My Note (2) : Wonderful Mt. Ishizuchi and omoshiroi Yayoi Kusama

27 10 2014

Dear kawan,
Catatan perjalananku kali ini adalah tentang kegiatanku selama week end ini. Hari Sabtu pagi aku masih menyelesaikan sedikit eksperimenku di lab, dan siangnya sudah direncanakan untuk pergi bersama Maeyama Sensei dan istri ke Gunung Ishizuchi. Hari Minggunya aku sudah janjian dengan teman Jepangku Kyoko Shibata untuk jalan-jalan di sekitar Dogo Matsuyama. Begini ceritanya….
Ke Gunung Ishizuci

Puncak gunung Ishizuchi dan warna-warni daun di musim gugur

Puncak gunung Ishizuchi dan warna-warni daun di musim gugur

Gunung Ishizuchi adalah gunung tertinggi di kawasan Jepang barat,  berlokasi di selatan Matsuyama, di antara perfecture Ehime dan Kochi. Jangan bayangkan seperti gunung Merapi yang tingginya di atas 3000 m, gunung ini “hanya” setinggi 1982 m, itu pun bukan gunung yang aktif. Dulu ketika masih kuliah, dalam perjalanan ke kampus aku sering melihatnya dari kejauhan puncaknya berselimut salju di musim dingin. Puncaknya mirip seperti ujung pedang samurai dan menjadi salah satu tempat pemujaan di Jepang dan dianggap sebagai tempat bermukimnya dewa. Kali ini aku berkesempatan ke sana bersama Maeyama Sensei dan istri, dan Rizal. Kata Sensei, aku akan bisa menikmati perubahan warna daun di musim gugur ini.

 

 

Bersama Bu Maeyama sebelum berangkat

Bersama Bu Maeyama sebelum berangkat

Kami berangkat berempat selepas dhuhur dari kampus menggunakan mobil Bu Maeyama. Bu Maeyama sendiri yang menyetir, dan cara menyetirnya halus dan enak. (aku perlu tekankan ini karena Maeyama Sensei sendiri nyetirnya kurang halus dan membuat Rizal mengalami motion sickness saat pulang hehe… ).  Beliau orangnya ramah dan penuh perhatian. Dibawakannya bekal jaket dan minuman dan snack untuk diminum di sana. Jika perjalanan jauh, beliau dan Sensei bergantian menyetir. Sepanjang perjalanan mata dimanjakan oleh pemandangan yang cantik suasana musim gugur. Yang selalu mengesankan aku jika jalan-jalan keluar kota di Jepang adalah jalan-jalan yang mulus, bersih, dan tidak jarang  jalannya menembus gunung melalui terowongan. Salah satu terowongan/tunnel yang kami lalui bahkan panjangnya 3097 m. Bayangkan susahnya ngebor gunung sepanjang itu…! Jadi perjalanan bisa lebih cepat karena seperti pakai shortcut. Ah, di Jepang itu apa yang ngga bisa dibuat… bawah laut pun digali untuk dibuat terowongan yang menghubungkan dua pulau… !!

Di Tsuchi-goya Hut, mendekati puncak gunung Ichizuchi

Melihat pemandangan sekitar puncak gunung bersama Maeyama Sensei dan ibu

Melihat pemandangan sekitar puncak gunung bersama Maeyama Sensei dan ibu

Kami parkir di sebuah parking area mendekati puncak gunung, yang disebut Tsuchi-goya Hut yg berada 1492 meter di atas permukaan laut . Dari situ perjalanan ke puncak bisa ditempuh dengan jalan kaki selama 2,5 jam naik, dan 2 jam untuk turun. Tapi kami berhenti di situ saja, tidak naik ke puncak. Ga kuaat… !! Suhu di situ sekitar 14 derajat, lumayan dingin. Tau tidak.… aku sempat ketemu serombongan orang yang baru turun gunung Ishizuchi… dan itu rombongan bapak-ibu yang sudah sepuh-sepuh, tapi masih kelihatan sehat dan kuat !! Perjalanan mendaki gunung Ishizuchi sering dianggap sebagai sebuah perjalanan spiritual untuk pemujaan. Ada sebuah kuil semacam tempat peribadatan di situ, yaitu Ishizuchi shrine yang masih sering dipakai untuk upacara-upacara peribadatan.

Puncak Ishizuchi dari kejauhan... sedikit tersaput awan

Puncak Ishizuchi dari kejauhan… sedikit tersaput awan

Kami berhenti untuk sekedar minum teh dan melihat pemandangan dari atas. Beruntung cuaca cukup cerah, sehingga saat kami turun, kami sempat melihat puncak Ishizuchi yang sedikit tersaput awan. Kami sempatkan untuk mengambil gambar dengan latar belakang puncak Ishizuchi.

Menikmati serangkaian menu dengan menu utama sushi

Menikmati serangkaian menu dengan menu utama sushi

Perjalanan dari gunung ditutup dengan menikmati traditional Japanese food di sebuah restoran di Matsuyama. Kami sampai di Matsuyama hampir jam 6 sore, dan langsung meluncur ke sebuah restoran tradisional Jepang. Maeyama Sensei dan ibu mengajak kami untuk menikmati dinner di sana. Beliau tahu bahwa selama di Jepang kami tidak berani sembarang makan daging atau ayam (karena takut tidak halal karena tidak tahu cara menyembelihnya), jadi Sensei memilihkan kami makan sushi yang berisi ikan-ikan. Orang Jepang itu makan tidak hanya dengan lidahnya, tetapi juga dengan matanya… hehe.. karena itu ketika menyusun sajian untuk dimakan pasti indah dan nyeni.. Beberapa terasa agak aneh di lidah.. apalagi kalau ikan mentah. Tapi overall hmm.. oishikata… enak !! Sungguh sabtu yang berkesan… Bukan sekedar karena melihat suasana musim gugr di pegunungan yang indah, tetapi lebih pada hospitality Maeyama Sensei dan ibu yang sangat bersahabat…..

Dogo onsen dan Yayoi Kusama
Hari Minggu aku sudah janjian dengan Kyoko Shibata untuk jalan-jalan bareng. Kyoko adalah temanku orang Jepang yang suka berteman dengan orang asing. Aku mengenalnya sejak kuliah dulu di sini 14 tahun yang lalu. Kebetulan dia sarjana di bidang bahasa Inggris, jadi bahasa Inggrisnya cukup bagus. Buat aku yang tidak trampil bahasa Jepang, tentu ini sangat membantu. Tidak gampang loh mendengarkan orang Jepang berbahasa Inggris. Karena karakter konsonan mereka tidak mengenal huruf “F” dan “L”, maka pronounciation bahasa Inggris mereka kadang jadi tidak jelas, kecuali yang memang belajar dengan benar..hehe.. Sebagai contoh, ketika pertama kali aku datang ke Jepang, Sensei menjelaskan sesuatu yang aku dengar seperti kata “ Barius”…. Aku berpikir keras memahami apa yang dikatakan.. setelah agak lama barulah aku tahu bahwa yang dimaksudkan adalah “values”hadeeeh.… !! Mereka juga tidak punya vokal “E” seperti pada kata “emas”. Jadi ketika pronounce “Water”.. mereka akan menyebutnya “ Wota”.. Super menjadi supa, menyebut “color” menjadi “kara”…

Di depan Dogo Onsen yang sudah berumur ribuan tahun

Di depan Dogo Onsen yang sudah berumur ribuan tahun

Dogo onsen atau Dogo hotspring adalah tempat pemandian air panas khas Jepang yang tertua di Jepang, yakni berusia lebih dari 1000 tahun. (gila bener ya.. bisa bertahan ribuan tahun)… Di Jepang, banyak hot spring yang berasal dari air panas alami. Aku sendiri selama di Jepang belum pernah mencoba mandi air panas di onsen. Kali ini pun bukan untuk mandi, tetapi untuk melihat satu art performance di hotel Takaraso yang berlokasi di seputaran Dogo. Kebetulan saat ini sedang ada suatu penampilan seni dari seniman Jepang terkenal yang bernama Yayoi Kusama. Ia seorang disainer serbabisa yang terkenal dengan pola polkadot dan bentuk labu/pumpkin. Terus terang aku juga baru dengar sekarang ini hehe… Di Jepang itu ada saja hal-hal yang kadang tidak terbayang sebelumnya… Apa sih bagusnya pola polkadot dan labu? Tetapi ketika dijadikan suatu karya seni ternyata menarik juga…

Di kamar yag didekorasi dengan polkadot merah

Di kamar yang didekorasi dengan polkadot merah

Untuk menyaksikan hasil karyanya kami harus pesan tempat dulu dan mendapat waktu pukul 12.20 waktu setempat, bayarnya 1000 yen. Akhirnya aku dan Kyoko mendapat kesempatan masuk ke kamar yang dimaksud selama 15 menit bersama 3 orang pengunjung lain… Dan…woww... menarik dan tidak terbayang sebelumnya di kepalaku… ! Seisi kamar didekorasi dengan indah dan unik dengan pola polkadot dan pumpkin.. Tapi aku sih tidak kebayang bisa tidur di kamar hotel yang didekorasi semacam ini hehe….. Nampaknya sih seniman ini memang orangnya unik dan “gila”. Selain dekorasi kamar, ia juga mendisain baju atau T-shirt dengan motif-motif polkadot dan pumpkin yang tidak biasa… Anyway, sungguh menarik… !!

Pola polkadot dan pumpkin yg unik

Pola polkadot dan pumpkin yg unik

Salah satu ciri khas Yayoi Kusama adalah pumpkin

Salah satu ciri khas Yayoi Kusama adalah pumpkin

Selepas dari sana, Kyoko mengajakku makan siang di sebuah restoran tradisional Jepang, dan makanannya Jepang banget. Tapi jangan dikira aku ditraktir ya… kalau yang ini kami bayar sendiri-sendiri hehe.. tapi tak apalah, sudah senang bisa diajak jalan-jalan ke tempat menarik. Sorenya aku pulang naik densha ke kampus. Sayangnya aku belum sempat ketemu bapak penjaga stasiun Kume yang dulu, setiap aku lewat, beliau tidak kelihatan jadi aku belum sempatkan mampir.
Well, untuk kali ini cukup dulu ceritanya. Pekerjaan di lab menanti lagi….





My Note (1): Napak tilas ke Ehime Daigaku

24 10 2014

Dear kawan,
It is exciting time untuk menginjakkan kaki lagi ke negeri sakura, tepatnya di Ehime, tempatku belajar untuk program doktoral 14 tahun yang lalu.. Sebenarnya ini adalah kali ketiga aku berkunjung ke Ehime lagi sejak aku lulus S3 th 2001 yang lalu, yaitu tahun 2005, tahun 2009, dan kali ini. Prof Maeyama (aku menyebutnya Maeyama sensei) mengundangku tahun ini untuk visiting Ehime lagi melalui grant dari Fujii. Sebenarnya Sensei mengundangku pada bulan Juli yang lalu, tapi aku menawar untuk bulan Oktober ini. Di samping ada kesibukan lain, bulan Juli adalah bulan puasa. Berpuasa sendirian di musim panas yang siangnya lebih panjang dari malamnya di negeri orang… hadeuuuh… kalau bisa ngga usah deh… Beraat !!  :)   Aku pilih bulan Oktober karena sudah masuk musim gugur dan hawanya sejuk….

