An excuse

11 07 2009

Dear kawan,

Aku sudah pasrah kalau blog-ku ini lama-lama ditinggalkan pembacanya…. habis mulai jarang di update….. Maap, maap….  Kalau alasannya sibuk, pasti orang pikir aku “sok” sibuk sekali… Hm, tapi suerr… dua minggu belakangan ini banyak deadline yang harus dikejar. Terpaksa blog-ku jadi anak tiri… Ada dua proposal penelitian besar dengan deadline yang berdekatan (tgl 6 dan 7 Juli)… yang satu malah hal yang sama sekali baru, jadi mesti baca-baca dan cari-cari sumber literaturnya dulu. Ceritanya lagi ada keinginan untuk memulai penelitian di bidang farmakogenetik/genomik, mumpung ada tawaran grant lumayan besar…. jadi dicoba saja. Syukur berhasil, kalau tidak ya nanti diperbaiki lagi. Kebetulan ada mitra luar negeri yang mau bekerja sama. Yang satunya adalah  penelitian lanjutan tahun kedua, tetapi proposal tahun kedua ini harus segera disubmit-kan minggu ini dan nantinya dipresentasikan di Serpong pada tg 21-23 nanti. Yang ini agak repot juga karena bermitra dengan sebuah perusahaan farmasi besar, jadi perlu kontak-kontak intensif. Hm… doakan saja bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat buat orang banyak. Amien. Penelitian lain yang sedang berjalan dan mesti dipikirkan pelaksanaannya adalah yang berkolaborasi dengan sensei (profesorku) di Jepang. Aku mesti kontak-kontak beliau untuk mengatur segala sesuatunya. Butuh waktu dan fokus pemikiran jugalah….

Tau tidak, kawan, …. kejelekanku itu adalah “hobby” bikin proposal penelitian hehe…. rasanya kayak ada tantangan tersendiri ketika mengejar deadline. Dan klimaksnya adalah ketika proposal diterima dan mendapatkan grant setelah berkompetisi dengan puluhan mungkin ratusan proposal lainnya. Rasanya puas banget.  Tapi setelah itu ya mumet sendiri hehe….. bagaimana melaksanakan beberapa penelitian dalam waktu hampir bersamaan. 

Apakah proposal penelitianku selalu bisa tembus mendapatkan grant? Tentu saja tidak…….  Pernah dalam setahun aku apply 5 proposal penelitian yang berbeda dari sumber dana yang berbeda, tapi yang nyantol cuma dua. Tapi taukah kalian caranya untuk TIDAK PERNAH GAGAL?  Caranya adalah dengan TIDAK pernah MENCOBA, maka kamu tidak pernah gagal. Tapi…. kamu juga tidak pernah berhasil hehe…  Jadi kalau mencoba dan gagal, itu wajar. Kalau kita rajin dan tidak patah semangat mencoba, masak iya sih Allah tega membiarkan kita gagal terus…. pasti satu dua usaha kita akan berhasil. Tentunya harus diiringi permohonan kepadaNya untuk diberikan hasil terbaik. Begitulah prinsipku.

Deadline ketiga adalah proposal IMHERE UGM tgl 7 Juli. Aku sebenarnya take a small part saja dalam keseluruhan proposal, membuat beberapa TOR, tapi yah perlu dipikirkan juga, karena bermain dengan duit dalam jumlah tidak main-main.

Deadline keempat adalah laporan hibah pengajaran STAR dari UGM. Ceritanya aku mendapatkan grant untuk metode pengajaran yang disebut STAR (Student-Teacher Aesthetic Role Sharing). Itu semacam inovasi metode pembelajaran yang meningkatkan pembagian peran yang serasi antara dosen dengan mahasiswa. Aku berinovasi dengan membuat milis untuk semua peserta kuliah dan diskusi online, sehingga mahasiswa bisa berdiskusi dengan dosen atau teman tanpa dibatasi dinding kelas atau waktu. Besok Senin tgl 13-14 Juli ini ini akan dilokakaryakan dan dipresentasikan hasilnya. Jadi minggu ini mesti ngebut bikin laporannya.

Urusan “kecil-kecil” lainnya adalah koreksi ujian-ujian, menguji skripsi dan thesis, dll, yang juga butuh waktu sendiri untuk membaca,  dll. O,ya.. minggu lalu juga diwarnai dengan sedikit kenaikan adrenalin, gara-gara anakku yang sulung berkompetisi mencari SMP. Penerimaan SMP Negeri di Yogya memakai sistem real time online (RTO). Sebenarnya nilainya UAN-nya lumayan sih, tapi sayangnya kami berdomisili di Kabupaten Sleman, walaupun secara fisik ya sudah termasuk Yogya, sehingga dianggap calon siswa dari luar kota. Berdasarkan peraturan Walikota, quota untuk siswa luar kota adalah 20% dari total siswa yang diterima. Jadilah persaingan sangat ketat karena quotanya kecil. Namun alhamdulillah, Afan masih bisa diterima di SMP Negeri 1. Jadilah hari ini tadi pagi aku mengantar dia untuk pengarahan menjelang MOS (masa orientasi siswa) besok Senin. Afan dan teman-temannya dikumpulkan di Aula sekolah, diberi pengarahan oleh Waka Kesiswaan, lalu dilanjutkan acara dengan kakak-kakak kelasnya para aktivis OSIS.

Melihatnya, melayangkan ingatanku pada puluhan tahun lalu ketika aku masih jadi aktivis OSIS di SMP. Malah jadi Ketua OSIS lho… hehe. Masa-masa yang menyenangkan. Masa cinta monyet pula, hehe…… Tapi sebagai orangtua, aku tentu tidak bisa lagi menyamakan keadaan sekarang dengan jaman aku sekolah dulu. Dulu aku aktif di pramuka (sampai tingkat nasional), baris-berbaris (jadi komandannya), jadi pelajar teladan, dll. Aku tidak bisa memaksakan anak-anakku harus seperti aku dulu. Maklum, keadaannya sudah jauuh… berbeda. Dulu belum banyak game, internet, belum banyak aneka hiburan. Lha anakku itu modelnya santaai banget…. hobby-nya main. Waktu pilih SMP, pilihan pertamanya adalah SMPN 8. Alasannya? Dekat KFC… jadi kalau pulang sekolah bisa makan dulu di KFC… walah…. Ketika kutanya mengapa tidak pilih SMPN 5 yang paling ngetop di Yogya, … hm..katanya tidak dekat dengan apa-apa yang menarik. Ya sudah……

Wah, sory… aku cerita ngalor ngidul…

Disela-sela itu, hari-hari belakangan ini aku masih harus mengorganisir workshop yang akan diselenggarakan sebentar lagi tentang Molecular Toxicology, tgl 16-18 Juli 2009. Pembicara/instrukturnya dari Belanda, yaitu Prof Nico Vermeulen. Ayo pada ikutan….. aku kasih diskon gede-gedean lho! Selain itu, aktivitas di Fakultas lagi lumayan tinggi karena kami mendapatkan pendanaan dari DIPA untuk menuju World Class Research University di mana aku menjadi Ketua Task Force-nya. Jadi banyak workshop-workshop atau seminar-seminar untuk peningkatan fakultas menuju level internasional. Belum lagi aktivitas pengembangan kurikulum untuk S1 internasional, profesi, dan S2, di mana aku terlibat dalam ketiga kegiatan tersebut. Jadi deh.. waktuku habis juga dari rapat ke rapat…..

Hehe… sory nih, aku sengaja cerita panjang begini untuk “excuse” atas terbengkalainya blog-ku ini (termasuk permintaan mengajar di luar kota yang belum sempat aku penuhi, maaf). Tentu tidak karena kesengajaan. Bagaimanapun blog-ku ini sudah mengantarku bertemu kawan-kawan dari berbagai penjuru dunia. Salah satunya adalah dengan Mbak Hartati Nurwijaya yang berdomisili di Yunani, sampai kami bisa nulis buku bareng tentang Bahaya Alkohol . Alhamdulillah, sudah ada penerbit besar yang menerima naskah buku kami untuk diterbitkan dalam waktu tak lama lagi (Insya Allah, mudah-mudahan tidak batal). Wah, salut deh sama Mbak Tati. Beliau nih penulis beneran yang juga sangat proaktif untuk memasarkan bukunya. Aku harus belajar banyak dari beliau. Launching buku kami pun sudah direncanakannya menjadi sebuah roadshow dan Kampanye Bahaya Alkohol di beberapa kota besar di Indonesia. Insya Allah, mudah-mudahan semua lancar. Amien. Lha..aku tuh kalau nulis buku ya sudah, urusan pemasarannya dipasrahkan saja ke penerbitnya. Dasar gak punya bakat bisnis hehe….

Hm.. sudah dulu ya,… Maap, kali ini tulisan ngalor ngidul saja…. mudah-mudahan maklum.

Please forgive me….





Menumpas obesitas…..

27 06 2009

Dear kawan,

Dua mingguan tidak menulis di blog rasanya seperti punya hutang…..  pasti sudah ada yang menunggu-nunggu hehe….. Karena itulah menjelang tengah malam ini kuupayakan menulis posting ini. Seharian tadi menguji seminar thesis Magister Farmasi Klinik 5 orang sekaligus. Waduh, Sabtu-sabtu masih aja ada kerjaan….  Tapi herannya, banyak aktivitas, banyak “stress”, ….. tapi kok nggak kurus-kurus yah… hehe…. Makin bertambah usia, badan makin mekar saja. Sebuah hasil pemeriksaan yang iseng-iseng kulakukan pada sebuah salon pelangsingan tubuh menyatakan bahwa untuk ukuran tinggi badanku, berat badanku sudah kelebihan 11 kg dari berat badan ideal. Wueek..!

Tapi yah… enjoy ajaa….! Kalau terlalu kurus entar malah dikira hidup menderita atau mengalami KDRT seperti Manohara hehe…….. Manohara yang menderita aja ngga kurus-kurus. Nah, kebetulan seorang sahabatku yang sedikit gendut memintaku menulis tentang obat-obat pelangsing yang banyak dipakai di masyarakat.  Hm… boleh juga, sekalian aku bisa belajar supaya tidak tambah kegendutan. Obat-obat pelangsing umumnya dipakai untuk mereka yang mengalami obesitas (atau takut menjadi obes). Jadi kita akan start dengan mengetahui dulu tentang obesitas.

 Apa itu obesitas?

