Steven-Johnson Syndrome : “alergi” obat yang seram…

20 01 2014

Dear kawan,

Tulisanku tentang Steven-Johnson Syndrome (SJS) di harian Tribun Yogya pada tanggal 19 Januari 2014 kemarin mengundang beberapa permintaan untuk menuliskan lagi topik itu di blog ini. Sebenernya aku sudah pernah menulis tentang topik ini di blog beberapa waktu lalu. (klik di sini). Tapi ngga ada salahnya aku tulis lagi tentang topik ini dengan tambahan cerita, dan sebagiannya sama dengan tulisan sebelumnya atau dengan yang tertulis di Tribun.

E-mail seorang selebritis

Suatu hari di bulan Januari 2013, hampir persis setahun yang lalu, sebuah e-mail masuk ke Blackberry-ku, dari seorang yang mengaku bernama Harry Kiss. Beliau menanyakan tentang SJS yang terjadi pada putranya. Atas seijin beliau, aku menceritakan tentang kasus putranya dan aku kutipkan e-mail pertamanya:

Selamat siang Mbak,

Anak saya nomor dua, adiknya Vidi Aldiano, kemarin itu demam, trus bibirnya penuh sariawan, Saya membaca artikel mbak tentang SJS, kayaknya gejalanya hampir sama, bibirnya bengkak dan sariawan dimana mana, Sekarang dia dirawat di RS Eka Hospital, apa yang harus saya lakukan..?

Salam

Harry Kiss

What??!!…. Vidi Aldiano? Bukannya itu nama artis penyanyi yang lagi ngetop? Dan ini berarti ayahnya Vidi Aldiano? Hmm.. antara percaya dan tidak, soalnya sekarang kan banyak hoax atau junk mail….. Tapi kalau melihat isi e-mailnya, kurasa aku tidak perlu mempedulikan apakah benar ini ayahnya Vidi Aldiano yang penyanyi itu atau bukan, … yang jelas pengirim e-mail memerlukan informasi mengenai SJS yang memang pernah aku tulis, dan beliau mungkin menemukan tulisanku saat sedang searching di internet…. Dan terlihat sekali beliau sangat cemas dengan keadaan putranya (yang akhirnya kutahu namanya Diva). Lalu aku balas e-mailnya.

Luka lepuh seperti sariawan di bibir Diva

Luka lepuh seperti sariawan di bibir Diva

Aku tanyakan apakah sebelum terkena SJS, Diva baru mengkonsumsi obat tertentu. Hal ini karena SJS adalah salah satu jenis reaksi tubuh, semacam alergi/hipersensitif yang cukup berat, terhadap adanya paparan, di mana obat merupakan salah satu pemicunya. Dalam kontak-kontak via e-mail berikutnya, aku mendapatkan info bahwa diduga kuat Diva mengalami SJS. Pak Harry juga mengirimkan gambar kondisi Diva dengan bibirnya yang penuh semacam sariawan. Juga info bahwa memang beberapa hari sebelumnya Diva sakit flu dan mendapat resep obat dari Dokter.

  Pak Harry mengirimkan juga resep tersebut. Aku mencoba menganalisis resep tersebut, dan aku jumpai bahwa ada beberapa obat dalam resep tersebut yang memang sering dikaitkan dengan kejadian SJS, antara lain kalium diklofenak  (Kaflam) dan parasetamol (Maganol).

Resep untuk Diva sebelum mengalami SJS

Resep untuk Diva sebelum mengalami SJS

Oya, karena agak penasaran dengan sosok Pak Harry Kiss, aku mencoba searching tentang beliau… dan ternyata benar beliau adalah ayahnya Vidi Aldiano. Dan beliau memiliki event organizer besar Harry Kiss Production (http://www.harrykiss.com/hkp/) yang sering dipakai untuk penyelenggaraan acara-acara di istana kepresidenan… :)

Apa sebenarnya Steven-Johnson Syndrome (SJS) ?

Mungkin sebagian masih asing dengan istilah penyakit ini. Penyakit ini sebenarnya memang jarang terjadi, namun nyatanya sesekali bisa dijumpai di sekitar kita. Gangguan ini sulit diprediksi sebelumnya. Yang lebih penting lagi, penyebabnya kadang adalah obat yang sering digunakan sehari-hari seperti obat turun panas parasetamol, obat penghilang rasa sakit golongan non-steroid, seperti diklofenak, piroksikam, juga antibiotika (yang paling sering golongan sulfa dan penisilin), dll. Tak kurang, FDA di Amerika pun telah memberi edaran peringatan untuk berhati-hati terhadap risiko terjadinya SJS oleh parasetamol/asetaminofen. (klik di sini)  Bisa dikatakan ini adalah salah satu bentuk “alergi” obat yang berat, namun berbeda dengan alergi yang biasa.

Syndrome sendiri artinya adalah sekumpulan gejala (symptom), di mana pada penyakit ini terdapat aneka gejala, mulai dari lesi merah di kulit, sariawan di rongga mulut, sampai luka lepuh di kulit dan alat genital, dll. Manisfestasi klinis gangguan SJS ini sangat bervariasi antar pasien, dari yang ringan sampai berat. Yang berat bisa cukup fatal dan mengakibatkan kematian, terutama jika terjadi komplikasi. Nama Steven-Johnson merujuk pada nama dua orang dokter, pak Steven dan Pak Johnson yang pertama-kalinya mengidentifikasikan adanya syndrome ini. Penyebabnya pada umumnya tidak diketahui dan sulit diprediksikan sebelumnya, namun pada umumnya merupakan respon imun tubuh yang berlebihan terhadap zat asing. Hampir seperti reaksi alergi, tetapi bentuknya khas dan lebih berat. Secara patofisiologi, mekanisme terjadinya alergi tidak sama dengan mekanisme SJS, dalam hal antibodi yang terlibat dan mediatornya. Jika reaksi alergi biasa melibatkan antibodi imunoglobulin E (IgE), SJS melibatkan IgG dan IgM dan merupakan reaksi imun yang kompleks. Beberapa obat dilaporkan dapat menyebabkan reaksi SJS, terutama adalah obat-obat anti inflamasi non steroid (NSAID) dan obat antibiotik golongan sulfa. Selain itu unsur makanan, cuaca, infeksi (jamur, virus, bakteri) juga diduga dapat merupakan faktor penyebab. Susahnya, reaksi ini sulit untuk diprediksi sebelumnya jika belum kejadian.

Bagaimana pengatasannya?

Tidak ada obat yang spesifik untuk mengatasi SJS, sehingga pengobatannya adalah berdasarkan gejala yang ada. Istilahnya diberi terapi suportif, untuk mendukung dan memperbaiki kondisi pasien. Jika keadaan umum pasien cukup berat, maka perlu diberi cairan dan elektrolit, serta kalori dan protein secara parenteral melalui infus. Karena infeksi juga merupakan salah satu penyebab SJS terutama pada anak-anak, maka diberi pula antibiotik dengan spektrum luas, yang kemudian dilanjutkan dengan antibiotik yang sesuai dengan kuman penyebab. Untuk menekan sistem imun, digunakan pula kortikosteroid, walaupun penggunaannya masih kontroversial, terutama bentuk sistemik. Contohnya adalah deksametason dengan dosis awal 1mg/kg BB bolus, kemudian selama 3 hari 0,2-0,5 mg/kg BB tiap 6 jam. Untuk gatalnya bisa diberi anti histamin jika perlu. Untuk perawatan lesi pada mata diberi antibiotika topikal. Kulit yang melepuh ditangani seperti menangani luka bakar. Lesi kulit yang terbuka dikompres dengan larutan saline atau Burowi. Lesi di mulut bisa dirawat dengan antiseptik mulut. Dan jika ada rasa nyeri bisa diberikan anestesi topikal. Semua terapi ini akan diberikan oleh dokter sesuai dengan kondisi dan kebutuhan pasien. Kesembuhan pasien sangat tergantung dari berat ringannya gejala yang muncul.

Pencegahannya?

Jika belum pernah terjadi, sulit untuk mencegahnya karena tidak bisa diprediksikan. Tetapi jika sudah pernah terjadi sekali saja, maka upayakan untuk mengenali faktor penyebab, dan sebisa mungkin menghindar dari faktor penyebab tersebut. Jika disebabkan karena obat, perlu dipastikan nama obat tersebut dalam nama generik, dan hindarkan penggunaan obat yang sama dalam berbagai nama paten yang ada. Jika perlu, tanyakan kepada apoteker macam-macam obat yang ada pada resep Anda. Contoh nama generik adalah parasetamol, dan obat ini bisa dijumpai dalam berbagai merk dagang, seperti : Panadol, Sanmol, Tempra, Thermorex, Paramex, Bodrex, dll. Kadang masyarakat tidak mengetahui nama generik obat dan hanya mengenal nama patennya sehingga hanya menghindari obat dengan nama paten tersebut, padahal bisa jadi obat pemicu SJS tersebut terdapat pula pada merk obat yang lain. Jika anda berobat ke dokter untuk suatu penyakit, sampaikan pada dokter bahwa anda sensitif dan pernah mengalami SJS dengan obat tertentu (sebut nama obatnya), agar dokter tidak meresepkan obat tersebut. SJS bisa saja terulang lagi jika terkena paparan bahan yang menjadi pemicu.

Bagaimana akhir cerita Diva?

Setelah beberapa hari dirawat dan mendapatkan terapi suportif serta untuk mengurangi gejala, Diva akhirnya sembuh dan boleh pulang. Untuk obat oles bibirnya, Diva mendapatkan resep berisi: Kemicitine 0.5, Prednison 0.05, Avil 0.25 , lanolin 2.5, vaseline ad 25. Kondisi Diva relatif tidak sangat parah, walaupun digambarkan oleh Pak Harry cukup “menyeramkan”. Sebagian pasien mungkin mengalami gejala yang lebih berat, seperti dialami oleh keluarga salah satu pembaca blog-ku, yang menceritakan bahwa ayahnya meninggal akibat SJS. Sebuah komentarnya menyatakan begini (aku kutipkan sesuai aslinya) : “Papa saya terserang penyakit SJS. Hanya 12 hari kemudian meninggal, dokter hanya bilang papa saya keracunan obat. Yang memang saya tau dia mengkonsumsi obat berupa jamu yang berasal dari China. Gejala awalnya berupa sariawan pada bibir kemudian telapak tangan dan kaki tumbuh gelembung air seperti cacar dan sangat sakit, setelah itu baru timbul kemerahan di sekujur badan hingga badannya mirip orang yang terluka bakar. Beberapa hari lalu saya sempat juga melihat acara TV Korea, ada beberapa orang yang terkena SJS yang di sebabkan terlalu seringnya mereka mengkonsumsi jamu tradisional Korea.”

Lesson learnt

Say Hello dari Manchester :)

Say Hello dari Manchester :)

Walaupun jarang terjadi, namun jika terjadi bisa fatal akibatnya. Maka berhati-hatilah untuk mengkonsumsi obat, termasuk jamu. Aku juga menyarankan pada Pak Harry via e-mail, agar jika suatu waktu Diva sakit dan berobat ke dokter, sampaikan bahwa Diva pernah mengalami SJS akibat obat tertentu, agar dokter bisa memilihkan alternatif terbaik untuk Diva. Buatku, banyak pengalaman yang bisa dipetik dengan berbagi ilmu di blog ini. Perkenalan dengan keluarga Vidi Aldiano merupakan satu pengalaman menarik juga. Sampai suatu saat ketika kami kontak via Whatsapp, keluarga mereka sedang berada di Manchester, dan Pak Harry mengirimkan foto mereka berdua (Pak Harry dan Vidi) ketika di Manchester, Inggris, dengan bertuliskan ” Bu Zullies Ikawati, apa kabarnya?”…. Aku tak peduli walaupun jelas itu foto editan, yang penting bukan aku yang ngedit lohhehe… suatu kreativitas dan sapaan yang penuh kekeluargaan…

Demikian sekedar berbagi tentang SJS, semoga bermanfaat…





Memilih obat asma: oral atau inhalasi?

25 12 2013

Dear kawan,

tulisan kali ini adalah re-publish tulisanku yang dimuat di Harian Tribun edisi tg 23 Desember 2013, dengan harapan terjangkau lebih luas bagi pembaca….