Sampai juga ke Matsuyama
Persiapan yang terberat sebelum pergi ke Jepang bukanlah apa yang harus kukerjakan di sana, tetapi menyiapkan hati untuk meninggalkan keluarga dalam waktu sekitar 2 mingguan. Terutama si bungsu Hanna yang baru 3 tahun dan selalu lengket denganku, dan kakak si bungsu, Dhika, yang setiap hari aku antar dan jemput sekolah. Belum lagi ayahnya juga baru pergi ke Turki untuk seminar dan baru pulang di hari yang sama dengan aku berangkat.. Tapi akhirnya sampai jugalah pada hari aku harus berangkat, tgl 20 Oktober 2014.
Tangisan heboh Hanna di Bandara Adisucipto mengiringi keberangkatanku ke Osaka via Denpasar. Sempat sedih dan ngga tega.. but the show must go on. Alhamdulillah, sesampai di Denpasar aku pantau kondisi rumah via BBM, anak-anak sudah tenang… Bandara Ngurah Rai menurutku kurang begitu nyaman untuk transit jika pergi keluar negeri, karena jarak antara bandara domestik dan internasionalnya cukup jauh. Lumayan ngos-ngosan juga aku berjalan, karena aku mendarat di Ngurah Rai sudah hampir jam 23, sementara boarding time untuk perjalanan ke Osaka adalah pukul 00.30 waktu setempat. Jadi tak sempat istirahat barang sejenak karena untuk mencapai gate-nya pun butuh waktu lama meskipun sudah dibantu naik golf-car. Namun syukurlah… akhirnya sang Garuda Indonesia pun melayang membawaku ke negeri sakura dan mendarat mulus di Kansai International Airport Osaka. Bersyukur juga bahwa proses imigrasi lancar sekali padahal aku pakai paspor hijau (soalnya 5 tahun lalu koperku sempat diperiksa padahal pakai paspor biru/dinas). Si petugas sekilas membaca dokumenku dan menanyakan apakah aku baru pertama ke Jepang, “Hajimete desu ka?” Aku bilang “Iie… Nihon ni bengkyo shimashita”… (tidak, dan aku pernah belajar di sini). “Sensei desu ka?” tanyanya ramah (tumben, biasanya serem-serem). “Haik, so desu ” jawabku… dan loloslah dari imigrasi… Dari Bandara Kansai aku segera naik bus ke Itami Airport, bandara domestik di mana aku akan terbang satu kali lagi menuju Matsuyama.

Yang paling kuharapkan saat sampai di Itami Airport adalah tetap keep connected dengan keluarga. Ternyata di Kansai maupun Itami tidak semudah di Bandara Incheon Korea yang di mana-mana wifi mudah didapatkan. Di Itami, ada tertulis free wifi, tapi sayangnya ketika kucoba ada password yang harus dientry-kan. Udah gitu Blackberry-ku low batt gara-gara sebelum berangkat Jogja mati lampu dan belum sampat ngecas, dan colokan yang kubawa tidak fit dengan colokan di Jepang yang ujungnya gepeng. Sempat desperate, tetapi untungnya kemudian menemukan public computer yang terkoneksi dengan internet sekaligus berfungsi sebagai charger. Tapi ngga gratis loh... per 10 menit kita bayar 100 yen. Untungnya aku bawa recehan yen sisa perjalanan sebelumnya. Yah, yang penting bisa segera berkabar ke rumah dan mendapat kabar pula dari rumah. Alhamdulillah, anak-anak semua manis dan manut selama ibu pergi…. Akhirnya aku tetap menggunakan nomor Indosatku selama di sini setelah aku set untuk dapat paket promo selama di luar negeri karena tidak mudah ternyata mencari nomer lokal di sini untuk pemakaian short term. Pasti kena roaming deh… tapi gak papalah sudah diniati, dan itu adalah bayaran untuk tetap keep in touch dengan keluarga dan teman-teman di Indonesia, untuk urusan rumah dan pekerjaan..

Yang selalu aku kagumi dari Jepang adalah industri jasanya yang nomer satu. Pelayanan sangat ramah di mana-mana. Ketika di Bandara Itami aku menanyakan pada petugas tentang password wifi yang katanya free, dan mereka tidak tahu, mereka berusaha menanyakan pada yang tahu. Ketika akhirnya tetap tidak bisa connected, mereka meminta maaf dengan ramah atas ketidaknyamanannya. Bela-belain mendatangiku di tempat dudukku untuk menyampaikannya. Juga di saat lain ketika ke toko elektronik mencari spare part alat cukur jenggot pesanan suamiku, penjaga tokonya dengan ramah dan telaten melayani sampai aku mendapatkan apa yang kubutuhkan. Dalam urusan berjualan, mereka bahkan lebih Islami dari pada pedagang yang mengaku Islam… Dengan jujur mereka akan menyebutkan bahwa barang ini kurang baik atau lebih mahal, dan mencarikan altenatif lain. Atau jika ada makanan atau buah yang sudah mendekati expired time-nya, mereka memberi harga diskon. Kebiasaan yang terakhir ini yang sering aku manfaatkan dulu ketika masih tinggal di sini… Kalau belanja kebutuhan makanan, aku datang pada sore atau malam sepulang dari kampus, jadi bisa dapat harga-harga murah dengan kualitas masih memadai hehe... Maklumlah, pelajar miskin harus pandai-pandai mengirit…

Bersama Maeyama Sensei di Matsuyama Airport

Bersama Maeyama Sensei di Matsuyama Airport

Sebuah pesawat kecil berbaling-baling membawaku dari Itami Airport ke Matsuyama. Sayangnya badanku sedang tidak begitu fit, bahu dan leher pegal-pegal sampai merambat ke kepala. Sedikit pening, jadi aku tertidur saja saat di pesawat. Sesampai di Matsuyama Airport, Maeyama Sensei dan Rizal sudah menjemput. Setelah makan udon sebentar untuk lunch, aku diantar ke Guest House di Ehime Univ School of Medicine, kampusku dulu. Tidak sangat banyak yang berubah di sepanjang perjalanan dari Airport ke kampus. Suasana musim gugur sudah mulai terasa, tetapi belum sangat berbeda. Pohon-pohon yang biasanya daunnya merah di musim gugur baru terlihat kuning. Aku masih mengingat jalan-jalan yang dulu pernah kami lalui dengan bersepeda di jaman kuliah… Beberapa masih sama, namun ada yang sudah berubah. Tapi yang paling berubah adalah kampusku sendiri. Guest house yang kutinggali adalah bangunan baru. Banyak renovasi-renovasi yang dilakukan yg mempercantik kampus.
Hari pertama di Matsuyama

Guest house tempat aku menginap, berlokasi di belakang kampus

Guest house tempat aku menginap, berlokasi di belakang kampus

Guest house tempatku menginap cukup nyaman dan lengkap. Lima tahun yang lalu ketika aku datang ke sini, aku menginap di Hotel kecil di depan kampus. Guest house atau semacam asrama ini diperuntukkan untuk mahasiswa luar kota dan juga ada kamar untuk tamu. Letaknya di bagian belakang kampus dekat stasiun. Oya, kalau aku pergi kemana-mana, yang tidak boleh lepas dari perhatian adalah toiletnya..hehe.. Bagaimanapun itu adalah salah satu hajat penting dalam kehidupan manusia. Untunglah toilet di negara-negara Asia seperti Jepang, Korea dan China yang pernah kukunjungi masih menggunakan air untuk bersih-bersih. Toilet di guest house juga bagus, ada alat penyemprot air elektrik yang harus ditekan untuk menyemburkan air, dan bisa diatur kecepatan maupun arahnya. Paling tidak enak adalah kalau ke Eropa, yang model toiletnya kering dan hanya pakai tissue… haduuh, pasti harus sangu botol buat persiapan bebersih… Untuk urusan cuci baju, di depan ruangku ada ruang umum untuk mencuci baju dengan mesin cuci ber-coin.

Ehime University School of Medicine.. dua pohon itu adalah pohon Ginkgo biloba

Ehime University School of Medicine.. dua pohon itu adalah pohon Ginkgo biloba

Pada hari pertama, rasanya kaya de javu balik ke kampus lagi.  Kampus tampak lebih cantik dengan banyak renovasi. Sayangnya musim gugur masih awal, kalau sudah menjelang musim dingin, daun pohon-pohon Ginkgo biloba di sekitar kampus akan berubah warna menjadi kuning, cantik sekali. Ketika masuk Lab (Pharmacology), sempat pangling juga. Lay out di lab juga jauh berubah. Yang surprising, Maeyama Sensei sendiri yang membereskan sebagian ruangannya dan menyiapkan meja untukku selama aku di sini.. Hadeuuh, hontoni arigatou gozaimasu, Sensei…!! Jadi ketika aku datang ke lab , aku mendapat meja di ruang Maeyama Sensei. Ada nyaman dan tidaknya … soalnya satu ruangan sama Sensei. Sungkan juga kalau pas Sensei ada aktivitas di ruangannya. Di Jepang, satu profesor membawahi satu Department/Laboratory, dan bertanggung-jawab penuh terhadap kegiatan penelitian di Lab, termasuk mencarikan dana penelitian. Semakin aktif Profesornya dan semakin banyak mahasiswanya, makin makmur lab-nya. Di Lab Maeyama Sensei ada satu associate professor dan satu assistant professor. Selebihnya adalah mahasiswa bimbingannya yang mengambil S2 atau S3.  Penelitian utama Sensei adalah tentang histamine research dan seputarnya.

Bekerja dengan kultur sel fibroblast di Lab

Bekerja dengan kultur sel fibroblast di Lab

Hari pertama itu aku mulai persiapan untuk penelitian. Oya, di sini aku mengerjakan satu penelitian sederhana untuk melihat pengaruh suatu ekstrak terhadap sintesis kolagen pada kultur sel fibroblast. Untung ada Rizal yang membantu menumbuhkan sel fibroblast sebelum aku datang, jadi bisa langsung kerja. Rizal adalah mahasiswa bimbingan skripsiku dulu yang pernah kuminta bantuannya mengerjakan satu proyek penelitian kerjasama dengan sensei di Ehime, dan akhirnya malah mendapat kesempatan S2 dan S3 di sini. Aku memang sudah mengkomunikasikan sebelumnya apa yang akan aku kerjakan selama di sini. Wah, rasanya excited sekali bisa ngelab lagi di sini, dengan kondisi lab yang lengkap dan ready for use, khususnya untuk bekerja dengan kultur sel. Hari itu aku menginkubasi sel fibroblast dengan ekstrak herbal yang aku bawa dari Indonesia, dan menunggu 48 jam.
Napak tilas ke Gintengai
Hari kedua aku masih menunggu inkubasi kultur sel, jadi punya waktu untuk jalan-jalan sebentar mencari pesanan. Oya, letak kampusku di daerah Shigenobu yang terletak di pinggir kota. Jadi kalau mau ke kota Matsuyama harus naik bus atau kereta (densha). Hari ini aku ditemani Rizal naik densha ke arah kota. Harga tiket kereta bahkan masih hampir sama seperti harga tiket 14 tahun yang lalu.. Bayangkan..!! Hanya naik sedikit, yang dulunya 450 yen sekarang jadi 475 yen. Aku masih selalu terheran-heran dengan harga di Jepang. Harga-harga hampir tidak pernah berubah berpuluh tahun. Harga o-sake bento (nasi dan lauk ikan salmon) kesukaanku harganya masih di angka 300-305 yen sejak tahun 2000 dulu. Sementara di negara kita, hampir tiap bulan tidak terasa harga beranjak naik, tau-tau sudah sekian kali lipat jika dilihat dari beberapa tahun sebelumnya.

