang terinfeksi MERS-CoV mengalami gejala-gejala gangguan pernafasan berat, dengan demam tinggi, batuk-batuk, dan sesak nafas. Sebagian lain mungkin mengalami gejala yang ringan saja. Gejala-gejala ini mirip dengan gejala infeksi pernafasan lainnya akibat bakteri atau virus lain, sehingga untuk memastikan apakah ini MERS atau bukan, perlu dilakukan pemeriksaan terhadap spesimen atau cairan tubuh penderita apakah benar-benar mengandung virus MERS-CoV. Beberapa kasus dugan MERS di Indonesia hingga saat ini masih terbukti negatif terhadap virus MERS-CoV. Namun demikian, perlu kewaspadaan terutama pada orang-orang yang baru pulang dari Arab Saudi. Jika dalam 14 hari kepulangan mengalami gejala seperti di atas, sebaiknya segera dibawa ke RS dan diperiksakan dengan seksama.

Bagaimana penyebaran virus MERS-CoV?

Onta, sang tertuduh sementara sebagai penyebar virus MERS-CoV

Onta, sang tertuduh sementara sebagai penyebar virus MERS-CoV

Virus ini dapat menyebar dari satu orang ke orang yang lain melalui kontak fisik yang dekat. Apalagi jika terkena percikan ingus atau ludah dari penderita MERS. Belum diketahui dengan pasti dari mana virus ini berasal, tetapi dugaan terkuat adalah berasal dari binatang. Selain pada manusia, ternyata virus MERS-CoV dijumpai juga pada onta-onta di Qatar, Mesir dan Saudi Arabia. Mereka terbukti positif memiliki antibodi terhadap virus MERS-CoV, yang mengindikasikan bahwa onta-onta ini pernah terinfeksi virus MERS-CoV. Baru-baru ini, ahli virologi bernama Norbert Nowotny dan Jolanta Kolodziejek dari Institute of Virology menemukan bahwa virus yang menginfeksi pasien MERS dan virus pada onta yang berasal dari daerah yang sama dengan pasien memiliki rangkaian RNA yang hampir identik. Hal ini menunjukkan bahwa virus yang sama bisa menginfeksi onta maupun manusia. Namun menarik juga penemuan bahwa RNA virus korona dari daerah yang berbeda ternyata berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada strain coronavirus MERS yang spesifik pada onta. Tapi yang jelas, jenis virus korona  tersebut dapat menginfeksi baik onta maupun manusia, dan diduga bisa menyebar dari onta ke manusia.

Bagaimana mengobati MERS?

Belum ada obat khusus untuk penyakit MERS. Namun dapat diberikan terapi pendukung/suportif dan terapi untuk mengurangi gejalanya. Misalnya demamnya diberi obat turun panas, jika sesak diberi obat pelega nafas, oksigen,  dll, disesuikan dengan kondisi pasien. Tentu saja perlu untuk memperkuat daya tahan tubuh sehingga dapat turut melawan dan mematikan virus yang menginfeksi.

Bagaimana menghindari dan mencegah MERS?

Gunakan masker yang cukup tebal dan kuat

Gunakan masker yang cukup tebal dan kuat

Untuk menghindari MERS tentunya sebaiknya tidak bepergian dahulu ke negara-negara Arab, dan tidak bersentuhan atau kontak langsung dengan penderita MERS. Namun jika hal tersebut tidak memungkinkan dan tetap harus pergi, maka dapat dilakukan upaya-upaya pencegahan. Berikut adalah tips pencegahan MERS:

1. Cuci tangan dengan sabun dan air selama minimal 20 detik, dan bantu anak-anak untuk melakukan hal yang sama. Jika tidak tersedia sabun dan air, dapat digunakan hand sanitizer yang sekarang banyak dijual di toko-toko.

2. Tutup mulut dan hidung dengan tissue jika Anda bersin atau batuk, lalu buang tissue ke tempat sampah

3. Jangan menyentuh mata, hidung dan mulut dengan tangan yang kotor

4. Hindarkan kontak langsung seperti mencium, berbagi minuman, berbagi alat makan, dengan penderita

Untuk calon jamaah umroh atau haji yang akan mengikuti ibadah di tanah suci, kami sarankan:

1. Jaga kesehatan dengan makanan yang sehat. Tambahkan vitamin C dan suplemen untuk penguat sistem imun. Beberapa yang bisa dicoba antara lain isoprinosine (Immunovir atau merk lain) yang juga memiliki aktivitas anti virus, atau sediaan herbal yang mengandung Echinacea atau meniran (Phylantus niruri)

2. Jangan lupa menggunakan masker yang cukup tebal selama di sana. Siapkan lebih dari satu untuk bergantian ketika yang satu dicuci.

3. Jangan lupa cuci tangan sebelum atau sesudah makan. Siapkan hand sanitizer yang praktis untuk dibawa-bawa.

4. Sebaiknya lakukan vaksinasi influensa sebelum berangkat

5. Jangan berdekatan dengan onta. Virus MERS-CoV dijumpai paling tinggi pada cairan hidung dan mata onta. Jangan sampai terkena cairan tersebut. Selama berada di Mekah dan Madinah dalam kurun waktu tg 28 April – 6 Mei 2014, aku jarang sekali menjumpai onta yang berkeliaran. Menurut informasi, saat ini memang onta sedang dijauhkan dari pemukiman manusia di Arab Saudi. Sebelum wabah MERS, jamaah umroh sering diajak ke peternakan onta baik untuk sekedar mengambil gambarnya atau bahkan minum susu onta. Untuk kali ini hindarkan dahulu mengkonsumsi produk-produk onta. Tahan dulu keinginan narsis bersama onta hehe….

Demikian sekilas tentang wabah MERS dan virusnya, semoga tidak menjadi ketakutan yang berlebihan, namun tetap menjadi kewaspadaan untuk bisa terhindar dari wabah ini.





Steven-Johnson Syndrome : “alergi” obat yang seram…

20 01 2014

Dear kawan,

Tulisanku tentang Steven-Johnson Syndrome (SJS) di harian Tribun Yogya pada tanggal 19 Januari 2014 kemarin mengundang beberapa permintaan untuk menuliskan lagi topik itu di blog ini. Sebenernya aku sudah pernah menulis tentang topik ini di blog beberapa waktu lalu. (klik di sini). Tapi ngga ada salahnya aku tulis lagi tentang topik ini dengan tambahan cerita, dan sebagiannya sama dengan tulisan sebelumnya atau dengan yang tertulis di Tribun.

E-mail seorang selebritis

Suatu hari di bulan Januari 2013, hampir persis setahun yang lalu, sebuah e-mail masuk ke Blackberry-ku, dari seorang yang mengaku bernama Harry Kiss. Beliau menanyakan tentang SJS yang terjadi pada putranya. Atas seijin beliau, aku menceritakan tentang kasus putranya dan aku kutipkan e-mail pertamanya:

Selamat siang Mbak,

Anak saya nomor dua, adiknya Vidi Aldiano, kemarin itu demam, trus bibirnya penuh sariawan, Saya membaca artikel mbak tentang SJS, kayaknya gejalanya hampir sama, bibirnya bengkak dan sariawan dimana mana, Sekarang dia dirawat di RS Eka Hospital, apa yang harus saya lakukan..?