Perbandingan saluran nafas normal dan saat serangan asma

Perbandingan saluran nafas normal dan saat serangan asma

Asma merupakan salah satu penyakit saluran nafas yang banyak dijumpai, baik pada anak-anak maupun dewasa. Kata asma (asthma) berasal dari bahasa Yunani yang berarti “terengah-engah”. Lebih dari 200 tahun yang lalu, Hippocrates menggunakan istilah asma untuk menggambarkan kejadian pernafasan yang pendek-pendek. Manifestasi penyakit asma sangat bervariasi dalam hal keparahannya. Sekelompok pasien mungkin bebas dari serangan dalam jangka waktu lama dan hanya mengalami gejala jika mereka berolahraga atau terpapar alergen atau terinfeksi virus pada saluran pernafasannya. Pasien lain mungkin mengalami gejala yang terus-menerus atau serangan akut yang sering. Pola gejalanya juga berbeda antar satu pasien dengan pasien lainnya. Misalnya, seorang pasien mungkin mengalami batuk hanya pada malam hari, sedangkan pasien lain mengalami gejala dada sesak dan bersin-bersin baik siang maupun malam. Selain itu, dalam satu pasien sendiri, pola, frekuensi, dan intensitas gejala bisa bervariasi antar waktu ke waktu.

Bagaimana pengobatan asma ?

Karena manifestasi klinis asma bervariasi, ada yang ringan, sedang dan berat, maka pengobatannya harus disesuaikan dengan berat ringannya asma. Asma ringan mungkin cukup diobati pada saat serangan, tidak perlu terapi jangka panjang, sedangkan asma yang sedang sampai berat perlu dikontrol dengan pengobatan jangka panjang untuk mencegah serangan berikutnya.

Jadi, berdasarkan penggunaannya, pengobatan asma ada dua macam, yaitu pengobatan saat serangan/kambuh (obat pelega) dan pengobatan jangka panjang (obat pencegah atau pengontrol serangan). Obat pengontrol harus dipakai setiap hari untuk mencegah kekambuhan, dan biasanya diperlukan oleh pasien asma yang berat dimana kekambuhan terjadi hampir setiap hari.

Obat pelega saluran nafas biasanya memiliki aksi yang cepat untuk melonggarkan saluran nafas. Contohnya adalah salbutamol, terbutalin, ipratropium bromide dan teofilin/aminofillin. Salbutamol merupakan golongan obat beta agonis yang aksinya cepat, dan banyak dijumpai dalam berbagai bentuk sediaan. Ada yang berbentuk tablet, sirup, atau inhalasi. Untuk mengatasi serangan asma, obat ini merupakan pilihan pertama. Dalam bentuk inhalasi, salbutamol tersedia dalam bentuk tunggal (contoh: Ventolin), atau dalam bentuk kombinasi dengan ipratriopium bromid (contoh: Combivent). Dalam bentuk sirup, salbutamol sering dikombinasikan dengan obat pengencer dahak. Terbutalin hanya dijumpai dalam bentuk sediaan obat minum (sediaan oral), sedangkan aminofilin dijumpai dalam bentuk injeksi. Teofilin tersedia dalam bentuk tablet atau sirup, biasanya dikombinasi dengan obat lain seperti efedrin (contoh: Neo Napacin, Asma Soho) atau salbutamol (Teosal). Semua obat-obat di atas harus diperoleh dengan resep dokter, kecuali untuk obat kombinasi teofilin dan efedrin, dapat diperoleh tanpa resep.

Obat-obat pengontrol yang digunakan untuk pengobatan jangka panjang meliputi inhalasi steroid, b2 agonis aksi panjang, sodium kromoglikat atau kromolin, nedokromil, modifier leukotrien, dan golongan metilksantin. Obat-obat untuk penggunaan jangka panjang sebaiknya menggunakan bentuk inhalasi, karena efek samping sistemiknya lebih kecil daripada jika diberikan dalam bentuk oral/obat minum. Contoh obat yang digunakan untuk terapi jangka panjang adalah inhalasi kombinasi budesonide dan formoterol (contoh: Symbicort) dan kombinasi salmeterol dan flutikason (contoh : Seretide). Bentuknya bermacam-macam, ada yang disebut inhaler, diskhaler, turbuhaler, yang dibedakan dari cari penggunaannya. Obat ini relatif aman dipakai jangka panjang untuk mengontrol asma yang berat. Obat lain yang diindikasikan untuk pencegahan asma adalah ketotifen (suatu anti alergi), teofilin lepas lambat, dan sodium kromoglikat/nedokromil. Namun obat-obat yang terakhir ini adalah pilihan kedua jika pilihan pertama tidak ada atau tidak berefek. Obat ketotifen (contoh: sirup Profilas) kurang direkomendasikan dalam pencegahan asma karena bukti klinisnya belum cukup kuat, sementara teofilin juga perlu hati-hati dalam penggunaannya karena efek sampingnya cukup banyak (jantung berdebar, insomia, mual muntah, dll) dan mudah mencapai dosis toksiknya.

Sediaan oral versus inhalasi?

Bentuk sediaan inhalasi

Bentuk sediaan inhalasi

Idealnya, obat-obat untuk asma diberikan secara inhalasi, artinya dihirup melalui mulut. Bentuknya bisa suatu aerosol atau serbuk kering. Keuntungan sediaan inhalasi adalah lebih cepat mencapai sasaran (yaitu di saluran nafas) dibandingkan obat minum yang harus “jalan-jalan” dulu melalui lambung, usus, pembuluh darah dan baru mencapai targetnya di bronkus/saluran nafas. Dengan demikian efeknya lebih cepat diperoleh dan dosis yang digunakan jauh lebih kecil daripada bentuk obat minum. Ini sangat penting terutama pada serangan akut yang membutuhkan efek pelega yang cepat.

Selain itu, keuntungan lainnya adalah efek sampingnya yang relatif kecil. Karena digunakan secara lokal di saluran nafas dan sedikit sekali yang masuk ke peredaran darah, maka efek sampingnya ke organ lain menjadi lebih kecil. Hal ini penting terutama untuk obat-obat yang harus dipakai jangka panjang sebagai pencegah kekambuhan asma. Apalagi jika obatnya jenis steroid, jika diberikan secara oral/obat minum dalam jangka panjang, maka banyak efek samping yang bisa muncul seperti moon face, diabetes, osteoporosis, hipertensi, mudah infeksi, dll. Demikian pula obat asma lain, jika diberikan dalam bentuk obat minum, efek sampingnya lebih besar daripada bentuk inhalasi.

Namun demikian, kelemahan obat inhalasi adalah harganya yang masih mahal bagi sebagian kalangan masyarakat dan memerlukan teknik penggunaan tersendiri yang harus dikuasai oleh pasien. Penggunaan meter-dose inhaler (MDI) misalnya, memerlukan koordinasi yang pas antara menghirup dan menekan obatnya. Bagi anak-anak atau orang usia lanjut yang sudah gemetaran sering kali mengalami kesulitan menggunakan MDI. Untuk itu, jika Anda mendapatkan obat bentuk ini, pastikan Anda benar menggunakannya. Tanyakan apoteker untuk cara penggunaan yang benar dan berlatihlah. Kalau salah menggunakan, maka tujuan terapi mungkin tidak tercapai alias asmanya tidak terkontrol. Bentuk lain dari inhaler adalah bentuk nebulizer, yang lebih mudah penggunaannya, namun memerlukan alat tertentu yang masih mahal juga harganya.

Karena harga bentuk sediaan inhaler yang masih relatif mahal bagi kalangan tertentu, banyak masyarakat yang memilih sediaan obat yang diminum. Ada beberapa merk obat bebas terbatas yang ditujukan untuk asma. Umumnya mereka berisi kombinasi teofilin dan efedrin. Secara teori dari banyak penelitian, kombinasi teofilin dan efedrin bukanlah pilihan pertama untuk melegakan asma. Tetapi boleh saja digunakan selama Anda memang mendapatkan manfaat dari obat ini. Tetapi waspadalah terhadap efek samping yang bisa terjadi, apalagi jika penggunaannya tidak dibatasi. Sebaiknya pastikan dahulu keparahan asma Anda melalui pemeriksaan dokter, agar bisa diberikan obat yang paling tepat.





Catatan perjalanan: Petualangan seru di Pulau Jeju

28 11 2013

Dear Kawan,

Jeju island

Jeju island

Pernah mendengar nama Pulau Jeju di Korea Selatan? Pulau ini adalah salah satu pulau terindah di dunia, dengan banyak pemandangan alam yang mempesona, dan bahkan beberapa keindahan alamnya menjadi bagian dari 7 keajaiban alam di dunia (7 wonder of nature). Beberapa film Korea mengambil alam Jeju sebagai setting dalam filmnya. Alhamdulillah, aku beruntung mendapat kesempatan untuk menginjakkan kaki ke sana dan menikmati keindahannya. Kesempatan ini tentu tidak datang dengan sendirinya, tetapi perlu diperjuangkan.. Sebuah even yaitu Asian Federation of Pharmaceutical Science (AFPS) Conference 2013 menjadi “kendaraan”nya. Tanpa mengikuti acara semacam konferens atau seminar dengan presentasi oral, tentu tidak akan bisa mendapatkan bantuan biaya transportasi dan akomodasi. Kalau mau berangkat dengan biaya sendiri, apalagi dengan mengajak keluarga,…hmm… berat di ongkos, boo….!!  Apa harus korupsi dulu atau merampok bank? Hehe…

Well,.. singkat cerita, setelah abstrak untuk presentasi oral diterima oleh panitia, lalu mengurus berbagai dokumen di universitas, termasuk urusan paspor dinas dan surat ijin Setkab, akhirnya berangkatlah aku ke Jeju melalui Seoul. Kami dari Fakultas Farmasi UGM berangkat bertiga, yaitu dengan Bu Triana dan Pak Kharis. Tentu tujuan mulianya adalah untuk mendiseminasikan hasil penelitian kami di even regional/internasional untuk meningkatkan rekognisi Fakultas maupun Universitas, serta bisa menyerap ilmu dari para peneliti lain di belahan bumi yang berbeda… ciee…!! Tapi yang ngga kalah penting adalah “side-effect”-nya yaitu bisa jalan-jalan menjelajahi bumi Jeju di Korea hehe….

Perjalanan

Perjalanan dari Jogja ke Jeju memakan waktu total 26 jam terhitung sejak aku keluar rumah sampai menjejakkan kaki di Pulau Jeju. Whats??!!  Selama itu kah penerbangannya?…. Tentu tidak. Rute yang kutempuh dari Jogja ke Jeju adalah Jogja – Jakarta – Incheon (Seoul) – Jeju. Lumayan panjang, dan itu salah satu alternatif yang cukup convenient. Penerbangan dengan Garuda dari Jakarta ke Seoul dijalani dengan penerbangan malam, pukul 23.30, dan mendarat sekitar pukul 08.30 waktu Seoul. Penerbangan lanjutan ke Jeju adalah pukul 19.00, jadi kami punya waktu hampir seharian di Seoul. Sebenarnya ada penerbangan yang lebih awal ke Jeju, tetapi harus pindah ke bandara domestik Gimpo. Aku sengaja memilih penerbangan yang lebih malam saja, supaya bisa memanfaatkan waktu jeda menunggu untuk melancong ke Seoul, lagipula tidak perlu pindah bandara.

Salah kostum

Yang kurang tepat aku prediksikan adalah suhu udara di Seoul yang ternyata sekitar 1 derajat Celcius. Wah, salah kostum deh… karena aku hanya bawa sweater-sweater yang ngga terlalu tebal. Setelah aku cek lagi di peta, aku baru sadar bahwa Seoul itu berada cukup utara, yakni di garis lintang 37,28 Lintang Utara, kira-kira sejajar dengan Sendai di Jepang. Jadi maklumlah kalau suhu di awal musim dingin ini cukup dingin. Selama ini yang aku cek adalah perkiraan suhu di Jeju yang katanya berkisar 8-10 derajat. Jeju berada di garis lintang 33,30 Lintang Utara, hampir sejajar dengan Matsuyama Jepang (tempat aku belajar sewaktu S3 dulu), yang cuacanya memang lebih mild. Akhirnya untuk mengatasi suhu dingin, aku pakai sweater dobel-dobel..