Secara gampang, obesitas adalah keadaan kelebihan berat badan di atas normal. Salah satu cara mengukur apakah seseorang mengalami obesitas atau tidak adalah menggunakan ukuran BMI (body mass index), yaitu menghitung berat badan dibagi tinggi dalam kuadrat ( BMI = kg/m2). Pada umumnya, seseorang dengan usia 35 tahun dinyatakan obesitas jika ia memiliki BMI sama atau lebih dari 27. Untuk mereka yang berusia < 34 tahun, skor BMI sebesar 25 sudah termasuk dinyatakan obesitas. Secara umum, BMI sebesar 30 atau lebih sudah mengindikasikan obesitas sedang sampai berat. Coba ukur BMI kalian, kawan….

 Apa yang menyebabkan obesitas?

Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan seseorang mengalami obesitas, antara lain faktor genetik, lingkungan, psikologis, dll.

Faktor genetik

Obesitas umumnya cenderung bersifat menurun dalam keluarga, yang menunjukkan adanya pengaruh faktor genetik. Sebenarnya tak hanya masalah genetik, keluarga umumnya juga “menurunkan” pola makan dan gaya hidup yang bisa berkontribusi terhadap kejadian obesitas. Jika suatu orang tua membiarkan anaknya makan apa saja dan bahkan memfasilitasi anak untuk makan makanan yang enak-enak berlemak… yah… bagaimana anaknya nggak gemuk.

Faktor lingkungan

Faktor lingkungan memberikan pengaruh yang signifikan, misalnya kemudahan mendapatkan fast-food yang umumnya berkolesterol tinggi, pekerjaan yang kurang memungkinkan banyak gerakan fisik tubuh, atau lebih mengutamakan rasa makanan ketimbang faktor nutrisi di dalam memilih makanan.

Faktor psikologis

Faktor psikologis ini dapat mempengaruhi kebiasaan makan. Sebagian orang makan lebih banyak sebagai respon terhadap keadaan mood negatif seperti sedih, bosan, atau marah. Sebagian lagi mungkin mengalami gangguan makan seperti dorongan makan yang kurang terkendali (binge eating) walaupun sudah kenyang, atau kebiasaan ngemil yang sulit dihentikan. Orang-orang seperti ini sangat berisiko terhadap kegemukan, dan perlu mendapatkan perlakuan khusus, seperti konseling atau terapi psikologi lainnya.

Penyebab lain

Selain tiga faktor di atas, penyebab lain obesitas bisa berupa penyakit atau penggunaan obat tertentu. Penyakit hypotiroid, Cushing’s syndrome, dan depresi dapat memicu makan berlebihan. Beberapa obat seperti steroid dan antidepresan tertentu juga memiliki efek samping peningkatan berat badan.

Bagaimana mengatasi obesitas?

Yang pertama sekali tentu adalah pembatasan makan dan meningkatkan aktivitas fisik, sehingga asupan kalori dan penggunaannya terjadi seimbang. Namun jika ini sulit dilakukan dan tidak berhasil, maka perlu bantuan obat-obatan, yaitu obat anti obesitas.

Obat anti obesitas adalah obat-obat yang dapat menurunkan atau mengontrol berat badan. Obat-obat ini bekerja dengan mengubah proses fundamental dalam tubuh dan regulasi berat badan, dengan cara menekan nafsu makan, mempengaruhi metabolisme, atau mengurangi absorpsi makanan/kalori.

Bagaimana mekanisme aksi obat anti obesitas?

Obat-obat anti obesitas bekerja dengan beberapa mekanisme:

1. menekan nafsu makan.

2. Meningkatkan metabolisme tubuh

3. Menurunkan kemampuan tubuh untuk mengabsorpsi nutrien tertentu dari makanan, utamanya lemak, misalnya dengan cara mengeblok peruraian lemak tidak dapat diserap oleh tubuh.

 Ada beberapa contoh obat anti obesitas, antara lain adalah:

1. Orlistat (Xenical)

Obat ini menggurangi penyerapan lemak di usus dengan cara menghambat enzim lipase dari pankreas. Lipase adalah enzim yang bertugas menguraikan lemak. Obat ini bisa menyebabkan feses menjadi berlemak, perut kembung, dan kontrol BAB terganggu. Tapi efek samping ini bisa dikurangi jika asupan makanan berlemak di kurangi.

 2. Sibutramin (Meridia, Reductil)

Obat ini bekerja secara sentral menekan nafsu makan, dengan mengatur ketersediaan neurotransmiter di otak, yaitu menghambat re-uptake serotonin dan norepinefrin. Namun obat ini harus digunakan secara hati-hati karena dapat meningkatkan tekanan darah, menyebabkan mulut kering, konstipasi, sakit kepala dan insomnia.

Sibutramin inilah yang sering ditambahkan oleh produsen nakal jamu pelangsing, sehingga beberapa waktu lalu pernah dilakukan penarikan 6 merk  jamu pelangsing oleh Badan POM karena dicampur dengan sibutramin. Sungguh, pencampuran jamu pelangsing dengan sibutramin ini merupakan tindakan kriminal yang sama sekali tidak memikirkan keselamatan penggunanya. Buat mereka yang memiliki gangguan penyakit kardiovaskuler tentu sangat riskan menggunakan jamu ini karena dapat meningkatkan tekanan darah dan mungkin risiko terjadinya stroke.

 Cara kerjanya hampir mirip seperti obat-obat golongan katekolamin dan turunannya. Ini mengingatkan pada salah satu obat yang cukup terkenal dan menghebohkan, yaitu fenilpropanolamin (PPA), yang juga banyak dijumpai pada komposisi obat flu. Sudah pernah aku tuliskan somewhere di blog ini bahwa di Amerika, PPA banyak dipakai sebagai pelangsing dengan dosis jauh lebih tinggi dari dosis yang dipakai untuk efek pelega hidung tersumbat. Dan ternyata, PPA ini meningkatkan risiko kejadian stroke hemoragik. Saat ini PPA tidak lagi dipakai sebagai obat pelangsing di sana.

 3. Obat-obat laksatif

Selain obat-obat di atas, obat-obat lain yang sering dipakai untuk mengurangi berat badan adalah golongan laksatif atau pencahar. Dengan melancarkan BAB (buang air besar) diharapkan berat badan juga relatif terkontrol. Banyak sediaan suplemen yang mengandung high-fiber yang ”diindikasikan” untuk melangsingkan tubuh dan dapat diperoleh secara bebas. Serat tinggi tadi diharapkan mengembang di saluran cerna dan memicu gerakan peristaltik usus sehingga akan memudahkan BAB. Walaupun mungkin berhasil, tetapi efeknya umumnya tidak terlalu signifikan. Selain sejenis fiber ini, beberapa pencahar lain juga sering dipakai sebagai pelangsing. Penggunaan pencahar sebagai pelangsing dalam waktu lama tidak disarankan karena usus akan menjadi “malas”, akan bekerja jika ada pemicunya, dan hal ini akan menjadikan semacam “ketergantungan”.

 4. Diuretik

Obat-obat diuretik (pelancar air seni) juga sering dipakai sebagai obat pelangsing. Tapi sebenarnya efeknya tidaklah signifikan dalam mengurangi berat badan. Justru penggunaannya harus diperhatikan karena dapat mengganggu keseimbangan elektrolit dalam tubuh karena banyak ion-ion tubuh yang mungkin akan terbawa melalui urin. Jika berat badannya disebabkan karena timbunan cairan, maka diuretik memang pilihan yang tepat, tetapi jika karena timbunan lemak, tentu diuretik tidak akan berefek signifikan. Umumnya teh-teh pelangsing mengandung senyawa alam yang bersifat diuretik sehingga memberikan efek kesan melangsingkan.

 5. Obat-obat herbal pelangsing

Sekarang banyak sekali ditawarkan berbagai produk herbal yang diklaim memiliki efek pelangsing. Ada yang dikatakan bekerja melarutkan lemak, atau mengurangi penyerapan lemak di usus. Salah satu herbal yang terkenal sebagai pelangsing adalah Jati Belanda. Senyawa tanin yang banyak terkandung di bagian daun, mampu mengurangi penyerapan makanan dengan cara mengendapkan mukosa protein yang ada dalam permukaan usus. Sementara itu, musilago yang berbentuk lendir bersifat sebagai pelicin. Dengan adanya musilago, absorbsi usus terhadap makanan dapat dikurangi. Hal ini yang yang menjadi alasan banyaknya daun jati belanda yang dimanfaatkan sebagai obat susut perut dan pelangsing.

Obat-obat herbal pelangsing memang lebih aman, tetapi efikasinya tentu perlu bukti-bukti penelitian lebih lanjut. Mungkin ada yang berhasil, mungkin pula tidak.

 Nah, begitulah… pilih yang mana?

Bagaimanapun menjadi langsing tentu lebih baik, tetapi jangan sampai ingin langsing tetapi malah jadi sakit karena efek samping. Jika benar-benar mengalami obesitas dan perlu pengobatan, konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan terapi yang sesuai. Cara-cara lain seperti akupunktur, akupressur, boleh juga dicoba. Jika perlu dilakukan liposuction (sedot lemak), tapi tentu harus dilakukan oleh tenaga medis profesional dan pertimbangan yang cermat.

Aku sendiri.. hm…. masih agak sulit untuk menahan ngemil. Yah…. gendut-gendut dikit tak apalah, yang penting sehat…. (menghibur diri hehe…..).

Demikian, semoga bermanfaat.





Maap… belum sempat nulis lagi..

26 06 2009

Dear kawan,

Musim ujian akhir dan koreksi, ujian skripsi dan thesis, deadline kumpulkan nilai, additional activities di fakultas seperti IMHERE dan DIPA WCRU, revisi props penelitian, visitasi ISO 9001-2000, urusan Magister Farmasi Klinik, dan rapat-rapat lain, telah menjerat tanganku sampai-sampai tidak sempat menulis apapun di blog ini. Mohon maap… kalau mungkin sudah ada yang menanti tulisan sederhana dari tanganku hehe…. (mode Ge-er ON).

Ditunggu saja dan doakan semoga masih selalu punya semangat dan ide untuk menulis dan berbagi…

Salaam..





Asam retinoat dalam kosmetika: apa bahayanya?