Salam

Harry Kiss

What??!!…. Vidi Aldiano? Bukannya itu nama artis penyanyi yang lagi ngetop? Dan ini berarti ayahnya Vidi Aldiano? Hmm.. antara percaya dan tidak, soalnya sekarang kan banyak hoax atau junk mail….. Tapi kalau melihat isi e-mailnya, kurasa aku tidak perlu mempedulikan apakah benar ini ayahnya Vidi Aldiano yang penyanyi itu atau bukan, … yang jelas pengirim e-mail memerlukan informasi mengenai SJS yang memang pernah aku tulis, dan beliau mungkin menemukan tulisanku saat sedang searching di internet…. Dan terlihat sekali beliau sangat cemas dengan keadaan putranya (yang akhirnya kutahu namanya Diva). Lalu aku balas e-mailnya.

Luka lepuh seperti sariawan di bibir Diva

Luka lepuh seperti sariawan di bibir Diva

Aku tanyakan apakah sebelum terkena SJS, Diva baru mengkonsumsi obat tertentu. Hal ini karena SJS adalah salah satu jenis reaksi tubuh, semacam alergi/hipersensitif yang cukup berat, terhadap adanya paparan, di mana obat merupakan salah satu pemicunya. Dalam kontak-kontak via e-mail berikutnya, aku mendapatkan info bahwa diduga kuat Diva mengalami SJS. Pak Harry juga mengirimkan gambar kondisi Diva dengan bibirnya yang penuh semacam sariawan. Juga info bahwa memang beberapa hari sebelumnya Diva sakit flu dan mendapat resep obat dari Dokter.

  Pak Harry mengirimkan juga resep tersebut. Aku mencoba menganalisis resep tersebut, dan aku jumpai bahwa ada beberapa obat dalam resep tersebut yang memang sering dikaitkan dengan kejadian SJS, antara lain kalium diklofenak  (Kaflam) dan parasetamol (Maganol).

Resep untuk Diva sebelum mengalami SJS

Resep untuk Diva sebelum mengalami SJS

Oya, karena agak penasaran dengan sosok Pak Harry Kiss, aku mencoba searching tentang beliau… dan ternyata benar beliau adalah ayahnya Vidi Aldiano. Dan beliau memiliki event organizer besar Harry Kiss Production (http://www.harrykiss.com/hkp/) yang sering dipakai untuk penyelenggaraan acara-acara di istana kepresidenan… :)

Apa sebenarnya Steven-Johnson Syndrome (SJS) ?

Mungkin sebagian masih asing dengan istilah penyakit ini. Penyakit ini sebenarnya memang jarang terjadi, namun nyatanya sesekali bisa dijumpai di sekitar kita. Gangguan ini sulit diprediksi sebelumnya. Yang lebih penting lagi, penyebabnya kadang adalah obat yang sering digunakan sehari-hari seperti obat turun panas parasetamol, obat penghilang rasa sakit golongan non-steroid, seperti diklofenak, piroksikam, juga antibiotika (yang paling sering golongan sulfa dan penisilin), dll. Tak kurang, FDA di Amerika pun telah memberi edaran peringatan untuk berhati-hati terhadap risiko terjadinya SJS oleh parasetamol/asetaminofen. (klik di sini)  Bisa dikatakan ini adalah salah satu bentuk “alergi” obat yang berat, namun berbeda dengan alergi yang biasa.

Syndrome sendiri artinya adalah sekumpulan gejala (symptom), di mana pada penyakit ini terdapat aneka gejala, mulai dari lesi merah di kulit, sariawan di rongga mulut, sampai luka lepuh di kulit dan alat genital, dll. Manisfestasi klinis gangguan SJS ini sangat bervariasi antar pasien, dari yang ringan sampai berat. Yang berat bisa cukup fatal dan mengakibatkan kematian, terutama jika terjadi komplikasi. Nama Steven-Johnson merujuk pada nama dua orang dokter, pak Steven dan Pak Johnson yang pertama-kalinya mengidentifikasikan adanya syndrome ini. Penyebabnya pada umumnya tidak diketahui dan sulit diprediksikan sebelumnya, namun pada umumnya merupakan respon imun tubuh yang berlebihan terhadap zat asing. Hampir seperti reaksi alergi, tetapi bentuknya khas dan lebih berat. Secara patofisiologi, mekanisme terjadinya alergi tidak sama dengan mekanisme SJS, dalam hal antibodi yang terlibat dan mediatornya. Jika reaksi alergi biasa melibatkan antibodi imunoglobulin E (IgE), SJS melibatkan IgG dan IgM dan merupakan reaksi imun yang kompleks. Beberapa obat dilaporkan dapat menyebabkan reaksi SJS, terutama adalah obat-obat anti inflamasi non steroid (NSAID) dan obat antibiotik golongan sulfa. Selain itu unsur makanan, cuaca, infeksi (jamur, virus, bakteri) juga diduga dapat merupakan faktor penyebab. Susahnya, reaksi ini sulit untuk diprediksi sebelumnya jika belum kejadian.

Bagaimana pengatasannya?

Tidak ada obat yang spesifik untuk mengatasi SJS, sehingga pengobatannya adalah berdasarkan gejala yang ada. Istilahnya diberi terapi suportif, untuk mendukung dan memperbaiki kondisi pasien. Jika keadaan umum pasien cukup berat, maka perlu diberi cairan dan elektrolit, serta kalori dan protein secara parenteral melalui infus. Karena infeksi juga merupakan salah satu penyebab SJS terutama pada anak-anak, maka diberi pula antibiotik dengan spektrum luas, yang kemudian dilanjutkan dengan antibiotik yang sesuai dengan kuman penyebab. Untuk menekan sistem imun, digunakan pula kortikosteroid, walaupun penggunaannya masih kontroversial, terutama bentuk sistemik. Contohnya adalah deksametason dengan dosis awal 1mg/kg BB bolus, kemudian selama 3 hari 0,2-0,5 mg/kg BB tiap 6 jam. Untuk gatalnya bisa diberi anti histamin jika perlu. Untuk perawatan lesi pada mata diberi antibiotika topikal. Kulit yang melepuh ditangani seperti menangani luka bakar. Lesi kulit yang terbuka dikompres dengan larutan saline atau Burowi. Lesi di mulut bisa dirawat dengan antiseptik mulut. Dan jika ada rasa nyeri bisa diberikan anestesi topikal. Semua terapi ini akan diberikan oleh dokter sesuai dengan kondisi dan kebutuhan pasien. Kesembuhan pasien sangat tergantung dari berat ringannya gejala yang muncul.

Pencegahannya?

Jika belum pernah terjadi, sulit untuk mencegahnya karena tidak bisa diprediksikan. Tetapi jika sudah pernah terjadi sekali saja, maka upayakan untuk mengenali faktor penyebab, dan sebisa mungkin menghindar dari faktor penyebab tersebut. Jika disebabkan karena obat, perlu dipastikan nama obat tersebut dalam nama generik, dan hindarkan penggunaan obat yang sama dalam berbagai nama paten yang ada. Jika perlu, tanyakan kepada apoteker macam-macam obat yang ada pada resep Anda. Contoh nama generik adalah parasetamol, dan obat ini bisa dijumpai dalam berbagai merk dagang, seperti : Panadol, Sanmol, Tempra, Thermorex, Paramex, Bodrex, dll. Kadang masyarakat tidak mengetahui nama generik obat dan hanya mengenal nama patennya sehingga hanya menghindari obat dengan nama paten tersebut, padahal bisa jadi obat pemicu SJS tersebut terdapat pula pada merk obat yang lain. Jika anda berobat ke dokter untuk suatu penyakit, sampaikan pada dokter bahwa anda sensitif dan pernah mengalami SJS dengan obat tertentu (sebut nama obatnya), agar dokter tidak meresepkan obat tersebut. SJS bisa saja terulang lagi jika terkena paparan bahan yang menjadi pemicu.