Petualangan pertama : Insa-dong (Seoul)

Menanti bus no 6011 menuju Anguk

Menanti bus no 6011 menuju Anguk

Kalau biasanya jika aku melakukan perjalanan keluar kota sudah ada panitia yang mengantar ke tempat-tempat menarik, perjalananku kali ini banyak unsur petualangannya hehe… Membaca peta, baca buku panduan, dan tanya-tanya orang ketika mau menuju suatu tempat, sungguh cukup menantang. Terus terang persiapanku mempelajari Korea sangat mepet karena bahkan sampai hari terakhir sebelum berangkatpun masih harus menyelesaikan berbagai pekerjaan: review paper utk jurnal, kejar deadline laporan penelitian, bikin soal-soal ujian, sampai assesmen sertifikasi dosen. (Tau nggak, aku bahkan menyelesaikan assesmen sertifikasi dosen secara online di bandara Incheon Seoul hehe… buka rahasia nih… Untungnya koneksi internet sangat bagus. Wifi ada di mana-mana). Repotnya, tulisan di sana kebanyakan pakai tulisan Korea yang kriting-kriting itu, dan juga banyak dari mereka yang tidak fasih berbahasa Inggris. Tapi ga papa deh… the show must go on hehe..!!

Setelah kami baca-baca bentar pada buku Korea Travel Guide waktu leyeh-leyeh di bandara Incheon, kami tertarik dengan deskripsi tentang Insa-dong. Disebutkan bahwa Insa-dong adalah daerah dengan traditional culture of Korea dan tempat yang tepat bagi visitors yang pertama kali datang ke Korea untuk melihat aspek tradisional Korea. Lalu kami tanya ke Tourist information center bagaimana caranya untuk pergi ke sana. Ternyata cukup mudah, yaitu dengan bus Airport Limousine nomer 6011, dan turun di Anguk bus station. Tiket seharga 10.000 won jurusan Anguk dapat dibeli di counter tiket di airport, atau langsung dibayar di bus. Akhirnya dengan pake  sweater dobel, kami (aku berdua dengan bu Triana) siap-siap menembus dinginnya Seoul menuju Insa-dong. Aku sempat terkesan dengan sistim pembayaran tiket yang ada di bus, baik selama di Seoul maupun nanti di pulau Jeju. Penumpang bisa bayar dengan berbagai cara, berupa beli tiket, atau bayar cash, pakai kartu elektronik, atau bahkan dengan smart phone yang tinggal ditempelkan pada suatu alat semacam scanner di bus. Keren deh…!

Di Insa-dong dengan latar belakang toko-toko souvenir khas Korea

Di Insa-dong dengan latar belakang toko-toko souvenir khas Korea

Suhu dingin di Insa-dong cukup menusuk tulang, tanganku sampai beku karena tidak pakai kaos tangan, tapi hal itu tidak memudarkan semangat untuk berpetualang hehe… Setelah berhenti di Anguk station dan bertanya pada beberapa orang, sampailah kami ke Insa-dong. Di Insa-dong ada jalan tidak terlalu lebar, untuk pejalan kaki, yang dipenuhi dengan toko-toko souvenir tradisional Korea, lukisan, keramik, dll, termasuk juga beberapa restoran Korea. Wah, mata kami langsung jelalatan melihat aneka souvenir… mulai dari gantungan kunci, gunting kuku, dompet, tas, lukisan, kaos, dan aneka macam souvenir khas Korea lainnya. Aku harus berupaya keras menekan nafsu belanjaku hehe… di samping sangunya tidak banyak, konferens aja belum dimulai masa udah belanja duluan…

Di halaman istana

Di halaman istana Changyeonggung

Sepulang dari Insa-dong kami melewati sebuah bangunan tradisional, yaitu istana Changyeonggung. (Aduuh… paling susah menghafalkan nama Korea. Aku selalu terbalik-balik melafalkannya.) Sebenarnya kami tidak secara sengaja ke sana, tapi kebetulan saja sambil sekalian mencari bus station untuk kembali ke Incheon Airport. Istana ini banyak dikunjungi oleh para pelancong. Yang menarik, di depan istana ada 4 orang penjaga dengan pakaian kebesarannya, yang berganti-ganti posisi pada interval waktu tertentu. Kami tidak masuk ke sana sih, sekedar melihat dari halaman depan saja. Akhirnya kami balik ke Incheon sekitar jam 5 sore. Cukup senang bisa sampai Seoul, walau cuma sampai Insa-dong. Yang cukup repot di Seoul ini adalah mencari makanan yang halal dan tempat sholat. Untuk makan siang kami mencoba pancake seafood dan sop tofu. Dan tentu saja disajikan dengan kimchi… Lama-lama aku suka juga makan kimchi, padahal waktu di Indonesia membayangkan saja tidak suka…

Hari pertama di Jeju

Hotel Ramada Plaza di kejauhan

Hotel Ramada Plaza di kejauhan

Pesawat Asiana Airlines yang membawa kami ke Jeju terbang mulus dan mendarat di Jeju Airport pada jam 20:an waktu setempat. Sesuai dengan prediksi, suhu di Jeju tidak sedingin suhu Seoul. Kami langsung naik taksi menuju hotel Ramada Plaza tempat conference akan diselenggarakan, sekaligus tempat kami menginap. Sopir taksinya cukup ramah, menanyakan kami dari mana. Yang menarik, setelah tahu kami dari Indonesia, dia sempat menanyakan tentang GDP (gross domestic product)  Indonesia. (Waduuh, maap pak Sopir, aku ngga pernah mikirin…. yang jelas pastinya jauh deh di bawah Korea Selatan hehe…) Hotelnya sendiri cukup bagus dan berlokasi di pinggir laut. Ditawarkan kamar dengan ocean view atau mountain view. Tapi aku memilih kamar dengan mountain view saja, karena harganya lebih murah. Maklum harus berhemat-hemat karena biaya hidup di Korea cukup tinggi. Malam itu kami langsung terkapar dengan pasrah karena kelelahan setelah perjalanan dan jalan-jalan cukup panjang….

Awal musim dingin di Jeju membuat agak disorientasi waktu. Jam 6:30 pagi masih terlihat gelap seperti masih malam. Akhirnya kami memutuskan sholat shubuh pada pukul 5 saja seperti di Indonesia. Hari pertama di Jeju kami terbangun agak siang setelah tidur lagi seusai sholat shubuh. Karena acara pembukaan baru akan dimulai jam 13, pagi menjelang siang kami memutuskan untuk mengeksplorasi tempat konferens sekaligus registrasi dan melihat-lihat sekitar hotel. Di area konferens untuk registrasi, kami bertemu dengan delegasi Indonesia yang lain, yaitu dari Unpad (Univ Padjajaran) dan dari UI (Universitas Indonesia). Cukup surprised juga ketika pertama kali bertemu dengan Prof Yahdiana dari UI, beliau menyapa..” Ini bu Zullies, kan.?”….hehe.. agak ngetop juga rupanya… Area konferens ada di lantai 2 hotel dan menghadap ke arah lautan sehingga pemandangan keluar terlihat cantik. Banyak panel-panel poster yang sudah mulai dipasang di lobby, sehingga kita bisa menikmati poster sambil melihat laut luas hehe…

Setelah registrasi dan melihat-lihat tempat konferens, kami keluar hotel untuk mengeksplorasi sekitar hotel. Yang penting adalah nambah beli minuman dan makanan buat makan siang.  Sampailah kami di E-mart, sebuah department store yang merupakan jaringan retail tertua dan terbesar di Korea.  Setelah cukup berkeliling, kami terdampar di sebuah toko souvenir khas Jeju. Biasalah… mata langsung jelalatan mencari berbagai barang menarik yang bisa dijadikan oleh-oleh sambil menghitung-hitung isi kantong. Beruntung penjualnya seorang wanita muda yg ramah dan bisa berbahasa Jepang. Akhirnya berbekal bahasa Jepang sepotong-potong, aku mencoba nawar dan lumayanlah… beberapa item dapat harga lebih murah dan dapat bonus..  Untuk makan siang kami agak sulit mencari makanan yang bisa dimakan, akhirnya cukuplah makan dua potong onigiri isi tuna dan mayonaise. Gitu aja sudah alhamdulillah…

AFPS Conference 2013

Jam 13 waktu setempat acara pembukaan AFPS Conference 2013 dimulai. Acaranya cukup meriah diwarnai dengan penampilan tradisional Korea berupa tarian dengan menabuh semacam genderang. Jangan dibayangkan ada snack tersedia di lobby seperti kebiasaan acara-acara seminar di Indonesia.  Tapi lumayanlah tersedia teh dan kopi yang bisa diambil self-service. Setelah pembukaan dilanjutkan dengan acara plenary lecture yang disampaikan oleh Kazuhide Inoue, PhD dari Kyushu University Japan,  yang menyampaikan tentang “ P2X4 blockers: new drugs for neuropathic pain”.  Terus terang, aku hanya bisa memahami sepotong-sepotong saja..hehe….

AFPS Conference kali ini adalah yang ketigakalinya diselenggarakan oleh Federasi Ilmuwan Farmasi Asia alias AFPS ini. AFPS conference sebelumnya diselenggarakan di Jepang dan Kuala Lumpur. Pesertanya adalah para ilmuwan/penelitia bidang kefarmasian se-Asia. Untuk konferens kali ini, terdapat 313 peserta presentasi poster dan 24 peserta presentasi oral. Adapun sesi saintifiknya terbagi dalam beberapa bidang, yaitu Physical Pharmacy & Formulation Design, Biotechnology & Drug Delivery, Drug Design & Development,  Regulatory Science & Policy, Biopharmaceutics, Pharmacokinetcs & Metabolism, Pharmaceutical Manufacturing Technology, dan Pharma convergence.  Menurut informasi, AFPS conference mendatang akan diselenggarakan di Thailand pada tahun 2016, dan di Indonesia pada tahun 2019.

Performance tradisional Korea saat opening ceremony

Performance tradisional Korea saat opening ceremony

Sesame seed coated tuna tataki eith tomato salsa and mango dressing...

Sesame seed coated tuna tataki with tomato salsa and mango dressing…

Malamnya kami mengikuti banquet dinner yang cukup meriah..  Sayangnya aku tak pernah nonton film atau memperhatikan artis/penyanyi Korea… Jadi ketika ada penampilan penyanyi Korea dalam dinner tersebut, aku ngga kenal sama sekali. Makanan pada banquet dinner semuanya unik-unik dengan nama yang tak biasa. Sebagai contoh saja, makanan pembuka adalah “Sesame Seed Coated Tuna tataki with Tomato Salsa and Mango Dressing”… Opo maneh kuwi? Hehe… Menu lainnya adalah : Curried cauliflower and potato cream soup with croutons, Garden green salad with kiwi dressing, dan Grilled beef tenderloin steak with pepper sauce. Pulang dinner rasanya kurang kenyang hehe… karena makanannya terlalu ringan-ringan… Indah di mata, tapi kurang kenyang di perut…

Petualangan kedua : Seongsan Ilchulbong peak

Seongsan Ilchulbong dilihat dari atas

Seongsan Ilchulbong dilihat dari atas

Pada malam hari pertama itu, sepulang dinner menjelang tidur, kami mencoba mempelajari Travel guide Jeju dan melihat peta, untuk mencari tempat mana yang akan kami kunjungi besok. Serius banget deh mempelajarinya, melebihi persiapan presentasinya hehe… Karena jadwal presentasi kami kebetulan sore hari, paginya akan kami gunakan untuk menjelajahi Jeju. (Salahnya Panitia kenapa membuat acara konferens di tempat yang terlalu indah, jadi pesertanya pada kabur semua hehe… maap). Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Seongsan Ilchulbong, sebuah bentukan geologis seperti kerucut dengan puncak yang cekung, yang terbentuk dari letusan hidrovolkanik di atas dasar laut dangkal, sekitar 5 ribu tahun yang lalu. Terletak di pesisir timur Pulau Jeju, tingginya sekitar 182 meter. Seongsan Ilchulbong, yang dikenal juga dengan nama “sunrise peak” ini, ditetapkan UNESCO sebagai salah satu “7 wonder of nature” di dunia.