Di shopping arcade Okkaido.. masih agak sepi karena bukan hari libur

Di shopping arcade Okkaido.. masih agak sepi karena bukan hari libur

Tempat belanja semacam shoping arcade yang terkenal di Matsuyama adalah Okkaido dan Gintengai. Di sana kita bisa jalan atau naik sepeda menyusuri pertokoan yang ada di kiri kanannya. Gintengai tidak banyak berubah dari yang terakhir aku kunjungi lima tahun yang lalu. Yang menarik di sini adalah Toko 100 yen. Ada beberapa toko 100-yen yang menjual aneka macam pernik-pernik dengan harga 100 yen. Wah, toko 100-yen ini kadang membuat nafsu belanja jadi menggila…hehe.. soalnya rasanya murah, dan banyak pernik-pernik unik yang ngga ada Indonesia.. Kreatif banget dan ngga terpikir deh di Indonesia, misalnya korok kuping dari bambu yang cantik dan nyeni bentuknya, kapas penyerap ingus yg disertai mentol untuk yg lagi pilek dan buntet, semacam penjepit untuk memperlebar rongga hidung untuk mencegah ngorok, dll… hehe... Kayaknya oleh-oleh korok kuping bagus juga buat yang pada suka ngga mau denger nasihat hahaha….. simbolik dan fungsional !!

Ujung dari Gintengai adalah Matsuyama-shi Eki atau stasiun kota Matsuyama. Selesai menyusuri Gintengai, aku pun pulang ke kampus Shigenobu menggunakan densha. Ketika tadi berangkat dan melewati stasiun Kume, aku melihat Bapak tua Penjaga Stasiun Kume ternyata masih ada. Wah, padahal 14 tahun yang lalu saja beliau sudah sepuh, entah berapa umurnya sekarang. Stasiun Kume adalah stasiun langgananku dulu jika berangkat ke kampus, karena kami dulu tinggal di sekitar Kitakume. Lima tahun yang lalu aku sengaja menjumpai beliau di stasiun Kume untuk berfoto. Tapi tadi aku belum sempat menemui beliau lagi. Ngomong-omong tentang usia orang Jepang, rata-rata usianya panjang bahkan mencapai 90-an. Di mana-mana sering kujumpai simbah-simbah sedang naik densha sendiri atau belanja di supermarket.. Ibu dari Maeyama Sensei bahkan sudah 97 tahun.. Apa ngga bingung yaa mau ngapain ….
Oke, sampai sini dulu ceritaku hari ini… besok disambung lagi kalau sudah ada cerita baru…





Hati-hati menggunakan antibiotika agar tidak terjadi resistensi bakteri

5 10 2014

Dear kawan,

ini reposting tulisanku di Harian Tribun hari ini…. satu halaman penuh loh.. :)

Baru-baru ini, dalam sebuah kesempatan Ibu Menteri Kesehatan dr. Nafsiah Mboi meminta kepada Apoteker untuk tidak sembarangan memberikan atau menjual antibiotik tanpa resep dokter, karena penggunaan antibiotika yang tidak tepat dapat memicu terjadinya resistensi bakteri. Sebuah himbauan yang simpatik, tetapi Penulis berpendapat bahwa masalah resistensi bakteri tidak hanya melibatkan peran apoteker sebagai penyedia obat, tetapi juga ada dua faktor utama yang lain, yaitu pola peresepan oleh dokter yang tidak selalu tepat dan perilaku pasien sendiri yang salah dalam menggunakan antibiotika. Tulisan kali ini lebih ditujukan kepada masyarakat luas untuk lebih mengenali bakteri, obat-obat antibiotika dan cara penggunaannya yang tepat, sehingga dapat turut mencegah terjadinya risiko resistensi bakteri. Lebih mudah mengedukasi masyarakat, daripada mengingatkan dokter yang pintar-pintar hehe….

Apakah bakteri itu?

Macam-macam bakteri

Macam-macam bakteri

Bakteri adalah organisme yang sangat kecil dan berukuran mikron, yang hanya dapat dilihat dengan mikroskop, sehingga disebut juga mikroorganisme. Mikroorganisme sendiri ada bermacam-macam jenisnya, antara lain adalah virus, jamur, parasit, termasuk bakteri. Bakteri dapat dijumpai di hampir semua tempat, seperti tanah, air, udara, hidup bersama dengan organisme lain (ber-simbiosis), bahkan dalam tubuh manusia. Sebagian dari mereka bersifat merugikan dan dikenal sebagai penyebab infeksi dan penyakit pada manusia, sedangkan sebagian lain ada yang bermanfaat misalnya di bidang pangan, pengobatan dan industri. Bakteri yang menyebabkan penyakit pada manusia, maupun pada hewan dan tumbuhan, disebut bakteri patogen. Beberapa contoh bakteri patogen dan penyakit yang ditimbulkannya adalah seperti di bawah ini:
No. Nama bakteri Penyakit yang ditimbulkan
1. Salmonella typhi :  Tifus
2. Shigella dysenteriae : Disentri basiler
3. Vibrio cholera : Kolera
4. Haemophilus influenza : Influensa
5. Diplococcus pneumoniae : Pneumonia (radang paru-paru)
6. Mycobacterium tuberculosis : TBC paru-paru
7. Clostridium tetani : Tetanus
8. Neiseria meningitis : Meningitis (radang selaput otak)
9. Neiseria gonorrhoeae : Gonorrhaeae (kencing nanah)
10. Treponema pallidum : Sifilis atau Lues atau raja singa
11. Mycobacterium leprae : Lepra (kusta)
12. Treponema pertenue : Puru atau patek

Bakteri masih dapat terbagi lagi berdasarkan kemampuannya mengikat pewarna Gram, sehingga ada yang digolongkan sebagai bakteri Gram negatif dan Gram positif. Kemampuannya mengikat pewarna Gram ini ditentukan oleh perbedaan struktur dinding sel bakteri. Perbedaan ini dapat menyebabkan perbedaan sensitivitas bakteri terhadap jenis antibiotika golongan tertentu. Ada antibiotika yang lebih poten terhadap bakteri Gram negatif daripada positif, atau sebaliknya, atau bisa membunuh dua-duanya.

Antibiotika dan macamnya
antibioticsGolongan obat yang bisa membunuh bakteri disebut dengan golongan obat antibiotika. Terdapat sedikitnya 4 golongan antibiotika berdasarkan mekanisme kerjanya dalam membunuh bakteri, yaitu:
1. Yang bekerja menghambat pembentukan dinding sel bakteri, contoh : golongan Penisilin dan Sefalosporin, misalnya amoksisilin, ampisilin, sefotaksim, sefiksim, seftriakson
2. Yang bekerja menghambat tanskripsi dan replikasi DNA bakteri, contoh: golongan kuinolon (siprofloksasin), rifampisin, aktinomisin
3. Yang bekerja menghambat sintesis protein bakteri, contohnya golongan makrolida (eritromisin, azitromisin), aminoglikosida, tetrasiklin, kloramfenikol, dll
4. mengantagonis asam folat yg diperlukan untuk pertumbuhan bakteri, contohnya : golongan sulfa

Dari sini dapat diketahui bahwa macam antibiotika itu cukup banyak, dan masing-masing memiliki spesifikasi dan potensi terhadap jenis bakteri tertentu. Ketika seorang pasien didiagnosa terkena infeksi bakteri, maka dokter akan memilihkan antibotika yang sesuai dengan kondisi pasien (jenis penyakit, macam bakteri penginfeksi, sensitivitas kuman terhadap antibotika).

Mengapa bakteri bisa resisten/kebal terhadap antibiotika?

Proses berkembangnya bakteri yg resisten

Proses berkembangnya bakteri yg resisten

Yang dimaksud dengan resistensi bakteri adalah kondisi ketika suatu strain bakteri menjadi resisten (kebal) terhadap antibiotik. Resistensi ini berkembang secara alami melalui mutasi yang terjadi secara perlahan dan acak dan juga bisa disebabkan oleh pemakaian obat antibiotik yang tidak tepat sebagai adaptasi bakteri terhadap tekanan lingkungan. Setelah gen resisten dihasilkan, bakteri kemudian dapat mentransfer informasi genetik secara horisontal (antar individu) dengan pertukaran plasmid. Mereka kemudian akan mewariskan sifat itu kepada keturunannya, yang akan menjadi generasi resisten. Bakteri bisa memiliki beberapa gen resistensi, sehingga disebut bakteri multiresisten atau “superbug”. Resistensi antibiotik merupakan masalah kesehatan masyarakat utama di seluruh dunia. Resistensi bakteri memang seperti tidak terasakan secara langsung akibatnya oleh pasien, namun baru akan terasakan dampaknya ketika seseorang terinfeksi dan tidak sembuh-sembuh setelah diberi antibiotika. Hal ini bisa terjadi jika pasien tersebut terinfeksi oleh bakteri yang resisten antibiotik, sehingga pengobatannya menjadi lebih sulit dan harus menggunakan obat yang lebih kuat dan lebih mahal dengan lebih banyak efek samping. Jika kejadian ini terakumulasi dalam sekelompok masyarakat, maka biaya kesehatan menjadi sangat meningkat.

Seperti apa penggunaan antibiotika yang tidak tepat?
Walaupun hubungan langsungnya tidak sangat jelas, tetapi banyak laporan menunjukkan bahwa ada hubungan antara penggunaan antibiotika yang tidak tepat dengan kejadian resistensi bakteri. Bakteri adalah organisme yang memiliki daya adaptasi yang tinggi, sehingga resistensi terhadap antibiotika bisa merupakan respon bakteri terhadap lingkungannya, termasuk terhadap paparan antibiotika. Alih-alih terbunuh, sebagian dari mereka justru berkembang menjadi kebal terhadap antibiotik tersebut. Beberapa contoh penggunaan antibiotika yang tidak tepat dan memicu resistensi antibiotik adalah :
1. Penggunaan antibiotik berlebihan
Antibiotika tidak bisa membunuh virus. Beberapa penyakit yang sering kita jumpai seperti flu, batuk, diare, sebagian besar disebabkan oleh virus. Namun seringkali dokter meresepkan atau juga pasien berinisiatif untuk menggunakan antibiotik. Semestinya antibiotik hanya diperlukan bila flu dan pilek sudah ditumpangi infeksi sekunder oleh bakteri, dan itu dapat terlihat dari adanya tanda-tanda infeksi. Penggunaan yang tidak tepat seperti ini bisa menyebabkan bakteri yang semula “lemah” akan ber-evolusi menjadi bakteri yang “kuat” dan resisten.
2. Penggunaan antibiotik yang terputus/tidak habis
Sering terjadi pasien menghentikan penggunaan antibiotika jika sudah merasa sembuh, padahal penggunaan antibiotika seharusnya dilakukan sampai jangka waktu tertentu, misalnya 5 hari atau 7 hari. Antibiotik harus habis diminum walaupun sudah merasa nyaman. Penggunaan yg tidak habis akan membunuh bakteri yang sensitif saja, dan meninggalkan bakteri yang masih “kuat’. Selanjutnya bakteri yang masih hidup menjadi resisten/kebal dan berkembang biak, dan memerlukan antibiotik yang lebih kuat (dan biasanya lebih mahal) ketika mengalami infeksi berikutnya.

Bagaimana seharusnya?

stop penggunaan antibiotika berlebihan

stop penggunaan antibiotika berlebihan

Mengetahui hal ini maka ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menekan kejadian resistensi bakteri:
1. Dokter sebaiknya lebih berhati-hati dalam meresepkan antibiotika, jangan terlalu mudah meresepkan antibiotika untuk penyakit-penyakit yang lebih banyak disebabkan oleh virus. Hal ini yang kemudian sering ditiru oleh masyarakat, di mana ketika merasakan sakit yang diduga sama, dan karena dulu pernah mendapatkan resep antibiotika, maka masyarakat mencoba mengobati sendiri dengan antibiotika.

2. Tenaga kesehatan selain dokter seperti bidan, perawat, mantri, juga semestinya tidak mudah memberikan antibiotika kepada pasien.