Bagaimana akhir cerita Diva?

Setelah beberapa hari dirawat dan mendapatkan terapi suportif serta untuk mengurangi gejala, Diva akhirnya sembuh dan boleh pulang. Untuk obat oles bibirnya, Diva mendapatkan resep berisi: Kemicitine 0.5, Prednison 0.05, Avil 0.25 , lanolin 2.5, vaseline ad 25. Kondisi Diva relatif tidak sangat parah, walaupun digambarkan oleh Pak Harry cukup “menyeramkan”. Sebagian pasien mungkin mengalami gejala yang lebih berat, seperti dialami oleh keluarga salah satu pembaca blog-ku, yang menceritakan bahwa ayahnya meninggal akibat SJS. Sebuah komentarnya menyatakan begini (aku kutipkan sesuai aslinya) : “Papa saya terserang penyakit SJS. Hanya 12 hari kemudian meninggal, dokter hanya bilang papa saya keracunan obat. Yang memang saya tau dia mengkonsumsi obat berupa jamu yang berasal dari China. Gejala awalnya berupa sariawan pada bibir kemudian telapak tangan dan kaki tumbuh gelembung air seperti cacar dan sangat sakit, setelah itu baru timbul kemerahan di sekujur badan hingga badannya mirip orang yang terluka bakar. Beberapa hari lalu saya sempat juga melihat acara TV Korea, ada beberapa orang yang terkena SJS yang di sebabkan terlalu seringnya mereka mengkonsumsi jamu tradisional Korea.”

Lesson learnt

Say Hello dari Manchester :)

Say Hello dari Manchester :)

Walaupun jarang terjadi, namun jika terjadi bisa fatal akibatnya. Maka berhati-hatilah untuk mengkonsumsi obat, termasuk jamu. Aku juga menyarankan pada Pak Harry via e-mail, agar jika suatu waktu Diva sakit dan berobat ke dokter, sampaikan bahwa Diva pernah mengalami SJS akibat obat tertentu, agar dokter bisa memilihkan alternatif terbaik untuk Diva. Buatku, banyak pengalaman yang bisa dipetik dengan berbagi ilmu di blog ini. Perkenalan dengan keluarga Vidi Aldiano merupakan satu pengalaman menarik juga. Sampai suatu saat ketika kami kontak via Whatsapp, keluarga mereka sedang berada di Manchester, dan Pak Harry mengirimkan foto mereka berdua (Pak Harry dan Vidi) ketika di Manchester, Inggris, dengan bertuliskan ” Bu Zullies Ikawati, apa kabarnya?”…. Aku tak peduli walaupun jelas itu foto editan, yang penting bukan aku yang ngedit lohhehe… suatu kreativitas dan sapaan yang penuh kekeluargaan…

Demikian sekedar berbagi tentang SJS, semoga bermanfaat…





Memilih obat asma: oral atau inhalasi?

25 12 2013

Dear kawan,

tulisan kali ini adalah re-publish tulisanku yang dimuat di Harian Tribun edisi tg 23 Desember 2013, dengan harapan terjangkau lebih luas bagi pembaca….

Perbandingan saluran nafas normal dan saat serangan asma

Perbandingan saluran nafas normal dan saat serangan asma

Asma merupakan salah satu penyakit saluran nafas yang banyak dijumpai, baik pada anak-anak maupun dewasa. Kata asma (asthma) berasal dari bahasa Yunani yang berarti “terengah-engah”. Lebih dari 200 tahun yang lalu, Hippocrates menggunakan istilah asma untuk menggambarkan kejadian pernafasan yang pendek-pendek. Manifestasi penyakit asma sangat bervariasi dalam hal keparahannya. Sekelompok pasien mungkin bebas dari serangan dalam jangka waktu lama dan hanya mengalami gejala jika mereka berolahraga atau terpapar alergen atau terinfeksi virus pada saluran pernafasannya. Pasien lain mungkin mengalami gejala yang terus-menerus atau serangan akut yang sering. Pola gejalanya juga berbeda antar satu pasien dengan pasien lainnya. Misalnya, seorang pasien mungkin mengalami batuk hanya pada malam hari, sedangkan pasien lain mengalami gejala dada sesak dan bersin-bersin baik siang maupun malam. Selain itu, dalam satu pasien sendiri, pola, frekuensi, dan intensitas gejala bisa bervariasi antar waktu ke waktu.

Bagaimana pengobatan asma ?

Karena manifestasi klinis asma bervariasi, ada yang ringan, sedang dan berat, maka pengobatannya harus disesuaikan dengan berat ringannya asma. Asma ringan mungkin cukup diobati pada saat serangan, tidak perlu terapi jangka panjang, sedangkan asma yang sedang sampai berat perlu dikontrol dengan pengobatan jangka panjang untuk mencegah serangan berikutnya.

Jadi, berdasarkan penggunaannya, pengobatan asma ada dua macam, yaitu pengobatan saat serangan/kambuh (obat pelega) dan pengobatan jangka panjang (obat pencegah atau pengontrol serangan). Obat pengontrol harus dipakai setiap hari untuk mencegah kekambuhan, dan biasanya diperlukan oleh pasien asma yang berat dimana kekambuhan terjadi hampir setiap hari.

Obat pelega saluran nafas biasanya memiliki aksi yang cepat untuk melonggarkan saluran nafas. Contohnya adalah salbutamol, terbutalin, ipratropium bromide dan teofilin/aminofillin. Salbutamol merupakan golongan obat beta agonis yang aksinya cepat, dan banyak dijumpai dalam berbagai bentuk sediaan. Ada yang berbentuk tablet, sirup, atau inhalasi. Untuk mengatasi serangan asma, obat ini merupakan pilihan pertama. Dalam bentuk inhalasi, salbutamol tersedia dalam bentuk tunggal (contoh: Ventolin), atau dalam bentuk kombinasi dengan ipratriopium bromid (contoh: Combivent). Dalam bentuk sirup, salbutamol sering dikombinasikan dengan obat pengencer dahak. Terbutalin hanya dijumpai dalam bentuk sediaan obat minum (sediaan oral), sedangkan aminofilin dijumpai dalam bentuk injeksi. Teofilin tersedia dalam bentuk tablet atau sirup, biasanya dikombinasi dengan obat lain seperti efedrin (contoh: Neo Napacin, Asma Soho) atau salbutamol (Teosal). Semua obat-obat di atas harus diperoleh dengan resep dokter, kecuali untuk obat kombinasi teofilin dan efedrin, dapat diperoleh tanpa resep.

Obat-obat pengontrol yang digunakan untuk pengobatan jangka panjang meliputi inhalasi steroid, b2 agonis aksi panjang, sodium kromoglikat atau kromolin, nedokromil, modifier leukotrien, dan golongan metilksantin. Obat-obat untuk penggunaan jangka panjang sebaiknya menggunakan bentuk inhalasi, karena efek samping sistemiknya lebih kecil daripada jika diberikan dalam bentuk oral/obat minum. Contoh obat yang digunakan untuk terapi jangka panjang adalah inhalasi kombinasi budesonide dan formoterol (contoh: Symbicort) dan kombinasi salmeterol dan flutikason (contoh : Seretide). Bentuknya bermacam-macam, ada yang disebut inhaler, diskhaler, turbuhaler, yang dibedakan dari cari penggunaannya. Obat ini relatif aman dipakai jangka panjang untuk mengontrol asma yang berat. Obat lain yang diindikasikan untuk pencegahan asma adalah ketotifen (suatu anti alergi), teofilin lepas lambat, dan sodium kromoglikat/nedokromil. Namun obat-obat yang terakhir ini adalah pilihan kedua jika pilihan pertama tidak ada atau tidak berefek. Obat ketotifen (contoh: sirup Profilas) kurang direkomendasikan dalam pencegahan asma karena bukti klinisnya belum cukup kuat, sementara teofilin juga perlu hati-hati dalam penggunaannya karena efek sampingnya cukup banyak (jantung berdebar, insomia, mual muntah, dll) dan mudah mencapai dosis toksiknya.