Pagi itu kami berangkat dari hotel jam 7  menuju Jeju inter-city bus station dengan taksi dengan ongkos 4300 won. Selanjutnya kami tanya ke penjual tiket untuk bus jurusan Seongsan Ilchulbong. Syukurlah, kami segera mendapat bus jurusan nomer 700 untuk menuju Seongsan dengan harga tiket 3000 won. Semula sopir taksi yang membawa kami menawarkan untuk mengantar ke Ilchulbong dengan biaya 60.000 won pulang pergi, katanya lebih cepat daripada bus. Tapi kami kepengen berpetualang naik bus saja, karena niatnya memang ingin melihat sekeliling.  Bus membawa kami menuju Seongsan dengan menyusuri pesisir utara pulau Jeju. Pemandangan indah segera terhampar di sepanjang perjalanan, sesekali kami melihat hamparan laut biru di kejauhan. Sebenarnya cukup banyak tempat-tempat yang bisa dikunjungi sepanjang perjalanan itu, tapi dengan waktu yang terbatas, kami tidak bisa memilih terlalu banyak. Setelah menempuh perjalanan sekitar 1,5 jam, sampailah kami di Seongsan bus station.

Setelah tengak-tengok sekeliling, akhirnya kami menemukan petunjuk jalan menuju Ilchulbong. Harga tiket masuknya 2000 won. Wow… kami langsung terpesona dengan keindahan alamnya… Sebuah jalan selebar 2 meter berundak-undak yang panjang terbentang berkelak-kelok menuju puncak kubah Ilchulbong yang bertinggi 182 meter.  Banyak wisatawan yang melancong kesana, dan tempat ini memang salah satu tempat kunjungan favorit di Jeju. Pelan-pelan kami menyusuri jalan berundak sambil sesekali berhenti kecapekan. Wah,.. terasa banget buat aku yang jarang olah raga, baru beberapa tangga sudah terengah-engah. Namun dengan semangat yang tinggi, sampai juga kami mencapai puncaknya. Apalagi pemandangan dari atas sangatlah indah… hamparan rumah, laut, bukit karang, membentuk lukisan alam yang mempesona.

Pemandangan indah terhampar dalam perjalanan ke puncak Ilchulbong

Pemandangan indah terhampar dalam perjalanan ke puncak Ilchulbong

Puncaknya sendiri hanya berupa hamparan rumput hijau, dan kami berada di salah satu sisi bibir puncaknya. Di puncak terdapat dataran yang digunakan untuk para pengunjung melihat ke arah cekungan puncak Ilchulbong maupun ke arah lain.

Cekungan puncak Ilchulbong di sebelah kiri, dan tangga untuk turun di sebelah kanan

Di pucncak Ilchulbong. Cekungan puncak Ilchulbong terlihat di sebelah kiri, dan tangga untuk turun di sebelah kanan

Perjalanan turun terasa lebih ringan, dan kami banyak mengabadikan pemandangan yang indah dari atas. Pemandangan yang komplit, karena mengandung unsur laut, bukit, dataran, langit… Subhanallah !

Pengumuman tentang performance woman diver di jeju

Pengumuman tentang performance woman diver di jeju

Yang unik lagi dari tempat ini adalah adanya penyelam-penyelam wanita di Jeju yang disebut Haenyeo. Dari tempat tadi, kami turun menuju ke laut, di mana di sana dijumpai para wanita penyelam sedang menjejerkan hasil tangkapannya berupa aneka ikan, kerang, gurita, siput laut, dll. Sayangnya kami datang bukan pada saat yang pas ketika mereka ada performance untuk diving. Untuk performance itu ada waktu-waktunya. Keunikan ini berasal dari budaya Jeju yang matrialkal, di mana para wanitalah yang bekerja mencari nafkah. Keberadaan woman diver ini memang saat ini makin berkurang karena banyak wanita Jeju yang bekerja di bidang lain, namun sebagian masih mempertahankan budaya ini, sekaligus sebagai atraksi untuk pariwisata.

Presentasi oral di AFPS Conference

Mejeng dulu sebelum presentasi

Mejeng dulu sebelum presentasi

Sekitar jam 12.30 kami segera mencari bus untuk kembali ke Jeju city karena harus segera mempersiapkan presentasi kami masing-masing. Sesampai di hotel, ganti kostum resmi, kami menuju tempat konferens berlangsung. Percaya tidak, kami bertemu dengan delegasi dari UI, dan mereka ternyata juga habis jalan-jalan ke Ilchulbong !! Jadi ngga salah kan, kalau kami jalan-jalan dulu sebelum presentasi hehe….

Presentasiku dilaksanakan di ruang Biyang Hall bersama 5 pembicara lain, yang berasal dari Korea, Jepang, China, Thailand, dan Indonesia. Presentasi berjalan lancar-lancar saja, dan aku mendapat satu pertanyaan dari audiens. Tak lama setelah sesi presentasi selesai, karena kebetulan merupakan sesi terakhir, diadakan acara penutupan. Alhamdulillah, tugas utama telah ditunaikan. Malamnya kami berpikir keras, mempelajari travel guide, membaca peta, minta tolong mbah Google, untuk merancang petualangan kami hari berikutnya hehe….

Petualangan ketiga : Jungmun dan Seogwipo area

Hari terakhir di Jeju merupakan hari yang seru. Jadwal penerbangan pesawat kami ke Incheon adalah pukul 21.05, jadi kami punya waktu hampir seharian menjelajahi jeju. Dengan berbekal peta dan buku petunjuk Jeju, kami memulai perjalanan dari Jeju inter-city bus station. Destinasi pertama yang ada dalam rencana kami adalah Taman Nasional Mt. Hallasan. Gunung Hallasan merupakan gunung tertinggi di pulau Jeju dan terletak di tengah pulau, yang merupakan UNESCO World Heritage. Gunung ini merupakan tempat wisata pendakian buat mereka yang hoby mendaki gunung, dengan jalur pendakian sekitar 10 km untuk mencapai puncak. Ada beberapa jalur pendakian yang disediakan, antara lain jalur Seongpanak, Eorimok, Yeungsil, Gwaneumsa, Eoseungsaengak, dan Donnaeko. (aduuh, susah banget ngapalin nama-nama Korea….). Akhirnya kami memilih untuk menuju Seongpanak. Dari Jeju-city, perjalanan dengan bus ke Seongpanak memerlukan waktu sekitar 30-45 menit, dengan harga tiket 2500 won.

salju di kaki gunung Hallasan

salju di kaki gunung Hallasan

Bus nomer 740 melaju membawa kami menuju Seongpanak. Wah, ternyata aku salah kostum lagi…. Ketika kami sampai Seongpanak, area di sana sudah penuh wisatawan, baik dengan bus atau kendaraan pribadi. Mereka dengan kostum jaket tebal, kaos tangan tebal, topi, dan keperluan yang komplet utk mendaki. Suhu di sana sangat dingin bahkan di beberapa tempat terdapat hamparan es/salju berwarna putih. Dengan kostum sweater walaupun sudah dobel, aku tak bisa bertahan lama di sana… tanganpun terasa beku. Dan kami memang tidak ada rencana mendaki gunung yang bisa memakan waktu berjam-jam. Akhirnya kami hanya sekedar foto-foto di sana untuk mendokumentasikan bahwa kami pernah menginjakkan kaki di sana hehehe….

Certificate di kaki gunung Hallasan

Certificate di kaki gunung Hallasan

Lumayan, dapat “certificate” bahwa kami sudah sampai di Mt Hallasan..hehe…  Certificate-nya nempel di sebuah tugu. Tidak sampai 30 menit di sana, kami memutuskan untuk melanjutkan petualangan ke tempat lain, yaitu Seogwipo. Seogwipo adalah suatu kota kecil di bagian selatan pulau Jeju, yang berarti letaknya berseberangan dengan Jeju-city yang ada di bagian utara pulau. Menurut buku travel guide, di daerah Seogwipo terdapat beberapa tempat wisata yang bisa dikunjungi. Jadilah kami menumpang bus lanjutan (no 740) menuju Seogwipo. Kami ditarik bayaran 2000 won untuk ke Seogwipo. Agak sedikit nekad memang, karena kami tidak tau nanti akan seperti apa, berhenti di mana, dan mau kemana. Pokoknya ngikutin aja dulu kemana bus berjalan hehe…

Perjalanan ke daerah Seogwipo cukup indah… di beberapa tempat terlihat pohon-pohon dengan daun kuning dan kemerahan, warna khas  musim gugur. Selain itu, kami juga sering menjumpai hamparan kebun jeruk dengan jeruknya yang oranye bergelantungan. Nampaknya jeruk merupakan komoditi pertanian utama di pulau Jeju. Di setiap bus station kami mencoba mencari tulisan Seogwipo di mana rencananya kami akan berhenti. Sampai akhirnya bus masuk ke daerah perkotaan dan berhenti agak lama di sebuah bus station. Tapi karena nama yang tertulis bukan Seogwipo, kami tetap duduk manis saja di bus sampai bus berjalan lagi.  Beberapa bus station terlewati, tetapi tetap saja tidak ada nama Seogwipo tujuan kami. Bingung deh harus turun di mana… Sampai kemudian bus kami terus berjalan dan terlihat meninggalkan daerah perkotaan. Kami mulai masuk lagi ke daerah yang tidak banyak rumah-rumah. Kami bahkan melewati Stadium World Cup di salah satu bagian perjalanan kami. Akhirnya aku coba mengecek lokasi kami lewat GPS (global positioning system) yang ada di hand phone-ku, dan ternyata posisi kami sudah mulai meninggakan Seogwipo-city.  Wah… berarti udah kebablasan nih… kalau gitu kami harus memutuskan destinasi berikutnya di mana kami akan turun. Segera kami buka travel guide lagi, dan kami pernah membaca bahwa di barat Seogwipo ada destinasi wisata juga yaitu Jungmun Daepo Columnar Jointed lava. Akhirnya kami memutuskan untuk berhenti di Jungmun.

Di bus station Jungmun, kami masih bingung mau kemana. Untunglah ada sepasang bapak-ibu yang sudah agak berumur menyapa kami. “Dari Malaysia ya?” katanya.” Oh, bukan, kami dari Indonesia”. Sekalian deh aku tunjukkan gambar yang ada di buku travel guide kami, dan menanyakan jika kami kepengin kesini, bagaimana caranya. Alhamdulillah, ternyata tempat kami berhenti tidak terlalu jauh dari destinasi kami. Dia menunjukkan arah kemana kami perlu jalan, yaitu lurus kesana dan belok kiri, nanti akan sampai. Tapi kalau harus jalan sekitar 1 km…. wah, mana tahan boo… Lagian kami cuma sarapan mi kuah tadi pagi hehe… Akhirnya dengan taksi kami menuju ke Jungmun Daepo yang hanya berongkos 2800 won.

Pilar-pilar karang di Jungmun Daepo

Pilar-pilar batu karang di Jungmun Daepo yang menakjubkan

Jungmun Daepo merupakan tempat yang sangat indah di pinggir laut dengan bentukan geologis yang tidak biasa, berupa pilar-pilar batu berbentuk kubus panjang sebagai akibat pembekuan lava dari gunung yang langsung masuk ke laut ribuan tahun yang lalu. Yang menakjubkan, bekuan lava itu membentuk pilar-pilar yang berjajar rapi seperti dibuat oleh manusia membentang sepanjang 2 km berlekuk-lekuk. Subhanallah… begitulah kebesaran Sang Pencipta. Kami tidak bisa turun ke pilar-pilar batu itu tetapi ada tempat semacam gardu pandang yang didisain untuk memandang dari jauh. Sungguh tidak rugi kami bisa menyaksikan keindahan alam yang juga masuk dalam “7 wonder of nature” ini.