14 06 2009

Dear kawan,

kosmetikBelum lama ini terdengar berita lumayan mengejutkan bahwa beberapa produk kosmetika, beberapa diantaranya cukup terkenal, ditarik dari peredaran oleh Badan POM. Sebuah tindakan yang penuh kehati-hatian terhadap adanya senyawa-senyawa pada kosmetika tersebut yang dikuatirkan dapat menyebabkan risiko kesehatan pada konsumen. Berdasarkan PUBLIC WARNING / PERINGATAN dari Badan POM Nomor : KH.00.01.43.2503 tanggal : 11 JUNI 2009, beberapa senyawa berbahaya yang dijumpai dalam kosmetika antara lain adalah :

Merkuri (Hg) / Air Raksa termasuk logam berat berbahaya, yang dalam konsentrasi kecilpun dapat bersifat racun. Pemakaian Merkuri (Hg) dapat menimbulkan berbagai hal, mulai dari perubahan warna kulit, yang akhirnya dapat menyebabkan bintik-bintik hitam pada kulit, alergi, iritasi kulit, kerusakan permanen pada susunan syaraf, otak, ginjal dan gangguan perkembangan janin bahkan paparan jangka pendek dalam dosis tinggi dapat menyebabkan muntah-muntah, diare dan kerusakan ginjal serta merupakan zat karsinogenik (menyebabkan kanker) pada manusia.

• Hidrokinon termasuk golongan obat keras yang hanya dapat digunakan berdasarkan resep dokter. Bahaya pemakaian obat keras ini tanpa pengawasan dokter dapat menyebabkan iritasi kulit, kulit menjadi merah dan rasa terbakar, bercak-bercak hitam.

Asam Retinoat / Tretinoin / Retinoic Acid dapat menyebabkan kulit kering, rasa terbakar, teratogenik (cacat pada janin).

• Bahan pewarna Merah K.3 (CI 15585), Merah K.10 (Rhodamin B) dan Jingga K.1 (CI 12075) merupakan zat warna sintetis yang umumnya digunakan sebagai zat warna kertas, tekstil atau tinta. Zat warna ini merupakan zat karsinogenik (dapat menyebabkan kanker). Rhodamin B dalam konsentrasi tinggi dapat menyebabkan kerusakan hati.

Salah satu bahan berbahaya yang akan dikaji dalam posting ini adalah tentang asam retinoat. Menarik bahwa asam retinoat banyak dijumpai pada produk-produk pemutih kulit, salah satunya adalah produk yang cukup ngetop di Yogya, yaitu produk dari Natasha Medicated Skin Care Yogyakarta. Aduh, moga-moga aku nggak “di-Prita-kan”  nih karena menyebut nama…. Karena aku kan hanya mengutip dari edaran Badan POM. Oya, merk terkenal OLAY dan PONDS juga ada yang ditarik karena mengandung merkuri. Yang ditarik adalah OLAY Total White produk Malaysia dan PONDS Age Miracle produk Thailand/Singapore.

Hm… kembali ke asam retinoat ya, ……

Apakah asam retinoat itu?

Asam retinoat adalah bentuk asam dan bentuk aktif dari vitamin A (retinol). Disebut juga tretinoin. Asam retinoat ini sering dipakai sebagai bentuk sediaan vitamin A topikal, yang dapat diperoleh secara bebas maupun dengan resep dokter. Bahan ini sering dipakai pada preparat untuk kulit terutama untuk pengobatan jerawat, dan sekarang banyak dipakai untuk mengatasi kerusakan kulit akibat paparan sinar matahari (sundamage) dan untuk pemutih.

Bagaimana Asam retinoat bekerja?

Kulit memiliki reseptor untuk asam retinoat yang disebut retinoic acid receptor (RAR) yang berlokasi di dalam sel (intraseluler). Jika asam retinoat mengikat reseptornya, maka akan mengaktifkan transkripsi gen yang akan menstimulasi replikasi dan diferensiasi sel, terutama adalah sel-sel keratin (sel sel tanduk) penyusun kulit paling luar (epidermis). Hal ini akan menyebabkan efek berkurangnya keriput dan memperbaiki sel-sel kulit yang rusak, misalnya karena paparan sinar matahari.

Mekanismenya sebagai obat jerawat belum banyak diketahui sepenuhnya, tetapi Diane Thiboutot dkk dari Pennsylvania State University College of Medicine, dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa asam retinoat ini meng-up regulasi gen untuk pembentukan protein NGAL, yang berperan dalam proses kematian (apoptosis) kelenjar sebasea, yaitu kelenjar penghasil minyak di kulit, yang umumnya terlibat pada terjadinya jerawat. Dengan kematian sel kelenjar sebasea ini, maka produksi minyak kulit berkurang dan akan mengurangi jerawat.

Asam retinoat juga sering dimasukkan dalam komposisi krim pemutih karena dipercaya memiliki efek pemutih. Efek asam retinoat ini tidak langsung melalui penghambatan pigmen melanin seperti beberapa senyawa pemutih lainnya, tetapi menurut Yoshimura cs, diduga karena terjadinya peningkatan proliferasi sel-sel keratin dan percepatan turnover epidermis (lapisan kulit paling luar), sehingga memberikan efek mencerahkan kulit.

Apa efek berbahayanya?

Hm… kayaknya baik-baik saja, ya. Bahayanya apa? Pada penggunaan topikal, asam retinoat dapat menyebabkan iritasi kulit, kulit seperti terbakar, terutama buat yang berkulit sensitif. Sedangkan pada penggunaan sistemik (misalnya peroral) asam retinoat memiliki efek teratogenik, yaitu menyebabkan abnormalitas perkembangan janin dalam kandungan. Paparan yang paling kritis adalah selama 3-5 minggu kehamilan, bahkan sebelum sang ibu ketahuan hamil. Penggunaan asam retinoat ini dapat menyebabkan berbagai bentuk malformasi/kecacatan pada janin. Fakta ini diperoleh beberapa saat setelah Accutane, suatu obat jerawat berbentuk kapsul berisi isotretinoin (13-cis-retinoic acid), diperkenalkan pada bulan September tahun 1982. Diperkirakan 160 ribu wanita hamil pada saat itu menggunakannya. Antara tahun 1982-1987, kurang lebih dijumpai 900-1300 bayi yang lahir cacat, 700-1000 terjadi aborsi spontan, dan 5000-7000 janin digugurkan secara medis karena paparan Accutane. Anak-anak yang sempat dilahirkan memiliki gangguan hidrosephalus (pembesaran kepala berisi cairan), kecacatan telinga, gangguan jantung, dan penurunan intelegensia. Sejak itu Accutane digolongkan sebagai obat dengan kategori X untuk kehamilan, yaitu tidak boleh sama sekali dipakai pada wanita hamil atau yang merencanakan hamil.

Walaupun efek yang paling nyata adalah pada penggunaan sistemik, tetapi pada penggunaan topikal (dioleskan di kulit) jika dilakukan dalam jangka waktu lama juga dikuatirkan akan menyebabkan terserapnya asam retinoat ke dalam tubuh dan akan mempengaruhi janin pada pengguna yang sedang hamil.

Kalau menurut aku sendiri sih, kalau mau maksa memakai sediaan yang mengandung asam retinoat… sebenarnya boleh saja, selama tidak iritasi, tidak ada alergi, tidak sedang hamil atau merencanakan hamil, apalagi jika hanya dipakai secara topikal dalam jangka waktu pendek, dan semestinya dengan pangawasan dokter.  Lhah… kalau jerawat berderet sebesar-besar jagung, mau gimana……. ? Memang ada sih pilihan yang lain,… tapi Accutane sendiri di US masih beredar dan merupakan obat dengan resep dokter. Namun untuk kehati-hatian bagi semua, memang sudah bijaksana jika Badan POM proaktif melaksanakan tugas pengawasannya.

Demikian, semoga bermanfaat.





Science of Love

9 06 2009

Dear kawan,

falling-loveKemarin aku dapat pertanyaan menarik dari seorang mahasiswa…,” Bu, mengapa sih kalau kita ketemu dengan orang yang kita sukai, rasanya deg-degan. Faktor apa yang menyebabkan?”… Hm,,… boleh juga nih untuk bahan tulisan. Ngomong tentang cinta atau love memang nggak pernah basi. Siapa sih yang belum pernah jatuh cinta? Aku sendiri setidaknya pernah empat kali “jatuh cinta” haha……. Cinta monyet waktu SMP (siapa ya monyetnya?), cinta remaja waktu SMA, cinta “termehek-mehek” waktu kuliah, dan jatuh cinta dengan yang jadi suamiku sekarang hehe…..  Ternyata masalah cinta bisa asyik juga jika dikupas dari sisi sains…

Mengapa jatuh cinta?

Cinta sendiri sebenarnya adalah suatu cara manusia untuk menjaga keberlangsungan spesiesnya di muka bumi. Dengan jatuh cinta, menikah, punya anak, maka keberlangsungan hidup manusia akan terjaga. Sesederhana itu kah? Hm… tentu tidak. Manusia itu mahluk multi dimensional, jadi cinta bisa menjadi simpel atau rumit tergantung dari mana memandangnya.  Tulisan kali ini mencoba mensimplifikasi cinta dari sisi sains saja….

Ketika seseorang jatuh cinta, ternyata ada beberapa senyawa kimia di otak, yang biasa disebut neurotransmiter, dan hormon, yang turut bermain di dalamnya. Apa yang dilakukan seseorang ketika jatuh cinta? Ternyata orang jatuh cinta tidak selalu mengatakan apa yang dirasakannya. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa 55% orang menyatakan ketertarikannya dengan bahasa tubuh (body language), 38% menunjukkan melalui nada suaranya, dan hanya 7 % yang menunjukkan langsung dengan kata-kata. Hm… bener nggak ya?

Seorang antropolog biologi dari Rutgers University, Helen Fisher, menyatakan bahwa ada 3 tahap dalam cinta, yang disebutnya : lust, attraction, dan attachment, yang masing-masing tahap itu diatur oleh hormon dan atau senyawa kimia yang berbeda.

Tahap 1 : lust (hasrat, keinginan, desire)

Tahap ini diawali dengan ketertarikan atau gairah terhadap lawan jenis, yang dipengaruhi oleh hormon sex yaitu testosteron dan estrogen, pada pria dan wanita. Ini dimulai dari masa pubertas, di mana seseorang mulai tertarik dengan lawan jenisnya.

Tahap 2 : attraction

Tahap ini merupakan tahap yang “amazing” ketika seseorang benar-benar sedang jatuh cinta dan tidak bisa berpikir yang lain. Menurut Fisher, setidaknya ada 3 neurotransmiter yang terlibat dalam proses ini, yaitu adrenalin, serotonin, dan dopamin.

Adrenalin

Tahap awal ketika seorang jatuh cinta akan mengaktifkan semacam response stress, yang akan meningkatkan kadar adrenalin dalam darah. Adrenalin akan bertemu dengan reseptornya di persarafan simpatik, dan menghasilkan berbagai efek seperti percepatan denyut jantung (takikardi), aktivasi kelenjar keringat, menghambat salivasi, dll. Ini yang menyebabkan ketika seseorang secara tidak sengaja bertemu dengan seorang yang ditaksirnya, ia akan berdebar-debar, berkeringat, dan mulut jadi terasa kering/kelu. Iya, nggak?