Sediaan oral versus inhalasi?

Bentuk sediaan inhalasi

Bentuk sediaan inhalasi

Idealnya, obat-obat untuk asma diberikan secara inhalasi, artinya dihirup melalui mulut. Bentuknya bisa suatu aerosol atau serbuk kering. Keuntungan sediaan inhalasi adalah lebih cepat mencapai sasaran (yaitu di saluran nafas) dibandingkan obat minum yang harus “jalan-jalan” dulu melalui lambung, usus, pembuluh darah dan baru mencapai targetnya di bronkus/saluran nafas. Dengan demikian efeknya lebih cepat diperoleh dan dosis yang digunakan jauh lebih kecil daripada bentuk obat minum. Ini sangat penting terutama pada serangan akut yang membutuhkan efek pelega yang cepat.

Selain itu, keuntungan lainnya adalah efek sampingnya yang relatif kecil. Karena digunakan secara lokal di saluran nafas dan sedikit sekali yang masuk ke peredaran darah, maka efek sampingnya ke organ lain menjadi lebih kecil. Hal ini penting terutama untuk obat-obat yang harus dipakai jangka panjang sebagai pencegah kekambuhan asma. Apalagi jika obatnya jenis steroid, jika diberikan secara oral/obat minum dalam jangka panjang, maka banyak efek samping yang bisa muncul seperti moon face, diabetes, osteoporosis, hipertensi, mudah infeksi, dll. Demikian pula obat asma lain, jika diberikan dalam bentuk obat minum, efek sampingnya lebih besar daripada bentuk inhalasi.

Namun demikian, kelemahan obat inhalasi adalah harganya yang masih mahal bagi sebagian kalangan masyarakat dan memerlukan teknik penggunaan tersendiri yang harus dikuasai oleh pasien. Penggunaan meter-dose inhaler (MDI) misalnya, memerlukan koordinasi yang pas antara menghirup dan menekan obatnya. Bagi anak-anak atau orang usia lanjut yang sudah gemetaran sering kali mengalami kesulitan menggunakan MDI. Untuk itu, jika Anda mendapatkan obat bentuk ini, pastikan Anda benar menggunakannya. Tanyakan apoteker untuk cara penggunaan yang benar dan berlatihlah. Kalau salah menggunakan, maka tujuan terapi mungkin tidak tercapai alias asmanya tidak terkontrol. Bentuk lain dari inhaler adalah bentuk nebulizer, yang lebih mudah penggunaannya, namun memerlukan alat tertentu yang masih mahal juga harganya.

Karena harga bentuk sediaan inhaler yang masih relatif mahal bagi kalangan tertentu, banyak masyarakat yang memilih sediaan obat yang diminum. Ada beberapa merk obat bebas terbatas yang ditujukan untuk asma. Umumnya mereka berisi kombinasi teofilin dan efedrin. Secara teori dari banyak penelitian, kombinasi teofilin dan efedrin bukanlah pilihan pertama untuk melegakan asma. Tetapi boleh saja digunakan selama Anda memang mendapatkan manfaat dari obat ini. Tetapi waspadalah terhadap efek samping yang bisa terjadi, apalagi jika penggunaannya tidak dibatasi. Sebaiknya pastikan dahulu keparahan asma Anda melalui pemeriksaan dokter, agar bisa diberikan obat yang paling tepat.





Catatan perjalanan: Petualangan seru di Pulau Jeju

28 11 2013

Dear Kawan,

Jeju island

Jeju island

Pernah mendengar nama Pulau Jeju di Korea Selatan? Pulau ini adalah salah satu pulau terindah di dunia, dengan banyak pemandangan alam yang mempesona, dan bahkan beberapa keindahan alamnya menjadi bagian dari 7 keajaiban alam di dunia (7 wonder of nature). Beberapa film Korea mengambil alam Jeju sebagai setting dalam filmnya. Alhamdulillah, aku beruntung mendapat kesempatan untuk menginjakkan kaki ke sana dan menikmati keindahannya. Kesempatan ini tentu tidak datang dengan sendirinya, tetapi perlu diperjuangkan.. Sebuah even yaitu Asian Federation of Pharmaceutical Science (AFPS) Conference 2013 menjadi “kendaraan”nya. Tanpa mengikuti acara semacam konferens atau seminar dengan presentasi oral, tentu tidak akan bisa mendapatkan bantuan biaya transportasi dan akomodasi. Kalau mau berangkat dengan biaya sendiri, apalagi dengan mengajak keluarga,…hmm… berat di ongkos, boo….!!  Apa harus korupsi dulu atau merampok bank? Hehe…

Well,.. singkat cerita, setelah abstrak untuk presentasi oral diterima oleh panitia, lalu mengurus berbagai dokumen di universitas, termasuk urusan paspor dinas dan surat ijin Setkab, akhirnya berangkatlah aku ke Jeju melalui Seoul. Kami dari Fakultas Farmasi UGM berangkat bertiga, yaitu dengan Bu Triana dan Pak Kharis. Tentu tujuan mulianya adalah untuk mendiseminasikan hasil penelitian kami di even regional/internasional untuk meningkatkan rekognisi Fakultas maupun Universitas, serta bisa menyerap ilmu dari para peneliti lain di belahan bumi yang berbeda… ciee…!! Tapi yang ngga kalah penting adalah “side-effect”-nya yaitu bisa jalan-jalan menjelajahi bumi Jeju di Korea hehe….

Perjalanan

Perjalanan dari Jogja ke Jeju memakan waktu total 26 jam terhitung sejak aku keluar rumah sampai menjejakkan kaki di Pulau Jeju. Whats??!!  Selama itu kah penerbangannya?…. Tentu tidak. Rute yang kutempuh dari Jogja ke Jeju adalah Jogja – Jakarta – Incheon (Seoul) – Jeju. Lumayan panjang, dan itu salah satu alternatif yang cukup convenient. Penerbangan dengan Garuda dari Jakarta ke Seoul dijalani dengan penerbangan malam, pukul 23.30, dan mendarat sekitar pukul 08.30 waktu Seoul. Penerbangan lanjutan ke Jeju adalah pukul 19.00, jadi kami punya waktu hampir seharian di Seoul. Sebenarnya ada penerbangan yang lebih awal ke Jeju, tetapi harus pindah ke bandara domestik Gimpo. Aku sengaja memilih penerbangan yang lebih malam saja, supaya bisa memanfaatkan waktu jeda menunggu untuk melancong ke Seoul, lagipula tidak perlu pindah bandara.

Salah kostum

Yang kurang tepat aku prediksikan adalah suhu udara di Seoul yang ternyata sekitar 1 derajat Celcius. Wah, salah kostum deh… karena aku hanya bawa sweater-sweater yang ngga terlalu tebal. Setelah aku cek lagi di peta, aku baru sadar bahwa Seoul itu berada cukup utara, yakni di garis lintang 37,28 Lintang Utara, kira-kira sejajar dengan Sendai di Jepang. Jadi maklumlah kalau suhu di awal musim dingin ini cukup dingin. Selama ini yang aku cek adalah perkiraan suhu di Jeju yang katanya berkisar 8-10 derajat. Jeju berada di garis lintang 33,30 Lintang Utara, hampir sejajar dengan Matsuyama Jepang (tempat aku belajar sewaktu S3 dulu), yang cuacanya memang lebih mild. Akhirnya untuk mengatasi suhu dingin, aku pakai sweater dobel-dobel..