Setelah cukup puas di sana, kami mencari destinasi selanjutnya. Setelah membaca lagi travel guide, kami memutuskan untuk melihat Jeongbang waterfall. Dalam buku tertulis bahwa air terjun ini merupakan satu-satunya tempat di Korea Selatan di mana kita bisa melihat air terjun yang langsung jatuh ke laut. Karena tidak ada bus kesana, kami menggunakan taksi setelah berjalan sebentar ke jalan besar. Jeongbang waterfall cukup banyak dikunjungi wisatawan. Untuk menuju air terjun, kami harus menyusuri jalan berundak-undak yang menurun ke batu-batuan di dekat air terjun. Sebetulnya air terjun-nya sendiri sih menurut aku biasa saja, seperti air terjun yang ada di Indonesia juga. Tapi dengan tinggi sekitar 23 meter dan langsung jatuh ke laut itulah yang menjadi unik. Sehingga juga ada kombinasi pemandangan yang indah… air terjun, langit biru, laut, bebatuan…. sesuatu banget !

Kombinasi cantik antara air terjun, bebatuan, laut, langit dan aku sendiri di Jeongbang waterfall hehe...

Kombinasi cantik antara air terjun, bebatuan, laut, langit dan aku sendiri di Jeongbang waterfall hehe…

Setelah puas menikmati air terjun, kami memikirkan destinasi berikutnya. Ada satu tempat yang menarik nampaknya yaitu Jeju Folk Village museum. Tapi setelah kami bertanya ke Tourist Information Center, ternyata perjalanan ke sana cukup jauh dan nampaknya cukup mahal. Kami turis yang berkantong cekak ini perlu berpikir dua kali. Dan karena sudah siang serta lapar juga, akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke kota yang tadi kami lewati, untuk sekedar mencari sesuatu yang bisa dimakan. Petugas information center menyarankan kami untuk naik taksi ke Jungangno rotary. Akhirnya kami naik taksi menuju daerah pusat kota, yang ternyata di dekat Jungangno rotary bus station yang tadi sudah kami lewati dan bus berhenti agak lama, tapi tidak turun karena ragu-ragu. Itulah yang namanya “blessing in disguise”…karena tidak tau harus turun di mana tadi, kami justru bisa sampai Jungmun Daepo hehe…. Kalau kami tadi berhenti di sini, mungkin ceritanya akan lain lagi….

Dua potong crabs roll dan beberapa suap chese cake plus jus tomat di cafe Paris Baguette lumayan memenuhi perut siang itu, sambil kami memikirkan tujuan berikutnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 13-an, jadi kami harus memilih yang dekat-dekat saja, karena setelah itu kami harus kembali ke Jeju-city dan bersiap-siap ke Incheon malamnya. Akhirnya pilihan jatuh ke Seokbujak Theme Park, yang nampaknya cukup menarik dan tempatnya tidak terlalu jauh.

Denah Museum Seokbujak

Denah Museum Seokbujak

Seokbujak Theme Park merupakan museum dan taman yang dipenuhi aneka tanaman, terutama adalah tanaman jeruk (tangerine). Harga tiket masuknya agak mahal, yatu 6000 won. Museum ini merepresentasikan 3 simbol di Jeju, yaitu : angin, batu, dan wanita. Batu-batuan dengan berbagai bentuk menghiasi taman dengan berbagai tanaman. Sayangnya kami datang pada akhir musim gugur, jadi tidak banyak bunga yang bermekaran seperti yang kami lihat pada foto di depan halaman museum.  Kami menyusuri taman yang penuh dengan pohon jeruk dan pohon omija (five flavour berry) yang berbuah lebat, dan taman dengan air mancur. Terdapat pula patung-patung dengan karakter khas Jeju yang menjadi symbol Jeju, yang disebut Dolhareubang, yang artinya “stone grandfather”…

Bersama Dolhareubangs

Bersama Dolhareubangs

Sayangnya lagi tidak ada guide yang bisa berbahasa Inggris, jadi kami kurang mendapat banyak informasi dari Museum ini kecuali dari apa yang dilihat. Yah, tapi cukup puaslah…  Kami tidak terlalu lama di sini karena harus segera kembali ke Jeju-city. Bagian sini menjadi agak heroik karena kami harus berjalan kaki cukup jauh menuju bus station terdekat untuk bisa mendapatkan bus ke Jeju-city. Kalau ada pengukuran lingkar betis pre and post jalan-jalan, kayaknya ada perbedaan signifikan deh….hehee….

Alhamdulillah, akhirnya kami dapat bus menuju Jeju-city, dan kami sengaja naik bus dengan nomor yang sama dengan saat berangkat (bukan sebaliknya) sehingga kami kembali ke Jeju-city dengan rute yang berbeda dengan berangkatnya karena bus berjalan melingkar. Bisa dibilang kami berpetualang melingkari Mt Hallasan, dari sisi utara, timur, selatan, ke barat, dan balik lagi ke utara… Sangat mengesankan…!!

Kembali ke kota tercinta

Kami sampai di Jeju-city pada pukul 5 sore waktu setempat. Segera kemudian menuju Ramada Hotel untuk mengambil barang yang kami titipkan di sana, dan berangkat ke Airport menggunakan taksi. Setelah lumayan lama menunggu di Jeju Airport, akhirnya pesawat Asiana Airlines membawa kami malam itu ke Incheon. Di Incheon kami menginap semalam di hotel Gogo House dekat airport yang memang biasa menerima pelancong yang menginap karena menunggu penerbangan, sehingga merekapun menyediakan service mengantar ke Airport.

Demikianlah kawan, setelah transit beberapa jam di Jakarta, akhirnya kami bisa kembali ke Yogya bertemu lagi dengan keluarga tercinta dengan segudang kenangan dan cerita, seperti yang kudokumentasikan dalam tulisan ini.





Waspadai obat penggemuk badan: mau gemuk malah remuk… !

27 10 2013

Dear kawan,

loving-our-bodiesSemua orang tentu ingin punya bentuk tubuh yang ideal. Di samping lebih sehat, tentu akan lebih percaya diri. Yang merasa terlalu gemuk kepengin kurus, dan yang merasa terlalu kurus ingin gemuk… Aku sendiri pengen turun berat badan barang 5 kg lagi deh…tapi susahnyaaa setengah mati…. Akhirnya pasrah lah, yang penting sehat..hehe… Kadang orang mau melakukan apa saja demi mencapai impiannya mendapatkan tubuh ideal, termasuk menggunakan obat-obatan. Eit, tapi tunggu dulu… jangan gegabah mengkonsumsi sembarang obat. Alih-alih mencapai bentuk tubuh ideal, yang terjadi malah badan jadi amburadul karena efek samping obat.

Beberapa waktu lalu aku mendapatkan pertanyaan mengenai obat gemuk yang baik. Apa saja sebenarnya obat yang bisa untuk membuat gemuk? Seberapa aman obat pembuat gemuk? Tulisan ini akan mengulas tentang obat-obat penggemuk badan.

  1. Pil penggemuk badan

Di internet banyak ditawarkan pil penggemuk badan dari China yang katanya berisi aneka herbal alami. Sebuah pil penggemuk badan misalnya, diiklankan berisi herbal seperti : Ginseng, Semen Cusculae, Fructus Crataegus, Fructus Hordel Germinatus, Fructus Quisqualis,  Radix Astragali, dan Rhizoma Atractylodis Mak. Jika ditelusuri, herbal-herbal ini umumnya berefek pada saluran pencernaan, misalnya memperbaiki fungsi pencernaan sehingga makanan lebih banyak yang terserap, meningkatkan nafsu makan, melancarkan peredaran darah, mengatur metabolisme lemak, dll. Jika memang hanya berisi herbal, sebenarnya baik-baik dan aman-aman saja. Pada umumnya efek obat herbal tidak terjadi secara cepat namun bertahap dan  perlahan-lahan. Tapi jika kemudian obat tersebut mengklaim efeknya sangat manjur, seperti yang disebutkan dalam salah satu iklan obat gemuk, bahwa “Dalam waktu 1 minggu berat badan Anda akan bertambah 5-7 Kg”, maka kita perlu waspada. Jangan-jangan pada obat herbal tersebut ada campuran obat sintetik yang efeknya membuat gemuk dengan cepat, tapi efek sampingnya berbahaya. Obat yang sering  dicampurkan dalam obat penggemuk badan adalah golongan kortikosteroid.

  1. Obat kortikosteroid

Obat golongan kortikosteroid termasuk golongan obat yang penting dalam dunia pengobatan, karena memiliki aksi farmakologi yang luas, sehingga sering digunakan dalam berbagai penyakit, sampai-sampai ada yang menyebutnya “obat dewa”, obat segala penyakit. Tapi di sisi lain, karena tempat aksinya luas, efek sampingnya pun luas dan tidak kurang berbahayanya. Penasaran kan tentang kortikosteroid ? Apakah itu?

Obat ini tergolong sebagai obat anti radang yang poten, dan sering digunakan untuk gangguan radang seperti alergi, asma, eksim, dan juga penyakit-penyakit autoimun seperti Lupus, rheumatoid arthritis, dll, karena efeknya yang bisa menekan kerja sistem imun yang berlebihan. Contoh obatnya adalah: deksametason, betametason, hidrokortison, triamcinolon, dll.

Obat ini memberikan efek “kelihatan” gemuk karena memiliki efek menahan air dalam tubuh, sehingga berat badan bertambah. Kemudian ia juga mempengaruhi metabolisme lemak tubuh dan distribusinya, sehingga menyebabkan pertambahan lemak di bagian-bagian tertentu tubuh, yaitu di wajah (jadi membulat), bahu, dan perut. Wajah bulat akibat penggunaan steroid sering disebut “moon face”. Pada orang yang sering menggunakan steroid, wajahnya akan tampak membulat. Orang yang kepengin gemuk mungkin akan merasa senang dengan efek ini. Tetapi gemuk yang dihasilkan bukanlah gemuk yan sehat. Selain itu, masih banyak pula efek samping yang bisa timbul dari pemakaian kortikosteroid. Apa saja?

a. Penekanan sistem pertahanan tubuh

Karena obat ini bisa menekan sistem imunitas/pertahanan tubuh, maka jika terluka akan lebih lama sembuhnya. Selain itu juga lebih mudah tertular infeksi. Termasuk juga banyak tumbuh jerawat dan gangguan kulit akibat infeksi jamur.

b. Meningkatkan risiko diabetes

Golongan obat ini meningkatkan proses glukoneogenesis, yaitu pembentukan glukosa dari protein,  sehingga beresiko meningkatkan kadar gula darah. Karena itu, orang dengan riwayat diabetes dapat mengalami kenaikan kadar gula darah yang nyata jika mengkonsumsi obat ini.

c. Meningkatkan risiko hipertensi

Karena obat ini bersifat menahan cairan tubuh, maka akan meningkatkan volume darah, dan bisa berpotensi menaikkan tekanan darah

d. Meningkatkan risiko osteoporosis/keropos tulang

Obat ini memiliki efek katabolik, yaitu mengurai protein sehingga mengurangi pembentukan protein, termasuk protein yang diperlukan untuk pembentukan tulang. Akibatnya terjadi osteoporosis atau keropos tulang, karena matriks protein tulang menyusut. Efek ini juga menyebabkan gangguan pertumbuhan jika digunakan pada anak-anak dalam jangka waktu lama.

e. Cushing syndrome

Gejala-gejala Cushing Syndrom akibat akumulasi steroid dalam tubuh

Gejala-gejala Cushing Syndrom akibat akumulasi steroid dalam tubuh

Obat golongan steroid yang digunakan dalam waktu lama akan menyebabkan gangguan yang disebut Cushing syndrome, yaitu efek-efek yang terjadi akibat akumulasi/penumpukan kortikosteroid di dalam tubuh, dengan tanda-tanda: terjadi garis-garis kemerahan di kulit terutama perut dan paha (disebut striae), jerawat, kumpulan lemak seperti punuk sapi/kerbau di bahu (buffalo hump), perdarahan bawah kulit/lebam, moon face, hipertensi, perdarahan lambung, keropos tulang, dll.