3. Apoteker lebih berhati-hati memberikan/menjual antibiotika. Jangan memberikan/menjual antibiotika sembarangan tanpa resep dokter. Jangan gantungkan rezeki Anda di sini, Insya Allah ada sumber lain yang lebih bermaslahat bagi masyarakat. Jika menyiapkan resep antibiotika untuk pasien, sebaiknya berikan edukasi secukupnya mengenai cara penggunaan obatnya yang tepat, misalnya : harus habis, dll.
4. Masyarakat/pasien sebaiknya tidak mudah pula mengobati diri sendiri dengan antibiotika. Karena penyakit yang nampaknya sama, belum tentu demikian, sehingga sebaiknya mendapatkan diagnosa yang tepat dari dokter. Apotek menjual antibiotika tanpa resep karena ada permintaan pasien. Rangkaian proses ini perlu diputuskan. Jangan mudah apalagi memaksa membeli antibiotik di Apotek tanpa resep dokter. Jangan menggunakan antibiotik pada penyakit-penyakit ringan akibat virus seperti flu, batuk, pilek, diare.
5. Dokter dan apoteker sebagai sesama tenaga kesehatan perlu meningkatkan komunikasi yang lebih efektif terkait dengan penggunaan antibiotika. Apoteker lebih memahami mengenai antibiotik dan indikasinya, sementara dokter juga terbuka untuk diingatkan jika meresepkan antibiotika secara kurang rasional.

Demikian, semoga bermanfaat….





Catatan Perjalanan : Beijing yang amazing…

31 08 2014

Dear kawan,

Konferens yang aku ikuti

Konferens yang aku ikuti

Mungkin kalian pernah mendengar ungkapan “Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri China”… yah, itulah yang minggu lalu aku coba jalankan… yaitu mencari ilmu tentang kefarmasian dan ilmu pariwisata hehe…  Alhamdulillah, aku berkesempatan menjejakkan kaki ke negeri tirai bambu ini, melalui sebuah international conference yang bertajuk : ”2nd International Conference and Exhibition on Pharmacognosy, Phytochemistry & Natural Products”, tanggal 25-27 Agustus 2014, di Beijing, China. Tulisan ini adalah cerita perjalananku ke China beserta seluk beluk persiapannya… sekedar untuk dokumentasi pribadi, dan inspirasi jika ada yang ingin mencoba juga…

Keinginan menjelajah ke China sudah lama ada dalam angan-angan. Siapa yang tidak kenal Tembok Besar China yang termasuk salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia dan masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia UNESCO ? Rasanya pengen sekali menginjakkan kaki ke sana suatu saat. Karena itu, aku memang sengaja mencari event seminar atau konferensi internasional yang diselenggarakan di sana, supaya bisa pergi ke sana dengan biaya seminim mungkin dari kantong sendiri hehe… sambil membawa tugas negara mendiseminasikan hasil penelitian orang Indonesia di dunia internasional.. ciee… belagu..!

A great effort to the Great Wall

Mewujudkan impian mengunjungi Tembok Besar China ternyata membutuhkan upaya yang besar juga….. yaitu diawali dengan mencari financial support untuk bisa pergi ke sana. Masalah pertama adalah kami mau pergi berdua, yaitu aku dan bu Triana, sementara support dana dari UGM menurut aturan saat itu hanya bisa untuk satu orang per fakultas. Karena itu aku harus mencari sumber lain. Akhirnya aku mencoba apply ke DIKTI untuk bantuan seminar luar negeri. Itu adalah pengalaman pertamaku untuk apply dana serupa dari DIKTI (tahun lalu aku ke Korea dengan dana dari universitas), jadi benar-benar tidak berani berharap banyak… Kalau dapat ya berangkat, kalau tidak ya sudah…. berarti belum rezekinya. Iseng-iseng berhadiah lah…

Untuk apply dana DIKTI maka yang harus disiapkan adalah acceptance letter dari Panitia seminar bahwa kita diterima untuk presentasi oral (bukan poster). Lalu ada beberapa dokumen lain yang harus diupload melalui sistem SIMLITABMAS, seperti surat pengantar dari institusi, info tentang konferens yang dituju, usulan biaya, dll. Singkat cerita, setelah apply dana tersebut, aku harus menjalani penantian cukup panjang untuk mendapatkan kepastiannya. Aku apply bulan April 2014, dan baru mendapatkan kepastian bahwa permohonanku diterima pada bulan Juni. Bayangin, lumayan mepet sekali karena setelah itu aku masih harus mengurus surat ijin perjalanan ke luar negeri dari universitas dan Sekretariat negara dan urusan exit permit yang juga tidak bisa selesai dalam waktu singkat, untuk keberangkatan bulan Agustus.

Di sisi lain, gejolak menjelang pilpres bulan Juli lalu cukup mengayun kurs rupiah tehadap dolar, jadi aku harus segera cepat mengambil keputusan untuk pembelian dan pembayaran tiket pesawatnya karena harga tiket ditetapkan dalam dolar. Aku putuskan untuk segera beli tiket pesawat, karena takut rupiah makin melemah siapapun presiden yang terpilih hehe… dan kami memutuskan untuk berangkat tanggal 24 Agustus dan kembali tanggal 29 Agustus 2014. Selain tiket pesawat Jogja-Beijing pp, kamipun memutuskan untuk segera booking Hotel melalui penyedia layanan booking hotel online yang bisa memberi harga khusus, karena kalau terlalu mepet waktu konferens harga pun bisa menjadi lebih mahal… Bener-bener banyak gambling-nya… kepastian berangkat belum ada, tapi sudah beli tiket pesawat dan booking hotel.. hehe..

Meleset dari rencana awal

Meski tiket pesawat sudah di tangan dan booking hotel sudah dibayar, namun keberangkatan masih belum bisa dipastikan karena surat ijin Setkab dan exit permit belum kami peroleh. Meskipun bisa berangkat pakai paspor hijau, tetapi waktunya sudah terlalu mepet untuk apply visa, lagipula paspor hijauku juga sudah hampir expired dan harus diperpanjang. Sebagai informasi, pengguna paspor dinas (paspor biru) tidak perlu visa untuk ke China karena sudah ada kerjasama bilateral antara Indonesia dan China dalam hal ini. Jadi kami pasrah saja, menanti takdir keberangkatan…

Di tengah ketidak-pastian untuk jadi berangkat atau tidak, aku dikejutkan oleh sepotong SMS dari Tim Analis Dana LPDP, yang menyatakan bahwa proposal penelitian RISPRO-ku lolos tahap seleksi awal dan masuk ke tahap paparan. Ketua Peneliti diharap kedatangannya di Jakarta untuk presentasi pada tanggal 26 Agustus 2014. Whatts…??!… itu kan barengan sama konferensi yang rencananya mau kami ikuti.. Aku sempat panik juga harus bagaimana dan harus segera memutuskan dalam waktu singkat. Kalau tidak jadi ke China, sayang tiketnya yg mahal itu kalau tidak terpakai. Tapi jika tidak ikut presentasi proposal, sayang juga kalau kehilangan kesempatan mendapatkan dana penelitian yang lumayan besar. Mengontak LPDP untuk negosiasi waktu juga bukan hal mudah karena telpon tidak pernah diangkat, sms tidak dibalas, email tidak direspon. Untunglah akhirnya aku memiliki ide, walau bukan ide yg menyenangkan, untuk menunda keberangkatan ke China. Yah…terpaksa tidak bisa berangkat bareng seperti rencana awal. Aku memutuskan untuk reschedule keberangkatan ke China menjadi tanggal 26 Agustus dengan konsekuensi ada tambahan biaya tiket, sementara bu Triana tetap berangkat tanggal 24 Agustus. Rencananya pagi aku ke Jakarta dulu untuk presentasi proposal, malamnya berangkat ke Beijing. Untunglah kebetulan ada penerbangan pada tanggal 26 malam. Dan tahu tidak.. pasporku beserta exit permitku baru bisa jadi pada tanggal 22 Agustus…. hadeeeh …! Almost in the last minute…

Korban modus operandi sopir taksi liar di Beijing

Akhirnya jadilah aku berangkat ke Beijing pada tgl 26 Agustus via Jakarta. Paginya aku ke Hotel Ibis dulu untuk presentasi proposal, dan sorenya berangkat ke Bandara. Setelah menanti cukup lama di bandara Soekarno Hatta sejak sekitar pukul 15:30an, berangkatlah malam itu aku sendiri membelah malam menuju Beijing, pada pukul 22:30 WIB. Tapi ada hikmahnya juga aku punya banyak waktu di bandara, karena aku bisa menyiapkan powerpoint presentasiku yang memang belum selesai karena fokusku ke konferensi terpecah dengan persiapan presentasi proposal RISPRO.

Informasi ttg conference di depan Hotel Doubletree by Hilton Beijing

Informasi ttg conference di depan Hotel Doubletree by Hilton Beijing

Perjalanan Jakarta-Beijing ditempuh dalam waktu 6 jam 46 menit. Pesawat Garuda yang kutumpangi mendarat mulus di Beijing Capitol Airport pada pukul 07.30an waktu setempat. Sesampai di Beijing, aku mencoba mencari taksi menuju hotel, dan aku sudah mendapat referensi bahwa ongkos taksi dari bandar ke Hotel Doubletree by Hilton Beijing adalah sekitar 200-250 yuan. Temanku kemarin malah kena charge 300 yuan. Ketika aku mencoba keluar dari Bandara, seperti di kota-kota di Indonesia, penumpang langsung diserbu tawaran naik taksi. Pertama ada yang menawarkan ongkos 450 yuan ke hotel, langsung saja aku tolak. Aku bilang bahwa temanku cuma bayar 200 yuan ke hotel (dalam bahasa Inggris dicampur bahasa isyarat). Repotnya di China itu tulisan hampir semuanya kanji dan tidak banyak yg bisa bahasa Inggris. Sebenarnya belakangan ada info bahwa kalau mau cari taksi yang resmi, mestinya naik satu lantai lagi di bagian departure. Tapi saat itu aku ada di bagian arrival dan tidak banyak terlihat ada taksi. Selain itu informasi di bandara cukup minim dan info itu kuketahui setelah mau pulang….

Akhirnya ada satu sopir yang ketika aku tawar 200 yuan dia setuju. Dia pun serta merta menggeret koperku dan memintaku mengikuti dia. Dengan sedikit harap-harap cemas aku ikuti dan berharap baik-baik saja. Ternyata dia parkir cukup jauh dan bukan taksi resmi. Dan harapanku tidak menjadi kenyataan, karena ketika baru berjalan beberapa puluh meter dia berhenti, dan bilang minta uang lagi untuk bayar tol 100 yuan. Aku langsung protes karena semula dia bilang 200 yuan sudah termasuk tarif tol. Tapi akhirnya aku sepakati menambah 50 yuan, dan dia minta dibayar saat itu. Ya udah, daripada ngga sampai-sampai aku pun membayar. Eh, kecurangan kedua terjadi lagi… Setelah mobil berjalan sekian puluh meter lagi, di jalan dia berhenti dan menyetop satu taksi resmi. Dia bicara ke sopirnya sambil menunjukkan informasi hotel yang kutuju, dan aku dioper ke taksi tersebut dengan dia menyerahkan sejumlah uang. “Dont worry, no more money,” katanya padaku. Untunglah sopir taksi berikutnya cukup baik orangnya, dan dengan bahasa isyarat dia bilang bahwa ongkos ke hotelku itu sebenarnya cuma sekitar 100 yuan… Hadeeh…! berarti si sopir pertama itu modusnya adalah mengambil penumpang dari bandara dengan ongkos yang lebih besar dari seharusnya, lalu dioper ke taksi resmi dengan harga biasa, dan dia mengutip kelebihannya…. Yah, sebuah pengalaman seru yang cukup berharga untuk menggunakan transportasi di Beijing… Belakangan aku mendengar cerita teman-teman yang sudah duluan datang bahwa mereka membayar ongkos taksi yang berbeda-beda untuk satu tujuan yang kira-kira jaraknya sama, tergantung pintar tidaknya menawar, karena sebagian taksi tidak mau pakai argometer.