Petualangan pertama : Insa-dong (Seoul)

Menanti bus no 6011 menuju Anguk

Menanti bus no 6011 menuju Anguk

Kalau biasanya jika aku melakukan perjalanan keluar kota sudah ada panitia yang mengantar ke tempat-tempat menarik, perjalananku kali ini banyak unsur petualangannya hehe… Membaca peta, baca buku panduan, dan tanya-tanya orang ketika mau menuju suatu tempat, sungguh cukup menantang. Terus terang persiapanku mempelajari Korea sangat mepet karena bahkan sampai hari terakhir sebelum berangkatpun masih harus menyelesaikan berbagai pekerjaan: review paper utk jurnal, kejar deadline laporan penelitian, bikin soal-soal ujian, sampai assesmen sertifikasi dosen. (Tau nggak, aku bahkan menyelesaikan assesmen sertifikasi dosen secara online di bandara Incheon Seoul hehe… buka rahasia nih… Untungnya koneksi internet sangat bagus. Wifi ada di mana-mana). Repotnya, tulisan di sana kebanyakan pakai tulisan Korea yang kriting-kriting itu, dan juga banyak dari mereka yang tidak fasih berbahasa Inggris. Tapi ga papa deh… the show must go on hehe..!!

Setelah kami baca-baca bentar pada buku Korea Travel Guide waktu leyeh-leyeh di bandara Incheon, kami tertarik dengan deskripsi tentang Insa-dong. Disebutkan bahwa Insa-dong adalah daerah dengan traditional culture of Korea dan tempat yang tepat bagi visitors yang pertama kali datang ke Korea untuk melihat aspek tradisional Korea. Lalu kami tanya ke Tourist information center bagaimana caranya untuk pergi ke sana. Ternyata cukup mudah, yaitu dengan bus Airport Limousine nomer 6011, dan turun di Anguk bus station. Tiket seharga 10.000 won jurusan Anguk dapat dibeli di counter tiket di airport, atau langsung dibayar di bus. Akhirnya dengan pake  sweater dobel, kami (aku berdua dengan bu Triana) siap-siap menembus dinginnya Seoul menuju Insa-dong. Aku sempat terkesan dengan sistim pembayaran tiket yang ada di bus, baik selama di Seoul maupun nanti di pulau Jeju. Penumpang bisa bayar dengan berbagai cara, berupa beli tiket, atau bayar cash, pakai kartu elektronik, atau bahkan dengan smart phone yang tinggal ditempelkan pada suatu alat semacam scanner di bus. Keren deh…!

Di Insa-dong dengan latar belakang toko-toko souvenir khas Korea

Di Insa-dong dengan latar belakang toko-toko souvenir khas Korea

Suhu dingin di Insa-dong cukup menusuk tulang, tanganku sampai beku karena tidak pakai kaos tangan, tapi hal itu tidak memudarkan semangat untuk berpetualang hehe… Setelah berhenti di Anguk station dan bertanya pada beberapa orang, sampailah kami ke Insa-dong. Di Insa-dong ada jalan tidak terlalu lebar, untuk pejalan kaki, yang dipenuhi dengan toko-toko souvenir tradisional Korea, lukisan, keramik, dll, termasuk juga beberapa restoran Korea. Wah, mata kami langsung jelalatan melihat aneka souvenir… mulai dari gantungan kunci, gunting kuku, dompet, tas, lukisan, kaos, dan aneka macam souvenir khas Korea lainnya. Aku harus berupaya keras menekan nafsu belanjaku hehe… di samping sangunya tidak banyak, konferens aja belum dimulai masa udah belanja duluan…

Di halaman istana

Di halaman istana Changyeonggung

Sepulang dari Insa-dong kami melewati sebuah bangunan tradisional, yaitu istana Changyeonggung. (Aduuh… paling susah menghafalkan nama Korea. Aku selalu terbalik-balik melafalkannya.) Sebenarnya kami tidak secara sengaja ke sana, tapi kebetulan saja sambil sekalian mencari bus station untuk kembali ke Incheon Airport. Istana ini banyak dikunjungi oleh para pelancong. Yang menarik, di depan istana ada 4 orang penjaga dengan pakaian kebesarannya, yang berganti-ganti posisi pada interval waktu tertentu. Kami tidak masuk ke sana sih, sekedar melihat dari halaman depan saja. Akhirnya kami balik ke Incheon sekitar jam 5 sore. Cukup senang bisa sampai Seoul, walau cuma sampai Insa-dong. Yang cukup repot di Seoul ini adalah mencari makanan yang halal dan tempat sholat. Untuk makan siang kami mencoba pancake seafood dan sop tofu. Dan tentu saja disajikan dengan kimchi… Lama-lama aku suka juga makan kimchi, padahal waktu di Indonesia membayangkan saja tidak suka…

Hari pertama di Jeju

Hotel Ramada Plaza di kejauhan

Hotel Ramada Plaza di kejauhan

Pesawat Asiana Airlines yang membawa kami ke Jeju terbang mulus dan mendarat di Jeju Airport pada jam 20:an waktu setempat. Sesuai dengan prediksi, suhu di Jeju tidak sedingin suhu Seoul. Kami langsung naik taksi menuju hotel Ramada Plaza tempat conference akan diselenggarakan, sekaligus tempat kami menginap. Sopir taksinya cukup ramah, menanyakan kami dari mana. Yang menarik, setelah tahu kami dari Indonesia, dia sempat menanyakan tentang GDP (gross domestic product)  Indonesia. (Waduuh, maap pak Sopir, aku ngga pernah mikirin…. yang jelas pastinya jauh deh di bawah Korea Selatan hehe…) Hotelnya sendiri cukup bagus dan berlokasi di pinggir laut. Ditawarkan kamar dengan ocean view atau mountain view. Tapi aku memilih kamar dengan mountain view saja, karena harganya lebih murah. Maklum harus berhemat-hemat karena biaya hidup di Korea cukup tinggi. Malam itu kami langsung terkapar dengan pasrah karena kelelahan setelah perjalanan dan jalan-jalan cukup panjang….

Awal musim dingin di Jeju membuat agak disorientasi waktu. Jam 6:30 pagi masih terlihat gelap seperti masih malam. Akhirnya kami memutuskan sholat shubuh pada pukul 5 saja seperti di Indonesia. Hari pertama di Jeju kami terbangun agak siang setelah tidur lagi seusai sholat shubuh. Karena acara pembukaan baru akan dimulai jam 13, pagi menjelang siang kami memutuskan untuk mengeksplorasi tempat konferens sekaligus registrasi dan melihat-lihat sekitar hotel. Di area konferens untuk registrasi, kami bertemu dengan delegasi Indonesia yang lain, yaitu dari Unpad (Univ Padjajaran) dan dari UI (Universitas Indonesia). Cukup surprised juga ketika pertama kali bertemu dengan Prof Yahdiana dari UI, beliau menyapa..” Ini bu Zullies, kan.?”….hehe.. agak ngetop juga rupanya… Area konferens ada di lantai 2 hotel dan menghadap ke arah lautan sehingga pemandangan keluar terlihat cantik. Banyak panel-panel poster yang sudah mulai dipasang di lobby, sehingga kita bisa menikmati poster sambil melihat laut luas hehe…