Jadi nampaknya potensi untuk menjadi gemuk dengan obat golongan steroid tidaklah sepadan dengan bahaya efek samping yang ditimbulkannya. Perlu berhati-hati jika Anda menggunakan obat yang katanya herbal alami, tetapi kemudian timbul efek-efek seperti di atas, maka kemungkinan besar pada herbal tersebut ditambah dengan obat golongan steroid. Jika Anda menyadari adanya steroid dalam jamu/herbal penggemuk badan yang anda gunakan, hentikanlah perlahan-lahan. Penggunaan obat golongan kortikosteroid tidak boleh dihentikan secara mendadak karena akan mengganggu adaptasi tubuh. Penghentian harus perlahan-lahan dengan dosis yang makin lama makin berkurang. Mengapa demikian ? Karena selama penggunaan kortikosteroid dari luar, produksi hormon ini secara alami dari tubuh akan terhenti, maka jika penggunaan dari luar tiba-tiba dihentikan, tubuh akan kekurangan hormon ini secara normal dan akan terjadi reaksi-reaksi yang tidak diinginkan, seperti: kadar gula darah turun, tekanan darah turun drastis dari posisi duduk ke berdiri (hipotensi ortostatik), dehidrasi (kekurangan cairan), lemah, lesu, dll.

3. Antihistamin (Siproheptadin dan ketotifen)

Obat golongan antihistamin sebenarnya ditujukan untuk mengatasi gangguan alergi, baik alergi kulit, saluran nafas, atau bagian tubuh lain. Namun efek samping obat ini adalah meningkatkan nafsu makan, sehingga juga sering “disalahgunakan” untuk meningkatkan nafsu makan pada anak-anak yang sulit makan, termasuk juga dicampurkan pada jamu penggemuk badan. Penggunaan siproheptadin atau ketotifen sebagai peningkat nafsu makan pada anak-anak dapat digolongkan sebagai penggunaan obat “off-label”, di mana obat digunakan dengan tujuan/indikasi di luar indikasi yang resmi dan disetujui oleh badan otoritas di bidang pengawasan obat, seperti FDA di Amerika atau Badan POM di Indonesia.

Bagaimana untuk menggemukkan badan?

Lalu, bagaimana cara yang tepat dan sehat untuk menggemukkan badan?  Yang pertama tentunya mengatur pola makan. Makanlah dengan porsi yang lebih besar dengan komponen lemak dan protein yang lebih tinggi. Makanlah yang disukai, sehingga bisa habis banyak. Gemuk yang bagus adalah dengan massa otot yang banyak, bukan sekedar lemak, apalagi air. Karena itu, perlu juga diimbangi dengan olah raga yang dapat meningkatkan massa otot.

Jika akan menggunakan obat, lebih aman menggunakan obat herbal, tetapi waspadai adanya kemungkinan obat herbal yang dicampuri bahan kimia obat yang berbahaya. Informasi seperti itu seringkali tidak tercantum dalam iklan dan promosi produknya. Apalagi jika menggunakan produk China yang tidak melalui pendaftaran di Badan POM dan dijual bebas melalui media online, maka perlu ada kehati-hatian. Sebuah temuan oleh Badan otoritas pengawasan obat dan makanan di Arab Saudi menunjukkan bahwa pil Kianpi yang berasal dari China dan beredar luas di banyak negara termasuk Indonesia, mengandung betametason dan siproheptadin, (cek di sini)  yang bisa menimbulkan efek samping berbahaya jika digunakan dalam jangka waktu lama. Efek obat herbal biasanya tidak sangat drastis, tetapi lebih bertahan. Karena itu, jangan berharap efek yang terlalu cepat, namun lebih baik diikuti dengan asupan makanan yang bergizi dan sehat.





Penyalahgunaan Trihex : Tindakan kreatif atau bodoh?

14 10 2013

Dear kawan,

Jidatku agak berkerut sedikit ketika asisten rumahtanggaku bertanya,” Ibu, Trihex itu obat apa sih?” Rupanya di TV sedang ditayangkan berita tentang penyalah-gunaan Trihex yang mulai marak belakangan. Aku jadi agak heran, setahuku Trihex atau nama lengkapnya Triheksifenidil (trihexyphenidyl) atau sering disingkat lagi dengan nama THP, adalah obat untuk mengatasi gejala Parkinson, dan juga digunakan untuk mengurangi efek samping obat antipsikotik pada pasien gangguan jiwa/skizoprenia. Wah, kok kreatif banget to…. sampai-sampai obat untuk or-gil juga disalahgunakan…

Untuk lebih paham obat ini, ayo kita kenali tentang obat ini dan penggunaannya yang benar.. Kita bahas dulu penyakit2 di mana obat ini dipakai…

Penyakit Parkinson’s

Penyakit Parkinson’s adalah penyakit degenerasi syaraf atau penurunan fungsi syaraf yang bersifat progresif (berkembang terus) yang umumnya terjadi pada usia lanjut, di atas 50 tahun. Gangguannya terjadi pada sistem saraf dopaminergik, yang berperan dalam fungsi gerakan, jadi penyakit ini ditandai dengan gangguan gerakan, misalnya tremor/gemetar, gerakan melambat dan kaku, dan seringkali terjadi ketidakstabilan postur. Pasien mengalami kekurangan neurotransmiter dopamin dalam sistem syarafnya.  Gejala Parkinson akan muncul ketika sudah terjadi kematian  50-80% saraf dopaminergik.

Ketidakseimbangan aksi dopamin dan asetilkolin menyebabkan gejala penyakit Parkinson's

Ketidakseimbangan aksi dopamin dan asetilkolin menyebabkan gejala penyakit Parkinson’s

Kekurangan dopamin ini menyebabkan ketidakseimbangan aksi neurotransmiter lain yaitu asetilkolin, yang menjadi berlebihan. Kelebihan aksi asetilkolin ini menyebabkan efek-efek yang disebut aksi kolinergik, seperti keluarnya air liur berlebihan (salivasi), otot-otot menjadi kaku sehingga wajah penderita Parkinson itu seperti memakai topeng.

Penyakit ini tidak bisa disembuhkan, tetapi bisa diperlambat perkembangannya dengan obat-obatan. Obat-obat yang dipakai adalah obat yang bisa meningkatkan ketersediaan dopamin, seperti levodopa, dan obat yang bisa mengaktifkan reseptor dopamin seperti apomorfin dan bromokriptin. Di sisi lain, untuk mencegah aksi kolinergiknya, digunakanlah obat  seperti triheksifenidil, seperti yang disebut di judul posting ini. Triheksifenidil adalah tergolong obat antikolinergik atau antimuskarinik, yang bekerja menghambat reseptor asetilkolin muskarinik.

Skizoprenia

Penyakit ini merupakan gangguan jiwa kronis yang ditandai dengan adanya gejala halusinasi, delusi (waham), disorganisasi pikiran, dan juga kadang disertai paranoid, menarik diri dari lingkungan, dll. Secara patofisiologi, penyakit ini disebabkan karena ketidak-seimbangan neurotransmiter dopamin di otak, di mana terjadi kelebihan aksi dopamin pada bagian mesolimbik, dan kekurangan dopamin pada bagian mesokortis. Karena itu, salah satu pengobatan skizoprenia adalah menggunakan obat-obat yang bisa menekan reseptor dopamin, yang disebut golongan obat antipsikotik. Contohnya adalah haloperidol, klorpromazin, dll. Nah, karena kerja obat-obat ini menekan aksi dopamin, maka efek samping obat ini mirip seperti kondisi kekurangan dopamin dan kelebihan aksi asetilkolin  pada pasien Parkinson, yang diistilahkan sebagai pseudoparkinson atau Parkinson semu. Gejala-gejalanya antara lain kekakuan otot yang nyeri, tremor, dan gerakan-gerakan tubuh yg tidak terkendali, yang disebut juga  efek samping ekstrapiramidal. Gejala-gejala ini sering membuat pasien tidak patuh pada pengobatan, padahal mereka harus menggunakan obat-obat tersebut dalam jangka panjang. Karena itu, untuk mecegah dan mengatasi efek samping tersebut, pasien sering diberi obat seperti triheksifenidil/THP ini. Jadi, obat THP digunakan bersama-sama dengan obat antipiskotik tipikal untuk mencegah efek samping ekstra piramidal.

Triheksifenidil

Salah satu merk obat yg mengandung triheksifenidil

Salah satu merk obat yg mengandung triheksifenidil

Seperti apa sih triheksifenidil? Seperti yang disebutkan di atas, obat ini tergolong obat antikolinergik atau antimuskarinik. Obat ini bekerja memblok aksi asetilkolin pada reseptornya, sehingga menghasilkan efek mengurangi kekakuan otot, pengeluaran air liur yang berlebihan, tremor, dan meningkatkan kemampuan mengatur gerakan yang biasanya terjadi pada pasien Parkinson atau pada pasien skizoprenia yang menggunakan obat antipsikotik. Ia juga turut mengatur pelepasan dopamin.

Obat ini tersedia dalam bentuk tablet  dosis 2 dan 5 mg, dan sediaan sirup/elixir yang mengandung 2 mg/5 ml. Untuk mengatasi gejala-gejala di atas, THP digunakan mulai pada dosis 1-2 mg per oral 2-3 kali sehari, atau sesuai kebutuhan, dengan dosis maksimum 15 mg sehari.

Mengapa obat ini bisa disalahgunakan?

Seperti yg telah disampaikan, obat ini bekerja menghambat reseptor asetilkolin. Diduga, sistem kolinergik terlibat dalam pengaturan mood seseorang, yang menyebabkan peningkatan perasaan.  Ada beberapa laporan yang mengatakan bahwa obat golongan antikolinergik yang beraksi sentral (di otak) memiliki efek meningkatkan mood (euforia), walaupun efek ini tidak selalu terjadi dan seringkali tidak terkontrol. Sebenarnya efek halusinogenik yang mungkin ditimbulkan oleh obat ini termasuk jarang, yaitu 2-4% pasien saja yg akan mengalami, dan pada lansia kejadiannya bisa mencapai 19%. Sedangkan efek euforia baru akan tercapai pada dosis tinggi.

Tindakan bodoh…

Dengan fenomena penyalahgunaan yang makin kreatif ini, memang perlu dilakukan pengawasan yang lebih ketat terhadap peredaran obat-obatan. Sebenernya penyalah-guna obat adalah orang yang BODOH, karena tidak memperhitungkan efek-efek lain yang bakal ditimbulkan dengan penggunaan obat yang diharapkan memberikan efek euforia. Padahal efek-efek lain dari THP cukup banyak, antara lain mulut kering, konstipasi, gangguan penglihatan, kebingungan, gangguan urinasi, mual muntah, palpitasi, amnesia, insomnia, dll., yang itu bisa melebihi efek euforia yang diharapkan.  Ketika efek euforia tercapai, efek-efek lain yang berbahaya mungkin sudah duluan menghinggapi, dan bahkan bisa berakibat fatal ketika sudah mencapai dosis toksiknya. Dan orang sehat yang mau memakai obat untuk “orang gila” pastinya gila juga…..

Demikian, sekilas info, semoga bermanfaat…





Catatan dari Farmasi Mencari Bakat: otak kiri vs otak kanan, mitos apa realita?

12 10 2013

Dear kawan,

Hari ini aku didapuk menjadi salah satu juri untuk sebuah ajang pencarian bakat tingkat fakultas “Farmasi Mencari Bakat (FMB)” dalam rangka Dies Fakultas Farmasi UGM tahun ini. Wah, suer… sebuah pengalaman asyik bisa menikmati dan menggali bakat-bakat seni para mahasiswa farmasi yang kadang tak terduga. Sungguh, even semacam ini bener-bener  menyegarkan, mengingat bahwa ruang lingkup kegiatan mahasiswa Farmasi pada umumnya hanya berkisar dari kuliah, pretest, praktikum, bikin laporan, dan ujian, wajahnya serius-serius, sampai bentuknya segi-enam kayak cincin benzena… hehe..

Dalam ajang ini ada berbagai performance, baik yang perseorangan dan berkelompok. Beberapa yang menarik aku tuliskan catatannya di sini. Maaf, ngga terulas semua, karena lupa dan ngga punya catatan….

Para penampil FMB

Penampilan yang cukup koplak disajikan oleh Cynthia Goceng… Aduh anak ini pe-de abis… nama panggungnya saja sudah konyol. Lebih cocok jadi komedian ketimbang penyanyi, walaupun dia mendaftarkan diri untuk menyanyi. Suaranya emang ngga masuk hitungan haha…. tapi penguasaan panggungnya oke banget dan penampilannya menyegarkan. Mungkin nanti bisa bergabung sama Opera van Java bareng Sule cs…

Penampilan group Sweet memory yang apik

Penampilan group Sweet memory yang apik

Penampilan seru lainnya ditunjukkan oleh group Sweet memories, yang akhirnya memang menjadi juara pertama. Diawali dengan tembang Pangkur yang indah dan merdu sekali, group ini kompak banget membawakan beberapa lagu daerah. Penguasaan alat musik dan panggungnya juga oyeeRuarr biasaa…!!!