Dopamin

Helen Fisher meneliti pada pasangan yang baru saja “jadian” mengenai level neurotransmiter di otaknya dengan suatu alat pencitraan, dan menemukan tingginya kadar dopamin pada otak mereka. Dopamin adalah suatu senyawa di otak yang berperan dalam sistem “keinginan dan kesenangan” sehingga meningkatkan rasa senang. Dan efeknya hampir serupa dengan seorang yang menggunakan kokain! Kadar dopamin yang tinggi di otak diduga yang menyebabkan energi yang meluap-luap, berkurangnya kebutuhan tidur atau makan, dan perhatian yang terfokus serta perasaan senang yang indah (exquisite delight) terhadap berbagai hal kecil pada hubungan cinta mereka…. Dopamin juga merupakan neurotransmiter yang menyebabkan adiksi… termasuk adiksi dalam cinta.

Tentang hal ini menurutku keadaannya mirip seperti seorang penderita bipolar yang mengalami state “hipomania” hehe…… perasaan yang elevated, energi yang meluap-luap, kreativitas yang meningkat, dll. Juga seperti  orang yang mengalami addiksi cocain atau ecstassy (obat yang menyebabkan penghambatan re-uptake dopamin)…… Secara neurobiologi keadaannya sama… yaitu level dopamin yang tinggi di otak…..

Serotonin

Yang terakhir adalah serotonin. Ketika jatuh cinta, kadar serotonin otak menurun. Serotonin merupakan neurotransmiter yang terlibat dalam obsesi. Turunnya level serotonin inilah yang menyebabkan mengapa ketika kita jatuh cinta, wajah si dia selalu terbayang-bayang terus di kepala…. menjadi terobsesi terhadap si dia. Dan keadaan kimia otak terkait dengan kadar serotonin pada orang yang sedang “falling in love” itu mirip dengan keadaan orang dengan gangguan Obsessive Compulsive Disorder!!  Ada obsesi atau keinginan terhadap sesuatu dan ada dorongan (kompulsi)  untuk berulang-ulang melakukan sesuatu  untuk mencapai keinginannya. Misalnya terobsesi untuk mendengar suara si dia, maka akan ada dorongan untuk menelponnya berulang-ulang, hehe…… bener kan?

Walah..walah….  dalam sudut pandang sains kesehatan…. “patofisiologi” cinta itu memang mirip patofisiologi penyakit….. Dan nyatanya memang tidak sedikit orang yang sakit fisik karena cinta …. hmmm….

NGF (nerve growth factor)

Seorang peneliti lain, Enzo Emanuele dari University of Pavia di Italy, menemukan adanya senyawa lain yang terlibat dalam peristiwa jatuh cinta, yaitu NGF (nerve growth factor). Penemuannya itu merupakan penemuan yang pertama yang menyatakan bahwa NGF mungkin berperan penting dalam proses kimia pada orang jatuh cinta. Ia membandingkan 58 orang pria dan wanita, usia 18-31 tahun, yang baru saja jatuh cinta, dengan kelompok orang-orang yang sudah cukup lama memiliki hubungan cinta dan dengan kelompok lajang. Ia menjumpai bahwa pada kelompok orang yang sedang “falling in love” dijumpai kadar NGF dalam darah yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang sudah membina cinta lebih lama atau yang lajang, dengan perbandingan 227 unit berbanding 123 unit. Menariknya, ketika ia mengecek lagi pada orang yang sama dan masih dengan pasangan yang sama setahun kemudian, kadar NGF-nya turun mencapai kadar yang sama dengan kelompok yang sudah mantap hubungannya atau dengan yang lajang.

Tahap 3 : Attachment

Tahap ini adalah tahap ikatan yang membuat suatu pasangan bertahan untuk jangka waktu yang lama, dan bahkan untuk menikah dan punya anak. Para ilmuwan menduga bahwa ada 2 hormon utama yang lain yang terlibat dalam perasaan saling mengikat ini, yaitu oksitosin dan vasopresin.

Oxytocin – The cuddle hormone (hormon untuk menyayangi)

Oksitosin adalah salah satu hormone yang dilepaskan oleh pria maupun wanita ketika mereka berhubungan seksual, yang membuat mereka menjadi lebih dekat satu sama lain. Oksitosin juga merupakan hormone yang dilepaskan oleh sang ibu ketika proses melahirkan dan merupakan hormon pengikat kasih sayang ibu dengan anaknya.

Vasopressin

Sedangkan vasopressin adalah hormone penting lainnya yang menjaga komitmen hubungan suatu pasangan. Hormon ini juga dilepaskan setelah hubungan seksual…

Hm, menarik juga ya membicarakan cinta dari pandangan sains. Jadi ingat deh saat-saat jatuh cinta hehe….. it was amazing feeling !!

Duhai belahan hati,

Memandangmu, adrenalinku terpacu

Mengaktivasi saraf-saraf simpatisku..

Takikardi, salivasi terhenti…

Dopamin pun mengiringi

Membuatku addiksi

Tak ingin kau pergi..

serotonin berkurang

wajahmu tak mau hilang…

(Hehe…… ora romantis blas puisine…. )





Mengenang Ayah

3 06 2009

Dear kawan,

photo papi 1Aku sudah pernah menulis tentang ibuku dan kekuatan doa ibuku yang menjadi salah satu sumber “kekuatanku”. Waktu itu mendekati hari Ibu. Sayangnya tidak ada hari Ayah, sehingga aku belum sempat menulis tentang ayahku, padahal ayah adalah sumber kekuatan hidupku juga. Dalam beberapa hal, peran ayah bahkan lebih daripada ibu, terutama dalam hal menopang semua kebutuhan kami sekeluarga. Dua hari yang lalu adalah peringatan seribu hari wafatnya ayah (aku baru sempat menulis sekarang). Mengenang ayah selalu membuat mataku jadi basah………

Bulan September 2006. Aku sedang dalam kesibukan dengan intensitas tinggi. Fakultas Farmasi sedang punya 3 gawe besar dalam waktu berdekatan, di mana aku terlibat secara intens di dalamnya. Yaitu Lustrum Fakultas, International Symposium on Recent Progress of Curcumin Research, dan menyambut visitasi Program Hibah Kompetisi (PHK) B. Yang terakhir itu adalah bentuk skema pendanaan dari DIKTI untuk pengembangan institusi yang harus diperebutkan secara kompetitif. Kebetulan saat itu aku menjadi Ketua Task Force dalam penyusunan proposal PHK-B.

Aku ingat benar, siang itu aku sedang rapat persiapan visitasi PHK-B, bahkan sedang bicara di forum tersebut, ketika telepon selulerku berbunyi. Hm… dari nomer telepon ibu di rumah. Aku angkat. Terdengar suara ibu terbata-bata di sana….,”..Lies,…. Papi wis ora nana…” kata itu dalam bahasa Jawa memberitakan bahwa Ayah sudah berpulang. Innalillahi wa inna ilaihi rooji’uun. Aku langsung lemas. Aku sampaikan pada pertemuan itu bahwa ayahku berpulang dan aku minta ujin keluar dari forum rapat karena akan mengabari adik-adik dan suamiku. Akupun menyetir pulang dengan hati sedih dan mata berkaca. Dan sorenya kami sekeluarga segera berangkat ke Purwokerto.

Tentang Ayah

Ayah adalah sumber semangatku untuk meraih pencapaian terbaik. Aku selalu senang dengan senyum lebar ayah ketika kusampaikan hasil-hasil belajarku yang memuaskannya. Paling tidak  kerja keras ayah untuk membiayai sekolah kami sedikit “terbayar”, walau Ayah tentu tak pernah meminta balasan, dan aku pun tak kan sanggup membayar semua kasih sayang dan kerja keras Ayah untuk kami semua. Makanya aku paling gemes dan prihatin jika melihat generasi muda yang menyia-nyiakan hidupnya dengan tindakan-tindakan bodoh yang mencelakakan dirinya. Tidakkah mereka mengingat betapa orang tua membanting tulang untuk menopang hidupnya?

Ayah sangat sayang kepada kami semua anak-anaknya, bahkan kadang terkesan berlebih. Hal ini karena ayah memiliki kehidupan yang keras sejak kecil, ia yatim piatu pada usia sangat muda, dan dirawat kakak sulungnya. Beliau tak ingin anak-anaknya mengalami penderitaan dan kekurangan seperti yang dialaminya dulu.

Ayah seorang pekerja keras, pandai berpidato (beliau dulu aktivis suatu partai politik masa orde baru yang harus sering berkampanye), humoris, tapi di sisi lain beliau agak tertutup/pendiam, tak pernah mau menyusahkan keluarga. Ayahku juga pandai menyanyi lho… dan ayah juga pandai, kreatif dan inovatif. Beliau pernah mendapat penghargaan Satya Lencana Pembangunan dari Presiden (Soeharto waktu itu) atas prestasinya dalam bekerja (waktu itu menjadi Camat di sebuah kecamatan di Kabupaten Banyumas). Ada beberapa sifat ayah yang nampaknya kuwarisi…… antara lain suka menyanyi…

Ada yang unik tentang interaksiku dengan ayah (dan ibu) dalam hal bahasa. Kami (aku dan adik-adik) berbahasa Indonesia dengan ayah, bahkan memanggilnya Papi. Sedangkan dengan ibu, aku dan adik-adik berbahasa Jawa (bahkan bukan bhs Jawa yang halus), dan memanggilnya Ibu. Itu ada ceritanya. Waktu kecil aku tinggal di sebuah kecamatan kecil tempat ayah menjadi camat. Aku tidak bisa dan tidak biasa berbahasa Indonesia. Waktu aku masuk TK di kota (kalian tahu, kawan….. ayah selalu mencarikan pendidikan terbaik untuk anak-anaknya, walau jauh di kota ditempuh juga), aku tidak bisa berbahasa Indonesia dengan baik di sekolah. Karena itu bu guru minta agar aku dilatih berbahasa Indonesia di rumah. Jadilah di rumah aku dibiasakan berbahasa Indonesia dengan ayah, bahkan memanggil beliau Papi (kalau yang ini sih karena ketularan temanku yang putranya kenalan ayah juga yang memanggil ayahnya Papi). Dan malah keterusan sampai kami dewasa….. hehe…

Kawan,

Meskipun sedih, kami mengikhlaskan kepergian ayah. (Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa-dosanya, menerima semua amal baiknya semasa hidup, ayah diberi kenikmatan di alam barzah, dan Insya Allah dijauhkan dari api neraka. Amien). Ayah berpulang setelah serangan stroke-nya yang ke-empat, yang telah membuat beliau banyak kehilangan daya hidupnya. Tidak kuasa berjalan lagi, bahkan tidak bisa bicara, sangat tergantung pada orang lain, tentu rasanya berat dan sedih. Ayah sering terlihat diam saja dan melamun. Kami agak serba salah, jika hendak “menasihati” ayah untuk bersabar dan istighfar…  Betapa tidak, beliau-lah yang selama ini selalu menasihati kami… Kalau sudah begitu, kami mencoba menghibur saja dengan cerita-cerita yang menyenangkan tentang cucu-cucu, atau apalah. Kalau ayah bisa tersenyum atau tertawa, rasanya senang sekali…

Serangan stroke

Aku ingat, ayah mendapat serangan stroke-nya yang pertama pada tahun 1992. Waktu itu aku masih kuliah tingkat akhir, dan ayah masih harus wira-wiri Purwokerto – Semarang, karena beliau bertugas di Semarang, sementara keluarga masih di Purwokerto. Beliau sempat dirawat di RS selama dua mingguan. Sejak itu cukup lama terkontrol. Aku tidak ingat persis kapan serangan kedua dan ketiganya, tapi nampaknya relatif masih ringan. Ayah masih rajin jalan kaki setiap pagi. Sampai kemudian terjadi serangan terakhirnya, yang cukup berat dan  membawa beliau berpulang setelah beberapa bulan tidak berdaya.