Setelah registrasi dan melihat-lihat tempat konferens, kami keluar hotel untuk mengeksplorasi sekitar hotel. Yang penting adalah nambah beli minuman dan makanan buat makan siang.  Sampailah kami di E-mart, sebuah department store yang merupakan jaringan retail tertua dan terbesar di Korea.  Setelah cukup berkeliling, kami terdampar di sebuah toko souvenir khas Jeju. Biasalah… mata langsung jelalatan mencari berbagai barang menarik yang bisa dijadikan oleh-oleh sambil menghitung-hitung isi kantong. Beruntung penjualnya seorang wanita muda yg ramah dan bisa berbahasa Jepang. Akhirnya berbekal bahasa Jepang sepotong-potong, aku mencoba nawar dan lumayanlah… beberapa item dapat harga lebih murah dan dapat bonus..  Untuk makan siang kami agak sulit mencari makanan yang bisa dimakan, akhirnya cukuplah makan dua potong onigiri isi tuna dan mayonaise. Gitu aja sudah alhamdulillah…

AFPS Conference 2013

Jam 13 waktu setempat acara pembukaan AFPS Conference 2013 dimulai. Acaranya cukup meriah diwarnai dengan penampilan tradisional Korea berupa tarian dengan menabuh semacam genderang. Jangan dibayangkan ada snack tersedia di lobby seperti kebiasaan acara-acara seminar di Indonesia.  Tapi lumayanlah tersedia teh dan kopi yang bisa diambil self-service. Setelah pembukaan dilanjutkan dengan acara plenary lecture yang disampaikan oleh Kazuhide Inoue, PhD dari Kyushu University Japan,  yang menyampaikan tentang “ P2X4 blockers: new drugs for neuropathic pain”.  Terus terang, aku hanya bisa memahami sepotong-sepotong saja..hehe….

AFPS Conference kali ini adalah yang ketigakalinya diselenggarakan oleh Federasi Ilmuwan Farmasi Asia alias AFPS ini. AFPS conference sebelumnya diselenggarakan di Jepang dan Kuala Lumpur. Pesertanya adalah para ilmuwan/penelitia bidang kefarmasian se-Asia. Untuk konferens kali ini, terdapat 313 peserta presentasi poster dan 24 peserta presentasi oral. Adapun sesi saintifiknya terbagi dalam beberapa bidang, yaitu Physical Pharmacy & Formulation Design, Biotechnology & Drug Delivery, Drug Design & Development,  Regulatory Science & Policy, Biopharmaceutics, Pharmacokinetcs & Metabolism, Pharmaceutical Manufacturing Technology, dan Pharma convergence.  Menurut informasi, AFPS conference mendatang akan diselenggarakan di Thailand pada tahun 2016, dan di Indonesia pada tahun 2019.

Performance tradisional Korea saat opening ceremony

Performance tradisional Korea saat opening ceremony

Sesame seed coated tuna tataki eith tomato salsa and mango dressing...

Sesame seed coated tuna tataki with tomato salsa and mango dressing…

Malamnya kami mengikuti banquet dinner yang cukup meriah..  Sayangnya aku tak pernah nonton film atau memperhatikan artis/penyanyi Korea… Jadi ketika ada penampilan penyanyi Korea dalam dinner tersebut, aku ngga kenal sama sekali. Makanan pada banquet dinner semuanya unik-unik dengan nama yang tak biasa. Sebagai contoh saja, makanan pembuka adalah “Sesame Seed Coated Tuna tataki with Tomato Salsa and Mango Dressing”… Opo maneh kuwi? Hehe… Menu lainnya adalah : Curried cauliflower and potato cream soup with croutons, Garden green salad with kiwi dressing, dan Grilled beef tenderloin steak with pepper sauce. Pulang dinner rasanya kurang kenyang hehe… karena makanannya terlalu ringan-ringan… Indah di mata, tapi kurang kenyang di perut…

Petualangan kedua : Seongsan Ilchulbong peak

Seongsan Ilchulbong dilihat dari atas

Seongsan Ilchulbong dilihat dari atas

Pada malam hari pertama itu, sepulang dinner menjelang tidur, kami mencoba mempelajari Travel guide Jeju dan melihat peta, untuk mencari tempat mana yang akan kami kunjungi besok. Serius banget deh mempelajarinya, melebihi persiapan presentasinya hehe… Karena jadwal presentasi kami kebetulan sore hari, paginya akan kami gunakan untuk menjelajahi Jeju. (Salahnya Panitia kenapa membuat acara konferens di tempat yang terlalu indah, jadi pesertanya pada kabur semua hehe… maap). Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Seongsan Ilchulbong, sebuah bentukan geologis seperti kerucut dengan puncak yang cekung, yang terbentuk dari letusan hidrovolkanik di atas dasar laut dangkal, sekitar 5 ribu tahun yang lalu. Terletak di pesisir timur Pulau Jeju, tingginya sekitar 182 meter. Seongsan Ilchulbong, yang dikenal juga dengan nama “sunrise peak” ini, ditetapkan UNESCO sebagai salah satu “7 wonder of nature” di dunia.

Pagi itu kami berangkat dari hotel jam 7  menuju Jeju inter-city bus station dengan taksi dengan ongkos 4300 won. Selanjutnya kami tanya ke penjual tiket untuk bus jurusan Seongsan Ilchulbong. Syukurlah, kami segera mendapat bus jurusan nomer 700 untuk menuju Seongsan dengan harga tiket 3000 won. Semula sopir taksi yang membawa kami menawarkan untuk mengantar ke Ilchulbong dengan biaya 60.000 won pulang pergi, katanya lebih cepat daripada bus. Tapi kami kepengen berpetualang naik bus saja, karena niatnya memang ingin melihat sekeliling.  Bus membawa kami menuju Seongsan dengan menyusuri pesisir utara pulau Jeju. Pemandangan indah segera terhampar di sepanjang perjalanan, sesekali kami melihat hamparan laut biru di kejauhan. Sebenarnya cukup banyak tempat-tempat yang bisa dikunjungi sepanjang perjalanan itu, tapi dengan waktu yang terbatas, kami tidak bisa memilih terlalu banyak. Setelah menempuh perjalanan sekitar 1,5 jam, sampailah kami di Seongsan bus station.

Setelah tengak-tengok sekeliling, akhirnya kami menemukan petunjuk jalan menuju Ilchulbong. Harga tiket masuknya 2000 won. Wow… kami langsung terpesona dengan keindahan alamnya… Sebuah jalan selebar 2 meter berundak-undak yang panjang terbentang berkelak-kelok menuju puncak kubah Ilchulbong yang bertinggi 182 meter.  Banyak wisatawan yang melancong kesana, dan tempat ini memang salah satu tempat kunjungan favorit di Jeju. Pelan-pelan kami menyusuri jalan berundak sambil sesekali berhenti kecapekan. Wah,.. terasa banget buat aku yang jarang olah raga, baru beberapa tangga sudah terengah-engah. Namun dengan semangat yang tinggi, sampai juga kami mencapai puncaknya. Apalagi pemandangan dari atas sangatlah indah… hamparan rumah, laut, bukit karang, membentuk lukisan alam yang mempesona.

Pemandangan indah terhampar dalam perjalanan ke puncak Ilchulbong

Pemandangan indah terhampar dalam perjalanan ke puncak Ilchulbong

Puncaknya sendiri hanya berupa hamparan rumput hijau, dan kami berada di salah satu sisi bibir puncaknya. Di puncak terdapat dataran yang digunakan untuk para pengunjung melihat ke arah cekungan puncak Ilchulbong maupun ke arah lain.