Penampil yang lain ada yang menunjukkan bakatnya main wushu, berteater ria, drama, dan menari. Semuanya asyik-asyik… memang ada yang kurang latihan jadi kelihatan kurang kompak, tapi dari segi semangat dan kreativitasnya semuanya bagus. Untuk dance, kayaknya goyang a la Caesar yang lagi jadi favorit… beberapa grup menampilkan tarian Caesar yang dipadukan dengan tari lainnya.

Nah, penampilan yang terakhir menurutku sangat memukau. Mahasiswa angkatan 2013, Dandi, dengan suara bass-nya yang luar biasa sangat menghibur. Aduuh, Afgan dan Cakra Khan lewat deeeh…. Di awal ia memainkan keyboard sendiri sambil menyanyi. Wuih, suaranya bikin merinding… bagus banget. Dan akhirnya para penonton malah minta lagi dan lagi… dan akhirnya artis dadakan kita ini menyanyikan dua lagu lagi yang keduanya sangat ciamik….

Begitulah, acara berjalan seru dan mengesankan. Aku tidak boleh lupa menyebutkan juga bahwa penampilan duo MC-nya sangat asyik juga dalam membawakan acara dan menyegarkan suasana. Good job, guys!

Kegiatan-kegiatan semacam ini kurasa sangat perlu, untuk dapat menyeimbangkan otak kiri dan otak kanan…. Kita sering mendengar bahwa orang yang dominan “otak kiri”-nya akan memiliki personalitas sebagai pemikir, logis dan berorientasi pada detail dan analitis, sedangkan orang “berotak kanan” lebih berperilaku kreatif, nyeni, penuh pertimbangan, dan subyektif. Wait…. tapi apa emang benar tuh ada istilah otak kiri dan otak kanan yang fungsinya berbeda?

Otak kanan vs otak kiri : mitos belaka

Otak adalah organ tubuh yang sangat penting untuk menerima suatu input, mengolahnya dan menjadikannya suatu output yang mempengaruhi seluruh aktivitas tubuh kita, baik disadari atau tidak. Selama bertahun-tahun dalam budaya populer, istilah berotak kiri dan berotak kanan digunakan untuk merujuk pada tipe kepribadian, dengan asumsi bahwa sebagian orang lebih banyak menggunakan sisi kanan otak mereka, sementara sebagian lagi  lebih banyak menggunaan otak kiri, dan itu tercermin dalam kepribadiannya.

Pemahaman ini berangkat dari penemuan seorang pemenang Nobel  di bidang fisiologi kedokteran pada tahun 1981, Roger Sperry, yang menyatakan bahwa otak manusia terbagi menjadi dua hemisphere, kanan dan kiri, yang memiliki fungsi yang berbeda. Tentang hal ini sudah pernah aku tuliskan pada tulisanku empat tahun yang lalu ketika kami menggelar konser di fakultas.. (klik di sini). Namun ternyata, pemahaman mengenai adanya perbedaan peran otak kiri dan otak kanan nampaknya harus direvisi saat ini. Lha kok?

Teori otak kanan vs otak kiri perlu direvisi

Teori otak kanan vs otak kiri perlu direvisi

Setelah studi selama dua tahun, Jeff Andersen, peneliti neurosains dari Universitas Utah telah mematahkan mitos tentang otak kiri dan kanan dengan mengidentifikasi jaringan tertentu di otak kiri dan otak kanan yang memproses lateralisasi fungsional. Lateralisasi fungsi otak maksudnya adalah bahwa ada proses mental tertentu yang terutama terjadi pada otak kiri atau otak kanan.Selama studi, peneliti menganalisis hasil scan otak dalam kondisi istirahat dari 1.011 orang berusia antara tujuh sampai dua puluh sembilan tahun. Pada setiap orang, timnya mempelajari lateralisasi fungsional dari otak diukur pada ribuan daerah otak, dan menemukan bahwa tidak ada hubungan  preferensi seseorang utk lebih sering menggunakan jaringan otak kiri atau otak kanan.

Jeff Anderson mengatakan “ Memang benar bahwa beberapa fungsi otak terjadi pada satu atau sisi tertentu dari otak. Misalnya fungsi bahasa cenderung berada di sebelah kiri, sedangkan perhatian lebih di sebelah kanan. Tetapi orang tidak cenderung memiliki jaringan otak kanan atau kiri yang lebih kuat. Nampaknya lebih ditentukan oleh koneksi antar jaringan.” Penelitian Pak Anderson ini telah diterbitkan bulan Agustus 2013, dengan judul  “An Evaluation of the Left-Brain vs. Right-Brain Hypothesis with Resting State Functional Connectivity Magnetic Resonance Imaging.”

Dalam penelitian ini, subyek direkam aktivitas otaknya menggunakan MRI. Otak kemudian dibagi ke dalam 7000an area, dan peneliti mengamati area otak mana yang lebih terlateralisasi fungsinya. Semua jaringan di otak diukur. Dan semua kombinasi yang mungkin dihubungkan dengan setiap bagian otak yang sudah dilaterisasi kiri dan kanan. Hasilnya menunjukkan bahwa suatu koneksi otak mungkin bisa terlaterisasi secara kuat pada kanan atau kiri. Tetapi tidak ada hubungan bahwa seseorang itu lebih sering menggunakan otak kiri atau otak kanan. Dan singkatnya, menurut hasil penelitian ini tipe personality  tidak ada hubungannya dengan hemisphere otak mana yang lebih aktif, kuat atau terkoneksi.

So?

Well, hasil penelitian ini memang jadi mematahkan teori tentang fungsi otak kiri dan otak kanan kaitannya dengan personality seseorang. Tapi itu ngga ngaruh kaan? Maksudku, terlepas dari teori otak kiri atau kanan, tetap dalam hidup itu yang paling bagus itu adalah jika ada keseimbangan… antara ilmiah dan seni, antara logika dan rasa, antara jiwa dan raga…. Biar hidup ngga miring, kering dan garing…..

Ayoo, gali terus bakat-bakat seni yang terserak supaya hari-hari di Farmasi UGM menjadi lebih semarak…

Ciao…. !!

Sumber: http://www.medicalnewstoday.com/articles/264923.php

http://www.livescience.com/39373-left-brain-right-brain-myth.html





Catatan perjalanan: Melanglang ranah Minang…

6 10 2013

Dear kawan,

Mejeng dulu sebelum on stage

Mejeng dulu sebelum on stage

Undangan menjadi salah satu pemakalah utama pada sebuah Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh Fakultas Farmasi Universitas Andalas kusambut dengan agak excited. Yang pertama, ini adalah sebuah kehormatan, pengakuan, dan kepercayaan kepadaku bahwa aku dipandang cukup layak menjadi salah satu pembicara utama dalam seminar tersebut. Apalagi Fakultas Farmasi Andalas termasuk Fakultas Farmasi senior di kawasan Sumatera, dan banyak pakar-pakar kefarmasian yang lahir dari sana. Yang kedua, well… tentu saja aku senang, karena aku belum pernah ke Padang. Jadi nanti aku bisa “menancapkan bendera” di kota ketiga di Pulau Sumatra, setelah Batam dan Banda Aceh, sebagai kota yang pernah aku kunjungi untuk ngamen. Sudah kebayang sih masakan Padang itu seperti apa karena di Yogya juga banyak RM Padang.. tapi pasti tetap lebih asyik makan masakan Padang yang made in Padang asli hehe….

Topik yang berat : Tinjauan molekuler herbal imunomodulator

Topik yang diminta oleh panitia kepadaku adalah “Tinjauan molekuler herbal imunomodulator”. Suer,.. itu topik yang ngga ringan. Setidaknya ada tiga “kata kunci” yang harus dipahami lebih dulu… Yang pertama, imunomodulator. Berbicara tentang imunomodulator tentu harus memahami dulu tentang sistem imun. Dan sistem imun adalah sistem paling kompleks dalam tubuh kita karena melibatkan berbagai sel-sel inflamatori dan puluhan protein mediator, seperti sitokin, limfokin, dll.  Yang kedua, obat herbal. Ini adalah sebuah tantangan tersendiri karena sediaan herbal berisi berbagai senyawa yang masing-masing juga memiliki aksi sendiri. Dan bicara tentang penelitian herbal di Indonesia, aku melihat satu tingkat penelitian yang sifatnya “nanggung” dan masih superfisial sekali. Yang sampai ke penelitian uji klinik hingga dipercaya penggunaannya oleh klinisi masih sangat sedikit, sementara di sisi lain yang advanced sampai ke tingkat molekuler juga sangat terbatas. Yang ada adalah kajian diversifikasi efek sediaan herbal yang baru dalam tataran preklinik, atau bahkan in vitro. Akhirnya yang muncul adalah suatu informasi bahwa satu macam sediaan herbal memiliki efek A, B,C,D, sampai Z.  Dan ketika kita kejar sampai klinis ternyata tidak terbukti, sementara dikejar ke aras molekuler juga tidak bisa. Namun demikian ini adalah tantangan kita bersama. Kata kunci ketiga adalah kajian molekuler. Ini juga bukan kajian yang simple karena melibatkan aneka molekul sebagai second messenger, melalui berbagai transduksi signal, sampai dicapainya suatu efek seluler.

Namun demikian aku berusaha untuk memaparkan sebisaku, dan memberikan contoh beberapa herbal beserta mekanisme molekulernya sebagai imunomodulator. Istilah imunomodulator sendiri merujuk pada suatu agen yang dapat mengembalikan dan memperbaiki sistem imun yang fungsinya terganggu, atau menekan yang fungsinya berlebihan. Pada kondisi di mana sistem imun hiperreaktif, baik terhadap paparan dari luar maupun dari dalam tubuh, maka diperlukan suatu imunosupresan. Sebaliknya, jika sistem imun terlalu lemah dan kurang reaktif sehingga tidak mampu melawan patogen yang masuk, maka diperlukan suatu imunostimulan. Telah banyak obat-obat sintetik yang bekerja sebagai imunomodulator, baik sebagai imunostimulan maupun imunosupresan. Herbal dapat pula menjadi sumber senyawa imunomodulator. Sebagian telah digunakan secara empirik oleh masyarakat dan dipercaya sebagai penguat daya tahan tubuh. Beberapa diantaranya adalah Curcuma sp, Rhododendrum spiciferum, Caesalpinia sp, Panax ginseng, Echinacea purpurea, Calendula officinalis, dll.

Hingga saat ini, tinjauan terhadap mekanisme aksi herbal sampai dengan tingkat molekuler masih sangat terbatas. Hal ini dipersulit dengan banyaknya komponen fitokimia dalam suatu sediaan herbal. Efek seluler suatu sediaan obat herbal umumnya merupakan efek beberapa senyawa secara simultanpada berbagai target, yang saling komplementer. Padahal, mekanisme molekuler hanya menggambarkan interaksi satu senyawa aktif dengan satu molekul target. Mekanisme molekuler bisa menjelaskan aktivitas farmakologi tertentu suatu obat herbal dengan asumsi bahwa hanya ada satu senyawa yang beraksi, dan senyawa lain tidak berinteraksi. Namun karena faktanya sediaan herbal itu multikomponen, maka mekanisme molekuler satu komponen obat herbal pada satu target molekuler tidak selalu menggambarkan overall effect suatu obat herbal pada sistem biologis.

Dalam mengkaji mekanisme molekuler suatu imunodilator dari herbal, kesulitan lebih banyak dijumpai karena signaling pada sistem imun sangat kompleks dan saling kait mengait. Target molekuler yang telah banyak dipelajari adalah NFkB, suatu regulator transkripsi gen, yang berperan penting dalam regulasi ekspresi gen pro-inflammatory pada berbagai sel. NF-κB teraktivasi tinggi di tempat inflamasi pada berbagai penyakit imunitas dan menginduksi transkripsi berbagai molekul pro-inflamatory seperti sitokin, chemokin, molekul adhesi, oksida nitrat, matriks metaloproteinase, dll. Dalam paparan ini hanya akan dibahas dua macam herbal imunomodulator yang telah banyak diteliti, yaitu Curcuma sp mewakili golongan imunosupresan, dan Echinacea sp mewakili golongan imunostimulan.