Stroke bisa berulang

Stroke adalah gangguan pada pembuluh darah di otak yang menyebabkan sel-sel saraf kekurangan oksigen dan nutrisi dan akhirnya mati. Gangguan itu bisa penyumbatan pembuluh darah (disebut stroke iskemi) atau karena pecahnya pembuluh darah (stroke hemoragi). Sudah pernah kutulis some where in my blog sedikit tentang stroke ini. Stroke yang dialami ayah adalah jenis stroke iskemi. Terjadi penyumbatan pada pembuluh darah otak sebelah kanan, sehingga menyebabkan kematian sel-sel syaraf tertentu, yang menyebabkan gangguan fungsi tubuh sebelah kiri. Manifestasi stroke bisa bervariasi satu orang dengan yang lain, tergantung saraf mana yang mengalami gangguan atau kematian.

Sekali seorang terkena stroke, ada risiko untuk terkena serangan berikutnya jika tidak dijaga dengan baik. Apalagi jika ada penyakit penyerta lain yang bisa berkontribusi meningkatkan faktor risiko, seperti hipertensi atau diabetes, seperti yang diderita ayah. Tiga penyakit ini kompak benar… sering berada bersama-sama….

Bagaimana mencegah berulangnya stroke?

Pasca pengatasan dari serangan stroke, seorang pasien umumnya perlu menjalani pengobatan seumur hidup dengan terapi yang diistilahkan sebagai terapi pemeliharaan. Selain dengan pengaturan makanan yang baik, olahraga, dan perbaikan pola hidup lain (berhenti merokok, alkohol, stress, dll), maka ada obat-obat yang harus diminum secara teratur. Obat itu biasanya ditujukan untuk menjaga darah agar tetap “encer”, dengan obat-obat pengencer darah seperti aspirin, dipiridamol, tiklopidin, atau klopidogrel. Obat ini harus digunakan secara teratur, walaupun tidak ada serangan atau tidak terasa ada keluhan apa-apa. Seringkali orang kehilangan kepatuhan minum obat ketika badan merasa enak.., padahal kelalaian minum obat itu justru berisiko menimbulkan kekambuhan.

Selain obat-obat pengencer darah, semua kondisi yang meningkatkan risiko kekambuhan juga harus dijaga, terutama tekanan darah. Umumnya pasien juga harus mengkonsumi obat-obat anti hipertensi dalam waktu lama. Jika ia terkena Diabetes juga, seperti ayah, tentu juga harus dikontrol dengan obat-obat diabetes. Kadar gula yang tinggi dalam darah dapat menyebabkan darah menjadi lebih kental. Ini berisiko untuk menyebabkan sumbatan pembuluh darah, apalagi jika faktor-faktor lain tidak terjaga.

Memang tidak mudah, terutama menjaga faktor makanan, seperti ayah. Ayah suka makan enak. Aku ingat dulu waktu aku masih SD dan SMP, aku senang sekali jika dijemput ayah, karena sepulang sekolah selalu diajak makan di restoran di depan alun-alun . Sekedar minum es kopyor atau es durian kesukaanku, dan mie bakso. Jadi walaupun ayah rajin minum obat, rajin kontrol ke dokter, tapi kadang ibu kewalahan juga jika ayah ingin makan sesuatu yang mestinya dipantangkan. Kadang ayah patuh, tapi kadang juga ingin makan makanan yang enak. Bayangkan, apa enaknya makan yang tanpa gula, tanpa garam ?…. hm….

Begitulah, kawan..

Walaupun semuanya tentu sudah digariskan Allah, tentu ada yang bisa kita ambil pelajarannya. Terutama bagi kami anak-anaknya yang “mewarisi” gen untuk penyakit hipertensi dan diabetes, perlu lebih hati-hati menjaga kesehatan. Dan selain secara fisik dengan menjaga pola makan, olahraga, dll, menjaga kesehatan itu bisa dengan menjaga perilaku keseharian, berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya, mengurangi dosa sebanyak-banyaknya, sehingga Allah berkenan menumpahkan rahmatNya sebanyak-banyaknya pula dan menghindarkan kita dari aneka penyakit. Dan semoga kami anak-anaknya bisa menjadi tabungan pahala untuk Ayah. Insya Allah. Amien.

Demikian tulisan in memoriam ku untuk ayah…

“Papi, saya sayang papi…… Semoga Papi berbahagia di alam barzah, dan Insya Allah kita dapat bertemu di Firdaus kelak. Amien….”





Sebuah pilihan

30 05 2009

Dear kawan

 Membaca Majalah Tempo terbitan tanggal 25 Mei 2009 lalu, ada yang sedikit menggelitikku untuk angkat bicara… eh angkat pena, eh…. angkat laptop untuk memberi komentar. Yang mau kukomentari ya tulisan tentang diriku sendiri… hehe. For your info, aku sempat numpang nampang di Majalah Tempo edisi tersebut yang memang memuat laporan khusus tentang Perguruan Tinggi di Indonesia, termasuk UGM. Yang menggelitikku adalah judul tulisannya yang menurutku terlalu bombastis, yaitu “Bukan Profesor Biasa”…. Wah..wah, apa ini? Memangnya profesor yang biasa yang seperti apa? Aku memahami bahwa itu adalah “bahasa koran/majalah”, sehingga perlu agak “wah” agar menarik perhatian pembaca. Cuma aku jadi sungkan sendiri…..
Kayaknya ada yang perlu sedikit diluruskan dan ditempatkan secara proporsional mengenai status professorship ini. Tidak memandangnya terlalu hebat atau sebaliknya, tapi pas gitu loh. .. Oya, sebetulnya mengapa aku yang muncul di halaman tentang UGM, semata-mata karena kebetulan saja. Ketika Pak Dekan dikontak oleh Majalah Tempo, beliau mengarahkan kepada Wakil Dekan 3 untuk memberi keterangan, dan Pak WD3 memaparkan penelitian-penelitian yang sudah dilakukan dan tentang beberapa karya mahasiswa yang menonjol. Nah dari situ, mahasiswa ditanyai siapa dosen yang bisa diprofilkan, muncullah namaku (thanks for Rosa). Hm… jadilah aku dikontak oleh wartawan Tempo tersebut untuk wawancara per telepon. Semula lewat SMS ditanyakan macam penelitian yang sudah kulakukan. Wah, kalau harus nulis lewat SMS untuk menyebut penelitian2 yang sudah dan sedang kulakukan ya jariku bisa “keju”…. jadi kuminta saja menengok di blog-ku, baru kalau ada yang ingin ditanyakan lebih lanjut bisa kontak aku lagi.

 Nah, kembali ke masalah professorship tadi, ada satu pertanyaan wartawan tersebut yang menurut aku “kurang pas” (maaf, mas wartawan). Dia tanya, “ Mengapa UGM menobatkan ibu sebagai profesor ?”…. Hm, aku bilang bahwa istilah menobatkan itu kurang pas, kesannya bahwa inisiatif menobatkan menjadi profesor adalah berasal dari UGM. Kejadiannya bukan demikian. Kalau aku boleh bilang, menjadi profesor itu pilihan. Mau nggak jadi profesor juga pilihan. Orang boleh memilih, mau jadi profesor atau tidak. Banyak dosen yang lebih senior dari aku dan jauh lebih banyak prestasinya, dan layak menjadi profesor, tetapi belum menjadi profesor. Mengapa? Karena mereka belum mengajukan usulan kenaikan jabatan menjadi profesor atau guru besar. Mengapa belum? Ya mungkin ada yang tidak ingin menjadi profesor, atau terlalu low profile untuk menjadi profesor, atau malas dengan keribetan mengurus berkas-berkas usulan kenaikan pangkat yang lumayan banyak, atau masih menunggu saat yang pas menurut mereka, atau ada alasan yang lain, aku tidak tahu. Sedangkan aku sendiri, mengapa berani-beraninya mengusulkan kenaikan jabatan menjadi guru besar pada usia yang relatif muda dan belum banyak pengalaman? Yang pernah kupostingkan sebelumnya somewhere in my blog, hm…. aku bilang, bahwa aku hanya mengejar sebuah momentum, yang barangkali akan menjadi sesuatu yang istimewa dalam hidupku, yang kayaknya cukup mengesankan untuk diceritakan ke anak cucu. Kebetulan angka kreditku mencukupi. Sederhana bukan?

Jadi sebenarnya yang belum profesor pun belum tentu kapasitasnya di bawah profesor. Atau sebaliknya, juga tidak selalu yang profesor itu pasti lebih hebat dari yang belum profesor. Professorship di sini memang inisiatifnya datang dari yang bersangkutan, tentunya setelah melalui proses-proses penilaian angka kredit sesuai aturan yang berlaku. Jika dianggap cukup memenuhi syarat, UGM akan mengusulkan kepada Mendiknas untuk memberikan jabatan Guru Besar pada yang bersangkutan. Jadi bukan “UGM  menobatkan seseorang menjadi profesor”. Dan kalau aku disebut dalam tulisan itu sebagai “bukan profesor biasa”…. hm… dimana ya letak tidak biasanya? (anyway, thanks, Tempo, atas “julukannya”). Aku menjalani prosedur seperti biasa. Kalau dari segi usia.. hm… itu juga bukan luar biasa, karena inisiatif datang dari aku sendiri (yang terlalu berani)…. kebetulan saja inisiatif ini datang pada usia relatif muda.