 

Presentasi dalam seminar

Sesampai di hotel sekitar jam 9 waktu setempat, aku segera mandi dan siap-siap menuju ruang seminar. Dan alhamdulillah, presentasiku berjalan lancar-lancar saja. Konferensi diikuti oleh peserta dari berbagai negara, seperti China, Jepang, Korea, India, USA, Australia, Mesir, Russia, Saudi Arabia, Malaysia, Indonesia, Philipina, dll. Tetapi karena aku datang sudah pada hari ketiga, peserta terlihat mulai berkurang. Namun demikian, cukup banyak ilmu baru yang diperoleh dari konferensi ini yang menambah inspirasi.

 

Petualangan pertama ke Forbidden City dan Jingshan Park

Siang hari setelah makan siang, kami bersiap untuk menjelajahi Beijing berdua. Tujuan pertama adalah Forbidden city atau Kota Terlarang. Kota Terlarang, sering disebut juga dengan “Istana Terlarang”, terletak persis di tengah-tengah kota kuno Beijing dan merupakan istana kerajaan selama periode Dinasti Ming dan Dinasti Qing. Dikenal sebagai “Museum Istana”, lokasi ini memiliki luas sekitar 720,000 meter persegi, 800 bangunan dan lebih dari 8.000 ruangan. Oleh UNESCO, Kota Terlarang dikatakan merupakan koleksi struktur kayu kuno terbesar di dunia, dan terdaftar sebagai salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO pada 1987 sebagai “Istana Kerajaan Dinasti Ming dan Qing”. Lokasi istana kerajaan berada di utara dari lapangan Tiananmen dan dapat diakses dari lapangan tersebut melalui Gerbang Tiananmen.

Setelah tanya pada petugas Hotel, kami ditunjukkan untuk mengambil bus jalur 7 menuju halte terdekat dengan Kota Terlarang. Oya, untuk naik bus di Beijing, jangan lupa menukarkan uang dulu supaya memiliki recehan 1 yuan, karena ongkos naik bus jauh dekat 1 yuan. Bus yang kami tumpangi adalah bus tingkat dengan kondektur seorang wanita. Dengan bahasa isyarat kami sampaikan bahwa kami akan ke Forbidden city (kami bawa tulisan kanji yang menunjukkan tempat yang kami tuju). Wajahnya datar tanpa ekspresi ketika menunjukkan tempat kami harus turun… hadeeh… ! Dari halte tempat berhenti, kami masih harus jalan agak jauh melintasi Lapangan Tiananmen. Yang menarik, di sana banyaaak sekali orang China hehee….. ya iya laah, namanya juga di China. Iya, tapi maksudku adalah banyak sekali turis datang, dan sebagian besar berwajah China. Mungkin mereka turis domestik yang sedang berkunjung di Beijing, dan juga terbukti bahwa penduduk China banyaak sekali…

Di depan salah satu bangunan di Forbidden City

Di depan salah satu bangunan di Forbidden City

Untuk masuk ke dalam Forbidden City kami harus membeli tiket seharga 60 yuan per orang. Alhamdulillah, cuaca cerah.. dan kami pun mulai menjelajah di Kota terlarang yang cukup luas. Ada beberapa bangunan besar-besar di dalamnya, dan juga taman. Kota terlarang ini adalah istana kaisar yang dibangun pada tahun 1420. Selama sekitar 500 tahun, dari th 1420 sampai 1924, ada sebanyak 24 kaisar Cina hidup dalam istana tersebut, yaitu 14 kaisar dari Dinasti Ming, dan 10 kaisar dari Dinasti Qing. Pada tahun 1924, Jenderal China – Feng Yuxiang meluncurkan kudeta di Beijing dan mengusir kaisar Cina terakhir, yaitu Kaisar Pu Yi, dari Kota Terlarang. Kota Terlarang mulai terbuka untuk umum pada tahun 1925. Istana Kota Terlarang ini terbagi dalam dua bagian, di mana bagian selatan adalah bangunan utama di mana para Kaisar dahulu menjalankan roda pemerintahannya, sedangkan di bagian utara adalah tempat tinggal keluarga Kaisar. Sayangnya kami datang sendiri tanpa guide, sehingga tidak ada yang menjelaskan mengenai sejarah dari bangunan-bangunan yang ada di sana secara detail. Dan kamipun tidak sampai menyusuri semua bagiannya. Tapi yang penting kami sudah masuk ke sana, dan sah kalau dibilang sudah pernah ke Beijing hehe…..

Jika kami masuk dari bagian selatan, maka kami keluar melalui gate sebelah utara Forbidden city. Di depan pintu keluar sebelah utara, terdapat tempat yang tak kalah menarik yaitu Jingshan Park. Jingshan park semulanya adalah taman bagian dari Forbidden city, namun sekarang terpisah oleh jalan. Di dalamnya ada bukit buatan setinggi 45,7 meter yang dibangun pada era kaisar Yongle dari Dinasti Ming. Jingshan park terdiri dari 5 puncak, dan pada masing-masing puncak terdapat semacam pavilion.

Permaisuri Kaisar Khong dari dinasti Guan (kerajaan biskuit)

Permaisuri Kaisar Khong dari dinasti Guan (kerajaan biskuit)

Untuk masuk ke Jingshan Park, tiketnya hanya 2 yuan per orang. Semula kami pikir sekedar taman biasa, ternyata setelah mencapai puncak sangatlah indah pemandangannya. Dari atas terlihat hampir keseluruhan Forbidden city dan sebagian kota Beijing. Dan yang paling menarik adalah kesempatan memakai baju permaisuri kaisar China di salah satu pavilion Jinshan dengan membayar 25 yuan. Kamipun mencobanya…  kapan lagi bisa ke China dan tampil bak permaisuri? Hehehe…. Perjalanan menuruni puncak Jingshan park kami tempuh melalui jalan yang berbeda dari jalan naiknya… dan tidak sengaja kami ternyata melalui tempat di mana kaisar terakhir Dinasti Ming, yaitu Chongzhen gantung diri pada tahun 1644. Di situ terdapat pohon yang merupakan replika pohon tempat sang Kaisar gantung diri dan papan yg bertuliskan info tentang kisah tersebut. Hiii…serem…!

naik rickshaw

naik rickshaw

Perjalanan dari dua tempat tadi menutup petualangan hari itu, dan kami pun pulang ke hotel menggunakan bus. Tapi sempat juga kami bingung mencari halte bus yang harus kami datangi, dan itu menjadi alasan kami untuk naik rickshaw (kendaraan mirip becak yang dikayuh di depan oleh tukangnya) karena juga sudah kelelahan berjalan. Sayangnya kami sempat ketipu sama tukang rickshaw-nya…. Ongkos naik rickshaw disepakati 20 yuan, tetapi karena tidak punya uang kecil, aku bayar dengan 50 yuan. Dia kembalikan padaku 30 yuan. Belakangan baru aku ketahui bahwa dari 30 yuan uang kembaliannya, 20 yuannya adalah BUKAN uang China, tapi mirip sekali dengan uang China, sehingga tidak laku untuk beli di supermarket. Kami menyadari hal itu setelah kami mampir supermarket dan akan membayar, ternyata kasirnya bilang bahwa uangnya salah… Semula aku tidak ngeh… setelah aku amati lagi, barulah sadar bahwa uang 20-an itu ternyata bukan uang yuan, tetapi dari negara lain yang mirip sekali warnanya dengan uang yuan…. Hadeeeh, mane keteheee…… ketipu maniing….

 

 Petualangan kedua ke Ming Tombs dan Great Wall Badaling

Penerbangan ke Jakarta dari Beijing baru ada lagi pada tanggal 29 Agustus, sehingga kami ada waktu seharian setelah conference untuk menjelajahi Beijing. Kebetulan sekali kawan dari Universitas Andalas, yaitu Prof Dachrianus dan bu Ayu istrinya, juga mengikuti konferensi ini dan keluarga mereka menyewa satu travel agen untuk berkeliling Beijing. Maka jadilah kami ikut rombongan keluarga mereka yang kebetulan hari itu punya tujuan ke Great Wall. Dengan membayar 400 yuan seorang, kami bisa ikut tour sehari bersama mereka, sudah termasuk tiket masuk, lunch, dan dinner.

Bersama keluarga Prof Dachrianus di salah satu bagian Ming Tomb

Bersama keluarga Prof Dachrianus di salah satu bagian Ming Tomb

Perjalanan dimulai sekitar pukul 9 pagi waktu setempat dengan destinasi pertama adalah pusat penjualan batu giok/jade. Setelah melihat-lihat dan membeli sekadarnya, kami menuju destinasi kedua yaitu makam kaisar yang disebut Ming Tomb. Ming Tombs adalah makam kaisar-kaisar dinasti Ming. Ada sebanyak 13 tomb (makam Kaisar) yang tersebar di sekitar Beijing, dan yang kami kunjungi adalah tomb terbesar yaitu Chang Tomb. Chang Tomb merupakan makam bagi Kaisar Zhu Di dan istrinya, kaisar ketiga Dinasti Ming, yang memerintah China pada tahun 1402-1422. Arsitekturnya mirip seperti Forbidden city, dan menariknya pilar-pilar besarnya terbuat dari kayu cendana yang sangat besar dan tua. Kami masuk ke sana dan memasuki bangunan besar di dalamnya, namun sayangnya tempat penguburan kaisar di Chang Tomb tidak terbuka untuk umum, jadi kami tidak bisa melihat langsung tempat penguburannya.

Selepas dari Ming Tombs kami makan siang di sebuah restoran yang menyediakan makanan untuk muslim, sekalian sholat dhuhur. Setelah itu perjalanan dilanjutkan ke Tembok Besar China yang sudah membuat penasaran…

Mejeng dulu di depan pintu masuk Great Wall

Mejeng dulu di depan pintu masuk Great Wall

Sampailah kami di Great Wall, sebuah bangunan yang sangat terkenal di dunia. Bangunan ini mulai dibuat pada tahun 221 sebelum Masehi pada jaman dinasti Qin. Kemudian pada dinasti Ming (th 1368 – 1644) bangunan ini diteruskan pembuatannya, ditambah dengamenara suar, menara pengintai, meriam, dan diperkuat dengan batu-batu granit. Tembok besar China bukanlah bangunan yang sambung-menyambung, tetapi terdiri dari beberapa bagian, yang panjang totalnya adalah sekitar 8.850 km. Ada sedikitnya 7 bagian yang terkenal untuk dikunjungi. Bagian (sections) yang berlokasi dekat Beijing ada 3, yaitu Badaling, Mutianyu dan dan Simatai. Selebihnya adalah Huanghuacheng, Jiankou, Gubeikou, dan Jinshanling. Masing-masing memiliki pemandangan dan keunikan tersendiri.