Cekungan puncak Ilchulbong di sebelah kiri, dan tangga untuk turun di sebelah kanan

Di pucncak Ilchulbong. Cekungan puncak Ilchulbong terlihat di sebelah kiri, dan tangga untuk turun di sebelah kanan

Perjalanan turun terasa lebih ringan, dan kami banyak mengabadikan pemandangan yang indah dari atas. Pemandangan yang komplit, karena mengandung unsur laut, bukit, dataran, langit… Subhanallah !

Pengumuman tentang performance woman diver di jeju

Pengumuman tentang performance woman diver di jeju

Yang unik lagi dari tempat ini adalah adanya penyelam-penyelam wanita di Jeju yang disebut Haenyeo. Dari tempat tadi, kami turun menuju ke laut, di mana di sana dijumpai para wanita penyelam sedang menjejerkan hasil tangkapannya berupa aneka ikan, kerang, gurita, siput laut, dll. Sayangnya kami datang bukan pada saat yang pas ketika mereka ada performance untuk diving. Untuk performance itu ada waktu-waktunya. Keunikan ini berasal dari budaya Jeju yang matrialkal, di mana para wanitalah yang bekerja mencari nafkah. Keberadaan woman diver ini memang saat ini makin berkurang karena banyak wanita Jeju yang bekerja di bidang lain, namun sebagian masih mempertahankan budaya ini, sekaligus sebagai atraksi untuk pariwisata.

Presentasi oral di AFPS Conference

Mejeng dulu sebelum presentasi

Mejeng dulu sebelum presentasi

Sekitar jam 12.30 kami segera mencari bus untuk kembali ke Jeju city karena harus segera mempersiapkan presentasi kami masing-masing. Sesampai di hotel, ganti kostum resmi, kami menuju tempat konferens berlangsung. Percaya tidak, kami bertemu dengan delegasi dari UI, dan mereka ternyata juga habis jalan-jalan ke Ilchulbong !! Jadi ngga salah kan, kalau kami jalan-jalan dulu sebelum presentasi hehe….

Presentasiku dilaksanakan di ruang Biyang Hall bersama 5 pembicara lain, yang berasal dari Korea, Jepang, China, Thailand, dan Indonesia. Presentasi berjalan lancar-lancar saja, dan aku mendapat satu pertanyaan dari audiens. Tak lama setelah sesi presentasi selesai, karena kebetulan merupakan sesi terakhir, diadakan acara penutupan. Alhamdulillah, tugas utama telah ditunaikan. Malamnya kami berpikir keras, mempelajari travel guide, membaca peta, minta tolong mbah Google, untuk merancang petualangan kami hari berikutnya hehe….

Petualangan ketiga : Jungmun dan Seogwipo area

Hari terakhir di Jeju merupakan hari yang seru. Jadwal penerbangan pesawat kami ke Incheon adalah pukul 21.05, jadi kami punya waktu hampir seharian menjelajahi jeju. Dengan berbekal peta dan buku petunjuk Jeju, kami memulai perjalanan dari Jeju inter-city bus station. Destinasi pertama yang ada dalam rencana kami adalah Taman Nasional Mt. Hallasan. Gunung Hallasan merupakan gunung tertinggi di pulau Jeju dan terletak di tengah pulau, yang merupakan UNESCO World Heritage. Gunung ini merupakan tempat wisata pendakian buat mereka yang hoby mendaki gunung, dengan jalur pendakian sekitar 10 km untuk mencapai puncak. Ada beberapa jalur pendakian yang disediakan, antara lain jalur Seongpanak, Eorimok, Yeungsil, Gwaneumsa, Eoseungsaengak, dan Donnaeko. (aduuh, susah banget ngapalin nama-nama Korea….). Akhirnya kami memilih untuk menuju Seongpanak. Dari Jeju-city, perjalanan dengan bus ke Seongpanak memerlukan waktu sekitar 30-45 menit, dengan harga tiket 2500 won.

salju di kaki gunung Hallasan

salju di kaki gunung Hallasan

Bus nomer 740 melaju membawa kami menuju Seongpanak. Wah, ternyata aku salah kostum lagi…. Ketika kami sampai Seongpanak, area di sana sudah penuh wisatawan, baik dengan bus atau kendaraan pribadi. Mereka dengan kostum jaket tebal, kaos tangan tebal, topi, dan keperluan yang komplet utk mendaki. Suhu di sana sangat dingin bahkan di beberapa tempat terdapat hamparan es/salju berwarna putih. Dengan kostum sweater walaupun sudah dobel, aku tak bisa bertahan lama di sana… tanganpun terasa beku. Dan kami memang tidak ada rencana mendaki gunung yang bisa memakan waktu berjam-jam. Akhirnya kami hanya sekedar foto-foto di sana untuk mendokumentasikan bahwa kami pernah menginjakkan kaki di sana hehehe….

Certificate di kaki gunung Hallasan

Certificate di kaki gunung Hallasan

Lumayan, dapat “certificate” bahwa kami sudah sampai di Mt Hallasan..hehe…  Certificate-nya nempel di sebuah tugu. Tidak sampai 30 menit di sana, kami memutuskan untuk melanjutkan petualangan ke tempat lain, yaitu Seogwipo. Seogwipo adalah suatu kota kecil di bagian selatan pulau Jeju, yang berarti letaknya berseberangan dengan Jeju-city yang ada di bagian utara pulau. Menurut buku travel guide, di daerah Seogwipo terdapat beberapa tempat wisata yang bisa dikunjungi. Jadilah kami menumpang bus lanjutan (no 740) menuju Seogwipo. Kami ditarik bayaran 2000 won untuk ke Seogwipo. Agak sedikit nekad memang, karena kami tidak tau nanti akan seperti apa, berhenti di mana, dan mau kemana. Pokoknya ngikutin aja dulu kemana bus berjalan hehe…

Perjalanan ke daerah Seogwipo cukup indah… di beberapa tempat terlihat pohon-pohon dengan daun kuning dan kemerahan, warna khas  musim gugur. Selain itu, kami juga sering menjumpai hamparan kebun jeruk dengan jeruknya yang oranye bergelantungan. Nampaknya jeruk merupakan komoditi pertanian utama di pulau Jeju. Di setiap bus station kami mencoba mencari tulisan Seogwipo di mana rencananya kami akan berhenti. Sampai akhirnya bus masuk ke daerah perkotaan dan berhenti agak lama di sebuah bus station. Tapi karena nama yang tertulis bukan Seogwipo, kami tetap duduk manis saja di bus sampai bus berjalan lagi.  Beberapa bus station terlewati, tetapi tetap saja tidak ada nama Seogwipo tujuan kami. Bingung deh harus turun di mana… Sampai kemudian bus kami terus berjalan dan terlihat meninggalkan daerah perkotaan. Kami mulai masuk lagi ke daerah yang tidak banyak rumah-rumah. Kami bahkan melewati Stadium World Cup di salah satu bagian perjalanan kami. Akhirnya aku coba mengecek lokasi kami lewat GPS (global positioning system) yang ada di hand phone-ku, dan ternyata posisi kami sudah mulai meninggakan Seogwipo-city.  Wah… berarti udah kebablasan nih… kalau gitu kami harus memutuskan destinasi berikutnya di mana kami akan turun. Segera kami buka travel guide lagi, dan kami pernah membaca bahwa di barat Seogwipo ada destinasi wisata juga yaitu Jungmun Daepo Columnar Jointed lava. Akhirnya kami memutuskan untuk berhenti di Jungmun.