Begitulah, sekedar untuk meluruskan saja….. soalnya terus terang aku jadi agak kikuk, jika kemudian orang berharap terlalu banyak dari yang “bukan biasa” ini, yang padahal sebenarnya biasa-biasa saja. Terimakasih pengertiannya…. mohon maaf kalau ada kata-kata yang kurang pas…





Pelupa = tanda-tanda penyakit Alzheimer ?

30 05 2009

Dear kawan,

veer200602_fancy_Page_26_Image_0001“Apa kabar? Masih ingat saya, nggak, Mbak?”…. begitu seringkali kuterima sapaan melalui Face Book. Hm… kadang ingat, kadang ada yang sudah lupa. Maklum… sudah lama tidak pernah ketemu. Tapi ngomong-omong masalah lupa, ada yang sedang sedikit kukuatirkan akhir-akhir ini….. Rasanya makin hari makin mudah lupa…. kenapa ya? Ketika kuceritakan pada suami, dia mencandai…”berarti memang sudah pantes jadi profesor… Yang penting nggak lupa aja sama suami”.. Hmm, maunya!

Dalam beberapa hari kemaren, aku sudah banyak melupakan beberapa hal penting, termasuk kuliah. Sampai malu sendiri (sory, my dear students!). Hari Kamis kemarin ada undangan untuk menghadiri pengukuhan Guru Besar Prof. dr. Sunartini, SpA(K), PhD, dari Fakultas Kedokteran. Beliau meminta kami datang mengenakan toga Guru Besar. For your info, kalau ada pengukuhan Guru Besar baru, maka para guru besar diminta hadir mengenakan toga dan duduk di bagian depan bersama anggota Majelis Guru Besar yang lain. Bu Sunartini termasuk kenalan baik karena kami berada dalam satu tim ketika acara benchmarking ke Belanda bulan Maret lalu. Jadi aku memutuskan untuk menghadiri sebagai penghargaan terhadap beliau. Salahnya…… aku lupa kalau hari Kamis pagi itu masih ada kuliah, dan akupun lupa belum menyampaikan kepada partnerku bu Woro mengenai hal ini. Pikiranku bahkan agak terlalu fokus pada rencana menghadiri acara pengukuhan. Maklum, ada rasa agak gimana gitu…. soalnya bakal bergabung dengan banyak profesor-profesor betulan dan senior dari Fakultas Kedokteran…. Rasanya kaya “uji nyali” aja….hehe…. Wah, untung bu Woro bisa dengan sigap mengawal diskusi dalam kuliah… Payah bukan?

Sehari sebelumnya, aku lupa meninggalkan mapku berisi surat-surat di ruang kuliah. Kalau jenis lupa yang seperti ini sih agak sering. Kalau yang ketlingsut adalah HP, masih agak mudah, bisa di-call. Tapi kalau barang lain… Wah, repot. Kamis sorenya, aku lupa lagi kalau masih ada kuliah. Semakin payah bukan? Soalnya rasanya kayak sudah selesai masa perkuliahan karena sudah mulai diminta bikin soal ujian… eh, ternyata masih ada kuliah sekali lagi.  Aku baru saja duduk lagi di ruangan setelah keluar sebentar menjemput anak sekolah dan sedang membuka pecel untuk makan siang ketika tiba-tiba seorang mahasiswa menelponku bahwa sudah ditunggu di ruang kuliah. Waduh, My God…! Wah ada kuliah to? Aku lupa blas ! Sory banget. Aku nggak pernah selupa ini sebelumnya……. Bungkusan pecel yang sudah kubuka dan belum sempat kunikmati lalu kutinggal dan aku berlari menuju ruang kuliah. Sore sepulang kuliah dan sedang dalam perjalanan, sekretarisku menelpon apakah aku tidak kehilangan dompet? Ternyata aku pun lupa meninggalkan dompetku di ruangan kantor. Ughhh…….. Astaghfirullohal’adziim….

Apakah karena sudah mulai overload yah…… ? Harus beralih dari satu urusan ke urusan lain dengan cepat dalam hitungan jam dalam sehari atau seminggu. Sehingga ada yang tercecer. Kayaknya aku memang mulai harus mengurangi beberapa aktivitas. Mudah-mudahan saja bukan gejala awal dari Alzheimer disease…. (amien). Apa itu Alzheimer disease?

Alzheimer disease

Penyakit ini menjadi terkenal setelah mantan Presiden AS Ronald Reagan menderita penyakit ini setelah turun dari kursi kepresidenannya. Dideskripsikan pertama kali oleh dokter Alois Alzheimer pada tahun1907, penyakit ini merupakan suatu suatu sindrom demensia (kepikunan) yang ditandai dengan penurunan ingatan dan kemampuan kognitif pasien secara progresif/cepat. Apa bedanya dengan kepikunan biasa yang biasanya dijumpai pada orang lanjut usia? Bedanya, pada Alzheimer perkembangan penyakitnya sangat cepat. Tapi memang tidak banyak orang memahami hal ini, dan seringkali penyakit ini dianggap sebagai penyakit kepikunan biasa.

Apa yang terjadi pada otak penderita Alzheimer?

Pasien umumnya mengalami penyusutan otak dan terjadi pengurangan (degenerasi) saraf secara signifikan, terutama pada saraf kolinergik. Kerusakan saraf kolinergik terjadi terutama pada daerah limbik otak (yang terlibat dlm emosi) dan korteks (yang terlibat dlm memori dan pusat pikiran/advanced reasoning center). Ini yang menyebabkan penderita mengalami penurunan ingatan dan kemampuan intelektual yang terjadi secara cepat dan mempengaruhi fungsi sosialnya.

Beberapa gejalanya diantaranya adalah:

- penurunan ingatan jangka pendek atau kemampuan belajar atau menyimpan informasi

- penurunan kemampuan berbahasa dan kesulitan menemukan kata atau kesulitan memahami pertanyaan atau petunjuk

- ketidakmampuan menggambar atau mengenal gambar dua-tiga dimensi, dll.

Berdasarkan Global Deterioration Scale, perkembangan penyakit ini dari awal sampai akhir adalah seperti tertera dalam tabel di bawah ini.

Stage Level Deskripsi
Stage 1 Normal Tidak ada perubahan fungsi kognitif
Stage 2 Pelupa Mengeluh kehilangan sesuatu atau lupa nama teman, ttp tdk mempengaruhi pekerjaan dan fungsi sosial. Umumnya mrpk bagian dari proses penuaan yg normal
Stage 3 Early confusion Ada penurunan kognisi yang menyebabkan gangguan fungsi sosial dan kerja. Anomia, kesulitan mengingat kata yang tepat dlm percakapan, dan sulit mengingat. Pasien mulai sering bingung/anxiety
Stage 4 Late confusion(early AD) Pasien tdk bisa lagi mengatur keuangan atau aktivitas rumahtangga, sulit mengingat peristiwa yg baru terjadi, mulai meninggalkan tugas yang sulit, tetapi biasanya masih menyangkal punya masalah memori
Stage 5 Early dementia(moderate AD) Pasien tidak bisa lagi bertahan tanpa bantuan orang lain. Sering terjadi disorientasi (waktu, tempat), sulit memilih pakaian, lupa kejadian masa lalu. Tetapi pasien umumnya masih menyangkal punya masalah , hanya biasanya jadi curigaan atau mudah depresi
Stage 6 Middle dementia(moderately severe AD) Pasien butuh bantuan untuk kegiatan sehari-hari (mandi, berpakaian, toileting), lupa nama keluarga, sulit menghitung mundur dari angka 10. Mulai muncul gejala agitasi, paranoid, dan delusion
Stage 7 Late dementia Pasien tidak bisa bicara jelas (mgkn cuma bergumam atau teriak), tidak bisa jalan, atau makan sendiri. Inkontinensi urin dan feses. Kesadaran bisa berkurang dan akhirnya koma.

Bagaimana terapinya?

Tentu tidak mungkin untuk membuat orang menjadi muda kembali dan mengembalikan sel-sel sarafnya untuk kembali seperti sedia kala, sehingga tujuan terapi adalah memelihara fungsi-fungsi pasien selama mungkin, menunda perkembangan penyakit, dan mengontrol gangguan/kelakuan yang tidak diinginkan. Perlu ada kerjasama yang baik dari keluarga untuk mensupport pasien, karena pada stage tertentu pasien sudah tidak bisa lagi melakukan kegiatan harian secara mandiri.

Kalau dari segi obatnya, ada beberapa obat yang bisa digunakan, yaitu :

1. Terapi pertama adalah untuk mengatasi gejala penurunan kognisi atau menunda progresivitas penyakit, disebut terapi kolinergik. Terapi ini ditujukan untuk meningkatkan kadar asetilkolin di otak dengan cara menghambat pengrusakan asetilkolin oleh enzim. Golongan obatnya disebut kolinesterase inhibitor, contoh obatnya adalah takrin, donepezil, rivastigmin, galantamin

2. Terapi kedua untuk mencegah degenerasi sel syaraf, misalnya dengan Vitamin E sebagai antioksidan kuat, dan obat yang bekerja pada reseptor glutamat, yaitu memantin. Ekstrak ginko biloba pernah disebut-sebut juga memiliki efek proteksi syaraf dan meningkatkan daya ingat. Tetapi informasi terakhir dari uji klinik tentang penggunaan ginko biloba untuk mencegah penyakit Alzheimer menunjukkan bahwa Ginko biloba tidak memberi efek signifikan. Bisa dilihat pada http://www.emaxhealth.com/1002/91/26772/ginkgo-biloba-does-not-prevent-alzheimer-039-s-disease.html. Sedangkan Vitamin E ternyata cukup efektif untuk mencegah kepikunan, seperti yang dilaporkan pada pertemuan ilmiah tahunan American Geriatrics Society (AGS) 2009. Lengkapnya dapat dicek pada http://www.medscape.com/viewarticle/702333.

Hm… mungkin aku perlu mulai minum vitamin E nih dari sekarang……

3. Terapi ketiga adalah terapi simptomatik untuk mengurangi gejala-gejala non-kognitif, seperti depresi, kecemasan, insomnia, halusinasi, dll. Untuk mengatasi gejala ini digunakan obat yang sesuai, misalnya depresi diatasi dengan antidepresan, kecemasan diatasi dengan penenang, dst.