Jika ingin menikmati budaya dan keindahan Great Wall, dengan susunan batu bata berkelok-kelok, maka Badaling adalah pilihan pertama. Hal ini karena Badaling terkenal dengan budaya yang mengakar, pemandangan megah dan fasilitas militer yang lengkap, yang merupakan esensi dari Tembok Besar. Sebagian besar gambar Tembok besar China yang sering kita temui adalah pemandangan di Badaling. Bagian ini merupakan bagian yang paling ramai dikunjungi turis. Tapi jika kita ingin yang agak sepi dari wisatawan, maka Mutianyu adalah pilihannya. Jika ingin melihat bagian tembok besar yang lebih primitif dengan pemandangan padang gurun, maka kita sebaiknya mengunjungi Simatai dan Gubeikou. Sedangkan yang pemberani dan suka berpetualang dengan puncak curam dan pecahan batu-bata, pilihannya Huanghuacheng dan Jiankou. Puncak curam dan pecahan batu bata akan menantang keberanian dan rasa ingin tahu. Yang penting jangan lupa membawa persediaan air minum dan makanan secukupnya. Kata guide tour kami, kunjungan ke satu section Great Wall butuh satu hari. jadi karena ada 7 sections, maka butuh 7 hari di Beijing untuk bisa mengunjungi semuanya dengan puas….

Pemandangan dari salah satu menara suar.. indah sekali

Pemandangan dari salah satu menara suar.. indah sekali

Kami sendiri mengunjungi Badaling, section yang paling sering dikunjungi wisatawan… Tempatnya bersih dan terawat baik. Menaiki tangga yang lumayan tinggi dan curam untuk menuju menara suar dan menara pengintai sungguh suatu perjuangan tersendiri. Memasuki dan menyusuri Tembok Besar China mau tak mau harus mengagumi orang-orang China jaman dahulu dengan peradaban yang telah sangat tinggi ratusan tahun yang lalu. Pemandangan dari menara pengintai sangat indah. Kebetulan cuaca cukup nyaman, tidak terlalu cerah sekali, tetapi justru jadi tidak terlalu panas. Tapi kami tidak sanggup untuk lebih jauh dari satu menara suar saja… cukuplah merasa puas bisa menginjakkan kaki di sana dan mengabadikan beberapa foto. Kami berjumpa dengan banyak wisatawan dari berbagai negara… ada yang berkulit hitam, berkulit putih, dan yang berkulit sawo matang sekali seperti kami hehe…. Waktu turunnya pun kaki sedikit gemeteran karena sudah pegal …. hadeuuh….

 Ending perjalanan

Perjalanan hari ini ditutup dengan berkunjung ke toko souvenir untuk berbelanja oleh-oleh sekadarnya, melihat Stadium Olympic th 2008 dari jauh saja, dan makan malam di sebuah restoran muslim di kawasan Niujie. Kawasan ini adalah kawasan muslim di Beijing di mana terdapat Mesjid Niujie. Sayangnya aku tidak berkesempatan mengunjungi mesjidnya karena keterbatasan waktu. Alhamdulillah, kami kembali ke hotel dengan rasa syukur dan lega telah menyelesaikan misi perjalanan ke China dengan baik hehe... Cukup lengkap untuk sebuah perjalanan singkat ke Beijing karena telah mengunjungi tempat-tempat wajib di Beijing….  Malamnya kami berkemas karena esok paginya kami harus berangkat pagi untuk pulang ke Indonesia tercinta…

Demikian sedikit catatan perjalananku ke China, sekedar dokumentasi pribadi. Walaupun sempat dua kali kena tipu warganya, bagaimanapun Beijing tetap merupakan kota yang amazing, kombinasi antara sejarah dan modernitas sebagai ibu kota negara. Pengalaman mengunjungi Beijing, walau hanya singkat, telah cukup mewarnai pengalaman hidupku. Semoga masih berkesempatan mengunjungi kota-kota menarik lainnya lagi di dunia….

 

 

 





Sekilas tentang pemanis buatan… ketika gula tak lagi “manis”…

4 08 2014

sakarinDear kawan,

Masih dalam suasana Idul Fitri, aku ucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri 1435 H.. mohon maaf lahir batin. Masih banyakkah tersisa kudapan kue-kue Lebaran atau sirup yang manis? Hmm… pasti itu bukan pilihan kudapan sehat buat penderita Diabetes Melitus.. juga buat mereka yang harus membatasi asupan kalori karena sudah kegemukan atau pengen tetap langsing.  Buat mereka yang harus membatasi asupan gula namun masih tetap ingin mencicipi manisnya makanan, bisa menggantikannya dengan pemanis buatan. Kita seringkali tidak bisa menghindarkan adanya bahan ini dalam makanan kita. Karena itu lebih baik kita kenali yuk tentang pemanis buatan dan bagaimana memanfaatkannya dengan bijak agar tetap sehat.

Pemanis alami

Pemanis alami adalah gula. Gula adalah termasuk senyawa karbohidrat sederhana yang menjadi sumber energi dan komoditi perdagangan utama. Gula yang paling banyak digunakan dalam makanan kita adalah sukrosa. Kita mengenal ada gula pasir, gula aren, gula bit, dll. Sukrosa akan diuraikan menjadi glukosa dan fruktosa. Glukosa inilah yang merupakan gula sederhana yang menyimpan energi yang akan digunakan oleh sel. Namun demikian, pada orang-orang yang memiliki sakit kencing manis atau diabetes melitus, gula adalah salah satu pantangannya karena bisa meningkatkan kadar glukosa darah. Karena itu jika ingin tetap merasakan manisnya makanan, dapat digantikan dengan pemanis buatan.

Pemanis buatan

Sebagai pengganti gula, banyak produk pangan menggunakan pemanis buatan untuk menghasilkan pangan rendah kalori. Hal ini terutama ditujukan untuk penderita Diabetes atau mereka yang harus mengurangi asupan kalori. Pemanis buatan kini sudah mulai banyak digunakan juga oleh masyarakat yang tidak menderita diabetes. Selain itu, beberapa produsen pangan juga mengganti gula dengan pemanis buatan dengan alasan ekonomi, karena lebih murah. Berbagai minuman kaleng atau botol, sirup, permen, selai, dll. banyak yang menggunakan pemanis buatan. Apa saja macam pemanis buatan?

Aspartam

aspartameAspartam adalah pemanis buatan yang tersusun dari 2 macam asam amino yaitu asam aspartat dan fenilalanin. Ia ditemukan pada tahun 1965 oleh James Schslatte sebagai hasil percobaan yang gagal. Asam aspartat dan fenilalanin sendiri merupakan asam amino yang menyusun protein, khusus asam aspartat, ia juga merupakan senyawa penghantar pada sistem saraf (neurotransmiter). Aspartam, dikenal juga dengan kode E951, memiliki kadar kemanisan 200 kali daripada gula (sukrosa), dan banyak dijumpai pada produk-produk minuman dan makanan/permen rendah kalori atau sugar-free. Nama dagang aspartam sebagai pemanis buatan antara lain adalah Equal, Nutrasweet dan Tropicana.

Sejak masuk ke pasar Amerika pada tahun 1981, keamanan aspartam telah diuji melalui lebih dari 100 kajian ilmiah, baik pada manusia maupun hewan uji. Hingga saat ini, FDA menyetujui aspartam sebagai pemanis buatan yang aman. Seperti banyak peptida lainnya, kandungan energi aspartam sangat rendah yaitu sekitar 4 kCal (17 kJ) per gram untuk menghasilkan rasa manis, sehingga kalorinya bisa diabaikan, yang menyebabkan aspartam sangat populer untuk menghindari kalori dari gula. Keunggulan aspartam yaitu mempunyai energi yang sangat rendah, mempunyai cita rasa manis mirip gula, tanpa rasa pahit, tidak merusak gigi, menguatkan cita rasa buah-buahan pada makanan dan minuman, dapat digunakan sebagai pemanis pada makanan atau minuman pada penderita diabetes.

Di antara semua pemanis tidak berkalori, hanya aspartam yang mengalami metabolisme. Aspartam akan dipecah menjadi komponen dasar, dan baik aspartam maupun komponen dasarnya tidak akan terakumulasi dalam tubuh. Jadi, sebenarnya aspartam cukup aman dipakai, karena dia dipakai dalam kadar yang sangat kecil (1% dari gula) dan akan dikeluarkan oleh tubuh. Satu-satunya kondisi yang dikontraindikasikan bagi aspartam adalah penyakit fenilketouria. Apa maksudnya? Dalam keadaan normal, fenilalanina (salah satu komponen aspartam) akan diubah menjadi tirosin dan dibuang dari tubuh. Pada orang yang mengalami gangguan fenilketouria, terdapat gangguan dalam proses ini. Penyakit ini diwariskan secara genetik, di mana tubuh tidak mampu menghasilkan enzim pengolah asam amino fenilalanin, sehingga menyebabkan kadar fenilalanin yang tinggi di dalam darah, yang berbahaya bagi tubuh. Timbunan fenilalanin dalam darah dapat meracuni otak dan menyebabkan keterbelakangan mental. Karena itu, aspartam dikontraindikasikan bagi penderita fenilketouria.

Seperti halnya bahan tambahan makanan lainnya, ada dosis tertentu yang dapat diterima penggunaannya, yang sering disebut sebagai Acceptable Daily Intake, atau ADI, yaitu perkiraan jumlah bahan tambahan makanan yang dapat digunakan secara rutin (setiap hari) dengan aman. Dalam hal aspartam, angka ADI-nya adalah 40 mg per kg berat badan. Berarti sekitar 2800 mg untuk berat rata-rata orang dewasa. Dan untuk anak-anak usia 3 tahun, angka ADI-nya berkisar 600 mg.

 Sakarin

Sakarin adalah pemanis tidak berkalori. Pemanis ini sesungguhnya tidak dimetabolisme oleh tubuh sehingga aman digunakan. Sakarin merupakan senyawa benzosulfamida. Keunggulan dari senyawa ini mempunyai tingkat kemanisan kira-kira 300-500 kali dibandingkan dengan gula. Sama dengan aspartame, senyawa ini bukan merupakan sumber kalori sebagaimana gula pasir sehingga kerap digunakan untuk mereka yang menjalani diet rendah kalori. Kelemahannya, senyawa ini labil pada pemanasan sehingga mengurangi tingkat kemanisannya. Disamping itu sakarin kerap kali menimbulkan rasa pahit ikutan (after taste) karena ketidakmurnian bahannya. FDA memperkirakan bahwa pemakaian sakarin yang aman adalah 50 mg per orang per hari. Dosis sakarin yang disarankan adalah sebesar 5 mg per kg berat badan per hari.

Asesulfam Potasium

Tingkat kemanisan Asesulfam potassium sekitar 200 kali dibanding dengan sukrosa atau gula. Kelebihannya, mempunyai sifat stabil pada pemanasan dan tidak mengandung kalori. Selain itu, asesulfam potassium dapat meningkatkan derajat kemanisan makanan bila dicampur dengan pemanis lain. Pastinya pemanis ini akan dikeluarkan melalui urin tanpa mengalami perubahan. Dosis harian yang aman yang disetujui oleh FDA bagi asesulfam adalah tidak melebihi 15 mg/kg BB. Karena tingkat kemanisannya yang tinggi, penggunaan asesulfam sebaiknya dibatasi dalam dosis yang kecil. Apalagi penggunaan asesulfam sering dikombinasikan juga dengan pemanis lain.

Sukralosa

Sucrose-SucraloseDitemukan pada tahun 1976, sukralosa merupakan derivate dari sukrosa, mempunyai tingkat kemanisan kurang lebih 600 kali sukrosa. Sejauh ini sukralosa dinyatakan aman, dengan dosis harian yang dianggap aman adalah tidak lebih dari 10 mg per kg berat badan. Pemanis ini tidak diserap secara baik oleh tubuh dan akan dikeluarkan melalui urin hampir tanpa perubahan. Salah satu keunggulan sukralosa adalah tahan panas sehingga tingkat kemanisan yang diperoleh tidak menurun. Karena tingkat kemanisannya yang tinggi, jumlah sukralosa yang diperlukan untuk mencapai tingkat kemanisan yang diinginkan juga sangat sedikit.