Di bus station Jungmun, kami masih bingung mau kemana. Untunglah ada sepasang bapak-ibu yang sudah agak berumur menyapa kami. “Dari Malaysia ya?” katanya.” Oh, bukan, kami dari Indonesia”. Sekalian deh aku tunjukkan gambar yang ada di buku travel guide kami, dan menanyakan jika kami kepengin kesini, bagaimana caranya. Alhamdulillah, ternyata tempat kami berhenti tidak terlalu jauh dari destinasi kami. Dia menunjukkan arah kemana kami perlu jalan, yaitu lurus kesana dan belok kiri, nanti akan sampai. Tapi kalau harus jalan sekitar 1 km…. wah, mana tahan boo… Lagian kami cuma sarapan mi kuah tadi pagi hehe… Akhirnya dengan taksi kami menuju ke Jungmun Daepo yang hanya berongkos 2800 won.

Pilar-pilar karang di Jungmun Daepo

Pilar-pilar batu karang di Jungmun Daepo yang menakjubkan

Jungmun Daepo merupakan tempat yang sangat indah di pinggir laut dengan bentukan geologis yang tidak biasa, berupa pilar-pilar batu berbentuk kubus panjang sebagai akibat pembekuan lava dari gunung yang langsung masuk ke laut ribuan tahun yang lalu. Yang menakjubkan, bekuan lava itu membentuk pilar-pilar yang berjajar rapi seperti dibuat oleh manusia membentang sepanjang 2 km berlekuk-lekuk. Subhanallah… begitulah kebesaran Sang Pencipta. Kami tidak bisa turun ke pilar-pilar batu itu tetapi ada tempat semacam gardu pandang yang didisain untuk memandang dari jauh. Sungguh tidak rugi kami bisa menyaksikan keindahan alam yang juga masuk dalam “7 wonder of nature” ini.

Setelah cukup puas di sana, kami mencari destinasi selanjutnya. Setelah membaca lagi travel guide, kami memutuskan untuk melihat Jeongbang waterfall. Dalam buku tertulis bahwa air terjun ini merupakan satu-satunya tempat di Korea Selatan di mana kita bisa melihat air terjun yang langsung jatuh ke laut. Karena tidak ada bus kesana, kami menggunakan taksi setelah berjalan sebentar ke jalan besar. Jeongbang waterfall cukup banyak dikunjungi wisatawan. Untuk menuju air terjun, kami harus menyusuri jalan berundak-undak yang menurun ke batu-batuan di dekat air terjun. Sebetulnya air terjun-nya sendiri sih menurut aku biasa saja, seperti air terjun yang ada di Indonesia juga. Tapi dengan tinggi sekitar 23 meter dan langsung jatuh ke laut itulah yang menjadi unik. Sehingga juga ada kombinasi pemandangan yang indah… air terjun, langit biru, laut, bebatuan…. sesuatu banget !

Kombinasi cantik antara air terjun, bebatuan, laut, langit dan aku sendiri di Jeongbang waterfall hehe...

Kombinasi cantik antara air terjun, bebatuan, laut, langit dan aku sendiri di Jeongbang waterfall hehe…

Setelah puas menikmati air terjun, kami memikirkan destinasi berikutnya. Ada satu tempat yang menarik nampaknya yaitu Jeju Folk Village museum. Tapi setelah kami bertanya ke Tourist Information Center, ternyata perjalanan ke sana cukup jauh dan nampaknya cukup mahal. Kami turis yang berkantong cekak ini perlu berpikir dua kali. Dan karena sudah siang serta lapar juga, akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke kota yang tadi kami lewati, untuk sekedar mencari sesuatu yang bisa dimakan. Petugas information center menyarankan kami untuk naik taksi ke Jungangno rotary. Akhirnya kami naik taksi menuju daerah pusat kota, yang ternyata di dekat Jungangno rotary bus station yang tadi sudah kami lewati dan bus berhenti agak lama, tapi tidak turun karena ragu-ragu. Itulah yang namanya “blessing in disguise”…karena tidak tau harus turun di mana tadi, kami justru bisa sampai Jungmun Daepo hehe…. Kalau kami tadi berhenti di sini, mungkin ceritanya akan lain lagi….

Dua potong crabs roll dan beberapa suap chese cake plus jus tomat di cafe Paris Baguette lumayan memenuhi perut siang itu, sambil kami memikirkan tujuan berikutnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 13-an, jadi kami harus memilih yang dekat-dekat saja, karena setelah itu kami harus kembali ke Jeju-city dan bersiap-siap ke Incheon malamnya. Akhirnya pilihan jatuh ke Seokbujak Theme Park, yang nampaknya cukup menarik dan tempatnya tidak terlalu jauh.

Denah Museum Seokbujak

Denah Museum Seokbujak

Seokbujak Theme Park merupakan museum dan taman yang dipenuhi aneka tanaman, terutama adalah tanaman jeruk (tangerine). Harga tiket masuknya agak mahal, yatu 6000 won. Museum ini merepresentasikan 3 simbol di Jeju, yaitu : angin, batu, dan wanita. Batu-batuan dengan berbagai bentuk menghiasi taman dengan berbagai tanaman. Sayangnya kami datang pada akhir musim gugur, jadi tidak banyak bunga yang bermekaran seperti yang kami lihat pada foto di depan halaman museum.  Kami menyusuri taman yang penuh dengan pohon jeruk dan pohon omija (five flavour berry) yang berbuah lebat, dan taman dengan air mancur. Terdapat pula patung-patung dengan karakter khas Jeju yang menjadi symbol Jeju, yang disebut Dolhareubang, yang artinya “stone grandfather”…

Bersama Dolhareubangs

Bersama Dolhareubangs

Sayangnya lagi tidak ada guide yang bisa berbahasa Inggris, jadi kami kurang mendapat banyak informasi dari Museum ini kecuali dari apa yang dilihat. Yah, tapi cukup puaslah…  Kami tidak terlalu lama di sini karena harus segera kembali ke Jeju-city. Bagian sini menjadi agak heroik karena kami harus berjalan kaki cukup jauh menuju bus station terdekat untuk bisa mendapatkan bus ke Jeju-city. Kalau ada pengukuran lingkar betis pre and post jalan-jalan, kayaknya ada perbedaan signifikan deh….hehee….

Alhamdulillah, akhirnya kami dapat bus menuju Jeju-city, dan kami sengaja naik bus dengan nomor yang sama dengan saat berangkat (bukan sebaliknya) sehingga kami kembali ke Jeju-city dengan rute yang berbeda dengan berangkatnya karena bus berjalan melingkar. Bisa dibilang kami berpetualang melingkari Mt Hallasan, dari sisi utara, timur, selatan, ke barat, dan balik lagi ke utara… Sangat mengesankan…!!

Kembali ke kota tercinta

Kami sampai di Jeju-city pada pukul 5 sore waktu setempat. Segera kemudian menuju Ramada Hotel untuk mengambil barang yang kami titipkan di sana, dan berangkat ke Airport menggunakan taksi. Setelah lumayan lama menunggu di Jeju Airport, akhirnya pesawat Asiana Airlines membawa kami malam itu ke Incheon. Di Incheon kami menginap semalam di hotel Gogo House dekat airport yang memang biasa menerima pelancong yang menginap karena menunggu penerbangan, sehingga merekapun menyediakan service mengantar ke Airport.

Demikianlah kawan, setelah transit beberapa jam di Jakarta, akhirnya kami bisa kembali ke Yogya bertemu lagi dengan keluarga tercinta dengan segudang kenangan dan cerita, seperti yang kudokumentasikan dalam tulisan ini.








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 418 pengikut lainnya.