Curcumin sebagai inhibitor jalur signaling NFKB

Curcumin sebagai inhibitor jalur signaling NFKB

Curcumin sebagai senyawa aktif dari Curcuma sp telah banyak dilaporkan memiliki aktvitas antiinflamasi, anti alergi, antioksidan, antikanker, dll. Curcumin menjalankan aksinya melalui beberapa mekanisme molekuler, salah satunya dalam menghambat aktivitas NFkB, dengan cara memblok signal yang mengaktifkan IkB kinase (IKK), yang pada gilirannya akan menghambat sintesis berbagai mediator inflamasi.  Selain itu, penelitian lain melaporkan bahwa curcumin juga bekerja menghambat aktivasi limfosit T dengan cara memblok mobilisasi Ca dan menghambat aktivasi NFAT (nuclear factor of activated T cells). Aksi-aksi ini memperantarai aktivitas curcumin sebagai imunosupresan.Sebaliknya, Echinacea sudah banyak dilaporkan memiliki efek imunostimulan dan digunakan secara empirik oleh masyarakat, terutama di Amerika sebagai tempat asalnya. Di tingkat seluler, Echinacea beraksi mengaktifkan proses fagositosis oleh makrofag, memobilisasi leukosit, dan meningkatkan produksi beberapa sitokin, seperti IL-1, IL-6, IL-10, dan TNF-alpha, serta memicu proliferasi limfosit. Echinacea mengandung banyak komponen fitokimia, namun yang dilaporkan memiliki efek imunostimulan adalah senyawa alkylamide, karena itu untuk standarisasi Echinacea disarankan menggunakan senyawa alkylamide-nya. Di tingkat molekuler, Gertsch et al (2004) melaporkan untuk pertamakalinya bahwa senyawa alkilamide dari Echinacea dapat memodulasi ekspresi gen TNF-alpha melalui aktivasi reseptor cannabinoid CB2 dan beberapa transduksi signal lainnya.

Demikian paparan singkatku dalam seminar ini mengenai tinjauan molekuler obat herbal yang digunakan sebagai  imunomodulator. Masih banyak penelitian yang perlu dilakukan untuk mengungkap berbagai mekanisme molekuler obat herbal, namun demikian tetap tidak boleh dilupakan untuk menguji overall effect-nya dengan uji klinik pada manusia jika memang ingin dikembangkan menjadi herbal unggulan yang dapat dimanfaatkan untuk kesehatan.

Perjalanan, Sate Padang dan Es Durian

Kamis siang itu, 3 Oktober 2013, pesawat Garuda yang membawaku dari Yogyakarta – Jakarta dan Jakarta – Padang melayang mulus membelah angkasa. Waktu transit sekitar 3 jam di Bandara Soetta kuisi dengan baca-baca lagi bahan presentasiku di Lounge BNI yang nyaman dan full makanan… Cuaca cerah sekali bahkan cenderung panas ketika aku berada di atas awan. Pesawat mendarat tepat waktu di Bandara international Minangkabau. Bangunan khas Minang dengan atap seperti tanduk kerbau kujumpai di beberapa tempat selama perjalanan menuju Hotel. Aku dijemput bu Ayu, salah satu staf Fak Farmasi Unand, dan langsung diantar ke Hotel Grand Zuri. Di sepanjang perjalanan kulihat ada beberapa puing bangunan akibat gempa besar di Padang th 2009 yang lalu, tetapi sebagian besar sudah dibangun kembali. Di Hotel Grand Zuri, ada 3 pembicara tamu yang diinapkan termasuk aku, yaitu bersama Pak Dr. Suharyono dari Unair, dan dr. Zuraida dari BPTO.

Sate Padang Danguang-danguang dan es duren

Sate Padang Danguang-danguang dan es duren

Malamnya, kami dijemput untuk menikmati makan malam yang khas Padang. Sate Padang “Danguang-danguang” yang mak nyuss dan es durian andalan menyambut kami di acara makan malam bersama Pak Dekan, Dr. Muslim, bersama staf dosen Farmasi Unand lainnya. Wuih, kenyaang.. ! Lalu kami diajak untuk putar-putar sebentar di kota Padang, melintasi pelabuhan, Jembatan Siti Nurbaya yang terkenal di sana, menyusuri jalan sepanjang pantai Padang yang penuh dengan wisata kuliner aneka sea food.

Hari H dan special dinner

Jumat pagi, kami dijemput di Hotel untuk kemudian dibawa ke Convention Hall Univ Andalas di mana acara seminar dilaksanakan. Kampus Andalas cukup unik dengan gedung-gedung yang warnanya nyaris seragam, yaitu abu-abu beton tanpa cat. Katanya sih untuk menghemat biaya pemeliharaan, tidak perlu ngecat-ngecat lagi… Tapi kata salah satu temanku yang orang Padang, itu sih karena orang Padang malas-malas untuk membersihkan hehe… maap. Peserta seminar cukup banyak yang datang dari berbagai penjuru tanah air. Aku dapat giliran ketiga untuk presentasi setelah Dr Suharjono dari Unair dan Ibu Dra. Dara, MM Apt. dari Ditjen Binfar. Agak grogi sedikit di awal, tapi biasanya sih kalau udah on stage udah lupa ….. Alhamdulillah, semua lancar.

narsis bentar dengan bu prof Armenia di pinggir Pantai Muaro

narsis bentar dengan bu prof Armenia di pinggir Pantai Muaro

Abis lunch di Fak Farmasi Andalas dengan masakan asli Padang (pastinyo), kami jalan bentar keliling kota aja sambil makan es durian lagi (gimana ngga endut?), menyusuri jalan Pantai Muaro dan ke tempat kerajinan Padang dan sekitarnya. Kali ini Bu Prof Armenia yang berbaik hati menemani jalan (makasih, Prof).  Kerajinan yang khas di Padang adalah bordir kerancang halus khas Bukittinggi, yakni bordiran halus dengan “lubang lubang” yang terbentuk dari jalinan benang bordir. Lubang lubang inilah yang disebut dengan “kerancang”. Sebuah mukena dengan bordir kerancang yang kulihat kemarin harganya rp 2 juta. Wekkss….. ! Kapan makainya yaa… rasanya sayang mau dipakai hehe…

Malam harinya kami peserta dan pembicara seminar diundang acara makan malam oleh Gubernur Sumbar di kantor dinasnya. Acara cukup meriah diramaikan dengan tari-tarian dan lagu-lagu. Masakannya enak pastinyo…

On stage.. berduet dengan pak Dekan

On stage.. berduet dengan pak Dekan

Dan yang berkesan, aku sempat berduet menyanyi dengan Pak Dekan di acara dinner tersebut atas permintaan Bapak Rektor Univ Andalas hehe…. Tentu kesempatan ini tidak aku sia-siakan karena memang aku suka menyanyi…  Kalau udah nyanyi suka lupa diri hehe..

Menemui si Malin Kundang

Kebahagiaan jadi guru itu kalau masih dikenang dan disayang muridnya.. Dan itu aku rasakan ketika di Padang, salah satu mahasiswaku dulu mengontak ingin bertemu. Terus terang sebelum ketemu aku ngga ingat sama-sekali yang mana orangnya, lagipula dia mahasiswa di Universitas Muhamadiyah Surakarta (UMS) yang dulu aku pernah mengajar di sana pada sekitar tahun 2007-an. Jadi kami hanya bertemu satu semester. Tapi rupanya dia masih mengingatku.  Surprised juga ketika akhirnya dia sekeluarga menemuiku di hotel, bahkan mengantarku berkeliling Padang. Semula ia ingin mengajakku ke Bukittinggi, tapi itu terlalu jauh sementara pesawatku ke Jogja adalah pukul 14.00.

Bersama Vonna (Unsyiah) dan Nia plus her kids di Teluk bayur

Bersama Vonna (Unsyiah) dan Nia plus her kids di Teluk bayur

Akhirnya aku dan satu kawan dari Unsyiah Aceh, Vonna, diajak keluarga Nia jalan-jalan ke Pantai Teluk Bayur dan Pantai Air Manis. Sebenarnya alam Padang itu indah sekali… sayang nampak kurang terawat. Tapi anyway, senang sekali bisa sampai di Teluk Bayur yang selama ini hanya dikenal dari lagu lama Ernie Johan…hehe.. Kami sempat melihat monyet-monyet berkeliaran di pinggir jalan sepanjang pantai. Berikutnya, keluarga Nia membawa kami ke Pantai Air Manis atau yang dikenal dengan nama Pantai Malin Kundang. Aduuh, penasaran banget dengan batu Malin Kundang yang sangat terkenal legendanya sejak aku kecil…  Siapa yang tak kenal si Malin Kundang anak durhaka itu? Sewaktu SD aku sempat punya komiknya, dan tergambar si Malin Kundang dikutuk menjadi batu oleh ibunya. Dalam komik tersebut, seingatku, Malin Kundang digambarkan berdiri…Akhirnya setelah menaiki dan menuruni bukit, sampailah kami di Pantai Air Manis. Langsung kami menuju arah batu Malin Kundang. Ketika sampai di sana, kucari-cari yang mana, tidak ada yang nampak seperti patung orang, sampai akhirnya mas Amrul suami Nia menunjukkan seonggok batu berbentuk orang tengkurap… dan itulah si Malin Kundang!!

Bersama Malin Kundang yang tengkurap membatu

Bersama Malin Kundang yang tengkurap membatu

Huaaaaaa…… setengah geli jadinya, karena rasanya jadi antiklimaks hehe…. “cuma” begitu ternyata…. Tapi boleh juga imaginasinya hehe… Tapi kembali seperti yang kusebut tadi, sebenarnya batu Malin Kundang dan legendanya ini bisa lebih dirawat dan dimaksimalkan penampilannya. Jika perlu dibuat berpagar dengan ada tulisan atau penjelasan tentang legenda Malin Kundang. Tentu akan lebih menarik bagi para wisatawan…Anyway, sungguh suatu pengalaman menarik dari perjalananku ke Padang. Dari sana kami segera melaju lagi ke Padang karena aku harus mengejar pesawat jam 2, jangan sampai ketinggalan lagi… Keluarga Nia masih membawa kami untuk lunch dulu di warung sea food pinggir laut  yang bernama Fuja. Wah, enak sekali makan sambil dibuai semilir angin di pinggir pantai. Akhirnya kesampaian juga makan di Fuja setelah seorang kawan, yaitu Bu Wirda Zein, sudah pesan sebelum aku ke Padang, bahwa aku nanti harus mencoba makan ikan bakar di Fuja. Dan rekomendasinya ini tidak salah, karena memang enak dan cepat pelayanannya. Oya, buat bu Wirda, terimakasih juga oleh-oleh rendang keringnya. Bu Wirda ini jauh-jauh di Samarinda (Kepala Balai POM Samarinda) masih menyempatkan kirim oleh-oleh juga dari Padang untuk aku via saudara beliau di Padang. So touching… !!

Alhamdulillah, semua sudah terlaksana … terimakasih banget buat Mbak Nia dan mas Amrul berserta kedua putranya yang telah menemani kami di hari terakhir di padang dengan sangat baik dan hangat. Bahkan akupun dioleh-olehi rendang paling enak di Padang… Subhanallah… Akhirnya kamipun berpisah di Bandara Internasional Minangkabau dengan kenangan yang berkesan…

Demikian catatan perjalananku ke Padang. Sungguh aku bersyukur diberi kelancaran, keselamatan, dan kemudahan selama dalam perjalanan. Aku percaya, Insya Allah jika kita menanamkan kebaikan, Allah akan memberi kita kebaikan pula dari sisi yang tidak kita sangka-sangka… seperti aku mendapatkan kebaikan dari keluarga Mbak Nia dan teman-teman lain di Padang yang sama sekali tidak aku sangka sebelumnya.

Sampai jumpa pada catatan perjalananku berikutnya, Insya Allah next destination adalah Pontianak, tanggal 9 – 10 November 2013.








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 376 pengikut lainnya.