Sucralose saat ini digunakan di lebih dari 40 negara dan disetujui FDA pada tahun 1998 sebagai pemanis buatan. Telah dipelajari selama lebih dari 20 tahun, dan 110 penelitian tentang keamanannya pada hewan dan manusia menyimpulkan bahwa sucralose aman untuk dikonsumsi

Demikian paparan tentang bahan pemanis buatan. Walaupun aman, bahan-bahan ini harus digunakan sesuai aturan pemakaiannya untuk tidak melebihi dosis hariannya. Jika bisa menggunakan yang alami, sebaiknya tidak menggunakan yang buatan…





Lebaran sehat dan nyaman: Selamat Hari Raya Idul Fitri

26 07 2014

Dear kawan,

Kami sekeluarga menguapkan Selamat Hari raya Idul Fitri, Mohon maaf lahir dan batin

Kami sekeluarga menguapkan Selamat Hari raya Idul Fitri, Mohon maaf lahir dan batin

Lebaran sebentar lagi. Persiapan mudik dan acara di kampung halaman pastinya sudah disusun rapi. Ijinkan saya mengucapkan Selamat hari raya Idul Fitri, Mohon maaf lahir dan batin. Namun di balik suka ria Lebaran, kadang terjadi berbagai gangguan kesehatan yang membuat acara menjadi sedikit kacau. Beberapa gangguan yang sering terjadi menjelang dan saat Lebaran antara lain adalah mabuk perjalanan saat mudik dan gangguan pencernaan seperti diare atau maag. Tulisan ini adalah kompilasi beberapa tulisanku sebelumnya, dengan versi lebih singkat, terutama terkait dengan aneka gangguan kesehatan mendekati lebaran, sebagai tips agar Lebaran kita sehat dan nyaman. Jangan lupa ya membawa obat-obatan pribadi supaya tidak repot di jalan atau di kampung halaman kalau …

Mabuk jalan
Mabuk jalan ini adalah suatu gangguan yang disebabkan oleh adanya gerakan, yang ditandai dengan dengan rasa mual, pusing, atau bahkan muntah ketika berada dalam perjalanan. Penyakit ini merupakan gangguan yang tejadi pada telinga bagian dalam (labirin) yang mengatur keseimbangan, dan disebabkan karena gerakan yang berulang, seperti gerak ombak di laut, pergerakan mobil, perubahan turbulensi udara di pesawat, dll. Beberapa orang bisa mengalami mabuk perjalanan jika menumpang mobil, bus, kapal, atau pesawat udara.
Bagaimana pengatasan mabuk perjalanan?
Jika Anda termasuk yang gampang mabuk perjalanan, ada beberapa hal yang mungkin bisa dilakukan untuk mencegah mabuk jalan:
1. Naiklah kendaraan di bagian di mana mata Anda akan melihat gerakan yang sama dengan yang dirasakan oleh tubuh (jadi jangan duduk menghadap ke belakang misalnya, atau di samping, yang tidak searah dengan gerakan mobil). Kalau di mobil atau bus, duduklah di depan dan lihat ke depan. Sebagian orang akan mengalami mabuk perjalanan jika menumpang mobil, tapi tidak mabuk ketika menyopir. Mengapa? Karena pada saat menyopir pandangannya bisa fokus ke satu arah. Kalau di kapal, pergilah ke dek dan melihat gerakan horizon. Kalau di pesawat, duduklah dekat jendela dan melihat keluar. Juga duduklah di bagian dekat sayap, di mana gerakan terasa paling minimal. Jika di kereta api, pilihlah tempat di bagian depan dan dekat jendela.
2. Jangan membaca di kendaraan yang sedang berjalan, ini bisa memicu mabuk jalan. Termasuk juga main game menggunakan tablet atau iPad. Lebih baik mendengarkan lagu dengan mata tertutup.
3. Jangan melihat atau bicara dengan orang lain yang juga gampang mabuk jalan. Kadang mabuk jalan ini bisa “menular”
4. Hindari bau-bauan yang kuat yang bisa memicu mual
5. Hindarkan makan makanan berat, berbumbu tajam dan berlemak, terutama sebelum dan selama perjalanan.
6. Gunakan obat anti mabuk. Obat yang paling sering dipakai untuk mengatasi mabuk jalan adalah golongan antihistamin. Obat ini bisa mencegah mual, muntah, dan pusing akibat mabuk jalan. Antihistamin yang sering dipakai adalah dimenhidrinat (ada berbagai nama paten) atau meklizin. Obat sebaiknya diminum sebelum perjalanan dimulai. Ada studi melaporkan bahwa jahe bisa mengurangi mabuk jalan, jadi bisa juga dicoba minum wedang jahe atau mengulum permen jahe, walaupun mungkin hasilnya akan bervariasi antar orang.

Diare
Diare termasuk gangguan yang sering dijumpai menjelang atau pada saat Lebaran, yang biasanya disebabkan karena paparan makanan yang kurang higienis, baik dalam perjalanan mudik atau pada saat Lebaran. Diare ditandai dengan peningkatan frekuensi buang air besar (BAB) disertai konsistensi tinja yang cair, sehingga dapat menyebabkan dehidrasi (kekurangan cairan) dan kekurangan nutrisi. Jika terjadi dehidrasi yang berat, perlu waspada karena dapat berakibat pada kematian. Dehidrasi berat dapat dilihat dari tanda-tandanya antara lain: penderita terlihat sangat mengantuk/diam saja, atau bahkan tidak sadar, matanya cekung, tidak bisa minum atau minum sangat sedikit, jika dicubit, kembalinya kulit ke keadaan normal sangat pelan (lebih dari 2 detik). Kalau seperti ini tentu harus dibawa ke UGD dan mendapat terapi cairan secepatnya menggunakan infus.
Tapi untungnya sebagian besar diare itu merupakan self limiting disease, artinya dapat sembuh sendiri, dan terutama disebabkan karena virus yaitu rotavirus. Karena disebabkan oleh virus, maka penggunaan antibiotika sebenarnya tidak diperlukan. Untuk membedakan antara diare karena virus dengan diare karena bakteri secara sederhana dapat dilihat dari ada/tidaknya darah pada feses/tinja. Jika tinja diare mengandung darah, mungkin disebbakan karena bakteri, dan segeralah konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Bagaimana pertolongan pertama untuk diare?
Berikan cairan oralit sebagai pengganti cairan yang hilang, ditambah dengan makanan-makan yang berkuah seperti sop, sayur bening, atau air tajin. Pada bayi yang masih minum ASI, perkerap memberikan ASI, atau berikan susu yang lebih encer dua kali dari konsentrasi biasanya. Usahakan tetap memberikan makanan pada anak, untuk mengganti nutrisi yang terbuang. Makanan sebaiknya diberikan dalam porsi kecil tetapi lebih sering, dengan bentuk yang mudah dicerna. Hindari dulu makanan terlalu manis karena dapat meningkatkan keparahan diarenya. Oralit dapat dibeli di apotek, dan sebaiknya disediakan di rumah. Jika tidak ada oralit, bisa digantikan dulu dengan larutan gula-garam. Cara membuatnya, setengah liter air matang ditambah dengan sejimpit garam dan satu sendok teh gula. Aduk rata dengan sendok yang bersih. Sebaiknya dicicipi dulu, kira-kira rasanya adalah seperti airmata. Jika ada, berikan suplemen Zinc. Mulai tahun 2004, WHO-UNICEF merekomendasikan suplemen Zinc untuk terapi diare karena diketahui dapat mengurangi keparahan dan lamanya diare. Zinc sebaiknya diberikan sampai 10-14 hari, walaupun diarenya sudah sembuh. Zinc dapat diperoleh di apotek dalam bentuk sirop maupun tablet.

Maag
Keasyikan makan makanan tertentu apalagi yang asam dan pedas pada saat Lebaran dapat juga menyebabkan sakit maag kambuh. Sakit maag adalah istilah yang sering dipakai untuk menyebut gangguan pada lambung, walaupun sebenarnya gangguan lambung itu bervariasi dari sekedar iritasi, radang, sampai terjadi perlukaan atau bahkan sampai bocor. Radang lambung (gastritis) dapat disebabkan oleh adanya infeksi, iritasi, gangguan autoimun, atau aliran balik empedu ke lambung. Infeksinya bisa disebabkan oleh bakteri atau virus, sedangkan iritasi lambung bisa disebabkan karena makanan atau obat-obatan. Beberapa obat bisa menyebabkan iritasi lambung, seperti aspirin dan obat-obat anti inflamasi non-steroid (NSAID) seperti diklofenak, piroksikam, fenilbutazon, dll. Makanan yang terlalu asam dan terlalu pedas juga bisa menyebabkan iritasi lambung buat mereka yang peka. Beberapa iritan lambung yang lain antara lain adalah: alkohol, asam lambung yang berlebihan, dll.
Pengobatannya bervariasi tergantung penyebab spesifiknya. Jika disebabkan karena penggunaan aspirin atau obat lain, maka hentikan obatnya. Namun pada sebagian besar kasus gangguan maag, menetralkan asam lambung dengan antasid atau mengurangi produksi asam lambung dengan obat-obat penekan asam lambung biasanya sangat membantu mengatasi gejala.

Apa saja obatnya?
Beberapa obat yang sering digunakan untuk menetralkan asam lambung dan mengurangi produksi asam lambung antara lain adalah:
1. Antasid
Obat ini umumnya berisi Al hidroksida dan Mg hidroksida, ada juga yang berisi CaCO3 yang bersifat basa, dengan tujuan menetralkan keasaman lambung. Obatnya ada yang berupa suspensi (cairan) dan ada yang berupa tablet kunyah. Untuk obat bentuk suspensi, jangan lupa kocok dahulu sebelum diminum supaya homogen. Untuk tablet kunyah, kunyah hingga halus sebelum ditelan agar efeknya lebih cepat. Sebaiknya tidak dipakai lebih dari 2 minggu, jika nyeri masih berlanjut, periksakan ke dokter. Antasid umumnya cukup poten untuk gangguan lambung yang masih ringan.
2. Antagonis histamin H2
Golongan berikutnya adalah yang bekerja memblok reseptor histamin. Histamin adalah senyawa dari dalam tubuh yang bisa memicu sekresi asam lambung. Jika reseptornya diblokade, maka histamin tidak bisa bekerja, dan produksi asam lambung berkurang. Contoh obatnya adalah : simetidin, ranitidin, famotidin, dan nizatidin. Saat ini yang lebih banyak dipakai adalah ranitidin dan famotidin, karena simetidin memiliki lebih banyak efek samping dan lebih banyak berinteraksi dengan obat-obat lain.
3. Penghambat pompa proton
Obat ini bekerja pada pompa proton yang merupakan tempat keluarnya proton (ion H) yang akan membentuk asam lambung. Karena bekerja langsung di pompa proton, obat ini lebih poten daripada golongan antagonis H2, contohnya adalah: omeprazol, lansoprazol, dan pantoprazol. Obat-obat ini harus diperoleh dengan resep dokter. Obat ini umumnya diminum 2 kali sehari, pagi dan malam sebelum makan. Obat ini lebih poten daripada antagonis histamin H2 karena langsung memblok pada pompa pengeluaran asam.
4. Pelindung mukosa lambung dan duodenum
Ada obat yang bekerja melapisi permukaan mukosa lambung, sehingga melindunginya dari asam lambung. Contoh obatnya adalah sukralfat dan sediaan bismuth.