Mengingat Allah

Ketika aku tulis di status Face Book-ku bahwa aku sekarang merasa sudah mulai pelupa, seorang sahabat nyeletuk untuk “banyak-banyak dzikir biar ingat”….. hehe… Tapi benar sekali sih….. Penyakit itu datangnya atas ijin Allah. Maka kita perlu selalu mengingatNya dan memohon untuk selalu diberi hidayah dan petunjukNya, melalui daya ingat dan daya pikir kita…. semoga tetap bekerja sesuai alamnya. Dan semoga dengan daya ingat dan daya pikir yang diberikanNya, kita bisa memanfatkannya sebanyak-banyaknya untuk kemaslahatan orang banyak. Amien.





Seminar – Vitamin C – Tengkleng Solo

24 05 2009

Dear kawan,

Kata-kata dalam judul posting ini nggak ada saling keterkaitannya sama sekali……. Apakah ada seminar mengenai Vitamin C yang terkandung dalam tengkleng Solo ? Hm….  tentu tidak, emangnya tengkleng mengandung Vit C ? Kalaupun ada mungkin sedikit sekali…… Lalu apa maksudnya? Ya, itulah yang pengalaman yang kulalui hari Sabtu lalu….

 Jadi ceritanya hari Sabtu kemarin aku diundang untuk menjadi pembicara di sebuah Seminar Nasional di Fakultas Farmasi Universitas Setia Budi Surakarta. Bukan tentang Vit C dalam tengkleng, tetapi temanya cukup bombastis juga, yaitu : Kajian tentang rematik: Segala Permasalahan dan terapinya.

Jadilah, pagi-pagi jam 7 aku berangkat menyusuri jalan ringroad utara ke arah timur menuju Solo. Pagi cukup ramah dan cerah, jalanan juga belum terlalu ramai. Jam 8.30an sudah sampai di sana, disambut dengan wedang jahe hangat dan kudapan ringan sebelum acara. Aku ada dalam satu sesi bersama Dr. Nyoman Kertia (ahli rheumatology dari RS Sardjito Yogya), dan ibu Dra Titik Marminah (praktisi apoteker di Solo). Aku kebetulan dapat giliran sebagai pembicara ketiga dengan topik ”Obat-obat rematik terkini dan permasalahannya”.

Hm… jadi pembicara ketiga ada enak dan tidaknya …. enaknya beberapa hal sudah dijelaskan oleh pembicara sebelumnya, sehingga tinggal menggaris-bawahi saja. Susahnya, audiens sudah mungkin sudah cukup capek mendengarkan presentasi2 yang lumayan panjang. Sementara waktunya pun sudah menjorok siang… jadi waktunya terasa agak diburu-buru.

 Seminar berjalan lancar. Dr Nyoman cukup kocak ketika menyampaikan paparannya tentang patofisologi dari beberapa jenis penyakit artritis. Penyakit artritis itu banyak macamnya lo…. katanya bisa sampai 100 macam. Tapi yang disampaikan dalam seminar tentu tidak semuanya,…… bisa-bisa butuh tiga hari tiga malam untuk menjelaskan.  Bu Titik menyampaikan tentang tatalaksana terapi berbagai penyakit artritis, terutama pada farmasi komunitas. Aku sendiri memaparkan obat-obat rematik terkini dan permasalahnnya. Pada dasarnya, obat-obat rematik untuk osteoatritis atau gout tidak ada yang sangat baru. Untuk pengobatan rematik ini sudah pernah aku tuliskan somewhere in my blog (bisa ditengok di : http://zulliesikawati.wordpress.com/2008/11/03/pengobatan-untuk-reumatik-dan-encok/ ).

Memang ada satu-dua obat baru untuk pengobatan artritis. Perkembangan obat-obat baru dijumpai pada pengobatan rheumatoid arthritis yang merupakan penyakit persendian dan sekaligus merupakan penyakit autoimun. Obat-obat baru itu adalah golongan agen biologis,  antagonis reseptor IL-1 (anakinra) dan antibodi terhadap TNFalfa (contoh: etanercept, infliximab, dan adalimumab). Obat terbaru untuk agen biologis adalah abatacept yang menekan aktivitas sel T yangberperan dalam sistim imun, dan rituximab. Kalau dicari masalahnya, maka masalah utama untuk obat-obat ini adalah harganya yang selangit, apalagi untuk ukuran kantong kebanyakan dari kita. Satu paket untuk pemakaian dua minggu harganya Rp 6 juta. Sebulan 12 juta, setengah tahun sudah 72 juta. Bisa bayangkan sendiri…….

 Sedangkan hal yang relatif baru bagi pencegahan penyakit asam urat (hiperurisemia) adalah vitamin C,  yang pernah dilaporkan mengurangi kejadian hiperurisemia pada pria. Hal ini sudah pernah aku tuliskan di blog ini juga.

 Vitamin C dan osteoporosis?

Pada sesi tanya jawab banyak juga pertanyaan yang datang untuk ketiga pembicara. Salah satu pertanyaan menarik untukku yang agak sedikit menyimpang dari topik artritis adalah tentang Vitamin C dan efeknya menyebabkan osteoporosis. Menanggapi paparanku tentang peranan Vit C dalam menghambat hiperurisemia, penanya menceritakan bahwa ia rajin mengkonsumsi vitamin C dosis tinggi (500-1000 mg/sehari), dan ia mendengar dari temannya bahwa Vitamin C bisa menyebabkan osteoporosis. Ia menanyakan kebenaran hal itu dan bagaimana dengan kebiasaannya minum vitamin C, apakah harus dihentikan.

Aku segera searching informasi tentang ini, dan yang kutemukan cukup menarik, karena faktanya justru sebaliknya. Sebuah tulisan dari http://www.webmd.com/osteoporosis/news/20080919/vitamin-c-good-bones  menyatakan bahwa vitamin C bagus untuk tulang, terutama untuk pria usia lanjut. Hasil penelitian tentang hal ini dipublikasikan di Journal of Nutrition tahun 2008.

 Jalannya penelitian

Tucker (sang peneliti) dan team-nya mengevaluasi kepadatan tulang pada 213 pria dan 393 wanita, yang berusia 75 tahun pada saat awal penelitian, selama periode 4 tahun  dan melihat apakah ada hubungan antara intake vitamin C dengan kepadatan tulang. Partisipan pada study ini adalah juga partisipan pada study besar yang bernama Framingham Osteoporosis Study. Peneliti mengamati pada hasil quesioner tentang diet partisipan dan mengevaluasi perubahan pada densitas tulang pada tulang pinggul, tulang punggung, dan lengan setelah 4 tahun. Hasilnya?

Pria dengan intake vitamin C tertinggi mengalami pengurangan kepadatan tulang terkecil pada tulang pinggul. Hal yang sama tidak dijumpai pada wanita. Diperkirakan faktor hormonal pada wanita lah yang menyebabkan efek ini tidak dijumpai pada wanita. Efeknya menjadi paling signifikan pada kadar tertinggi, yaitu sekitar 314 mg Vit C sehari, yang berasal dari suplemen maupun makanan. Sedangkan pada mereka yang konsumsinya terendah, yaitu sekitar 106 mg/sehari, kehilangan kepadatan tulangnya mencapai 5,6 %.

Bertambah lagi deh fungsi asupan Vitamin C…  Jadi, asal tidak ada masalah dengan gangguan saluran cerna akibat keasaman vit C, silakan saja mengkonsumsi vitamin C setiap hari, baik dari makanan alami maupun suplemen. Untuk wanita memang belum terbukti efeknya dalam mempertahankan densitas tulang, tapi yang jelas tidak ada bukti bahwa ia menyebabkan osteoporosis. Apalagi jika dalam bentuk kombinasi dengan Calcium seperti yang banyak dijumpai dalam produk suplemen Vit C, tentu akan justru mnghindarkan dari osteoporosis. Selain itu, vitamin C juga banyak berperan dalam kecantikan karena membantu sintesis kolagen sehingga membuat kulit tetap kencang tidak mudah keriput…

 Menikmati Tengkleng

Siang seusai seminar, aku ditemui teman SMA dan ditraktir makan tengkleng, salah satu masakan khas Solo. Tengkleng dibuat dari bagian-bagian tertentu dari kambing dan dimasak mirip gulai namun lebih encer. Ketika makan, aku agak sulit mengidentifikasikan dari bagian manakah dari kambing itu yang sedang kumakan…. Tapi I don’t care about it lah….. pokoknya enak….

Pertemuanku dengan Budi, teman SMAku ini, juga sedikit unik. Terus terang, sebelum bertemu aku bahkan agak lupa ini Budi yang mana hehe…. (sory, Bud..). Ceritanya aku menulis di status Face Book-ku bahwa aku akan ke Solo. Dan kemudian datanglah comment darinya untuk mengontaknya kalau aku jadi ke Solo dan ia memberikan nomer teleponnya. Jadilah, untuk sebuah silaturahmi kawan lama yang sudah berpisah lebih dari 20 tahun… kami bertemu di warung tengkleng. Selain Budi, aku ketemu pula dengan Ebrahm dan keluarganya yang sekarang juga berdomisili di Solo.

Kawan,

malamnya ketika sudah di rumah, aku mendengar berita di TV bahwa sudah mulai suara-suara untuk mengharamkan Face Book karena katanya menjadi media untuk menyebarkan gambar porno, memfitnah, menipu, dsb. … Wah,… aku jadi tak tau mau komentar apa. Soalnya siangnya aku baru mendapat manfaat dari Face Book yang telah menyambungkan tali silaturahmi dengan teman SMA yang sudah 20-an tahun tidak ketemu, ditraktir tengkleng pula. Sama sekali jauh dari urusan negatif.  Apakah tidak berlebihan tuh? Mengapa tidak internetnya saja dilarang karena teknologi internet-lah yang memungkinkan pengiriman gambar porno, dsb-nya tadi. Face Book hanyalah tools saja….. mungkin suatu saat akan beralih ke teknologi lain yang lebih menarik. Aku bukan pendukung Face Book walaupun aku juga kerap menggunakannya. Tapi menurutku terlalu berlebihan jika sampai dilarang….  Para pengguna memang dituntut untuk bijaksana dalam menggunakannya. Kadang kalau sudah Face Book-an memang banyak yang lupa waktu, lupa tugas, dll.

Begitulah ceritaku hari ini. Tidak terlalu menarik, tapi itulah yang bisa kutuliskan….





Memilih analgesik yang pasti pas…..