Apa yang perlu diperhatikan penderita gangguan lambung?
1. Perhatikan faktor perusak lambung, dan sebisa mungkin dihindarkan, seperti pemakaian obat-obat NSAID, alkohol, steroid, dll
2. Hindarkan makanan-makanan yang terlalu pedas atau asam. Kurangi makanan yang mengandung protein hewani karena dapat memicu produksi asam lambung
3. Perhatikan waktu minum obatnya. Sebagai contoh, obat yang mengandung sukralfat akan mengurangi absorpsi obat lain. Karena itu, minumlah obat lain dulu, baru gunakan sukralfat 30 menit kemudian.
4. Dalam kondisi kronis, tukak lambung sering kambuh sehingga harus sering minum obat. Tidak perlu terlalu kuatir efek sampingnya, karena manfaat obatnya melebihi risiko efek sampingnya. Jika memang ada efek samping yang tidak bisa ditoleransi, sampaikan pada dokter untuk memberikan alternatif obatnya.

Demikian beberapa gangguan kesehatan yang sering terjadi semasa Lebaran dan cara pengatasannya. Semoga Lebaran Anda tetap nyaman tanpa gangguan.





Bagaimana cara menggunakan obat di bulan Ramadhan?

1 07 2014

Dear kawan,

minum obatBulan Ramadhan telah datang lagi. Umat Islam menyambut dengan suka cita akan hadirnya bulan suci karena teringat janji pahala berlipat ganda dari Allah SWT,  bagi yang ikhlas dan bersungguh-sungguh menjalani ibadahnya. Sehingga meskipun Islam membolehkan orang yang sedang sakit untuk tidak berpuasa, sebagian ummat bahkan ada yang tetap ingin menjalankan ibadah puasa Ramadhan walaupun memiliki gangguan kesehatan dan harus menggunakan obat secara rutin. Lalu bagaimana cara mengatur waktu minum obat pada saat puasa supaya tidak mengganggu hasil terapi yang diharapkan? Artikel ini mencoba mengupas cara penggunaan obat selama bulan Ramadhan.

Penggunaan obat yang tidak membatalkan puasa

Tidak semua penggunaan obat membatalkan puasa, yaitu dalam bentuk yang tidak diminum melalui mulut dan masuk saluran cerna. Dalam sebuah seminar medis-religius yang diselenggarakan di Marokko, tahun 1997, para ahli medis maupun agama sepakat bahwa beberapa bentuk sediaan obat di bawah ini tidak membatalkan puasa, antara lain:

  1. Tetes mata dan telinga
  2. Obat-obat yang diabsorpsi melalui kulit (salep, krim, plester)
  3. Obat yang digunakan melalui vagina, seperti suppositoria
  4. Obat-obat yang disuntikkan, baik melalui kulit, otot, sendi, dan vena, kecuali pemberian makanan via intravena
  5. Pemberian gas oksigen dan anestesi
  6. Obat yang diselipkan di bawah lidah (seperti nitrogliserin untuk angina pectoris)
  7. Obat kumur, sejauh tidak tertelan

Bagaimana penggunaan obat minum saat puasa?

Jadwal waktu minum obat mau tak mau harus berubah saat bulan Ramadhan buat mereka yang ingin tetap berpuasa. Obat hanya bisa diminum selepas buka puasa sampai sebelum subuh saat sahur. Perubahan jadwal waktu minum obat mungkin dapat mempengaruhi nasib obat dalam tubuh (farmakokinetika obat), yang nantinya bisa mempengaruhi efek terapi obat. Karena itu perlu kehati-hatian dalam merubah jadwal minum obat. Konsultasikan dengan dokter atau apoteker Anda. Untuk obat-obat yang diminum sekali sehari dan kebetulan diminum pada malam hari tentu tidak ada perbedaan yang berarti ketika digunakan saat bulan Ramadhan. Demikian pula yang diminum sekali sehari pada pagi hari, dapat diminum saat sahur tanpa perubahan efek yang signifikan. Sedangkan untuk obat yang digunakan dua kali sehari, disarankan untuk diminum pada saat sahur dan saat berbuka.

Bagaimana dengan obat yang harus diminum 3-4 kali sehari?

Untuk pasien yang mendapatkan obat-obat yang harus diminum 3 kali sehari disarankan untuk minta kepada dokternya untuk meresepkan obat bentuk sediaan lepas lambat atau aksi panjang sehingga frekuensi pemakaian bisa dikurangi menjadi sekali atau 2 kali sehari. Atau bisa juga minta diganti dengan obat lain yang masih memiliki efek dan mekanisme sama, tetapi memiliki durasi aksi yang lebih panjang. Sebagai contohnya, obat hipertensi kaptopril yang harus diminum 2-3 kali sehari dapat digantikan oleh lisinopril yang digunakan sekali sehari. Atau misalnya ibuprofen, suatu obat anti radang, bisa digantikan dengan piroxicam atau meloxicam yang bisa diminum sekali sehari.

Jika tidak bisa diganti, maka penggunaannya adalah dari waktu buka puasa hingga sahur, yang sebaiknya dibagi dalam interval waktu yang sama. Misalnya untuk obat dengan dosis 3 kali sehari, maka dapat diberikan dengan interval waktu 5 jam, yaitu pada sekitar pukul 18.00 (saat buka puasa), pukul 23.00 (menjelang tengah malam), dan pukul 04.00 (saat sahur). Obat yang harus diminum 4 kali sehari dapat diberikan dalam interval 3-4 jam, yaitu pada pukul 18.00, pukul 22.00, pukul 01.00 dan pukul 04.00. Tentu waktunya harus disesuaikan dengan jadwal imsakiah setempat. Sebagian besar obat dapat diubah jadwalnya seperti ini tanpa mengubah efek terapinya secara signifikan, termasuk penggunaan antibiotika. Kelihatannya agak sulit jika harus minum obat di malam hari, tetapi ini adalah waktu yang bisa memberikan efek optimal. Jika perlu gunakan alarm untuk membangunkan tidur.

Bagaimana dengan penggunaan obat sebelum dan sesudah makan?

Obat dapat berinteraksi dengan makanan, yang berarti adanya makanan dapat mempengaruhi efek obat. Ada obat-obat yang baik digunakan sebelum makan karena absorpsinya lebih baik pada saat lambung kosong, dan ada yang sebaliknya, diminum setelah makan karena dapat menyebabkan iritasi lambung atau lebih baik penyerapannya jika ada makanan. Selama bulan Ramadhan, perhatikan pula aturan minum obatnya, apakah sesudah atau sebelum makan.

Jika aturannya 1 kali sehari sebelum makan : obat bisa diminum pada saat sahur (setengah jam sebelum makan) atau pada saat berbuka (setengah jam sebelum makan). Gunakan sesuai anjuran, apakah biasanya pagi atau malam. Obat hipertensi misalnya, baiknya diminum pagi hari karena tekanan darah paling tinggi pada pagi hari. Sebaliknya, obat penurun kolesterol sebaiknya diminum malam hari. Usahakan konsisten dengan waktu minumnya, apakah pagi atau malam.

Jika aturannya 1 kali sehari setelah makan, maka obat bisa diminum pada waktu seperti di atas, hanya saja diminumnya kira-kira 5-10 menit setelah makan besar. Setelah makan artinya kondisi lambung berisi makanan.

Untuk penggunaan 2,3 atau 4 kali sehari, pada prinsipnya sama, seperti yang dijelaskan di atas mengenai jam minum obat. Jika diminta sebelum makan berarti sekitar 30 menit sebelum makan. Jika ada obat yang harus diminum tengah malam sesudah makan, maka perut dapat diisi dulu dengan roti atau sedikit nasi sebelum minum obat.

Penggunaan obat pada penyakit kronis di bulan Ramadhan

Beberapa penyakit kronis memerlukan pengobatan terus-menerus, seperti penyakit diabetes, epilepsi, asma, dan hipertensi. Untuk mereka yang tetap ingin berpuasa, perlu dilakukan pemantauan yang lebih ketat terkait dengan perubahan jadwal pemberian obatnya dan kondisi penyakitnya. Berikut akan diulas penggunaan obat dan pemantauan terapi pada penyakit-penyakit kronis tersebut.

Diabetes Melitus (kencing manis)

Secara umum, puasa tidak disarankan bagi penderita diabetes, karena berisiko mengalami hipoglikemia (kurangnya kadar guka darah) pada saat puasa, atau sebaliknya hiperglikemia (kelebihan kadar gula darah) pada saat berbuka puasa. Obat golongan sulfonilurea seperti glibenklamid, gliklazid, dan glimepirid memiliki risiko efek samping hipoglikemi yang besar, sehingga kurang direkomendasikan bagi pasien diabetes. Sebagai gantinya, pasien dapat menggunakan obat metformin 3 kali sehari, yang pada saat puasa harus diminum 2 dosis pada saat buka puasa dan satu dosis pada saat sahur. Obat semacam acarbose juga relatif aman untuk penderita diabetes, karena kurang menyebabkan hipoglikemi.

Pasien yang tetap menggunakan obat golongan sulfonilurea sekali sehari sebaiknya meminumnya saat buka puasa sebelum makan. Sedangkan untuk yang dua kali sehari, maka obat diminum satu dosis pada saat buka puasa dan setengah dosis pada saat sahur. Namun demikian ada pula ahli yang menyarankan untuk tidak mengkonsumsi obat pada saat sahur karena dikuatirkan mengalami hipoglikemi jika pasien berpuasa. Pada pasien yang menggunakan insulin premix atau aksi sedang 2 kali sehari, perlu dipertimbangkan perubahan ke insulin aksi panjang atau sedang pada sore hari dan insulin aksi pendek bersama makan. Gunakan dosis biasa pada saat berbuka dan setengah dosis pada saat sahur. Usahakan banyak minum pada saat tidak berpuasa untuk menghindari dehidrasi. Pemantauan kadar gula sebaiknya dilakukan lebih kerap dari biasanya. Jika kadar gula turun di bawah 60 mg/dL, pasien disarankan segera berbuka puasa. Juga jika kadar gula terlalu tinggi (> 300 mg/dL), pasien disarankan tidak berpuasa.

Pasien hipertensi, asma dan epilepsi

Pasien dengan penyakit kronis seperti hipertensi, asma dan epilepsi yang harus menggunakan obat secara teratur dapat tetap berpuasa, dengan mengatur waktu minum obatnya pada saat berbuka dan sahur. Minta kepada dokter untuk memberikan obat-obat yang bersifat aksi panjang sehingga cukup diminum sekali atau dua kali sehari. Secara umum kondisi harus tetap dijaga dengan mengatur makanan, misalnya mengurangi garam atau lemak, banyak minum air putih, olahraga secara cukup. Pasien asma dengan penggunaan inhaler secara teratur dapat menggunakan inhalernya pada saat setelah waktu buka puasa dan pada saat sahur. Namun jika diperlukan penggunaan inhaler pada saat serangan akut di siang hari, pasien dapat membatalkan puasanya. Pasien hipertensi perlu memantau tekanan darahnya lebih kerap pada bulan puasa daripada bulan tidak puasa.

Demikian sekilas tentang penggunaan obat pada saat bulan Ramadhan. Sekali lagi Islam membolehkan orang yang sakit untuk tidak berpuasa. Jika sakit Anda cukup berat dan ingin berpuasa, konsultasikan pada dokter Anda apakah boleh berpuasa atau tidak. Tidak perlu memaksakan diri berpuasa jika fisik tidak mengijinkan.

Selamat berpuasa, semoga amal ibadah Ramadhan kita diterima oleh Allah SWT.  Amiien

 

Bahan bacaan :

http://care.diabetesjournals.org/content/33/8/1895.long

http://www.khaleejtimes.com/kt-article-display-1.asp?xfile=data/nationgeneral/2013/July/nationgeneral_July104.xml&section=nationgeneral

http://www.bmj.com/content/329/7469/778

 

 








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 458 pengikut lainnya.