21 05 2009

Dear kawan,

Ada yang belum pernah merasakan nyeri ? Pasti semua orang sudah pernah merasakan nyeri. Bisa sakit kepala, nyeri haid, nyeri punggung, rematik, dan lain-lain, sampai nyeri yang berat, seperti nyeri kanker, nyeri pasca operasi, dll. Obat anti nyeri itu namanya analgesik. Analgesik apa yang biasanya Anda gunakan ketika nyeri?  Parasetamol, aspirin, antalgin, asam mefenamat, piroksikam, meloksikam, ibuprofen, diklofenak, ketorolak,  atau yang lain? Untuk nyeri ringan sampai sedang, kita bisa menggunakan obat-obat analgesik (pereda) nyeri tanpa resep.  Untuk nyeri berat tentu memerlukan analgesik yang lebih kuat seperti analgesik golongan narkotik yang harus diperoleh dengan resep dokter. Obat analgesik mudah diperoleh di mana-mana, sampai ke warung-warung kecil di sekitar kita. Kelihatannya hanya obat sepele, tetapi jika pemilihan tidak tepat, bisa-bisa malah mendapat masalah yang tidak diinginkan.

 Seorang mahasiwa pernah berkonsultasi tentang pengalamannya menggunakan obat anti nyeri natrium diklofenak setelah dia terkena cedera sehabis olahraga. Dia mengalami reaksi obat yang disebut Stevens-Johnson syndrome, yaitu reaksi alergi berat yang ditandai dengan melepuh dan membengkaknya selaput mukosa di rongga mulut, kulit kemerahan, demam, dan beberapa gejala lain. Ini memang reaksi alergi yang sulit diprediksi sebelumnya. Aku hanya menyarankan bahwa setelah tahu dia ternyata hipersensitif terhadap golongan obat ini, maka dia harus hati-hati untuk memilih obat analgesik, jangan menggunakan obat sejenis apapun merk-nya.

 Apakah ada efek samping obat AINS yang bisa diprediksi atau lebih sering kejadiannya sehingga kita bisa menghindari penggunaannya?

Ya, ada. Obat-obat golongan anti inflamasi non-steroid (AINS) seperti yang disebut di atas umumnya memiliki efek samping pada lambung. Seorang sejawat menceritakan bahwa setelah menggunakan piroksikam, lambungnya terasa perih.

 Mengapa obat AINS menyebabkan gangguan lambung?

Obat-obat AINS bekerja dengan cara menghambat sintesis prostaglandin. Prostaglandin sendiri adalah suatu senyawa dalam tubuh yang merupakan mediator nyeri dan radang/inflamasi. Ia terbentuk dari asam arakidonat pada sel-sel tubuh dengan bantuan enzim cyclooxygenase (COX). Dengan penghambatan pada enzim COX, maka prostaglandin tidak terbentuk, dan nyeri atau radang pun reda.

Tapi kawan,….. ternyata COX ini ada dua jenis, yaitu disebut COX-1 dan COX-2. COX-1 ini selalu ada dalam tubuh kita secara normal, untuk membentuk prostaglandin yang dibutuhkan untuk proses-proses normal tubuh, antara lain memberikan efek perlindungan terhadap mukosa lambung. Sedangkan COX-2, adalah enzim yang terbentuk hanya pada saat terjadi peradangan/cedera, yang menghasilkan prostaglandin yang menjadi mediator nyeri/radang. Jadi, sebenarnya yang perlu dihambat hanyalah COX-2 saja yang berperan dalam peradangan, sedangkan COX-1 mestinya tetap dipertahankan. Tapi masalahnya, obat-obat AINS ini bekerja secara tidak selektif. Ia bisa menghambat COX-1 dan COX-2 sekaligus. Jadi ia bisa menghambat pembentukan prostaglandin pada peradangan, tetapi juga menghambat prostaglandin yang dibutuhkan untuk melindungi mukosa lambung. Akibatnya? Lambung jadi terganggu….  

 Bagaimana pengatasannya?

Untuk mengatasi efek obat AINS terhadap lambung, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, sebaiknya digunakan setelah makan untuk mengurangi efeknya terhadap lambung. Kedua, obat golongan AINS umumnya dalam bentuk bersalut selaput yang bertujuan mengurangi efeknya pada lambung, maka JANGAN DIGERUS atau DIKUNYAH. Ketiga,  jika memang menyebabkan lambung perih atau sudah ada riwayat maag atau gangguan lambung sebelumnya, bisa diiringi penggunaannya dengan obat-obat yang menjaga lambung seperti antasid, golongan H2 bloker seperti simetidin atau ranitidin, golongan penghambat pompa proton seperti omeprazol atau lansoprazol, atau dengan sukralfat.

Kekuatan efek samping obat ini terhadap lambung berbeda-beda antar satu obat dengan yang lain, maka pilihlah yang efeknya terhadap lambung paling kecil.  Adapun urutannya dari yang paling berisiko pada beberapa obat AINS terhadap lambung adalah sebagai berikut : 

NSAID

Relative risk of GI complications

Indomethacin

2.25

Naproxen

1.83

Diclofenac

1.73

Piroxicam

1.66

Tenoxicam

1.43

Meloxicam

1.24

Ibuprofen

1.19

                          Sumber : http://www.medscape.com/viewarticle/537837

 Tapi sebaiknya, mereka yang sudah punya riwayat gangguan lambung menghindari penggunaan obat-obat AINS ini. Alternatif yang paling aman adalah parasetamol atau asetaminofen. Obat ini tersedia dalam berbagai merk.

 Mengapa parasetamol relatif aman terhadap lambung?

Parasetamol termasuk obat lama yang bertahan lama sebagai analgesik, karena relatif aman terhadap lambung. Juga merupakan analgesik pilihan untuk anak-anak maupun ibu hamil/menyusui. Mengapa ia sedikit beda dengan teman-temannya sesama pereda nyeri?

Ya, parasetamol memiliki sedikit perbedaan dalam target aksi obatnya. Parasetamol tidak berefek sebagai anti radang, tetapi lebih sebagai analgesik dan anti piretik (obat turun panas). Ternyata, selain COX-1 dan COX-2, ada pula COX-3. Ada peneliti yang menyatakan bahwa COX-3 adalah varian dari COX-1, yang terdistribusi di sistem saraf pusat. Dengan penghambatan terhadap COX-3 di otak/sistem saraf pusat, maka efeknya lebih terpusat dan tidak menyebabkan gangguan pada lambung. Maka buat mereka yang punya gangguan lambung, parasetamol adalah pilihan yang aman.

Tapi bukan berarti parasetamol tidak punya efek samping loo…..  Efek samping parasetamol larinya ke liver/hati. Ia bersifat toksik di hati jika digunakan dalam dosis besar. Karena itu, dosis maksimal penggunaan parasetamol adalah 4 gram/sehari atau 8 tablet @ 500 mg/sehari. Melebihi itu, akan berisiko terhadap hati.

 Efek samping AINS terhadap asma

Selain berefek samping terhadap lambung, AINS juga sering disebut-sebut bisa memicu kekambuhan asma buat mereka yang sudah punya riwayat asma. Bahkan cukup banyak pula penderita asma yang sensitif terhadap aspirin, yang terpicu kekambuhan asmanya jika minum aspirin. Kok bisa ya? Tidak begitu pasti penyebabnya, tetapi diduga hal ini berkaitan dengan dampak dari penghambatan terhadap enzim COX. Penghambatan terhadap COX akan mengarahkan metabolisme asam arakidonat ke arah jalur lipoksigenase yang menghasilkan leukotrien. Leukotrien sendiri adalah suatu senyawa yang memicu penyempitan saluran nafas (bronkokonstriksi). Karena itu, penderita dengan riwayat asma juga harus hati-hati menggunakan obat-obat AINS. Alternatif paling aman ya kembali ke parasetamol.

 Apa alternatif lainnya?

Setelah mengetahui bahwa enzim COX yang lebih berperan dalam peradangan adalah COX-2, bukan COX-1, maka para ahli berpikir untuk membuat obat yang khusus menghambat COX-2 saja. Maka muncullah obat-obat coxib, yaitu celecoxib, rofecoxib, valdecoxib, dll. Obat-obat ini sangat laris ketika pertama kali dimunculkan, karena memenuhi harapan sebagian besar pasien yang harus mengkonsumsi AINS dalam jangka waktu lama, tapi terhindar dari efek terhadap lambung.

 Apakah obat ini bebas dari efek samping?

Hm…. ternyata tidak juga tuh. Beberapa tahun setelah diluncurkan di pasar, mulai ada laporan-laporan kejadian efek samping gangguan kardiovaskular pada penggunaan obat-obat ini, yaitu terjadinya gangguan jantung iskemi atau stroke iskemi. Mengapa bisa terjadi?

Ternyata penghambatan secara selektif terhadap COX-2 juga memunculkan masalah lain. Diketahui bahwa selain prostaglandin, COX-1 juga mengkatalisis pembentukan tromboksan A2, suatu senyawa dalam tubuh yang berperan dalam pembekuan darah dan bersifat vasokonstriktor (menyebabkan penyempitan pembuluh darah). Ketika COX-1 dibiarkan tidak terhambat, maka pembentukan tromboksan jalan terus, dan ini ternyata dapat menyebabkan meningkatnya risiko terbentuknya gumpalan-gumpalan darah kecil (blood clots) yang dapat menyebabkan tersumbatnya pembuluh darah. Jadilah gangguan kardiovaskuler seperti yang disebutkan di atas.

Karena itu, VIOXX (rofecoxib) yang sudah beredar di pasar, pada tahun 2004 ditarik lagi dari peredaran oleh produsennya. Sementara itu, celecoxib (Celebrex) tetap masih boleh beredar tetapi perlu ada pelabelan ulang pada kemasannya, di mana perlu dinyatakan bahwa obat ini harus digunakan secara hati-hati oleh mereka yang memiliki riwayat gangguan kardiovaskuler.

 Begitulah….. ternyata walaupun “cuma” mencari obat penghilang sakit, juga perlu ada ilmunya. Dan perlu diingat, sebaiknya obat penghilang sakit ini digunakan hanya jika perlu saja, karena obat-obat ini sifatnya adalah simtomatik, atau menghilangkan gejala. Jika penyebab sakitnya sendiri belum hilang, maka nyeri masih mungkin akan muncul kembali. Jadi misalnya sakit kepala karena banyak hutang,… maka segeralah bayar hutangnya…… analgesik tidak bisa menyelesaikan masalah Anda.

 Oke, demikianlah sekilas info.. Kalau masih bingung dalam memilih obat analgesik, belilah di Apotek, dan carilah Apotekernya untuk berkonsultasi…

Semoga bermanfaat…